Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh…
Langgenan poro sedulur… 😊
Wahai para jamaah yang sibuk kerja, ngurus anak, ngurus mantu, atau lagi macet di jalan tol yang entah kapan keluar…
Kemarin kita ngobrolin soal tafakur. Banyak yang komplain, “Kiai, enak ngomong, tapi gimana prakteknya di tengah kesibukan? Wong saya tiap hari kaya orang kesurupan — buru-buru terus.”
Hehe… Tenang, tenang. Saya paham.
Tafakur itu bukan cuma buat orang yang punya waktu luang banyak terus mondok di gunung sambil bawa bekel roti. Bisa dilakukan sederhana setiap hari, tanpa ribet, bahkan tanpa harus ninggalin setoran kerja.
Nabi Muhammad ﷺ saja sering merenung di Gua Hira sebelum diutus. Tapi beliau juga tafakur sambil jalan, sambil duduk, bahkan sambil ngaso sepulang sholat.
Maka, ini dia praktik tafakur ala kadarnya yang bisa langsung diamalkan tanpa ngeluarin biaya tambahan:
1. Pagi hari saat bangun
Begitu bangun, jangan langsung nyari HP. Duduk di tepi kasur 2-3 menit. Lihat tanganmu, rasakan napasmu.
Sambil merem melek dikit, batin:
“Ya Allah, aku masih dikasih mata yang bisa lihat — padahal udah nonton YouTube sampe tengah malam. Tangan masih bisa gerak. Napas masih lancar. Padahal banyak saudara kita yang sudah ndak napas sejak subuh.”
Lalu ucapkan Alhamdulillah. Simpel, tapi hati langsung lembut. Dijamin, efeknya lebih menenangkan daripada liat Instagram stories.
2. Saat melihat alam
Di perjalanan ke kantor, atau pas pulang kerja malam-malam, sengaja angkat muka dari HP. Lihat langit, awan, pohon, atau burung yang terbang seenaknya.
Tanya dalam hati dengan gaya polos:
“Kok langit ini nggak pernah jatuh? Padahal ndak pakai paku. Kok burung bisa terbang tanpa pesawat dan tanpa ngantri tiket?” 😄
Itu namanya tafakur ayat kauniyah — merenungi ciptaan Allah. Sayyidina Ali saja bilang: “Aku lebih suka merenung sebentar daripada sholat semalam suntuk (tanpa renungan).”
Nabi pun sering jalan kaki sambil merenung begini.
3. Setelah sholat atau baca Quran
Ojo kesusu (jangan buru-buru) berdiri kayak mau lomba lari setelah sholat atau baca Qur’an.
Diam 1-2 menit. Tadabburi satu ayat yang baru dibaca.
Contoh gampang: habis baca ayat “Afala yatafakkarun” (mengapa mereka tidak mau tafakur?), langsung renungkan: “Lho, ini Allah lagi tegur saya ya? Apa yang Allah mau aku ambil pelajaran hari ini?”
Nggak usah mikir yang berat-berat. Cukup satu pelajaran kecil. Misal: hari ini jangan marah dulu kalau warung favorit tutup.
4. Malam sebelum tidur
Sambil berbaring (tapi jangan tidur dulu ya, kecuali memang udah guling-guling), ingat nikmat hari ini:
- Rezeki masuk walau cuma cukup,
- Anak sehat walau nakalnya minta ampun,
- Tidak kecelakaan di jalan,
- Istri atau suami masih mau diajak ngobrol tanpa konflik.
Lalu muhasabah pelan-pelan:
“Hari ini aku sudah sayang sesama belum? Atau masih pelit senyum sama tetangga yang pinjam garam?”
Kalau ternyata masih pelit, ya besok diperbaiki. Gitu aja.
5. Bonus: versi super sibuk (paling laris)
Saat nunggu antrian, macet, atau cuci piring — alih-alih buka HP terus scrolling lihat gosip artis, coba alihkan: renungkan nikmat kesehatan atau keluarga.
Contoh:
“Lho kok tangan saya bisa nyuci piring? Padahal robot aja perlu listrik. Subhanallah…”
Itu juga tafakur, lho. Dan lebih irit baterai.
Catatan kecil dari Kiai
Rasulullah ﷺ mengajarkan (dalam riwayat sebagian ulama) bahwa tafakur sesaat bisa lebih berharga daripada ibadah setahun — kalau tafakurnya benar-benar hadir hati, bukan cuma melamun nanti makan apa.
Jangan salah paham. Bukan berarti sholat ditinggal terus tafakur melulu. Maksudnya: ibadah tanpa renungan itu kaya motor tanpa bensin. Jalan sih jalan, tapi nggak ke mana-mana.
Maka intinya:
Tafakur itu nggak harus lama dan serius kayak filsuf yang jenggotan sambil megang kitab tebal.
Cukup sedikit tapi rutin, dengan hati hadir — kayak ngopi sedikit tapi setiap pagi.
Lama-lama hati jadi tenang, iman makin kuat, dan sayang sesama pun tumbuh dengan sendirinya.
Penutup
Mulai dari yang paling gampang dulu, malam ini. 5 menit saja. Nggak perlu target 30 menit — nanti malah stres mikirin target.
Insyaallah berkahnya akan terasa. Kalau belum terasa? Ya dicoba lagi. Namanya juga belajar.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh.
Salam kenal, tetep guyub, dan jangan lupa senyum. 😊


