Mengenal Rumi

Rumi was a messenger of truth with high clarity of vision. And the only way we can truly honor him is to be as truthful and clear about his life as possible[1].

Kutipan di atas menggambarkan sosok Rumi sebagai utusan atau pembawa pesan kebenaran. Tapi siapa Rumi? Tulisan ini bermaksud menjawab pertanyaan ini secara singkat.

Sosok dengan Banyak Keahlian

Rumi adalah seorang Persia abad ke-13 (30/9/ 1207–17/12/1273). Nama lengkapnya, Jalāl ad-Dīn Muhammad Rūmī. Ia  dikenal juga sebagai Jalāl ad-Dīn Muhammad Balkhī, atau Mevlânâ/Mawlānā (“master kita “), Mevlevî/Mawlawī (“masterku”). Gelar master mencerminkan kepakarannya, khususnya di bidang Hukum Islam. Seperti bapak dan kekeknya, Rumi pernah berprofesi sebagai mufti atau pemberi fatwa dalam bidang Hukum Islam.

Pada umur 30-an, sejak bertemu tokoh misterius Syam, Rumi menanggalkan profesinya sebagai mufti. Tokoh ini yang mengubah orientasi hidup Rumi secara radikal, paling tidak dari tampilan luar. Tokoh ini pula yang mentransformasikan Rumi menjadi penyair Sufi yang mungkin paling produktif dan populer.

Selain sebagai mufti dan penyair Rumi juga populer sebagai sarjana Islam, ahli teologi, dan Sufi mistis[2]; bukan kelas kebanyakan, tetapi tingkat ahli. Singkatnya, Rumi adalah sosok dengan banyak keahlian.

Sebagai catatan, sebutan “Rumi” berarti “orang Roma”. Sebutan ini melekat karena Rumi tinggal di wilayah yang sebelumnya merupakan bagian dari kekuasaan Romawi Timur atau Bizantium.

Popularitas Rumi

Sejak muda Rumi sudah populer. Pengaruh pemikirannya melampaui batas-batas negara dan suku termasuk  Iran, Tajikistan, Yunani, Pashtun, Asia Tengah, Asia Selatan.

Sampai kini Rumi tetap populer, paling tidak sebagai penyair. Puisi-puisinya telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di dunia dan ditransformasikan ke dalam berbagai format. Beberapa pengamat mencitrakan Rumi sebagai penyair paling populer yang karyanya paling di Amerika Serikat (AS)[3].

Popularitas Rumi pada masa kini terbentuk antara lain karena keberhasilan upaya gigih Barks, seorang ahli bahasa berkebangsaan AS. Pada suatu hari (1976) konon ia disodori terjemahan AJ Abbery mengenai karya Rumi. Komentarnya ketika itu, “Puisi-puisi ini perlu dilepaskan dari kerangkengnya”.

Sejak itu Barks menghabiskan waktu 33 tahun untuk menerjemahkan karya Rumi dengan gaya bebas, gaya yang dinilainya sesuai dengan selera kontemporer. Hasilnya, 22 jilid terjemahan karya Rumi dengan gaya-bebas, termasuk The Essential Rumi, A Year with Rumi, Rumi: The Big Red Book and Rumi’s father’s spiritual diary, The Drowned Book, semuanya dipublikasikan oleh HarperOne. Karyanya telah terjual dari dua milyar kopi dan diterjemahkan dalam 23 bahasa.

Kekuatan Puisi Rumi

Apa yang membuat puisi Rumi dapat diterima secara luas? Banyak teori mengenai ini. Barks menyarikannya sebagai berikut[4]:

“Seperti Perkataan Yesus (Injil Thomas), mereka (maksudnya karya-karya Rumi) telah disembunyikan selama berabad-abad… tidak dalam guci merah yang dimakamkan di Mesir, tetapi dalam komunitas darwis dan perpustakaan Turki dan Iran. Selama beberapa tahun terakhir para sarjana telah mulai mengorganisasikan mereka dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris”.

“Baru-baru ini,” lanjut Barks “saya merasakan adanya gerakan global yang kuat, sebuah dorongan yang ingin membubarkan batas-batas yang telah dibuat oleh agama dan mengakhiri kekerasan sektarian. Dikatakan bahwa orang-orang dari semua agama datang ke pemakaman Rumi pada tahun 1273. Karena, kata mereka, ia memperdalam iman kita siapa pun kita…”.

Dalam koteks ini Barks bukan satu-satunya. Anne Walden, seorang penyair yang juga profesor puisi, pada suatu hari melihat satu baris pusi Rumi ini: “Out beyond ideas of wrongdoing and right doing there is a field. I’ll meet you there.” (Di luar batas benar salah ada ladang. Di sanalah kita bertemu”.) Bagi Anne puisi ini luar biasa provokatif sekaligus mengilhami. Dia menyimpulkan bahwa puisi Rumi itu misterius, provokatif dan tokoh dalam era kita, ketika kita tengah bergulat untuk memahami tradisi Sufi dan sifat ekstasi, pengabdian dan kekuatan suatu puisi.

“Sepanjang waktu, di semua tempat dan lintas budaya, puisi-puisi RumI mengartikulasikan bagaimana rasanya hidup”. Itu kata Lee Bricceti, direktur eksekutif Poets House. Puisi Rumi, menurutnya, “membantu kita memahami pencarian kita akan cinta dan ekstasi dalam pergulatan hidup sehari-hari”. Sang direktur ini membandingkan karya Rumi dengan karya Shakespeare dalam hal resonansi dan keindahan.

Singkatnya, dalam era kontemporer banyak “penggemar” Rumi di berbagai belahan bumi ini.

Menyerempet Bahaya

Kita dapat merasakan karya-karya Rumi sarat dengan sifat esoterik dalam arti lebih menekankan sisi batiniah, esensi atau isi bagian dalam suatu ajaran agama. Pendekatan esoterik ini dapat dikatakan lebih terkagum-kagum oleh Keagungan Ilahi SWT, sifat jamal-Nya.

Secara analitis, pendekatan esoterik berbeda dengan pendekatan eksoterik yang lebih mengedepankan sisi lahiriah, formal atau tampilan luar. Pendekatan yang kedua ini lebih terpesona (dalam beberapa kasus “tersihir”) oleh Keindahan Ilahi SWT, sifat jamal-Nya. Sayangnya, kedua pendekatan ini sering kali dipertentangkan secara tajam. Kasus martir Al-Hallaj (858-922M) atau Syech Siti Jenar (untuk kasus Indonesia) dapat dipahami dalam konteks ini.

Kehebatan Rumi adalah bahwa karya-karyanya dapat diterima oleh para tokoh-tokoh (besar) penganut pendekatan eksoterik. Mereka sering kali “tersenyum” melihat “kejenakaan” Rumi karena melihat kandungan “wisdom” mendalam di dalamnya.

Fakta ini menarik disimak karena karya-karya Rumi secara sepintas lalu terkesan “menyerempet bahaya” dalam perspektif umum para eksoterik. Lihat saja puisinya ini:

Not Christian or Jew or Muslim, not Hindu, Buddhist, sufi, or zen. Not any religion or cultural system. I am not from the East or the West, not out of the ocean or up from the ground, not natural or ethereal, not composed of elements at all. I do not exist, am not an entity in this world or the next, did not descend from Adam or Eve or any origin story. My place is placeless, a trace of the traceless. Neither body or soul. I belong to the beloved, have seen the two worlds as one and that one call to and know, first, last, outer, inner, only that breath breathing human being[5].

“Rahasia” Rumi mungkin karena ia, seperti Busthami[6], dikenal sangat taat dalam memraktikkan ajaran agama sehingga tidak membuat gusar kaum eksoterik.

Seperti disinggung, perbedaan esoterik dan eksoterik hanya berguna pada tingkat analisis. Pada tingkat praktis, keduanya dapat dipadukan seperti yang diteladankan oleh kebanyakan sufi besar. Dan ini yang ideal. Bukankah yang Ilahi SWT menyandang sifat Jalal sekaligus Jamal?

Hati, Cinta dan Kejenakaan

Bagi Rumi hati (qalb) adalah sumber pengetahuan hakiki dan cinta. Inilah salah satu tema utama karyanya. Ia sangat menganjurkan kita untuk secara berkala mengunjungi hati masing-masing secara berkala. Tema ini yang dicoba direfleksikan dalam Dialog Imajiner dengan Rumi.

Tema utama lain karyanya adalah cinta, cinta sufistik. Baginya hanya cinta yang dapat diandalkan untuk mendekati-Nya. Kedua tema ini—hati dan cinta—oleh Rumi dinarasikan melalui karyanya dengan gaya spontan dan jenaka sehingga dapat diterima khalayak sambil tersenyum….@

[1]  http://www.rumi.net/about_rumi_main.htm

[2] https://en.wikipedia.org/wiki/Rumi.

[3] http://www.bbc.com/culture/story/20140414-americas-best-selling-poet.

[4] Ibid.

[5] https://www.azquotes.com/author/12768-Rumi/tag/religion

[6] https://mistikus-sufi.blogspot.com/2011/04/bayazid-al-bistami.html

Advertisements

Imaginary Dialogue with Rumi (2)

 

Dialog 2: Dust

 

[Looking out the window without expression Rumi mumble slowly …]

Rumi: Do Antum[1] recognize various paths out there?

Disciple: Just a little, Master.

Rumi: Use your heart’s eyes! Antum can see a lot of paths out there. There are big ones, some small ones. Some are straight, some are twisting. Some are safe, many are vulnerable. There are even many sham paths out there.

[The disciple just kept quiet but prepared his heart to receive the teachings from his master. He knows that his master likes to use “bird language”[2] which can only be understood by heart ears.]

Rumi: Do you know, the biggest, the straightest forward and the safest road is the Path of Al-Mustafa[3].

[Because the disciple is just silent then Rumi continues.]

Rumi: Antum knows my degree?

Disciple: Not very clear, Master.

Rumi: I am just dust on the Al-Mustafa path. But I was lucky as blessed with a little fragrance. Only slightly. Can you smell it?

Disciple: Very, Master.

Rumi: Antum knows who loves Al-Mustafa the most?

Disciple: Uncertain, master.

Rumi: Bilal. After being left by her lover, she was no longer willing to call people for prayer. When the caliph persuaded him he dodged: “Let me become a Muezzin for the Apostle only,” he said. There was no way to force him. Because, if forced, he will only be able to arrive at this part: “waasyhadu anna Muhammadan ar-Rasulullah“.

[Hearing this the disciple was just stunned, trying to imagine the situation. Seeing the students stay silent, Rumi continued].

Rumi: Antum knows what is most loved and loved by Al-Mustafa?

Disciple: Just a little but uncertain, Master.

Rumi: Mustadhafin[4], and orphans.

Disciple: But …

[The disciple failed to continue his protest because he saw the Master sink into contemplation.]

[1] Antum is a familiar phrase for “you”.

[2] The term bird language (Arabic: mantiq al-thair) is used by holy texts to convey higher truths. The sacred text alludes to Solomon as a prophet who understands this language.

[3] Al-Mustafa (Arabic) means chosen (the chosen one). Rumi used to use this term to refer to the Prophet SAW.

[4] This term refers to marginalized groups in society, including the needy and the poor.

[back to dialog 1]

Dialogue Imaginaire avec Rumi (2)

 

Dialogue 2: La poussière

 

[Regardant par la fenêtre sans expression, Rumi murmure lentement …]

Rumi : Antum reconnaît-il différents chemins?

Un disciple : Juste un peu, Maître.

Rumi : Utilisez les yeux de votre coeur! Antum peut voir beaucoup de chemins là-bas. Il y en a de grands, certains petits. Certaines sont droites, d’autres sont tordues. Certains sont en sécurité, beaucoup sont vulnérables. Il y a même beaucoup de faux chemins là-bas.

[Le disciple se taisait mais préparait son cœur à recevoir les enseignements de son maître. Il sait que son maître aime utiliser un “langage d’oiseau” qui ne peut être compris que par des oreilles de coeur.]

Rumi : Savez-vous que le chemin le plus droit, le plus droit et le plus sûr est le Chemin d’Al-Mustafa.

[Parce que le disciple est juste silencieux alors Rumi continue.]

Rumi: Antum sait mon diplôme?

Un disciple: Pas très clair, Maître.

Rumi: Je ne suis que poussière sur le sentier Al-Mustafa. Mais j’ai eu la chance d’avoir un peu de parfum. Seulement un peu. Pouvez-vous le sentir?

Disciple : Très, Maître.

Rumi : Antum sait qui aime le plus Mustafa?

Disciple : Incertain, maître.

Rumi : Bilal. Après avoir été laissée par son amant, elle ne souhaitait plus appeler les gens pour la prière. Quand le calife l’a convaincu, il a esquivé: “Laissez-moi devenir un muezzin pour l’apôtre uniquement”, a-t-il déclaré. Il n’y avait aucun moyen de le forcer. Parce que, s’il est forcé, il ne pourra arriver qu’à cette partie: “waasyhadu anna Muhammadan ar-Rasuilullah”.

[En entendant cela, le disciple était stupéfait, essayant d’imaginer la situation. Voyant les étudiants rester silencieux, continua Rumi].

Rumi: Antum sait ce qui est le plus aimé et aimé par Al-Mustafa?

Un disciple : Juste un peu mais incertain, Maître.

Rumi: Mustadhafin et les orphelins.

Disciple : Mais ….

[Le disciple a omis de continuer sa protestation parce qu’il a vu le Maître sombrer dans la contemplation].

[retour au dialogue 1]

 

Imaginary Dialogue with Rumi (1)

Dialogue 1: Groom

Rumi: Do you visit yourself regularly?

Disciple: No, teacher.

Rumi: Do it! From now on!

Disciple: Yes, Master.

Rumi: What is your wish?

Disciple: To meet Ramadan this year.

Rumi: Hmmm …!

[Rumi is ready to leave but suddenly turns around and talks more seriously].

Rumi: You know that there will be marriage, marriage with eternity. It is certain! Prepare to be the groom.

Disciple: ???

[proceed to dialog 2]

Dialogue Imaginaire avec Rumi (1)

Dialogue 1: Marié

Jalal Al-Din Al-Roumi: Vous rendez-vous régulièrement?

Étudiant: Non, professeur.

Jalal al-Din al-Roumi: Fais-le! À partir de maintenant!

Étudiant: Prêt, Maître.

Jalal al-Din al-Roumi: Que souhaitez-vous maintenant?

Étudiant: Pour rencontrer le Ramadan cette année.

Jalal al-Din al-Roumi: Hmmm …!

[Romy est prête à partir mais se retourne soudainement et parle plus sérieusement].

Jalal al-Din al-Roumi: Vous savez qu’il y aura mariage, mariage avec l’éternité. Il est certain! Préparez-vous à être lemarié.

Étudiant: ???

[passer au dialogue 2]

 

 

Arab Spring: Catatan Kecil dan Pelajaran Besar

Nama: Mohammed Bouzizi; Warga Negara: Tunisia; Pekerjaan: pedagang kali-lima; Kasus: membakar-diri; Penyebab kasus: barang dagangannya disita pihak “berwenang”; Waktu: 17 Desember 2010 (Ramadan, 2012:6)[1]. Kasus ini bersifat historis (historical). Kenapa? Karena menandai apa yang dikenal sebagai Arab Spring yang dalam bahasa Ramadan “membawa perubahan dramatis di Timur Tengah, Afrika Utara, dan dunia” (ibid:6):

14 Januari 2011: Zine El Abidine Ali, diktator Tunisia, terbang ke Arab Saudi, diikuti oleh perubahan pemerintahan (27 Februari), kebingungan, dan teriakan “Get out” kepada despotisme, keluarganya dan regim yang tengah berkuasa;

25 Januari 2011: Mobilisasi masif di sekitar lapangan Midan at-Tahrir yang kini jadi populer (Kairo, Mesir). Teriakannya serupa yang berujung pada pelengseran Presiden Mubarrak (11 Februari 2011);

20 Februari 2011: Serangkaikan protes masal yang membawa reformasi di Maroko.

Kasus-kasus serupa terjadi di Jordania yang menurunkan PM dan melahirkan janji reformasi sosial (1 Februari 2011), di Libya (15 Februari 2011), di Bahrain (14 Februari 2011), di Yaman, di Suria, bahkan di Arab Saudi.

Sebutan Arab Spring diperdebatkan. Ada yang bilang revolusi, ada yang menyebutnya pemberontakan, protes umum, bahkan ada intifadah. Dan banyak label lain.  Yang jelas, Arab Spring melanda (hampir) seluruh kawasan Arab. Mengenai kawasan Arab ini paling tidak ada dua catatan:

Secara geografis Tunisia bukan wilayah Jazirah Arab dan sekitar. Jadi kriteria geografis untuk melabeli Arab dapat mengecohkan (misleading). Negara ini terletak di Afrika Utara yang jauh dari kawasan Jazirah Arab (bagian dari Asia yang meliputi enam negara kaya: Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait , Bahrain dan Oman).

Negara-negara Mesir, Libiya, Maroko, dan semua negara lain di kawasan utara Afrika, semuanya secara umum mengidentifikasikan diri sebagai berbudaya Arab-Islam. Jadi, kriteria-budaya lebih realistis untuk melabeli Arab.

Jadi, kawasan Arab secara geografis mencakup kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA: Middle East and North Africa). Apakah MENA merepresentasikan Muslim global? Tidak juga.

Secara geografis populasi Muslim tersebar: sebagai mayoritas di lebih dari 50 negara, sebagai minoritas di hampir setiap benua…  Sekitar 20%: populasi Muslim global tinggal di kawasan MENA…, lebih dari 60% di Asia Tenggara, dan sekitar 20% di negara-negara non-Muslim utamanya India dan China[2].

Kenapa sampai terjadi Arab Spring? Banyak teori yang ditawarkan. Kebanyakan mengaitkannya dengan pengaruh Barat khususnya Amerika Serikat (AS). Banyak bukti mengenai ini.

Tiga NGO yang dibiayai oleh pemerintah dilaporkan memberikan pelatihan bagi anak-anak muda penggerak Arab Spring: Einstein Institution, Freedom House, and the International Republican House (ibd:11). Prinsip dan metode training ketiga NGOs ini identik: merayakan nilai-nilai demokrasi, memobilisasi penduduk tanpa kekerasan, menjatuhkan rejim tanpa perlu bentrok dengan pihak kepolisian dan tentara dengan menggunakan simbol dan semboyan untuk membentuk psikologi masa, mengeksploitasi potensi jaringan sosial, umumnya internet.

Singkatnya, naif untuk mengabaikan tidak ada faktor luar yang memicu Arab Spring. Tetapi lebih naif lagi jika mengabaikan faktor internal yang secara kronis melanda kawasan MENA.

Arab Spring spesifik-negara; artinya, apa yang terjadi di Tunisia berbeda dengan yang di Mesir, misalnya. Untuk memperoleh pemahaman mendalam perlu kajian per negara. Walaupun demikian bukan berarti tidak ada “benang merah”. Dalam kebanyakan kasus, pemicunya adalah bad governance dan kesulitan hidup sehari-hari yang terus memburuk. Dalam kebanyakan kasus,  sebagian yang ditargetkan Arab Spring berhasil, termasuk menggulingkan rezim yang berkuasa. Masalahnya, setelah terguling apa? Terjadi kebingungan. Tidak mengherankan jika banyak orang cerdik “mengail dalam air keruh”. Singkatnya, Arab Spring tidak memiliki agenda berkesinambungan atau road map yang jelas dan tuntas; dengan kata lain, tidak ada leadeship.

Ada beberapa benang merah lainnya yang sebagian terungkap melalui kasus Bouzizi di atas:

Kenaikan tingkat pendapatan masyarakat kalah cepat dibandingkan dengan kenaikan harga kebutuhan pokok.

Kebanyakan penduduk bekerja di sektor informal yang tidak produktif;

Sektor informal kurang mendapat tempat “dalam hati” penguasa;

“Saluran-suara” pekerja informal tersumbat; dan

Kaum mudanya “kaya pengetahuan” tetapi “miskin pekerjaan”.

Isu terakhir mengilustrasikan krusialnya penyediaan lapangan kerja bagi generasi muda yang semakin terdidik.

Itulah antara lain pelajaran besar dari Arab Spring. Kira-kira apa yang ditawarkan dua pasang Capres kita untuk mengatasi isu-isu kompleks semacam itu? Patut diduga, keduanya, juga mayoritas masyarakat Indonesia, tidak menghendaki Indonesia Spring. Tapi, wallahualam….@

[1] Tariq Ramadan (2012), Islam and the Arab Awakening, Oxford University Press.

[2] https://uzairsuhaimi.blog/2018/05/27/muslim_pop_challenge/