Memahami Makna Spiritual Legowo

Kata legowo (istilah halus: legawa) berasal dari bahasa Jawa yang berarti sikap batin tertentu untuk menerima satu keadaan dengan lapang dada. Apa yang perlu segera dicatat adalah bahwa legowo adalah suatu: menerima atau menolak, menerima dalam satu cara, atau dengan cara lain yang bertentangan. Mengenai definisi legowo, pernyataan Ade Ilyasi berikut dapat dirujuk[1]:

Legowo. Bisa menerima apa yang berlaku pada dirinya dengan sabar, ikhlas dan pasrah. Sabar, tidak mengeluh atas cobaan yang ada. Ikhlas, lapang dada menerima cobaan tanpa rasa emosi atau dendam. Pasrah, semua akan di serahkan kepada sang pencipta karena semua ada hikmahnya.

Paling tidak ada dua catatan mengenai definisi di atas. Pertama, kata legowo mengandung tiga unsur yang masing-masing mencerminkan suatu kebajikan spiritual tertentu: kesabaran, ketulusan dan pasrah. Ini jelas menyiratkan makna mendalam dari kata legowo dan pada saat yang sama menunjukkan sifat ekspresif bahasa Jawa. Kedua, dalam “definisi” di atas kata legowo lebih mengarah pada sifat pasif dan hanya terkait dengan cobaan.

Pertanyaannya adalah apakah kata itu dapat juga digunakan untuk mengekspresikan suatu sikap yang lebih aktif; misalnya, sebagai kesiapan-diri untuk mengambil risiko dari tindakan atau keputusan yang diambil sadar dan intensional. Jika jawabannya “ya” maka kata legowo dapat diterapkan dalam konteks yang lebih luas; termasuk misalnya, dalam kehidupan beragama. Dengan demikian, frasa “kehidupan beragama dengan legowo”, misalnya, dapat diartikan sebagai sikap, perilaku atau praktik agama yang disertai unsur kesabaran, ketulusan atau keikhlasan dan tawakal atau berserah-diri:

  • sabar dalam menjalankan perintah agama dan meninggalkan larangannya,
  • tulus dalam memasang niat beragama, dan
  • tawakal dalam menerima takdir Tuhan.

Beragama secara legowo dalam pengertian ini sejalan dengan ajaran qurani, ajaran berbasis otoritas tertinggi dalam Islam, Al-Quran:

(Dialah) Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan segala apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan bersabarlah dalam beribadah kepada-Nya (Quran 19: 65).

Padahal mereka (ahli Kitab: Umat Yahudi dan Umat Nasrani) hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama (Quran 98:5).

dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal” (Quran 5:11).

Untuk mengeksplorasi makna Legowo lebih lanjut  kita dapat mengambil kasus menarik terkait dengan pemilihan Gubernur Jakarta yang lalu. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memberikan penilaian atas kasus tersebut; sebaliknya, tulisan ini hanya tertarik pada pemberitaan mengeai reaksi salah satu kandidat dalam menanggapi hasil pemilihan. Liputan media dalam kasus ini beragam tetapi berita utamanya dapat dirumuskan dalam kalimat singkat: “Ahok menerima kekalahannya dengan legowo, mengucapkan selamat kepada pemenang, dan menyebutkan kekalahannya sebagai kehendak Tuhan”.

Dalam kalimat itu dapat “dirasakan” hubungan-senafas antara legowo, pengakuan akan kelebihan pihak lain, dan ketetapan takdir. Dalam kalimat itu juga dapat “dirasakan” adanya unsur rendah hati (Inggris: humble, humility) dalam kata legowo. Sukar membayangkan sikap legowo dari orang yang tidak memiliki sikap rendah hati.

Rendah hati adalah salah satu matra kebajikan (Inggris: virtue, Arab: birr)[2] yang lebih mudah dipahami dari lawan katanya yaitu tinggi hati (Arab: takkbur, Inggris: pride). Istilah terakhir ini dikenal luas oleh umat beragama sebagai suatu sikap batin yang dianggap sebagai sumber, akar atau induk semua keburukan.

Sebagai kesimpulan, empat pernyataan berikut patut ditegaskan kembali:

  • Legowo adalah sikap batin untuk menerima situasi- betapa pun menyakitkan– dengan sabar, tulus dan pasrah;
  • Legowo mencerminkan kesiapan diri dalam menerima risiko dari tindakan yang dilakukan secara sadar dan bertanggung jawab;
  • Legowo adalah sikap batin yang sulit dibayangkan datang dari mereka yang kurang memiliki sikap rendah hati; dan
  • Legowo adalah suatu pilihan.

Pernyataan terakhir mengandung arti bahwa kita dapat menerima suatu peristiwa i yang telah terjadi atau menolaknya (dan ini mustahil), menerimanya dengan sabar atau tulus, atau dengan cara lain. Yang pasti, ada ketentuan takdir sebagaimana diungkapkan dengan padat dan indah dalam aforisme ketiga dari Al-Hikam:

Sensasi semangat tidak akan mampu menembus benteng takdir.

Mengenai aforisme ini, komentar Syekh Fadhallah berikut layak disisipkan di sini [3] untuk mengakhiri artikel ini:

Tak berguna! Bagaimanapun banyak energi yang Anda curahkan untuk maksud atau tujuan, itu tetap tidak akan tercapai jika tidak sesuai dengan keputusan Tuhan. Anda tidak akan memenangkan kehendak Anda di atas kehendak-Nya, yang telah menetapkan sifat yang terlihat dan tidak terlihat, dan menentukan nasib kita semua…. @

[1] https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20120707193759AA3FrcK

[2] Lihat: https://uzairsuhaimi.blog/2016/10/22/dimensi-kebajikan/ dan https://uzairsuhaimi.blog/2016/01/01/rendah-hati/.

[3] Ibn Atthaillah, Al-Hikam, yang disertai ulasan Sech Fadhalla, Jakarta: Mandiri Abadi (2003)

 

Mahmudi Sang Guru Ngaji

“Beli surga hanya bayar segitu. Surga apa yang harganya hanya dua ribu?”), Engke membuka obrolan

“Ngomong apa kamu?”, sahut Maha.

“Memang Aku tidak lihat ketika Kamu memasukkan uang ke kotak amal di Masjid tadi”, lanjut Engke.

“Oh itu”, sahut Maha. Ia baru menyadari. Ketika jumatan tadi ia duduk bersebelahan di saf ketiga. Ini suatu kemajuan bagi Maha yang biasanya duduk di saf hampir paling belakang dan masuk masjid ketika khutbah sudah dimulai. Lain halnya bagi Engke yang biasa duduk di saf pertama.

“Biar segitu Aku kan ikhlas”, Maha membela diri. “Memang kamu memasukkan berapa”?, lanjutnya.

“Tadi Aku mengisi kotak amal pakai tangan kanan sehingga tangan kiriku tidak mengetahuinya. Jadi, bagaimana aku tahu”,  Engke menjawab seenaknya. Maha hanya diam dan mulai memperlihatkan tanda-tanda mengantuk.

Dia hari itu dapat giliran kerja sif malam di pabriknya sehingga jam biologisnya mengajaknya tidur. Tetapi canda teman dekatnya tadi agak mengganggu kenyamanan tidur siangnya.

…“surga naon nu hargana dua ribu”…. “ulah kos si Udin nu nyekel prinsip Kumaha Engke, tapi tiru tah si Usuf nu nyepeng prinsip kaidah Enge Kumaha?”….

“Bangun, bangun! Sudah mau magrib”, teriak Engke sambil menggoyang-goyangkan badan Maha yang tengah tidur lelap. Maha bangun terkaget-kaget dan kesal juga karena baru setengah empat. Sambil berjalan menuju kamar mandi dia mencoba mengingat-ngingat mimpinya tadi: “ada dua episode, tetapi urutannya tidak jelas’, pikirannya.

Episode pertama menggambarkan pengalamannya Jumatan tadi ketika memasukkan dua-ribu-rupiah ke kotak amal. Dia biasanya “menyembunyikan” tangan ketika memasukkan uang tapi tadi lupa karena mengantuk-berat ketika mendengarkan khotbah.

Episode kedua memantulkan pengalamannya ketika mengaji di kampung. Dalam satu kesempatan ia dan teman-temannya mendengarkan nasehat guru mengaji agar berhati-hati dalam bertindak. Agar jelas sang guru memberikan ilustrasi mengenai sikap yang ceroboh dan sikap berhati-hati. Mengenai sikap pertama ia mencontohkan Udin yang digambarkan berprinsip Kumaha Engke (Bagaimana nanti), sementara untuk kedua ia mengambil conoth Usuf yang dinilai berprinsip Engke Kumaha (Nanti bagaimana). Sejak peristiwa itu Udin berubah nama jadi Maha dan Yusuf jadi Engke. Yang bersangkutan tidak keberatan.

Walaupun memiliki perbedaan perilaku Maha dan Engke sudah lama bersahabat dekat. Mereka berasal dari kampung yang sama: Kampung Mana-Boa, Kecamatan Nu-Ngarumbai-Tea, Kabupaten Sukabumi Selatan. Mereka sama-sama besar di kampung itu dan kini sama-sama tinggal di kawasan padat di Kabupaten Tangerang dan bekerja di pabrik tekstil yang sama.

Ada satu faktor yang lain yang membuat Maha dan Engke mempertahankan persahabatan mereka. Keduanya mengidolakan guru mengaji yang sama yaitu Ustadz Mahmudi.

Bagi mereka Mahmudi adalah sosok luar biasa: usianya masih muda (lebih muda dari mereka) tetapi ilmu-agamanya “selangit” istilah Maha. Mereka mengenali Mahmudi masih bujangan dan tinggal dengan ibunya yang mulai agak sepuh. (Dia sudah yatim sejak kelas dua SD.)

Menurut cerita yang mereka dengar, Mahmudi jebolan Pesantren Gontor tetapi belum sempat tamat karena masalah biaya. Keluar dari pesantren itu dia menyantri di pesantren salafiah di kawasan Jawa Timur dan menghabiskan waktu dua tahun di sana sebelum pulang kapung karena ibunya mulai sakit-sakitan. Karena alasan kondisi kesehatan ibunya ia menolak dengan sopan tawaran sang kiai untuk mengelola madrasah yang berada dalam pengawasan pesantren itu.

Ketika berpamitan ke Kiai ia memperoleh nasehat singkat: “Mahmudi. kamu punya bakat besar untuk menggadaikan diri jadi guru ngaji. Ingat ini, kalau mengejar akhirat kita akan dapat dua: dunia dan akhirat. Kalau fokus hanya pada urusan dunia maka kemungkinan besar kita kehilangan balasan akhirat”. Sang kiai melanjutkan:

“Ingat jurus kunci ini ketika jadi guru ngaji. (Sang kiai biasa menggunakan istilah “jurus kunci” jika ingin santrinya menyimak ucapannya secara serius.)

Pertama, ajarkan ilmu yang sesuai dengan kemampuan pendengar, jangan sampai tergoda untuk menyampaikan pelajaran hebat hanya untuk memperoleh kesan pintar.

Kedua, begitu kamu memiliki majelis pengajian, kamu harus Istiqamah memberikan pengajian. Walaupun jumlah peserta pengajian sedikit kamu tidak boleh kehilangan semangat.

Ketiga, antara kamu dan peserta pengajian harus ada sambung-rasa, mawaddah fil qurba. (Sang kiai membawakan ayat mengenai ini yang sampai kini diingat Yusuf.) Kamu jangan sampai tergoda menjadi penceramah beken yang mengandalkan retorika hebat tetapi tidak berhasil membangun hubungan-rasa dengan jamaah. Akibatnya, jamaah datang berbondong-bondong, menikmati pidato, dan pulang tanpa kesan yang melekat di hati mengenai isi pidato yang mereka nikmati”.

Semua nasehat kiai sangat mengesankan bagi Mahmudi, khususnya yang ketiga. Ia selalu mengasah ketrampilan “membangun-rasa” dengan jamaahnya dan keterampilan itu yang menjadi daya tarik utama kekaguman jamaahnya, khsusunya Maha dan Engki.

Malam tadi Maha dan Engki mengikuti ceramah Mahmudi yang seperti biasanya lumayan ramai walaupun hanya berlangsung 45 menit. Ustadz yang ini tidak suka betele-tele; ia dengan lugas selalu menerapkan prinsip penggunaan kata tepat-guna (Qurani: qaulan sadida) dan ungkapan halus–tapi-tegas (Qurani: qaulan layyinan).

Di akhir ceramah Mahmudi membawakan dua ayat Al-Quran yang dilantunkan secara perlahan tetapi jelas (Arab: tartil) serta menerjemahkannya.  Sesuai kebiasaannya dia tidak menambahkan penjelasan apa-apa mengenai ayat yang dibacakan. Baginya, Quran punya cara sendiri untuk menyapa pendengarnya sehingga penafsiran memiliki risiko mendistorsi makna ayat. Lebih dari itu, baginya Quran memilik bahasa yang demikian uniknya sehingga setiap pendengar merasa pesannya secara eksklusif ditujukan bagi dirinya yang sesuai dengan tingkat kecerdasannya. Kedua ayat itu adalah Quran (2:214-215):

 

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpakan kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan(, sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, “Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaklah diperuntukkan bagi bagi kedua orang tua, kerabat, anak yaitim, orang miskin, dan rang-orang dalam perjalanan. Dan kebaikan saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui”

Sambil pulang Maha yang suka spontan berkomentar: “Kok Ustadz Mahmudi tahu soal Aku ya. Lebaran lalu Aku hanya memberi ibuku 250 ribu dengan alasan lagi banyak keperluan. Padahal itu satu-satunya nafkah bagi orang tuaku tahun ini. Di hitung-hitung, 250 ribu hanya 5% dari gaji bulananku?”

Engki tidak menimpali karena sibuk dengan pikiran sendiri. Ia merasa kurang bakti kepada orang tua. Ketika lebaran lalu ia hanya memberikan orang tuanya 5 juta yang tengah dalam persiapan melakukan perjalanan Umrah: “Aku terlalu murah menghargai sugra”, pikirnya, terngiang ceramah Ustadz Mahmudi tadi……@

 

Menjadi Guru dan Murid yang Baik

Suka atau tidak, kita selalu memainkan peran guru sekaligus murid, paling tidak guru bagi anak-cucu dan murid dari para cerdik-cendekia yang masyhur. Karena kita tidak pernah sempurna maka upaya untuk menjadi guru dan murid yang baik merupakan tugas seumur hidup. Tulisan ini menyajikan catatan singkat mengenai upaya ke arah ini dengan menengok sejarah komunitas Muslim awal yang memang diberkati, khas dan unik[1]. Sebelumnya, demi kejelasan, berikut ini disajikan tinjauan sepintas mengenai arti dan fungsi guru.

Arti dan Fungsi Guru

Guru secara umum didefinisikan sebagai pribadi yang layak digugu dan ditiru atau diteladani. Oleh siapa? Oleh orang yang berguru atau murid. Gugu (Jawa) artinya mempercayai, menuruti, dan mengindahkan[2]. Jadi digugu artinya dipercaya, dituruti dan diindahkan. Sementara aspek gugu lebih terkait dengan unsur materi ilmu, aspek tiru dengan keteladanan.

Dalam definisi ini jelas unsur kepercayaan (Inggris: trust, Arab: amanah) sangat penting, kalau tidak paling penting. Seorang guru yang baik, dengan demikian, selain dituntut untuk menguasai materi ajar-didik serta teknik penyampaiannya, juga diwajibkan berperilaku yang layak dipercaya (Inggris: tustworthy, Arab: amin).

Dari sisi profesionalitas, fungsi guru mencakup fungsi-fungsi dosen, pembimbing, teladan, mentor, pelatih (coach), konsultan, dan sebagainya. Fungsi-fungsi ini tentu saja lebih menitik beratkan aspek gugu dari pada tiru. Dalam hal kredibilitas guru tentu beragam: ada yang layak digugu sekaligus ditiru semua ilmu dan perilakunya, ada layak digugu dan ditiru sebagian perilakunya, ada pula yang hanya dapat digugu tetapi tetapi layak ditiru. Dalam konteks ini murid yang baik dituntut memiliki daya kritis dan kreativitas.

Guru dan Murid Terbaik

Tetapi siapa guru dan murid terbaik? Menurut Matta (2010:30) murid terbaik adalah Nabi SAW dan murid terbaik adalah para sahabatnya:

Tidak ada guru sehebat nabi Muhammad Saw dan tidak ada murid sehebat sahabat radiallaahuanhum. Umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa yang membuat baik generasi pertamanya itu. Nabi sebagai guru terbaik tidak berkata-kata, bersikap dan bertindak kecuali dengan bimbingan dari Allah Swt. Sedangkan para sahabat mengisi hari-harinya selama dua puluh tahun dengan semua keteladanan gurunya itu secara kreatif dan independen.

Dari kutipan di atas tampak bahwa Nabi SAW menjadi guru terbaik karena dibimbing Rabb SWT dan sahabat menjadi murid terbaik karena meneladani Nabi SAW.

Bimbingan Rabb SWT menyebabkan Nabi SAW terbebas dari kesalahan (Arab: maksum), paling tidak demikianlah menurut keyakinan Muslim. Materi bimbingan-Nya sangat beragam. Nabi SAW dibimbing Rabb SWT, sebagai ilustrasi, soal identitas keagamaan terkait dengan Ahli Kitab. Dalam hal ini Rabb SWT menegaskan adanya bidang kesamaan (Arab: kalimatun sawa) antara Islam dengan dua agama samawi lainnya (Yahudi dan Kristen). Pada saat yang ditegaskan mengenai penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian pemeluk Yahudi dan Nasrani dan mengenai perbedaan orientasi keagamaan (teks: qiblah) dengan kedua pemeluk agama ini. Nabi SAW diingatkan mengenai perlunya ajakan untuk kembali kepada bidang kesamaan ketika berdialog dengan mereka, sekaligus diingatkan mengenai sia-sianya memaksakan kesamaan orientasi keagamaan (lihat Quran 2:145).

Bimbingan Rabb SWT tidak hanya terbatas pada urusan keimanan tetapi juga menyangkut perilaku beliau sebagaimana tersirat dalam dua peristiwa berikut:

  • Ketika Nabi SAW mengharamkan madu untuk dirinya akibat provokasi beberapa istrinya yang “cemburu”, Rabb SWT langsung menegur beliau melalui ayat ke-1 Surat At-Tahrim (ke-66). Surat ini juga mengingatkan kedudukan khusus istri Nabi SAW dan ancaman khusus (berlipat ganda) bagi mereka jika melakukan maksiat kepada Nabi SAW.
  • Ketika didatangi secara tiba-tiba oleh salah seorang sahabat yang buta dan menanyakan soal agama Nabi SAW sempat bermuka asam. Dalam ukuran normal sikap ini manusiawi karena ketika itu Nabi SAW tengah berada dalam suatu forum penting (high level meeting) dengan petinggi Kaum Quraisy dalam upaya untuk mengislamkan mereka. Tetapi dalam pandangan Rabb SWT sikap itu tercela sehingga Nabi SAW memperoleh teguran keras melalui Surat ‘Abasa (ke-80).

Nabi SAW bahkan dibimbing soal menggunakan kata-kata yang tepat (Arab: qaulan sadida, Quran 33:70) ketika berdakwah dan kata-kata yang halus tetapi tajam ketika berdebat (Arab: qaulan layyinan, Quran 20: 44). Yang terakhir ini dicontohkan melalui dialog antara Nabi Musa AS dan Fir’aun yang dinarasikan secara lugas oleh Natsir (2008:212-3).

Singkatnya, Nabi SAW memperoleh bimbingan Rabb SWT dalam semua bidang kehidupan Bimbingan itulah yang membuat Nabi SAW menjadi guru terbaik.

Sebenarnya ada faktor lain yang membuat Nabi SAW menjadi guru terbaik. Faktor itu adalah kemampuannya membangun “hubungan rasa” (meminjam istilah Natsir, terjemahan dari mawaddah fil qurba) antara beliau sebagai pembawa Risalah Islam dan Umat sebagai sasaran Risalah itu.

Jika Nabi SAW guru terbaik maka sahabat adalah terbaik karena “meneladani” Nabi SAW sebagaimana terlihat dalam kutip Matta di atas. Kata “meneladani alam konteks ini sebenarnya terlalu sederhana. Dalam kehidupan sehari-hari di era Rasul SAW sering turun Wahyu yang berisi pendidikan bagi para sahabat bahkan menjadikan mereka sebagai lawan bicara (Arab: mukhatabah). Mereka “diajari” oleh wahyu menegani hakikat dan penyebab kemenangan dan kekalahan mereka dalam Perang Badar dan Uhud, misalnya. Jadi, para sahabat dalam bebrapa hal dapat dikatakan memperoleh bimbingan Wahyu, tidak hanya meneladani Rasul SAW[3].

Bidang dan Materi Pendidikan

Sistem yang hebat membutuhkan manusia yang hebat. Sistem yang hebat tidak akan terwujud tanpa dukungan manusia hebat. “Hukum” sosial ini yang agaknya sangat dihayati oleh Nabi SAW. Oleh karena itu beliau mencurahkan perhatian yang sangat serius pada bidang pendidikan komunitas Muslim. Kebijaksanaan beliau membebaskan tahanan perang dengan cara mengajarkan baca-tulis kepada Komunitas itu mencerminkan besarnya perhatian itu.

Bidang pendidikan (tarbiyah) yang diajarkan Nabi SAW sangat luas. Luasnya bidang itu mungkin yang tercermin dari apa yang menjadi bidang keprihatinan  seorang ulama besar Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (lahir di Damaskus 691H). Bidang itu dirangkum oleh Hasan bin Ali al-Hijaz sebagaimana dikutip Matta (2010: 30-36: keimanan (taribyah Imaniayah), ruhiyah (ruh), fikriyah (pikiran), athifiah (persaan), akhlak (khuluqiyah), kemasyarakatan (ijtimaiyah), cita-cita (iradiyah), jasmani, dan seks (jinsiyah).

Dalam bahasa populer, apa saja yang materi bimbingan Nabi SAW kepada para sahabat?

Secara umum dapat dikatakan … mencakup semua aspek dan makna kehidupan: kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, kehidupan bertetangga, kehidupan bermasyarakat, makna dan tujuan hidup, keseimbangan antara hubungan vertikal dengan Allah SWT dengan hubungan horizontal antar sesama, nilai kebenaran, nilai kebaikan, nilai keadilan, nilai kemanusiaan, nilai ilmu, dan nilai keindahan. Quran mengajarkan semua materi itu Nabi SAW menjelaskan lebih lanjut dan bahkan mencontohkannya[4].

Daftar materi itu cukup lengkap untuk dijadikan modal membangun peradaban luhur (high civilization) sebagaimana dibuktikan dalam panggung sejerah oleh komunitas Muslim pasca generasi sahabat.

Sikap Kritis dan Pintu Ijtihad

Kembali kepada kutipan Matta di atas. Yang menarik untuk disimak ungkapan “kreatif dan independen” dalam kalimat terakhir. Tidak diketahui persis maksud ungkapan ini. Walaupun demikian dapat diduga ini terkait dengan daya kritis para sahabat mengenai masalah-maslah teknis operasional bidang muamalah (non-ibadah) dan di luar masalah keimanan. Artinya, para sahabat memiliki kemampuan untuk dapat membedakan ucapan dan perilaku Nabi SAW yang berasal dari bimbingan Rabb SWT dan mana yang bersifat perilaku pribadi.

Mengenai sifat kritis ini dapat dirujuk kasus Prang Parit (627) dan Perjanjian Hudaibiyah (628). Dalam kasus pertama Nabi SAW berpendapat untuk menyerang musuh di luar Kota Madinah. Pendapat ini bersifat pribadi sehingga dikoreksi oleh Salman Al-Farisi yang menyarankan untuk bertahan dalam Kota dengan cara menggali parit. Dalam kasus kedua, Umar RA protes berat karena menganggap perjanjian itu sangat merugikan Madinah. Bagaimana tidak merugikan karena dalam perjanjian itu ada klausul untuk mengembalikan orang Mekah yang pindah ke Madinah tetapi membiarkan orang Madinah yang pindah ke Mekah. Umar RA pada akhirnya menatai perjanjian itu setelah ditegaskan bahwa isi perjanjian itu berdasarkan Wahyu.

Dalam konteks lain, ilustrasi sikap kritis, “kreatif serta independen” seorang murid dicontohkan oleh Aristoteles (484-322 SM) dan Imam Syafii RA (767-819). Mereka sangat patuh dan menghormati guru mereka– Plato (424/3-348/7 SM) dan Imam Malik (711-795)– tetapi tetap bersikat kritis dan independen. Sikap ini yang memampukan mereka mengembangkan mazhab atau sistem pemikiran sendiri yang berbeda secara signifikan dengan mazhab guru mereka.

Sikap kritis ini diperlukan untuk membuka pintu ijtihad– “Mata Air Peradaban” menurut istilah istilah Matta (2010:41)– di bidang peradaban yang jelas-jelas tidak diatur dalam sumber primer (Wahyu-Sunnah). Penggunaan ijtihad sebagai sumber pengambilan hukum diberkati Nabi SAW (HR Abu Daud dan Tirmidzi). Ijtihad tentu mensyaratkan pemahaman agama yang mendalam, tafaqquh fid din, istilah Natsir (2008:165).

Singkatnya, sahabat sebagai “murid yang terbaik” Nabi SAW memiliki sikap kritis. Mereka mengisi supra-struktur Negara Madinah yang sistemnya adalah Islam (istilah Matta). Negara ini memiliki struktur layaknya suatu negara: tanah (Kota Madinah), jaringan sosial (persaudaraan Kaum Muhajirin dan Ansar) dan nota kesepakatan yang mengatur hubungan hidup bersama semua komponen masyarakat Madinah (Konstitusi Madinah). Tetapi bahan dasarnya adalah Islam dan Muslim: Islam sebagai sistem yang given dan Muslim yang mengoperasionalkan sistem itu. Sikap kritis memampukan mereka berijtihad sehingga membuat sistem itu berkibar dalam panggung sejarah.

Wallahualam….@

Referensi

Matta, M.H. Anis (2010), Dari Gerakan ke Negara, Fitrah Rabbani.

Natsir, M. (2008), Fiqhud Da’wah, Cerkan XIII, Yayasan Cipta Selecta dan Media Da’wah.

[1] Mengenai keunikan komunitas ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/02/3841/

[2] https://www.kamusbesar.com/gugu

[3] Uraian lebih lanjut dapat dilihat dalam https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/02/3841/

[4] https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/02/3841/

Agus Sang PNS

jibril1

Agus menatapi paras Si-kecil (6 bulan) yang tengah tidur lelap di samping putri sulungnya (3  tahun) yang juga lelap. Sore tadi Si-kecil terpapar demam yang mencemaskan. Ibunya dengan sigap membawanya ke dokter spesialis swasta yang bagi Agus bertarif terlalu mahal. Buktinya semalam ia mengeluarkan sepertiga honor bulanannya untuk sang dokter. Tetapi dalam hal dokter ini istrinya fanatik sehingga Agus hanya bisa mengurut dada. “Urusan kesehatan anak kok coba-coba”, argumen istrinya ketika Agus menyarankan untuk mencoba dokter umum atau Puskesmas. Di dua jenis pelayanan ini Agus dapat memanfaatkan BJPS Kesehatan sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya berarti.

“Sudah turun panasnya”.

Agus kaget mendengar suara istrinya yang dikira masih di belakang. Tetapi dia lega melihat istri terkesan lega.

“Jam tiga tadi dia baru tidur”, lanjut istrinya.

Agus membayangkan istrinya bergadang dan mungkin juga menggendong si kecil sesekali. Ia tidak tahu persis karena lagi “pisah ranjang”. Maksudnya, akhir-akhir ini dia biasa tidur di ranjang terpisah, bahkan di kamar berbeda.

Paling tidak ada empat alasan kenapa dia pisah ranjang. Pertama, Agus sering menerima telepon malam hari soal pekerjaan kantor dari atasan langsungnya, seorang ibu separuh baya yang terkenal taft. Agus tidak keberatan karena menganggapnya sebagai risiko kerja. Kedua, dia terkadang bangun malam untuk salat sunat yang dikhawatirkan mengganggu tidur istri dan anak-anaknya. Ketiga, ranjang di kamar tidur utama terlalu sempit untuk empat kepala. Keempat, istrinya tidak keberatan.

Setelah pamit kepada istri Agus dengan tenang mengendarai motor menuju stasiun KA terdekat. “Paling menelepon ibunya”, pikir Agus ketika mengantisipasi istrinya repot karena sakitnya di-kecil. Dia merasa beruntung punya mertua yang masih cekatan, memiliki waktu bebas setelah suaminya (mantan pejabat satu BUMN) meninggal, tinggal tidak jauh dari rumahnya, dan sayang cucu. “Sayang berlebihan”, pikir Agus.

Menekan Pengeluaran

“Masih pagi”, pikir Agus ketika melihat jam dinding stasiun KA masih merujuk pada angka 5.30. Dia terbiasa memanfaatkan Commuter Line pada jam ini menuju kantornya di kawasan Jakarta Pusat. Pagi ini ia beruntung berkesempatan duduk.

Sambil menikmati duduk dengan mata terpejam-agak-kantuk ia membayangkan paras si-kecil yang tadi sempat ditatapnya. Diam-diam dia berdoa agar si-kecil dikaruniai nikmat kesehatan. Harapannya, anak-anaknya tidak perlu terlalu sering ke dokter spesialis swasta yang mahal. “Naluri protektif keibuan yang berlebihan”, bisiknya dalam hati menilai istrinya.

Bagi Agus yang bergelar S2 dan sudah berkarier sebagai PNS hampir 10 tahun membayar dokter spesialis anak identik dengan pengurangan signifikan tabungannya yang tipis. Tahun ini, tabungannya menipis drastis karena dua macam pengeluaran: (1) biaya kelahiran si-kecil, dan (2) donasi sukarela biaya kuliah keponakan yang sudah yatim sejak usia SD. Yang terakhir ini jumlahnya lumayan besar tetapi dilakukan antara lain karena dorongan istri. Dalam hal kepekaan sosial istrinya layak diacungi jempol.

Walaupun tabungannya tipis Agus masih berharap tahun depan mampu menunaikan zakat. Tahun ini, untuk pertama kali dalam 5 tahun terakhir, ia tidak berzakat karena tabungannya di akhir waktu penghitungan tidak memenuhi nisab atau batas minimal untuk berkewajiban zakat.

Jam masih menunjukkan pukul 6.35 ketika Agus turun dari kereta di stasiun terakhir dan segera menyusuri trotoar jalan kaki ke kantor yang masih dalam rentang walking distance.

Kebiasaan jalan kaki dari stasiun terakhir ke kantor sudah dimulai setahun lalu. (Kebiasaan sebelumnya ngojeg.) Bagi Agus ini bagian upayanya untuk menekan pengeluaran. Upaya lainnya termasuk beberapa jenis pengurangan frekuensi: (1) frekuensi minum jus sirsak yang merupakan hobi beratnya, (2) frekuensi mentraktir istri makan bakso, dan (3) frekuensi menikmati double espresso di Starbucks Coffee yang juga merupakan hobi beratnya.

Menyempurnakan Tugas

Ketika memasuki ruang kerjanya dan baru menyalakan komputer Agus dipanggil menghadap Bos (besar). Ia segera melapor singkat ke atasan langsungnya. Kebetulan ia berada di kantor padahal pada jam itu bisanya belum hadir karena kesibukan luar. Agus melapor ke Ibu karena tahu itulah etika dan prosedur standar kantor.

Ketika menghadap Bos dia memperoleh  perintah singkat: “Ihsan, Bapak lusa akan menghadiri rapat antar-kementerian bertemakan B di Kementerian A. Kamu siapkan bahannya. Besok jam 8 sudah siap ya”. Agus merespons, “Siap Pak”. “Mohon izin bertanya Pak. Nama saya Agus, bukan Ihsan. Apa Bapak tidak salah panggil”.  Bos menjawab: “Oh tidak, tidak. Yang Bapak maksud memang kamu, tadi hanya salah sebut nama. Tadi pagi Bapak baru baca artikel bagus mengenai Ihsan, jadi keceplosan memanggilmu Ihsan”.

Agus lega mendengar penjelasan Bos. Sambil menuju ruang kerjanya ia mulai membayangkan rencana kerja untuk menyelesaikan tugas barunya ini. Sebelum mulai mengerjakannya ia melapor ke Ibu yang kali ini berbaik hati memberikan arahan singkat: “Untuk keperluan Bos kamu cukup menyiapkan pointers dan catatan ringkas, jangan bertele-tele”. “Siap Bu”, respons Ahmad.

Setelah melapor Agus langsung googling mencari informasi yang relevan mengenai Kementerian A dan Tema B. Maklum dia merasa awam soal keduanya. Ia menghabiskan sekitar satu jam untuk kegiatan ini sebelum akhirnya merasa memiliki bahan cukup.

Selesai googling dia mulai menyusun pointers sesuai arahan Ibu dan menggunakan waktu 90 menit untuk menyelesaikannya. Ia segera melapor ke Ibu yang menerimanya datar-datar saja. Ibu sempat memberikan sedikit koreksi walaupun kebanyakan (seperti biasanya) trivial, tidak substantif. Ia kembali ke komputernya untuk mengakomodasikan arahan Ibu walaupun menyadari sudah kehilangan sepertiga waktu istirahatnya.

Ketika menuntaskan pointers (dalam Words) sebenarnya ia telah menyelesaikan tugasnya menurut ukuran normal kantornya. Walaupun demikian ia merasa yang dilakukannya belum sempurna dan berniat untuk menyiapkan versi Power Point setelah makan siang. Dia bermaksud mengonsultasikan dengan Ibu mengenai idenya ini tetapi yang bersangkutan sudah keluar. “Tidak akan kembali sampai besok pagi”, kata sekretarisnya.

Ia melanjutnya niatnya menyiapkan Power Point yang dilengkapi logo kantor dan aksesori sederhana tetapi apik: “Biar besok pagi dikonsultasikan dengan Ibu”, pikirnya.

Usai menyelesaikan Power Point Agus masih belum puas. (Ia terkenal kreatif dan sedikit perfectionist.) Ia dapat membayangkan dalam rapat nanti Bos memiliki peluang memberikan sumbangan pikiran substantif. Agus meyakini kantornya memiliki ladang subur untuk menanam kebaikan bagi kepentingan masyarakat luas. Keyakinan ini yang selalu menyalakan semangatnya mengabdi sepenuh hati.

Didorong oleh pikiran ini ia berpikir untuk menyiapkan artikel singkat sebagai pelengkap Power Point: “Biar besok pagi hasilnya dikonsultasikan dengan Ibu”, pikirnya. Ia mulai menggarap artikel itu walaupun tidak selancar dugaannya. Penulisan artikel ternyata perlu diselingi googling untuk memperoleh evidence-based yang kuat dan argumen yang meyakinkan untuk menghasilkan artikel kredibel. Ia menyadari Bos-nya yang menyandang gelar PhD itu akrab dengan model artikel ilmiah.

Agus menyelesaikan artikelnya satu jam setelah jam-pulang-kantor sehingga harus berdesak-ria dalam kereta. ia tidak keberatan dengan situasi tidak nyaman itu karena menyadari sudah menjadi risiko kerja. Sebelum pulang ia sempat mem-print artikelnya. Niatnya, malam nanti kan memeriksa artikel agar lebih sempurna.

Paginya dia bersyukur memeriksa artikel karena ternyata masih mengandung beberapa kekurangan. Dia berangkat kerja lebih pagi untuk menyelesaikan penyempurnaan yang ternyata hanya butuh waktu 15 menit. Setelah menyelesaikan pekerjaan ini waktu menunjukkan pukul 7.30. “Masih ada waktu mengonsultasikan dengan Ibu”, pikirnya. Sayangnya yang bersangkutan belum ada di kantor. Ia menunggu sampai sekretaris menginformasikan Ibu baru siang nanti di kantor. Karena informasi ini ia menyerahkan seluruh hasil kerjanya langsung ke Bos karena sudah mendekati tenggang waktu yang diberikan.

Sabar, sabar

Setelah menyerahkan tugas ia merasa lega dan berniat untuk santai sejenak. Niatnya urung: ia dipanggil Ibu yang baru tiba dan di luar dugaan marah berat karena merasa dilangkahi: “Kenapa kamu menyerahkan hasil kerja ke Bos sebelum Aku periksa?, dst., dst., ..,,” Agus sempat terenyak dan hampir marah. Tetapi segera menyadari ia tengah berhadap dengan atasan. Amarahnya pun segera mereda: “Ya Bu”, responsnya pendek. Dengan lunglai ia kembali ke ruang kerjanya.

Di ruang kerjanya sempat terpikir oleh Agus bagaimana dirinya sering diperlakukan tidak adil oleh Ibu. Dua teman seangkatannya yang juga anak buah Ibu memperoleh promosi jabatan dua tahun lalu padahal “kinerjanya biasa-biasa saja” menurut teman sejawat. Tetapi Agus segera menyadari pikirannya itu berasal dari Setan sehingga ia segera bersistigfar. Ia merasa hampir menghujat kebijaksanaan Tuhan sehingga segera menangkan diri: “Sabar, sabar. Apa yang menjadi nasibmu adalah izin Tuhan dan ini berati yang terbaik bagimu”, bisiknya dalam hati.

Agus populer di kalangan teman-teman antara lain karena dinilai terlalu lama di posisinya sekarang. Normalnya, tiga tahun lalu ia sudah memperoleh promosi jabatan. Agus mengetahui penilaian koleganya tetapi sama-sekali tidak merasa terganggu. Ia tetap bermuka jernih ketika bekerja dan bergaul di lingkungan kantor.

Di lingkungan kantor Agus juga populer sebagai PNS yang baik: hampir tidak pernah terlambat tiba di kantor, rajin bekerja dan produktif-kreatif, selalu bermuka jernih dan tidak pernah melawan atasan.

Agus-Ahmad-Ihsan

Sebenarnya label “PNS yang baik” untuk sosok Agus terlalu sederhana. Ia mewakili sosok “PNS yang terpuji”. Label terpuji sesuai bagi Agus yang bernama lengkap Ahmad Agus: Ahmad (Arab) artinya terpuji.

Selain berlabel Ahmad, sosok Agus sebenarnya juga layak dilabeli Ihsan. Alasannya, Agus terbisa menyelesaikan tugas lebih dari yang dituntut secara formal yang menurut para ustaz merupakan ciri Ihsan. Kata ustaz Ihsan adalah “puncak kebaikan”; Ihsan tidak hanya melakukan pekerjaan secara sempurna menurut aturan, tetapi melakukannya dengan mengerahkan inteligensi (Inggris: intelligence, lebih luas dari pada mind), dan jiwa (Inggris: soul). Juga menurut ustaz, Ihsan memiliki kemampuan untuk memberikan donasi sukarela dalam keadaan sulit dan untuk menahan amarah. Semua ciri-ciri ini ada pada Agus bahkan sudah merupakan akhlak atau kebiasaan spontannya.

Demikianlah Agus, sang PNS. Dalam populasi PNS banyak Agus-agus lain yang jumlahnya cenderung meningkat. Walaupun demikian, kelompok ini tetap minoritas dan umumnya tidak berbakat untuk menarik perhatian atasan. Bagi mereka, mengasah bakat ini identik dengan mengaburkan nilai profesionalisme sejati….@

Islam, Muslim dan Umat: Perspektif Al-Quran

Islam, Muslim dan Umat. Ketiga istilah ini saling terkait. Pada umumnya Islam didefinisikan sebagai agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, Muslim sebagai penganut agama ini, dan Umat sebagai komunitas Muslim.

Definisi ini sebenarnya terlalu sempit dalam perspektif Al-Quran. Ini tidak berarti definisi-definisi itu salah. Yang menjadi isu di sini adalah perbedaan tataran. Sementara definisi umum berbicara pada tataran bentuk (formal), Al-Quran berbicara pada tataran hakikat (esensial). Tulisan ini menyajikan catatan singkat mengenai perspektif Al-Quran mengenai tiga istilah ini.

Islam dan Muslim

Secara kebahasaan, kata Islam berasal dari kata kerja (Arab: fi’il) asalama yang berarti “telah menyerahkan atau berserah diri”. Subyek atau pelaku kata kerja ini dapat apa saja (tidak harus manusia) dan cara melakukannya dapat secara sukarela maupun terpaksa:

Maka mengapa mereka mencari agama lain dalam agama Allah, padahal apa yang di langit dan dibumi berserah diri (teks: aslama) kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan? (3:83).

Turunan kata aslama dalam bentuk kata benda abstrak (Arab: ism mashdar) adalah Islam yang berarti “penyerahan diri”. Turunan kata yang sama dalam bentuk kata benda subyek atau pelaku (Arab: ism fa’il) adalah Muslim (tunggal) dan Muslimun (jamak). Dengan demikian kata Muslimun berarti “orang-orang yang berserah diri”.

Al-Quran menggunakan kata Muslimun alam pengertian yang luas dan inklusif; tidak hanya mencakup Umat Muhammad SAW, tetapi juga umat para nabi lainnya:

Katakanlah (Muhammad), “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa, dan para nabi dari Tuhan meraka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya kami berserah diri (teks: muslimun)” (3:84)

Al-Quran menempatkan Agama Islam yang dibawa Nabi SAW bukan sebagai agama baru tetapi kelanjutan dari tradisi agama (Arab: milah) Ibrahim AS dengan ciri utama lurus (Arab: hanif) dan monoteis (bukan Musyrik). Hal ini terungkap dalam teks suci (Quran 16:20-23):

Sesungguh, Ibrahim adalah seorang imam (yang dapat dijadikan teladan), patuh kepada Allah dan hanif. Dan dia bukanlah termasuk orang musyrik (yang mempersekutukan Allah).

Dia menyukuri nikmat-nikmat-Nya. Allah telah memilihnya dari menunjukkannya ke jalan yang lurus.

Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia, dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang yang saleh.

Kemudikan Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “ikutilah agama Ibrahim yang lurus (hanif), dan dia bukanlah termasuk orang musyrik”

Umat

Seperti disinngung sebelumnya, secara umum Umat didefinisikan sebagai komunitas Muslim. Dalam Al-Quran kata Umat dikaitkan dengan karakteristik komunitas yang berpandangan moderat atau pertengahan (teks: ummatan wasathan), tidak ekstrem:

Dan demikianlah pula Kami telah menjadikan kau (Umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia” (Quran, 2:143).

Umat akan menjadi yang “terbaik” (teks: khaira Ummah) Umat, selain berpandangan moderat, harus memiliki kapasitas untuk memerintahkan kebaikan (teks: ma’ruf) dan mencegah keburukan (teks: munkar):

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah yang munkar…. (Quran 3:110).

Kapasitas ini tentu saja hanya mungkin dapat dimiliki dan direalisasikan secara efektif jika memiliki kekuasaan (Arab: sulthan).

Kata moderat digunakan sebagai terjemahan kata wasathan yang darinya kata wasit diturunkan. Dalam suatu permainan (misalnya permainan sepakbola), seorang wasit yang baik perlu memenuhi empat kualifikasi berikut:

  1. Memahami aturan permainan secara baik;
  2. Memiliki wibawa sehingga dapat mengendalikan permainan secara efektif;
  3. Memiliki rasa keadilan dalam menerapkan aturan permainan; dan
  4. Berwibawa sehingga keputusannya dihormati para-pihak dengan rasa terima kasih atau secara legowo.

Semua kualifikasi ini dapat dianalogikan dalam bidang pergaulan internasional. Pertanyannya adalah apakah dalam bidang ini Umat berperan aktif sebagai wasit yang mewasiti atau  “menjadi saksi bagi manusia”) sesuai arahan normatif teks suci (Quran 2: 143)?  Jika jawabannya negatif, maksudnya bukan mewasiti tetapi diwasiti, maka hal ini dipastikan terkait dengan empat kualifikasi wasit yang baik sebagaimana diutarakan sebelumnya.

Wallahu’alam….@

Catatan

Tulisan ini merupakan Lampiran dari eBook yang akan segera terbit, tulisan ringkas dengan sekitar 7,000 kata). Judulnya: Memahami Peradaban Muslim Awal: Sejarah Ringkas Dalam Terang Kitab Suci.  …@

 

Andai Saja Bapakku….

 

Mengenakan busana terbaik yang diolesi sedikit wewangian kesukaan

Dia berjalan perlahan ke arah masjid untuk salat sunat Hari Raya

Hatinya berbunga melihat sekelompok anak-anak bermain ceria tanpa beban

Lari ke sana-kemari penuh vitalitas, tertawa lepas

Tapi ada satu anak di bawah pohon sana menangis lirih-sedih-merana

Penanya:

“Apa yang membuatmu bersedih Nak?”

Si Anak:

“Aku menangis karena bapakku telah tiada”

“dia meninggal ketika berperang bersama Nabi”

“Ibu juga telah tiada, juga saudara, juga paman-bibi”

“Aku menangis karena tidak ada makanan yang tersedia”

“Aku bersedih karena tidak ada baju baru untuk lebaran”

Penanya:

“Maukah kamu menjadikan Muhammad sebagai bapakmu”

“Aisyah menjadi ibumu”

“Fatimah menjadi bibimu dan Ali menjadi pamanmu”

“dan Hasan-Husain menjadi saudara-saudaramu”

Si Anak:

(setelah kaget mengetahui yang bertanya ternyata Nabi)

“Kalau demikian tentu saja mau ya Nabi”

 

Nabi SAW membawa si anak ke rumah

diberinya makan-minum sampai kenyang, dibersihkan

dikenakannya pakaian baru

 

Si anak kembali ke rombongan teman

dengan penuh kegembiraan ikut bermain

 

Anak lain:

“Kenapa sekarang Kamu gembira padahal tadi menangis sedih”

Si Anak:

“Tadi Aku menangis karena lapar, sekarang aku gembira karena kenyang”

“Tadi Aku menangis karena tidak memakai baju baru, sekarang bajuku baru”

“Tadi aku bersedih karena tidak punya bapak-ibu”

“Sekarang aku gembira karena punya Bapak Muhammad dan Ibu Aisyah”

“Tadi Aku bersedih karena tidak punya bibi, paman dan saudara”

“Sekarang Aku gembira karena punya bibi Fathmah, punya paman Ali dan punya saudara Hasan Husain”

Anak lain:

Andai saja Bapakku ikut perang bersama Nabi dan meninggal di sana maka aku akan punya bapak Nabi”

Catatan:

  1. Menurut Santa Thresia, masalah kita adalah diameter lingkaran keluarga yang kita definisikan terlalu pendek”
  2. Konon kebahagiaan hanya mungkin diperoleh dengan cara berbagi
  3. Jika premis ( 1) dan (2) benar maka kesimpulannya:

“Kebahagiaan berbanding lurus dengan diameter lingkaran keluarga: Semakin panjang diameter, Semakin besar kebahagiaan”