Berhalusinasi: Belajar Tauhid dari Rumi

Judul ini sekilas tampak aneh karena Rumi tidak dikenal sebagai ahli tauhid. Secara populer ia dikenal– di Timur maupun di Barat (yang ternyata lumayan banyak “pemujanya”)– sebagai penyair, tepatnya penyair sufistik. Kesan eneh muncul karena kebanyakan kita mengabaikan fakta historis bahwa sebelum menjadi penyair ia adalah seorang ulama besar-masyhur bahkan ketika usianya masih sangat muda[1].

Tidak berlebihan jika dikatakan karya-karya puitis Rumi merefleksikan keyakinan tauhid seorang ulama besar yang kokoh tetapi dinyatakan secara khas. Kekhasan inilah yang membuat karyanya dapat diterima oleh kalangan ulama tradisional yang cenderung mencurigai ajaran-ajaran sufistik.

Kekhasan itu juga yang agaknya membuat ia populer bahkan di kalangan non-Muslim, termasuk kalangan Barat-Nasrani kontemporer, paling tidak di kalangan intelektual. Yang terakhir ini mungkin salah satu “pahala” terbesar Rumi. Kenapa? Karena karya Rumi– sampai taraf tertentu– memainkan peran penting dalam menepis kesalahpahaman Barat terhadap ajaran Islam, khususnya di kalangan masyarakat awam Barat.

Tulisan ini mengulas secara singkat salah satu karya Rumi yang sarat dengan ajaran Tauhid yaitu “Kita Bertiga”. Aspek ajaran terkait dengan tema keabadian jiwa– atau kehidupan akhirat– yang mungkin bersifat universal yang diakui oleh semua agama yang dikenal manusia.

Sumber Gambar: Google

Ajaran mengenai kehidupan akhirat  layak terus-dibaca-ulang paling tidak karena dua alasan: (1) ajarannya paling sulit ditransformasikan menjadi kesadaran kongkret dalam arti menentukan sikap dan perilaku hidup sehari-hari, dan (2) dalam banyak kesempatan Al-Quran “meringkas” perinsip keimanan menjadi hanya dua yaitu percaya kepada Rabb SWT dan ada hari akhir[2].

Untuk menjelaskan ajaran ini Rumi mengajak pembaca untuk merefleksikan pengalaman langsung siklus hidup kita masing-masing mulai dari embrio. Jadi, argumennya bersifat eksistensial[3], suatu pendekatan yang dapat diterima secara universal. Pendekatan ini jelas berbeda dengan pendekatan umum para ulama tradisional yang umumnya mempercayakan diri pada dalil naqliyah (berbasis teks suci) maupun metode para mutakallimin yang cenderung mengandalkan dalil aqliyah (berbasis akal).

Untuk memperoleh gambaran lengkap isi puisi Rumi yang berjudul “Kita Bertiga” ini berikut disajikan terjemahan bebas penulis. Terjemahan ini tidak berasal dari karya Rumu melainkan dari terjemahan karya Espada[4]. Tokoh ini adalah satu dari sekian banyak “pengagum” Rumi .

 

Terjemahan

Kita Bertiga

 

Sedikit demi sedikit, sapihlah dirimu.

 

Ini adalah inti dari apa yang saya katakan.

 

Dari embrio, yang makanannya masuk dalam darah,

menjadi bayi peminum susu,

menjadi seorang anak dengan makanan padat,

menjadi pengejar kebijaksanaan,

menjadi pemburu permainan yang lebih tak-kasat-mata.

 

Pikirkan bagaimana melakukan percakapan dengan embrio.

 

Anda mungkin berkata, “Dunia di luar sangat luas dan rumit.

Ada ladang gandum dan gunung terbentang, dan kebun mekar.

Di malam hari ada jutaan galaksi, dan di bawah sinar matahari

keindahan teman-teman yang menari di pesta pernikahan.”

 

Anda bertanya kepada embrio kenapa tinggal diam-diam

di kegelapan dengan mata tertutup.

 

Dengarkan jawabannya:

 

Tidak ada “dunia lain”

Saya hanya tahu apa yang saya alami

Anda pasti berhalusinasi.

 

Teks Inggris:

We Are Three

 

Little by little, wean yourself.

 

This is the gist of what I have to say.

 

From an embryo, whose nourishment comes in the blood,

move to an infant drinking milk,

to a child on solid food,

to a searcher after wisdom,

to a hunter of more invisible game.

 

Think of how it is to have a conversation with an embryo.

You might say, “The world outside is vast and intricate.

There are wheat field and mountain passes, and orchards in bloom.

 

At night there are millions of galaxies and in sunlight

the beauty of friends dancing at a wedding.”

 

You ask the embryo who he, or she, stays copped up

at the dark with eyes closed.

 

Listen to the answer.

 

There is no “other world”

I only know what I’ve experienced

You must be hallucinating.

 

 

[1] Tulisan mengenai Rumi dapat diakses di sini.

[2] Lihat QS (2: 232,234), QS (3:114), QS (4:39,162), QS (9:45,99), QS (58:22), QS (65:2).

[3] Eksistenssiali: kemampuan mengenal  dan  memaknai  diri sendiri  untuk kemudian menentukan  apa  yang  akan  dilakukan  dengan  memilih  di  antara  berbagai  kemungkinan yang terbuka sebagai ungkapan keberadaannya (diri sendiri) sebagai manusia.

[4]  “My Favorite Rumi: selected by Jason Espada (200:65). Rujukan mengenai karya-kara Espada dapat diakses di sini.

 

 

 

 

Islam, Isu HAM dan Lingkungan Hidup

Dalam perspektif Islam, hakikat manusia– sebagai individu maupun kolektif– adalah hamba Rabb SWT; artinya, alasan keberadaannya di muka bumi adalah untuk menghambakan diri kepada-Nya. Mengenai hal ini Al-Quran sangat eksplisit: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menghambakan-diri (beribadah) kepada-Ku” (QS 51:56).

Bagaimana dengan fungsi kekhalifahan manusia sebagaimana yang juga disebut dalam Kitab Suci itu (QS 2:30)? Fungsi ini adalah bagian dari hakikat keberadaannya sebagai hamba dalam arti direalisasikan atas nama-Nya. Itulah sebabnya Muslim dianjurkan mengucapkan bismillah (atas nama Allah SWT) sebelum melakukan suatu kegiatan.

Anjuran baca bismillah ini– jika dilakukan dengan penuh kesadaran– akan menyadarkan kehadiran-Nya setiap saat. Inilah makna kesadaran agama dalam tataran praktis kehidupan sehari-hari. Kesadaran mengenai kehadiran-Nya mestinya berfungsi sebagai daya cegah perbuatan yang bertentangan dengan norma kebaikan umum (Arab: makruf) maupun norma kebaikan universal (Arab: khair).

Kesadaran mengenai kehadiran-Nya mestinya berfungsi sebagai daya cegah perbuatan yang bertentangan dengan norma kebaikan umum maupun universal.

Contoh kebaikan umum (berlaku dalam konteks sosial-budaya tertentu) adalah menghormati orang tua dan hak-hak tetangga yang sebenarnya berlaku secara universal tetapi cara atau ekspresinya dapat berbeda antar budaya. Contoh kebaikan universal adalah menghormati hak-hak asasi manusia (HAM) dan mencegah kerusakan “bumi”.

Ayat Lingkungan hidup

Soal kerusakan bumi bukan soal sepele: ayat-ayat pertama Al-Quran secara eksplisit mengaitkan ciri-ciri orang munafik dengan perilaku merusak tetapi selalu mencari pembenaran (misalnya dengan alasan pertumbuhan ekonomi-tidak-berkelanjutan):

Dan apabila dikatakan kepada mereka “Jangan berbuat kerusakan di bumi” mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan. Ingatlah sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan tetapi mereka tidak menyadarinya (QS 2:11-12).

Banyak ayat serupa, antara lain yang berikut ini:

(orang fasik yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian dengan Allah… dan berbuat kerusakan di bumi (QS:2:27)

Dan orang-orang yang melanggar janji Allah setelah diikrarkannya, … dan berbuat kerusakan di bumi, mereka itu memperoleh kutukan dan tempat kediaman yang buruk (QS13:25).

(Umat Nabi Saleh AS) .. yang berbuat kerusakan di bumi dan tidak mengadakan perbaikan (QS26:152)

Mereka berkata, ‘Wahai Zulkarnain! Sungguh Yakjuj dan Makjuj itu makhluk yang berbuat kerusakan di bumi... (QS 18:94).

Ada satu ayat lagi yang layak kutip:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan manusia … (QS 30:41).

Ayat terakhir memperlihatkan peran manusia dalam hal kerusakan alam. Pertanyaannya: Bagaimana penjelasannya Al-Quran sudah bicara soal ini ketika manusia secara kolektif masih sangat langka, belum ada teknologi berbasis motor-mesin, belum ada barang pabrikan?

Sumber Gambar: Google

Keprihatinan Global dan Datar Pertanyaan

Fakta bahwa isu HAM dan lingkungan hidup telah menjadi keprihatinan global menunjukkan bahwa kita secara kolektif telah berada dalam jalur yang tepat menjalankan fungsi kekhalifahan-Nya. Walaupun demikian, kesadaran kongkret mengenai dua isu global ini masih perlu ditumbuh-suburkan. Terkait dengan dua isu mendasar ini, daftar pertanyaan berikut ini layak direnungkan:

    • Kenapa isu kerusakan lingkungan baru muncul belakangan ketika kerusakan telah sedemikian parah, padahal hampir 1.5 milenium lalu Al-Quran telah mengingatkan?
    • Kenapa para ulama dan intelektual Muslim tidak mengambil peran prakarsa dalam upaya mengatasi isu lingkungan dan HAM, padahal mereka baca Al-Quran yang sangat inetens berbicara mengenai keduanya?
    • Kenapa mereka (ulama dan intelektual Muslim) tidak menyuarakan isu-isu HAM secara lantang ke arah para “penguasa” Muslim yang dicitrakan secara luas– paling tidak di langan masyarakat umum Barat– “tidak ramah HAM”?
    • Mereka “salah-baca” Al-Quran?

[Mungkin ini yang melatarbelakangi Abduh RA ketika menegaskan kira-kira begini: “Di Barat kutemukan Islam tetapi tidak Muslim; di Timur kutemukan Muslim tetapi tidak Islam”.]

Siapa bisa jawab?

Wallahualam... @

 

 

 

 

Alif-Lam-Mim: Analisis Kuantitatif

Angka Istimewa

Angka 7 itu istimewa. Paling tidak ada dua macam argumen mengenai ini. Pertama, angka ini sering disebutkan dalam ayat-ayat kitab suci agama samawi; juga dalam tradisi peradaban kuno termasuk Hindu, China dan Maya. Kedua, angka ini juga banyak ditemukan dalam ayat-ayat “alamiah”:

    • Ada 7 planet: Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Satunus dan Uranus;
    • Ada 7 atmosfer: troposfir, stratosfir, mesosfir, termosfir, ionosfir, eksosfir dan magnetosfir
    • Ada 7 kali gerak-rotasi bumi/minggu: Minggu, Senin, Selasa, Rabu. Kamis, Jumat dan Sabtu.

Pertanyaan: Apakah hal ini kebetulan semata? Wallahualam. Secara intuitif penulis menilai fakta-fakta quraniah dan kauniyah semacam itu hampir mustahil bersifat random. Yang jelas, keistimewaan angka 7 juga tampak jelas dalam kaitannya dengan salah satu ayat Al-Quran yaitu alif-lam-mim sebagaimana dibahas secara singkat dalam tulisan ini.

Sumber Gambar: Google

Ayat Istimewa

Alif-lam-mim adalah ayat istimewa. Atau misteri. Misterinya terletak pada fakta bahwa tidak ada mufasir yang berani menafsirkannya[1]. Fakta quraninya ini:

    • Ayat ini adalah ayat pertama Al-Quran yang tercantum dalam Surat ke-2 (Al-Baqarah), setelah Surat ke-1 (Al-Fatihah). Surat ke-2 ini, dengan kandungan 286 ayat, merupakan surat terpanjang dalam Al-Quran.
    • Ayat ini juga merupakan ayat pertama dalam surat-surat ke-3 ke-29, ke-30, ke-31, dan ke-32. Jadi ada 6 surat yang mencantumkan ayat ini dan hanya sekali (1).

Apakah ini kebetulan? Wallahualam. Yang pasti, pengulangan 6 kali atas angka 6 dan angka 1 menghasilkan angka 666666 dan 111111 yang masing-masing kelipatan 7:

666,666 = 7 x 95,238

111,111 = 7 x 15,873

Seperti disinggung sebelumnya, total ayat dalam Surat ke-2 adalah 286. Total ayat dalam lima surat lainnya masing-masing 200, 69, 60, 34 dan 30. Jika semua angka total ini dijumlahkan maka hasilnya adalah angka 679 dan ini adalah kelipatan 7: 679 = 7 x 97. Selain itu, jika masing-masing angka total itu dijumlahkan (misal 286=2+8+6=16), maka akan memperoleh angka 49 yang merupakan kelipatan 7: 49 = 7 x 7.

Tabel 1 meringkas diskusi kita sejauh ini. Kolom terakhir pada tabel itu menunjukkan angka total yang juga kelipatan 7. Kebetulan lagi?

Tabel 1: Beberapa Karakteristik Surat yang Ayat Pertamanya Alif-Lam-Mim

Sumber: Diadaptasi dari INI.

Tidak ada Keraguan

Ayat ke-2 dari Surat ke-2 menegaskan tidak ada keraguan (Arab: rayba) di dalam Al-Kitab. Ini ayatnya:

Ayat ini terdiri dari 7 bagian: dzaalika, alkitab, laa, dan seterusnya jika dimulai dari kanan.  Yang menarik untuk dicatat ini: banyaknya huruf-huruf istimewa (alif, lam, atau mim) dari masing-masing bagian– mulai dari bagian terakhir, lilmuttaqin— adalah 3,0,0,0,2,2, dan 1. Apa istimewanya angka-angka ini? Jika angka-angka ini digabungkan maka akan diperoleh angka 30002221 yang merupakan kelipatan angka 7: 3,002,221 = 7 x 428,603

Ayat ke-2 dari Surat ke-32 sama-juga menegaskan tidak ada keraguan di dalam Al-Kitab. Ini ayatnya:

Dengan cara seperti sebelumnya, analisis ayat ini menghasilkan angka kelipatan 7 juga: 40,100,221 = 7 x 5.728,603. Kebetulan juga? [Kita memiliki terlalu banyak kebetulan.]

Kesimpulan

Angka 7 adalah angka istimewa (misterius); alif-lam-mim adalah ayat istimewa (misterius). Keistimewaan atau misterinya terletak pada kemampuannya mengungkap keistimewaan komposisi dan distribusi ayat dan huruf Al-Quran yang hampir mustahil bersifat acak. Keistimewaan ini “mengunci” campur tangan manusiawi untuk mengubah Al-Quran dengan cara menambah atau mengurangi ayat bahkan huruf di dalamnya. Caranya canggih dan kecanggihannya baru mungkin dapat dipahami Zaman Now atau era of numeric tech jika meminjam istilah Abduldaem Al-Kaheel sebagaimana diungkapkannya (Sumber: INI):

… mengapa Allah meletakkan huruf-huruf ini dalam buku-Nya, dan apakah sudah waktunya bagi Allah memberkati kita dengan pemahaman mengenai huruf-huruf ini, tetapi dapatkah huruf-huruf ini menjadi bukti kuat dan konkret mengenai kebenaran Allah di era ini teknologi numerik …

… why did Allah put these letters in His book, and is it about the time when Allah will bless us with the understanding of these letters, but can these letters be a strong, concrete proof to the truthfulness of Allah in this era of numeric tech...?

Wallahualam.…@

[1] Kalaupun ada yang berspekulasi maka bisanya segera diikuti pengakuan tulus: “Allah lebih tahu maksudnya”. Mengenai keistimewaan angka 7 dapat juga dirujuk ini.

 

Normandia 75 Tahun Lalu: Suatu Refleksi

75 tahun lalu Negara Indonesia masih dalam rahim ibu, Bangsa Indonesia. Sebagai bangsa Indonesia sudah eksis yang keberadaannya ditegaskan melalui Sumpah Pemuda 1928. Jadi faktanya, Indonesia adalah Negara-Bangsa: ada bangsa dulu, baru dibentuk negara. Tidak banyak negara-bangsa dalam pengertian ini, negara yang menurut bangsa ini eksis karena ‘Rahmat Tuhan…”.

75 tahun lalu, tepatnya 6 Juni 1944, terjadi peristiwa yang menentukan sejarah dan peta politik dunia masa kini. Peristiwa itu adalah pendaratan laut pasukan Kekuatan Sekutu di Normandia (Normandy) [1] untuk membebaskan Prancis dari pendudukan Nazi Jerman yang mengomandoi Kekuatan Poros. Peristiwa ini pada waktunya diikuti oleh pembebasan keseluruhan Eropa, mengakhiri Perang Dunia II, dan pembebasan negara-negara jajahan .

Pendaratan laut yang bersejarah itu adalah terbesar dalam sejarah manusia. Ia melibatkan hampir 5,000 kapal pendarat dan penyerang, 280 kapal pengawal, 277 kapal penyapu ranjau. Tentara yang mendarat: 160,000 pada hari pertama dan 875,000 pada akhir Juni. Korban: 1,000 pihak Poros dan paling tidak 10,000 pihak Sekutu.

Sumber: INI

Yang penting bagi kita adalah menarik pelajaran dari peristiwa terkait-sejarah itu. Pelajaran itu antara lain:

    • Kita hidup dalam dunia-bawah-sini yang tidak akan pernah sempurna. Perang Dunia– seperti halnya Perang Salib yang terjadi sekitar satu milenium sebelumnya– menunjukkan bahwa ras manusia bisa dapat sangat konyol.
    • Kita memiliki kapasitas untuk menjadi sangat biadab. Ini ditunjukkan antara lain oleh  Tragedi Holocaust 1941-1945 menelan kobran sekitar 6 juta penduduk Yahudi atau 2/3 total populasi mereka di Eropa.
    • Kita memiliki heroisme luar biasa serta kapasitas untuk berkorban untuk sesuatu nilai yang diyakini, antara lain nilai kemerdekaan. Ini ditunjukkan oleh jutaan martir dalam Perang Salib, Perang Dunia dan Perang Kemerdekaan.

Memori kolektif Anak Adam dalam dua milenium terakhir dipenuhi– sadar atau di-bawah-sadar– oleh kenangan dan persepsi mengenai tiga peristiwa itu: Perang Salib, Perang Dunia, dan Holocaust. Kenangan ini mengajarkan bahwa kita suka menumpahkan darah (seperti ramalan Malaikat), ingin menang sendiri, berbakat sangat-konyol dan sangat-biadab. Itulah pelajarannya.

Apakah ancaman itu sudah berakhir? Jawabannya meragukan. Kenapa? Karena seperti seorang bijak (Schuon, 2006:3, Gnosis, Divine Wisdom) ungkapkan, Zaman Now adalah zaman ketika:

(1) Religions are separated from each other by barriers of mutual incomprehension…, and

(2)… the interpenetration of civilization gives rise to many problems– not new, it is true, but singularly: “timely” and “urgent”–  

Sumber Gambar: Google

Terapinya? Salah satunya mungkin tarbiyyah tazkiyatun nafs seperti shaum itu lho!. Wallahualam.

[1] Normandia adalah bagian ujang-barat-utara wilayah Prancis dengan luas sekitar 12,000 km2 dan populasi sekitar 5% dari total populasi negara itu.

 

 

 

Lebaran dan Megengen

Sumber Gambar: Google

Rasanya baru kemarin menyambut sekarang harus melepaskan Ramadhan: “Selamat Jalan Bulan Suci!”. Umat Islam menyambut Lebaran dengan penuh sukacita, mungkin lebih intens dari ketika menyambut kedatangan bulan suci itu. Perasaan semacam itu– “baru kemarin”– agaknya yang akan dialami Anak Adam ketika menyambut datangnya kiamat. Ketika itu mereka mersakan hidup di dunia masih berlangsung kemarin sore atau kemarin pagi yang lalu– ‘asyiyyataan au duhaha” (QS 79:46).

Penulis bersyukur antara lain karena Ramadhan kali ini berlalu tanpa gangguan kesehatan berarti: dua ampul obat sakit kepala ringan yang disiapkan menjelang puasa habis tidak tersisa, tetapi bukan oleh penulis yang tidak sempat menyentuhnya. Bagi yang sudah berkepala-6 ini “prestasi” atau berkah luar biasa. Pertanyaannya, apakah itu bersifat kauisistis atau secara umum berlaku bahwa puasa membawa berkah kesehatan? Ini mungkin pertanyaan riset yang perlu digarap secara profesional. Hipotesis Nolnya (Ho) mungkin begini: “Jumlah frekuensi kunjungan ke dokter atau prasarana pelayanan kesehatan pada Ramadhan (=VR) dan Syawal (=VS) sama saja”.

Tetangga penulis yang berprofesi di bidang medis di suatu rumah sakit besar cerita yang pada intinya menolak Ho di atas; dia “merasa” VS>VR. Sayangnya dia bukan orang statistik yang cenderung menggunakan “perasaan” ketimbang “pikiran jernih” sehingga penilaiannya kurang dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah.

Puasa tentu saja bukan hanya soal makan-minum. Bagi yang berpendapat sebaliknya patut diduga tidak memahamai makna dari tradisi Jawa yang disebut megengen. Kata ini berarti menahan dalam arti luas; jadi, bisa megeng nafas, megeng makan-minum, megeng ngomongin orang, megeng ngotot tanpa dasar-rasional, megeng dorongan syahwat  megalomania, megeng Selfi, megeng sebar hoax, dan sebagainya, dan seterusnya.

“Menahan” diri semacam itu yang Bahasa Aranbnya imsak dan itulah arti Puasa yang merupakan bagian dari ritual keagamaan bagi Umat.

Beyond ritual keagamaan, puasa adalah wahana pendidikan (Arab: tarbiyyah) yang dirancang Rab SWT bagi Umat untuk melakoni proses pemurnian nafs (Arab: tazkiyah an-nafs).

Pribadi-pribadi yang memiliki nafs murni (Arab: nafsul muthmainnah) inilah yang diinginkan dari alumni tarbiyah model Rabb SWT ini; merekalah yang layak berlebaran dalam arti “kembali ke fitrah”.

Wallahualam.

Penulis merasa jauh dari kelayakan itu. Bagi pembaca yang merasa beda-beda-tipis dari penulis tidak perlu terlalu berkecil-hati karena, seperti nasihat Rumi (berbagai sumber):

Jika hanya mampu merangkak, merangkaklah kepada-Nya … Jika belum mampu berdoa secara khusyuk, tetaplah persembahkan doamu yang kering, munafik dan tanpa keyakinan itu, karena Tuhan dengan rahmat-Nya akan tetap menerima uang palsumu!…

Kembali ke mengengen. Banyak yang mengartikan istilah ini dengen “meng-ageng-egeng“: membesarkan atau menyambut dengan besar-besaran dengan suka-cita datangnya Bulan Ramadhan. Ruar biasa! Ini sejalan dengan salah satu Hadits yang menganjurkan menyambut bulan suci ini dengan penuh sukacita. Konon yang menginisiasi tradisi megengen adalah Sunan Kali jaga rohimahullah. Pantes!

Selamat Lebaran bagi yang merayakan. Ied Mubarrak, tawqbbalallhu minal ‘aidin-al-waifidzin, maaf lahir-batin….@

Lebaran: Estimasi Populasi yang Merayakan

Sumber Gambar: Google

Umat Muslim tengah menyongsong lebaran, suatu momen yang layak mereka rayakan setelah menuntaskan puasa selama sebulan penuh. Pertanyaannya: (1) Apakah Umat Non-Muslim berhak merayakan? (2) Apakah “bayi” termasuk yang merayakan? dan (3) Apakah definisi merayakan? Tanpa definisi mustahil menghitung populasi. Tetapi memperkirakannya, atau menggunakan proksi indikator, adalah mungkin. Dengan asumsi tentunya. Tulisan ini mengasumsikan L=M di mana

L: perkiraan populasi yang merayakan lebaran, dan

M: perkiraan populasi Muslim

Asumsi ini akan menghasilkan perkiraan yang underestimate jika jawaban terhadap pertanyaan (1) positif; artinya, Non-Muslim berhak merayakan lebaran. Tetapi hal ini akan di-compensate jika jawaban terhadap pertanyaan (2) negatif; artinya, bayi dikeluarkan dalam perhitungan. Jadi, asumsinya agaknya lumayan masuk akal.

Dengan asumsi ini maka L atau perkiraan total populasi yang merayakan secara global sekitar 1.8 milyar jiwa (Untuk sumber lihat INI). Di mana saja mereka tinggal? Tersebar di lima benua tetapi sekitar 1.4 milyar atau 77% dari mereka tinggal di 15 “negara” Muslim:  Indonesia, Pakistan, India, Bangladesh, Nigeria, Mesir, Iran, Turki, Aljazair, Sudan Irak, Maroko, Ethiopia, Afganistan dan Arab Saudi. Dalam konteks ini ada empat catatan yang layak dikemukakan:

    1. Daftar ini diurutkan dari terbesar dan menujukan Indonesia “merajai” angkanya sementara Arab Saudi paling kecil.
    2. India termasuk dalam daftar karena definisi “negara” Muslim dalam tulisan ini adalah besar populasi Muslim.
    3. Sekalipun secara proporsional Muslim di India hanya mencakup 14.2% dari total penduduknya, jumlahnya pada 2019 diperkirakan mencapai 1889 juta.
    4. Dengan populasi sekitar 1.33 milyar dan pola pertumbuhan penduduknya maka India diperkirakan akan menggeser posisi Indonesia pada tahun 2050. Selamat India!

Tabel 1 merinci total penduduk dan populasi muslim di 15 negara yang dimaksud.

Sumber: INI.

Catatan: (*)  Estimasi penduduk Muslim dilaporkan dalam bentuk interval dan yang dsajikan dalam tabel ini merupakan nilai tengahnya.

Recent Survey on Indonesia Employment: A Brief Analysis

This article is aimed to analyze briefly the recent trends of Indonesia’s working-age population and its components as viewed from the labour force perspective. The analysis covered the period 2008-2014 and focused at the national level of analysis. Sakernas– a regular national labour survey carried out by BPS-Statistics Indonesia since 1976– is used as the major data source. In order to have a better understanding of the measurements used in the analysis, the following paragraphs discuss briefly some conceptual issues concerning some basic labour statistics.

Labour Statistics: Global Standard

Sakernas adopts the global standards of labour statistics as stipulated in the resolutions of the International Conference of Labour Statisticians (ICLS). In this context, the 13th ICLS (1982) and the 19th ICLS (2013) are of special interest as they set out the global standards for basic[1] labour statistics such as employment and unemployment.

With regards to persons in employment, Sakernas defines it as all those who during the last week, were engaged in any activity to produce goods or provide services for pay or profit. This definition is fully in line with the global standard (ICLS-19, Par. 27). Sakernas defines persons in labour force as those in employment and in employment and this also complying the global standard (Par. 16).

What might worth noting here is that official statistics derived from by far has not yet taken into consideration those who engaged in productive activity not for employment but for “own use” and for “volunteer”. According to the 19th ICLS, these two categories are not part of employment[2].

By so doing, official employment statistics produced by BPS by far might be regarded as somewhat overestimate. Nonetheless, that is not an issue for this analysis as it focuses on the trends that require consistency in applying the concept throughout the compared period.

Demographic Dimension

One of the biggest challenges faced by Indonesia is a sheer number of the working-age population (WAP). This is not surprising as the country ranks the fourth biggest country after China, India, and the United States. To add the challenge, as Sakernas series data show, the WAP tends to increase in a pace that is faster than the growth rate of the total population. WAP data for the period 2008-2016 can be used to illustrate the increase. During the period total WAP increased from around 174.2 million in 2010 to 189.8 million in 2016. This is an annual increase of 1.86%[3]. This pace of increase is much faster than the increase in the total population during the same period that was 1.36%.

The comparison of the figures points to a phenomenon popularly known as the demographic bonus. That can be a bonus– and not a curse– if the younger generation is able to get a decent education and facility to improve their self-quality[4].

There is another aspect of the phenomenon just mentioned worth considering. Close observation at the trends in the WAP by age group provides a strong indication that the status of demographic bonus for Indonesia is at a somewhat later stage. The following points might be helpful in clarifying the concerned issue:

    • During the 2008-2018 period (August) the increase in the proportion for the younger-ages group (15-24) was very small and even almost flat; that was, only 0.35%.
    • The percentage was higher for the “prime-age” group (25-54) that was 1.43 %.
    • For “old-age” group (55+) the percentage was even much bigger; that was 3.7% (See Graph 1).

Graph 1: Working-age Population by Age Group, 2008-2012

Source: BPS, Sakernas, https://www.bps.go.id/.

The comparison of the increases confirms the above notion of the status of a “later stage” of demographic bonus of Indonesia. In addition, the relatively high increase for the old-age group suggests a clear indication of the route of Indonesia’s population toward the aging stage.

Trends in the Labour Force

As shown by Graph 2, the proportion of “out of the labour force” remained unchanged during the period 2008-2012; that was, 33% of the total WAP. This means the labour force also unchanged at 67% level during the same period.

In the same period, the compositions of the labour force had changed by three percentage points but with different direction: while the employment increased by three percentage points, the unemployment decreased by the same percentage points[5]. (See Graph 2.)

Graph 2: Change in the Structure of Working-age Population 2008-2012.

Source: BPS, Sakernas, https://www.bps.go.id/.

Graph 3 shows the increase in the labour force during the period 2008-2018. As shown by the graph, the pace of the increase is not as fast as the increase in the WAP. As also shown by the graph, the labour force was almost always bigger in February than in August and this is probably associated with the seasonal work in agriculture, a still important economic branch for Indonesia’s employment.

Graph 3: Trends in the Working Age Population and Labour Force (000)

2008-2018

Source: BPS, Sakernas, https://www.bps.go.id/

Trend LFPR and EPR

Statistics of employment can be measured by two indicators of the labour force participation rate (LFPR) and the employment-population ratio (EPR). These two indicators are comparable as each of them using the same numerator or “the population at risk” that is the WAP[6]. Nonetheless, each of them is to serve its own function. While the first indicator reflects the supply side of the labour market, the second reflects its demand side; i.e., measuring how much the labour supply absorbed by the economy.

Graph 4 exhibits the comparison between the LFPR and the EPR during the period 2008-2018: the LFPR is always higher than the EPR for the obvious reason: the numerator of the LFPR includes unemployment element that is not included in EPR.

Graph 4: Trends in the Labour Participation Rate and Employment-Population Ratio

 2008-2018.

Source: BPS, Sakernas, https://www.bps.go.id/

The graph shows the LFPR was around two-thirds of the WAP and tends to be higher in February than in August for the reason as previously mentioned. The graph also shows that the LFPR tends to fluctuate over the observed periods with slightly different direction: the trend slightly increasing in February and increasing in August.

Like LFPR, EPR is higher in February than in August. Unlike LFPR, EPR tends to increase over the compared periods. This suggests the consistency in the increase of employment regardless of the month of observation (February of August).

Trends in Unemployment

During the period 2008-2018 the unemployment rate in Indonesia was relatively low (one-digit) and tends to decline. As shown by Graph 5, during the period the unemployment rate declined from around 8.4-8.5% in 2008 to 5.1-5.3% in 2018. Comparison between levels in February and August shows that during 2008-2013 the unemployment rate tends to be higher in February (than in August), and starting 2013 the reverse was in place; i.e., tends to be higher in August (than in February).

Graph 5: Trends in the unemployment rate (%), 2008-2018

Source: BPS, Sakernas, https://www.bps.go.id/

The relatively low and decreasing rates in unemployment as just discussed do in fact obscure a high unemployment rate among the educated persons: on the average, the educated persons have 2.6 bigger risks of being unemployed than the uneducated. (See this for detail.)

Concluding Remarks.

Conventional wisdom suggests that the age-structure of Indonesia’s population in the 2020s will be entering the phase of demographic bonus. Quite contrary to this wisdom, a series of Sakernas data do indicate the phase has been entered since the 2010s and even in its later phase. The evidence of this is that the pace of increase in the working-age population than in the total population and this especially striking for the older-age group (55 or older).

The LFPR remained constant during the period 2008-2018 at the two-thirds of the total WAP. However, these changes could be misleading as the trends in its components went through in a different direction; that was, the increase in the employment and the decreasing in unemployment.

The unemployment rate during the period 2008-2018 was at relatively low (one-digit) and its trend decreasing continuously. However, this obscures the high level of unemployment rate among the youth. This issue– together with other issues like the forced labour and “modern slavery”– is probably one among the undesirable modern paradoxes. Who knows?

[For pdf version click this.]

*****

[1] Statistics on such issues as SDG indicators and child labor are not regarded as basic statistics and hence not covered in the analysis.

[2] Starting 2016 the Sakernas questionnaire is refined by additional questions that can provide data on these two categories. This refinement can also provide much richer data on all forms of work that have been identified by the 19th ICLS.

[3] https://www.bps.go.id/statictable/2009/02/20/1268/laju-pertumbuhan-penduduk-menurut-provinsi.html.

[4] https://feb.ugm.ac.id/en/news/2625-demographic-bonus-threat-or-opportunity

[5] Expressed in a different way, during the period, the total employment increased by 21.5 million or 21.0% while the total unemployment decreased by 2.4 million or 25.5%.

[6] LFPR = labour fore/WAP and EPR = employment/WAP. The complement of the second reflects the magnitude of the unemployed over the WAP.

*****