LUKISAN, LAGU, DAN KIAI NGELAWAK – Semua Nyari Cahaya yang Sama

Colorful painting titled 'Seni & Lawak' depicting traditional art and comedy symbols with visitors smiling and pointing

Assalamu’alaikum warahmatullah.

Sekarang saya pakai kacamata seni. Kacamata yang nggak perlu ijazah, cukup perasaan. Nggak perlu S-1 apalagi profesor. Cukup punya detak jantung yang masih suka geter kalau dengar sesuatu yang indah.

Pernah dengar lagu Ya Thoybah atau Rindu Rasul? Saya kadang nangis dengar — padahal syairnya cuma “Ya Rasulallah” diulang-ulang. Nggak ada rumus F = m.a. Nggak ada data statistik, nggak ada grafik batang. Tapi hati mbledos. Bledos itu istilah teknis untuk “jleb banget sampai merinding”. Itu namanya kacamata seni.

Seni gak menjelaskan — seni ngedablag (menyentak) hati. Seni nggak ngasih teori, tapi ngasih rasa. Kalau sains bilang “ini sebabnya”, seni bilang “ini rasanya”. Dua-duanya penting. Tapi jangan dicampur. Nanti kayak bikin rujak pakai kalkulus — repot.

Kiai NU zaman dulu terkenal pakai seni buat dakwah. Sunan Kalijaga nggak ceramah pakai logika Aristoteles di panggung seminar. Beliau bikin wayang, tembang, ilalang, juga mungkin lelucon receh biar orang nggak ketiduran. Orang-orang nanggap wayang, bawa kacang rebus, ketawa-ketiwi, trus oh iya — ini seratnya tentang Gusti Allah. Maknyus.

Inggih, lensa seni itu kuat. Nggak perlu mikir keras. Cukup ngrasakne. Bahkan nggak perlu pakai bahasa Arab fasih atau istilah fiqih yang panjang. Cukup pakai gitar kempot, atau rebana yang agak fals sedikit asal ikhlas.

Makanya, kalau ada yang bilang “seni itu haram” — saya bilang: “Lha Gus Dur nulis puisi, Gus Mus nglukis, Cak Nun nembang — itu semua cari Cahaya yang sama. Mereka kufur, apa Anda yang kufur rasa?” Santai-santai, jangan langsung marah. Nanti marahnya sambil baca puisi, biar estetik.

Saya tutup serial ini dengan candaan:
Cahaya itu satu, tapi kacamata kita bisa gonta-ganti. Kadang pakai kacamata sains, kadang seni, kadang kacamata kiai, kadang kacamata item buat santai. Yang penting jangan kacamata kuda — cuma lurus ke depan, nggak lihat kanan kiri. Nanti nabrak. Bukan nabrak paham, tapi nabrak tembok beneran.

Yuk, share lensa favoritmu di kolom komentar. Apa? “Lensa kontak?” Ya nggak papa, asal nggak lensa mata minus terus — nanti nggak lihat berkah. Minusnya bukan di mata, minusnya di hati.

Salam takzim,
Kiai Santai


Bermula

Colorful painting titled 'Seni & Lawak' depicting traditional art and comedy symbols with visitors smiling and pointing
Visitors enjoying a colorful painting titled ‘Seni & Lawak’ at an art gallery

Cahaya Bisa Dihitung Pakai Rumus, Tapi Hati Nggak Bisa

Bronze sculpture combining scientific and religious symbols entwined in a tree form

Assalamu’alaikum.

Postingan kemarin kita ngomongin satu cahaya. Sekarang saya pakai kacamata kiai yang dulu kuliah Fisika — meskipun cuma lulusan pondok. Halah. 😅

Ilmuwan bilang, cahaya itu gelombang elektromagnetik. Kecepatannya 300 ribu km/detik. Bisa dihitung pakai rumus Maxwell. Tapi… apakah dengan menghitung kita jadi mengerti kenapa cahaya lilin di makam orang tua bikin nangis? Ora.

Sains itu lensa yang jernih, tapi dingin. Contoh: orang marah bisa dijelaskan dengan hormon adrenalin. Tapi penjelasan itu gak bikin kita nggak marah. Malah bisa bikin makin gregetan: “Lho kok saya yang disuruh redam adrenalin?”

Tapi jangan salah. Sains itu penting. Saya NU, tapi saya nggak anti sains. Wong Gus Dur dulu seneng ngomong:
“Ilmu itu penting, tapi aja nggawe ati dadi atos (jangan bikin hati keras).”

Maka, pakai sains itu ok, tapi jangan lupa cahaya hati. Seperti kata Mbah Hasyim Asy’ari:
الْعِلْمُ بِلاَ دِينٍ جَسَدٌ بِلاَ رُوحٍ
Al-‘ilmu bilaa diin, jasad bilaa ruuh — Ilmu tanpa agama, jasad tanpa ruh.

Jadi, sudahkah kalian memakai kacamata sains untuk hal yang baik? Misalnya: hitung-hitung zakat pakai rumus, atau bikin pupuk kandang pakai metode biologi. Ora usah muluk-muluk.

Wassalam.


Bermula


Bronze sculpture combining scientific and religious symbols entwined in a tree form
A bronze sculpture merging religious and scientific symbols intertwined as a tree of knowledge

Satu Cahaya, Kok Malah Ribut?

Assalamu’alaikum.
Kulo nuwun, para pembaca yang saya banggakan.

Pernah nggak kalian lihat lampu merah di perempatan? Cahayanya satu, tapi orang yang lihat beda‑beda. Yang buta warna bilang abu‑abu. Yang ngantuk bilang kuning. Yang lagi buru‑buru bilang merah itu hijau. Lha salah sendiri, mimpimu sopo?

Gitu juga hidup ini. Sebenarnya ada satu cahaya — entah itu kebenaran, cinta, atau Gusti Allah. Tapi kita lihat pake kaca mata masing‑masing. Wong NU pake kacamata Ahlussunnah. Wong Muhammad Abduh pake kacamata rasional. Wong seniman pake kuas. Semuanya ngarah ke cahaya yang sama, cuma sudut pandangnya beda.

Contoh gampang: Ketupat. Buat orang Jawa, ketupat simbolnya ngaku lepat (mengakui salah). Buat orang Betawi, ketupat lambang silaturahmi. Buat saya, ya enak dimakan pake opor. Cahaya ketupatnya satu: seduluran. Tapi lensanya beda.

Nah, yang mau saya tanya: Cahaya apa yang paling terang dalam hidupmu? Yang bikin hati adem, meskipun banyak orang bilang itu cuma khayalan. Tulis di komentar ya, biar rame.

Vintage flashlight illuminating a paper with the word UNITY through multiple glass lenses
A vintage flashlight shining through lenses highlighting the word ‘UNITY’ and related concepts

Bersambung ke postingan berikutnya: “Kaca Mata Sains – Apa Iya Logika Selalu Dingin?”


Bermula