Shawwal: Where the Journey Continues

Ramadan has passed—but the path is not complete.
Shawwal is not merely a celebration, but a continuation.

Begin with what is essential: perfect what is obligatory.
Missed fasts—fulfill them.

Then continue with what strengthens: six days in Shawwal,
as if gathering a year within His generosity.

Shawwal is about elevation—
not how much we do, but where we are moving.

And taqwa is not an endpoint,
but a living process—growing, gently, toward Him.


رمضان مضى—لكن الطريق مستمر.
شوّال بداية… لا نهاية.

Bermula


At the Height of Victory, We Become Small

Humility in triumph, especially during Eid.

Takbir at Eid al-Fitr redirects victory from self to God. In Conquest of Mecca, Muhammad bowed in triumph. Victory is safest when the self becomes small.

Read futher here.



Tentang Naskah ini / About This Text

Ad Fontes Veritatis

Return to the Sources of Truth

العودة إلى ينابيع الحقيقة


Tulisan ini merupakan bagian dari Proyek Bermula—

sebuah ikhtiar untuk mengembalikan pengetahuan kepada asalnya,

kepada kejernihan pertama tempat ia bermula.


This writing is part of the Bermula Project—

an endeavor to return knowledge to its origin,

to its primordial clarity.


هذا النص جزءٌ من مشروع “برمولا”—

محاولةٌ لإعادة المعرفة إلى أصلها،

إلى صفائها الأول.


Kami berangkat dari satu keyakinan:

pengetahuan bukan milik segelintir,

dan tidak boleh terputus dari fitrahnya.


We begin with a conviction:

knowledge must never belong to the few,

nor be severed from its fitrah.

المعرفة ليست حِكرًا، ولا تنفصل عن فطرتها.


Peradaban tidak runtuh karena kekurangan informasi,

melainkan karena kehilangan makna.

Civilizations do not collapse from lack of information,

but from the loss of meaning.

بل لفقدان المعنى.


Fitrah → Ilmu & Hikmah → Peradaban

Fitrah → Knowledge & Wisdom → Civilization.


Learn more about Bemula here

Kemenangan dan Kerendahan dalam Takbir

Takbir membesarkan Allah, bukan diri.
التكبيرُ للهِ لا للنفس

Di pagi Idul Fitri, gema takbir masih menggantung di udara.
Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Ia terdengar dari masjid, dari rumah-rumah, dari hati yang merasa telah sampai pada satu garis akhir. Ada rasa lega. Ada bahagia. Bahkan—jika jujur—ada rasa menang.

Namun justru di titik ini, sebuah pertanyaan yang lebih sunyi perlu diajukan:
mengapa di saat manusia merasa “menang”, ia diperintahkan untuk terus mengulang bahwa Allah-lah Yang Maha Besar?

Al-Qur’an memberi arah yang jelas: “agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan” (QS. Al-Baqarah: 185). Takbir bukan sekadar gema kegembiraan. Ia adalah pemindahan pusat—dari diri menuju Yang Ilahi.

Dan dalam bentuknya yang lebih lengkap, takbir bahkan menyimpan sebuah koreksi yang nyaris tak terbantahkan:

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar.
Allahu Akbar wa lillaahil-amd.
Wa naṣara ‘abdah, wa hazamal-azaaba wadah.
Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar.

Dia menolong hamba-Nya, dan Dia sendiri yang mengalahkan semua golongan.

Perhatikan baik-baik:
kemenangan tidak pernah dinisbatkan kepada manusia.
Bahkan pada puncak kejayaan, manusia hanya disebut sebagai ‘abd—hamba.

Sejarah memberi tubuh pada makna ini. Dalam Fathu Makkah, ketika Muhammad memasuki Makkah sebagai pemenang, beliau tidak mengangkat kepala dengan bangga. Riwayat menyebutkan, kepalanya justru tertunduk begitu rendah di atas tunggangan—seakan kemenangan itu sendiri tidak layak dirayakan dengan kebesaran diri.

Dalam hadis riwayat Muslim ibn al-Hajjaj, Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.” Di sini, kerendahan bukan lawan dari kemenangan—ia adalah bentuk tertingginya.

Takbir, dalam cahaya ini, bukan sekadar seruan. Ia adalah penjaga.
Ia menahan euforia agar tidak berubah menjadi klaim.
Ia meredam kemenangan agar tidak menjelma kesombongan.

Ia mengajarkan bahwa apa pun yang kita anggap sebagai “hasil”—ibadah, kesabaran, keteguhan—tidak pernah sepenuhnya milik kita. Kita hanya menerima, tidak memiliki.

Di zaman yang gemar memperbesar diri—memamerkan pencapaian, mengarsipkan kemenangan, dan mengumumkan setiap keberhasilan—pesan ini terasa semakin mendesak. Bahkan kemenangan spiritual pun bisa diam-diam berubah menjadi panggung bagi ego.

Di situlah takbir bekerja dengan sunyi namun tegas.
Ia tidak melarang kita bergembira.
Ia hanya memastikan bahwa kegembiraan itu tidak berpusat pada kita.

Maka mungkin, yang paling penting dari takbir bukanlah seberapa keras ia dilantunkan, tetapi ke mana ia diarahkan.

Apakah ia benar-benar naik menuju Allah—
atau diam-diam berputar kembali kepada diri kita sendiri?

Di puncak kemenangan, Islam tidak mengajarkan manusia untuk menjadi besar.
Ia justru mengajarkannya untuk mengecil—
agar hanya Yang Maha Besar yang tersisa.


Bermula.


Returning to Fitrah: Remembering What Was Never Lost

Fitrah is not knowledge we are born with, but a readiness to recognize truth when it is encountered. The Qur’an reminds us that we begin knowing nothing, yet are given the faculties to perceive and understand. This innate orientation is not constructed, but uncovered. Ramadan becomes a process of returning—stripping away distractions that veil what is already within reach. Fasting restores inward clarity, while zakat al-fitr ensures that this return extends outward into care for others. Eid, then, is not merely celebration, but acknowledgment: that the human being can realign, however briefly, with a deeper, original disposition.

Learn more about this article is here.


Learn more about Bermula can be started from here