Sepenuhnya Manusia, Sepenuhnya Teladan
Sepenuhnya manusia—agar dapat kita teladani.
Diangkat oleh wahyu—agar dapat menunjukkan jalan.Fully human—so that we may follow his example.
Raised by revelation—so that he may show us the way.
Ada sesuatu yang menarik dalam cara Al-Qur’an memperkenalkan Rasulullah SAW. Ia tidak meminta kita memulai dengan membayangkan seorang manusia yang jauh dari kehidupan biasa. Justru sebaliknya, Al-Qur’an menegaskan kemanusiaannya:
“Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu…”
(Al-Kahf 18:110)
Barangkali kita terlalu terbiasa dengan ayat ini sehingga tidak lagi merasakan daya kejutnya.
Rasulullah SAW makan, tidur, berkeluarga, bekerja, bermasyarakat, mengalami kehilangan, menghadapi penolakan, mencintai, berduka, dan memikul beban kehidupan sebagaimana manusia lainnya.
Tetapi Al-Qur’an tidak berhenti pada kalimat “manusia seperti kamu.”
Ayat yang sama segera melanjutkan:
“…yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa.”
Di sinilah kita menemukan keseimbangan yang sangat halus.
Beliau sepenuhnya manusia, tetapi manusia yang menerima wahyu. Dekat dengan pengalaman kita, tetapi mengarahkan pengalaman itu kepada Allah. Hidup di bumi, tetapi menunjukkan bagaimana kehidupan di bumi dapat diarahkan menuju langit.
Mungkin justru karena itulah beliau dapat menjadi uswah hasanah—teladan yang baik.
TELADAN YANG DAPAT DIJALANI
Teladan hanya mempunyai makna apabila ia mungkin diikuti.
Al-Qur’an tidak menghadirkan Rasulullah SAW sebagai model kesempurnaan yang berada di luar jangkauan kemanusiaan. Ia menghadirkan beliau di tengah kehidupan: keluarga, masyarakat, konflik, perdagangan, ibadah, persahabatan, kesedihan, kemenangan, dan kehilangan.
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…”
(Al-Ahzab 33:21)
Dengan demikian, uswah hasanah mungkin bukan undangan untuk menjadi manusia tanpa kelemahan. Ia adalah undangan untuk melihat bagaimana seorang manusia mengarahkan seluruh kemanusiaannya kepada Allah.
Al-Kahf 110 bahkan mempertemukan tiga hal dalam satu ayat: kemanusiaan Rasul, tauhid, dan amal saleh.
Barang siapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, demikian ayat itu mengingatkan, hendaknya mengerjakan kebajikan dan tidak mempersekutukan siapa pun dalam beribadah kepada-Nya.
Tauhid, dalam pengertian ini, tidak berhenti sebagai pernyataan metafisis. Ia meminta bentuk dalam kehidupan.
Iman bergerak menuju amal.
Dan amal kembali memperoleh arah dari tauhid.
Tauhid memberi arah.
Teladan menunjukkan jalan.
Amal membuat perjalanan itu nyata.
AGAMA YANG TETAP MANUSIAWI
Jika kehidupan Rasulullah SAW direnungkan lebih jauh, kita menemukan sebuah pola yang berulang: keseimbangan.
Ada malam untuk berdiri dalam salat, tetapi ada pula hak tubuh untuk beristirahat. Ada puasa dan pengendalian diri, tetapi ada pula makanan yang disyukuri. Ada hak Allah, tetapi ada pula hak manusia. Ada kehidupan akhirat yang menjadi tujuan, tetapi kehidupan dunia tidak karena itu kehilangan tanggung jawabnya.
Keseimbangan di sini bukan kompromi terhadap kebenaran.
Ia mungkin justru salah satu bentuk kebijaksanaan dalam menjalani kebenaran.
Kita dapat melihatnya setidaknya melalui tiga lensa.
Keseimbangan.
Kehidupan spiritual tidak meniadakan kehidupan duniawi. Hubungan dengan Allah tidak membatalkan tanggung jawab kepada manusia. Lahir dan batin, individu dan masyarakat, hak dan kewajiban—semuanya meminta tempatnya masing-masing.
Keadilan.
Sesuatu memperoleh haknya secara proporsional. Tubuh mempunyai hak. Keluarga mempunyai hak. Sesama manusia mempunyai hak. Dan di atas semuanya, Allah mempunyai hak atas penghambaan kita.
Kemanusiaan.
Islam tidak meminta manusia berhenti menjadi manusia agar dapat menjadi hamba Allah. Kebutuhan makan, minum, istirahat, keindahan, keluarga, dan kehidupan sosial tidak dihapuskan; semuanya diarahkan, ditertibkan, dan diberi makna.
Barangkali di sinilah salah satu rahasia keteladanan Rasulullah SAW:
Beliau tidak menunjukkan bagaimana melarikan diri dari kemanusiaan,
tetapi bagaimana membawa kemanusiaan menuju Allah.
Tentu terdapat dimensi kehidupan spiritual beliau yang tidak mungkin disederhanakan menjadi ukuran rata-rata. Ada kedalaman ibadah, pengorbanan, kezuhudan, dan kedekatan kepada Allah yang memperlihatkan cakrawala perjalanan ruhani yang jauh lebih tinggi.
Namun bahkan di sini, keteladanan tidak berubah menjadi tuntutan agar semua manusia menjalani bentuk kehidupan yang sama.
Ia menjadi cakrawala.
Sesuatu yang mengundang manusia untuk terus mendekat.
DARI TELADAN MENUJU CINTA
Ada sisi lain yang tidak mudah dipisahkan dari hubungan umat Islam dengan Rasulullah SAW: mahabbah.
Cinta kepada beliau tumbuh dalam sejarah Muslim melalui sirah, syair, Burdah, Barzanji, salawat, seni suara, dan berbagai ekspresi budaya lainnya. Semua itu memperlihatkan sesuatu yang sangat manusiawi: ketika cinta memenuhi hati, manusia mencari bahasa untuk mengungkapkannya.
Namun ekspresi budaya tetaplah ekspresi manusia. Ia dapat membawa keindahan sekaligus keterbatasan zamannya.
Karena itu, jika kita ingin kembali bertanya siapa Rasulullah SAW, mungkin tempat yang paling aman untuk memulai tetaplah Al-Qur’an.
Dan gambaran yang muncul sangat menyentuh.
Beliau bukan hanya seorang pembawa pesan.
Penderitaan umat terasa berat baginya.
Keselamatan mereka menjadi kegelisahannya.
Al-Qur’an menggambarkannya sebagai ra’ūf dan raḥīm—penyantun dan penyayang terhadap orang-orang beriman (At-Taubah 9:128).
Bahkan ketika manusia menolak risalah yang dibawanya, kesedihan beliau begitu mendalam sehingga Al-Qur’an seakan meminta beliau tidak menghancurkan dirinya sendiri karena mereka tidak beriman (Asy-Syu‘ara 26:3; Fathir 35:8).
Mungkin di sinilah cinta umat kepada Rasul memperoleh salah satu akarnya yang terdalam:
kita mencintai seseorang yang terlebih dahulu begitu menginginkan keselamatan kita.
SALAWAT: KETIKA CINTA MENJADI INGATAN
Karena itu, salawat mungkin layak dipandang lebih dari sekadar ekspresi budaya atau formula lisan.
Al-Qur’an sendiri memberikan landasannya:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
(Al-Ahzab 33:56)
Ada sesuatu yang luar biasa dalam ayat ini.
Orang beriman diajak memasuki sebuah tindakan yang—dalam cara yang hanya diketahui Allah—telah disebut Al-Qur’an bersama tindakan Allah dan para malaikat-Nya.
Maka salawat dapat menjadi latihan ingatan.
Kita mengingat beliau.
Kita mengingat akhlaknya.
Kita mengingat rahmat yang dibawanya.
Dan, lebih penting lagi, kita bertanya kepada diri sendiri: apakah sesuatu dari rahmat itu mulai tampak dalam cara kita memperlakukan manusia lain?
Salawat menghidupkan ingatan.
Ingatan menumbuhkan cinta.
Cinta meminta keteladanan.
RASULULLAH SAW DALAM CAHAYA NASH
Jika berbagai ayat Al-Qur’an dibaca berdampingan, muncul sebuah potret yang jauh lebih kaya daripada satu karakterisasi tunggal.
Al-Qur’an menggambarkan Rasulullah SAW sebagai:
- penutup para nabi (Al-Ahzab 33:40);
- utusan bagi seluruh manusia (Al-A‘raf 7:158);
- rahmat bagi seluruh alam (Al-Anbiya 21:107);
- pribadi yang lemah lembut (Ali ‘Imran 3:159);
- pemilik akhlak yang agung (Al-Qalam 68:4);
- uswah hasanah, teladan yang baik (Al-Ahzab 33:21);
- seorang Rasul yang penderitaan umat terasa berat baginya, sangat menginginkan kebaikan mereka, serta ra’ūf dan raḥīm kepada orang-orang beriman (At-Taubah 9:128);
- seorang Nabi yang Allah dan para malaikat-Nya bersalawat kepadanya (Al-Ahzab 33:56);
- seorang hamba yang dijanjikan maqāman maḥmūdā—kedudukan yang terpuji (Al-Isra 17:79);
- seorang manusia yang kesedihannya terhadap mereka yang menolak iman begitu mendalam sehingga Al-Qur’an sendiri menenangkannya (Asy-Syu‘ara 26:3; Fathir 35:8).
Jika semua ayat ini dibaca sebagai satu kesatuan, barangkali pertanyaan terpenting bukan lagi:
“Seberapa tinggi kedudukan Rasulullah SAW?”
Al-Qur’an sendiri telah memberikan begitu banyak isyarat mengenai kemuliaan itu.
Pertanyaan yang lebih dekat kepada kita mungkin justru:
Apa arti mencintai beliau bagi cara kita menjalani kehidupan?
Jika beliau adalah rahmatan lil-‘ālamīn, apakah kehadiran kita membawa sedikit lebih banyak rahmat?
Jika beliau lembut, apakah agama membuat kita semakin lembut?
Jika beliau begitu peduli terhadap keselamatan manusia, apakah keberagamaan kita membuat kita semakin peduli terhadap manusia?
Jika beliau adalah uswah hasanah, apakah cinta kita berhenti pada pujian—atau perlahan-lahan berubah menjadi akhlak?
Di titik ini, membaca karakteristik Rasulullah SAW tidak lagi sekadar menjadi kegiatan mengumpulkan sifat-sifat beliau.
Ia berubah menjadi sebuah cermin.
Dan mungkin itulah salah satu cara paling sederhana untuk memahami makna keteladanan:
Kita tidak diminta menjadi Rasul.
Kita diminta membiarkan teladan Rasul
memperbaiki cara kita menjadi manusia.
We are not asked to become the Prophet.
We are invited to let the Prophet’s example
reshape the way we become human.
Ṣallū ‘alayhi wa sallimū taslīmā.


