Al-Faqr: Kemiskinan Spiritual

Sumber Gambar: Geogle

Tidak ada manusia yang mampu mandiri dalam arti tidak butuh atau tergantung pada orang lain. Ketika masih janin ia butuh ruang rahim ibu, menjelang lahir butuh penolong persalinan, ketika bayi butuh ASI atau non-ASI, ketika kanak-kanak butuh mentor untuk belajar merangkak-berdiri-berjalan-lari, ketika remaja butuh pendidik, ketika berkarier butuh atasan-rekan-bawahan, ketika berbisnis butuh rekan-klien, ketika berkeluarga butuh tetangga, ketika membesarkan anak butuh pendamping, ketika jompo butuh penolong, ketika meninggal butuh orang lain untuk memandikan, mengafankan, membawa ke liang kubur dan menguburkan. Singkatnya, dalam seluruh siklus hidupnya– sejak janin sampai ajal– manusia butuh atau memiliki ketergantunga penuh pada pihak lain. Ini fakta yang tak-terbantahkan.

Istilah al-faqr merujuk pada kesadaran mengenai ketergantungan penuh yang dimaksud: “Wahai manusia! Kamu yang memerlukan (teks: antumul fuqoro, jamak dari faqir)  Allah, dan Dialah Yang Maha kaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha terpuji (QS 35:15)”.

Apa hebatnya istilah ini? Ceritanya dapat panjang tetapi pointers berikut diharapkan dapat membantu memahami istilah ini.

    • Nabi SAW bergelar “berbudi pekerti agung” dari Dia SWT (QS 68:1-4). Apakah Nabi SAW bangga dengan gelar luar biasa ini. Beliau tidak mengungkapkannya.
    • Sejak remaja Nabi SAW bergelar al-amien, orang yang dapat dipercaya. Beliau telat berangkat hijrah ke Madina antara lain, konon, karena merasa belum menyelesaikan soal titipan barang berharga para tajir dan pembesar kaum kuffar (artinya, orang yang benar-benar kafir) Quraisy: bahkan pihak yang paling memusuhi beliau “mempercayakan” barang berharga kepadanya. Apakah Nabi SAW bangga dengan gelar luar biasa ini. Beliau tidak mengungkapkannya.
    • Nabi SAW masyhur karena sifat pemaafnya. Beliau adalah orang pertama yang menjenguk seorang ibu yang sakit padahal ketika sehat dia sangat rajin meludahi wajah beliau yang agung itu. Ketika dilempari batu penduduk Thaif sehingga berdarah dan membuat Malaikat “marah” menawarkan untuk meluluh-lantahkan penduduk itu.  Apa respons beliau? Memohonkan ampunan bagi mereka. Apakah Nabi SAW bangga dengan sifat uar biasa ini. Beliau tidak mengungkapkannya.
    • Nabi SAW masyhur karena ungkapan rasa syukurnya. Sekalipun sudah dijamin ampunan oleh-Nya tetapi beliau rajin salat malam sampai kakinya bengkak. Kenapa? Sebagaimana diungakpkannya, semata-mata untuk menyatakan rasa syukur. Apakah Nabi SAW bangga dengan periku luar biasa ini. Beliau tidak mengungkapkannya.
    • Nabi SAW masyhur karena kerendahan hatinya. Dalam suatu kesempatan ia menceritakan kehebatan pada nabi-nabi sebelumnya. Karena tidak menceritakan dirinya sendiri para sahabat yang tengah menyimak bertanya: “Lalu apa kehebatanmu? Beliau hanya menjawab singkat? “Yatim”. (Beliau memang sudah yatim bahkan ketika belum dilahirkan dan sudah piatu ketika usia kanak-kanak.)

Lalu, adakah ciri beliau yang membuatnya bangga? Ternyata ada dan itu– mungkin di luar kebanyakan dugaan– al-faqr:

“Dalam bukunya “Sirr al-Asrar” al-Ghawth al-Azam Shaikh Abdul Qadir Jilani secara komprehensif…

“Nabi berkata: “Faqr adalah kebanggaanku dan sumber kehormatanku”. Di sini, Faqr tidak berarti kemiskinan sebagaimana biasa dipahami, melainkan Faqr spiritual; yakni, hanya bergantung pada Allah. Selain itu, itu berarti melepaskan setiap kesenangan dan kegembiraan dari dalam kecuali kesenangan kedekatan Ilahi… “” [Sumber: INI]:

Berani meneladani beliau?

Wallahualamu bimuradih….@

 

 

Nilai Anak, Migrasi dan Rahmat Tersembunyi

Sumber Gambar: Google

Cara sederhana untuk mengenali kemajuan suatu negara adalah dengan mencermati karakteristik penduduknya. Negara-negara maju bercirikan angka kelahiran dan angka kematian yang rendah; sebaliknya, negara-negara berkembang pada umumnya– tidak selalu– bercirikan angka kelahiran dan angka kematian tinggi.

Salah satu faktor yang melatarbelakangi keadaan ini terkait dengan nilai anak (value of children) bagi orang tua. Di negara-negara maju anak dinilai lebih sebagai beban dari pada sumber daya sehingga bagi orang tua yang penting kualitas anak, bukan kuantitasnya. Bagi mereka arus ke kayaan (flow of wealth) dari arah orang tua ke anak.

Pandangan orang tua di negara-negara berkembang berbeda. Bagi mereka anak berfungsi sebagai buruh-murah dan jaminan hari-tua. Jadi, arus kekayaan dari anak ke orang tua. Dengan cara-pandang ini orang tua menilai memiliki banyak anak menguntungkan, “banyak anak, banyak rezeki”.

Tapi perbedaan pandangan mengenai nilai anak pada level global kini tidak terlalu signifikan. Ini sebagian terkait dengan proses penerimaan nilai-nilai “Barat” secara umum pada level global.  Sejalan dengan ini, profil kependudukan global kini boleh dikatakan banyak dipengaruhi oleh profil kependudukan dua negara “raksasa” yang memiliki angka kelahiran dan angka kematian yang rendah yaitu Cina dan Indonesia.

Di negara-negara maju angka-angka kelahiran sudah lebih rendah dari “tingkat-pergantian” (replacement level). Artinya? Artinya, anak perempuan yang akan menggantikan fungsi reproduksi ibunya jumlahnya lebih sedikit dari jumlah ibu mereka. Dampaknya? Dampaknya, jika keadaan ini dibiarkan,  jumlah penduduk akan terus berkurang sebelum akhirnya habis.

Karena memiliki angka kelahiran yang rendah, negara-nega maju (termasuk Jepang dan Korea) kini menghadapi masalah struktur umur penduduk. Masalah ini ditandai oleh berkurangnya proporsi usia muda dan meningktnyua proporsi usia tua.  Ageing. Ini berarti meningkatnya rasio-ketergantungan-tua (old-dependency-ratio) yang harus ditanggung oleh penduduk usia kerja. Ini jelas tidak menguntungkan secara ekonomi: sulitnya meningkatkan pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju, bukan karena salah-kelola governance atau kurang produktifnya tenaga kerja, tetapi karena tinginya angka rasio-ketergantungan-tua itu. Jadi, agaknya, tidak ada solusi-ekonomi dalam pengertian umum kata ini.

Penyelesaiannya? Solusi demografi: datangkan migran-masuk berusia produktif dalam arti-ekonomi maupun reproduksi dalam jumlah yang signifikan. Sesederhana itu!

Arus migrasi yang dimaksud kini tengah melanda kawasan negara-negara maju di Eropa Barat. Migran terutama dari kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara yang mayoritas Muslim, tapi juga dari kawasan Eropa Timur yang relatif miskin secara ekonomi. Sayangnya, Eropa Barat melihat arus migrasi ini lebih sebagai sumber masalah, khususnya atas nama keamanan dan ketahanan identitas nasional yang memicu hidup-suburnya ideologi nasionalise sempit dan ekslusif. Mungkin dengan sedikit kekecualian termasuk Kanselir Jerman dan PM Kanada, para petinggi “Barat” enggan melihat arus imigrasi ini sebagai “rahmat tersembunyi” yang dapat mengatasi secara efektif dan efisien masalah kependudukan mereka.

Bagi Eropa masalah ini serius sebagaimana diingatkan Tariq Ramadan:

In its haste to bolster nationalism, in its obsession with security, Europe is losing its soul.

Every country in Europe needs immigrants for their economic survival.

Wallhualam….@

 

 

 

Wallahualam… @

Substansi Puasa

Sumber gambar: Google

Umat Islam sedunia tengah berada dalam bulan puasa yang semaraknya terasa di mana-mana.

    • Hampir semua masjid menyediakan buka gratis. Ini dimungkinkan karena Umat “tengah” dermawan.
    • Hampir semua masjid ramai dibanjiri jamaah khsususnya untuk Salat sunat tarawih, sekali pun trennya bisanya berkurang sesuai dengan perjalanan waktu.
    • Pembaca Al-Quran banyak ditemukan bahkan di ruang publik.
    • Ceramah-ceramah keagamaan dalam berbagai corak, bentuk dan gaya semarak.

Semua itu, dalam perspektif sosial-politik-keagamaan, tentu positif dan patut disyukuri. Pertanyaannya, apakah dari sisi kualitas trennya meningkat?

    • Apakah semangat berbagi sudah semakin merefleksikan akhlak Umat dalam arti dilakukan melampaui hasrat pahala yang dijanjikan?
    • Apakah semarak tarawih semakin menumbuhkan kesadaran Umat mengenai keberadaan Rabb SWT yang senantiasa hadir mengawasi, kekerdilan-diri di hadapan-Nya, dan ketergantungan akan rahmat-Nya?
    • Apakah semarak baca Al-Quran meningkatkan pemahaman Umat mengenai isi serta pesan moral-spiritual Kitab Suci itu? Umat semakin mendekati akhlak qurani? Umat semakin menyadari keterbatasan akal di hadapan Wahyu?
    • Apakah semarak ceramah keagamaan semakin dimuati ajaran-ajaran yang lebih substantif dalam arti melampaui topik kaifiat (tata cara berpuasa) dan pahala puasa?

Daftar pertanyaan, masih dapat diperpanjang,  menggambarkan suasa batin dan keprihatinan penulis. Dalam hal ini penulis bisa jadi subyektif tetapi bukan sendirian. Tariq Ramadan, sebagai contoh, telah lama mengeluhkan keprihatinannya mengenai praktik puasa oleh Umat. Baginya puasa pada Bulan Ramadan ini paling meluas tetapi ajarannya diminimalkan bahkan dikhianati oleh Umat. Ini katanya:

The month of Ramadan is the world’s most widespread fast and yet its teachings are minimised, neglected and even betrayed (through literal application of rules that overlooks their ultimate objective).

Dari kutipan di atas tampak bahwa aspek puasa, menurut Tariq Ramadan, yang kurang disadari Umat adalah tujuan akhir dari puasa. Sebagai catatan, Tariq Ramadan (lahir 1962) adalah seorang akademisi, penulis, ahli filsafat dan profesor berkebangsaan Swiss yang juga cucu Hassan al-Banna, pendiri Ihkawanul Muslimin (Mesir).

Intelektual muda ini mengajak Umat untuk melihat ibadah puasa lebih sebagai wahana untuk latihan spiritual dalam arti luas. Ajakan ini ditegaskannya dalam kutipan-kutipan berikut yang layak direnungkan:

    1. Ramadan is, in its essence, a month of humanist spirituality.
    2. The philosophy of fasting calls upon us to know ourselves, to master ourselves, and to discipline ourselves the better to free ourselves. To fast is to identify our dependencies, and free ourselves from them.
    3. Instead of looking outside of ourselves and counting potential enemies, fasting summons us to turn our glance inward, and to take the measure of our greatest challenge: the self, the ego, in our own eyes and as others see us.
    4. Fasting is, first and foremost, an exercise for identifying and managing adversity in all its forms. With faith, in full conscience, fasting calls women and men to an extra degree of self-awareness.
    5. We must master our egoism, and through this mastery, step outside ourselves and educate ourselves in giving. Fasting requires that we rediscover all that is alive around us, and reconcile ourselves with our environment.
    6. The month of Ramadan is the world’s most widespread fast and yet its teachings are minimised, neglected and even betrayed (through the literal application of rules that overlooks their ultimate objective).

Posting lain mengenai puasa dapat diakses di SINI.

Wallahualam….@

 

 

Menengok Dunia Makna Bersama Rumi

Sumber gambar: Google

Dalam satu kesempatan kongkow-santai, seorang teman yang ahli perilaku binatang buas menjelaskan perbedaan respons anjing dan singa ketika kita melemparkan sesuatu ke arah mereka. Anjing sangat bersemangat untuk segera mengetahu apa dilemparkan, makanan atau batu, misalnya. Singa tidak terlalu peduli dengan benda yang dilemparkan, ia alih-alih fokus pada “air muka” pelempar untuk memahami tujuannya melemparkan sesuatu ke arahnya. Bagi penulis penjelasan ini memukau. Tetapi yang lebih memukau lagi adalah ungkapan teman tadi: “Anjing bernafsu dengan dunia bentuk, singa fokus dengan dunia makna”.

Ungkapan itu jelas berlebihan: bagaimana mungkin singa memahami makna. Tapi ungkapan berlebihan itu jelas bukan tanpa maksud. Ia bermaksud menjelaskan substansi hakikat segala sesuatu yang mengandung dua unsur berpasangan: siang-malam, bumi-langit, pria-wanita, gelap-terang, lahir-batin, pandangan eksoterik-esoterik, dan sebagainya.

Contoh terakhir, pandangan eksoterik-esoterik, terkait dengan pandangan keagamaan. Kebanyakan kita, menurut teman tadi, memiliki pandangan eksoterik sehingga “merasa puas” jika telah menunaikan ajaran agama yang telah memenuhi syarat dan kaifiat (tata-cara) yang sesuai hukum syar’i. Kalau wudu, misalnya, paling tidak dia membasuh muka tangan dan kaki paling tidak sekali.

Bagi yang berpandangan esoterik, praktik wudu semacam itu sudah memenuhi “syarat yang perlu” tetapi “tidak cukup”. Ia memandang fungsi wudu jauh lebih dalam dan mendalam (deep and profound) dari sekadar persoalan Fiqh. Baginya, wudu merupakan prosesi membangun kesiapan-spiritual dalam rangka menghadapi Rabb SWT yang Mahasuci serta melepaskan diri dan terbebas dari semua hal yang bersifat duniawi.

Dengan perspektif semacam itu orang yang berpandangan esoterik mampu melihat makna-batin, dimensi sosial serta makna spiritual dari setiap ajaran agama.

…. makna-batin, dimensi sosial serta makna spiritual dari setiap ajaran agama

Dalam konteks ini, Iman Al-Gazali melalui karya monumentalnya Ihya ulumuddin, dapat dilihat sebagai bentuk ajakan untuk “menghidupkan” ilmu-ilmu agama dengan muatan spiritual. Agaknya, Imam ini melihat praktik ibadah oleh Umat dalam eranya terlalu bersifat mekanik. Wallahualam.

Dengan alur pikir serupa, Rumi melalui karya-karyanya juga mengajak pembacanya ke arah yang sama. Nikmati saja sebagian karyanya berikut ini:

Lupakanlah yang tampak, masuklah ke dalam yang tak-tampak. Di sana kalian akan menemukan perbendaharaan yang tiada tara (Matsnawi I 683).

Jika hakikat segala sesuatu telah tersingkap, maka Nabi– yang diberkati dengan ketajaman mata hati, yang disinari dan menyinari– tidak pernah mengajukan permohonan ini, “Ya Tuhan, tunjukkan pada kami segala sesuatu sebagaimana hakikatnya yang tersembunyi (Fihi-ma-fihi 5/8).

Di hadapan makna, apa arti bentuk! Sangat tak sepadan. makna langit tetap tersembunyi di tempat persemayamanannya…. (Matsnawi I 3330).

Ketahuilah, bahwa segala sesuatu yang kasatmata adalah fana, tetapi Dunia Makna tak akan pernah sirna.

Sampai kapan engkau akan terpikat oleh bentuk bejana? Tinggalkanlah ia: Pergi: airlah yang harus engkau cari!

Hanya melihat bentuk, makna tak akan engkau temukan. Jika engkau seorang yang bijak, ambillah mutiara dari dalam kerang (Matsnawi II 1020-22).

Sebagai kutipan akhir, silakan simak gaya unik Rumi untuk mengajak kita merenungi dunia makna melalu pengamatan dunia bentuk melalui karyanya ini :

Nabi bersabda, “Lihatlah langit dan bumi, dan temukan Makna Universal melalui bentuk keduanya, perputaran yang dijalankan oleh Roda Langit, pergantian musim dan perubahan Masa. Kalian lihat betapa segalanya berjalan sedemikian rupa, selalu dengan alur masing-masing. Lebih dari itu, betapa awan tahu bahwa ia harus mengirim hujan di setiap musim? Kalian lihat bumi, betapa ia memelihara tanaman-tanaman dan menumbuhkan yang satu dari sepuluh. Siapa pun tahu  semua itu. Jumpailah Dia melalui dunia ini, dan ambillah kesempurnaan dari-Naya, sebagaimana kalian temukan makna dari wujud manusia melalui jasad. Temukan makna dunia dari penampakan-luar dunia (Fihi-ma-fihi 39/51).

Wabillahitaufiq wal hidayah…..@

 

Puasa dan Perjuangan Spiritual

Sumber Gambar: Google

Dalam hitungan jam Umat Islam akan memulai ibadah Puasa selama sebulan penuh. Mereka tersebar di seluruh pelosok bumi yang secara keseluruhan berjumlah sekitar 1.8 milyar jiwa atau 21.4% dari penduduk global[1]. Mereka sudah lama menunggu momen ini karena meyakini Bulan Puasa, lebih dari pada bulan-bulan lainnya, dipenuhi rahmat dan ampunan-Nya.

Mereka mengetahui dasar hukum dan tujuan puasa, tata cara pelaksanaannya, amalan-amalan unggulan yang dianjurkan, dan sebagainya. Boleh dikatakan tidak ada perbedaan paham mengenai ini

  • Dasar hukumnya Al-Quran dan tujuannya meraih takwa (Kitab QS 2:183).
  • Pelaksaan: siang hari dengan cara tidak makan, minum dan apa pun yang membatalkan, serta dianjurkan beritikaf atau tinggal atau menetap (Arab: al-muzamalat) di Masjid dengan niat untuk ibadah. Kata itikaf dalam pengertian ini dapat ditemukan dalam teks suci (Quran 2: 125 dan 127).
  • Ibadah unggulan: baca Al-Quran, Salat Malam (termasuk Tarawih) dan bersedekah (termasuk bagi yang berbuka puasa).

Seperti baru disinggung, itikaf mensyaratkan niat. Demikian juga Puasa dan ibadah lain. Unsur niat ini sangat penting dan sedemikian pentingnya sehingga– menurut suatu Hadits– menentukan hasil yang diperoleh.

Karena urusan niat adalah urusan hati maka kemampuan mengelola hati menjadi sangat penting. Kemampuan ini dibutuhkan untuk memenangkan perjuangan spiritual (mujahadah), perjuangan sepanjang hidup yang diintensifkan melalui Puasa. Perjuangan ini menghadapi dua front yaitu hawa nafsu dan kelalaian. Yang pertama– menurut Hadist– lebih berat dari pada melawan musuh fisik berupa bala tentara musuh, kaum kuffar Quraisy saat itu. Yang kedua, dalam perspektif sufi,  tergolong  dosa (dzunub) yang perlu disucikan.

Dua front perjuangan spiritual: hawa nafsu dan kelalaian

Istilah hati dalam konteks ini bukan hati dalam pengertian fisik melainkan merujuk pada– meminjam istilah KH Zezen[2]— dimensi abstrak, batin atau ketuhanan yang tertanam dalam diri manusia. Hati dalam pengertian ini dinilai sebagai hak eksklusif bagi Rabb SWT sehingga terlarang bagi yang lain yang bersifat duniawi. Hati diciptakan secara ekslusif sebagai lokus kehadiran-Nya dalam diri manusia, semua manusia, tanpa pandang bulu. Ia merupakan– juga meminjam istilah KH Zezen–  “Kabah” atau “Rumah Tuhan” yang ter-intall dalam setiap individu manusia.

Hati diciptakan secara ekslusif sebagai lokus kehadiran-Nya dalam diri manusia.

Dalam praktik, tentu sangat sulit (manusiawi) bagi hati untuk mencegah kedatangan akwan tadi. Inilah antara lain fungsi zikir: “mengusir” akwan keluar dari wilayah eksklusif ini. Hati perlu dibuat terbebas dari akwan sehingga dapat bercahaya .

Tapi upaya untuk membuat hati bercahaya bukan perkara yang mudah. Upaya ini pertama-tama menuntut syarat agar hati diperlakukan secara adil atau sesuai dengan peruntukannya yaitu “Rumah Tuhan”. Konsekuensinya sangat menantang: semua hal yang bersifat duniawi, gambaran saja, harus diusir dari tempat eksklusif itu[3]. Inilah salah satu aspek dalam Hikmah ke-13 Al-Hikam:

  1. Bagaimana hati seseorang akan bercahaya jika padanya terpapar gambaran apa pun yang bersifat duniawi (akwan)?
  2. Bagaimana perjalanan menuju Allah SWT akan dapat dimulai jika masih terbelenggu oleh nafsu syahwat?
  3. Bagaimana akan dapat masuk menjumpai Allah SWT jika belum bersih dari kelalaian (mengingat-Nya, dzikir)?
  4. Bagaimana berharap akan mengerti rahasia yang halus dan tersembunyi jika belum taubat dari kekeliruannya?

(Diadaptasi dari Ibnu Ahailah As-Sakandari, Al-Hikam, Hikmah ke-13).

Dari teks di atas terlihat jelas bahwa mengusir gambar akwan, tasyriq-qlab-shuarul-akwan, merupakan syarat perlu dalam perjuangan spiritual. Tapi itu tidak cukup. Ada tiga syarat lainnya:

  1. Terbebas dari belenggu syahwat– mukabbalun bi syhawatih
  2. Suci dari junub karena melalaikan-Nya– jinabah-gaflatih; dan
  3. Taubat– yatub min hawatih.

Kiatnya? Berzikir Tanpa Henti! Pray Without Cession!

Wallahualam….@

[1] Mengenai populasi Muslim dapat di akses di SINI.

[2] Lihat, misalnya, INI.

[3] Ini tidak berarti kekayaan duniawi terlarang dalam Islam. Justru sebaliknya sebagaimana terlihat dengan adanya ibadah zakat dan haji. Yang menjadi masalah di sini di mana “gambar”-nya harus diletakkan. Ia “terlarang” diletakkan dalam hati, tetapi cukup di tangan atau di otak saja.

Yang Terkasih

Sumber Gambar: Google
Dengarlah, wahai yang terkasih.
Akulah realitas dunia.
Akulah pusat lingkaran, bagian dan keseluruhan.
Akulah kehendak antara Surga dan Bumi.
….
Engkau tidak dapat memperlakukan-Ku dengan adil, karena jika engkau mendekati-Ku, itu karena Aku mendekatimu.
Aku lebih dekat denganmu daripada dirimu sendiri.
Lebih dekat dari jiwamu, lebih dekat dari nafasmu.
…..
Akulah Cinta!
Akulah Rahmat!
Cintailah Aku!
Cintailah Aku Sendiri!
Cintailah dirimu di dalam Aku, hanya di dalam Aku!
*****
Listen, O dearly beloved,
I am the reality of the world.
The center of the circumstance, I am the part and the whole.
I am the will established between Heaven and the Earth.
…..
You cannot treat Me fairly, for if you approach Me, it is because I have approached you.
I am nearer to you than yourself.
Than your soul, than your breath.
…..
I Am Beauty!
I AM Grace!
Love me!
Love Me alone!
Love yourself in Me, in Me alone!
Sumber: Ibn’ Arabi – ‘Alone with the Alone’: Henry Corbin.

Puasa dan Rebus Kubis

Sumber gambar: Google

 

Rasa manis yang tersembunyi ditemukan dalam perut yang kosong ini!

Ketika perut kecapi telah terisi, ia tidak dapat bersuara, nada rendah maupun nada tinggi.

Jika otak dan perutmu terbakar karena puasa, api mereka akan mengeluarkan ratapan dalam dadamu.

Melalui api itu, setiap waktu kau akan membakar seratus tabir– kau akan mendaki seribu seribu derajat di atas Jalan dan di dalam hasratmu.

Kosongkan perutmu! Merataplah seperti sebuah kecapi dan sampaikan keinginanmu pada Tuhan! Kosongkan perutmu dan bicaralah tentang misteri bagi ilalang.

Jika kau biarkan perutmu penuh, ia akan menjadi Setan bagimu di saat Kebangkitan, sebagai ganti akalmu, menjelma berhala sebagai bentuk Kabah.

Ketika kau puasa, amal-amal baik mengelilingimu bagaikan hamba sahaya, budak-budak, dan bergerombol.

Teruskan puasamu, karena ia adalah stambuk Sulaiman. Jangan kau berikan stambuk itu pada Setan, jangan kacaukan kerajaanmu.

Dan jika kerajaan dan pasukanmu hendak lari darimu, pasukanmu akan kembali, dan berilah dia perintah!

Hidangan telah datang dari surga bagi mereka yang berpuasa, karena Isa anak Maryam memanggilnya turun dengan doa[1].

Tunggulah Hidangan Rahmah dengan puasamu– ia lebih baik daripada kubis rebus.

Sumber: Rumi, Diwan 1793.

Demikianlah cara Rumi menggambarkan puasa: mudah dicerna, kaya-makna, tidak terkesan menggurui, dan … jenaka. Konon, karena kejenakaan ini maka pesan sufistik Rumi dapat diterima dengan mesem-mesem oleh para ulama besar yang kurang sreg dengan Sufi.

Juga terkait kejenakaan ini, siapa yang mampu berpikir untuk mengaitkan puasa[2] dengan kubis rebus, misalnya. Menariknya lagi, dalam Diwan ini Rumi mengontraskan “kubis rebus” dengan “Hidangan Rahmah” tanpa menjelaskan apa yang dimaksud dengan istilah ini. Dugaan penulis istilah ini merujuk pada “Hidangan dari Langit” sebagaimana yang tercantum dalam doa Nabi Isa Ibnu Maryam:

Isa putra Maryam berdoa, “Ya Tuhan kami, turunkan kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi bagi orang yang sekarang bersama kami maupun bagi datang setelah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau, berikanlah kepada kami rezeki, dan Engkaulah sebaik-baiknya pemberi rezeki (QS 5:114).

Wallahualam bi muradih.

[1] Lihat QS (5:114)

[2] Beberapa tulisan lain mengenai puasa dapat diakses di SINI.