Fertility Decline in West Java: Analysis and Interpretation

Judul ini adalah MA-Thesis penulis yang disubmit hampir 20 tahun lalu. Bagi yang berminat mengkases draft akhirnya, silakan klik disini.

Advertisements

Bermain Sepak Bola Tanpa Gawang

Dalam suatu ceramah, seorang kiai besar menganalogikan kita semua tengah bertanding sepak bola. (Bola Sepak, kata orang di negeri Jiran.) Tapi anehnya, sebagian kita tidak sadar tengah melakukannya. Sebagian lagi– sekalipun menyadari tengah melakukan pertandingan bola, dibekali keterampilan tinggi, serta dipenuhi semangat bermain– tidak mengenali tujuan atau gawang ke mana bola harus diarahkan. Sebagian di ataranya– sekalipun mengenali tujuan– tidak menatai aturan bermain Sepak Bola. Sisanya–  sekalipun bersedia menaati aturan– berharap memperoleh kemenangan tanpa lawan, cobaaan atau tantangan dari kesebalan lawan.

Sang Kiai, ketika menggunkan analoginya, sebenarnya tengah mengajarkan ilmu hikmah menggunakan satu kitab klasik yang sangat populer sedunia; yaitu, Al-Hikam. Kitab ini adalah karya Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari (Iskandariah, Mesir, 1250-1309), mursyid ketiga dari Thariqah Syadziliyah, yang hidup di masa kekuasaan Dinasti Mamluk[1].

Tetapi berbeda dengan model penceramah lain, ia menghendaki agar pelajaran AL-Hikam tidak hanya bersifat teoretis apalagi sekadar berfungsi sebagai aksesoris, untuk “gaya-gayaan”. Sebaliknya, Sang Kiai berkomitmen agar pelajaran Al-Hikam dapat memandu kehidupan  praktis sehari-hari para Salik.

Sang Kiai berkomitmen agar pelajaran Al-Hikam dapat memandu kehidupan praktis sehari-hari para Salik.

Apa itu Salik? Untuk mudahnya, Salik adalah orang yang tengah berada dalam perjalanan pulang kembali kepada Tuhan (istilah Qurani, rajiun). Dalam pengertian ini, Salik berlaku bagi semua orang, tanpa kecuali. Orang yang tidak menyadari status Salik ini yang dimaksudkan Sang Kiai dengan pemain bola yang tidak sadar tegah bermain bola.

Jalan yang ditempuh oleh Salik disebut Suluk. Karena Salik berlaku bagi semua orang maka hukum mempelajari Ilmu Suluk fardhu ‘aini, kata Sang Kiai; artinya juga berlaku umum. Dengan kata lain, bagi Sang Kiai, Ilmu Suluk bukan ilmu elitis!

Salik berlaku bagi semua orang,… hukum mempelajari Ilmu Suluk fardhu ‘aiani,… Ilmu Suluk bukan ilmu elitis!

Tanpa ilmu Suluk hidup kita jadi random (istilah orang statistik), tidak memiliki probability density function atau pdf (kata orang statistik), tidak memiliki pola, tidak memiliki tujuan. Itulah yang dimaksud dengan pemain bola yang tidak memiliki gawang (gawang lawan), ke mana bola harus diarahkan dengan mengerahkan segala daya-upaya-semangat (himmah, dalam istilah Al-Hikam, Hikmah ke-2).

Dalam menjalani Suluk tentu ada aturan yang harus ditaati berupa syariah (aturan umum) dan arahan mursyid (pembimbing Salik). Tanpa ketaatan itu maka mustahil bagi Suluk untuk menuju ke arah yang benar, bahkan berbahaya, serta sampai dengan selamat (wusul, istilah Sufi) ke tujuan akhir Suluk yaitu (keredaan) Tuhan. Itulah analogi dari ke-tidak-taat-an pada aturan permainan sepak bola.

Itulah “keanehan” sebagian besar kita. Ada lagi keanehan yang luar biasa, yang benar-benar absurd: ingin memperoleh kemenangan, bahkan ingin menjadi juara, tetapi tidak menghendaki tantangan dari kesebelasan lawan.

Tantangan dari kesebelasan lawan ini yang dalam kehidupan beragama disebut dengan cobaan (Rab: balaa). Tantangan ini harus dihadapi oleh semua orang, tanpa kecuali, suka atau tidak suka.

Mengenai cobaan ini Sang kiai mengutip ayat berikut (Quran 2:155-157):

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira bagi orang yang sabar.

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, Inna lillahi “wa inna ilahi wa iian ilaihi raji’un” (sesungguhnya kami miliki Allah dan kepada-Nya kami kembali).

Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petujnjuk.

Dari ayat ini jelas status Salik kita yang tengah “kembali” ke Tuhan (rojiun). Istilah rojiun  berlaku umum dalam semua situasi, bukan hanya dalam konteks kematian. (Menurut penuturan Sang Kiai, “kelas” Umat kebanyakan, bahkan  kebanyakan  kalangan cendekia dan pembesar kerajaan di negara Jiran, sampai saat ini, baru memahami rojiun dalam konteks peristiwa kematian.)

Istilah rojiun  berlaku umum dalam semua situasi, bukan hanya dalam konteks konteks kematian.

Sang Kiai menafsirkan ayat di atas sangat kontekstual.

Ketakutan: Kamtibmas;

Kelaparan dan kekurangan buah-buahan: Kecukupan pangan serta kecukupan gizi; dan

Kekurangan harta: kemiskinan struktural.

Dengan tafsir kontekstual semacam ini maka tidak mengherankan jika untuk menangani “cobaan” Sang Kiai berharap lebih banyak kepada kalangan negarawan-ilmuan-cendekiawan-birokrat dari kepada ulama.  Wawasan luar biasa bagi seorang kiai pesantren tradisional (salafiyah).

Sumber Gambar: Google

Sebagai catatan akhir, Sang Kiai yang dimaksudkan dalam tulisan ini bukan tokoh fiktif. Dia adalah tokoh riil, masih hidup, masih mengelola pesantren tradisional, ulama besar kalangan Nahdiyin yang akrab dengan Muhammadiyah, tokoh karismatik MUI, populer di negara-negara Jiran termasuk Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand. Nama beliau adalah K.H. Zezen Zaenal Abidin. Bagi yang berminat mengakses rekaman pengajian beliau mengenai AL-Hikam, silakan kunjungi alamat ini:

https://ceramahhikmah.blogspot.com/2015/05/ceramah-hikam-mp3-kh-zezen-zaenal-abidin.html#more.

[1] Lihat  https://www.qudusiyah.org/id/kajian/al-hikam/; juga http://nurulmakrifat.blogspot.com/2013/09/terjemah-kitab-al-hikam-ibnu-athaillah.html.

 

ÉLING: Elaborasi Makna

Kata eling (Jawa, Sunda) umumnya dianggap sebagai sinonim kata ingat . Sesederhana itu.  Bagi penutur Bahasa Jawa maupun Bahasa Sunda, pemadanan dua kata ini terlalu menyederhanakan: ada yang kurang di sini, entah apa. Bagi mereka kata eling itu sakral (Jawa: wiwit) dan terkait dengan pertanyaan mendasar seperti ini: “Aku ini siapa? Kenapa aku hidup? Tujuan hidupku apa? Misiku yang utama di dunia apa?” Partanyaan ini bersifat eksistensial; artinya, menyangkut alasan keberadaan manusia.  Singktanya, bagi mereka, kata eling terkait dengan eksistensialitas manusia.

Untuk memahami arti kata eling, potongan lirik tembang Asmarandana (Sunda) berikut ini dapat membantu: 

Éling-éling masing éling
Di dunya urang ngumbara
Laku lampah nu utama
Asih ka papada jalma
Ucap tékad reujeung lampah
Tingkah polah sing merenah
Runtut rukun sauyunan
Hirup jucung panggih jeung kamulyaan

Pupuh Asmarandana (1)

Dua baris pertama lirik tembang itu menegaskan status kita sebagai pengembara di dunia ini.  Enam baris berikutnya mengenai adab berinterkasi antar sesama: kasih terhadap sesama, santun, betindak patut, rukun, dan memiliki kemuliaan atau harga-diri (Inggris: dignity). Dinyatakan secara berbeda, dua baris pertama terkait dengan tujuan hidup, enam baris berikutnya dengan misi hidup. 

Jika status kita di dunia ini sebagai pengembara maka itu bearti kita bukan berasal dari dunia ini.  Dengan kata lain, kehidupan kita di dunia ini bersifat sementara; sekarang kita ini di tengah perjalanan-pulang ke dunia lain dari mana kita berasal dan ke mana kita tengah menuju, suka atau tidak suka. Dalam konteks Islam, ajaran ini sangat eksplisit sebagaimana diucapkan seorang Muslim setiap kali mendengar ada orang yang meninggal: “Sesungguhnya kita berasal dari Allah dan kepada-Nya kita kembali” (inna lillahi wa inna ilahi raji’un).  

Dunia lain yang dimaksud tidak diketahui secara ilmiah: tidak ada laporan dari orang yang sudah meninggal. Ini memang bukan medan ilmiah tetapi medan Iman. Walaupun demikian, pengetahuan mengenainya sudah terpasang (built-in) dalam pusat kesadaran kita, betapa pun lemahnya. Dalam konteks ini fungsi ajaran agama adalah mengingatkan mengenai pengetahuan-bawaan ini, serta memandu perjalanan-pulang ke “Kampung Akhirat”.

Tetapi keselamatan perjalanan-pulang ini, begitu kita meninggal, sepenuhnya berada  di dalam jari-tangan-Nya: di luar kasih-Nya, tidak ada yang dapat membantu kita sama-sekali (Quran 2:48). Satu-satunya harapan untuk memperoleh kasih-Nya adalah konsistensi dalam menjaga ikatan perjanjian dengan-Nya: hanya menyembah-Nya, hanya meminta pertolongan kepada-Nya, dan menjalani kehidupan menurut norma-Nya. Sebagai catatan, agama secara etimilogis adalah sesuatu yang mengikat, khusususnya yang mengikat antara manusia dengan Tuhan [2] (“In terms of etimology, religion is that which bind, especially which bind man and God“). 

Menjaga konsistensi ini sangat penting. Bagi Muslim demikian pentingnya sehingga upaya ke arah sana selalui diperbaharui paling tidak lima kali dalam sehari, yaitu setiap saat membaca doa iftitah ketika Salat: “Sesungguhnya Salatku, pengobananku, hidupku, dan matiku, semata-mata dipersembagkan untuk (memcari keridaan) Allah”. Inilah ikrar selalu perlu diperbaharui oleh seorang Muslim.  

Ikrar yang baru saja disinggung sesuai dengan status “pengembara” kita sebagaimana terungkap dalam dua baris pertama Asmarandana di atas. Ikrar ini dapat dilihat sebagai upaya menggantungkan diri pada “tali-Allah”. Tetapi ini bagi Muslim belum cukup. Untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan norma-Nya, diperlukan juga  “tali-manusia”. Tali yang kedua inilah yang terungkap dalam enam baris terakhir Asmarandana di atas.  

Secara sederhana ajaran Agama Islam dapat dikatakan sebagai panduan perjalanan-pulang ke “Kampung Akhirat”, dengan cara menjaga hubungan vertikal dengan Rabb SWT dan hubungan horizontal antar sesama. Mengabaikan salah satu hubungan ini berisiko selalu diliputi kesengsaraan hidup:  

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka mendapat murka dari Allah dan (selalu) diliputi kesengsaraan (Quran 3:112).

Wallahualam….@

Catatan/Sumber:

[1] https://ciburuan.wordpress.com/2012/07/14/pupuh-asmarandana-eling-eling-mangka-eling/

[2] William Stoddart(1010 2008:41), Remembering in a World Forgetting, World Wisdom.

 

Demokrasi dan Tukang Sepatu

Kata kunci: kritik demokrasi, cacat demokrasi, pemilihan pejabat publik

 

Tahun depan Bangsa Indonesia akan melangsungkan pesta demokrasi dalam rangka pemilihan para pejabat publik: anggota dewan legislatif (DRP, DPD) dan Presiden serta Wakil Presiden. Sesuai jadwal, sekitar awal November 2019 semua tahapan proses pemilihan ini diharapkan akan sudah tuntas[1]. Pesta ini layak disambut gembira karena sistem demokrasi mengapresiasi “suara” rakyat. Walaupun demikian, sistem ini diakui luas mengandung beberapa kelemahan. Tulisan ini mengajak pembaca untuk merenungkan beberapa aspek kelemahan yang melekat dalam sistem ini.

Demokrasi dan Sepatu

Jika menggunakan sepatu sebagai metafora maka argumen demokrasi kira-kira, pemakai sepatu paling mengetahui sepatu yang sesuai dan nyaman enak untuk dipakainya.Konsekuensi logisnya, suara mereka perlu didengar dan opini mereka mengenai persepatuan layak digunakan sebagai ukuran yang menentukan definisi sepatu yang baik. Sampai di sini argumennya masuk akal. Tetapi pertanyaannya, apakah semua pemakai sepatu mengetahui seluk-beluk sepatu sehingga “opininya” layak diperhitungkan? Bagi yang Pro demokrasi-habis-habisan jawabannya “ya”, bagi yang sedikit-punya-akal jawabannya “nanti dulu”.

Sekarang angka-angkanya. Berapa pemakai sepatu yang mengetahui seluk-beluk sepatu? Agaknya tidak ada yang tahu. Tepi akal sehat menyarankan angkanya kira-kira kurang dari 1 per 100,000 pemakai sepatu. (Angka 10,000 dalam demografi biasa digunakan sebagai penyebut atau satuan populasi terpapar dari suatu kasus yang sangat-sangat langka, misalnya, angka kematian ibu (AKI).) Dengan kata lain, proporsi pemakai sepatu yang mengetahui seluk-beluk persepatuan (=p1) patut diduga sangat kecil.

Awam Soal Negara

Pertanyaan berikutnya: Berapa proporsi rakyat yang mengetahui seluk-beluk atau urusan kenegaraan (=p2)? Agaknya juga tidak ada yang tahu jawabannya. Walaupun demikian, akal sehat cenderung membimbing ke arah angka yang sangat kecil: agaknya cukup aman menduga p2 kira-kira sama dengan p1 atau (p2~p1).

Sebagian besar rakyat tentu pintar dalam beberapa hal– atau memiliki keterampilan tertentu– tetapi pasti tidak dalam segala hal. Mereka mungkin petani tanaman pangan yang tangguh, buruh pabrik tekstil yang berpengalaman, pedagang asongan yang cerdik, PNS, tentara, dosen perguruan tinggi, ahli akunting, ekonom, ahli filsafat, ahli statistik, dan sebagainya. Hampir semua (kalau tidak semua) bersepatu. Tetapi berapa per-mil dari mereka yang mengerti cara membuat sepatu? Kira-kira bagaimana kualitas sepatu yang, misalnya, dibuat oleh seorang ekonom tersohor yang juga dosen di perguruan tinggi?

Dari gambaran ini dapat disimpulkan bahwa “hampir semua rakyat, awam mengenai persepatuan”. Jika kata “sepatu” diganti “negara” maka kesimpulannya, “hampir semua rakyat, awam mengenai kenegaraan”. Di sinilah isunya: sistem demokrasi, sederhananya, berati mempercayakan opini mengenai urusan kenegaraan kepada rakyat yang sebagian besar justru awam mengenai urusan itu. Dalam konteks ini layak direnungkan ungkapan Stoddart (2008:35)[2] yang maksudnya kira-kira sebagai berikut:

Bagaimana seseorang dapat memberikan pendapat mengenai pemerintah padahal orang itu tidak mengetahui soal pemerintahan? Orang seyogianya tidak diminta membuat sepasang sepatu jika diabukan pembuat sepatu
Cacat demokrasi yang paling nyata sebenarnya diketahui luas: pemilih akan memilih seorang kandidat yang paling menjanjikan keuntungan ekonomi baginya.

Kritik terhadap Demokrasi

Paragraf di atas menunjukkan kritik Stoddart terhadap demokrasi. Dia boleh dikatakanmewakili mazhab Tradisionalisme yang sangat kritis terhadap yang berbau modernisme. Mengenai nasionalisme, misalnya, mazhab ini mencapnya sebagai perluasan egoisme individual yang tidak ada keelokan di dalamnya[3].

Yang perlu dicatat, Stoddart bukanlah satu-satunya yang kritis terhadap demokrasi. Jauh dari itu. Jauh sebelum era Stoddart, banyak tokoh-tokoh dunia melancarkan kritik tajam terhadap demokrasi. Berikut adalah sebagian di antaranya sebagaimana dikutip oleh Stoddart (ibid, 38):


Plato (427-347 SM): Demokrasi menuju ke despotisme. (Democracy pass into despotism.)

Pliny (23-79 M): Jangan biarkan tukang sepatu yang memberikan penulaiterakhir (urusan Negara) (Let not thecobber judge above the last.)

George Washington (1737-1799): Dari semua bentuk pemerintahan, demokrasi adalah yang paling sedikit dipertanggungjawabkan di antara negara-negara beradab. (Of all forms of government, democracy is the least accounted amongst civilized nations.)

Thomas Jefferson (1743-1826): Demokrasi tidak pernah lebih dari aturan massa, di mana 51% dari orang-orang dapat mengambil hak istimewa dari 49% lainnya. (Ademocracy is never more than the mob rule, where 51% of the people may takeaway the privileges of the other 49%.)

WinstonChurchill (1874-1965): Argumen terbaik melawan demokrasi adalah percakapan lima menit dengan pemilih rata-rata. (The best argument aginst democracy is a five-minute conversation with the average voter.)

Kembalike Masa Lalu?

Berbedadengan sistem demokrasi, dalam sistem kerajaan, kesultanan atau kekhalifahan,urusan-urusan  kenegaraan diserahkan kepada ahlinya: raja, sultan atau khalifah. Apakah artinya kita perlu kembali ke sistem-sistem itu? Jawabannya tidak juga. Sejarah mencatat banyak raja, sultan atau khalifah yang semena-semena dan “menghina” nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal. Penyebab utama, tidak ada mekanisme kontrol, atau kalaupun ada terlalu lemah karena dikooptasi oleh penguasa tertinggi. Dalam sejarah perdaban Muslim,  para sufi secara individual seringkali  “cukup gila” mengambil alih fungsi kontrol itu.  

Keadaannya juga berbeda (dalam kasus RI) ketika urusan suksesi kepemimpinan nasional tidak diserahkan langsung kepada rakyat, melainkan kepada MPR.Apa harus kembali ke sana? Tidak juga karena sejarah membuktikan model ini menghasilkan proses transisi kepemimpinan yang tidak mulus dan kurang beradab. Penyebab utama, preasumsi bahwa dibandingkan rakyat kebanyakan, anggota MPR lebih tahu mengenai urusan kenegaran, lebih memiliki integritas pribadi, serta lebih berani dalam mengenkukakan pendapat, ternyata tidak berlaku.  

Dari uraian terdahulu tampaknya jelas bahwa dalam urusan kenegaraan yang paling menentukan bukan sistem tetapi supra-struktur atau subyek yang mengoperasikan sistem itu.

Setelah menyadari keterbatasan sistem demokrasi apa yang perlu dilakukan? Untuk menjawab ini, “nasehat” Stoddart (2008:36) agaknya layak disimak:

Apa yang terpenting adalah bahwa kita melihat dunia modern kita tanpa terlalu banyak berpikir, secara obyektif, dan tanpa rasa takut, dan berupaya paling tidak untuk memahaminya. Memahami adalah kekuatan, bukan sekadar berpikir. “Menguburkan kepala ke dalam pasir” (seolah-olah tidak masalah) tidak berguna bagi kita. Memahami bahkan dapat menuntun kita pada “solusi” yang tak terduga, bahkan jika ini hanya bersifat batiniah (inward).

Harapan

Dalam pesta demokrasi tahun depan rakyat bangsa ini akan memilih sejumlah “tukang sepatu”. Harapannya mereka tidak salah pilih dengan memilih “tukang las”, atau “tukang obat”, misalnya.

Bagi yang terpilih, harapannya mereka punya komitmen untuk menghasilkan “sepatu terbaik” bagi rakyat. Mereka juga diharapkan mampu mengayomi rakyat untuk menjadi rga negara yang baik, sekaligus warga global yang baik (good global citizen). Yang terakhir ini perlu karena gelombang populis metengah marak di mana-mana, paling tidak di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Menurut Macron (Presiden Prancis), gelombang ini merupakan penjelmaan dari “setan lama” yang telah memicu PDI dan kini tengah mengancam tatanan global[4].

Wallahualam….@


[1] Lihat https://nasional.kompas.com/read/2018/02/28/08350381/ini-tahapan-dan-jadwal-lengkap-pemilu-2019 .
[2]  William Stoddart (2008), “The Flaw of Democracy”, dalam Remembering in a World of Forgetting (hal. 35-37), World Wisdom.
3] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/11/16/nasionalisme-patriotisme/.
[4] Mengenai hal ini dapat dirujuk https://uzairsuhaimi.blog/2018/11/16/nasionalisme-patriotisme/.
 

Untuk mengakses versi pdf silakan klik di sini

 

 

 

 

Selawat: Belajar dari Cicit Rasul SAW

Kata kunci: Selawat, Burdah, Imam Zainal Abidin, Doa Mustajab.

 

Bagi komunitas Muslim atau Umat, berselawat itu penting. Mereka berselawat paling tidak sembilan kali setiap harinya (ketika Salat). Mereka melakukannya karena itu perintah yang secara eksplisit bersumber dari otoritas tertinggi ajaran Islam yaitu Al-Quran: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ungkapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya  (Quran 33:56)”.

Inti Selawat adalah doa kepada Allah untuk Rasul SAW. Betapa pun tingginya penghormatan dan kecintaan Umat kepada Rasul SAW, doa mereka tetap ditujukan kepada Allah SWT, bukan kepada Rasul SAW. Inilah contoh kongkret ketegasan ajaran keesaan Tuhan (tauhid) dalam Islam. Mengenai hal ini teks suci sangat eksplisit: “Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatu dengan-Nya”. Katakalah (Muhammad),” Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan manfaat (Quran72:20-21)”.

Perintah berselawat dalam Salat (tasyahhud) singkat saja: “Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa’ala ‘ali Muhammad”. Tetapi singkatnya perintah ini tidak mengurangi hormat dan cinta Umat kepada nabinya. Mereka bahkan mengembangkan berbagai cara untuk mengekspresikan kecintaan mereka melalui puisi, nyanyian (Qasidah), kaligrafi, dan berbagai media ekspresi budaya lainnya. Karya Qasidah yang berjudul Burdah karya Al-Busyiri (1213-1296) dari Mesir[1], misalnya, sampai sekarang masih sangat populer di kalangan Umat. Burdah adalah buah 

Salah satu ekspresi kecintaan Umat kepada nabinya dicontohkan dalam Selawat Iman Ali Zainal Abidin (lahir 658/659 atau tahun 38 Hijriyah). Iman ini adalah cucu Ali RA melalui Husain RA; jadi, cicit Rasul SAW (memalui Fathimah RA). Selawat Imam ini tercantum dalam Kitab Ash-Sahifah As-Sajjadiyyah[2]. Sebagian ulama permulaan sangat menghargai kitab ini dan bahkan menyebutnya “Saudara Perempuan Al-Quran”. Bagi kebanyakan sebutan ini mungkin berlebihan tetapi Ling (ibid: xlxiii) memberikan penjelasan yang menarik:

Jika sebagian ulama permulaan merujuk Shahifah sebagai “Saudara Perempuan Al-Qura, sebagian alasannya mungkin terletak pada mosaiknya mengekspresikan keragaman spiritulaitas yang secara akurat merefleksikan model Al-Quran dan Nabi bagi kesempurnaan manusia.

Melalui Selawatnya Imam ini agaknya bermaksud tidak hanya mendidik Umat dalam hal berselawat (agar tidak terlalu “pelit”), tetapi juga menggambarkan aspreasi mendalam terhadap kedudukan, sepak terjang dan perjuangan Rasul SAW selama hidupnya.

Di bagian akhir selawatnya, Imam menyinggung isu syafaat tetapi dalam koridor tauhid yang tegas dan sekedar berupa doa. Inti doanya dua: (1) Doa agar Rasul SAW diberikan derajat tertinggi di akhirat kelak, lebih tinggi bahkan dari para malaikat dan nabi-nabi lain, dan (2) Doa agar dengan kedudukan tertinggi itu Rasul SAW diberikan kuasa untuk memberikan syafaat kepada Umat. (Sebagai catatan, yang pertama juga merupakan doa Umat ketika habis mendengarkan azan.)

Untuk memperoleh gambaran lengkap mengenai doa Imam, berikut disajikan terjemahan selawatnya lengkapnya. 

Terjemahan Selawat

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kami Nabi Muhammad SAW yang tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya, dengan kusa-Nya yang melampaui segala hal termasuk berat, yang tak luput dari pada-Nya meskipun itu halus.

Kemudian Dia menjadikan kami sebagai Umat yang terakhir atau Umat yang lalu, yang mengangkat kami sebagai saksi atas yang membangkang, dan memperbanyak jumlah kami atas Umat lainnya yang lebih sedikit, karena karunia-Nya.

Ya Allah, limpahkan sejahtera kepada Nabi Muhammad kepercayaan-Muyang menyampaikan wahyu-Mu yang paling unggul dari ciptaan-Mua, yang jadi pilihan-Mu di antara hamba-hamba-Mu iman kasih sayang, pemimpin kebaikan, kunci keberkahan.

Berbekal pertolongan-Mu ia bangkit menantang mereka dan menyerang mereka di tengah-tengah kampung mereka, hingga menanglah agama-Mu dan kalimat-Mu tetap tinggi nan agung meskipun orang-orang musyrik tidak menyukainya.

Sebagaimana ia telah bersusah-payah memperjuangkan perintah-Mu, mempertaruhkan raganya demi Engkau, dalam menempuh segala bahaya, menyeru kerabat dan kaumnya ke jalan-Mu.

Ia memerangi sanak keluarga demi rida-Mu, memutuskan tali keluarga demi menghidupkan agama-Mu.

Ia menjauhkan orang-rang yang dekat kepadanya karena bantahannya, dan mendekatkan orang-orang yang jauh karena penerimaannya kepada-Mu, mengikat tali persaudaraan dengan orang-orang jauh demi Engkau, dan memusuhi orang-orang yang dekat demi Engkau.

Ia menyibukkan dirinya dalam menyampaikan risalah agama-Mu, membebaninya dalam menyeru mereka ke agama-Mu, dan giat memberi nasehat kepada mereka yang menerima seruan-Mu.

Dan hijrah ke negeri yang asing ke tempat nan jauh dari kampung halaman demi menegakkan dan mengagungkan agama-Mu, dan menundukkan orang-orang kafir. Sehingga lebih mudah baginya dalam melakukan apa yang harus ia lakukan terhadap musuh-musuh-Mu, dan kian sempurna pula dalam mengemban tugas melindungi wali-wali-Mu.

Ya Allah, angkatlah derajat Nabi Muhammad sebagai balasan dan pengorbanannya demi Engkau ke tempat yang tertinggi di dalam surga-Mu, di mana tak ada satu pun yang dapat membandingkan bahkan malaikat, demikian nabi yang diutus.

Perkenankanlah ia memberi syafaat kepada keluarganya yang suci dan para umatnya yang beriman sebaik-baik apa yang telah Engkau janjikan.

Wahai yang menepati janji dan menyempurnakan ucapan, Wahai yang mengubah kesalahan menjadi kebaikan-kebaikan yang berlipat ganda, sesungguhnya Engkau Maha Pemurah dan Maha Agung, Maha Penyantun dan Mahamulia.

 

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Burdah

[2] Ash-Sahifah As-Sajjadiyya: Kumpulan Doa-doa Mustajab Imam Ali Zainal Abidin AS (2004), Penerbit Lentera.

 

Versi pdf (tanpa audio) dapat diakses di: https://drive.google.com/open?id=1YQeytKP5E5J-vEPkA-cTF7qtr7QJ6NFy 


 

 

 

Nasionalisme dan Patriotisme: Tinjauan Ringkas

Kata kunci: Nasionalisme, Patriotisme, Tradisionalisme, Macron, Trump, Putin, Stoddart

 

Isu nasionalisme dan patriotisme baru-baru ini menghangat. Pemicunya, isu ini dikemukakan oleh Emmanuel Macron dalam upacara peringatan berakhirnya satu abad (1918-2018) Perang Dunia ke-I (PDI) pada tanggal 11 November 2018 yang lalu. Upacara itu diawali dengan gema lonceng– dari Natro Dome dan dari seluruh katedral di Paris bahkan di seluruh Prancis– pada 11/11/11/100 (=jam 11, tanggal 11 dan bulan 11, 100 tahun lalu).

Apa yang dikemukakan oleh Presiden Prancis itu memang “menghangatkan” [1]:

Patriotisme adalah kebalikan dari nasionalisme. Nasionalisme adalah pengkhianatan patriotisme. Dengan mengatakan ‘Kepentingan kita lebih dulu, apa pun yang terjadi pada yang lain’, Anda menghapus sesuatu yang paling berharga yang dapat dimiliki suatu bangsa, yang membuatnya hidup, apa yang menyebabkannya menjadi hebat dan apa yang paling penting: nilai-nilai moralnya.

Kenapa sang Presiden mengemukakan isu nasionalisme dalam forum itu? Jawabannya dapat diperdebatkan. Salah satu argumen adalah bahwa sang Presiden memandang nasionalisme yang berlebihan (excessive nationalism) sebagai akar masalah terjadinya PDI.

Tetapi ini hanya “mata pertama” dari pedang yang diacungkan sang Presiden melalui pidatonya. “Mata keduanya” diarahkan langsung kepada “gelombang populisme” yang tengah melanda kawasan Amerika Serikat dan Eropa. Mengenai hal ini sang Presiden mengingatkan[2]:

“Saya tahu ada setan tua yang kembali ke permukaan. Mereka siap untuk membuat kekacauan dan kematian  (” I know there are old demons coming back to thesurface. They are ready to wreak chaos and death“.)

Salah satu pemicu timbulnya gelombang populisme adalah gelombang migrasi-paksa (forced migration) besar-besaran ke Benua Eropa dari kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Juga dari bayang-bayang “invasi” Amerika Latin ke Amerika Serikat sebagaimana dipersepsikan oleh pengikut-setia Trumph(?) 

Dengan pedang bermata dua, adalah wajar jika pidato sang Presiden mengundang perdebatan Pro-Kontra yang hangat. Apalagi forum itu dihadiri oleh lebih dari 60 kepala negara, termasuk Presiden Putin dan Presiden Trump. Yang terakhir ini menarik karena– dengan kebijaksanaan luar negerinya “America First”– boleh dikatakan sebagai ikon populisme masa kini.

Mencermati perdebatan Pro-Kontra mengenai nasionalisme tentu menarik untuk disimak. Walaupun demikian, bagian selanjutnya dari tulisan ini diberikan pada isu substansi Nasionalisme dan Patriotisme dalam pandangan mazhab Tradisionalisme  (atau non-Modern)[3]

Bagi mazhab Tradisionalisme, Nasionalisme melambangkan ego kolektif yang “bodoh” dan “jahat”. Agar jelas berikut disajikan kutipan Stoddart dalam bukunya Remembering in a World of Forgetting (2008:18) yang dapat dikatakan mewakili pandangan Tradisionalisme:

Nasionalisme – seperti Peter Townsend dan yang lain telah menunjukkan – adalah egoisme kolektif, dan dengan demikian, tidak lebih indah dari egoisme individual. Itu juga berasal tekanan vulgar dari narsisme dan xenofobia. Sekali lagi, orang harus mengatakan bahwa itu kebodohan dan juga kejahatan.

Mengenai patriotisme Stoddart (2008:19) menulis:

Mengenai patriotisme: patriotisme yang naif dan sederhana adalah wajar bagi manusia. Pria pegunungan suka orang gunung dan gunung. Mereka yang tinggal di pantai sering kali nelayan, mereka mencintai kehidupan laut yang berbahaya dan berani memancing, dan mereka mencintai para nelayan.


Maslahatnya dengan patriotisme menurut Stoddart adalah bahwa istilah ini terlalu sering diidentikkan dengan nasionalisme. Lebih dari itu, menurutnya, ada dua masalah yang lebih “memalukan”. Pertama, kita secara tidak layak memiliki perasaan patriotisme terhadap kolektivitas manusia yang sangat sekuler dan heterogen yang secara mendasar sangat buruk. Kedua, ini yang menurutnya paling parah, kita secara gegabah sering mengaitkan patriotisme dengan agama.

Kita boleh saja setuju atau tidak setuju dengan pandangan Tradisionalisme yang yang memang sangat kritis terhadap mazhab Modernisme (Pasca Modernisme). Walaupun demikian, pandangan semacam ini layak direnungkan jika kita menghendaki tatanan kehidupan masyarakat yang lebih arif dengan cara mengapresiasi potensi kelemahan dan bahkan bahaya dari isme-isme buatan manusia yang memang ditakdirkan untuk tidak pernah sempurna.

Wallahualam….@

[1] https://www.usatoday.com/story/news/politics/2018/11/11/macron-world-leaders-rebuke-nationalism-world-war-event-attended-trump/1966474002/

[2] https://www.washingtontimes.com/news/2018/nov/11/emmanuel-macron-rips-nationalism-paris-speech-dona/

[3] Tulisan mengenai perbedaan Tradisonalisme dan Modern lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/18/beda-tradisi_tradisi/.

 

Versi pdf dapat diakses di  https://drive.google.com/open?id=1dq3-m-E0m3UyXmT3t3-9A6TmgO_a5SF2

 

 

Struktur Manusia: Gambar Besar

Kata kunci; Mengenal diri sendiri, misteri manusia, naluri kebinatangan, Modern VS Tradisional, Model Tradisional, Nestapa Dunia Modern.

 

Mengenal diri sendiri

“Siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya”. Ungkapan ini menegaskan pentingnya mengenal diri sendiri dalam rangka mengenal Tuhan. Ungkapan ini biasa dianggap sebagai Hadits (ucapan Rasul SAW) yang dikutip oleh Imam Gazali dalam salah satu bukunya. Belakangan para ahli Hadits mengungkapkan bahwa kutipan ini bukan Hadits atau Hadits palsu. Artinya, penelusuran riwayatnya tidak sampai pada Rasul SAW. Secara teknis Ilmu Hadits, ini berarti ada masalah sanad. Para ahli di bidang ini memang terkenal sangat ketat dalam menerapkan metodologi pemeriksaan keabsahan atau tingkat kepercayaan suatu Hadits dengan menelisik rangkaian periwayat dan isinya. (Metodologinya konon diadopsi oleh—atau paling tidak memperngaruhi– para ahli sejarah modern.)

Terlepas dari masalah keabsahan sanad, kandungan makna “Hadits” ini tidak dapat diabaikan. Alasannya antara lain ada ungkapan para ahli agama samawi (jadi bukan hanya Islam) bahwa manusia diciptakan sesuai dengan citra-Nya. Lebih dari itu, bagi Muslim, banyak sekali nash (ayat Quran) yang sejalan ungkapan ini. Nash yang dimaksud terdapat, misalnya, dalam Quran (51:20-21). Nash lain yang terkait secara lebih langsung dapat dilihat dalam Quran (41:53) yang terjemahannya kira-kira sebagai berikut:

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar.

Misteri Manusia

Sesuatu dikatakan misteri tidak berarti absurd; ia ada tetapi tidak sepenuhnya diketahui oleh manusia, “sesuatu yang sukar atau mustahil diketahui atau dijelaskan” (Google Translate). Manusia adalah misteri karena pengetahuan manusia mengenai dirinya parsial dan tidak total. Upaya untuk mengungkap misteri ini telah berlangsung secara dahulu kala sejak era Yunani Kuno. Walaupun demikian, hasilnya tetap parsial: bagi banyak ahli, pengetahuan manusia mengenai dirinya tidak banyak berubah sejak era Yunani Kuno itu.

Alasan utama “kegagalan” memahami manusia secara total adalah karena struktur manusia memang kompleks. Manusia bukan kera, bukan malaikat, dan pasti bukan Tuhan; walaupun demikian, anehnya, manusia terkait dengan semua ini. Mengenai kompleksitas ini berikut rumusan Browne (1982:9) dalam bukunya Personal Dignity (Philosophical Library, New York) layak disimak:

Apakah manusia adalah kera yang tidak berambut yang mengira dia malaikat dan ingin menjadi tuhan? Kera? Malaikat? Penyandang ke-Ilahiah? Terkait dengan semua hal ini jawabannya tidak sederhana.

Anehnya, secara paradoks, secara misterius, manusia adalah semua ini dan pada saat yang suma bukan salah satunya. Dia bukan seekor kera; namun secara tertentu ya. Ia bukan Malaikat namun memiliki sesuatu yang bersifat kemalaikatan….. Dan ia bukan Tuha n— ini pasti — tetapi dalam kerinduannya yang paling dalam ia tahu bahwa takdirnya yang sesungguhnya, entah bagaimana, terkait dengan kehidupan Tuhan.

Mengatakan manusia itu kera tidak terlalu keliru karena secara biologis manusia maupun kera adalah sama-sama binatang, terpatnya termasuk kerajaan binatang (Inggris: animal kingdom). Inilah definisi biologi mengenai binatang yang manusia termasuk di dalamnya[1]:

Binatang adalah organisme multiseluler yang tidak mampu membuat makanan sendiri. Untuk mengamankan energi yang dibutuhkan untuk hidup, mereka mengandalkan organisme lain seperti tanaman dan fungi. (Animals are multicellular organisms that are unable to make their own food. They rely on eating other organisms, such as plants and fungi, to secure the energy required to survive.)

Definisi ini menegaskan ketergantungan hidup manusia pada makhluk lain. Inilah barangkali salah satu argumen yang meyakinkan mengenai perlunya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Definisi yang sama juga menegaskan bahwa manusia masih satu kelompok dengan binatang yang bertulang-belakang (burung, reptil, ikan, kera, dsb) maupun yang tidak-bertulang-belakang (serangga, ubur-ubur, bunga karang, cacing, dsb). Singkatnya, secara biologis manusia berada dalam satu kelompok dengan binatang sekelas kera atau bahkan cacing.

Naluri Kebinatangan

Bahwa manusia termasuk binatang tercermin dalam ungkapan naluri kebinatangan. Islam mengakui aluri kebinatangan manusia. Sebagai ilustrasi, kecintaan terhadap wanita dan harta diakui sebagai “kecintaan bawaan” (Quran 3:14). Karena naluri ini maka normal jika manusia memiliki nafsu makan dan dorongan berhubungan seksual, misalnya. Tetapi dalam dua kasus ini ada yang “khas” manusiawi:

  • Jika binatang makan sesuai kebutuhan, maka manusia makan sesuai keinginan (kecuali terpaksa).
  • Berbeda dengan bintang yang percaya pada kemurahan alam dalam hal pasokan makanan, manusia merasa waswas kalau tidak memiliki kelebihan sumber daya untuk memastikan pemenuhan keperluan makan untuk sebulan, setahun, seumur hidup, bahkan untuk tujuh turunan.

Karena perasaan waswas semacam ini maka manusia memiliki kecenderungan “memperbanyak harta” dan kecenderungan berlaku semumur hidup sampai mereka “masuk liang kubur” (Quran 102:1-2).

Bagaimana dengan dorongan hubungan seksual? Binatang memiliki nafsu itu ketika sudah musim kawin dan melakukannya sebagai naluri untuk mempertahankan spesies mereka. Apakah manusia mengenal musim kawin dan melakukan hubungan seksual sekadar untuk memeroleh keturunan? Naluri kebinatangan semua itu alamiah bagi manusia sebagai bagian dari dunia binatang. Tugas masyarakat adalah menentukan norma agar naluri kebinatangan anggotanya diekspresikan secara beradab. Demikian halnya, antar lain, fungsi negara dan “fungsi” agama. Terkait dengan masalah makanan, misalnya, agama memerintahkan manusia secara keseluruhan untuk menyantap makanan yang halal dan baik (Quran 2:168) dan kepada orang beriman untuk memakan makanan selain yang baik juga bersyukur (Quran 2:172).

Modern VS Tradisional

Bahwa manusia adalah binatang juga terungkap dalam definisi yang populer bahwa manusia adalah binatang yang berakal. Pertanyaannya: Apakah itu akal? Ini adalah pertanyaan yang sangat mendasar dan jawabannya mencirikan pandang-dunia (worldview) atau mazhab pemikiran seseorang.

Bagi mazhab Modern, misalnya, akal adalah bagian dari organ jiwa (soul) yang memiliki fungsi yang sama dengan pikiran (mind, reason). Bagi mazhab pemikiran Tradisional[2], pandangan modern ini keliru: bagi mereka, akal tidak identik dengan pikiran dan akal bukan bagian dari jiwa. Sebagai catatan, istilah Tradisional dalam tulisan ini merujuk pada semua mazhab di luar mazhab Modern. Sementara, Mazhab Modern (termasuk Pasca Modern) merujuk pada semua mazhab yang berkembang dimulai dari masa akhir Abad Pertengahan –yang mencakup pemikiran dari Descartes sampai Kant—sampai kini.

Metafora Kerucut

Untuk melihat perbedaan dua mazhab ini dapat digunakan metafora kerucut. Mazhab Tradisional selalu mempertahankan hubungan antara titik puncak kerucut dengan lingkaran yang mendasari kerucut itu. Sebaliknya, Mazhab Modern, dalam bahasa Stoddart (2008:47), “hanya memperhatikan lingkaran dasar kerucut tanpa, atau sedikit, masukan transendental dalam pemikiran mereka”[3].

Yang membedakan mazhab Tradisional dan Modern sebenarnya tidak hanya terkait dengan definisi akal. Perbedaan keduanya sangat mendasar karena menyangkut persepsi mengenai struktur manusia. Bagi mazhab Modern, struktur manusia hanya terdiri dari dua yaitu organ tubuh (body) dan jiwa (soul). Bagi mazhab Tradisional, di atas dua organ itu ada Intelek (Ruh) yang sangat menentukan persepsi kita mengenai manusia. Dalam istilah sehari-hari Ruh dipahami sebagai unsur yang menentukan keberfungsian organ tubuh maupun jiwa: seorang manusia tanpa Ruh berubah status menjadi almarhum atau almarhumah.

Mazhab Modern tidak atau enggan mengakui Ruh sebagai bagian dari struktur manusia. Bagi mereka, Ruh hanya salah satu fungsi dari jiwa dan sesuatu mengenainya hanya dogma dan takhayul (Stoddart, 2008:47).

Model Tradisional

Menurut model Tradisional struktur manusia terdiri dari tiga level: (1) tubuh, (2) jiwa, dan (3). Tabel 1 menyajikan ketiga level itu dalam beberapa bahasa.

Tabel 1: Tiga Level Struktur Manusia
Indonesia Inggris Latin Yunani Arab
Intelek Spirit (Intellect) Spiritus (Intellectus) Pneuma (Nous) Ruh (‘Aql)
Jiwa Soul Anima Psyche Nafs
Tubuh Body Corpus Soma jism
Sumber: William Suddort (2008:46), Remembering in a Word of Forgetting
Level Tubuh (Body)

Dalam level tubuh, bentuk manusia dapat dikenali dengan mudah: tubuh adalah manifestasi formal manusia. Dalam level ini manusia tidak banyak berbeda dengan binatang walaupun bentuknya, istilah teks suci, “paling sempurna” (Quran 95:4). Tetapi dari sisi kehebatan atau kekuatan, dalam banyak kasus, manusia kalah jauh dari binatang. Sebagai contoh, manusia kalah jauh dari cheetah dalam hal kecepatan berlari, dari anjing pelacak atau beruang dalam hal daya penciuman, dan dari elang dalam hal daya penglihatan.

Level Jiwa (Soul)

Seperti halnya manusia, binatang juga memiliki organ jiwa. Level jiwa ini juga termasuk manifestasi formal manusia. Tetapi jiwa bukan unik milik manusia. Sampai taraf tertentu binatang juga memiliki semua unsur-unsur jiwa termasuk pikiran (mind), kehendak (will), imajinasi (imagination), perasaan (sentiment), dan ingatan (memory).

Level Intelek (Intellect)

Berbeda dengan level tubuh dan level jiwa yang termasuk manifestasi formal, level intelek ini tergolong manifestasi supra-formal manusia. Tetapi apa itu intelek? Untuk memperoleh gambaran agak menyeluruh berikut disajikan kutipan Stoddart (2008:45-46) yang mewakili mazhab Tradisional:

Di atas segalanya, intelek adalah fakultas yang memungkinkan manusia memahami Yang Mutlak dan mengetahui Kebenaran. Ini adalah sumber dari kapasitasnya untuk objektivitas, kemampuannya – dalam kontradiksi dari binatang – untuk membebaskan dirinya dari penjara dalam subjektivitas.

Istilah intelek digunakan sebagai terjemahan dari Bahasa Inggris Spirit (Intellect). Istilah Spirit dan Intellect ini mengacu pada substansi yang sama tetapi dengan fungsi yang berbeda. Mengenai ini kutipan berikut layak disimak (Stoddarts, 2008:46).

Intelek dan Roh adalah dua sisi dari mata uang yang sama, yang pertama berkaitan dengan teori atau doktrinal, dan yang belakangan berkaitan dengan praktis atau realisasi. Mereka berhubungan dengan mode obyektif (atau diskriminatif) dan subyektif (atau unitif) untuk mengetahui.

Seperti tampak pada Tabel 1, istilah intelek dalam Bahasa Arab adalah Ruh (‘Aqal). Mengenai Ruh tidak banyak yang dapat dikatakan karena Dia SWT hanya memberikan sedikit ilmu mengenainya (Quran 17:85). Tetapi mengenai ‘aqal, banyak teks suci yang menyinggungnya dalam berbagai konteks.

Dalam konteks tulisan ini, istilah lain yang relevan untuk disisipkan adalah ulul albab yang biasanya diterjemahkan sebagai “orang yang berakal”. Teks suci menggunakan istilah ulul albab untuk merujuk pada orang memiliki kemampuan berpikir (aktivitas nalar) tetapi juga berzikir (aktivitas hati). Hal ini tersirat dalam kutipan teks suci berikut:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (teks: ulul albab). (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allalh sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bum (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia, Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka (Quran, 3:190-191).

Dari terjemahan di atas jelas bahwa akal lebih luas atau melampaui pikiran.

Nestapa Dunia Modern

Seperti disinggung sebelumnya, mazhab Modern enggan atau menolak mengakui keberadaannya oleh mazhab modern. Hal ini sengaja dikondisikan agar sesuai dengan arus utama mazhab modern yang pada dasarnya menganggap segala sesuatu yang bersifat ilahiah tidak relevan bagi kehidupan manusia. Dugaan ini membawa dampak sangat luas dan mendalam bagi arus utama alam pikir dunia modern yang menurut mazhab Tradisional, telah menyebabkan kekacauan dan kerusakan yang “tidak terhitung” (incalculable). Mazhab ini menunjuk hidung Jung sebagai tokoh yang paling bertanggung jawab. “Jung, tidak seperti Freud dianggap sebagai ramah terhadap agama! Ini adalah contoh klasik “serigala berbaju domba”” (Stoddart, 2008:47)

Keengganan atau penolakan ini menyebabkan mereka menyederhanakan kata intelek sebagai sekadar fungsi pikiran (mind, reason). Hal ini terlihat antara lain dalam dari definisi intelek yang menurut Google translate: “fakultas penalaran dan pemahaman secara obyektif”. (Bandingkan ini dengan definisi intelek dalam kutipan sebelumnya.)

Keengganan atau penolakan ini juga telah menjadi akar pemicu nestapa dunia modern yang “aneh”: merasa asing di tengah keramaian, kehilangan sensibilitas rasa kekaguman (sense of wonder), rasa kesucian (sense of holy), dan rasa keterpusatan (sense of center), dan dahaga hebat tetapi tidak mengetahui dahaga akan apa (thirst for what?), dan sebagainya. Wallahualam….@

[1] https://basicbiology.net/biology-101/tree-of-life

[2] Arti Tradisonal (dengan huruf T besar) dan tradisional (dengan huruf t kecil) berbeda. Mengenai hal ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/18/beda-tradisi_tradisi/.

[3] William Stoddart, Remembering in a Word of Forgetting, World Wisdom.

 

Versi pdf (tanpa audio) dapat diakses di https://drive.google.com/open?id=1VmFKu9rpZi4KSZuEM92gx0Zg3jEIjMZs