Refleksi

Gong: Makna Simbolisnya Bagi Masyarakat Tradisional Jawa

Sumber Gambar: Wikipedia

Kita mengenal gong sebagai salah satu alat musik gamelan, musik tradisional masyarakat Jawa dan Bali. Gong sesungguhnya bukan khas Indonesia; ia dikenal juga di berbagai negara di Asia termasuk China, Jepang, Vietnam, Myanmar dan Filipina. Pemukulan gong dimaksudkan tidak hanya untuk keperluan musik tetapi juga untuk keperluan lain termasuk menandai pembukaan upacara “kantor” (Indonesia) atau olahraga Sumo (Jepang). Di China gong –dengan berbagai jenis dan ukuran—konon sudah dikenal selama ribuan tahun dan difungsikan sebagai alat panggil bagi petani untuk mulai bekerja; maklum, suara dari sebagian gong dapat didengar dalam diameter 8 kilometer[1]. Tetapi tulisan ini bukan mengenai gong semata, melainkan mengenai makna simbolismenya dalam budaya Jawa.

Dalam perspektif budaya tradisional Jawa, gong memiliki makna yang jauh lebih luas dan dalam dari sekadar sebagai alat musik. Dalam budaya ini, bentuk dan materi gong, peran yang dimainkan dalam musik gamelan, serta energi yang diciptakan ketika dipukul, masing-masing melambangkan filsafat mengenai waktu dan masyarakat Jawa yang unik. Seperti yang dikatakan Miatke (2009)[2], bentuk bundar gong melambangkan keabadian dan keseimbangan; pukulan gong merefleksikan koinsidensi antara permulaan dan akhir, antara kelahiran dan kematian, atau antara lahir dan batin. Agar memperoleh gambaran agak lengkap, berikut ini dikutip sebagian apa yang dikatakan Miatke[3]:

The gong as an expression of a Unified Being or “Divine Oneness,” expresses Java’s unique organisation of time and society. It represents harmony in a number of ways. Firstly, in form: the circle shape symbolises eternity and balance, and its single-material body bears the quality of uniformity. Secondly, in the role that it plays within the music of the gamelan, which symbolises both time and timelessness. The gong’s strike indicates the coincidence of start and end, birth and death, or, as the Indonesians say, lahir batin, that is, body and soul. Thirdly, in the actual energy that it creates: a self-perpetuating vibration which produces an undifferentiated and complex dissonance.

Ungkapan bahwa “gong sebagai ekspresi dari Kesatuan Wujud (Unified Being) atau Keesaan yang Ilahi (Divine Oneness)” menarik untuk dicermati lebih lanjut. Jika ungkapan ini menggambarkan keadaan yang sebenarnya maka kita memperoleh kesan kuat bahwa konsep tauhid (Keesaan Tuhan) sebenarnya tidak asing bagi masyarakat Jawa tradisional, sekalipun mereka menggunakan istilah Tuhan yang bagi Muslim-literalis mungkin kurang nyaman yaitu Sang Hiyang Widi.

Bentuk lingkaran Gong adalah lingkaran yang secara universal diakui mengandung metafora filosofis. Suatu lingkaran memiliki titik pusat yang menggambarkan titik-awal dan prinsip, menyimbolkan realitas non-spasial dan Keabadian. Ia juga menggambarkan partisipasi waktu-mengalir dan Keabadian dalam alam. Suatu lingkaran juga memiliki dimensi garis lingkaran yang terdiri dari titik-titik yang jumlahnya tak-terhingga dan berjarak sama terhadap titik pusat sehingga terharmonisasi dengan merujuk pada titik itu.

Bagi masyarakat tradisional Jawa, sebagaimana diungkapkan Miatke[4], citra spasial lingkaran secara memadai melambangkan gagasan waktu siklik yang mendukung cara-cara masyarakat tradisional Jawa untuk memahami alam semesta. Dalam konteks ini, konsep harmoni melekat di dalamnya karena adanya persatuan atau keseimbangan antara awal dan akhir: ia memulai dari mana ia berakhir, mewujudkan kedua ekstrem itu, mengandung kedua ekstrem itu dan menyeimbangkan keduanya. Selain itu, bentuk lingkaran juga menunjukkan roda, Cakra Manggilingan dalam istilah Jawa, yang mengekspresikan filsafat Jawa tentang putaran konstan dari proses kehidupan. Dalam proses perputaran kehidupan ini konsep harmoni bagi masyarakat tradisional Jawa sangat penting sebagaimana diungkapkan oleh Miatke[5]:

For the Javanese, it is the obligation of man to maintain the harmony of reality. This is expressed in the ancient high Javanese language as the virtue of mamayu hayuning bawono or “preserving the beauty of the world.” Harmony is the primary pillar of Kejawen, the indigenous mystic religion of Java.

Bagi orang Jawa, adalah kewajiban manusia untuk menjaga keharmonisan realitas. Ini diekspresikan dalam bahasa Jawa kuno yang tinggi dalam istilah mamayu hayuning bawono atau “melestarikan keindahan dunia.” Harmoni adalah pilar utama Kejawen, agama mistik pribumi Jawa.

Wallahualam…..@

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Gong

[2] Rebecca Miatke, “The Gong: Harmony in the religion of Java” dalam

EYE of the HEART: A Journal of Traditional Wisdom, Issue 4, halaman 41-60.

[3] Ibid

[4] Ibid

[5] Ibid

Advertisements
Standard
Refleksi, Spiritual

Jalan Spiritual dan Meditasi: Suatu Tinjauan Singkat

“The greatest disease in the West today is not TB or leprosy; it is being unwanted, unloved, and uncared for. We can cure physical diseases with medicine, but the only cure for loneliness, despair, and hopelessness is love. There are many in the world who are dying for a piece of bread but there are many more dying for a little love. The poverty in the West is a different kind of poverty — it is not only a poverty of loneliness but also of spirituality. There’s a hunger for love, as there is a hunger for God.”
Mother Teresa, A Simple Path: Mother Teresa

Semua agama atau tradisi keagamaan besar menawarkan berbagai jalan spiritual (spiritual ways) yang memungkinkan agama relevan bagi semua orang dengan berbagai kecenderungan alamiah atau temperamen. Dalam Tradisi Hindu, misalnya, kita mengenal istilah-istilah karma (Jalan Aksi, the Way of Action), bhakti (Jalan Cinta, bhakti, the Way of Devotion) dan jñãna (Jalan Pengetahuan, the Way of Knowledge or Gnosis). Dalam tradisi Krsiten, Jalan Aksi srupa dikenal dengn Jalan Martha (Way of Martha) sedangkan Jalan Kontemplasi– gabungan Jalan Cinta dan Jalan Pengetahuan– dikenal dengan Jalan Maria (Way of Mary). Bagaimana dengan tradisi Islam? Dalam tradisi ini kita mengenal padanannya dalam istilah makhaffah (Jalan Takut, Fear of God), mahabbah (Jalan Cinta, Love of God), dan ma’rifah (Knowledge of God, Gnosis).

Apa yang menarik untuk dicatat dari uraian di atas adalah bahwa pada tataran spiritual atau batiniah (esoteric), kita dapat menemukan titik-temu (Arab: kalimatun sawa) antar agama atau tradisi keagamaan. Titik-temu serupa hampir selalu kita temukan dalam bidang yang terkait dengan kebajikan sosial (social virtue) seperti dalam hal keprihatinan mengenai masalah kemiskinan, ketimpangan ekonomi, dan kerusakan alam. Dengan alur pemikiran semacam ini maka kita sebenarnya kita memiliki pijakan bersama (common ground) untuk melaksanakan agenda pembangunan global seperti yang dicanangkan dalam Sasaran Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals, SDGs).

Masing-masing jalan spiritual itu, dengan bantuan meditasi, dapat menghasilkan kebajikan yang dihargai oleh semua tradisi keagamaan sejak dahulu kala; kecuali, dunia modern yang berperlaku menyimpang, spirtually-speaking. Sebagai ilustrasi, Jalan Cinta dapat mendorong sifat murah hati (generosity) jika menggunakan mode meditasi aktif dan rasa syukur (gratitude) jika menggunakan mode meditasi pasif. Istilah sufi fana (Inggris: extinction) dan baqa (Inggris: union) dapat kita lihat sebagai cerminan Jalan Pengetahuan, masing-masing dengan mode meditasi yang pasif dan aktif. Bagan di bawah menyajikan beberapa kebajikan spiritual yang dapat dilahirkan dari perkawinan Jalan Spiritual dengan meditasi.

Jalan Spiritual dan Mode Meditasi
Jalan Spiritual Meditasi Mode Pasif Meditasi Mode Aktif
Takut (Makhafah) Pelepasan-diri dari hal-hal duniawi (renunciation), berpantang-diri (abstention). Tindakan aktif (act), ketekunan (persevernce).
Cinta (Mahabbah) Pengunduran-diri (resignation), syukur (garitude). semangat (himmah, fervor), percaya (trust), murah hati (generosity)
 Pengetahuan (Ma’rifah) fana (extinction), kebenaran (truth). baqa (union)
Sumber: Diadaptasi dari W. Stoddart (2008:60), Remembering in a World of Forgetting.

Sebagai penutup layak dibubuhkan dua catatan berikut. Pertama, bersama konsentrasi dan salat, meditasi meringkas inti ajaran semua agama yang menuntut partisipasi semua fakultas wujud kita. Yang pertama melibatkan kegiatan inteligensi (intelligence), sementara yang kedua dan ketiga masing-masing bidang kegiatan kehendak (the will) dan jiwa (the soul). Kajian agak rinci mengenai meditasi-konsentrasi-salat dapat dilihat dalam diakses dalam https://uzairsuhaimi.blog/2012/07/26/meditasi-konsentrasi-dan-salat/

Kedua, ini mungkin berbeda dengan pemahaman umum, meditasi tidak dapat melahirkan pencerahan; fungsinya utamanya adalah menyingkirkan kotoran-kotoran pada dinding batin-kita yang menghalangi masuknya cahaya ilahiah yang selalu hadir “di sana” (omnipresence) ke dalam ruang terdalam jati-diri kita:

Contrary to what is too often stated, meditation cannot of itself provoke illumination; rather, its object is negative in the sense that it has to inner obstacles that stand in the way, not of new, but a pre-existed and “innate” knowledge of which it has to become aware. Thus meditation may be compare not so much to light kindles in a dark room, as to opening made in the wall of the room to allow the light enter…. (Schuon, sebagaimana dikutip oleh Deon Valodia dalam Glossary of Terms Used by Fritjhof Schuon).

 Wallahualam….@

 

 

 

Standard
Refleksi, Spiritual

Belum Siap Melepas Ramadhan

ramadhan105

Sumber Gambar: Google

Begitu menyelesaikan dua rakaat terakhir tarawih berjamaah, seperti biasa, penulis keluar masjid yang berlokasi dekat rumah dan bersiap untuk pulang. Penulis biasa melakukan salat witir tiga rakaat untuk menutup tarawih di rumah sendirian pada tengah malam. Sejauh pengamatan, penulis adalah satu-satunya jamaah di masjid itu yang memiliki kebiasaan ini. Tapi tidak demikian halnya pada siklus tarawih terakhir (malam ke-29) kali ini: beberapa orang melakukan hal yang sama, termasuk seorang jamaah yang biasanya berada dalam saf pertama dalam jamaah, tepat di belakang Iman, posisi yang “riskan” karena harus siap menggantikan Imam jika terpaksa.

Ketika orang itu ditanya kenapa tidak ikut jamaah witir, jawabannya membuat penulis tercenung: “Rasanya belum siap melepas Ramadhan Ji!” “Malam ini niatnya mau melanjutkan tarawih sendiri di rumah, seperti haji”. Dia agaknya berprasangka baik kepada penulis. (Orang ini biasa memanggil penulis “Ji”, panggilan akrab, singkatan dari haji. Dia sendiri sudah haji setelah konon 17 tahun menabung.)

Dalam perjalanan pulang penulis sempat merenung apakah suasana-batin orang itu merepresentasikan suasana-batin Umat pada umumnya ketika menyadari bahwa siklus Ramadhan akan segera berakhir. Jika jawabannya “ya” maka dapat diduga bahwa bagi Umat, Bulan Ramadhan, berbeda dengan bulan lain, adalah bulan yang kedatangannya disambut gembira dan kepergiannya diiringi kesedihan khas yang membahagiakan, katakanlah kesedihan spiritual. Istilah ini tidak berlebihan karena pada bulan ini Umat menyandang kewajiban agama yang sekalipun ‘menyengsarakan” secara fisik tetapi menggairahkan secara spiritual. Lebih dari pada bulan-bulan lainnya, pada bulan ini Umat lebih serius menjalin hubungan positif baik secara vertikal dengan-Nya maupun secara horizontal antar-sesama; mudahnya, lebih rajin ibadah dan lebih gemar bersedekah. Rajin beribadah dan gemar bersedekah mungkin indikasi dari perasaan “manisnya Iman”. Wallahualam.

Sambutan gembira oleh Umat atas kedatangan Ramadhan terungkap dalam frase populer ‘Marhaban ya Ramadhan”; kesedihan mereka karena ditinggalkannya terungkap dalam narasi doa: “Rabb panjangkan umur hamba setahun lagi agar dapat bertemu dengan Ramadhan tahun depan”. Doa ini diajarkan Rasul SAW yang agaknya hanya dapat diungkapkan secara tulus oleh mereka yang menyadari bahwa umurnya secara hakiki berada di “jari”-Nya. Selain itu, doa semacam ini sangat realistis bagi kelompok lanjut usia yang secara demografis memiliki peluang lebih kecil untuk dapat bertemu Ramadhan tahun depan, dibandingkan dengan kelompok yang lebih muda.

Ketika berdoa seorang hamba wajar jika berharap dapat “jatah hidup” lebih dari setahun asalkan niatnya tulus sebagaimana diajarkan oleh Abdul Malik Mujahid dalam butir terakhir “doa malam terakhir Lailatul Qadr”[1]:

  1. Ya Allah, Engkau adalah perwujudan pengampunan, Engkau suka mengampuni, Tolong abaikan kekurangan hamba, O Pengampun, Ghafur, Tuhan yang Maha Pengampun.
  2. Ya Allah, mudahkanlah hamba berbuat baik dan tolong hamba mampu menghindari perbuatan buruk dalam segala situasi.
  3. Ya Allah, berilah hamba kesuksesan dalam semua urusan hidup ini dan yang urusan Selanjutnya.
  4. Tolong tingkatkan pengetahuan hamba dan berkatilah hamba dengan para guru yang luar biasa.
  5. Ya Allah, biarkan hamba meninggal dalam keadaan Iman yang paling mantap.
  6. Ya Allah, berkatilah umat ini, bimbinglah kami, dan satukan hati kami.
  7. Ya Allah, angkat hati hamba, lepaskan beban-beban hamba, dan jadikan hamba termasuk orang-orang yang menaruh kepercayaan penuh kepada-Mu dalam semua urusan.
  8. Ya Allah, tolong berkati hamba dengan kesempatan untuk melihat lebih banyak Ramadhan dan untuk melakukan ibadah yang jauh lebih baik dari pada yang telah hamba lakukan tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya.

Amin…@

[1] https://www.soundvision.com/article/duas-for-the-last-day-of-ramadan-and-eid.

 

Standard
Refleksi, Spiritual

Malam Qadr: Tinjauan Sepintas

Sumber Gambar: Google

Umat Islam (selanjutnya, Umat) kini tengah berada pada pertengahan fase 10-malam terakhir Bulan Ramadhan. Dalam fase ini wajar jika Umat mengalami kelelahan secara fisik karena sudah berpuasa selama tiga minggu secara berturut-turut. Tetapi justru dalam kondisi fisik semacam itu mereka berupaya mengintensifkan ibadah-malam sesuai dengan yang diteladankan Rasul SAW. Para saksi melaporkan bahwa intensitas ibadah beliau pada fase ini lebih dari biasanya.

Umat mempercayai dalam fase ini ada satu malam istimewa yang dikenal dengan malam qadr, Laylat al-Qadr. Ini malam istimewa, “lebih baik dari seribu bulan”, karena para malaikat dan Ruh diperintahkan turun (QS 97:1-5) ke dunia atau alam musyahadah (yang dapat disaksikan). Keistimewaan Malam Qadr terungkap antara lain dari berbagai istilah yang dinisbahkan kepadanya: Malam Keputusan (the Night of Decree), Malam Kekuatan (Night of Power), Malam Nilai (Night of Value), Malam Takdir (Night of Destiny), atau Malam Tindakan (Night of Measures).

Umat meyakini pada malam istimewa ini ayat pertama al-Quran diturunkan melalui Malaikat Jibril AS kepada Rasul SAW di Gua Hira. Umat percaya bahwa pada malam istimewa ini rahmat dan belas kasihan Tuhan berlimpah, dosa diampuni, permohonan diterima.

Muslims believe that on this night the blessings and mercy of God are abundant, sins are forgiven, supplications are accepted, and that the annual decree is revealed to the angels who also descend to earth, specially the Angel Gabriel, referred to as “the Spirit”, to perform every and any errand decreed by God. Islam holds that God Almighty alone answers our supplications and that He alone receives them and forgives humanity and gives them what they ask for and that on this particular night Muslims should actively seek God’s forgiveness and engage in various acts of worship[1].

Sebagian ulama percaya bahwa Al Quran diturunkan kepada Rasul SAW dua kali: ‘wahyu langsung’ yang terjadi pada Laylat al-Qadr, dan ‘wahyu bertahap’ selama 23 tahun. Al-Quran menggunakan kata Inzal yang membenarkan ‘wahyu langsung’. Bagi sebagian ulama lainnya, wahyu Quran terjadi dalam dua fase: fase pertama adalah wahyu secara keseluruhan pada Laylat al-Qadr kepada malaikat Jibril, fase berikutnya wahyu yang diturunkan secara bertahap kepada Rasul SAW, dimulai pada 610 M di gua Hira di Gunung Nur di Mekah. Surah pertama yang diwahyukan adalah Sūrat al-ʿAlaq[2].

Terlepas dari perbedaan pandangan ini tampaknya layak dicatat bahwa penjelasan mengenai malam ini (QS 97:4) didahului oleh ayat “Tahukah kamu apa itu malam Qadr”? (QS 97:3). Ayat semacam ini, menurut Quraisy Syihab dalam berbagai kesempatan, mengisyaratkan bahwa subyek dari ayat berikutnya mustahil dapat dipahami sepenuhnya oleh nalar manusiawi. Dengan perkataan lain, kita perlu mengakui secara rendah hati bahwa kita tidak akan memahami sepenuhnya hakikat malam Qadr.

Umat pada umumnya merespon malam istimewa ini secara positif sekalipun mungkin dinyatakan dengan cara yang beragam karena faktor budaya. Semangatnya tetap sama: mengintensifkan ibadah, khususnya ibadah-malam melalui itikaf (secara sendiri-sendiri maupun berjamaah), salat sunat, tadarus, dan sebagainya, sampai menjelang fajar.

Intensifikasi ibadah ini memungkinkan kesadaran kita, dengan idzin-Nya, meningkat dari kesadaran alam tubuh-fisik (Alam Nasut, Realm of Physical Bodies), ke tingkat kesadaran alam inteligensi yang melampaui kesadaran tubuh-fisik (Alam Malakut, Realm of Intelligence), atau bahkan ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi lagi yaitu alam kekuatan  (Alam Jabarut, Realm of Power[3].

Wallahualam….@

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Laylat_al-Qadr

[2] Ibid

[3] http://www.hazrat-inayat-khan.org/php/topics.php?b=1&ref=264&t=Planes&st=Five%20Planes%20of%20Consciousness&r1=46&r2=7&r3=3&ps=0&pe=0

 

Standard
Refleksi

Alfatihah: Suatu Refleksi

Segala puji hanya bagi Allah pemelihara seluruh alam.

Puji Dia yang tetap terpuji sekalipun seluruh makhluk tidak memuji-Nya: “Dia Mahakaya, Maha terpuji (QS 57:24), “Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah” (QS 57:1), “Dan guruh bertasbih memunji-Nya, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki” (QS 13:13).

Bagaimana tidak terpuji padahal Dia Rabb atau Pencipta atau Pemelihara atau Pendidik dari seluruh alam: alam raya, alam Syahadah, alam Jabarut, alam Malakut.

Yang Rahman lagi Rahim.

Puji Dia yang untuk mengelola kerajaan-Nya lebih memilih pendekatan cinta, bukannya pendekatan kekuasaan. Puji Dia yang Rahman dalam esensi-Nya dan yang Rahim dalam mengelola kerajaan-Nya, padahal Dia “Mahakuat, Mahaperkasa  (QS 58:21)

Pemilik hari pembalasan.

Dia pemilik hari “ketika ruh dan para malikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi kepadanya oleh Tuhan yang Maha Pengasih”  (QS 79:38), hari ketika “sesorang sama sekali tidak berdaya (menolong) orang lain”  (QS 82:19).

Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu pula kami mohon pertolongan.

Wahai yang Rahman-Rahim, berikanlah kami kekuatan untuk melawan kecongkakan-diri dan anugerahkanlah kami secercah cahaya untuk memahami kebenaran dasar bahwa Hanya Engkaulah yang layak disembah. Wahai yang Rahman-Rahim, didiklah kami yang diliputi noda kezaliman-diri agar mampu memahami bahwa dengan kekuasaan-Mu yang tak-terbatas hanya Engkaulah yang layak diminta pertolongan.

Hantarlah kami memasuki jalan lebar dan luas).

Wahai yang Maha Pendidik dan Maha Pemberi Petunjuk, atas asma-Mu yang Agung, berikanlah kepada kami petunjuk atau isyarat yang jelas yang mengarah pada jalan-Mu, ke arah Rida-Mu, serta anugerahkan kekuatan untuk mampu berjalan di dalam jalan-Mu, jalan Mustaqiim, secara Istiqamah, secara konsisten.

(yaitu) jalan orang-orang yang yang telah Engkau anugerahi ni’mat kepada mereka bukan jalan mereka yang dimurkai dan (bukan pula jalan) orang-orang yang sesat.

Berilah kami kekuatan untuk menghadapkan wajah kepada “agama yang lurus” (QS 30:30), agama yang telah terbukti tidak bersifat khayalan atau utopis, melainkan agama yang dapat diterapkan secara nyata pada tataran sosiologis-historis, sebagaimana telah didemonstrasikan secara meyakinkan oleh Hamba-Mu yang berakhlak Agung, Muhammad SAW, selama karier kerasulannya.

Ya Rabb, anugerahkan salawat dan salam untuk junjungan dan teladan kami Muhammad SAW yang telah mengajarkan doa yang hampir selalu kami abaikan karena kedunguan kami: “Ampunilah aku karena tidak mampu memuji-Mu secara layak”.

Standard
Kependudukan, Refleksi

Populasi Muslim: Besar, Sebaran Geografis dan Tantangan

Jika —kakakanlah saat bersantai menikmati secangkir kopi di suatu Cafe bandara internasional– Anda bertemu dengan tiga orang non-muslim, maka patut diduga Anda adalah seorang Muslim. Dinyatakan secara berbeda, secara rata-rata, satu-dari-empat populasi global adalah Muslim. Dugaan ini bukan tanpa dasar ilmiah karena dihitung berdasarkan teori peluang dan hasil kajian, seperti akan segera lihat, suatu lembaga riset yang dapat diandalkan.

Muslim: Urutan Kedua

Dugaan bahwa satu-dari-empat penduduk global  Muslim didasarkan pada hasil suatu analisis demografis oleh PEW Research Center (selanjutnya PEW) yang menunjukkan bahwa pada tahun 2015 ada sekitar 7.3 milyar penduduk global dan 1.8 milyar atau 24.1% di antarnya adalah Muslim[1]. Angka-angka ini menempatkan Islam pada urutan kedua agama terbesar dilihat dari jumlah pengikutnya, setelah Kristen yang diperkirakan memiliki pengikut sekitar 2.3 milyar atau 31.2% dari populasi global[2]. Menurut proyeksi PEW, sekitar tahun 2070 Muslim diperkirakan akan mengungguli Kristen karena alasan demografis: rata-rata anak per keluarga 2.2 bagi rumah tangga Kristen dan 2.7 bagi rumah tangga Muslim. Dengan angka kelahiran seperti itu maka Islam adalah agama tercepat pertumbuhan populasi penganutnya.

Ada tiga catatan yang layak disisipkan mengenai riset PW ini. Pertama, penentuan agama dalam studi ini didasarkan pada pengakuan responden (self identification).  Kedua, dalam penelitian ini istilah Muslim mencakup mazhab Suni maupun Syiah. Penggabungan dalam satu kategori (Islam) tepat karena perbedaan antara kedua mazhab dapat diabaikan karena tidak terkait dengan perbedaan teologis yang mendasar. Ketiga, istilah Kristen mencakup Katolik, Protestan, Ortodoks, dan Kristen lainnya. Katolik merupakan kelompok Kristen terbesar, diikuti oleh Protestan dan Ortodoks; populasi masing-masing, satu milyar, 850 juta dan 260 juta[3]. Penggabungan dalam satu kategori (Kristen) mungkin kurang tepat karena perbedaan antar kelompok ini sifatnya mendasar dilihat dari aspek perumusan teologis maupun praktik keagamaan[4].

Setelah Kristen dan Islam, “agama” apa yang terbesar dilihat dari populasi penganutnya? Jawabannya mungkin di luar dugaan kebanyakan: Tak-Beragama (Inggris: Unaffiliated). Mereka pada umumnya menagaku sebagai ateis, sekuler atau agnostik. Berapa jumlah mereka? Diperkirakan sekitar 1.2 milyar, atau hanya kurang 600 ribu dibandingkan populasi Muslim.

Urutan agama terbesar lainnya setelah kelompok Tak-Beragama adalah Hindu, Budha dan lainnya. Proporsi mereka terhadap populasi global masing-masing 15.1% dan 6.9% (lihat Grafik 1).

Sebaran Geografis Populasi Muslim

Secara geografis populasi Muslim tersebar: sebagai mayoritas di lebih dari 50 negara, sebagai minoritas di hampir setiap benua (lihat Grafik2).  Sekitar 20%: populasi Muslim global tinggal di kawasan MENA (Middle East and North Africa) atau Timur Tengah dan Afrika Utara, lebih dari 60% di Asia Tenggara, dan sekitar 20% di negara-negara non-Muslim utamanya India dan China

Dengan populasi Muslim sekitar 209 juta jiwa saat ini Indonesia merupakan negara Muslim terbesar. Posisi ke-2 dan ke-3 terbesar diduduki masing-masing oleh Pakistan dan India. Populasi Muslim di kedua negara itu masing-masing 176 juta dan 167 juta jiwa. Yang menarik untuk dicatat, diperkirakan pada tahun 2050 India akan menggeser posisi Indonesia sebagai negara Muslim terbesar. Pada tahun itu India diperkirakan akan menampung paling tidak 300 juta Muslim. Setelah India, dua urutan negara Muslim terbesar berikutnya adalah Bangladesh dan Nigeria dengan populasi Muslim masing-masing sekitar 134 juta dan 77 juta jiwa (Lihat Grafik 3).

Tantangan

Perkembangan teknologi komunikasi kontemporer semakin meningkatkan hubungan antar sesama. Pertanyaan bagi internal komunitas muslim adalah apakah hubungan ini memperkuat gairah mereka terhadap kesatuan ummah (Arab: ummatan wahidah) atau semakin membuka mata terhadap realitas keragaman ekspresi keislaman. Inilah pertanyaan yang mengenai “otentitas” dan “hibriditas” ekspresi keislaman. Bagi Riaz Hassan, perjuangan antara keduanya “menyajikan tantangan yang mungkin paling penting bagi globalisasi Umat Islam” ( represents perhaps the most important challenge of globalisation for the Muslim ummah[5]). Mengenai hibriditas ekspresi keislaman Riaz Hassan menulis:

Unlike in the past, when limitations of transport and communication technologies made it difficult for Muslims worldwide to acknowledge the cultural and social diversity of the ummah, the introduction of satellite television, internet, international travel, and access to books and magazines and increasing literacy is now making Muslims aware of their cultural and social diversity[6].

Wallahualam….@

 

[1] http://www.pewresearch.org/fact-tank/2017/04/05/christians-remain-worlds-largest-religious-group-but-they-are-declining-in-europe/. Hasil analisis ini berbeda dengan hasil perhitungan penulis sebagaimana disajikan dalam   https://uzairsuhaimi.blog/2017/06/27/muslim_popn/.

[2] https://uzairsuhaimi.blog/2017/06/27/muslim_popn/

[3] http://www.suarakristen.com/2015/02/22/statistik-tentang-kekristenan-sedunia-saat-ini/

[4] Lihat https://www.kaskus.co.id/thread/563ad0bc1cbfaa444a8b456e/perbedaan-kristen-dan-katolik/; juga, https://tuhanyesus.org/perbedaan-agama-kristen-dan-katolik.

[5] https://yaleglobal.yale.edu/content/globalizations-challenge-islam

[6] Ibid

Standard
Refleksi, Spiritual

Ten Manifesto of Consciousness

1) 1) My consciousness shows that intelligence is nothing unless it is able to distinguish the Absolute or the Real or the Atma or the One, with others being relative, illusory or virtual.[1].

2) My conscience shows  the will is meaningless unless it is connected or assimilated with the One.

3) My consciousness shows the quality of soul is determined by that relationship or assimilation.

4) My consciousness says other than the Absolute can exist or not exist; if it exists then: (a) its reality can only be understood as relative to the Absolute; and (b) its existence is evidence of and subject to the law homogeneity which refers to the One[2].

5) My conscience shows supra-rational intelligence is more powerful than rational mind.

6) My consciousness shows the he innate intelligence supra-rationality capable of reaching the infinite, one aspect of the One.

7) My consciousness shows that my will is never satisfied except by the One, the Infinite.

8) My conscience wants me to be grateful if the One is emitting light so that I avoid corrupt illusions; the illusion that my intelligence is only for the relative, and my will is only for the virtual.

9) My conscience demands that I be grateful if the One is pleased to radiate the light of eternal virtue: a virtue that is timeless and universal; namely, the virtues underlying the principles of doctrines, symbols, sacred arts, and spiritual practices of all world religions.

10) My consciousness shows that the One and Only One is Absolute; the other, including the universe, the imaginary realm, the concept or my contemplative shadow of the One, all relative …..@

Source: Adapted from various books and writings by Frithof Schuon.

[1] See also QS (114:1-4); i.e., Al-Quran Surah 114 dang verses 1-4.

[2] See also QS (3:190-194).

Standard