Apa arti mengucapkan Assalamu’alaikum?
Ia bukan basa-basi kultural. Ia adalah doa sekaligus janji ontologis: keselamatan bagi kalian—manusia yang nyata di hadapan kita. Bukan statistik. Bukan konsep “umat” yang abstrak. Tetapi manusia yang hidup, menyejarah, terluka, cemas, berharap, dan berjuang.
Salam selalu ditujukan kepada wujud yang konkret.
Di sinilah filsafat Mullā Ṣadrā menjadi relevan secara mendalam. Ia menegaskan ashālat al-wujūd: yang paling nyata bukanlah konsep, melainkan keberadaan itu sendiri. Wujud mendahului esensi. Realitas lebih dahulu daripada definisi.
Jika demikian, misi khalifah sebagai penebar salam tidak boleh dibangun di atas bayangan “masyarakat ideal” yang jauh dari pengalaman hidup manusia. Ia harus berangkat dari manusia sebagaimana adanya—rapuh, gelisah, mudah tergoda, tetapi juga menyimpan potensi cahaya.
Filsafat sebagai Jalan Pulang
Ṣadrā bukan filsuf menara gading. Dalam proyek besarnya, al-Ḥikmah al-Muta‘āliyah (Filsafat Transenden), ia meramu wahyu, nalar, dan pengalaman spiritual menjadi satu kesatuan. Baginya, berpikir bukan aktivitas netral; ia bagian dari perjalanan jiwa.
Dalam karya monumentalnya, Asfār al-Arba‘ah, ia menggambarkan empat perjalanan eksistensial manusia:
- dari makhluk menuju Tuhan,
- bersama Tuhan,
- kembali ke manusia, dan
- membimbing manusia lain menuju Tuhan.
Struktur ini bukan sekadar metafora mistik. Ia adalah kerangka misi khalifah. Kita tidak dipanggil untuk melarikan diri dari dunia, tetapi untuk kembali ke dalamnya—membawa cahaya.
Salam yang sejati bukan eskapisme spiritual. Ia adalah keberanian untuk turun ke realitas.
Manusia sebagai Gerak, Bukan Benda
Al-Qur’an menggambarkan manusia secara jujur: mudah gelisah, cenderung kikir, rapuh secara psikologis dan sosial. Namun wahyu tidak berhenti pada diagnosis. Ia menawarkan peta transformasi: Salat yang menata batin, zakat yang membenahi struktur sosial, iman pada akhirat yang membentuk kompas moral, dan disiplin diri yang melatih kebebasan dari hawa nafsu.
Di sinilah konsep al-ḥarakah al-jawhariyyah—gerak substansial—menjadi kunci. Menurut Ṣadrā, jiwa tidak statis. Ia senantiasa bergerak. Setiap ilmu, setiap amal, setiap kebijakan publik yang adil atau zalim, benar-benar mengubah kualitas wujud manusia.
Menjadi manusia adalah proses ontologis.
Di titik ini, dialog lintas zaman menjadi menarik.
Martin Heidegger bertanya secara radikal: apa arti Ada? Ia menolak metafisika yang melayang di “langit-sana” dan mengajak kita kembali pada pengalaman konkret manusia—Dasein yang terlempar ke dunia, cemas, dan sadar akan kematian. Ia bertemu Ṣadrā dalam keseriusan terhadap eksistensi. Tetapi arah mereka berbeda. Jika Heidegger menekankan keterlemparan dan kefanaan, Ṣadrā melihat gerak jiwa sebagai pendakian menuju kesempurnaan.
Alfred North Whitehead menambahkan dimensi proses: dunia bukan kumpulan benda, melainkan rangkaian menjadi. Ṣadrā mengangguk—namun meluruskan: proses ini tidak buta. Ia memiliki orientasi. Perubahan bukan sekadar terjadi; ia menuju.
Lalu hadir Friedrich Nietzsche—tamu yang mengguncang. Ia mencurigai agama sebagai kekuatan yang melemahkan kehidupan dan mengumumkan “kematian Tuhan.” Kritiknya tajam, bahkan perlu. Ṣadrā pun menolak agama yang membeku menjadi dogma dan alat kuasa. Tetapi jawabannya bukan menyingkirkan transendensi, melainkan memurnikannya. Akal harus jernih, hati harus disucikan. Dua sayap, bukan satu.
Dan dari kejauhan, Jalāl al-Dīn Rūmī seakan tersenyum. Puisinya tidak berdebat; ia menunjuk ke dalam. Semua kegelisahan filsafat—Barat maupun Islam—pada akhirnya mengarah pada panggilan terdalam manusia: perjalanan kembali ke Sumber.
Arah dan Tanggung Jawab
Perbedaan paling mendasar antara Ṣadrā dan sebagian pemikir modern bukan pada pengakuan bahwa manusia “menjadi”, tetapi pada arah menjadi itu.
Bagi Ṣadrā, menjadi memiliki telos. Ada kompas. Ada tujuan. Kesempurnaan Mutlak bukan ilusi, tetapi horizon.
Implikasinya radikal bagi misi khalifah.
Tugas kita bukan memaksa manusia menjadi sempurna seketika. Tugas kita adalah menciptakan ekosistem yang memungkinkan gerak naik itu terjadi. Pendidikan harus membuka jalan mendaki. Ekonomi harus memuliakan martabat. Kebijakan publik harus memperluas ruang keadilan. Budaya harus memelihara kejernihan jiwa.
Setiap struktur sosial adalah arsitektur ontologis. Ia bisa mempercepat pendakian—atau mempercepat kejatuhan.
Di sinilah salam menjadi politik, menjadi pendidikan, menjadi ekonomi, menjadi kebudayaan.
Salam bukan hanya ucapan. Ia adalah desain dunia.
Pertanyaan yang Tak Bisa Dihindari
Jika wujud lebih nyata daripada konsep, maka pertanyaannya sederhana tetapi menentukan:
- Apakah salam kita sudah menyentuh manusia yang nyata?
- Apakah kebijakan kita membantu jiwa bergerak naik?
- Apakah ilmu kita menerangi, atau justru membekukan?
- Apakah iman kita menghidupkan, atau melemahkan?
Seperti bisikan Rūmī:
“Ada lilin di dalam hatimu, siap untuk dinyalakan.
Ada kekosongan di dalam jiwamu, siap untuk diisi.”
Filsafat lintas zaman ini tidak memberi kesimpulan final. Ia hanya membentangkan peta.
Selebihnya adalah keputusan eksistensial kita.
Meneguhkan misi salam berarti berani mendekati manusia apa adanya—dan dengan sabar, ilmu, serta amal, menuntunnya menuju siapa ia seharusnya.
Perjalanan itu tidak dimulai di ruang seminar. Ia dimulai saat kita benar-benar berkata:
Assalamu’alaikum.
Dan bersungguh-sungguh memaknainya.
Catatan: Uraian lebih luas dan lebih mendalam dapat ditemukan dalam Khalifah sebagai Sintesis Kosmis: Fusi Hikmah Mula Sadra dan Tanggung Jawab Global (Uzair Suhaimi, akan datang, Nasmedia). Versi PDF dapat diakses melalui [link]

