Ketika Rasul SAW Menjamu Makan Kerabat Dekat

Sumber Gambar: Pinterest

 

Rasul SAW mulai dakwah kepada kerabat-dekat. Ini sesuai perintah-Nya (QS 26:214). Untuk keperluan ini beliau mengudang jamuan makan keluarga kakeknya Abdul Mutolib.

Tetapi rencana itu pada mulanya tidak berlangsung mulus. Sebelum Rasul SAW menyampaikan maksud jamuan makannya, salah seorang paman beliau angkat bicara yang pada intinya meneror tuan rumah.

Memperhadapkan Rasul SAW dengan keluarga besarnya dan menuduhnya sebagai “penyeleweng” dari tradisi keluarga, serta memperlakukan beliau layaknya tertuduh;

Menghasut hadirin dengan gambaran besarnya bahaya yang akan menimpa keluarga jika Rasul SAW tidak berhenti berdakwah;

Memperlakukan Rasul SAW yang sudah berumur 40 tahun sebagai anak-anak yang perlu dididik;

Membujuk hadirin dengan menawarkan “penyelesaian” dengan cara Rasul SAW kembali rujuk kepada tradisi keluarga.

Paman Rasul SAW yang dimaksud adalah Abu Lahab yang namanya diabadikan dalam Al-Quran (Surat ke-111). Mengenai suasana jamuan itu Natsir (ibid:187) mengatakan: “Baru saja Muhammad SAW hendak bertolak melayarkan perahu dakwahnya, sudah begitu kerasnya badai yang datang menimpa”.

[Terjemahan pidato Abu Lahab ini dapat diakses di SINI.]

Apa reaksi Rasul SAW ketika itu? Tidak ada, diam-seribu-bahasa. Agaknya Rasul SAW memperhitungkan kemungkinan suasana akan lebih rusuh  jika menanggapi hasutan itu secara langsung pada saat itu juga. Rasul SAW agaknya melihat “target dakwahnya” belum siap mendengarkan seruan dakwah. Bagi Natsir respons semacam ini sebagian dari tanda hikmah dalam berdakwah.

Lalu apa yang dilakukan Rasul SAW selanjutnya? Menghentikan usahanya? Sama-sekali tidak. Beliau kembali mengundang jamuan makan. Kali ini, ketika waktunya pas dan sebelum yang lain berbicara, beliau angkat bicara.

Dalam kesempatan itu Rasul SAW berpidato dalam bahasa yang sangat efektif dan efisien (Quran: qaulan baligha).

[Terjemahan pidato Rasul SAW ini dapat diakses di SINI.]

Beliau mengakhiri pidatonya dengan seruan: “Maka siapakah (di antara yang hadir) yang bersedia menyambut seruanku kepada urusan (penting) ini, dan bersedia mendampingiku untuk mendampinginya (maksudnya, risalah kerasulannya)?”

Salah seorang pamannya, Abu Talib, menyambut positif ajakan Rasul SAW itu :

“Aku ya Rasulullah! Aku membelamu, Aku adalah musuh bagi siapa yang memusuhimu”.

“Dan (lihatlah), itu semua kaum kerabat ayahmu, yang sedang berkumpul. Dan aku hanyalah salah seorang dari mereka, tetapi aku tidak akan mendahului mereka untuk memenuhi apa yang Kau kehendaki.

Teruskan menjalankan tugasmu. Demi Allah, aku tetap melindungimu. Hanya aku sendiri tidak sanggup berpisah dari agama Abdul Mutolib… “

Sambutan Abu Talib memicu amarah  Abu Lahab dan berteriak sengit: “Demi Allah, salangkah memalukan semua ini. Sergaplah dia sebelum dia disergap orang lain”. Tetapi Abu Talib menanggapinya spontan: “Demi Allah, kami akan bela dia selama kami masih ada “.

Demikianlah cerita peristiwa jamuan makan Rasul SAW ini di hadapan keluarga besarnya. Paling tidak ada tiga pelajaran yang dapat dipetik dari peristiwa jamuan makan ini.

Pentingnya timing atau memilih waktu yang tepat dalam menyampaikan pesan dakwah; ada kalanya sikap diam-seribu-bahasa adalah yang terbaik.

Pentingnya faktor keberanian untuk menyampaikan apa yang harus disampaikan. Dalam kutipan di atas Rasul SAW telah menyampaikan inti dari misi kerasulannya: tauhid, kenisacayaan kebangkitan setelah mati, pertanggung jawaban amal individual, kabar gembira surga dan ancaman neraka.

Pentingnya penggunaan bahasa yang efektif dan efisien. (Istilah Alquran: qaulan baligha.) Eefetivitasnya terlihat dalam penggunaan analogi bangun dari tidur untuk menggambarkan kebangkitan dari kematian. Efesiensinya terlihat cakupan pesan yang disampaikan yang dapat dikatakan merangkum inti risalah Islam dalam waktu singkat.

Agaknya sudah menjadi bagian dari wisdom-Nya untuk selalu menguji keimanan seseorang, lebih-lebih kegigihan seorang pembawa risalah kerasulan:

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami beriman”, dan mereka tidak diuji (QS 29:2)”.

Wallahualam bi muradih….@ 

 

Nabi SAW sebagai Negarawan

Pernah baca buku Seratus Tokoh karya Heart? Jika belum sebaiknya baca karena penting dan menarik:

  • Penting karena dapat membantu memetakan secara singkat peran menentukan dari 100 tokoh dunia dalam membentuk profil dunia kita sekarang, paling tidak sampai 1978 (ketika buku ini diterbitkan), paling tidak menurut pengarang buku ini.
  • Menarik karena sifatnya yang provokatif secara intelektual: provokatif dalam arti menghujat status quo kepercayaan sebagian pembacanya, intelektual karena pengarangnya sangat memahami metode ilmiah dan menerapkannya dalam menyusun buku ini. (Maklum dia seorang ilmuan, ahli Astrofisika.)

Nama lengkap pengarangnya adalah Michael H. Heart. Dia adalah seorang Yahudi berwarga negara Amerika Serikat. Judul bukunya, The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History. (Lihat INI.)

Sepeti terkesan dari judulnya, dalam buku ini Heart mendaftar 100 tokoh dunia yang paling berpengaruh sepanjang sejarah. Yang menarik, ia menempatkan Nabi Muhammad SAW (selanjutnya, Nabi SAW) pada urutan pertama, di atas Nabi Isa AS (urutan ke-3 setelah Copernicus) maupun Musa AS (urutan ke-15, setelah Euclides). Buku ini laku keras, terjual lebih dari 500,000 eksemplar, dan diterjemahkan ke dalam 15 bahasa.

Seperti diduga buku ini mendulang banyak protes terutama dari kalangan masyarakat Barat dan Umat Kristiani. Bagi mereka, mestinya Nabi Isa AS (Yesus) di tempat pertama karena secara global lebih banyak Umat Kristiani dari pada Umat Islam. Klaim ini sah jika yang jadi ukuran populasi penganut agama. Dari total penduduk global, sekitar 2.3 milyar atau 31.2% beragama Agma Kristen dan 1.8 milyar atau 24.1% beragama Islam. (Lihat INI.)

Tetapi Heart tidak bergeming dengan kesimpulannya. Baginya, Nabi SAW “sangat sukses” (supermly successful“) dalam dua dunia sekaligus: dunia agama dan dunia sekuler. Baginya juga, peran Nabi SAW dalam mengembangkan Agama Islam jauh lebih besar dari pada peran Isa AS dalam mengembangkan Agama Kristen. Baginya, dalam hal pengembangan Kristen, St. Paul lebih berperan dari pada Isa AS.

Sukses Nabi SAW di dunia sekuler terlihat dari keberhasilannya melakukan seuatu yang konon merupakan salah satu kemustahilan dunia yaitu mempersatukan suku-suku Arab. Tidak hanya itu, tokoh ini mengubah Bangsa Arab yang terbelakang, barbar, dan egois menjadi bangsa yang maju dibidang ekonomi, budaya, dan militer. Bangsa ini, pada waktunya, bahkan sanggup mengalahkan Romawi yang waktu itu sebagai kekuatan terbesar dunia. Selain itu, nama Nabi SAW ini paling sering disebut sepanjang masa. (Lihat INI.)

Keberhasilan luar biasa seperti ini hanya mungkin dapat dibayangkan diraih oleh tokoh yang memiliki kapasitas kenegarawanan yang luar biasa. Kapasitas ini terlihat dari keberhasilan Nabi SAW ini dalam mengupayakan Perdamaian Hudaibiyah (621-2) antara Nabi SAW dan kelompok mukmin Madinah. Perjanjian ini sangat menentukan karena (dari sisi upaya manusiawi) memungkinkan komunitas Muslim Mekah yang jumlahnya kecil dan rapuh secara politik melakukan migrasi-paksa permanen (Arab: hijrah, Inggris: forced migration) dari Kota Mekah ke Kota Yatsrib (622).

Di Kota Yatsrib ini ini Nabi SAW membangun peradaban Muslim dan memperlihatkan kapasitas kenegarawanannya. Kota ini berubah nama menjadi Al-Madinah Al-Munawwarah (artinya, Kota yang Bercahaya) walaupun segera berubah lagi menjadi Madinah saja (tanpa al-munawwarah)

Nabi SAW juga memperlihatkan kapasitas ini ketika memprakarsai apa yang dikenal sebagai Konstitusi Madinah (Arab: Dustūr al-Madīnah) yang dikenal juga sebagai Piagam Madinah (Arab: Mīthāq al-Madīnah). Yang layak dicatat, piagam ini dibentuk pada tahun 622 (1 Hijriyah); artinya, segera setelah beliau dan rombongan Mekah tiba di Madinah. Sebagai perbandingan, Magna Carta yang secara populer dikenali sebagai Konstitusi Modern pertama dilansir tahun 1215 (lihat INI) atau hampir satu milenium setelah Konstitusi Madinah.

Piagam ini diciptakan untuk mengakhiri pertikaian sengit antar suku antara Klan Banu Aws dan Klan Banu Khazraj di Madinah, serta untuk memelihara perdamaian dan membangun kerja sama antara semua kelompok Madinah. Piagam ini menetapkan peran NabinSAW sebagai otoritas mediasi antara kelompok masyarakat di Madinah. Piagam ini secara efektif mengakhiri kekerasan internal Madinah dam ini merupakan fitur penting dari suatu konstitusi. Konstitusi membentuk dasar negara Islam multi-agama di Madinah.

Istilah Konstitusi Madinah dalam konteks ini tepat paling tidak karena tiga alasan:

  1. Isi piagam menyatakan semacam deklarasi suatu negara, negara kesatuan (Arab: ummah wāḥidah) yang terpisah dari negara lain,
  2. Isi piagam menetapkan tanggung jawab kolektif semua suku  di Madinah (termasuk Migran Quraisy), dan
  3. Ketentuan dalam piagam ini bersifat mengikat (binding) semua anggota masyarakat dari suku penandatanganan piagam yang praktis mencakup semua suku.

Oleh karena itu maka tidak mengherankan jika cendekiawan sekelas Welch mengomentari konstitusi ini sebagai berikut:

The constitution reveals Muhammad‘s great diplomatic skills, for it allows the ideal that he cherished of an ummah (community) based clearly on a religious outlook to sink temporarily into the background and is shaped essentially by practical considerations. (Lihat INI.)

Gambaran mengenai isi lengkap Konstitusi Madinah dapat diakses di SINI. atau di SINI.]

Apa “rahasia” kenegarawanan Nabi SAW? Sederhana saja: berhati lembut, pemaaf, memaklumi keterbatasan “anak-buah”, selalu bermusyawarah dalam urusan keumatan, serta tawakal jika keputusan telah diambil. Itulah kira-kira sebagian yang terungkap dalam teks suci berikut (QS 3:159):

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu, maafkanlah mereka dan mohonlah ampunan untuk meraka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang yang bertawakal.

(Untuk teks ayat dan bacaannya kilik INI.)

Ayat ini layak agaknya disimak oleh para pejabat publik dari cabang eksekutif maupun legislatif, balondat (bakal calon kandidat) dan sadaya-daya camat (calon mati).

Wallahualam bi muradih….@

 

Sumber Gambar: Google

 

 

 

Early Muslim Civilization

 

Charitable donations

Hard work in months had been invested to prepare this book. Voluntary donations, as little as USD $2, accordingly are highly valued to compensate; jazakallah khaira.

$2.00

 

[Untuk versi Bahasa Indonesia klik INI}

For better comprehension of the early history of Muslim civilization.

This book gives you a quick and easy reading material to understand the origin and dynamic of early Muslim civilization.

In this book, you will learn:

  1. Historical context that shaped the rise of Islam as the last cycle of Abrahamic monotheistic tradition;
  2. Hostile rejection by the Mecca infidel to the radical monotheistic message of Islam;
  3. Hijrah or forced migration of small and vulnerable Muslim community from Mecca to Medina that marked the
    the emergence of Muslim civilization;
  4. Challenges faced by early Ummah in Medina to maintain survival and to develop civilization;
  5. How early Ummah was guided by Revelation for roughly 23 years in Mecca and Medina eras; and
  6. The legacy inherited by the Prophet Muhammad-PBUH to the Ummah.

If you have the commitment to broaden and deepen comprehension of early Muslim civilization in a short time, TIHIS BOOK is for you. 

 

Arab Spring: Catatan Kecil dan Pelajaran Besar

Nama: Mohammed Bouzizi; Warga Negara: Tunisia; Pekerjaan: pedagang kali-lima; Kasus: membakar-diri; Penyebab kasus: barang dagangannya disita pihak “berwenang”; Waktu: 17 Desember 2010 (Ramadan, 2012:6)[1]. Kasus ini bersifat historis (historical). Kenapa? Karena menandai apa yang dikenal sebagai Arab Spring yang dalam bahasa Ramadan “membawa perubahan dramatis di Timur Tengah, Afrika Utara, dan dunia” (ibid:6):

14 Januari 2011: Zine El Abidine Ali, diktator Tunisia, terbang ke Arab Saudi, diikuti oleh perubahan pemerintahan (27 Februari), kebingungan, dan teriakan “Get out” kepada despotisme, keluarganya dan regim yang tengah berkuasa;

25 Januari 2011: Mobilisasi masif di sekitar lapangan Midan at-Tahrir yang kini jadi populer (Kairo, Mesir). Teriakannya serupa yang berujung pada pelengseran Presiden Mubarrak (11 Februari 2011);

20 Februari 2011: Serangkaikan protes masal yang membawa reformasi di Maroko.

Kasus-kasus serupa terjadi di Jordania yang menurunkan PM dan melahirkan janji reformasi sosial (1 Februari 2011), di Libya (15 Februari 2011), di Bahrain (14 Februari 2011), di Yaman, di Suria, bahkan di Arab Saudi.

Sebutan Arab Spring diperdebatkan. Ada yang bilang revolusi, ada yang menyebutnya pemberontakan, protes umum, bahkan ada intifadah. Dan banyak label lain.  Yang jelas, Arab Spring melanda (hampir) seluruh kawasan Arab. Mengenai kawasan Arab ini paling tidak ada dua catatan:

Secara geografis Tunisia bukan wilayah Jazirah Arab dan sekitar. Jadi kriteria geografis untuk melabeli Arab dapat mengecohkan (misleading). Negara ini terletak di Afrika Utara yang jauh dari kawasan Jazirah Arab (bagian dari Asia yang meliputi enam negara kaya: Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait , Bahrain dan Oman).

Negara-negara Mesir, Libiya, Maroko, dan semua negara lain di kawasan utara Afrika, semuanya secara umum mengidentifikasikan diri sebagai berbudaya Arab-Islam. Jadi, kriteria-budaya lebih realistis untuk melabeli Arab.

Jadi, kawasan Arab secara geografis mencakup kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA: Middle East and North Africa). Apakah MENA merepresentasikan Muslim global? Tidak juga.

Secara geografis populasi Muslim tersebar: sebagai mayoritas di lebih dari 50 negara, sebagai minoritas di hampir setiap benua…  Sekitar 20%: populasi Muslim global tinggal di kawasan MENA…, lebih dari 60% di Asia Tenggara, dan sekitar 20% di negara-negara non-Muslim utamanya India dan China[2].

Kenapa sampai terjadi Arab Spring? Banyak teori yang ditawarkan. Kebanyakan mengaitkannya dengan pengaruh Barat khususnya Amerika Serikat (AS). Banyak bukti mengenai ini.

Tiga NGO yang dibiayai oleh pemerintah dilaporkan memberikan pelatihan bagi anak-anak muda penggerak Arab Spring: Einstein Institution, Freedom House, and the International Republican House (ibd:11). Prinsip dan metode training ketiga NGOs ini identik: merayakan nilai-nilai demokrasi, memobilisasi penduduk tanpa kekerasan, menjatuhkan rejim tanpa perlu bentrok dengan pihak kepolisian dan tentara dengan menggunakan simbol dan semboyan untuk membentuk psikologi masa, mengeksploitasi potensi jaringan sosial, umumnya internet.

Singkatnya, naif untuk mengabaikan tidak ada faktor luar yang memicu Arab Spring. Tetapi lebih naif lagi jika mengabaikan faktor internal yang secara kronis melanda kawasan MENA.

Arab Spring spesifik-negara; artinya, apa yang terjadi di Tunisia berbeda dengan yang di Mesir, misalnya. Untuk memperoleh pemahaman mendalam perlu kajian per negara. Walaupun demikian bukan berarti tidak ada “benang merah”. Dalam kebanyakan kasus, pemicunya adalah bad governance dan kesulitan hidup sehari-hari yang terus memburuk. Dalam kebanyakan kasus,  sebagian yang ditargetkan Arab Spring berhasil, termasuk menggulingkan rezim yang berkuasa. Masalahnya, setelah terguling apa? Terjadi kebingungan. Tidak mengherankan jika banyak orang cerdik “mengail dalam air keruh”. Singkatnya, Arab Spring tidak memiliki agenda berkesinambungan atau road map yang jelas dan tuntas; dengan kata lain, tidak ada leadeship.

Ada beberapa benang merah lainnya yang sebagian terungkap melalui kasus Bouzizi di atas:

Kenaikan tingkat pendapatan masyarakat kalah cepat dibandingkan dengan kenaikan harga kebutuhan pokok.

Kebanyakan penduduk bekerja di sektor informal yang tidak produktif;

Sektor informal kurang mendapat tempat “dalam hati” penguasa;

“Saluran-suara” pekerja informal tersumbat; dan

Kaum mudanya “kaya pengetahuan” tetapi “miskin pekerjaan”.

Isu terakhir mengilustrasikan krusialnya penyediaan lapangan kerja bagi generasi muda yang semakin terdidik.

Itulah antara lain pelajaran besar dari Arab Spring. Kira-kira apa yang ditawarkan dua pasang Capres kita untuk mengatasi isu-isu kompleks semacam itu? Patut diduga, keduanya, juga mayoritas masyarakat Indonesia, tidak menghendaki Indonesia Spring. Tapi, wallahualam….@

[1] Tariq Ramadan (2012), Islam and the Arab Awakening, Oxford University Press.

[2] https://uzairsuhaimi.blog/2018/05/27/muslim_pop_challenge/

Nasionalisme dan Patriotisme: Tinjauan Ringkas

Kata kunci: Nasionalisme, Patriotisme, Tradisionalisme, Macron, Trump, Putin, Stoddart

 

Isu nasionalisme dan patriotisme baru-baru ini menghangat. Pemicunya, isu ini dikemukakan oleh Emmanuel Macron dalam upacara peringatan berakhirnya satu abad (1918-2018) Perang Dunia ke-I (PDI) pada tanggal 11 November 2018 yang lalu. Upacara itu diawali dengan gema lonceng– dari Natro Dome dan dari seluruh katedral di Paris bahkan di seluruh Prancis– pada 11/11/11/100 (=jam 11, tanggal 11 dan bulan 11, 100 tahun lalu).

Apa yang dikemukakan oleh Presiden Prancis itu memang “menghangatkan” [1]:

Patriotisme adalah kebalikan dari nasionalisme. Nasionalisme adalah pengkhianatan patriotisme. Dengan mengatakan ‘Kepentingan kita lebih dulu, apa pun yang terjadi pada yang lain’, Anda menghapus sesuatu yang paling berharga yang dapat dimiliki suatu bangsa, yang membuatnya hidup, apa yang menyebabkannya menjadi hebat dan apa yang paling penting: nilai-nilai moralnya.

Kenapa sang Presiden mengemukakan isu nasionalisme dalam forum itu? Jawabannya dapat diperdebatkan. Salah satu argumen adalah bahwa sang Presiden memandang nasionalisme yang berlebihan (excessive nationalism) sebagai akar masalah terjadinya PDI.

Tetapi ini hanya “mata pertama” dari pedang yang diacungkan sang Presiden melalui pidatonya. “Mata keduanya” diarahkan langsung kepada “gelombang populisme” yang tengah melanda kawasan Amerika Serikat dan Eropa. Mengenai hal ini sang Presiden mengingatkan[2]:

“Saya tahu ada setan tua yang kembali ke permukaan. Mereka siap untuk membuat kekacauan dan kematian  (” I know there are old demons coming back to thesurface. They are ready to wreak chaos and death“.)

Salah satu pemicu timbulnya gelombang populisme adalah gelombang migrasi-paksa (forced migration) besar-besaran ke Benua Eropa dari kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Juga dari bayang-bayang “invasi” Amerika Latin ke Amerika Serikat sebagaimana dipersepsikan oleh pengikut-setia Trumph(?) 

Dengan pedang bermata dua, adalah wajar jika pidato sang Presiden mengundang perdebatan Pro-Kontra yang hangat. Apalagi forum itu dihadiri oleh lebih dari 60 kepala negara, termasuk Presiden Putin dan Presiden Trump. Yang terakhir ini menarik karena– dengan kebijaksanaan luar negerinya “America First”– boleh dikatakan sebagai ikon populisme masa kini.

Mencermati perdebatan Pro-Kontra mengenai nasionalisme tentu menarik untuk disimak. Walaupun demikian, bagian selanjutnya dari tulisan ini diberikan pada isu substansi Nasionalisme dan Patriotisme dalam pandangan mazhab Tradisionalisme  (atau non-Modern)[3]

Bagi mazhab Tradisionalisme, Nasionalisme melambangkan ego kolektif yang “bodoh” dan “jahat”. Agar jelas berikut disajikan kutipan Stoddart dalam bukunya Remembering in a World of Forgetting (2008:18) yang dapat dikatakan mewakili pandangan Tradisionalisme:

Nasionalisme – seperti Peter Townsend dan yang lain telah menunjukkan – adalah egoisme kolektif, dan dengan demikian, tidak lebih indah dari egoisme individual. Itu juga berasal tekanan vulgar dari narsisme dan xenofobia. Sekali lagi, orang harus mengatakan bahwa itu kebodohan dan juga kejahatan.

Mengenai patriotisme Stoddart (2008:19) menulis:

Mengenai patriotisme: patriotisme yang naif dan sederhana adalah wajar bagi manusia. Pria pegunungan suka orang gunung dan gunung. Mereka yang tinggal di pantai sering kali nelayan, mereka mencintai kehidupan laut yang berbahaya dan berani memancing, dan mereka mencintai para nelayan.


Maslahatnya dengan patriotisme menurut Stoddart adalah bahwa istilah ini terlalu sering diidentikkan dengan nasionalisme. Lebih dari itu, menurutnya, ada dua masalah yang lebih “memalukan”. Pertama, kita secara tidak layak memiliki perasaan patriotisme terhadap kolektivitas manusia yang sangat sekuler dan heterogen yang secara mendasar sangat buruk. Kedua, ini yang menurutnya paling parah, kita secara gegabah sering mengaitkan patriotisme dengan agama.

Kita boleh saja setuju atau tidak setuju dengan pandangan Tradisionalisme yang yang memang sangat kritis terhadap mazhab Modernisme (Pasca Modernisme). Walaupun demikian, pandangan semacam ini layak direnungkan jika kita menghendaki tatanan kehidupan masyarakat yang lebih arif dengan cara mengapresiasi potensi kelemahan dan bahkan bahaya dari isme-isme buatan manusia yang memang ditakdirkan untuk tidak pernah sempurna.

Wallahualam….@

[1] https://www.usatoday.com/story/news/politics/2018/11/11/macron-world-leaders-rebuke-nationalism-world-war-event-attended-trump/1966474002/

[2] https://www.washingtontimes.com/news/2018/nov/11/emmanuel-macron-rips-nationalism-paris-speech-dona/

[3] Tulisan mengenai perbedaan Tradisonalisme dan Modern lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/18/beda-tradisi_tradisi/.

 

Versi pdf dapat diakses di  https://drive.google.com/open?id=1dq3-m-E0m3UyXmT3t3-9A6TmgO_a5SF2

 

 

Menjadi Guru dan Murid yang Baik

Suka atau tidak, kita selalu memainkan peran guru sekaligus murid, paling tidak guru bagi anak-cucu dan murid dari para cerdik-cendekia yang masyhur. Karena kita tidak pernah sempurna maka upaya untuk menjadi guru dan murid yang baik merupakan tugas seumur hidup. Tulisan ini menyajikan catatan singkat mengenai upaya ke arah ini dengan menengok sejarah komunitas Muslim awal yang memang diberkati, khas dan unik[1]. Sebelumnya, demi kejelasan, berikut ini disajikan tinjauan sepintas mengenai arti dan fungsi guru.

Arti dan Fungsi Guru

Guru secara umum didefinisikan sebagai pribadi yang layak digugu dan ditiru atau diteladani. Oleh siapa? Oleh orang yang berguru atau murid. Gugu (Jawa) artinya mempercayai, menuruti, dan mengindahkan[2]. Jadi digugu artinya dipercaya, dituruti dan diindahkan. Sementara aspek gugu lebih terkait dengan unsur materi ilmu, aspek tiru dengan keteladanan.

Dalam definisi ini jelas unsur kepercayaan (Inggris: trust, Arab: amanah) sangat penting, kalau tidak paling penting. Seorang guru yang baik, dengan demikian, selain dituntut untuk menguasai materi ajar-didik serta teknik penyampaiannya, juga diwajibkan berperilaku yang layak dipercaya (Inggris: tustworthy, Arab: amin).

Dari sisi profesionalitas, fungsi guru mencakup fungsi-fungsi dosen, pembimbing, teladan, mentor, pelatih (coach), konsultan, dan sebagainya. Fungsi-fungsi ini tentu saja lebih menitik beratkan aspek gugu dari pada tiru. Dalam hal kredibilitas guru tentu beragam: ada yang layak digugu sekaligus ditiru semua ilmu dan perilakunya, ada layak digugu dan ditiru sebagian perilakunya, ada pula yang hanya dapat digugu tetapi tetapi layak ditiru. Dalam konteks ini murid yang baik dituntut memiliki daya kritis dan kreativitas.

Guru dan Murid Terbaik

Tetapi siapa guru dan murid terbaik? Menurut Matta (2010:30) murid terbaik adalah Nabi SAW dan murid terbaik adalah para sahabatnya:

Tidak ada guru sehebat nabi Muhammad Saw dan tidak ada murid sehebat sahabat radiallaahuanhum. Umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa yang membuat baik generasi pertamanya itu. Nabi sebagai guru terbaik tidak berkata-kata, bersikap dan bertindak kecuali dengan bimbingan dari Allah Swt. Sedangkan para sahabat mengisi hari-harinya selama dua puluh tahun dengan semua keteladanan gurunya itu secara kreatif dan independen.

Dari kutipan di atas tampak bahwa Nabi SAW menjadi guru terbaik karena dibimbing Rabb SWT dan sahabat menjadi murid terbaik karena meneladani Nabi SAW.

Bimbingan Rabb SWT menyebabkan Nabi SAW terbebas dari kesalahan (Arab: maksum), paling tidak demikianlah menurut keyakinan Muslim. Materi bimbingan-Nya sangat beragam. Nabi SAW dibimbing Rabb SWT, sebagai ilustrasi, soal identitas keagamaan terkait dengan Ahli Kitab. Dalam hal ini Rabb SWT menegaskan adanya bidang kesamaan (Arab: kalimatun sawa) antara Islam dengan dua agama samawi lainnya (Yahudi dan Kristen). Pada saat yang ditegaskan mengenai penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian pemeluk Yahudi dan Nasrani dan mengenai perbedaan orientasi keagamaan (teks: qiblah) dengan kedua pemeluk agama ini. Nabi SAW diingatkan mengenai perlunya ajakan untuk kembali kepada bidang kesamaan ketika berdialog dengan mereka, sekaligus diingatkan mengenai sia-sianya memaksakan kesamaan orientasi keagamaan (lihat Quran 2:145).

Bimbingan Rabb SWT tidak hanya terbatas pada urusan keimanan tetapi juga menyangkut perilaku beliau sebagaimana tersirat dalam dua peristiwa berikut:

  • Ketika Nabi SAW mengharamkan madu untuk dirinya akibat provokasi beberapa istrinya yang “cemburu”, Rabb SWT langsung menegur beliau melalui ayat ke-1 Surat At-Tahrim (ke-66). Surat ini juga mengingatkan kedudukan khusus istri Nabi SAW dan ancaman khusus (berlipat ganda) bagi mereka jika melakukan maksiat kepada Nabi SAW.
  • Ketika didatangi secara tiba-tiba oleh salah seorang sahabat yang buta dan menanyakan soal agama Nabi SAW sempat bermuka asam. Dalam ukuran normal sikap ini manusiawi karena ketika itu Nabi SAW tengah berada dalam suatu forum penting (high level meeting) dengan petinggi Kaum Quraisy dalam upaya untuk mengislamkan mereka. Tetapi dalam pandangan Rabb SWT sikap itu tercela sehingga Nabi SAW memperoleh teguran keras melalui Surat ‘Abasa (ke-80).

Nabi SAW bahkan dibimbing soal menggunakan kata-kata yang tepat (Arab: qaulan sadida, Quran 33:70) ketika berdakwah dan kata-kata yang halus tetapi tajam ketika berdebat (Arab: qaulan layyinan, Quran 20: 44). Yang terakhir ini dicontohkan melalui dialog antara Nabi Musa AS dan Fir’aun yang dinarasikan secara lugas oleh Natsir (2008:212-3).

Singkatnya, Nabi SAW memperoleh bimbingan Rabb SWT dalam semua bidang kehidupan Bimbingan itulah yang membuat Nabi SAW menjadi guru terbaik.

Sebenarnya ada faktor lain yang membuat Nabi SAW menjadi guru terbaik. Faktor itu adalah kemampuannya membangun “hubungan rasa” (meminjam istilah Natsir, terjemahan dari mawaddah fil qurba) antara beliau sebagai pembawa Risalah Islam dan Umat sebagai sasaran Risalah itu.

Jika Nabi SAW guru terbaik maka sahabat adalah terbaik karena “meneladani” Nabi SAW sebagaimana terlihat dalam kutip Matta di atas. Kata “meneladani alam konteks ini sebenarnya terlalu sederhana. Dalam kehidupan sehari-hari di era Rasul SAW sering turun Wahyu yang berisi pendidikan bagi para sahabat bahkan menjadikan mereka sebagai lawan bicara (Arab: mukhatabah). Mereka “diajari” oleh wahyu menegani hakikat dan penyebab kemenangan dan kekalahan mereka dalam Perang Badar dan Uhud, misalnya. Jadi, para sahabat dalam bebrapa hal dapat dikatakan memperoleh bimbingan Wahyu, tidak hanya meneladani Rasul SAW[3].

Bidang dan Materi Pendidikan

Sistem yang hebat membutuhkan manusia yang hebat. Sistem yang hebat tidak akan terwujud tanpa dukungan manusia hebat. “Hukum” sosial ini yang agaknya sangat dihayati oleh Nabi SAW. Oleh karena itu beliau mencurahkan perhatian yang sangat serius pada bidang pendidikan komunitas Muslim. Kebijaksanaan beliau membebaskan tahanan perang dengan cara mengajarkan baca-tulis kepada Komunitas itu mencerminkan besarnya perhatian itu.

Bidang pendidikan (tarbiyah) yang diajarkan Nabi SAW sangat luas. Luasnya bidang itu mungkin yang tercermin dari apa yang menjadi bidang keprihatinan  seorang ulama besar Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (lahir di Damaskus 691H). Bidang itu dirangkum oleh Hasan bin Ali al-Hijaz sebagaimana dikutip Matta (2010: 30-36: keimanan (taribyah Imaniayah), ruhiyah (ruh), fikriyah (pikiran), athifiah (persaan), akhlak (khuluqiyah), kemasyarakatan (ijtimaiyah), cita-cita (iradiyah), jasmani, dan seks (jinsiyah).

Dalam bahasa populer, apa saja yang materi bimbingan Nabi SAW kepada para sahabat?

Secara umum dapat dikatakan … mencakup semua aspek dan makna kehidupan: kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, kehidupan bertetangga, kehidupan bermasyarakat, makna dan tujuan hidup, keseimbangan antara hubungan vertikal dengan Allah SWT dengan hubungan horizontal antar sesama, nilai kebenaran, nilai kebaikan, nilai keadilan, nilai kemanusiaan, nilai ilmu, dan nilai keindahan. Quran mengajarkan semua materi itu Nabi SAW menjelaskan lebih lanjut dan bahkan mencontohkannya[4].

Daftar materi itu cukup lengkap untuk dijadikan modal membangun peradaban luhur (high civilization) sebagaimana dibuktikan dalam panggung sejerah oleh komunitas Muslim pasca generasi sahabat.

Sikap Kritis dan Pintu Ijtihad

Kembali kepada kutipan Matta di atas. Yang menarik untuk disimak ungkapan “kreatif dan independen” dalam kalimat terakhir. Tidak diketahui persis maksud ungkapan ini. Walaupun demikian dapat diduga ini terkait dengan daya kritis para sahabat mengenai masalah-maslah teknis operasional bidang muamalah (non-ibadah) dan di luar masalah keimanan. Artinya, para sahabat memiliki kemampuan untuk dapat membedakan ucapan dan perilaku Nabi SAW yang berasal dari bimbingan Rabb SWT dan mana yang bersifat perilaku pribadi.

Mengenai sifat kritis ini dapat dirujuk kasus Prang Parit (627) dan Perjanjian Hudaibiyah (628). Dalam kasus pertama Nabi SAW berpendapat untuk menyerang musuh di luar Kota Madinah. Pendapat ini bersifat pribadi sehingga dikoreksi oleh Salman Al-Farisi yang menyarankan untuk bertahan dalam Kota dengan cara menggali parit. Dalam kasus kedua, Umar RA protes berat karena menganggap perjanjian itu sangat merugikan Madinah. Bagaimana tidak merugikan karena dalam perjanjian itu ada klausul untuk mengembalikan orang Mekah yang pindah ke Madinah tetapi membiarkan orang Madinah yang pindah ke Mekah. Umar RA pada akhirnya menatai perjanjian itu setelah ditegaskan bahwa isi perjanjian itu berdasarkan Wahyu.

Dalam konteks lain, ilustrasi sikap kritis, “kreatif serta independen” seorang murid dicontohkan oleh Aristoteles (484-322 SM) dan Imam Syafii RA (767-819). Mereka sangat patuh dan menghormati guru mereka– Plato (424/3-348/7 SM) dan Imam Malik (711-795)– tetapi tetap bersikat kritis dan independen. Sikap ini yang memampukan mereka mengembangkan mazhab atau sistem pemikiran sendiri yang berbeda secara signifikan dengan mazhab guru mereka.

Sikap kritis ini diperlukan untuk membuka pintu ijtihad– “Mata Air Peradaban” menurut istilah istilah Matta (2010:41)– di bidang peradaban yang jelas-jelas tidak diatur dalam sumber primer (Wahyu-Sunnah). Penggunaan ijtihad sebagai sumber pengambilan hukum diberkati Nabi SAW (HR Abu Daud dan Tirmidzi). Ijtihad tentu mensyaratkan pemahaman agama yang mendalam, tafaqquh fid din, istilah Natsir (2008:165).

Singkatnya, sahabat sebagai “murid yang terbaik” Nabi SAW memiliki sikap kritis. Mereka mengisi supra-struktur Negara Madinah yang sistemnya adalah Islam (istilah Matta). Negara ini memiliki struktur layaknya suatu negara: tanah (Kota Madinah), jaringan sosial (persaudaraan Kaum Muhajirin dan Ansar) dan nota kesepakatan yang mengatur hubungan hidup bersama semua komponen masyarakat Madinah (Konstitusi Madinah). Tetapi bahan dasarnya adalah Islam dan Muslim: Islam sebagai sistem yang given dan Muslim yang mengoperasionalkan sistem itu. Sikap kritis memampukan mereka berijtihad sehingga membuat sistem itu berkibar dalam panggung sejarah.

Wallahualam….@

Referensi

Matta, M.H. Anis (2010), Dari Gerakan ke Negara, Fitrah Rabbani.

Natsir, M. (2008), Fiqhud Da’wah, Cerkan XIII, Yayasan Cipta Selecta dan Media Da’wah.

[1] Mengenai keunikan komunitas ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/02/3841/

[2] https://www.kamusbesar.com/gugu

[3] Uraian lebih lanjut dapat dilihat dalam https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/02/3841/

[4] https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/02/3841/

Memahami Peradaban Muslim Awal

Sumbangan Sukarela (Charitable Donation)

Sumbangan sukarela sangat disyukuri penulis: jazakallahu khaira. Sumbangan dimaksudkan untuk mengganti "opportunity cost" yang telah didekasikan untuk penyiapan buku ini dan untuk menyipakan karya serupa yang tengah berlangsung.

$2.00

 

[For English version Clik HERE}

Untuk pemahaman yang lebih baik tentang sejarah awal peradaban Muslim.

Buku ini memberi Anda bahan bacaan ringan dan enak dibaca untuk memahami asal-usul dan dinamika peradaban Muslim awal.

Dalam buku ini, Anda akan memperoleh gambaran yang jelas-tapi-padat mengenai:

Konteks sejarah kelahiran Agama Islam sebagai siklus terakhir dari tradisi monoteisme Nabi Ibrahim AS;

Penolakan sengit kaum Kuffar Mekah terhadap pesan ajaran tauhid dan kemanusian yang disampaikan oleh agama ini;

Hijrah atau migrasi paksa komunitas Muslim dari Mekah ke Madinah yang menandai munculnya peradaban Muslim (Umat);

Tantangan yang dihadapi oleh Umat awal di Madinah untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan untuk menginisiasi lahirnya peradaban unik dalam sejarah manusia;

Bagaimana Umat awal dipandu oleh Wahyu dan suri teladan Rasul SAW selama sekitar 23 tahun di era Mekah dan Madinah; dan

Warisan Rasul SAW kepada Umat dan refleksi mengenainya.

Jika Anda memiliki komitmen untuk memperluas dan memperdalam pemahaman peradaban Muslim awal dalam waktu singkat serta berbasis referensi yang dapt diandalkan maka BUKU INI adalah tepat untuk Anda.