Covid-19: Hukum Matilda dan PAUSE

Istilah Hukum Matilda dan PAUSE dikenalkan oleh Andrew Cuomo, Gubernur Negara Bagian New York, Amerika Serikat (USA). Konteksnya, New York telah dinyatakan oleh Cuomo sebagai episentrum Covid-19. Pernyataan ini bukan tanpa dasar: per 23/3/2010, pukul 02.20 GMT, sekitar 23% kasus baru kasus Covid-19 global terjadi di USA, dan 86% kasus baru nasional (USA) terjadi di New York.

Yang perlu dicatat, bagi Cumo kasus baru Covid-19 lebih merefleksikan frekuensi pemeriksaan dari pada gambaran penyebarannya di lapangan. Tetapi itu tidak berarti kasus baru tidak mengindikasikan keadaan lapangan. Cuomo agaknya juga sependapat mengenai ini. Buktinya, atas dasar itu dia melancarkan kampanye Hukum Matilda dan PAUSE secara tegas dan konsekuen. Tulisan singkat ini terkait dengan semangat dan isu kampanye ini,

Dilema Etis

Menurut pengakuan Cuomo, gagasan Hukum Matilda timbul dari pengalaman pribadinya berhubungan dengan ibunya, Matilda. Tidak dijelaskan apakah ibunya ini suspect atau terinfeksi Covid-19 tetapi terkesan sudah berusia lanjut. Yang dijelaskan, Cuomo telah mendiskusikan dengan saudara-saudaranya cara terbaik memperlakukan ibu.

Diskusi itu tanpa diduga telah menimbulkan dilema etis. Di satu sisi, mereka ingin berkhidmat pada ibunda dengan cara normal: datang beramai-ramai untuk menghibur ibu yang agaknya kesepian. Di sisi lain, Cuomo tahu persis cara itu berisiko besar bagi ibunya untuk tertular Covid-19.

Untuk keluar dari dilema itu Cuomo minta nasehat seorang ahli kesehatan yang dipercaya dan dikenal baik. Ahli itu agaknya meyakinkan Cuomo untuk “mengalahkan” pertimbangan etis dan mengedepankan tindakan rasional. Bagi Cumo nasehat ahli ini sangat realistis dan mengilhaminya untuk diterapkannya untuk memerangi penyebaran virus ini dalam kedudukannya selaku gubernur.

Delapan Pasal

Hukum Matilda dapat dikatakan penjabaran dari kebijakan Cuomo yang pada dasarnya diarahkan untuk memastikan agar semua orang selamat dari Covid-19. Kebijakan itu dikenalkan dengan singkatan PAUSE: Policies Assure Uninformed Safety Everyone. Pesan dasar kebijakan ini adalah tanggung jawab sosial seorang individu. Argumen dasarnya adalah pengaruh timbal-balik antara satu sama lain: “What I do affects you, what you do affects me”, kata Cumo.

Hukum Matilda — istilah hukum di sini tepat karena disertai law enforcement yang diberlakukan secara tegas dan tanpa pandang buku– terdiri dari delapan butir atau pasal aturan dalam bahasa yang sangat sederhana dan mudah dipahami (sehingga tidak perlu diterjemahkan). Ke delapan pasal itu adalah:

  • Remain indoor.
  • Can go outside for isolatory exercise.
  • Pre-screen all visitors and aides by taking their temperature.
  • Do not visit households with multiple people.
  • All vulnerable persons should wear a mask when in the company of others.
  • To greater possible, everyone in the presence vulnerable people should wear a mask.
  • Always stay at least six feet away from individuals.
  • Do not take public transportation unless urgent and absolutely necessary.

Butir ke-8 agaknya belum dapat diterapkan di Indonesia termasuk Jabodetabek. Butir ke-2 agaknya sesuai dengan budaya kita punya “bakat” menyepi, paling tidak dahulu kala.

Upaya Kongkret

Oleh Cuomo, delapan pasal Hukum Matilda itu diterjemahkan dalam berbagai upaya kongkret dengan pengawasan ketat dan transparan. Upaya itu termasuk:

  • memperkuat kapasitas rumah sakit,
  • menutupi kelangkaan medical supply khususnya ventilasi yang ternyata sangat serius bagi USA (ini di luar dugaan penulis),
  • meningkatkan ketersediaan tempat tidur rumah sakit,
  • meningkatkan frekuensi uji gejala terinfeksi Covid-19,
  • memastikan ketersediaan kebutuhan hidup yang esensial bagi masyarakat,
  • kampanye untuk mengabaikan rumor tak-berdasar, dan
  • (ini yang dia sangat tegaskan) memupus kepercayaan keliru dari kalangan muda bahwa mereka imun dan tidak akan menularkan virus.

Mengenai yang terakhir ini dia mengemukakan argumen ilmiah: 54% pasien Covid-19 di rumah sakit New York berusia 18-49 tahun.

Pujian dan Himbauan Bagi Warga

Selain melakukan upaya kongkret sebagaimana diilustrasikan di atas, Cuomo dalam salah satu siaran pers tidak lupa untuk memuji serta menyatakan terima kasih tulus kepada kelompok masyarakat yang digelarinya pahlawan sehari-hari (everyday heroes). Mereka termasuk pekerja kesehatan, grosir, pekerja apotek, pekerja transportasi publik, pemadam kebakaran, dan pengasuh anak.

Kepada warga Cuomo mengajak untuk merenungkan bagaimana mulia dan indahnya jiwa para pahlawan ini. Dia juga mengajak warganya untuk melakukan apa yang disebutnya praktik kemanusiaan (practice humanity): murah senyum, murah hati, rendah hati, peduli orang lain, bersikap lembut dan banyak sabar

Ini baru gubernur!

*****

Catatan: Tabulasi dan grafik sederhana mengenai sebaran geografis kasus Covid-19– antar negara untuk level global dan antar negara-bagian untuk USA — dapat diakses di sini.

Covid-19 Update: Pergeseran Episentrum

Menurut satu sumber yang dapat dipercaya, per tanggal 20 Maret 2020 pukul 10.01 GMT, total kasus kumulatif Covid-19 secara global adalah 246,774 kasus. Dari total ini sebanyak 1,880 di antaranya kasus baru dalam 24 jam terakhir. Bacaan terhadap tren kasus baru per hari menunjukkan wabah Covid-19 belum akan berakhir dalam waktu dekat walaupun episentrumnya beralih ke luar China.

Yang menarik untuk dicatat, dari 18,880 total kasus baru itu, sebanyak 577 kasus atau 42% adalah sumbangan USA. Yang lebih menarik lagi untuk dicatat, dari total kasus baru itu, sebanyak 1,207 kasus atau 88% adalah sumbangan negara-negara industri maju termasuk Luxemburg (149 kasus), Australia (120), Germany (119), Czechia, (80), Denmark (75) dan USA (577). Ini memberikan indikasi kuat bahwa episentrum kasus Covid-19 telah bergeser dari China ke kawasan Barat termasuk USA. Selain itu, sebanyak tujuh negara Barat (termasuk USA) menyumbangkan lebih dari 52% dari total kasus terinfeksi Covid-19 yang meninggal.

… episentrum kasus Covid-19 telah bergeser dari China ke kawasan Barat termasuk USA.

…..kawasan ini menyumbang lebih dari 52% total kasus terinfeksi Covid-19 yang meninggal.

Tabel 1 menyajikan 10 negara yang memberikan sumbangan terbesar terhadap kasus baru Covic-19. Secara bersamaan, 10 negara ini memberikan sumbangan lebih dari 88% terhadap kasus baru pada level global. Yang juga layak catat, dengan 60 kasus baru, Indonesia termasuk kelompok 10 penyumbang terbesar kasus baru global, rangking ke-8 setelah Denmark (75 kasus baru) dan sebelum Thailand (50 kasus baru).

Tabel: 10 Negara Terbesar Kasus Covid-10

…. dengan 60 kasus baru, Indonesia termasuk kelompok 10 negara penyumbang terbesar kasus baru global, rangking ke-8 setelah Denmark (75 kasus baru) dan sebelum Thailand (50 kasus baru).

Ada pembelajaran baru dari kasus USA: kelompok penduduk remaja-dewasa muda (18-54) yang belum tergolong berusia lanjut ternyata juga rentan terpapar Covid-19. Ini counterfactual terhadap conventional wisdom bahwa hanya yang berlanjut usia yang rentan terhadap paparan Covid-19. Temuan ini tentunya penting bagi strategi kampanye sadar-bahaya-Covic-19 yang dilaporkan cenderung dianggap enteng oleh kalangan muda-usia, paling tidak dalam pelajaran social distancing.

Wallahualam…@

Covid-19, Penjarakan Sosial, dan Kepasrahan

WHO secara resmi menyatakan penyebaran Covid-19 sudah berstatus pandemik; artinya, telah menyebar luas bahkan mengglobal. WHO, dalam rangka meredam penyebaran ini, memberikan arahan antara lain berupa anjuran agar mencuci tangan secara teratur dan menyeluruh dengan air mengandung alkohol atau sabun dan air dan tetap melakukan penjarakan sosial. Sebagai lembaga internasional, WHO tentunya tidak sembarang memberikan arahan dan dapat dipastikan berbasis pengetahuan (scientific-based)

Dalam konteks ini istilah penjarakan sosial merupakan terjemahan dari istilah social distancing yang secara sederhana berarti menjaga jarak antara Anda dengan orang lain yang dalam kasus ini berjarak paling tidak enam kaki. Istilah ini sangat berbeda dengan istilah jarak sosial (social distance) yang menggambarkan jarak antara kelompok dalam masyarakat karena perbedaan strata sosial-ekonomi, budaya, agama, gender, atau yang lainnya.

Penjarakan sosial dalam praktik menyangkut upaya yang masif termasuk penundaan penyelenggaraan event-event besar olahraga, penutupan sekolah atau kantor, dan perlambatan arus lalu-lintas udara sehingga petugas yang berwenang dapat menelusuri dan mengekang penyebaran virus itu. Upaya-upaya itu dapat dipastikan mengurangi laju kegiatan ekonomi dan interaksi sosial.

Penjarakan sosial dalam arti itu dalam perspektif agama (Islam), sejauh pemahaman penulis, adalah sesuatu yang perlu dilakukan sebagai upaya untuk menghindari “satu takdir-Nya” ke “takdir-Nya yang lain” yang lebih baik. Tetapi dalam perspektif yang sama, upaya itu diharapkan tidak sampai: (1)  menimbulkan sikap berburuk sangka kepada rencana-Nya yang seringkali di luar kemampuan manusia untuk memahaminya, (2) mengurangi kesabaran untuk menerima cobaan-Nya, (3) mengurangi doa karena sikap sombong karena keyakinan-berlebihan mengenai kemampuan manusiawi (yang sangat tidak rasional mengingat alamiah Covic-19 masih “misteri” bahkan dalam standar ilmiah), serta (4) mengurangi keyakinan bahwa musibah tidak akan menimpa kita kecuali dengan izin-Nya (QS 9:51):

Katakanlah (Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah kepada kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakkallah orang-orang beriman.

Singkatnya, menghadapi pandemi virus kita perlu melakukan segala upaya masuk akal dan berbasis pengetahuan, tanpa mengurangi kesabaran dalam berdoa untuk memperoleh uluran tangan-Nya yang penuh berkah. Akhirnya, ini yang berat, mengakui kelemahan manusiawi kita serta siap menerima skenario terburuk di hadapan takdir-Nya sesuai nasehat Ibu Ibnu Attaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam aforisme ke-3:

 “Kekuatan keinginan dan semangat yang membara tidak akan mampu mengoyak tirai ketentuan takdir”

Wallahualam….@

 

Wahyu Pertama Al-Quran dalam Perspektif Seorang Agnostik

Para ulama sepakat wahyu pertama Al-Quran adalah sebagaimana diabadikan dalam QS (96:1-5). Para ulama juga sepakat proses pewahyuan itu sangat memberatkan bagi Nabi SAW: “Ia (Malaikat Jibril) pun memegangku (Nabi SAW) dan mendekapku dengan erat untuk yang ketiga kalinya hingga aku pun sangat kepayahan”. Dasar pandangan para ulama adalah sejumlah Hadits yang dapat diandalkan termasuk yang diriwayatkan oleh Muslim (No.: 2277) dan Bukhari (No.:6982).

Lanjutan tulisan ini bukan mengenai substansi wahyu pertama, tetapi mengenai bagaimana respons Nabi SAW ketika dan setelah menerimanya; bukan menurut pandangan ulama, tetapi dari perspektif seorang cendekiawan Yahudi yang juga mengaku seorang psikolog dan agnostik. Cendekiawan yang dimaksud adalah Hazelton Lesly. Sebagai catatan, agnostik adalah orang yang beranggapan tidak ada bukti yang cukup untuk mengakui atau tidak mengakui adanya Tuhan. “Agama” agnostik bersama ateis tergolong kelompok yang mengaku tidak menganut agama tertenru (unaffiliated) yang menurut PEW Research Center adalah agama terbesar ke-3 setelah Kristen dan Islam. Untuk rujukan lihat antara lain tautan ini: https://uzairsuhaimi.blog/2018/05/27/muslim_pop_challenge.

Bagi Hazelton peristiwa pewahyuan adalah “sesuatu di luar pemahaman manusia, hanya bisa disebut kekaguman yang mengerikan (a terrible awe)” dan ketakutan adalah “satu-satunya respons yang waras, satu-satunya respons manusiawi”. Hal itu dikemukakan Hazelton dalam suatu ceramah umum. Dia agaknya fokus pada sisi manusiawi dari sosok Nabi SAW, sisi yang juga ditegaskan dalam QS (18:110): “Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya manusia biasa seperti kamu, yang telah menerima wahyu)””.

Dalam ceramah yang sama ia mengemukakan pandangannya mengenai bagaimana kira-kira suasana psikologis Nabi SAW ketika turun dari gunung (Goa Hira) setelah menerima wahyu pertama:

…. Muhammad tidak turun dari gunung (Goa Hira) seolah berjalan di udara. Dia tidak berlari sambil berteriak, “Haleluya!” dan “Berkatilah Tuhan!” Dia tidak memancarkan cahaya dan sukacita. Tidak ada paduan suara malaikat, tidak ada musik, tidak ada kegembiraan, tidak ada ekstasi, tidak ada aura emas yang mengelilinginya, tidak ada perasaan mutlak, peran yang ditahbiskan sebelumnya sebagai utusan Allah…

… Muhammad did not come floating off the mountain as though walking on air. He did not run down shouting, “Hallelujah!” and “Bless the Lord!” He did not radiate light and joy. There were no choirs of angels, no music of the spheres, no elation, no ecstasy, no golden aura surrounding him, no sense of an absolute, fore-ordained role as the messenger of God…

Demikian gaya retorika Hazelton. Dia tidak terlalu tertarik dengan apa yang dapat diantisipasi terjadi, tetapi dengan apa yang tidak terjadi sekalipun mungkin diharapkan. Selanjutnya ia menambahkan:

… Dalam kata-katanya sendiri yang dilaporkan, dia pada awalnya yakin bahwa apa yang terjadi tidak mungkin nyata. Paling-paling, pikirnya, itu pasti halusinasi – tipuan mata atau telinga, mungkin, atau pikirannya sendiri bekerja melawannya.

… In his own reported words, he was convinced at first that what had happened couldn’t have been real. At best, he thought, it had to have been a hallucination — a trick of the eye or the ear, perhaps, or his own mind working against him.

Yang layak dicatat, pandangan Hazelton ini sejalan dengan Hadits Bukhari (No.: 6982):

… Beliaupun pulang dalam kondisi gemetar dan bergegas hingga masuk ke rumah Khadijah. Kemudian Nabi berkata kepadanya: Selimuti aku, selimuti aku. Maka Khadijah pun menyelimutinya hingga hilang rasa takutnya. Kemudian Nabi bertanya: ‘wahai Khadijah, apa yang terjadi denganku ini?’ Lalu Nabi menceritakan kejadian yang beliau alami kemudian mengatakan, ‘aku amat khawatir terhadap diriku’. Maka Khadijah mengatakan, ‘sekali-kali janganlah takut! Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Sungguh engkau adalah orang yang menyambung tali silaturahmi, pemikul beban orang lain yang susah, pemberi orang yang miskin, penjamu tamu serta penolong orang yang menegakkan kebenaran….

Wallahualam…@

 

Pre-Islamic Arabs

Pre-Islamic Arabs: Understanding the Historical Roots of the Emergence of Islam

 

If you are interested in understanding the historic roots of Islam,  but are too busy to read a history books that are for you, either too thick in volume, or too academic in orientation, this is the right place for you.

In the free-accessed article here you will find a simple description of how the emergence of Islam in 610 CE had been preceded by two major factors: (1) a weakening of Christendom (external factor) and (2) an unheard demand for an enlightening worldview within the Arab in general notably at grass root level (internal factor).

You need less than 15 minutes to read it all.

Click here to access the article

Pengetahuan Primordial

Istilah primordial dalam tulisan ini mengacu pada pengetahuan sesuatu sudah pernah dan selalu kita ketahui: sudah pernah, karena kita ketahui sejak zaman azali, era pra-ada kita, atau mungkin sesaat sebelum kita ada; selalu karena pengetahuan itu tidak akan pernah hilang sepenuhnya.

Sudah Lupa

Tetapi kita sudah melupakan zaman itu karena kejadiannya sudah sangat lama. Dalam hal ini Aivanhov menarasikannya secara apik sebagai berikut:

You already know many things, but you do not know that you know. This knowledge comes from a very long time ago, when you still dwelt in the bosom of the Eternal, in light, love and beauty.

Anda sudah tahu banyak hal, tetapi Anda tidak tahu bahwa Anda tahu. Pengetahuan ini berasal dari waktu yang sangat lama, ketika Anda masih berdiam di pangkuan Abadi, dalam cahaya, cinta dan keindahan.

Substansi Pengetahuan

Terkait dengan substansi pengetahuan primordial, Aivanhop menyebut asal-usul ilaihan dan misi kita di bumi ini:

There you learned everything about your divine origin, your predestination, the work you would have to do on earth to give expression to all the powers of your soul and your spirit.

Di sana Anda mempelajari segala sesuatu tentang asal usul ilahi Anda, takdir Anda, pekerjaan yang harus Anda lakukan di bumi untuk memberikan ekspresi kepada semua kekuatan jiwa dan roh Anda.

Kenapa Lupa

Bagi Aivanhop, alasan kita melupakan pengetahuan primordial adalah bahwa kita terlalu fokus pada pengetahuan yang tidak akan bertahan lama:

True, there are so many interesting things in the world to see, hear, read and so on. But try, all the same, not to focus too much on subjects that cannot help you change your life; apply yourself instead to improving the way you live. For that is the way you will attract true knowledge. Otherwise, what will happen is this: you will spend your time accumulating knowledge by all the means at your disposal – books, radio, cinema, television – but what you take in you will not retain for long.

“Benar, ada begitu banyak hal menarik di dunia untuk dilihat, didengar, dibaca, dan sebagainya. Tetapi cobalah… untuk tidak terlalu fokus pada mata pelajaran yang tidak dapat membantu Anda mengubah hidup Anda; terapkan diri Anda sebagai gantinya untuk meningkatkan cara hidup Anda. Karena itulah cara Anda akan menarik pengetahuan sejati. Kalau tidak, yang akan terjadi adalah ini: Anda akan menghabiskan waktu mengumpulkan pengetahuan dengan segala cara yang Anda inginkan – buku, radio, bioskop, televisi – tetapi apa yang Anda peroleh tidak akan bertahan lama.

Weltanshauung Al-Quran

Pandang-dunia, world view atau tepatnya (secara epistemologi) Weltanshauung (Bahasa Jerman, dengan huruf W kapital) Al-Quran terkait pengetahuan primordial dapat dikatakan khas. Terkait dengan zaman azali ketika pengetahuan primordial itu kita kuasai, misalnya, Al-Quran mengilustrasikan kita ketika bahkan belum punya bahkan telinga (samii’an) dan mata (bashira) (QS (76:1). Terkait dengan substansi pengetahuan primordial, sebagai ilustrasi lain, Al-Quran menyebut pengetahuan mengenai Rabb SWT dan kesaksian bahwa se. iap kita memberikan kesaksian mengenai posisi kehambaan kita di hadapan-Nya (QS 7:172):

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku in Tuhanmu”? Mereka menjawab “Betul (engkau Tuhan kami), kami bersasi”. (Kami lakukan yang demikian itu agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini”.

Bagaimana mengenai alasan kita melupakan primordial? Al-Quran mengisyaratkan antara lain  ketebalan daki di hati kita karena kedurhakaan (Arab: fujjar) kepada-Nya.

Wallahualam…@

Covid-19: Tren dan Sebaran

Wabah Covid-19 masih atau semakin memprihatinkan. Tertanggal 23 Februari 2020, per pukul 22.50[1], total kasusnya dilaporkan 78,997. Dari total itu sebanyak 2,470 meninggal dan 23,425 disembuhkan. Jadi sejauh ini ada sebanyak 25,895 (=2,470+23,425) kasus yang sudah ditutup sehingga outcome-nya dapat diketahui, sembuh atau meninggal. Sisanya sebanyak 53,102 kasus statusnya masih kasus aktif yang sekitar 22% di antaranya dilaporkan dalam keadaan serius atau kritis[2].

Berdasarkan angka-angka di atas, angka keparahan penyakit, diukur dengan angka fatalitas kasus (CFR), dapat diperkirakan yaitu sekitar 10% (=2,470/25,895). Angka ini perlu dilihat sebagai hasil perhitungan dengan cara paling sederhana[3] dan sangat sementara karena kasusnya masih berlangsung dengan perkembangannya menurut para ahli masih belum dapat diprediksi secara meyakinkan.

Angka CFR=10% sebenarnya relatif rendah dibandingkan dengan CFR untuk MERS atau SARS, misalnya[4]. Tetapi yang paling mengkhawatirkan dari Covid-19 memang bukan tingkat keparahan[5], tetapi tren dan sebaran geografisnya.

Tren

Grafik 1 menyajikan tren total kasus Covid-19 per hari dalam kurun waktu sebulan dari 23/2-23/2, 2020. Kasusnya meningkat dari sekitar 845 menjadi sekitar 80,000 pada 23 Februari 2020, atau meningkat lebih dari 90 kali. Dalam dua hari terakhir, 22-23 Februari terjadi pertambahan sebanyak 346 kasus (pada grafik tidak tampak). Singkatnya, kasus Covid-19 masih terus meningkat. Sampai hari ini.

Grafik: Total Kasus COVID-19 (23/1-23/2, 2020)

Sebaran

Wabah Covid-19 menjangkau lebih dari 30 negara (lihat Tabel). Pada tabel itu tampak layak jika Korea Selatan dan Italia akhir-akhir ini dilaporkan memperlihatkan “kepanikan” karena kasus dan angka besar angka fatalitasnya (CFR) relatif tinggi.

Tabel: Sebaran Geografis Kasus Covid-19 dan Statusnya

(Keadaan 23/2/20120, Pukul 22.50)

*****

Menanggapi perkembangan wabah Covid-19, dua orang ahli[6] memberikan opini sebagai berikut:

  • I think it is likely we will see a global pandemic. If a pandemic happens, 40% to 70% of people world-wide are likely to be infected in the coming year. What proportion is asymptomatic, I can’t give a good number.
  • It could infect 60% of global population if unchecked.

Mereka bukan orang sembarangan. Yang pertama adalah Prof. Marc Lipsitch, Prof. of Epidemiology, Harvard School of Public Health, Head, Harvard Ctr. Communicable Disease Dynamics (14/2020). Yang kedua, Prof. Gabriel Leung, Expert on coronavirus epidemics Chair of Public Health Medicine, Hong Kong University (11/2/ 2020).

Opini ahli itu sebagaimana dikutip di atas jelas skenario buram. Di sisi lain, skenario itu dalam bahasa agama (Islam) bisa dikategorikan itu takdir. Tugas kita secara kolektif “menghindari suatu takdir dan beralih ke takdir lain yang lebih baik” (Hadits Nabi SAW). Aparat WHO, lembaga karantina, para ahli dalam rumpun ilmu-ilmu kesehatan, dan pihak lain yang terkait, atas nama kita secara jamaah, telah berupaya keras agar skenario buram itu tidak sampai terjadi. Walaupun demikian perlu disadari bahwa dalam takdir ada semacam misteri, semacam “pagar” menurut istilah Ibnu Atha’illah As-Sakandari dalam dalam Al-Hikam aforisme ke-3:

gr2

“Kekuatan semangat (azam, cita-cita, ikhtiar) tidak dapat memecahkan pagar takdir”.

Wallahualam…@

[1] Sumber: https://www.worldometers.info/coronavirus/coronavirus-cases/

Catatan: Dalam kasus virus ini penyebutan jam laporan diperlukan karena perubahan status kasus dapat berubah cepat. Sebagai ilustrasi, per pukul 10 tanggal yang sama total kasus yang dilaporkan per pukul 10 sebanyak 78.889 dan ini berarti penambahan 109 kasus 109 dalam waktu 12 jam.

[2]https://www.worldometers.info/coronavirus/#countries

[3] Artikel mengenai metode estimasi CFR untuk kasus yang masih berlangsung yang mungkin paling dapat diandalkan secara statiistik tetapi relatif kompleks dapat diakses di sini: https://academic.oup.com/aje/article/162/5/479/82647

[4] https://www.worldometers.info/coronavirus/coronavirus-cases/

[5] Mengenai tingkat keparahan lihat https://uzairsuhaimi.blog/2020/02/21/covid-19-dan-angka-fatalitas/

[6] https://www.worldometers.info/coronavirus/coronavirus-expert-opinions/