Refleksi

Generasi Milenium Indonesia dalam Aksi

Menurut Kementerian Pendidikan Nasional, sekitar 8.1 juta anak Indonesia baru saja menempuh ujian akhir jenjang Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLA)[1]. Seperti kakak kelasnya, mereka mengikuti dua macam ujian: (1) ujian sekolah (istilah sekarang, USBN: Ujian Sekolah Berstandar Nasional), dan (2) ujian nasional (UN). Berbeda dengan yang berlaku pada kakak kelasnya, bagi mereka standar kelulusan bukan lagi hasil UN melainkan hasil USBN. Juga berbeda dengan pengalaman kakak kelasnya, mereka lebih banyak yang mengikuti UNBK (UN berbasis komputer) dari pada UNKP (UN berbasis kertas pensil).

Bagi kebanyakan kita, angka 8.1 juta mungkin terkesan “biasa-biasa” saja, padahal dalam perbandingan internasional besarnya angka itu “luar-luar biasa”. Sebagai ilustrasi, angka itu hampir sama dengan total penduduk Swiss (sekitar 8.3 juta jiwa), lebih besar dari total penduduk Yordania (7.6 juta), Papua Nugini (7.4 juta), Hong Kong (Cina) (7.3 juta), atau Singapura (5.5 juta), serta setara dengan sekitar 20 kali total penduduk Brunei (sekitar 40,000 juta jiwa)[2]. Perbandingan-perbandingan ini mengilustrasikan bahwa angka 8.1 juta jiwa itu besar. Bagi yang pernah haji mungkin lebih mudah membayangkan angka itu setara dengan 3-4 kali total jamaah haji yang berkumpul di Arafah pada hari H.

Berapa umur peserta ujian SLA tahun ini? Sebagian besar dapat diduga berumur sekitar 17-18 tahun. Dugaan ini berdasarkan dua asumsi: (1) Mereka masuk SD dalam usia 6-7 tahun, dan (2) angka pengulangan kelas relatif sangat kecil sehingga dapat diabaikan. Mereka berumur 10-11 tahun menurut data Sensus Penduduk 2010 (SP2010); jumlah mereka sekitar 10.2 juta jiwa. Jadi peserta ujian yang berjumlah 8.1 juta itu menyumbangkan sekitar 80 persen kepada total penduduk kelompok umur 17-18 tahun. (Yang 20% hampir semua tidak lagi berstatus masih sekolah.)

Sebagian besar peserta ujian jenjang SLA tahun ini termasuk generasi milenium (GM) dekade-1 yang dalam tulisan ini kita definsikan sebagai kohor kelahiran tahun 2000-2009. Berapa besar populasi GM dekade-1? Dipastikan kurang dari angka 43.5 juta jiwa. Angka ini merupakan total penduduk umur 10-19 tahun menurut data SP2010. Kenapa kurang? Karena sebagian GM dekade-1 meninggal sebelum terdatar dalam SP2010.

Peserta ujian SLA tahun ini tergolong GM dekade-1 yang “beruntung” paling tidak karena dua alasan: (1) tahun ini mereka masih hidup, dan (2) mereka berstatus masih sekolah. Bersama-sama adik-adik kelasnya (kohor kelahiran pasca 2010), mereka adalah pemilik masa depan Bangsa Indonesia. Mereka diharapkan belum akan memasuki pasar kerja sampai 5-10 tahun ke depan karena melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Pada tahun 2030 nanti mereka belum akan bertanggung-jawab terhadap keberhasilan Sasaran Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals, SDG) karena memang belum gilirannya. Tetapi mereka pasti mewarisi keberhasilan atau kegagalan realisasi SDG yang merupakan tanggung-jawab “generasi tua”: generasi sebelum baby boomer[3], generasi baby bommer, serta generasi sesudahnya sampai kohor kelahiran 1990-an.

Generasi tua inilah yang dituntut melakukan upaya keras agar GM tidak mewarisi masalah kontemporer yang pelik; khususnya terkait dengn lebar dan melebarnya jurang status sosek antar- dan intra-negara, serta dengan buruknya lingkungan hidup. Generasi tua inilah yang memikul kewajiban mempersiapkan masa depan yang terbaik bagi GM. Bagi muslim, kewajiban semacam ini merupakan kewajiban agama: “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatirkan kesejahteraannya …” (4:9).

Wallahualam……. @

[1]  https://www.era.id/read/48UwAa-8-1-juta-siswa-jadi-peserta-un-2018

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_negara_menurut_jumlah_penduduk

[3] Dalam konteks negara-negara maju, khususnya Amerika Serikat (AS), istilah baby boomer dinisbahkan kepada generasi kelahiran sekitar 1940-1964, generasi pasca era peperangan. Kohor ini kelahiran beruntung karena pasca perang pemerintah memfokuskan pada masalah kesejahteraan masyarakat yang secara alamiah meresponsnya dengan kecenderungan melahirkan banyak anak. Akibatnya, “bayi meledak”. Bayi-bayi kohor ini kini sebagian besar telah memasuki dan memang sudah selayaknya memasuki usia pensiunan. Tiga presiden AS adalah lahir 1946; jadi termasuk baby bommers: Bill Clinton (ke-42), George Bush (ke-42) dan Donald Trump (ke-45).  Dua yang pertama sudah “pensiunan”, yang satu baru memulai karier sebagai presiden Inilah hebatnya Trump. Referensi: https://en.wikipedia.org/wiki/Baby_boomers. Bagi Indonesia baby bommers tidak klihatan jelas. Dengan mencermati piramida penduduk hasil SP2010 tampak yang sedikit agak menonjol adalah kohor kelahiran 1980-1984, kohor yang pada tahun 2010 berumur 25-29 tahun atau sekarang berumur sekitar 35-39 tahun, masih usia produktif.

 

Advertisements
Standard
Spiritual, Refleksi

Kemuliaan Manusia dalam Terang Teks Suci dan Perspektif Matematik Analitik

Pada dasarnya Anak Adam atau manusia itu mulia (Inggris: nobble, honorable, precious; Arab: kariim). Kenapa? Karena karena Rabb yang Maha Suci dan Maha Tinggi (SWT) benar-benar memuliakannya[1].  Penegasan ini dapat kita temukan dalam teks suci (17:70)[2]. Dalam hal ini tentunya kita berbicara pada tataran potensial. Pada tataran aktual, derajat kemuliaan manusia boleh dikatakan tak-terhingga: dapat lebih mulia dari pada malaikat yang diperintahkan untuk “sujud” pada Adam AS (2:34), tetapi dapat juga lebih rendah dari binatang ternak karena karena tidak menggunakan hati-mata-telinga secara benar (7:179)[3].

Teks suci (17:70) juga menegaskan bahwa kemuliaan manusia tidak bersifat kolektif atas dasar gender,  kesukuan atau  pengelompokan sosial-budaya, tetapi bersifat individual berdasarkan nilai ketakwaan individu seseorang. Banyak teks suci mengenai takwa tetapi untuk keperluan tulisan ini istilah ini dapat disederhanakan sebagai kualitas-batiniah seseorang dilihat dari kesesuaiannya dengan tujuan penciptaan manusia yaitu mengemban fungsi ganda sebagai hamba dan sebagai khalifah-Nya (19:93; 2:30). Fungsi kekhalifahan jelas mencerminkan kemuliaan manusia.

Dalam konteks ini layak dicermati teks suci lain yang mengingatkan bahwa seseorang dapat mempertahankan kemuliaannya hanya jika ia mampu menjaga hubungan horizontal dengan sesama dan hubungan vertikal dengan Rabb. Tanpa berpegang kepada keduanya maka ia akan ditimpa kehinaan sebagaimana tersirat dalam kutipan berikut:

Mereka diliputi oleh kehinaan di mana saja mereka berada kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka mendapat murka dari Allah dan (selalu) diliputi kesengsaraan (QS 3:112).

Empat Kategori Manusia

Teks suci (3:112) mengisyaratkan dua faktor yang menentukan kemuliaan seseorang: hubungan vertikal dan hubungan horizontal yang baik atau positif. Atas dasar ini kita dapat menyusun empat kategori manusia ditinjau dari aspek kemuliaan: (1) kategori yang memiliki hubungan vertikal maupun horizontal positif, (2) kategori yang memiliki hubungan vertikal positif tetapi hubungan horizontal negatif, (3) kategori yang memiliki hubungan vertikal maupun horizontal negatif; dan (4) kategori yang memiliki hubungan vertikal negatif tetapi hubungan horizontal positif.

Hubungan antara kedua faktor kemuliaan itu sangat erat. Hal ini terlihat dari faktra quranik bahwa perintah beriman (hubungan vertikal) hampir selalu diikuti oleh perintah kebajikan (hubungan horizontal). Demikian eratnya hubungan itu sehingga menimbulkan kesan bahwa kebajikan merupakan “bukti” dari keimanan seseorang. Teks suci Surat ke-107, misalnya, menuduh seorang yang (seolah-olah) salat sebagai pendusta agama semata-mata karena mengabaikan orang miskin.

Istilah mulia dalam tulisan ini jelas merujuk pada Kategori 1, sementara istilah qurani munafik (yang bercirikan suka dusta dan hianat) agaknya merujuk pada Kategori-2. Istiah qurani kafir, tepatnya benar-benar kafir (Arab: kuffar), agaknya merujuk pada Kategori 3. Mereka secara terbuka memiliki hubungan negatif secara vertikal maupun horizontal. Kelompok ini dicontohkan oleh Kaum Kuffar Quraisy dalam era Rasul SAW.

Bagaimana dengan Kategori-4? Individu pada kategori ini bisa saja dermawan (filantropis) tetapi amalannya hanya didasarkan pada, meminjam istilah Schuon, kebajikan alamiah (natural virtue), bukan kebajikan spiritual (spiritual virtue) sehingga tidak efektif dari perspektif qurani:

… the natural virtues have no effective value save on the condition of being integrated into the supernatural virtues…. Natural virtue does not in fact exclude pride, that worst of illogicalities and that of preeminent vice; supernatural virtue alone –rooted in God—excludes that vice, in the eye of Heaven, cancels all the virtues. (Schuon,1988:52-52)[4]

Koordinat Kartesian

Untuk memperoleh gambaran visual mengenai derajat kemuliaan seseorang kita dapat menggunakan sistem koordinat Kartesian dimana Sumbu-X mewakili hubungan horizontal dan Sumbu-Y mewakili hubungan vertikal. Dalam sistem ini, empat kategori manusia sebagaimana dibahas sebelumnya dapat diilustrasikan oleh Gambar 1:

  • Bagian pojok kanan-atas atau Kuadran 1: kedudukan bagi Kategori 1 yang memiliki hubungan horizontal maupun vertikal bernilai positif. Dalam terang teks suci (3:112) kita dapat mengatakan bahwa hanya individu dalam Kuadran ini yang layak berlabel mulia.
  • Bagian pojok kiri-atas atau Kuadran II: kedudukan bagi Kategori 2 yang hubungan vertikalnya positif (berdasarkan pengakuan yang bersangkutan) tetapi hubungan horizontalnya negatif. Seperti dibahas sebelumnya, termasuk dalam Kuadran ini adalah golongan munafik.
  • Bagian pojok kiri-bawah atau Kuadran 3: kedudukan Kategori 3 yang hubungan horizontal maupun hubungan vertikalnya negatif. Seperti disinggung sebelumnya, termasuk dalam Kuadran ini adalah kaum kafir (2:6).
  • Bagian pojok kanan-bawah atau Kuadran 4: kedudukan bagi Kategori 4 yang hubungan horizontalnya positif tetapi hubungan vertikalnya negatif. Sebagaimana disinggung sebelumnya, termasuk dalam kategori ini adalah para filantropis yang tidak memiliki kontak dengan Rabb.

Individu dalam Kuadran 4 yang agaknya dirujuk oleh teks suci (18:103-4). Menurut teks ini, mereka beranggapan telah berkarya positif di muka bumi ini tetapi hasilnya di akhirat tidak diperhitungkan:

Katakanlah (Muhammad), “Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling rugi perbuatannya?” (Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.

Upaya dan Rahmat

Dalam Gambar 1 kita memaknai Sumbu-X sebagai hubungan horizontal dan Sumbu-Y sebagai hubungan vertikal. Untuk keperluan analisis berikutnya kita perlu memaknai-ulang sumbu-sumbu ini agar lebih tepat dan mudah dipahami: Sumbu-X sebagai upaya manusiawi untuk meraih kemuliaan (selanjutnya, upaya) dan Sumbu-Y sebagai anugerah rahmat ilahiah (selanjutnya, rahmat). Dengan demikian kita dapat melihat kemuliaan seseorang sebagai fungsi dari dua unsur: unsur upaya dan unsur rahmat.

Dalam Kuadran 1, di mana kedudukan kemuliaan terletak, hubungan antara kemuliaan dengan upaya maupun rahmat bersifat langsung dan positif; artinya, semakin besar upaya (rahmat), semakin mulia. Untuk memperjelas masalah ini kita dapat merujuk pada Gambar 2. Pada gambar ini tampak individu A memiliki koordinat x0 dan y0 atau A(x0,y0). Ini dapat dibaca bahwa A melakukan upaya sebesar x0 dan memperoleh anugerah rahmat sebesar y0. Secara matematis, ukuran tunggal dari kedua dimensi ini adalah resultan OA yang dalam konteks kita kali ini dapat ditafsirkan sebagai ukuran kemuliaan individu A.

Pada gambar yang sama kita lihat Resultan OB untuk individu B dan Resultan OC untuk individu C yang masing-masing lebih panjang dari pada Resultan OA: OA<OB dan OA<OC. Hal ini mengilustrasikan bahwa B maupun C lebih mulia dari pada A karena alasan yang berbeda; yang pertama karena upaya yang lebih besar, yang kedua karena rahmat yang lebih besar.

Pada Gambar 1 kita mengasumsikan dampak upaya (X) dan rahmat (Y) terhadap kemuliaan sama besar. Jika jarak (x0x1) = jarak (yo,y1), maka derajat kemuliaan A dan B, yang diukur masing-masing oleh jarak Resultan OA dan OB, juga sama. Apakah benar demikian? Wallahualam. Walaupun demikian kita patut menduga jawabannya tergantung pada perspektif kita. Bagi yang cenderung memberi penekanan pada upaya maka asumsi itu bias; bagi yang menekankan aspek rahmat asumsi itu juga bias.

Terkait perbedaan perspektif ini menarik untuk disisipkan di sini perdebatan panjang dalam sejarah keagamaan. Sebagai ilustrasi (*), dalam tradisi Budha perdebatan itu terjadi antara pandangan Jiriki (Jepang) yang menekankan upaya seperti tercermin dalam istilah Zen, dan mazhab Tariki (Jepang) yang menekankan rahmat seperti tercermin dalam istilah Budha Amida dalam mazhab Pure Land. Bagaimana dalam Islam? Dalam sejarah teologi Islam kita mengenal mazhab Jabariah yang menekankan rahmat dan mazhab Qadariyah yang menekankan upaya. Bagaimana perspektif qurani mengenai kasus ini? Hemat penulis, kedua perspektif ini memperoleh dukungan teks suci: alquran tampaknya menuntut sikap berimbang dan tidak menganjurkan penekanan berlebihan. Secara pribadi penulis menganggap dua unsur itu penting walaupun cenderung melihat unsur rahmat lebih menentukan.

Kemuliaan sebagai Fungsi Ikhlas

Bagi yang cenderung berpandangan seperti Jiriki, individu C dianggap lebih mulia dari pada B. Dalam hal ini ukurannya adalah perbandingan atau rasio antara Sumbu-Y dan Sumbu-X atau (y/x) relatif kecil. Sebaliknya, bagi yang cenderung berpandangan seperti Tariki C lebih mulia dari pada B karena rasio itu relatif besar.

Secara visual, dalam Gambar 3 rasio (y/x) tercermin dari besarnya sudut @. Pada gambar itu kita lihat (@1 <@0<@2) dimana @0, @1 dan @2 masing-masing merupakan sudut yang dibentuk oleh titik P0, P1 dan P1. Dalam  perspektif Tariki fakta ini mengindikasikan bahwa individu P0 lebih mulia dari pada P1 tapi kurang mulia dibandingkan P1.

Kalau kita meneruskan perspektif Tariki dan menggunakan istilah qurani yang sesuai, maka kita dapat membaca sudut @ pada Gambar 3 sebagai unsur ikhlas. Ikhlas tergolong akhlak mahmudah (perilaku baik) yang maknanya secara singkat tersirat dalam pernyataan “Sesungguhnya salatku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seluruh alam“ (6:162). Kita juga dapat menemukan kata yang sama dalam banyak teks lain termasuk alam (39:2-3) dan (98:5).

Jika kita membaca sudut @ pada Gambar 3 sebagai representasi unsur ikhlas maka kita dapat katakan bahwa kemuliaan merupakan fungsi dari ikhlas. Karena kita berbicara mengenai domain kemuliaan maka bagi kita Kuadran yang relevan adalah Kuadran 1. Dalam kuadran ini “sudur ikhlas” antara 00 dan 900 atau (00<@<900).

gbr201

Gambar 3

Derajat Kemuliaan sebagai Fungsi Tangen

Dalam Gambar 3 kita lihat sudut @ atau “sudut ikhlas” (jika kita boleh menggunakan istilah ini) dibentuk oleh rasio (y/x). Sebenarnya ada cara lain untuk mengukur besarnya rasio itu yaitu fungsi tangen dalam istilah Trigonometri. Cara ini tampaknya lebih “mencerahkan” sebagaimana akan segera kita lihat.

Secara teoretis, fungsi tangen (y = tan @) mengandung semua nilai riil (R) kecuali 900 atau π/2 untuk Kuadran I, atau  (π/2x +n π) untuk setiap Kuadran. Gambar 4 menyajikan gambaran fungsi y= tan @ untuk Kuadran 1 menggunakan ukuran radian (phi). Asimtot y dalam Kuadran I adalah (phi/2) atau (11/7).

Dari Gambar 4 kita dapat menyimak beberapa “pelajaran”:

  • Fungsi tangen naik sejalan dengan kenaikan sudut @: semakin besar sudut semakin besar fungsi tangen. Kita dapat menafsirkan ini: semakin ikhlas semakin mulia. Hal ini sejalan degan pernyataan awal tulisan ini bahwa derajat kemuliaan manusia boleh dikatakan tak-terhingga.
  • Jika @ sama dengan 900 atau π/2 maka fungsi tangen menjadi tak-terdefinisikan atau tak terhingga. Hal ini dapat ditafsirkan sebagai keharusan adanya unsur upaya (X) selama kita hidup di dunia-bawah-sini. Tetapi hal yang sama dapat juga ditafsirkan bahwa kehidupan di dunia-atas-sana tidak perlu ada upaya (X) tetapi kemuliaan atau kenikmatan-hakiki sedemikian tinggi sehingga tak-terdefinisikan.

gbr4

Gambar 4: y = tan(@)

Tabel 1 menyajikan nilai y = tan @  untuk beberapa nilai @ yang terletak antara 00 dan 900, serta interpretasinya yang sesuai dengan tema tulisan ini. Untuk @=300, misalnya, kita dapat memaknai sebagai representasi dari derajat kemuliaan belum optimal (=<1) karena upaya yang dilakukan belum disertai keikhlasan yang memadai. Bagaimana dengan individu yang memiliki (600<@<900)? Kita mungkin dapat memaknainya sebagai individu yang tergolong kalangan khusus-dari-khusus (khawasul-khawas). Kelompok ini telah meraih puncak keikhlasan yang dalam bahasa qurani dikenal sebagai mukhlAshin, bukan mukhlshin; orang-orang yang meraih keikhlasan sedemikian murninya sehingga tidak lagi menyadari bahwa mereka ikhlas. Wallahualam….@

tab1

[1] Kata yang digunakan dalam teks adalah karramna dengan dua huruf r (ra) yang secara kebahasaan berarti tidak hanya sekadar memuliakan tetapi benar-benar memuliakan.

[2] Angka pertama menunjukkan nomor Surat Al-Quran, yang kedua nomor ayatnya. Pembaca sangat disarankan untuk mencermati semua ayat yang dikutip dalam tulisan ini  untuk mengoreksi pemahaman penulis yang mungkin saja keliru.

[3] Dalam pernyataan matematis rentang ini dapat dinyatakan sebagai –~<y<+~.

[4] Frihjof Schuon, To Have A Center, World Wisdom Books. Tulisan mengenai dimensi kebajikan dapat dilihat dalam https://uzairsuhaimi.blog/2016/10/22/dimensi-kebajikan/.

(*) Diadaptasi dari Schuon (2005:245, 250), Prayer Fashions Man, World Wisdom.

Standard
Refleksi, Sejarah

Umur Alam Semesta dan Kalender Kosmik: Catatan dan Refleksi

Usia Alam Semesta

Berapa umur alam semesta? Jawaban yang paling meyakinkan dan aman mungkin wallahualam. Sayangnya kita terlanjur terdidik untuk tidak merasa puas dengan jawaban semacam ini dan tergoda untuk merujuk pada hasil kajian ilmiah. Hasil kajian ilmiah terkini menduga kuat usia alam semesta sekitar 13.8 milyar tahun[1], suatu angka yang lebih tepatnya dinyatakan dalam bentuk

(13.799±0.021) x109

Angka pertama menunjukkan dugaan-titik (point estimate) sedangkan yang kedua kesalahan-margin (margin errors, ME) dari dugaan yang mengukur tingkat kecermatan dugaan itu. Kesalahan margin itu relatif sangat kecil, jauh di bawah satu persen, yang berarti selang kepercayaan dugaan lebih dari 99 persen. Bagi orang statistik, dugaan dengan ME sekecil itu, dikategorikan sebagai sangat dapat dipercaya, highly reliable. Bagaimana mengenai umur bum? Dugaan ilmiah merujuk pada angka 4.54 milyar tahun, tepatnya

(4.54±0.05) x109

ME-nya hanya sekitar 1.1 persen yang berarti tingkat keyakinan dugaan sekitar 98.9 persen, masih highly reliable.

Kalender Kosmis

Bagi yang ber-IQ pas-pasan seperti penulis sangat sulit membayangkan lamanya waktu 13.8 milyar tahun. Oleh karena itu kita patut berterima kasih kepada Carl Sagan yang telah memperkenalkan Kalender Kosmik, suatu metodologi untuk memvisualisasikan kronologi alam semesta secara populer. Dalam sistem kalender ini, umur 13.8 tahun diskalakan menjadi hanya satu tahun: Ledakan Besar (Big Bang) diletakkan pada awal tahun, 1 Januari tepat tengah malam (=pukul 00:00:00), dan waktu saat ini pada akhir tahun, 31 Desember sesaat sebelum tepat tengah malam (=pukul 24:00:00 kurang sedikit). Di antara dua titik ekstrem ini kita dapat meletakkan semua peristiwa alam semesta.

Gambar 1 menyajikan bebrapa peristiwa penting dalam Kalender Kosmis. Bagian pertamanya memvisualkan, antara lain, terbentuknya Galaksi Bima Sakti (Milky Way) pada bulan May, sementara Sistem Matahari Kita (Solar System) pada bulan September. Visualisasi ini membantu kita memahami proses dan skala waktu kosmis pembentukan benda-benda langit. Walaupun demikian perlu dicatat bahwa skala kosmik dalam Gambar 1 didasarkan pada asumsi umur alam semesta 3.7 milyar tahun, bukan 3.8 milyar tahun sebagaimana disingung sebelumnya. Perbedaan ini berdampak pada kurang tepatnya penentuan tanggal terjadinya peristiwa sebagaimana akan kita lihat nanti.

Gambar 1: Beberapa Peristiwa Penting dalam Kalender Kosmik

Sumber: http://myphascination.blogspot.co.id/2014/07/kalender-kosmik-cosmic-calendar.html

Bagian 2 dalam Gambar 1 menyajikan beberapa peristiwa penting pada bulan terakhir dalam Kalender Kosmik, Desember. Dalam gambar ini kita menyaksikan peritiwa dimulainya kehidupan yang kita kenal terjadi pada bulan terakhir itu: spons (14 Desember), ikan(17 Desember), tumbuhan darat (20 Desember), serangga (21 Desember), reptil (23 Desember), dinosaurus (25 Desember), mamalia (26 Desember),…., asal-usul manusia (dalam perspektif Darwinis) (31 Desember).

Bagian 3 Gambar 1 menyajikan beberapa peristiwa penting pada menit terakhir dalam Kalender Kosmis. Kita melihat peradaban manusia dimulai pada menit terakhir dalam Kalender Kosmis: pertanian dan kehidupan menetap (sekitar 22 detik terakhir), Dinasti China (9 detik terakhir), kelahiran Nabi Isa AS (4 detik terakhir), kelahiran Nabi Muhammad SAW (3 detik terakhir) dan penemuan Benua Amerika oleh Kolumbus (1 detik terakhir). Seperti disinggung sebelumnya, gambaran-gambaran waku peristiwa-peristiwa itu terjadi kurang tepat.

Kesetaraan Waktu Sebenarnya dengan Waktu Kosmik

Dalam Sistem Kalender Kosmik ini kita dapat menyusun beberapa persamaan  kesetaraan antara “tahun lalu waktu yang sebenarnya” dan “tahun lalu waktu kosmik” sebagai berikut:

  • 1 hari <—> (13.8×109/365[2]) tahun =37.8 juta tahun….. (1),
  • 1 jam <—> (3)/24 = 1.575 juta tahun ……………………………..(2),
  • 1 menit <—> (4)/60 = 26,265 tahun ……………………………….(3), dan
  • 1 detik <—> (5)/60 = 437.5 tahun …………………………………..(4)

Dengan persamaan (1), sebagai ilustrasi, kita dapat melihat peristiwa terbentuknya bumi yang terjadi pada 4.54 milyar tahun itu setara dengan peristiwa 121.1 hari yang lalu:

(4.54×109 )/(37.8 x106) hari = 120.1 hari.

Dalam Kalender Kosmik yang kita bicarakan, peristiwa itu merujuk pada sekitar akhir Agustus, bukan pada September sebagaimana disarankan oleh Gambar 1. Perbedaan ini terjadi karena perhitungan perbedaan asumsi mengenai umur alam semesta sebagaimana disinggung sebelumnya

Kronologi Formasi Alam Semesta

Berdasarkan persamaan (1) kita dapat meletakkan dalam sistem kalender itu beberapa peristiwa kosmis yang terjadi milyaran tahun yang lalu:

  • Terbentuknya Galaksi Bima Sakti. Galaksi Bima Sakti, di mana sistem matahari kita merupakan bagian darinya, dilaporkan terbentuk sekitar 11 milyar tahun lalu. Dalam skala kosmik ini berarti sekitar 291 hari yang lalu. Angka itu kita dapatkan dari hasil pembagian berikut:

(11×109 )/ (37.8×106) = 291

Dalam sistem kalender ini, waktu kosmik 291 hari yang lalu (terhitung dari 31 Desember) identik dengan 74 hari pertama (terhitung dari 1 Januari) atau 15 Maret. Tanggal itu berbeda dengan yang disajikan pada Gambar 1 (May) karena perbedaan asumsi umur alam semesta sebagaimana disinggung sebelumnya.

  • Terbentuknya Matahari dan Planetnya. Matahari dilaporkan terbentuk 4.7 milyar tahun yang lalu dan planet=planetnya terbentuk segera setelah matahari terbentuk. Peristiwa ini dalam Kalender Kosmik adalah 31 Agustus.
  • Terbentuknya batu tertua di bumi. Batu tertua di bumi dilaporkan berumur 4.0 milyar tahun yang lalu yang setara dengan 16 September dalam Sistem Kalender Kosmik.

Sejarah Awal

Para ilmuan sepakat bahwa tulisan pertama menandai awal sejarah dan peristiwa itu terjadi pada sekitar 5,500 tahun yang lalu. Dengan menggunakan persamaan (4) di atas, waktu kosmik dari peristiwa itu baru terjadi sekitar 13 detik yang lalu atau pada 31 Desember, Pukul 23:59:47. Dengan cara yang sama kita dapat melihat kronologi peristiwa sejarah lainnya sebagaimana ditunjukkan oleh Tabel 1.

Mengenai tabel itu ada dua catatan yang layak disisipkan:

  • Kolom (1) menunjukkan jarak waktu normal dalam arti menggunakan sistem Kalender Masehi diukur dalam ribuan tahun. Jarak waktu 5.0 dalam baris kedua, misalnya, menunjukkan bahwa peristiwa pembentukan Dinasti Mesir yang pertama terjadi 5,000 tahun yang lalu dari waktu kita sekarang.
  • Kolom (2) menunjukkan skala kosmis yang dinyatakan dalam tanggal dan waktu dalam Kalender Kosmis sebagaimana dibahas sebelumnya. Seperti terlihat dari tabel itu, semua peristiwa sejarah terjadi dalam menit terakhir akhir tahun (31 Desember, 23:59).

Dari tabel itu tampak bahwa peristiwa peradaban modern, sebagai ilustrasi, yang dimulai dengan era Renaisance di Eropa, baru terjadi dua detik yang lalu dalam Kalender Kosmik.

Tabel 1: Peristiwa Sejarah Awal menurut Jarak Waktu Normal (Ribuan Tahun) dan Kalender Kosmik (Tanggal-waktu Kosmik)
Jarak waktu normal Kalender kosmik

Peristiwa

(1) (2) (3)
5.5

31 Desember,

23:59:47

Tulisan pertama (menandai akhir prasejarah dan awal sejarah), dimulainya Zaman Perunggu
5.0

31 Desember,

23:59:48

Dinasti pertama Mesir, periode dinasti awal di Sumer, astronomi
4.5

31 Desember,

23:59:49

Alfabet, Kekaisaran Akkadia, roda
4.0

31 Desember,

23:59:51

Piagam Hammurabi, Kerajaan Pertengahan Mesir
3.5

31 Desember,

23:59:52

Yunani Mycenean; peradaban Olmec; Zaman Besi di Timur Dekat, India, dan Eropa; berdirinya Kartago.
3.0

31 Desember,

23:59:53

Kerajaan Israel, Olimpiade kuno.
2.5

31 Desember,

23:59:54

Buddha, Konfusius, Dinasti Qin, Yunani Klasik, Kekaisaran Ashoka, Weda selesai, geometri Euklides, fisika Archimedes, Republik Romawi.
2.0

31 Desember,

23:59:55

Astronomi Ptolemeus, Kekaisaran Romawi, Kristus, penemuan angka 0.
1.5

31 Desember,

23:59:56

Muhammad, peradaban Maya, Dinasti Song, kebangkitan Kekaisaran Bizantium.
1.0

31 Desember,

23:59:58

Kekaisaran Mongol, Perang Salib, pelayaran Christopher Columbus ke Amerika, Renaisans di Eropa.
Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Kosmik

Kelahiran Para Rasul

Sebagaimana ditunjukkan oleh Tabel 1, peristiwa kelahiran Rasul SAW dalam skala kosmis baru terjadi empat detik yang lalu. Bagaimana dengan kelahiran Nabi Nuh AS, Ibrahim AS, Musa AS dan Isa? Informasinya tidak tercantum dalam tabel itu tetapi dapat kita hitung secara sederhana berdasarkan data kelahiran dan rumus (4) sebagaimana disajikan sebelumnya. Hasil perhitungan disajikan pada Tabel 2.

Pada tabel itu tampak, misalnya, Nabi Nuh AS yang lahir 3,993 Sebelum Masehi (SM) (berarti sekitar 6,000 tahun yang lalu) dalam skala kosmik peristiwanya baru terjadi 13.7 detik yang lalu. Pada tabel yang sama juga tampak bahwa peristiwa kelahiran Nabi Isa AS baru terjadi kurang dari lima menit yang lalu dalam skala kosmis.

Tabel 2: Tanggal Kelahiran Empat Rasul AS dalam Sistem Kalender Kosmik
Nabi Lahir (*) Jarak waktu (**) Skala Kosmik (detik)

Tanggal/waktu dalam Kalender Kosmik

Nuh AS 3,993 SM  6,011 13.7 31 Desember, 23:59:46
Ibrahim AS 2,295 M  4,313 9.9 31 Desember, 23:59:40
Musa AS 1,527 SM  3,545 8.1 31 Desember, 23:59:52
Isa AS 1 M  2,018 4.6 31 Desember, 23:59:55
(*) Sumber: Google
(**) Jarak waktu dari waktu masa-kini (dalam tahun)

Refleksi

Jika umur kita 70 tahun[3], maka dalam skala kosmik angka itu setara dengan 0.16 detik, durasi yang sangat singkat, jauh lebih singkat dari pada kedipan mata yang oleh para ilmuan diyakini 0.4 detik (atau 400 milidetik)[4]. Dalam durasi yang sangat singkat itulah waktu yang tersedia bagi kita untuk “menanam” di “ladang amal” (meminjam istilah Aa Gym) selama kita hidup di sini di dunia-rendah (the lower-world-here), sebagai bekal kehidupan di akhirat. Tantangannya, apa dan bagaimana yang kita tanam itu dalam durasi waktu yang sangat singkat ini menentukan kehidupan di kampung akhirat[5], kehidupan abadi di dunia-atas-sana (the upper-world-there). Di luar imajinasi kita untuk dapat membayngkan lamanya kehidupan abadi itu: bisa mencapai 3.8 milyar tahun atau bahkan lebih. Yang pasti, selain wajah-Nya, semuanya punya batas waktu, punah (QS Ar-Rahman:26-27). Wallahualam……… @

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Age_of_the_universe

[2] Ini sebenarnya angka pendekatan. Jumlah hari dalam setahun, dengan memperhitungkan tahun Kabisat, secara rata-rata sebenarnya 365.25.

[3] Angka 70 dipilih sekadar untuk kemudahan. Perhitungan menurut data Sensus Penduduk 2010 menyarankan bahwa bagi penduduk Indonesia, angka harapan hidup (life expectancy) adalah 67.2 tahun bagi laki-laki dan 72.6 tahun bagi perempuan. Angka-angka ini bukan angka resmi (unpublished) dan merupakan hasil perhitungan penulis sebagai konsultan BPS-UNFPA dan Tim BPS dalam kegiatan “Konstruksi Life Table Indonesia Berdasarkan Data Sensus Penduduk”.

[4] https://health.detik.com/hidup-sehat-detikhealth/1348512/berapa-kali-mata-berkedip-dalam-1-menit.

[5] Bagi yang tertarik dengan “kampung akhirat”, lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/03/04/kampung-akhirat/.

 

Standard
Refleksi, Spiritual

Homo Islamicus: Perbandingan dengan Manusia Modern

Dalam kalimat pertama salah satu bukunya yang terkenal yaitu Understanding Islam[1], Schuon mendefinisikan Islam sebagai ajaran mengenai “Tuhan apa adanya dan manusia apa adanya”. Walaupun terkesan enteng, definisi ini sebenarnya relatif lengkap dan sangat padat: lengkap, karena sudah mencakup dua tema utama ajaran Agama Islam yaitu Rabb Alamin dan manusia; sangat padat, karena dinarasikan hanya dalam tujuh kata. Ketepatan definisi Schuon lebih jelas terlihat dalam uraiannya yang juga sangat padat mengenai dua kalimat kunci itu: “Tuhan apa adanya (God as such)”, dan “manusia apa adanya (man as such)”. Mengenai yang pertama Schuon memaknainya sebagai Dia yang Mutlak dalam diri-Nya, suatu makna yang tersirat dalam misteri kata hua[2]. Mengenai yang kedua dia merujuk pada manusia yang secara normatif sesuai dengan cetak-biru penciptanya, manusia yang belum “tercemari” oleh perdaban  modern. Tulisan ini memfokuskan pada makna manusia dalam pengertian ini yang oleh Nasr disebut sebagai Homo Islamicus[3].

Manusia Modern: Antropomorfisme

Makna Homo Islamicus tersirat dari perbandingkannya dengan Manusia Modern[4]. Sayangnya, istilah yang terakhir ini tidak mudah didefinisikan karena dua hal. Pertama, kita berada di dalam dunianya sehingga diperlukan refleksi untuk memahaminya dengan cara mengambil jarak kognitif. Kedua, diskusi mengenai modernitas pada umumnya memiliki tema tertentu (tematis) dalam pengertian bersifat sepotong-sepotong (parsial) sehingga jika dilihat secara keseluruhan tema modernitas akan tampak sangat beragam dengan rentang mulai dari dunia kekinian (contemporary) sampai hanya sekadar istilah sederhana seperti “inovatif” atau “kreatif”. Prinsip dasar atau nilai kebanaran ultimanya jarang sekali didiskusikan. Kelangkaan dalam hal kejelasan, ketepatan dan ketajaman mengenai prinsip dasar dan kebenaran ultima semacam ini sering kali menyebabkan diskusi mengenai modernitas –khususnya jika dikaitkan dengan agama– menjadi “panas”, emosional, dan kurang produktif. Kelangkaan semacam ini yang justru khas dalam arus-utama cakrawala pikir manusia modern

Kekecualian dari arus-utama dalam konteks ini adalah mazhab pemikiran tradisional[5]. Bagi mazhab ini modernitas tidak ada kaitannya dengan kekinian, kebaharuan (up-to-date), atau keberhasilan “menaklukkan” atau mendominasi dunia alamiah. Bagi mereka modern berarti segala sesuatu yang, seperti dinarasikan oleh Nasr[6],

… cut off from the transcendent, from the immutable principles which in reality govern everything and which are made known to man through revelation in its most universal sense. Modernism is thus contrasted with tradition (al-din).

… terputus dari yang transenden, dari prinsip-prinsip yang tak- terbantahkan yang dalam realitas mengendalikan semua hal, sesuatu yang dapat diketahui oleh manusia melalui wahyu dalam pengertiannya yang paling universal. Modernisme dengan demikian berbeda dengan tradisi (agama).

Apanya yang terputus? Yang terputus adalah keajekan dalam cara pandang dunia (worldview), khususnya mengenai posisi manusia di dalam jagat raya kesadaran. Menurut Nasr, selama “ratusan ribu tahun” hidup di muka bumi manusia mempertahankan tanpa putus pandangannya mengenai hubungannya dengan Tuhan dan alam dilihat sebagai ciptaan dan ayat (Teofani) Tuhan. Pandangan tradisional yang sudah berumur “ratusan ribu tahun ini’ oleh manusia modern “diputus” sejak sekitar abad ke-16[7] dengan menetapkan manusia sebagai satu-satunya kriteria kepastian kebenaran.

Modern thought, …, became profoundly anthropomorphic the moment man was made the criterion of reality. When Descartes uttered “I think, therefore I am” (cogito ergo sum), he placed his individual awareness of his own limited to self as the criterion of existence for certainly the “I” in Decrates assertion was not to be divine “I” who through Hallj exclaimed “I am the Truth (ana’l Haqq), the Divine “I” which according to tradition doctrine alone has the the right to say “I”.

Alam pikiran Modern, …, menjadi sangat antropomorfis dengan menjadikan manusia sebagai kriteria kebenaran. Ketika Descates[8] mengatakan “Aku berpikir, maka Aku ada”, dia meletakan kesadaran individualnya terbatas pada diri sebagai kriteria kepastian; “Aku” dalam penegasan Descartes bukan “Aku” ilahiah sebagaimana yang dikumandangkan Hallaj[9] “Aku adalah Kebenaran”, “Aku” ilahiah yang dalam pandangan tradisional hanya yang berhak mengatakan “Aku”.

Kutipan berikut ini diharapkan dapat memperjelas:

What happened in the post-medieval period in the West was that higher levels of reality became eliminated on both subjective and the objectives domains. There was nothing higher in man than his reason and nothing higher in the objective worlds.

Apa yang terjadi dalam setelah periode kegelapan (yakni sebelum era modern) di Barat adalah bahwa realitas yang lebih tinggi dihilangkan dalam kesadaran subjektif maupun objektif. Tidak ada di dalam manusia yang lebih tinggi dari pada pikirannya dan tidak ada dunia objektif yang lebih tinggi.

Dari dua kutipan di atas jelas mode pemikiran modern memosisikan pikiran manusia (human reason) sebagai satu-satunya acuan kebenaran subyektif maupun obyektif. Ini sangat berbeda dengan ilmu pengetahuan tradisional yang menganggap lokus dan wadah pengetahuan bukan semata-mata pikiran manusia tetapi Intelek Ilahiah (the Divine Intellect). Seperti ditegaskan Nasr, pengetahuan yang benar bukan didasarkan pada pikiran manusia tetapi pada Intelek milik realitas tingkat supra-manusia yang juga berfungsi memberikan pencerahan kepada pikiran manusia.

Homo Islamicus

Sangat berbeda dengan Manusia Modern, mode pemikiran Homo Islamicus menempatkan wahyu (revelation) dan intuisi intelektual (dhawq, kashf atau shuhud) sebagai lokus dan wadah pengetahuan. Seorang muslim melihat wahyu sebagai sumber utama pengetahuan dan menyadari kemungkinan memurnikan diri sehingga mencapai “pandangan hati” (eye of the heart, ‘ayn al– qalb) yang terletak di pusat keberadaannya, yang memungkinkannya memperoleh visi langsung mengenai realitas “surgawi” (supernal reality). Seperti diungkapkan Nasr, akhirnya, “ia menerima kekuatan pikiran untuk mengetahui tetapi pikiran ini senantiasa terkait dan memperoleh bantuan kekuatan wahyu di satu sisi dan intuisi intelektual di lain sisi”. Matriks berikut ini mempertegas perbedaan mode pemikiran antara Manusia Modern dengan Homo Islamicus.

Matriks: Kontras antara Manusia Modern dan Homo Islamicus

Isu Manusia Modern Homo Islamicus
Evolusi Manusia berevolusi dari ciptaan yang lebih rendah Sekalipun mengandung unsur nabati dan hewani manusia tidak berasal dari ciptaan lebih rendah. Manusia adalah “mahkota” ciptaan (ashraf al-makhluqat): Tuhan YME “meniupkan” ruh-Nya
Kebutuhan Kebutuhan manusia hanya bersifat kebumian (earthly needs). Kebutuhan manusia tidak terbatas pada sesuatu yang terkait dengan kebumian (terrestrial) tetapi kebutuhan lain yang lebih subtil (kebutuhan jiwa dan spiritual), pikiran yang bersumberkan wahyu dan intuisi intelektual.
Peran di bumi Penguasa bumi Memerintah bumi bukan atas nama dirinya tetapi sebagai khalifah-Nya yang dituntut pertanggung-jawaban. Pikiran tetapi dalam pengertian luas (sesuai dengan kata fikr dalam Bahasa Arab) yang terkait dengan meditasi dan kontemplasi, tidak semata-mata pikiran murni.
Sumber pengetahuan Pikiran dalam pengertian sempit (reason) Pikiran tetapi dalam pengertian luas (sesuai dengan kata fikr dalam Bahasa Arab) yang terkait dengan meditasi dan kontemplasi, tidak semata-mata pikiran murni.
Terminal terakhir Bumi sebagai terminal akhir perjalanan Hidup di bumi sekadar singgah dalam perjalanan ke terminal akhir yang sangat jauh.
Sumber: Diadaptasi dari Sayyid Nasr dalam “Reflection on Islam and Modern Life”, online library articles, http://www.worldwisdom.com

Dari uraian di atas tampak jelas perbedaan tajam antara mode pemikiran modern dan mode pemikiran Homo Islamicus. Bagi yang pertama, manusia dianggap sebagai bebas dari “surga”, menguasai sepenuhnya takdirnya, terikat tetapi juga penguasa bumi. Bagi yang kedua, manusia tidak sepenuhnya bebas dari “surga”, tidak sepenuhnya menguasai takdirnya, dan bukan sepenuhnya penguasa bumi. Demikian tajam perbedaan itu sehingga sangat sulit (kalau tidak mustahil) mengharmonikan keduanya.

Sinopsis: Ditinjau dari cara pandang dunia (worldview) dan mode pemikiran, Homo Islamicus dan manusia modern berbeda secara mendasar. Upaya mengharmonikannya sangat sulit kalau tidak mustahil dilakukan. Wallahualam …@

homo1

[1] World Wisdom Books, Inc. (1998). Nama lengkap Schuon adalah Frithjof Schuon (18/6/1907 – 5/5/1998); juga dikenal dengan nama Islamnya yaitu  Īsā Nūr al-Dīn.

[2] Misteri kata hua dapat diihat dalam bukunya yang berjudul Transfigurasi Manusia. Versi sederhananya dapat dilihat dalam https://uzairsuhaimi.blog/2017/04/21/tiga-puisi-misteri/

[3] Lihat Sayyid Nasr dalam “Reflection on Islam and Modern Life”, online library articles, http://www.worldwisdom.com. Semua kutipan Nasr dalam artikel ini merujuk pada artikel yang berjudul itu. Tulisan ini merupakan penyempurnaan tulisan serupa sebelumnya yang berjudul Homo Islamicus yang juga disajikan dalam blog ini tetapi sayangnya tidak bisa lagi diakses secara sempurna (corrupted).

[4] Kata modern pertama kali digunakan 1585 terkait dengan, atau ciri dari kekinian atau masa lalu yang belum lama (contemprary); atau melibatkan teknik, metode, atau ide baru (up-to date) (www.merriam- webster/dictionary).

[5] Istilah tradisional digunakan di sini sekadar untuk memudahkan. Istilah yang lebih tepat mungkin mazhab perenialis yang dipopulerkan oleh Schuon. Mazhab ini mengedepankan hakikat kebenaran abadi yang tanpa bentuk tetapi kemudian diberi “bentuk tertentu” oleh suatu agama dan tradisi.

[6]  Seyyed Hossein Nasr (1983), “Reflections on Islam and Modern Thought”, Studies in Comparative Religion, Vol. 15, No. 3 & 4. (Summer-Autumn, 1983). © World Wisdom, Inc. http://www.studiesincomparativereligion.com.

[7] Era modern dimulai kira-kira abad ke-16; jadi, belum lama (baru sekitar setengah milenium yang lalu) dalam rentang sejarah panjang umat manusia. Era ini diawali oleh peristiwa kejatuhan Konstantinopel tahun 1153, kejatuhan Muslim Spanyol dan penemuan Benua Amerika tahun 1992, dan reformasi Protetan Luther tahun 1517 (www.wikipedia/wiki/Modern_history).

[8] Pada tataran filosofis Descartes dapat dianggap sebagai “Nabi” manusia modern.

[9] Hallaj adalah tokoh sufi yang dihukum pancung karena perkataannya oleh para ulama ketika itu dianggap terlalu subtil untuk dapat dipahami oleh orang awam sehingga “berbahaya” bagi umat.

 

Standard
Refleksi, Spiritual

Kampung Akhirat: Refleksi Berbasis Teks Suci

Menurut teks suci Al-Quran, di kampung akhirat penghuni dan pemiliknya saling-meridai, raadhiatan mardhiyyah. Di kampung itu ada Taman ‘Adn yang tanaman-tanamannya tumbuh dari benih takwa: orang takwalah pewaris taman itu (19:63). Semua orang diundang masuk ke sana untuk menetap selamanya asalkan memiliki jiwa yang tenang:

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku (89:27-30)[1].

Di sana semua sumber kenikmatan tersedia (56:10-37): dipan-dipan bertahtakan emas-permata, pembantu-pembantu muda-belia, minum-minuman nikmat-segar, buah-buahan apa pun yang diinginkan, daging burung apa pun yang diinginkan, bidadari/a-bidadari/a perawan belia-bermata-indah, serta bebas dari ujaran-ujaran menyakitkan, kotor, nyinyir dan sia-sia. Di sana juga ada pohon bidara tak-berduri, pohon-pohon pisang yang buah-buahnya lebat-bersusun, naungan terbentang luas, air mengalir tanpa-henti, serta kasur-kasur tebal-empuk. Di atas semuanya, penghuni kampung itu “dekat” bahkan dapat “bertemu” dengan Rabb mereka dan itulah puncak-dari-puncak kebahagiaan. Untuk bertemu dengan-Nya hanya menuntut dua syarat: mengerjakan kebajikan dan tidak mepersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada-Nya (18:110).

Menuju ke sana ada Jalan-Besar-Lurus: shiraathal mustaqiim (1:6-7). Jalan itu cukup besar untuk menampung semua Anak Adam dengan berbagai latar belakang sifat, bakat, serta kapasitas mental, intelektual dan spiritual. Jalan itu menentukan nasib akhir seseorang: hidup seseorang hanya dapat dikatakan sukses sejati, husnul khatimah, jika di akhir perjalanannya menapaki jalan itu.

Jalan itu dirancang sesuai dengan fitrah manusia, alladzi fatharan-naasa ‘alaihaa (30:30), disiapkan bagi makhluk yang diciptakan sesuai dengan citra-Nya, sesuai dengan kemuliaannya (17:70), serta sesuai pula dengan misi-ganda keberadaannya sebagai hamba (2:21) sekaligus khalifah-Nya (2:30) untuk memakmurkan bumi dan menebar rahmat. Jalan itulah yang ditawarkan Nuh AS, Ibrahim AS, Musa AS, Isa AS, dan Muhammad SAW:

Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wasiatkan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya) (42:13).

Kampung yang hanya dicapai melalui Jalan-Besar-Lurus itu sama-sekali tidak asing: siapa pun memiliki pengetahuan-bawaan mengenainya karena pernah tinggal di sana. Betapa pun redupnya, cahaya pengetahuan itu tetap menyala: terpateri dalam pusat jati-diri sejak zaman azali. Betapa pun lemahnya, kerinduan kembali ke kampung itu tetap mengusik: tersegel dalam sanubari sejak perjanjian alastu ketika setiap jiwa manusia melakukan kesaksian di hadapan Rabb-nya:

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman). “Bukankah Aku ini Tuhanmu? (alastu bi-rabbikum) Mereka menjawab “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini” (7:172).

Celakanya manusia cenderung melupakan perjanjian itu dan “membuat maksiat terus menerus” (75:5). Na’uudzu billah min-dzaalik!

Wallahu’alam…..@

surgaku1

[1] Angka pertama merujuk ke nomor Surat Al-Quran, lainnya nomor ayatnya.

 

 

 

Standard
Refleksi, Sejarah, Spiritual

Penyebaran Muslim: Catatan Sangat Singkat

Kini populasi Muslim atau Umat Islam, selanjutnya disingkat Umat, diperkirakan sekitar 2.4 milyar jiwa yang tersebar di seluruh dunia[1]. Dihitung dari peristiwa Hijrah dari Mekah ke Madinah, kini umur Umat sekitar 1.44 milenium menurut Kalender Hijriyyah atau 1.38 milenium menurut Kalender Masehi[2]. Sekitar 14 abad lalu menurut sistem Masehi, populasinya diduga kurang dari 100 jiwa, populasi yang sangat kecil sebagai “benih” suatu entitas sosial.

Selain berjumlah kecil, kelangsungan hidup “benih” ini sangat rentan karena selalu terancam dimusnahkan oleh kaum kuffar[3] Quraisy yang menilai ajaran Umat terlalu revolusioner dan egalitarian sehingga kelompok elitnya merasa sangat terancam. Kaum ini, menggunakan alusi qur’ani, selalu berupaya memadamkan “cahaya Allah” (QS61:8) yang baru menyala itu. Walaupun pada mulanya sangat rentan benih Umat ini ditakdirkan unggul sehingga dalam waktu seabad menjelma menjadi kekuatan yang mampu mengungguli pusat-pusat peradaban dunia saat itu.

Sekitar 14 Abad Lalu: Masa Kesedihan

Sekitar 14 abad lalu adalah masa kesedihan bagi Umat. Ketika itu, diukur dari peristiwa turunnya wahyu pertama di Guha Hira (610 M)[4], Umat baru berumur sekitar 18 tahun dan Rasul SAW beumur 41 tahun. Pemberian label masa kesedihan tidak berlebihan sebagaimana tercermin dari lima peristiwa historis berikut[5]:

  • 615: Hijrah I sekelompok Muslim ke Ethiopia;
  • 616: Hijrah II sekelompok Muslim ke Ethiopia;
  • 617: Pemboikotan sosial kaum kuffar orang Quraish terhadap keluarga Bani Hasyim dan Rasul SAW. Keluarga ini diucilkan di suatu lembah kecil di luar Kota Makkah;
  • 619: Dikenal sebagai tahun kesedihan; pencabutan boikot; wafatnya Abu Thalib RA dan Bunda Khadija RA; dan
  • 620: Misi dakwah ke Thaif yang gagal dan sempat melukai Rasul SAW; Mikraj Rasul SAW.

Peristiwa terakhir, Mikraj Rasul SAW, dinilai sebagai “hiburan” bagi Rasul SAW yang baru saja melewati masa-masa yang menyedihkan secara bertubi-tubi. Hiburan ini ternyata segera diikuti oleh sejumlah anugerah-Nya yang lain yang membawa angin segar bagi perkembangan Umat: Perjanjian Aqabah I (621), Perjanjian Aqabah II (622) dan Hijrah ke Madinah (mulai 622).

Peristiwa tearakhir sangat historis karena memberikan peluang bagi Umat membangun masyarakat yang sesuai dengan ajaran-ajaran agamanya. Upaya ke arah itu sama-sekali bukan tanpa tantangan: komposisi masyarakat jauh lebih prulalistis di bandingkan di Mekah dilihat dari suku dan agama, permusuhan dari kaum kuffar quraisy terus berlanjut yang menyebabkan dua perang yang sangat menentukan yaitu Perang Badar dan Perang Uhud, dan banyaknya “musuh dalam selimut” atau kaum munafiq. Tetapi semua tantangan itu dapat dilalui berkat bimbingan wahyu dan kepemimpinan Rasul SAW: dalam Era ini Umat mulai menyebar di seluruh jazirah Arab.

Satu Abad Kemudian: Masa Gemilang

Sekitar seabad setelah masa kesedihan, Umat mulai memasuki masa gemilang diukur dari penyebaran geografis yang dimulai pada Era Rasidun atau era dari empat khalifah yang pertama yaitu Abu Bakar RA, Umar RA, Usman RA dan Ali RA. Dalam puncak kegemilangannya Umat bahkan mampu memberikan sumbangan kemanusiaan yang sangat signifikan dalam pengembangan hampir semua cabang keilmuan: ilmu-pengobatan, penyakit mata (opthamology), sejarah kedokteran, lingusitik, arsitektur, matematik, ilmu optik, filsafat dan sebagainya[6].

Setelah Era Rasidun, kegemilanan Umat dilihat dari perluasan wilayah geografis dilanjutkan oleh Dinasti Umayah yang mampu mengungguli kekuatan “superpower” dunia saat itu yaitu Kerajaan Roma di Barat dan Kerajaan Persia di Timur. Kegemilangan itu terlihat dari lima peristiwa historis berikut ini[7]:

  • 711: Penaklukkan Spanyol, Sind (bagian dari Pakstan) dan Transoxiana[8] (kawasan Asia tengah yang mencakup Uzbekistan, Tajikistan, Kazakhstan, and Kyrgyzstan);
  • 712: Perluasan kekuasaan di Spanyol, Sind dan Transoxiana;
  • 713: Penaklukkan Mutan;
  • 716: Invasi ke Konstantinopel; dan
  • 725: Pendudukan Nimas di Pernacis.

Gambaran mengenai luasnya wilayah muslim dalam periode 622M-750M, periode yang mencakup Era Rasul SAW sampai Era Dinasti Umayah, dapat dilihat pada Gambar 1. Pada gambar itu tampak bahwa pada Era Rasul SAW, misalnya, muslim telah tersebar di hampir di semua kawasan jazirah Arabia walaupun baru disempurnakan pada Era Dinasti Umayah. Dalam dinasti ini wilayah penyebaran sudah mencakup wilayah Iberia dan sekitar.

Penyebaran muslim terus berlanjut pada Era Dinasti Abasyiah yang menggantikan dinasti Umayah. Gambar 2 memberikan ilustrasi mengenai luas wilayah geografis muslim sampai tahun 1050s.

Setelah Era Abasyiah, imperium muslim digantikan oleh Dinasti Ottoman dan penyebaran muslim terus, sebelum akhirnya berhenti pada sekitar dekade ke-2 abad ke-20 (jadi; dalam ukuran sejarah manusia, belum lama). Berakhirnya Era Ottoman menandai berakhirnya imperium muslim sebagai suatu kekhalifahan. Sebagai akibatnya, hampir semua wilayah gerografis muslim melepaskan diri dari kekuatan terpusat di Turki.

Gambar 3 meringkas sejarah ekspansi Islam ke sejumlah pusat perdaban sampai dua dekade awal abad ke-20 menurut abad dan era kekhalifahan (dinasti). Dalam gambar itu tampak, misalnya, dalam era Rashidun wilayah muslim mencakup kawasan-kawasan Arabia, Mesopotamia (Irak modern), Persia (Iran modern), Levant (Syria modern, Lebanon, Suriah, Yordania, Israel, dan Palestina). Era ini berakhir sekitar pertengahan abad ke-7M. Sebagai contoh lain, dalam era Otoman (Turki) yang berakhir pertengahan abad ke-20 M, ekspansi muslim mencakup wilayah-wilayah, selain kawasan-kawasan tadi, Magribi (Aljazair, Moroko, Tunisia, Libya and Mauritania, Transoxmania, Hindustan (termasuk Pakistan modern) dan Anatolia (Turki modern).

Abad 20: Era Kemunduran

Memasuki abad ke-20 imperium muslim tinggal sejarah, Umat memasuki era kemunduran, dan sebagian besar wilayahnya secara terpecah segera menjadi jajahan Barat. Kemunduran ini sejalan dengan penyebaran konsep negara-bangsa (nation state) yang dalam pengertiannya yang sangat spesifik mengacu pada “suatu negara di mana suatu kelompok budaya atau suku mendiami suatu wilayah teritorial dan membentuk suatu negara” (“a country where a distinct cultural or ethnic group (a “nation” or “people“) inhabits a territory and have formed a state)[9]. Konsep negara ini juga yang memupus sistem kekaisaran atau kerajaan yang berbasis multi-etnik termasuk Kekaisaran Austria, Kerajaan Perancis, Kerajaan Hungaria, kekaisaran Rusia, kekaisaran Ottoman, Kekaisaran Inggris.

Konsep negara bangsa pasti bukan satu-satunya bagi imperium Umat untuk mengalami kemunduran sebelum akhirnya sirna. Banyak faktor lain yang turut bertanggung jawab termasuk di antaranya faktor-faktor berikut:

  • Perubahan mode ekonomi dari yang berbasis agraris menjadi teknikalis, serta ketertinggalan Umat dalam mengadaptasi perubahan itu;
  • Pola pikir mainstrem Umat dalam menafsirkan syariah terlalu terfokus pada aspek ubudiyyah dalam artian sempit dan mengabaikan aspek muamalah dalam pengertian luas dan aktual; pola pikir ini menurut pengamatan Tariq Ramadan masih berlangsung sampai kini[10];
  • Perang Salib yang membuka mata Barat terhadap peradaban lebih maju;
  • Konsekuensi logis dari Islam sebagai suatu bentuk (form) agama yang, by definition, terbatas dalam memanifestasikan esensi Islam yang universal dan tak-terbatas (menurut F. Schuon); dan
  • Kehendak yang Maha Tinggi.

Faktor terakhir tentunya yang paling menentukan. Faktor ini diisyaratkan oleh ayat Al-Qur’an yang “menghibur” kekalahan tentara Rasul SAW dalam perang Uhud:

Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapatkan luka, maka mereka pun mendapatkan luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka dapat pelajaran) (QS3:140).

Iy yaysaskum faqad massal-qauma qarhum mitsluh, wa tilkal-ayyaamu nudaawiluha bainan-naas (QS3:140).

Wallahu’alam….@

[1] Sebagai rujukan lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/06/27/muslim_popn/.

[2] Alim.org-Timeline History-6th Century (500-599) C.E.

[3] Dalam Bahasa Arab istilah kuffar merujuk pada kelompok orang kafir tetapi dengan tingkat kekafiran yang amat sangat.

[4] Diukur dengan sistem Kalender Masehi, umur beliau ketika menerima wahyu pertama adalah 33 tahun. (Beliau Lahir 577 M.)

[5] Alim.org-Timeline History-6th Century (500-599) C.E.

[6] Lihat, misalnya, Philip K. Kitty (1961), History of the Arabs, khususnya dalam Bab XLIX, MACMILLAN & CO LTD.

[7] Alim.org-Timeline History-7th Century (600-699) C.E.

[8] https://en.wikipedia.org/wiki/Muslim_conquest_of_Transoxiana.

[9] https://en.wikipedia.org/wiki/Nation_state.

[10] Lihat, misalnya, Tariq Ramadan (2009), Radical Reform: Islamic Ethics and Liberation, Oxford University Press.

Standard
Refleksi, Spiritual

Sabar: Makna, Konteks dan Arti Penting

Sabar adalah salah satu kebajikan yang paling penting. Karena pentingnya ini maka tidak mengherankan jika sejak dulu banyak cendikiawan yang mengemukakan perkara sabar dalam bentuk maksim (maxim) atau pernyataan singkat-padat tetapi mendalam mengenai suatu kebenaran umum atau perilaku hidup. Berikut adalah tiga contoh maksim yang dimaksud[1]: (1) “Kesabaran itu pahit, tapi buahnya manis” (Aristotle), (2) “Kesabaran adalah kebajikan yang menaklukkan”, (Geoffrey Chaucer); dan (3) “Dia yang dapat memiliki kesabaran dapat memiliki apa yang dia kehendaki” (Benjamin Franklin).

Makna Sabar dan Konteks Penerapannya

Sabar dipahami secara umum sebagai kapasitas untuk menerima keadaan yang tidak diinginkan. Menurut satu kamus[2], kata sabar (patient, kata sifat) adalah: (1) kemampuan untuk menunggu lama tanpa merasa kesal atau marah, (2) Kemampuan untuk tetap tenang dan tidak menjadi jengkel saat berhadapan dengan masalah atau dengan orang yang sulit; dan (3) kemampuan untuk memberi perhatian pada sesuatu untuk waktu yang lama tanpa menjadi bosan atau kehilangan minat.

Walaupun definisi ini digunakan secara luas, kita perlu membubuhkan dua catatan. Pertama, definisi ini terkesan berkonotasi pasif dan “menyembunyikan” sisi aktif dan positif dari kata sabar. Kesan aktif dan positif ini dapat dicermati, misalnya, dalam satu Thesaurus[3] yang mengkaitkan kata sabar dengan kemampuan menahan diri (forbearance), ketabahan (fortitude), daya tahan (endurance), gigih (persevering) dan tekun (persistence). Kedua, definisi ini mengesankan bahwa kata sabar hanya dinisbahkan (dikaitkan) pada “keadaan yang tidak diingingkan”. Cara pandang ini menyempitkan konteks makna sabar karena kita dapat mengatakan secara sah, misalnya, “sabar dalam menerima warisan harta karun orang tua”. Menerima warisan harta karun jelas bukan keadaan yang tidak diinginkan. Kata sabar dalam contoh ini dapat diganti dengan menahan diri untuk tidak menghamburkan harta kekayaan dan hal ini sesuai dengan makna dasar sabar dalam Bahasa Arab (shabara, yashbiru) yang berarti menahan, tanpa mengkaitkannya dengan “keadaan yang tidak diinginkan”.

Bacaan terhadap sejumlah nash (ayat Al-Qur’an) yang relevan mengindikasikan bahwa kata sabar dapat dikaitkan dengan hampir semua vokasi manusia (human vocation). Dalam satu nash kita dapat menemukan, sebagai ilustrasi, perintah bersabar dalam kehidupan beragama secara umum (QS Maryam:65). Dalam surat yang sama kita juga menemukan kata sabar dalam kaitannya dengan doa Nabi Zakariya AS yang memohon keturunan dengan kesabaran luar biasa (walaupun kata sabar tidak secara eksplisit digunakan):

  1. KAF HA YA ‘AIIN SHAD
  2. (Yang dibacakan itu adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya Zakariya.
  3. (yaitu) ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.
  4. Dia (Zakariya) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku.
  5. Dan sungguh aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal isteriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu.
  6. Yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Yakub, dan jadikanlah dia, ya Tuhanku, seorang yang diridai (QS Maryam:1-6).

Kata belum pernah kecewa dalam ayat ke-4 (digarisbawahi) jelas semakna dengan sabar dalam pengertian umum.

Arti Penting Sabar

Bahwa sabar merupakan suatu kebajikan penting dapat dilihat fakta qurani (bebasis nash) bahwa Rasul SAW yang sudah memiliki jejak rekam kesabaran luar biasa sejak kanak-kanan masih diperintahkan untuk bersabar sebagaimana halnya dengan ulul azmi (QS Al-Ahqaq:35). Sebagai catatan, istilah ulul azmi merupakan gelar khusus bagi Rasul pilihan yang mempunyai ketabahan atau kesabaran yang luar biasa: Nuh AS, Ibrahim AS, Musa AS, Isa Ibn Maryam AS, dan Muhammad SAW (QS Asy-Sura:13).

Pentingnya sabar juga dilihat dari dokumentasi nash mengenai nasehat Luqman al-Hakiim kepada anaknya:

“Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (menusia) berbuat makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang meinmpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting” QS Luqman:17).

Lukman adalah sosok manusia luar biasa yang sekali pun tidak tergolong nabi tetapi namanya dibadaikan sebagai satu nama Surat Al-Qur’an dan nasehat-nasehat kepada anaknya diabadikan dalam nash[4]. Nasehatnya tidak hanya mengenai sabar (ayat 17), tetapi juga mengenai syirik (13), berbuat ihsan kepada orang tua (14-15), pengawasan Rabb yang cermat (16), sombong (18), serta berjalan dengan sikap rendah hati dan berbicara lembut (19). Semua perkara ini sangat penting (buktinya tercantum dalam nashi) sehingga seyogyanya menjadi perhatian keluarga muslim, atau paling tidak, menjadi materi pokok pendidikan (bukan hanya pengajaran) tunas-tunas muslim di lembaga-lembaga pendidikan, khususnya yang berlabelkan Islam. Pertanyaan retrospektif: Sudahkah?

Surat al-Baqarah (121-127, 153-155) mengilustrasikan bahwa sabar sama-sekali tidak dapat dianggap enteng dalam kaitannya dengan keberhasilan atau kegagalan suatu upaya manusiawi. Nash ini mengisyaratkan bahwa sabar merupakan faktor kunci (tentunya di luar ketatapan-Nya yang mutlak) keberhasilan Perang Badar dan kekalahan Perang Uhud, dua peperangan yang sangat menentukan bagi kelangsungan hidup cikal-bakal komunitas muslim. Wallahu’alam. Mengenai Perang Uhud dikisahkan bahwa kegagalannya terkait dengan ke-tidak-sabar-an sebagian pasukan Rasul SAW (pasukan pemanah) dalam memperebutkan harta rampasan perang padahal pertempuran masih berlangsung.

Rujukan Lebih Lanjut

Uraian terdahulu menunjukkan banyaknya nash yang terkait dengannya tetapi itu baru sebagian kecil. Menurut Imam Ahmad[5], secara keseluruhan Al-Qur’an mencantumkan 90 ayat mengenai sabar yang diletakkan dalam berbagai konteks. Dalam kaitan ini kita berhutang budi kepada Ibn al Qayyim RA yang telah mengkompilasi secara sistematis ayat sabar sebagaimana disajikan dalam Daftar berikut. Semoga kita dianugerahi kemauan untuk mengambil manfaat darinya….@

[1] Goodreads quotes.

[2] Merriam-Webster’s Advanced Learner’s English Dictionary

[3] Webster’s Pocket Thesaus of the English Language (2002)

[4] Kedudukan yang serupa berlaku pada Imran RA, keluarga yang melahirkan Ibunda Maryam AS, Ibunda Isa AS.

[5] https://istighfar.wordpress.com/allah-has-mentioned-it-90-times/

Gambar: Google, An-Nahl 126 (… wa lain shabartum lahua kahirul lishaabirin)

 

Standard