Sebelum engkau mempelajari apa pun,
engkau telah berkata: “Ya.”
Fitrah bukan sekadar kesucian awal, tetapi orientasi primordial menuju kebenaran. Ia bukan sesuatu yang diciptakan ulang, melainkan sesuatu yang disingkap. Dalam bahasa Arab, kata fitrah berasal dari akar fathara—membelah, membuka, menghadirkan dari dalam. Al-Qur’an menggunakan akar ini untuk menggambarkan tindakan Ilahi dalam menciptakan langit dan bumi: bukan sekadar membentuk, tetapi menyingkap suatu tatanan yang telah tertanam dalam kehendak-Nya.
Dengan demikian, fitrah bukanlah tambahan bagi manusia. Ia adalah kondisi asal yang tetap ada, meskipun sering tertutup. Ia menunggu untuk disingkap—bukan untuk dibangun.
Pandangan ini berbeda dari asumsi modern yang melihat manusia sebagai tabula rasa. Dalam kerangka tersebut, manusia dipahami sebagai lembar kosong yang dibentuk sepenuhnya oleh pengalaman dan lingkungan. Namun, hadis Nabi ﷺ menyatakan bahwa setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Ini bukan pernyataan tentang netralitas—melainkan tentang arah. Manusia lahir dengan kecenderungan menuju kebenaran, bukan dalam keadaan tanpa orientasi.
Penyimpangan, dengan demikian, bukanlah kondisi alami, melainkan hasil dari pembiasaan dan pengaruh.
Fitrah tidak dipelajari—ia diingat.
Akar terdalam dari fitrah terletak pada peristiwa primordial yang dikenal sebagai Alastu: ketika Tuhan bertanya, “Bukankah Aku Tuhanmu?” dan manusia menjawab, “Ya, kami bersaksi.” Di sini, pengenalan mendahului pembuktian—dan kesaksian mendahului pengalaman. Fitrah adalah gema dari kesaksian tersebut—sebuah ingatan yang mendahului waktu.
Dalam cahaya ini, Ramadan tidak lagi sekadar dipahami sebagai proses menjadi lebih baik. Ia adalah proses kembali. Puasa menanggalkan lapisan-lapisan yang menutupi fitrah: kebiasaan, kelebihan, dan gangguan. Yang tersisa bukan sesuatu yang baru—melainkan sesuatu yang asli. Janji ampunan dalam Ramadan bukan hanya pemberian eksternal, tetapi pemulihan internal—kembalinya manusia kepada kondisi asalnya.
Namun, kembali kepada fitrah tidak berhenti pada dimensi batin. Ia menuntut pembuktian dalam ranah sosial. Di sinilah zakat fitrah menemukan maknanya. Meskipun secara hukum termasuk dalam kategori zakat, secara spiritual ia lebih dekat dengan puasa. Ia bukan sekadar kewajiban finansial—tetapi verifikasi dari kejujuran batin.
Jika puasa adalah hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan, maka zakat fitrah adalah ekspansi horizontalnya kepada sesama manusia. Ia menyampaikan pesan yang jelas: bahwa kesalehan tidak sah jika tidak berbuah dalam kepedulian.
Tidak cukup bagi seseorang untuk kembali kepada dirinya sendiri, sementara orang lain tetap terpinggirkan dari kebahagiaan yang sama.
Dengan demikian, zakat fitrah menjadi bukti bahwa perjalanan spiritual memiliki konsekuensi sosial. Ia memastikan bahwa pada hari kemenangan, tidak ada yang tertinggal dalam kekurangan.
Struktur ini sejalan dengan susunan ayat-ayat dalam Surah al-Baqarah. Puasa diikuti dengan penegasan tentang konsumsi yang halal, kemudian tentang perjalanan haji, lalu tentang infak yang ihsani, dan akhirnya tentang penyempurnaan ibadah. Rangkaian ini menunjukkan bahwa puncak spiritualitas tidak berdiri sendiri. Ia dibangun di atas fondasi yang mencakup pemurnian diri, integritas dalam kehidupan sehari-hari, dan tanggung jawab sosial.
Dengan kata lain, perjalanan menuju puncak ibadah adalah perjalanan yang dimulai dari dalam—tetapi harus menjelma keluar.
Eid, dalam konteks ini, bukan sekadar perayaan. Ia adalah pengakuan. Pengakuan bahwa manusia telah, meskipun sementara, kembali kepada dirinya yang paling jernih. Karena itu, Al-Qur’an mengaitkan penutupan Ramadan dengan takbir—pengagungan kepada Tuhan atas petunjuk yang diberikan. Takbir di sini bukan hanya ungkapan lisan, tetapi kesadaran bahwa kebenaran tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya tertutup, dan kini disingkap kembali.
Fitrah bukan sesuatu yang berada di masa lalu, melainkan sesuatu yang berada di kedalaman diri manusia. Ia adalah dasar yang selalu ada, bahkan ketika tidak disadari. Ia adalah ingatan yang tidak pernah sepenuhnya hilang.
Maka, kembali kepada fitrah bukanlah gerak mundur.
Ia adalah pendalaman.
Ia adalah pulang—bukan ke tempat yang baru, tetapi ke sesuatu yang sejak awal telah dikenal.
Artikel ini adalah bagian dari Proyek Bermula —
suatu ikhtiar kecil untuk menghubungkan kembali pengetahuan dengan akar terdalamnya, di mana wahyu, refleksi, dan pengalaman bertemu. Pengetahuan tidak seharusnya menjadi hak istimewa. Penjelasan lebih lanjut mengenai Bermula dapat diakses di sini








