Ketika perjalanan pulang kepada keluarga menjadi cermin perjalanan kembali kepada Sang Asal.
Standfirst
Mudik bukan sekadar perjalanan pulang ke kampung halaman. Di balik silaturahmi dan pelukan orang tua, tersembunyi suatu simbol yang lebih dalam: kerinduan manusia untuk kembali kepada asal kehidupannya.
Epigraf
Ketika manusia pulang menemui orang tuanya, mungkin tanpa disadari ia sedang mengingat jalan pulang menuju asal kehidupannya.
“Dengarkanlah seruling ini, bagaimana ia mengisahkan kerinduan; sejak dipisahkan dari rumpun buluhnya, ia merindukan untuk kembali.”
— Jalaluddin Rumi
Kepulangan Spiritual
Setiap tahun menjelang Idul Fitri, jutaan orang di Indonesia bergerak ke arah yang sama: pulang. Jalan raya penuh, stasiun padat, bandara ramai.
Namun di balik perjalanan besar ini, ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar pulang kampung. Ada kerinduan yang lebih tua dari perjalanan itu sendiri—kerinduan manusia untuk kembali ke asalnya.
Ramadan mempersiapkan manusia untuk perjalanan batin ini. Puasa melatih kesederhanaan, kesabaran, dan kesadaran bahwa hidup tidak hanya tentang dunia yang tampak, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan dengan sesamanya.
Dua Tali Kehidupan
Al-Qur’an menggambarkan dua ikatan yang menjaga kehidupan manusia:
“Berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.” (QS. 3:103)
Namun ayat lain menambahkan dimensi yang menarik:
“Ditimpakan kepada mereka kehinaan di mana pun mereka berada, kecuali jika mereka berpegang pada tali dari Allah dan tali dari manusia.” (QS. 3:112)
Di sini Al-Qur’an berbicara tentang dua tali kehidupan:
ḥablun min Allāh dan ḥablun mina al-nās.
Yang pertama adalah hubungan vertikal—iman, doa, dan orientasi kepada Tuhan.
Yang kedua adalah hubungan horizontal—persaudaraan, solidaritas, dan tanggung jawab sosial.
Manusia tidak dapat hidup utuh tanpa keduanya.
Silaturahmi dan Raḥmah
Karena itu Ramadhan berakhir dengan silaturahmi.
Manusia kembali kepada keluarga, mengetuk pintu saudara, dan memperbaiki hubungan yang mungkin retak. Dalam tradisi Islam, ini bukan sekadar kebiasaan sosial, tetapi bagian dari perluasan raḥmah—kasih sayang yang menghubungkan manusia satu sama lain.
Namun kehidupan modern sering menghadirkan paradoks: jaringan sosial kita semakin luas, tetapi lingkaran kasih kita justru menyempit.
Mother Teresa pernah mengingatkan bahwa salah satu penyakit zaman modern adalah kecenderungan manusia mendefinisikan lingkaran saudara terlalu sempit.
Padahal spiritualitas sejati selalu bergerak ke arah sebaliknya: memperluas lingkaran kasih.
Mudik dan Kangen Kampung Halaman
Di Indonesia, perluasan lingkaran kasih ini memperoleh ekspresi yang sangat khas melalui tradisi mudik.
Jutaan orang meninggalkan kota besar untuk kembali ke kampung halaman.
Secara sosial, mudik adalah perjalanan pulang. Namun secara simbolik ia menyimpan makna yang lebih dalam: kerinduan manusia untuk kembali ke asal kehidupannya.
Rumah orang tua sering menjadi bayt pertama yang diingat manusia—tempat ia pertama kali belajar tentang cinta, bahasa, dan kehidupan.
Ingatan Jiwa untuk Kembali
Al-Qur’an merumuskan gerakan kosmik ini dengan kalimat yang sederhana namun mendalam:
“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.”
Dalam metafisika Islam, gerakan kembali ini dikenal sebagai rujū‘.
Bagi Ibn Arabi, seluruh alam semesta bergerak dalam siklus ilahi: segala sesuatu berasal dari Tuhan dan pada akhirnya kembali kepada-Nya.
Sementara filsuf besar Mulla Sadra melihat kehidupan sebagai gerak eksistensial yang terus menuju kesempurnaan dan asalnya.
Dilihat dari sudut pandang ini, mudik terasa seperti simbol kecil dari perjalanan kosmik tersebut.
Seruling Bambu
Dalam puisi terkenal dari Jalaluddin Rumi, seruling bambu menangis karena dipisahkan dari rumpun buluh tempat ia berasal.
Suaranya adalah nyanyian kerinduan untuk kembali.
Seorang teman—seorang ekonom dan ahli statistik—pernah mengaku kepada saya bahwa ia sering meneteskan air mata ketika membaca puisi Rumi.
Mungkin karena puisi seperti itu menyentuh sesuatu yang lebih tua dari pikiran manusia: ingatan jiwa tentang asalnya.
Makna Mendalam istilah Pulang
Barangkali karena itu perjalanan pulang selalu terasa istimewa.
Di balik kemacetan jalan dan keramaian stasiun, manusia sedang mengikuti sebuah ingatan lama yang tersimpan di dalam jiwanya.
Pertemuan dengan orang tua pada hari Lebaran sering terasa lebih dari sekadar kunjungan keluarga. Ia seperti menyentuh kembali akar kehidupan kita sendiri.
Silaturahmi menjaga tali manusia.
Ibadah menjaga tali Allah.
Dan dalam perjalanan mudik, kedua tali itu seakan bertemu: kembali kepada keluarga, sekaligus mengingat perjalanan kembali kepada Sang Asal.
Refleksi Penutup
Jika seluruh wujud berasal dari satu sumber, maka setiap perjalanan manusia pada akhirnya adalah gerakan kembali.
Mungkin karena itu kerinduan pulang tidak pernah benar-benar hilang dari hati manusia. Di kedalaman jiwanya, manusia selalu mengingat asalnya.
Setiap langkah menuju rumah orang tua pada hari Lebaran mengingatkan satu kebenaran yang lebih besar: hidup bukan hanya perjalanan menjauh, tetapi juga perjalanan kembali.
Dan seperti diingatkan Al-Qur’an, pada akhirnya seluruh perjalanan manusia bermuara pada satu arah yang sama—kembali kepada-Nya.
Signature Line
Seluruh kehidupan mungkin hanyalah satu perjalanan panjang: belajar menemukan jalan pulang.
Perhaps all of life is a long journey of learning how to find the way home.
Tulisan ini bagian dari proyek Bermula, suatu ikhtiar untuk berbagi refleksi spiritual dari penulis. Untuk memahami lebih lanjut Bermula silakan kunjungi naskah dengan cara megklik ini.
Like this:
Like Loading...