Kalau Tulang Bisa Bicara, Mungkin Dia Lebih Jujur dari Kita

Tulang lapuk dipertanyakan, tapi penanya lupa dari apa dirinya dibuat. Al-Qur’an mengoreksi bukan penglihatan, melainkan cara berpikir: yang tampak bukan ukuran segala kemungkinan. Wallāhu aʿlam.

A crumbled bone is questioned, yet the questioner forgets what he was made from. The Qur’an corrects not sight, but thought: the visible is no measure of all possibility. Wallāhu aʿlam.

若骨头会说话,也许它比我们更诚实

奉至仁至慈的真主之名。一切赞颂,全归真主。愿真主赐福我们的领袖穆罕默德。

雅辛章临近结尾处,有一幕颇耐人寻味。一个男人——据经注学家说,名叫乌拜·本·哈拉夫或阿斯·本·瓦伊勒——带着一根已经腐朽的骨头来到先知ﷺ面前。他把骨头碾碎,然后带着挑衅的语气问道:“谁能复活这已经朽烂的骨头?”

这问题听起来挺聪明。但请看古兰经如何回应。它没有用生物学解释,没有用理论反驳。古兰经只回了一句话,一句直刺心窝的指责:

“他为我设了一个譬喻,却忘记了他自身的被造。”(雅辛章:78)

咦,怎么是“忘记”了?他不是正在谈骨头吗?

问题恰恰就在这里。这个人记得骨头——看得见、摸得着、能碾碎的骨头。但他忘了自己从何而来。他忘了自己当初不过是 nutfah——一滴卑微的精液,按古兰经的说法。那样的东西,若掉在地上,我们大概连看都不会多看一眼。

所以,他的错误不在于观察本身。那根骨头确实存在。错的是他的思维方式:他拿眼前可见之物,去衡量终极的可能性。 他把看得见的,当成了看不见之事的法官。

这是一种老毛病。不只是古莱什否认者的病,也是我们的病。我们轻易相信能计算、能测量、能看见的东西。可一谈到看不见的——复活、灵魂、问责——我们就耸耸肩。

可说实话,我们谁也没有亲眼见过自己被造的过程。我们没看见自己如何从一滴液体变成血块,再变成能辩论骨头的生物。这一切,都在我们毫无察觉中发生。

所以,在我们自作聪明地质疑复活之前,最好先想一想:我们是谁?从何而来?又是谁造的?

那根骨头也许已经朽烂。但正因为它朽烂,它提醒我们一件事:第一次能创造的,第二次绝不会困难。

真主至知。

明天我们上升一层:从骨头,到一棵会冒火的绿树。怎么可能?

—

Bismillāh. Alhamdulillāh. Allāhumma ṣalli ʿalā Sayyidinā Muḥammad.

Ada satu pemandangan yang menarik di penghujung Surah Yasin. Seorang laki-laki—kata para mufassir, namanya Ubayy ibn Khalaf atau ʿĀṣ ibn Wāʾil—datang membawa tulang yang sudah hancur. Dia remukkan tulang itu di depan Nabi ﷺ, lalu bertanya dengan nada menantang: “Siapa yang bisa menghidupkan tulang yang sudah lapuk ini?”

Pertanyaannya terdengar cerdas. Tapi perhatikan reaksi Al-Qur’an. Bukan dibalas dengan penjelasan biologi. Bukan dibalas dengan teori. Al-Qur’an justru membalas dengan satu tuduhan yang menusuk:

“Dia membuat perumpamaan untuk Kami, dan dia lupa akan penciptaan dirinya sendiri.” (Yāsīn: 78)

Lho, kok lupa? Kan dia sedang membicarakan tulang?

Nah, di sinilah letak masalahnya. Orang ini mengingat tulang—yang kelihatan, yang bisa dipegang, yang bisa diremukkan. Tapi dia lupa dari apa dia sendiri berasal. Dia lupa bahwa dirinya dulu nutfah—setetes air yang hina, kata Al-Qur’an. Sesuatu yang kalau jatuh di lantai, mungkin tidak akan kita lihat dua kali.

Jadi kesalahannya bukan pada pengamatan empirisnya. Tulang itu memang nyata. Yang salah adalah cara berpikirnya: dia mengukur apa yang mungkin dengan apa yang kelihatan sekarang. Dia jadikan yang kasat mata sebagai hakim atas yang gaib.

Ini penyakit lama. Bukan hanya penyakit orang kafir Quraisy. Ini penyakit kita juga. Kita gampang percaya pada apa yang bisa dihitung, diukur, dan dilihat. Tapi begitu bicara soal yang tak terlihat—soal kebangkitan, soal ruh, soal pertanggungjawaban—kita langsung angkat bahu.

Padahal, kalau kita jujur, kita ini tidak pernah menyaksikan penciptaan diri kita sendiri. Kita tidak pernah melihat bagaimana kita dulu berupa setetes air, lalu menjadi segumpal darah, lalu menjadi makhluk yang bisa berdebat soal tulang. Itu semua terjadi tanpa kita sadari.

Jadi, sebelum kita sok pintar mempertanyakan kebangkitan, ada baiknya kita ingat dulu: kita ini siapa? Dari apa kita dibuat? Dan siapa yang membuat?

Tulang itu mungkin sudah lapuk. Tapi justru karena lapuk, dia mengingatkan kita pada satu hal: yang menghidupkan pertama kali tidak akan kesulitan menghidupkan kembali.

Wallāhu aʿlam.

Besok kita naik satu tingkat: dari tulang ke pohon hijau yang mengeluarkan api. Kok bisa?

Kenapa Kita Capek?

Bukan Karena Kerja — Tapi Karena Merasa Jadi Tuhan

Ada capek yang tidak bisa disembuhkan oleh tidur.

Coba saja. Libur sehari. Matikan HP. Pergi ke luar kota. Tidur lebih lama dari biasanya. Tetap saja bangun dengan beban yang sama.

Beban yang tidak bisa Anda tunjuk. Tidak bisa Anda timbang. Tidak bisa Anda letakkan.

Kalau Anda bertanya kepada saya, “Kenapa saya capek?” — jawaban saya mungkin terdengar aneh.

Capek ini bukan karena Anda kurang tidur.

Capek ini karena Anda mencoba menjadi Tuhan.

Saya tidak sedang bercanda. Saya serius. Tapi santai saja. Duduk dulu. Minum teh. Kita ngobrol.

Coba Dengar Kalimat-Kalimat Ini

Mungkin Anda pernah mengucapkannya. Mungkin hanya dalam hati:

“Saya harus tahu ke mana hidup saya akan pergi.”
“Saya harus membuat keputusan yang benar.”
“Saya harus menjadi seseorang.”
“Saya harus membangun sesuatu yang berarti.”
“Saya harus menjaga bagaimana orang lain melihat saya.”
“Saya tidak boleh tertinggal.”

Dan di bawah semua itu, ada satu asumsi yang begitu biasa sehingga kita jarang menyadarinya:

Hidup saya adalah milik saya untuk diamankan.

Kedengarannya seperti tanggung jawab. Kedengarannya seperti kedewasaan. Kedengarannya seperti iman yang kuat.

Padahal — coba pikirkan sebentar — itu adalah khayalan.

Coba Pikirkan

Apakah Anda menciptakan tubuh Anda sendiri?

Apakah Anda memilih bahasa yang Anda gunakan?

Apakah Anda memilih keluarga yang melahirkan Anda?

Apakah Anda mengontrol orang-orang yang Anda cintai?

Apakah Anda tahu kapan Anda akan mati?

Tidak.

Anda datang ke dunia yang tidak Anda buat. Anda menerima tubuh yang tidak Anda desain. Anda diwarisi bahasa yang tidak Anda ciptakan. Anda bergantung pada orang-orang yang tidak bisa Anda kendalikan. Anda mencintai orang-orang yang tidak bisa Anda pertahankan.

Lalu Anda — dengan semua keterbatasan ini — ingin menjadi sumber dari hidup Anda sendiri?

Maaf, tapi itu bukan tanggung jawab.

Itu khayalan.

Dan khayalan itu capek. Sangat capek. Karena tidak ada manusia yang bisa menanggungnya.

Bedanya “Agen” dan “Tuhan”

Ini yang saya kira perlu kita bedakan dengan jelas.

Anda adalah agen. Anda bukan Tuhan.

Agen artinya: Anda bertindak. Anda memilih. Anda bekerja. Anda mencintai. Anda membangun. Anda bertanggung jawab.

Semua itu nyata. Semua itu penting. Tidak ada yang menyuruh Anda menjadi pasif. Kalau ada yang mengajarkan Anda untuk berhenti bekerja dan pasrah saja, itu bukan Islam. Itu malas yang dibungkus dengan kata tawakkal.

Tapi agen bukan berarti Anda harus menjadi sumber dari segalanya. Agen bukan berarti Anda harus mengontrol hasilnya. Agen bukan berarti Anda harus menjamin semuanya berhasil.

Ketika kita menuntut agen untuk menjadi Tuhan — di situlah kita mulai hancur.

Di situlah kita mulai capek. Di situlah kita mulai cemas. Di situlah kita mulai merasa bahwa hidup ini adalah beban yang tidak bisa kita letakkan.

Kita menjadi bertanggung jawab bukan hanya untuk bertindak baik, tetapi untuk mengendalikan hasil. Bukan hanya untuk bekerja, tetapi untuk menjamin sukses. Bukan hanya untuk mencintai, tetapi untuk mencegah kehilangan.

Tidak ada manusia yang bisa menanggung ini.

Tidak ada.

Yang Ditawarkan Islam

Islam tidak menyuruh kita menjadi pasif. Islam tidak menyuruh kita berhenti bekerja. Islam tidak menyuruh kita duduk diam dan menunggu takdir.

Islam menawarkan sesuatu yang lebih dalam: menjadi hamba.

Kata ‘abd — hamba — bagi telinga modern terdengar seperti kehilangan kebebasan. Seperti penjajahan. Seperti penindasan.

Tapi coba dengar lagi.

Hamba Allah bukan berarti hilangnya kebebasan. Hamba Allah berarti bebas dari semua tuan yang lain.

Anda bebas dari tuntutan untuk selalu sukses. Bebas dari tuntutan untuk selalu dilihat. Bebas dari tuntutan untuk selalu benar. Bebas dari tuntutan untuk mengontrol segalanya.

Anda hanya punya satu Tuan. Dan karena Anda hanya punya satu Tuan, Anda bebas dari seribu tuan kecil yang memperbudak Anda.

Ini bukan teori. Ini pengalaman. Coba saja. Ketika Anda berhenti mencoba menjadi Tuhan, Anda akan menemukan bahwa Anda lebih bebas, bukan kurang.

Dua Ayat yang Menjaga Kita

Ini yang selalu saya pegang:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ

Fa-idhā faraghta fanṣab.

“Ketika engkau selesai, bangkitlah kembali.”

وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَب

Wa-ilā rabbika farghab.

“Dan kepada Tuhanmu, arahkanlah kerinduanmu.”

Ayat pertama menjaga kita dari pasif. Kalau sudah selesai satu tugas, bangkit. Jangan berhenti. Jangan malas. Bergerak.

Ayat kedua menjaga kita dari merasa jadi Tuhan. Bergerak — tapi tahu ke arah mana. Bekerja — tapi jangan menyembah pekerjaan. Berjuang — tapi jangan merasa bahwa segalanya tergantung pada Anda.

Sederhananya:

Agen tetap ada. Kedaulatan tetap milik Allah.

Itulah bedanya. Dan itulah yang menyelamatkan kita dari capek yang tidak bisa disembuhkan oleh tidur.

Satu Pertanyaan untuk Malam Ini

Sebelum tidur malam ini, coba tanya diri Anda satu pertanyaan. Tidak usah dijawab cepat. Duduk dengan pertanyaan itu. Biarkan ia bekerja.

“Apa yang saya coba kendalikan hari ini — yang sebenarnya bukan milik saya untuk kendalikan?”

Besok pagi, ketika Anda bangun, Anda mungkin masih capek. Anda mungkin masih punya banyak beban. Anda mungkin masih punya banyak pertanyaan.

Tapi setidaknya — setidaknya — Anda tahu bedanya antara tanggung jawab dan kedaulatan.

Dan itu adalah awal dari kebebasan.

Selamat istirahat. Semoga Allah memberi kita tidur yang menenangkan, dan hati yang tidak lagi merasa perlu menjadi Tuhan.

Wallāhu aʿlamu bi-l-ṣawāb.

Wa-ilā rabbika farghab.

Kalau Hidup Ini Mahal, Kenapa Sistem Kadang Menganggapnya Sekadar Angka?

Baru saja saya submit satu paper di Academia.edu: Speaking Life: Qur’an 17:33, the Sanctity of Life, and the Institutional Architecture of Accountability. Judulnya terdengar akademik, memang. Tapi isinya satu pertanyaan sederhana yang sering kita hindari: kalau hidup itu suci, kenapa dalam praktik institusi ia sering diperlakukan seperti angka di baris anggaran?

Saya bukan mau bikin tafsir baru. Saya cuma ingin membaca satu ayat dengan jujur, lalu menariknya ke dunia yang kita tinggali: rumah sakit, perusahaan, birokrasi, algoritma, dan meja-meja rapat yang menentukan siapa yang selamat dan siapa yang jadi korban.

Ayat yang Tidak Berhenti di “Jangan Membunuh”

Qur’an 17:33:

Wa la taqtulu al-nafsa allati harrama Allahu illa bi-al-haqq. Wa man qutila mazluman fa-qad ja’alna li-waliyyihi sultanan fa-la yusrif fi al-qatl. Innahu kana mansura.

“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah, kecuali dengan alasan yang benar. Dan siapa yang dibunuh secara zalim, maka Kami beri kepada walinya kekuasaan; maka janganlah ia melampaui batas dalam membunuh. Sungguh, ia didukung.”

Perhatikan: ayat ini tidak berhenti pada larangan. Ia bergerak. Ada empat gerakan moral dalam satu tarikan napas:

1. Hidup dilindungi.

2. Kekuasaan harus punya alasan (haqq).

3. Korban yang dizalimi punya klaim.

4. Bahkan klaim itu dibatasi agar tidak melampaui batas.

Ini bukan slogan “hidup itu absolut”. Ayat ini lebih presisi dari itu. Ia mengakui adanya pengecualian bi al-haqq, tapi sekaligus mengatur konsekuensinya. Perlindungan, justifikasi, recourse, dan restraint — empat-empatnya satu paket.

Tiga Penyakit Institusi Kita

Dari struktur itu, saya coba diagnosis tiga penyakit khas zaman ini.

Pertama, trade-off keselamatan yang mengeksternalisasi bahaya. Cost-benefit analysis tidak otomatis haram. Tidak setiap kecelakaan berarti kelalaian. Tapi ada titik di mana pengambil keputusan tahu ada risiko serius yang bisa dicegah, lalu tetap mentransfernya ke pekerja, konsumen, pasien, atau warga — karena biaya pencegahan dianggap lebih mahal daripada biaya kegagalan. Di situ keselamatan berubah jadi komoditas.

Kedua, sistem otomatis high-stakes yang gelap. Algoritma kini membantu keputusan di medis, transportasi, keuangan, ketenagakerjaan, administrasi publik. Opacity tidak otomatis zalim. Tapi masalah muncul ketika orang yang terdampak tidak bisa memahami dasar keputusan, sistem tidak bisa diaudit, error tidak bisa dibantah, dan organisasi memakai kerumitan teknis untuk menyembunyikan tanggung jawab.

Ketiga, praktik liabilitas yang menghalangi recourse. Institusi punya hak membela diri. Tapi penyakit muncul ketika sumber daya yang lebih besar dipakai terutama untuk menunda, mengintimidasi, menyembunyikan kegagalan berulang, atau membuat klaim yang sah praktis mustahil dikejar. Litigasi bukan masalahnya; yang jadi masalah adalah ketika pembelaan yang legal berubah menjadi penolakan struktural atas keadilan.

Benang merahnya satu: kekuasaan dipisahkan dari pertanggungjawaban. Keselamatan jadi negoisasi. Keputusan jadi gelap. Recourse jadi tak terjangkau.

Arsitektur Tandingan

Qur’an 17:33 menawarkan pola tandingan. Bukan janji menghapus semua kecelakaan, tapi tata kelola yang serius.

Safety-first governance. Dewan dan pemimpin operasional harus mengidentifikasi risiko berdampak berat, menetapkan ambang keselamatan berbasis bukti, menjaga jalur eskalasi independen, dan mendokumentasikan alasan di balik keputusan yang mengekspos orang pada bahaya. Bukan “zero harm” yang mustahil, tapi struktur di mana bahaya serius yang bisa dicegah tidak seenaknya ditukar dengan kecepatan, margin, atau kenyamanan.

Teknologi high-stakes yang akuntabel. Sistem yang memengaruhi hidup, kesehatan, kebebasan harus tunduk pada validasi proporsional, auditabilitas, pemantauan, oversight manusia, dan jalur kontestasi yang bermakna. Bukan “explainability penuh” dalam segala hal, tapi traceability dan intelligibility yang cukup untuk deployment dan review yang bertanggung jawab.

Recourse korban yang berdaya. Proses klaim yang aksesibel, bukti yang dijaga, informasi yang diungkap sejauh dibenarkan oleh privasi dan keamanan, dan struktur prosedural yang tidak membuat remedy jadi ilusi. Hak dan mekanismenya beda-beda per yurisdiksi. Prinsip moralnya satu: kekuasaan institusi tidak boleh menghapus kapasitas pihak yang dirugikan untuk mencari keadilan.

Respons proporsional dan restoratif. Setelah harm serius, institusi harus menyelidiki akar masalah, mengakui kegagalan yang terbukti, memberi remedy, dan mendesain ulang sistem. Pendekatan restoratif bisa melengkapi — bukan otomatis menggantikan — adjudikasi hukum, penegakan regulasi, atau liabilitas proporsional.

Satu Pertanyaan untuk Meja-Meja Rapat

Untuk dewan, risk officer, etikawan klinis, dan arsitek teknologi, seluruh argumen ini bisa dipadatkan jadi satu pertanyaan diagnosis:

Apakah institusi ini memperlakukan hidup dan keselamatan manusia sebagai constraint yang mengikat — didukung proses akuntabel dan recourse bermakna — atau ia menormalkan bahaya yang bisa dicegah sebagai biaya operasi yang wajar?

Kalau jawabannya yang kedua, jangan cari dalil untuk membenarkannya. Cari keberanian untuk mengubahnya.

Penutup: Dua Kegagalan Moral

Qur’an 17:33 menolak dua kegagalan moral yang berlawanan. Pertama, memperlakukan harm yang bisa dicegah sebagai sekadar biaya operasi. Kedua, membiarkan pencarian keadilan berubah menjadi bentuk dominasi baru.

Perlindungan tanpa akuntabilitas meninggalkan korban tanpa recourse. Akuntabilitas tanpa restraint berisiko mereproduksi kekerasan yang ingin dijawabnya.

Qur’an tidak menyelesaikan desain institusi kita. Tapi ia memberi tata bahasa moral untuk mempertanyakan desain itu:

Di mana kekuasaan bisa memengaruhi hidup, di situ kekuasaan harus menjawab.
Di mana harm telah terjadi, yang dirugikan tidak boleh hilang.
Dan di mana keadilan dikejar, kekuasaan tetap harus tahu batasnya.

Tanggung jawab membawa tata bahasa ini ke dunia institusi yang terus berubah — sambil membedakan wahyu dari inferensi, dan inferensi dari proposal kontemporer — tetap ada di pundak kita.

Wallahu a’lam bi al-sawab.

Catatan Sersan tentang Qur’an 17:32 dan Desain Institusi

Jangan Dekati Zina, Jangan Dekati Skandal

Catatan Sersan tentang Qur’an 17:32 dan Desain Institusi

Ada satu ayat yang kalau dibaca sekilas, biasa saja. Tapi kalau dibaca sambil ngopi, tiba-tiba terasa ngelik.

Wa lā taqrabū al-zinā. Innahu kāna fāhishatan wa sā’a sabīlā.
“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sungguh, itu perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (QS 17:32)

Coba perhatikan. Allah tidak berfirman lā taznū — “jangan berzina.” Allah berfirman lā taqrabū — “jangan mendekati.”

Bedanya apa?

Bedanya: kalau cuma dilarang melakukan, maka yang dilarang hanya detik terakhir. Tapi kalau dilarang mendekati, maka yang dilarang adalah seluruh jalannya — gang-gang kecil, lorong-lorong gelap, warung kopi tengah malam, grup WhatsApp jam dua pagi, sampai algoritma yang tiba-tiba tahu selera kita.

Ini bukan gaya bahasa. Ini arsitektur moral.

Para mufasir klasik sudah menangkap ini. Al-Ṭabarī bilang: yang dilarang bukan hanya perbuatannya, tetapi langkah-langkah menuju ke sana, keintiman yang mendahuluinya, dan kondisi yang membuatnya mudah diakses. Al-Qurṭubī lebih tegas lagi: komunitas harus menutup jalan (sadd al-dharā’i’) yang mengarah pada kerusakan moral.

Artinya apa? Artinya, kalau kita hanya melarang outcome-nya, tapi membiarkan pathway-nya terbuka, kita belum menjalankan perintah ayat ini. Kita baru menjalankan separuhnya.

Lalu, Apa Hubungannya dengan Kantor, Platform, dan Rumah Sakit?

Nah ini bagian yang bikin saya mbrebes mili.

Bayangkan sebuah kantor. Tidak ada yang secara eksplisit bilang “silakan lecehkan.” Tapi kuasa terkonsentrasi di satu meja. Saluran pengaduan ada, tapi ujungnya ke HRD yang satu ruangan dengan pelakunya. Dan ketika ada korban bersuara, datanglah NDA — perjanjian kerahasiaan — yang dengan sopan meminta mulut ditutup, dengan imbalan kompensasi.

Apakah ada zina di situ? Belum tentu. Tapi apakah ada jalan menuju ke sana? Jelas ada. Dan ayat tadi melarang jalannya, bukan hanya ujungnya.

Begitu pula platform digital. Algoritma tidak pernah berniat jahat. Ia hanya mengoptimalkan. Tapi yang dioptimalkan adalah engagement. Dan yang paling mengundang engagement adalah kemarahan, ketakutan, gairah, dan indignasi. Algoritma tidak perlu jahat. Ia hanya perlu efisien. Tapi hasilnya: sebuah lingkungan yang setiap hari mendekatkan orang pada hal-hal yang seharusnya dijauhi.

Dan rumah sakit, klinik, laboratorium. Ada janin yang diperjualbelikan atas nama “hak reproduksi.” Ada tubuh miskin yang dijadikan bahan uji atas nama “kemajuan ilmu.” Ada rahim yang disewa atas nama “pilihan bebas.” Semua berjalan dengan kontrak yang rapi. Tapi di balik kontrak itu, ada tubuh manusia yang diperlakukan sebagai aset.

Ini juga sā’a sabīlā — jalan yang buruk.

Jadi, Apa yang Harus Dilakukan?

Kalau ayat ini hanya soal dosa pribadi, maka solusinya cukup dengan taubat dan istighfar. Tapi karena ayat ini menyangkut arsitektur, maka solusinya juga harus arsitektural.

Pertama, audit lingkungan. Jangan cuma tanya “apakah ada pelanggaran?” Tanya: “apakah kami membangun kondisi yang membuat pelanggaran itu mudah terjadi?”

Kedua, saluran pengaduan yang benar-benar independen. Bukan saluran yang secara struktural terhubung dengan pihak yang diadukan.

Ketiga, larang NDA sebagai alat pembungkam. NDA untuk rahasia dagang? Silakan. NDA untuk menutup kasus pelecehan? Itu bukan kerahasiaan, itu kemunafikan yang dilegalkan.

Keempat, garis merah bioetika. Ada hal-hal yang tidak boleh diperjualbelikan. Bukan karena pasar tidak mampu, tapi karena manusia bukan komoditas.

Penutup: Ngaji Itu Sampai ke Meja Rapat

Kadang kita mengira ngaji hanya di masjid, di pesantren, di majelis taklim. Padahal ayat tadi, kalau dibaca dengan jujur, sampai ke meja rapat direksi, sampai ke ruang server, sampai ke ruang operasi.

Islam tidak hanya mengatur bagaimana kita beribadah. Islam juga mengatur bagaimana kita membangun dunia — termasuk kantor, platform, dan rumah sakit.

Maka pertanyaannya bukan lagi: “apakah saya sudah berzina?”

Tapi: “apakah saya sudah merancang jalan menuju ke sana?”

Kalau jawabannya iya — atau bahkan cuma mungkin — maka lā taqrabū bukan cuma larangan. Ia panggilan untuk mendesain ulang.

Wallāhu a’lamu bi-l-ṣawāb.

— Sersan, dari lingkaran kecil yang tetap menyala

Allahu Akbar yang Menolak Selesai

Catatan dari Paper 1 — seri “The Grammar of the Unreachable”

Pernahkah Abang dan Mpok memperhatikan satu kalimat yang kita ucapkan lebih sering dari kalimat apa pun di dunia ini? Kalimat yang keluar sebelum makan, sebelum tidur, sebelum perjalanan, sebelum menghadapi mertua, sebelum menghadapi ujian, bahkan sebelum membuka HP yang baterainya tinggal 3%?

Allahu akbar.

Coba perhatikan baik-baik. Kalimat ini tidak selesai. “Tuhan Maha Besar.” Lebih besar dari apa? Kok tidak ada objeknya? Kalau kata “besar” biasanya butuh pembanding—besar dari rumah, besar dari gunung, besar dari utang yang belum lunas—ini kok tiba-tiba menggantung begitu saja?

Nah, itu bukan kalimat yang cacat. Itu kalimat yang menolak diselesaikan. Karena begitu kita isi objeknya, kita sudah mengecilkan Tuhan. Kita sudah menaruh-Nya di atas timbangan yang bisa kita baca. Padahal Dia tidak muat di timbangan mana pun. Jadi kalimat itu sengaja dibiarkan menggantung—seperti pesan WhatsApp yang cuma “typing…” tapi tidak pernah terkirim, karena tidak ada kata yang cukup.

Tapi ini yang lucu—dan sekaligus agak bikin pusing. Bibir yang sama yang mengucapkan Allahu akbar juga mengucapkan rabbi. Tuhanku. Kata ganti orang pertama. Kita menyapa-Nya langsung, akrab, seperti bicara ke teman sendiri. Padahal baru saja kita akui Dia Maha Besar tanpa batas. Yang Tak Terjangkau kok disapa? Yang Tak Terkurung kok dinamai?

Kalau ini terjadi di dunia pesantren, ini seperti santri yang baru saja menulis esai “Pak Kiai itu manusia paling agung, tidak ada yang menandingi keilmuannya,” lalu di baris berikutnya menulis “Pak Kiai, saya minta izin pulang, uang saku saya habis.” Dua hal yang seolah bertabrakan, tapi ternyata tidak. Justru itulah keindahannya.

Al-Qur’an Tidak Menyelesaikan Paradoks, Ia Menghuninya

Dalam Paper 1 yang baru saja saya luncurkan, saya mengangkat Surah Al-Mulk ayat 1–2. Di sana Allah menyebut diri-Nya tabāraka—Maha Berkah, sumber keberkahan yang tak habis—lalu biyadihi al-mulk, di tangan-Nya segala kekuasaan. Tidak ada pembanding. Tidak ada “Tuhan paling kuat di antara yang kuat.” Tidak ada kategori. Ini yang dalam tradisi disebut tanzīh—transendensi murni. Tuhan tidak bisa disamakan dengan apa pun.

Lalu ayat berikutnya, dalam satu tarikan napas, ditutup dengan dua nama: al-‘Azīz dan al-Ghafūr. Yang Maha Perkasa. Dan Yang Maha Pengampun. Yang satu seolah berkata “Aku tak terjangkau.” Yang lain berkata “Aku dekat, datanglah.”

Al-Qur’an tidak memilih. Tidak mendamaikan. Tidak menyelesaikan. Ia menghuninya. Seperti kiyai yang menjawab pertanyaan santri dengan “iya dan tidak, tergantung”—bukan karena tidak tahu, tapi karena pertanyaannya memang lebih kecil dari jawabannya.

Dua Jalan yang Sama-Sama Buntu Kalau Sendiri

Di sini kita perlu waspada. Ada dua ekstrem, dan keduanya berbahaya.

Pertama, tanzīh tanpa tashbīh. Kalau kita terlalu sibuk menjaga transendensi, Tuhan bisa hilang di balik abstraksi kita. “Penyebab Pertama.” “Wujud Niscaya.” “Yang Absolut.” Semua istilah ini benar, tapi semuanya nama orang ketiga. Kita bicara tentang Tuhan, bukan kepada Tuhan. Akhirnya doa menjadi monolog yang dialamatkan ke… apa? Ke konsep? Konsep tidak bisa disapa. Konsep tidak bisa mendengar. Konsep tidak bisa mengampuni.

Kedua, tashbīh tanpa tanzīh. Kalau kita terlalu sibuk membuat Tuhan mirip kita, Tuhan jadi versi besar dari manusia. Tuhan punya tangan seperti tangan kita, marah seperti marah kita, senang seperti senang kita. Akhirnya doa jadi percakapan dengan manusia yang diperbesar. Ini juga bukan Tuhan Al-Qur’an.

Qur’an memegang keduanya dalam satu ayat: Laysa ka-mithlihi shay’, wa huwa al-Samī’ al-Baṣīr—”Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat” (Q 42:11). Satu kalimat. Dua register. Tanzīh di klausa pertama. Tashbīh di klausa kedua. Tidak dipilih. Tidak diselesaikan. Dihuni.

Batas Berpikir Bukan Kegagalan, Tapi Penolakan

Ada satu hal yang sering saya temui dalam diskusi: orang merasa bahwa karena Tuhan tak terjangkau, maka Tuhan tak dikenal. Karena tak terkurung, maka tak bisa disapa. Ini kekeliruan yang halus.

Batas pemikiran bukanlah kegagalan pengetahuan. Batas pemikiran adalah penolakan atas pengurungan. Kita boleh mengenal tanpa memiliki. Kita boleh menerima tanpa mengurung. Kita boleh berbicara tanpa membatasi.

La tudrikuhu al-abṣār—pandangan tidak menjangkau-Nya (Q 6:103). Tapi ini bukan tata bahasa ketiadaan. Ini tata bahasa kelebihan. Tuhan tidak tersembunyi karena jauh. Tuhan tak terjangkau karena setiap alat penjangkauan kita lebih kecil dari Dia.

Dan di ayat lain: Wa idhā sa’alaka ‘ibādī ‘annī fa-innī qarīb—”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat” (Q 2:186).

Dua ayat ini tidak bertentangan. Mereka adalah dua sisi dari satu realitas: Tuhan yang tak terkurung adalah Tuhan yang dekat.

Jadi, Doa Itu Apa?

Kalau tata bahasa ini benar, maka doa bukanlah aib metafisik. Bukan keberanian makhluk untuk bicara kepada Tuhan yang tidak perlu mendengar. Bukan pula monolog orang yang bicara ke langit kosong.

Doa adalah partisipasi dalam relasi yang Tuhan sendiri yang lebih dulu membangun. Yang Tak Terjangkau telah mengizinkan diri-Nya disapa. Dia memberi Nama-nama agar bisa diseru. Dia menyingkapkan diri tanpa terkurung.

Jadi kalau Abang dan Ning merasa doa itu canggung, merasa “ah, saya ini siapa, kok berani-beraninya bicara ke Tuhan”—ingat: bukan kita yang memulai percakapan ini. Tuhan yang membuka pintunya. Kita hanya masuk.

Dan pintu itu tidak pernah dikunci.

Ini adalah paper pertama dari lima. Paper berikutnya akan membahas tata bahasa Basmalah dan bagaimana du’ā’ bekerja di dalam qadar. InsyaAllah.