Refleksi, Sejarah, Spiritual

Konflik-Sesama dan Kritik Dunia Modern

Sejarah mencatat sekitar seabad lalu Perang Dunia Ke-1 (PD I) berakhir setelah berkecamuk selama empat tahun dalam periode 1914-1918. PD I adalah jenis konflik masal antar sesama manusia (singkatnya, konflik-sesama) yang melibatkan kekerasan dan ketika penghilangan nyawa manusia dari pihak lawan dianggap sah (valid) secara moral dan bahkan dinilai semacam kebajikan (virtue). Momen berakhirnya konflik sejenis itu jelas suatu “kemenangan” bagi kemanusiaan dan bersifat historis sehingga layak bagi kita untuk merefleksikannya.

Kita dapat mulai refleksi dengan mengingat bahwa PD I adalah konflik-sesama bertaraf internasional yang melibatkan hampir semua negara Eropa bersama Rusia, Amerika Serikat (AS), Timur Tengah, dan wilayah-wilayah lainnya. Dalam konflik ini berhadapan dua kelompok kekuatan: di satu pihak ada Kekuatan Poros (Central Powers) dengan anggota utama Jerman, Austria-Hongaria, dan Turki, di sisi lain ada Kekuatan Sekutu dengan anggota utama Perancis, Inggris, Rusia, Italia dan Jepang di sisi lain. (AS menyusul kemudian pada tahun 2017.) Konon semua peserta peperangan ini merasa yakin akan memenangkan peperangan dalam hitungan bulan.

PD I dijuluki Perang Besar (Great War) dan julukan ini layak paling tidak dilihat dari besarnya korban. Menurut suatu laporan, PD I melibatkan sekitar 960 juta penduduk dengan korban: lebih dari 8 juta jiwa meninggal dalam peperangan, 2.3 juta jiwa warga sipil meninggal, 5.4-6.1 juta warga sipil yang meninggal akibat dari kekurangan gizi dan penyakit (di luar influenza), 15.4 juta jiwa yang meninggal atau 19 jiwa per 1000 penduduk, dan 22.1-23.7 juta personil korban luka dari kalangan militer[1].

Sejarah mencatat pula bahwa konflik dengan korban yang sangat besar ini tidak membuat kita (secara kolektif) merasa jera. Buktinya, sekitar dua dekade usai PD I berkecamuk Perang Dunia Kedua (PD II), perang global yang melibatkan banyak sekali negara yang tergabung dalam kekuatan Sekutu atau Poros. Perang ini melibatkan senjata yang jauh lebih merusak (termasuk senjata nuklir) dibandingkan dengan yang digunakan dalam PD I, ditandai oleh sejumlah peristiwa penting yang melibatkan kematian massal warga sipil termasuk Holocaust, memakan korban jiwa sebanyak 50- 70 juta jiwa, serta menegaskan reputasinya sebagai konflik yang paling mematikan sepanjang sejarah umat manusia[2].

Konflik yang mematikan akibat PD II ternyata tidak juga membuat kita jera. Buktinya, pasca PD II sejarah menyaksikan sejumlah peperangan lain: Perang Korea (1950-53), Perang Vietnam (1957-75), Perang Irak-Iran (1980-88), Perang Afganistan (2001-sekarang), Perang Irak (2003-11), Perang Libiya (2011-sekarang), Perang Syria (2011-sekarang), dan Perang Yaman (2015-sekarang). Semua peperangan ini tidak bersifat global tetapi bukan berarti tanpa korban jiwa dan tragedi kemanusiaan yang bersifat masif. Dua yang pertama pada umumnya dinilai sebagai “perang yang dimandatkan” (Inggris: proxy war) antara AS dengan sekutu PBB-nya melawan China-Rusia, sementara empat terakhir merupakan perang saudara disertai tragedi kemanusiaan meluas dalam lingkup regional. Bentuk tragedi itu antara lain pengungsian masal ke negara tetangga bahkan Eropa, pengungsi-lokal (internally-displaced persons), pekerja paksa (forced labour), degradasi tingkat kesejahteraan masyarakat, penyebaran wabah penyakit, bahkan kelaparan ekstrem.

pd1_100

Pertanyaan retrospektif yang layak layak-simak bagi kita secara kolektif adalah mengapa kita membiarkan terjadinya konflik-sesama sejenis itu. Banyak jawaban yang ditawarkan untuk pertanyaan semacam ini tetapi bagi orang semacam Guènon[3], peperangan atau semua bentuk kekacauan lainnya, merupakan implikasi logis dari cara-pandang-dunia budaya modern. Pandangan Guènon mengenai hal ini dapat kita simak dalam bukunya yang berjudul The Crisis of Modern World[4] yang dipublikasikan pasca PD I, tepatnya 1927.

Isi buku ini pada intinya menarasikan, dalam bahasa Martin Ling[5], “kritik tajam (penetrating critique) Guènon terhadap Dunia Modern dan penilaiannya mengenai kekacauan total dalam waktu dekat”. Gagasan pokok Guènon diungkapkan secara padat oleh Martin Ling dalam kutipan berikut[6]:

The rational, material, and secular worldview of modern science threaten to overwhelm realities that underlie the grand design of the natural world… Renè Guènon identified the deep chasm that separates ancient from modern, sacred from profane, and true knowledge from empirical science, a series of deep wounds such as can fully be helded (sic.) only by ending of this cosmic cycle and the beginning of another.

Pandangan duniawi yang rasional, material, dan sekuler dari ilmu pengetahuan modern yang mengancam realitas yang mendasari desain besar dunia alami … Renè Guènon mengidentifikasi jurang yang mendalam yang memisahkan dunia kuno dari dunia modern, yang sakral dari yang profan, dan pengetahuan sejati dari sains empiris, suatu rangkaian luka yang sedemikian parahnya sehingga seolah-olah hanya dapat diobati sepenuhnya dengan mengakhiri siklus kosmik ini dan dimulai lagi dari siklus yang lain.

Anak kalimat terakhir “suatu rangkai luka …” mengungkapkan keprihatinan Guènon yang mendalam terhadap ulah “manusia modern” yang bahkan terkesan putus asa. Keprihatinannya didasari oleh pengamatannya terhadap PD I dan isu yang terkait dengannya. Kita dapat membayangkan keprihatinan beliau jika sempat mengamati PD II, tragedi September 11, Tragedi Kemanusiaan Yaman-Syria-Rohingnya, dan sebagainya.

Terlepas dari kritik Guènon terhadap budaya Dunia Modern, alasan mendasar bagi konflik-sesama yang disertai penghilangan nyawa manusia barangkali dapat dikembalikan kepada tabiat manusia yang menurut “penilaian” malaikat suka “menumpahkan darah” [7] (Arab: yasfikud-dimaa). Wallahualam!

Mengapa kita membiarkan peperangan konflik sejenis itu berulang? Jangan-jangan karena kita termasuk makhluk yang lengah sebagaimana dilansir dalam teks suci:

Dan sungguh akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka (seperti) hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah[8].

Menurut teks suci ini kelengahan membuat kita bermartabat lebih rendah dari binatang ternak. MasyAllah!…@

[1] https://www.britannica.com/event/World-War-I

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Dunia_II

[3] Nama lengkapnya René Guénon (15 November 1886– 7/ January 1951) yang juga dikenl sebagai “Shaykh `Abd al-Wahid Yahya”.

[4] London: Luzac and Co., 1942; edisi dalam Bahasa Prancis terbit 1927.

[5] Martin Lings dalam “Introduction” buku The Essential Rene Guenon (2009:ix), World Wisdom.

[6] Ibid

[7] Al-Quran (2:30); yakni, Surat ke-2 Ayat ke-20.

[8] Al-Quran (7:179).

Advertisements
Standard
Refleksi, Sejarah

Umur Alam Semesta dan Kalender Kosmik: Catatan dan Refleksi

Usia Alam Semesta

Berapa umur alam semesta? Jawaban yang paling meyakinkan dan aman mungkin wallahualam. Sayangnya kita terlanjur terdidik untuk tidak merasa puas dengan jawaban semacam ini dan tergoda untuk merujuk pada hasil kajian ilmiah. Hasil kajian ilmiah terkini menduga kuat usia alam semesta sekitar 13.8 milyar tahun[1], suatu angka yang lebih tepatnya dinyatakan dalam bentuk

(13.799±0.021) x109

Angka pertama menunjukkan dugaan-titik (point estimate) sedangkan yang kedua kesalahan-margin (margin errors, ME) dari dugaan yang mengukur tingkat kecermatan dugaan itu. Kesalahan margin itu relatif sangat kecil, jauh di bawah satu persen, yang berarti selang kepercayaan dugaan lebih dari 99 persen. Bagi orang statistik, dugaan dengan ME sekecil itu, dikategorikan sebagai sangat dapat dipercaya, highly reliable. Bagaimana mengenai umur bum? Dugaan ilmiah merujuk pada angka 4.54 milyar tahun, tepatnya

(4.54±0.05) x109

ME-nya hanya sekitar 1.1 persen yang berarti tingkat keyakinan dugaan sekitar 98.9 persen, masih highly reliable.

Kalender Kosmis

Bagi yang ber-IQ pas-pasan seperti penulis sangat sulit membayangkan lamanya waktu 13.8 milyar tahun. Oleh karena itu kita patut berterima kasih kepada Carl Sagan yang telah memperkenalkan Kalender Kosmik, suatu metodologi untuk memvisualisasikan kronologi alam semesta secara populer. Dalam sistem kalender ini, umur 13.8 tahun diskalakan menjadi hanya satu tahun: Ledakan Besar (Big Bang) diletakkan pada awal tahun, 1 Januari tepat tengah malam (=pukul 00:00:00), dan waktu saat ini pada akhir tahun, 31 Desember sesaat sebelum tepat tengah malam (=pukul 24:00:00 kurang sedikit). Di antara dua titik ekstrem ini kita dapat meletakkan semua peristiwa alam semesta.

Gambar 1 menyajikan bebrapa peristiwa penting dalam Kalender Kosmis. Bagian pertamanya memvisualkan, antara lain, terbentuknya Galaksi Bima Sakti (Milky Way) pada bulan May, sementara Sistem Matahari Kita (Solar System) pada bulan September. Visualisasi ini membantu kita memahami proses dan skala waktu kosmis pembentukan benda-benda langit. Walaupun demikian perlu dicatat bahwa skala kosmik dalam Gambar 1 didasarkan pada asumsi umur alam semesta 3.7 milyar tahun, bukan 3.8 milyar tahun sebagaimana disingung sebelumnya. Perbedaan ini berdampak pada kurang tepatnya penentuan tanggal terjadinya peristiwa sebagaimana akan kita lihat nanti.

Gambar 1: Beberapa Peristiwa Penting dalam Kalender Kosmik

Sumber: http://myphascination.blogspot.co.id/2014/07/kalender-kosmik-cosmic-calendar.html

Bagian 2 dalam Gambar 1 menyajikan beberapa peristiwa penting pada bulan terakhir dalam Kalender Kosmik, Desember. Dalam gambar ini kita menyaksikan peritiwa dimulainya kehidupan yang kita kenal terjadi pada bulan terakhir itu: spons (14 Desember), ikan(17 Desember), tumbuhan darat (20 Desember), serangga (21 Desember), reptil (23 Desember), dinosaurus (25 Desember), mamalia (26 Desember),…., asal-usul manusia (dalam perspektif Darwinis) (31 Desember).

Bagian 3 Gambar 1 menyajikan beberapa peristiwa penting pada menit terakhir dalam Kalender Kosmis. Kita melihat peradaban manusia dimulai pada menit terakhir dalam Kalender Kosmis: pertanian dan kehidupan menetap (sekitar 22 detik terakhir), Dinasti China (9 detik terakhir), kelahiran Nabi Isa AS (4 detik terakhir), kelahiran Nabi Muhammad SAW (3 detik terakhir) dan penemuan Benua Amerika oleh Kolumbus (1 detik terakhir). Seperti disinggung sebelumnya, gambaran-gambaran waku peristiwa-peristiwa itu terjadi kurang tepat.

Kesetaraan Waktu Sebenarnya dengan Waktu Kosmik

Dalam Sistem Kalender Kosmik ini kita dapat menyusun beberapa persamaan  kesetaraan antara “tahun lalu waktu yang sebenarnya” dan “tahun lalu waktu kosmik” sebagai berikut:

  • 1 hari <—> (13.8×109/365[2]) tahun =37.8 juta tahun….. (1),
  • 1 jam <—> (3)/24 = 1.575 juta tahun ……………………………..(2),
  • 1 menit <—> (4)/60 = 26,265 tahun ……………………………….(3), dan
  • 1 detik <—> (5)/60 = 437.5 tahun …………………………………..(4)

Dengan persamaan (1), sebagai ilustrasi, kita dapat melihat peristiwa terbentuknya bumi yang terjadi pada 4.54 milyar tahun itu setara dengan peristiwa 121.1 hari yang lalu:

(4.54×109 )/(37.8 x106) hari = 120.1 hari.

Dalam Kalender Kosmik yang kita bicarakan, peristiwa itu merujuk pada sekitar akhir Agustus, bukan pada September sebagaimana disarankan oleh Gambar 1. Perbedaan ini terjadi karena perhitungan perbedaan asumsi mengenai umur alam semesta sebagaimana disinggung sebelumnya

Kronologi Formasi Alam Semesta

Berdasarkan persamaan (1) kita dapat meletakkan dalam sistem kalender itu beberapa peristiwa kosmis yang terjadi milyaran tahun yang lalu:

  • Terbentuknya Galaksi Bima Sakti. Galaksi Bima Sakti, di mana sistem matahari kita merupakan bagian darinya, dilaporkan terbentuk sekitar 11 milyar tahun lalu. Dalam skala kosmik ini berarti sekitar 291 hari yang lalu. Angka itu kita dapatkan dari hasil pembagian berikut:

(11×109 )/ (37.8×106) = 291

Dalam sistem kalender ini, waktu kosmik 291 hari yang lalu (terhitung dari 31 Desember) identik dengan 74 hari pertama (terhitung dari 1 Januari) atau 15 Maret. Tanggal itu berbeda dengan yang disajikan pada Gambar 1 (May) karena perbedaan asumsi umur alam semesta sebagaimana disinggung sebelumnya.

  • Terbentuknya Matahari dan Planetnya. Matahari dilaporkan terbentuk 4.7 milyar tahun yang lalu dan planet=planetnya terbentuk segera setelah matahari terbentuk. Peristiwa ini dalam Kalender Kosmik adalah 31 Agustus.
  • Terbentuknya batu tertua di bumi. Batu tertua di bumi dilaporkan berumur 4.0 milyar tahun yang lalu yang setara dengan 16 September dalam Sistem Kalender Kosmik.

Sejarah Awal

Para ilmuan sepakat bahwa tulisan pertama menandai awal sejarah dan peristiwa itu terjadi pada sekitar 5,500 tahun yang lalu. Dengan menggunakan persamaan (4) di atas, waktu kosmik dari peristiwa itu baru terjadi sekitar 13 detik yang lalu atau pada 31 Desember, Pukul 23:59:47. Dengan cara yang sama kita dapat melihat kronologi peristiwa sejarah lainnya sebagaimana ditunjukkan oleh Tabel 1.

Mengenai tabel itu ada dua catatan yang layak disisipkan:

  • Kolom (1) menunjukkan jarak waktu normal dalam arti menggunakan sistem Kalender Masehi diukur dalam ribuan tahun. Jarak waktu 5.0 dalam baris kedua, misalnya, menunjukkan bahwa peristiwa pembentukan Dinasti Mesir yang pertama terjadi 5,000 tahun yang lalu dari waktu kita sekarang.
  • Kolom (2) menunjukkan skala kosmis yang dinyatakan dalam tanggal dan waktu dalam Kalender Kosmis sebagaimana dibahas sebelumnya. Seperti terlihat dari tabel itu, semua peristiwa sejarah terjadi dalam menit terakhir akhir tahun (31 Desember, 23:59).

Dari tabel itu tampak bahwa peristiwa peradaban modern, sebagai ilustrasi, yang dimulai dengan era Renaisance di Eropa, baru terjadi dua detik yang lalu dalam Kalender Kosmik.

Tabel 1: Peristiwa Sejarah Awal menurut Jarak Waktu Normal (Ribuan Tahun) dan Kalender Kosmik (Tanggal-waktu Kosmik)
Jarak waktu normal Kalender kosmik

Peristiwa

(1) (2) (3)
5.5

31 Desember,

23:59:47

Tulisan pertama (menandai akhir prasejarah dan awal sejarah), dimulainya Zaman Perunggu
5.0

31 Desember,

23:59:48

Dinasti pertama Mesir, periode dinasti awal di Sumer, astronomi
4.5

31 Desember,

23:59:49

Alfabet, Kekaisaran Akkadia, roda
4.0

31 Desember,

23:59:51

Piagam Hammurabi, Kerajaan Pertengahan Mesir
3.5

31 Desember,

23:59:52

Yunani Mycenean; peradaban Olmec; Zaman Besi di Timur Dekat, India, dan Eropa; berdirinya Kartago.
3.0

31 Desember,

23:59:53

Kerajaan Israel, Olimpiade kuno.
2.5

31 Desember,

23:59:54

Buddha, Konfusius, Dinasti Qin, Yunani Klasik, Kekaisaran Ashoka, Weda selesai, geometri Euklides, fisika Archimedes, Republik Romawi.
2.0

31 Desember,

23:59:55

Astronomi Ptolemeus, Kekaisaran Romawi, Kristus, penemuan angka 0.
1.5

31 Desember,

23:59:56

Muhammad, peradaban Maya, Dinasti Song, kebangkitan Kekaisaran Bizantium.
1.0

31 Desember,

23:59:58

Kekaisaran Mongol, Perang Salib, pelayaran Christopher Columbus ke Amerika, Renaisans di Eropa.
Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Kosmik

Kelahiran Para Rasul

Sebagaimana ditunjukkan oleh Tabel 1, peristiwa kelahiran Rasul SAW dalam skala kosmis baru terjadi empat detik yang lalu. Bagaimana dengan kelahiran Nabi Nuh AS, Ibrahim AS, Musa AS dan Isa? Informasinya tidak tercantum dalam tabel itu tetapi dapat kita hitung secara sederhana berdasarkan data kelahiran dan rumus (4) sebagaimana disajikan sebelumnya. Hasil perhitungan disajikan pada Tabel 2.

Pada tabel itu tampak, misalnya, Nabi Nuh AS yang lahir 3,993 Sebelum Masehi (SM) (berarti sekitar 6,000 tahun yang lalu) dalam skala kosmik peristiwanya baru terjadi 13.7 detik yang lalu. Pada tabel yang sama juga tampak bahwa peristiwa kelahiran Nabi Isa AS baru terjadi kurang dari lima menit yang lalu dalam skala kosmis.

Tabel 2: Tanggal Kelahiran Empat Rasul AS dalam Sistem Kalender Kosmik
Nabi Lahir (*) Jarak waktu (**) Skala Kosmik (detik)

Tanggal/waktu dalam Kalender Kosmik

Nuh AS 3,993 SM  6,011 13.7 31 Desember, 23:59:46
Ibrahim AS 2,295 M  4,313 9.9 31 Desember, 23:59:40
Musa AS 1,527 SM  3,545 8.1 31 Desember, 23:59:52
Isa AS 1 M  2,018 4.6 31 Desember, 23:59:55
(*) Sumber: Google
(**) Jarak waktu dari waktu masa-kini (dalam tahun)

Refleksi

Jika umur kita 70 tahun[3], maka dalam skala kosmik angka itu setara dengan 0.16 detik, durasi yang sangat singkat, jauh lebih singkat dari pada kedipan mata yang oleh para ilmuan diyakini 0.4 detik (atau 400 milidetik)[4]. Dalam durasi yang sangat singkat itulah waktu yang tersedia bagi kita untuk “menanam” di “ladang amal” (meminjam istilah Aa Gym) selama kita hidup di sini di dunia-rendah (the lower-world-here), sebagai bekal kehidupan di akhirat. Tantangannya, apa dan bagaimana yang kita tanam itu dalam durasi waktu yang sangat singkat ini menentukan kehidupan di kampung akhirat[5], kehidupan abadi di dunia-atas-sana (the upper-world-there). Di luar imajinasi kita untuk dapat membayngkan lamanya kehidupan abadi itu: bisa mencapai 3.8 milyar tahun atau bahkan lebih. Yang pasti, selain wajah-Nya, semuanya punya batas waktu, punah (QS Ar-Rahman:26-27). Wallahualam……… @

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Age_of_the_universe

[2] Ini sebenarnya angka pendekatan. Jumlah hari dalam setahun, dengan memperhitungkan tahun Kabisat, secara rata-rata sebenarnya 365.25.

[3] Angka 70 dipilih sekadar untuk kemudahan. Perhitungan menurut data Sensus Penduduk 2010 menyarankan bahwa bagi penduduk Indonesia, angka harapan hidup (life expectancy) adalah 67.2 tahun bagi laki-laki dan 72.6 tahun bagi perempuan. Angka-angka ini bukan angka resmi (unpublished) dan merupakan hasil perhitungan penulis sebagai konsultan BPS-UNFPA dan Tim BPS dalam kegiatan “Konstruksi Life Table Indonesia Berdasarkan Data Sensus Penduduk”.

[4] https://health.detik.com/hidup-sehat-detikhealth/1348512/berapa-kali-mata-berkedip-dalam-1-menit.

[5] Bagi yang tertarik dengan “kampung akhirat”, lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/03/04/kampung-akhirat/.

 

Standard
Refleksi, Sejarah, Spiritual

Penyebaran Muslim: Catatan Sangat Singkat

Kini populasi Muslim atau Umat Islam, selanjutnya disingkat Umat, diperkirakan sekitar 2.4 milyar jiwa yang tersebar di seluruh dunia[1]. Dihitung dari peristiwa Hijrah dari Mekah ke Madinah, kini umur Umat sekitar 1.44 milenium menurut Kalender Hijriyyah atau 1.38 milenium menurut Kalender Masehi[2]. Sekitar 14 abad lalu menurut sistem Masehi, populasinya diduga kurang dari 100 jiwa, populasi yang sangat kecil sebagai “benih” suatu entitas sosial.

Selain berjumlah kecil, kelangsungan hidup “benih” ini sangat rentan karena selalu terancam dimusnahkan oleh kaum kuffar[3] Quraisy yang menilai ajaran Umat terlalu revolusioner dan egalitarian sehingga kelompok elitnya merasa sangat terancam. Kaum ini, menggunakan alusi qur’ani, selalu berupaya memadamkan “cahaya Allah” (QS61:8) yang baru menyala itu. Walaupun pada mulanya sangat rentan benih Umat ini ditakdirkan unggul sehingga dalam waktu seabad menjelma menjadi kekuatan yang mampu mengungguli pusat-pusat peradaban dunia saat itu.

Sekitar 14 Abad Lalu: Masa Kesedihan

Sekitar 14 abad lalu adalah masa kesedihan bagi Umat. Ketika itu, diukur dari peristiwa turunnya wahyu pertama di Guha Hira (610 M)[4], Umat baru berumur sekitar 18 tahun dan Rasul SAW beumur 41 tahun. Pemberian label masa kesedihan tidak berlebihan sebagaimana tercermin dari lima peristiwa historis berikut[5]:

  • 615: Hijrah I sekelompok Muslim ke Ethiopia;
  • 616: Hijrah II sekelompok Muslim ke Ethiopia;
  • 617: Pemboikotan sosial kaum kuffar orang Quraish terhadap keluarga Bani Hasyim dan Rasul SAW. Keluarga ini diucilkan di suatu lembah kecil di luar Kota Makkah;
  • 619: Dikenal sebagai tahun kesedihan; pencabutan boikot; wafatnya Abu Thalib RA dan Bunda Khadija RA; dan
  • 620: Misi dakwah ke Thaif yang gagal dan sempat melukai Rasul SAW; Mikraj Rasul SAW.

Peristiwa terakhir, Mikraj Rasul SAW, dinilai sebagai “hiburan” bagi Rasul SAW yang baru saja melewati masa-masa yang menyedihkan secara bertubi-tubi. Hiburan ini ternyata segera diikuti oleh sejumlah anugerah-Nya yang lain yang membawa angin segar bagi perkembangan Umat: Perjanjian Aqabah I (621), Perjanjian Aqabah II (622) dan Hijrah ke Madinah (mulai 622).

Peristiwa tearakhir sangat historis karena memberikan peluang bagi Umat membangun masyarakat yang sesuai dengan ajaran-ajaran agamanya. Upaya ke arah itu sama-sekali bukan tanpa tantangan: komposisi masyarakat jauh lebih prulalistis di bandingkan di Mekah dilihat dari suku dan agama, permusuhan dari kaum kuffar quraisy terus berlanjut yang menyebabkan dua perang yang sangat menentukan yaitu Perang Badar dan Perang Uhud, dan banyaknya “musuh dalam selimut” atau kaum munafiq. Tetapi semua tantangan itu dapat dilalui berkat bimbingan wahyu dan kepemimpinan Rasul SAW: dalam Era ini Umat mulai menyebar di seluruh jazirah Arab.

Satu Abad Kemudian: Masa Gemilang

Sekitar seabad setelah masa kesedihan, Umat mulai memasuki masa gemilang diukur dari penyebaran geografis yang dimulai pada Era Rasidun atau era dari empat khalifah yang pertama yaitu Abu Bakar RA, Umar RA, Usman RA dan Ali RA. Dalam puncak kegemilangannya Umat bahkan mampu memberikan sumbangan kemanusiaan yang sangat signifikan dalam pengembangan hampir semua cabang keilmuan: ilmu-pengobatan, penyakit mata (opthamology), sejarah kedokteran, lingusitik, arsitektur, matematik, ilmu optik, filsafat dan sebagainya[6].

Setelah Era Rasidun, kegemilanan Umat dilihat dari perluasan wilayah geografis dilanjutkan oleh Dinasti Umayah yang mampu mengungguli kekuatan “superpower” dunia saat itu yaitu Kerajaan Roma di Barat dan Kerajaan Persia di Timur. Kegemilangan itu terlihat dari lima peristiwa historis berikut ini[7]:

  • 711: Penaklukkan Spanyol, Sind (bagian dari Pakstan) dan Transoxiana[8] (kawasan Asia tengah yang mencakup Uzbekistan, Tajikistan, Kazakhstan, and Kyrgyzstan);
  • 712: Perluasan kekuasaan di Spanyol, Sind dan Transoxiana;
  • 713: Penaklukkan Mutan;
  • 716: Invasi ke Konstantinopel; dan
  • 725: Pendudukan Nimas di Pernacis.

Gambaran mengenai luasnya wilayah muslim dalam periode 622M-750M, periode yang mencakup Era Rasul SAW sampai Era Dinasti Umayah, dapat dilihat pada Gambar 1. Pada gambar itu tampak bahwa pada Era Rasul SAW, misalnya, muslim telah tersebar di hampir di semua kawasan jazirah Arabia walaupun baru disempurnakan pada Era Dinasti Umayah. Dalam dinasti ini wilayah penyebaran sudah mencakup wilayah Iberia dan sekitar.

Penyebaran muslim terus berlanjut pada Era Dinasti Abasyiah yang menggantikan dinasti Umayah. Gambar 2 memberikan ilustrasi mengenai luas wilayah geografis muslim sampai tahun 1050s.

Setelah Era Abasyiah, imperium muslim digantikan oleh Dinasti Ottoman dan penyebaran muslim terus, sebelum akhirnya berhenti pada sekitar dekade ke-2 abad ke-20 (jadi; dalam ukuran sejarah manusia, belum lama). Berakhirnya Era Ottoman menandai berakhirnya imperium muslim sebagai suatu kekhalifahan. Sebagai akibatnya, hampir semua wilayah gerografis muslim melepaskan diri dari kekuatan terpusat di Turki.

Gambar 3 meringkas sejarah ekspansi Islam ke sejumlah pusat perdaban sampai dua dekade awal abad ke-20 menurut abad dan era kekhalifahan (dinasti). Dalam gambar itu tampak, misalnya, dalam era Rashidun wilayah muslim mencakup kawasan-kawasan Arabia, Mesopotamia (Irak modern), Persia (Iran modern), Levant (Syria modern, Lebanon, Suriah, Yordania, Israel, dan Palestina). Era ini berakhir sekitar pertengahan abad ke-7M. Sebagai contoh lain, dalam era Otoman (Turki) yang berakhir pertengahan abad ke-20 M, ekspansi muslim mencakup wilayah-wilayah, selain kawasan-kawasan tadi, Magribi (Aljazair, Moroko, Tunisia, Libya and Mauritania, Transoxmania, Hindustan (termasuk Pakistan modern) dan Anatolia (Turki modern).

Abad 20: Era Kemunduran

Memasuki abad ke-20 imperium muslim tinggal sejarah, Umat memasuki era kemunduran, dan sebagian besar wilayahnya secara terpecah segera menjadi jajahan Barat. Kemunduran ini sejalan dengan penyebaran konsep negara-bangsa (nation state) yang dalam pengertiannya yang sangat spesifik mengacu pada “suatu negara di mana suatu kelompok budaya atau suku mendiami suatu wilayah teritorial dan membentuk suatu negara” (“a country where a distinct cultural or ethnic group (a “nation” or “people“) inhabits a territory and have formed a state)[9]. Konsep negara ini juga yang memupus sistem kekaisaran atau kerajaan yang berbasis multi-etnik termasuk Kekaisaran Austria, Kerajaan Perancis, Kerajaan Hungaria, kekaisaran Rusia, kekaisaran Ottoman, Kekaisaran Inggris.

Konsep negara bangsa pasti bukan satu-satunya bagi imperium Umat untuk mengalami kemunduran sebelum akhirnya sirna. Banyak faktor lain yang turut bertanggung jawab termasuk di antaranya faktor-faktor berikut:

  • Perubahan mode ekonomi dari yang berbasis agraris menjadi teknikalis, serta ketertinggalan Umat dalam mengadaptasi perubahan itu;
  • Pola pikir mainstrem Umat dalam menafsirkan syariah terlalu terfokus pada aspek ubudiyyah dalam artian sempit dan mengabaikan aspek muamalah dalam pengertian luas dan aktual; pola pikir ini menurut pengamatan Tariq Ramadan masih berlangsung sampai kini[10];
  • Perang Salib yang membuka mata Barat terhadap peradaban lebih maju;
  • Konsekuensi logis dari Islam sebagai suatu bentuk (form) agama yang, by definition, terbatas dalam memanifestasikan esensi Islam yang universal dan tak-terbatas (menurut F. Schuon); dan
  • Kehendak yang Maha Tinggi.

Faktor terakhir tentunya yang paling menentukan. Faktor ini diisyaratkan oleh ayat Al-Qur’an yang “menghibur” kekalahan tentara Rasul SAW dalam perang Uhud:

Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapatkan luka, maka mereka pun mendapatkan luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka dapat pelajaran) (QS3:140).

Iy yaysaskum faqad massal-qauma qarhum mitsluh, wa tilkal-ayyaamu nudaawiluha bainan-naas (QS3:140).

Wallahu’alam….@

[1] Sebagai rujukan lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/06/27/muslim_popn/.

[2] Alim.org-Timeline History-6th Century (500-599) C.E.

[3] Dalam Bahasa Arab istilah kuffar merujuk pada kelompok orang kafir tetapi dengan tingkat kekafiran yang amat sangat.

[4] Diukur dengan sistem Kalender Masehi, umur beliau ketika menerima wahyu pertama adalah 33 tahun. (Beliau Lahir 577 M.)

[5] Alim.org-Timeline History-6th Century (500-599) C.E.

[6] Lihat, misalnya, Philip K. Kitty (1961), History of the Arabs, khususnya dalam Bab XLIX, MACMILLAN & CO LTD.

[7] Alim.org-Timeline History-7th Century (600-699) C.E.

[8] https://en.wikipedia.org/wiki/Muslim_conquest_of_Transoxiana.

[9] https://en.wikipedia.org/wiki/Nation_state.

[10] Lihat, misalnya, Tariq Ramadan (2009), Radical Reform: Islamic Ethics and Liberation, Oxford University Press.

Standard
Refleksi, Sejarah

Peristiwa Penting 2017: Refleksi Akhir Tahun

Tahun 2017 segera berlalu dan Tahun Baru 2018 hampir tiba. Semua berharap tahun baru membawa harapan baru, tentunya ke arah yang lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pertanyannya, apakah harapan semacam ini realistis? Pada tataran individual, jawabannya seyogyanya positif: harapan hari-esok yang lebih baik perlu dirawat agar tetap “tampak” realistis. Pada tataran global, sayangnya kita perlu mengakui bahwa jawabannya cenderung negatif. Jawaban ini logis berdasarkan fakta dari sejumlah peristiwa yang terjadi sepanjang tahun 2017.

Sukar bagi kita untuk mengabaikan fakta berbagai bencana yang terjadi pada tahun ini, bencana alam maupun bencana kemanusiaan. Mengenai yang pertama sebut saja Badai Harvei yang yang menyerang wilayah metropolitan Houston (Amerika Serikat) pada minggu ke-4 Agustus[1]. Mengenai yang kedua, dapat diambil contoh kasus peristiwa “pembersihan etnis” (istilah yang diberikan oleh PBB) melalui suatu operasi militer pada 25 Agustus yang menargetkan Muslim Rohingya di Myanmar[2].

Kasus Rohingya merupakan contoh kasus pindah paksa (forced displacement) yang menurut UNHCR, secara global, mengambil korban sekitar 65,6 juta orang pada akhir tahun 2016 (angka 2017 belum tersedia tetapi patut diduga tidak banyak berkurang). Angka itu lebih besar dari pada populasi Inggris dan secara rata-rata berarti 20 orang diusir dari rumah mereka setiap menit, atau seorang setiap tiga detik. Bagi Filippo Grandi (UNHCR), “Dalam ukuran apa pun angka ini tidak dapat diterima” dan untuk menyelesaikannya perlu determinasi dan keberanian, bukan takut: “For a world in conflict, what is needed is determination and courage, not fear[3]

Jika bencana alam seperti Badai Harvei boleh dikatakan sebagai manifestasi “kehendak Tuhan”, maka kasus seperti pindah paksa jelas “buatan manusia” (man-made). Kenapa manusia melakukannya? Jawaban singkatnya, karena kebodohan, dalam berbagai tingkat dan bentuknya. Einstein mungkin benar ketika mengatakan bahwa kebodohan manusia itu tidak terhingga: “Only two things are infinite, the universe and human stupidity, and I’m not sure about the former” (“Hanya dua hal yang tak-terhigga, alam raya dan kebodohan manusia, dan saya tidak yakin mengenai yang pertama”) [4].

Kita dapat membuat daftar panjang peristiwa sepanjang tahun 2017. Walaupun demikian, kita dapat menyederhanakanna dengan memilih kasus yang secara umum dinilai memiliki signifikansi kemanusiaan dan merefleksikan suasana batin global. Daftar peristiwa selektif semacam ini dapat dilihat, misalnya, dalam daftar yang dikompilasi oleh Wikipedia[5].

Urutan pertama dalam kompilasi Wikipedia adalah demonstrasi Women’s March besar-besaran pada 21 Januari 2017 sebagai tanggapan atas peresmian Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat. Demonstrasi ini dilaporkan melibatkan jutaan orang (sebagian besar perempuan), dan berlangsung tidak hanya di AS tetapi juga di negara lain. Para demonstran menolak Presiden sebagian karena dianggap kurang hormat terhadap perempuan, rasialist, agresif, kurang akomodatif, tidak presidential, dan dituduh cenderung pada kebijakan yang kontroversial.

Tuduhan para demonstran kebijakan kontroversial belakangan terbukti sebagaimana terlihat dari beberapa peristiwa berikut:

6 April – Militer A.S. meluncurkan rudal jelajah Tomahawk di sebuah pangkalan udara di Suriah yang oleh Rusia digambarkan sebagai “agresi”;

13 April – Dalam serangan udara AS menjatuhkan senjata non-nuklir terbesar di dunia, di sebuah markas ISIL di Afghanistan.

1 Juni – A.S. mengumumkan keputusannya untuk menarik diri dari Paris Climate Agreement pada waktunya.

12 Oktober – AS menarik diri dari UNESCO yang segera diikuti oleh Israel.

6 Desember – AS secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Semua peristiwa ini tercantum dalam daftar yang dikompilasi oleh Wikipedia. Selain itu, daftar ini mencantumkan juga peristiwa lain termasuk ujicoba nuklir Korea Utara (Februari), kelaparan di di Yaman, Somalia, Sudan Selatan dan Nigeria (Maret), dan keptusan Dewan Keamanan PBB untuk memberikan sangsi tambahan kepada Korea Utara (Desember). Tabel 1 berikut menyajikan daftar yang dimaksud.

Berdasarkan daftar itu sukar bagi kita untuk berharap banyak bahwa 2018 akan lebih baik dari 2017. Daftar itu justru mengisyaratkan beratnya tantangan bagi masyarakat global di tahun depan, tanpa harus berharap terlalu banyak pada inisiatif dan kepemimpinan Administrasi Trump. Walaupun demikian kita tampaknya perlu menyetujui pendapat Grandi bahwa dunia dalam “keadaan perang” dan yang kita butuhkan bukan rasa takut, tetapi determinasi dan keberanian. Selain unsur determinasi dan keberanian, mungkin kita dapat tambahkan unsur sabar, unsur yang konon menjadi “rahasia” kemenangan Barca terhadap Madrid dalam pertandingan klasik baru-baru ini. Sebagai catatan, istilah sabar dalam konteks ini mengambil definisi Fulton J. Sheen[6]:

Patience is power

Patience is not an absence of action;

rather it is “timing”

it waits on the right time to act,

for the right principles

and in the right way.

Wallhu’alam….@

Tabel 1: Peristiwa Penting Tahun 2017
Bulan Peristiwa
Januari 21 Januari – Jutaan orang di seluruh dunia bergabung dalam demonstrasi Women’s March sebagai tanggapan atas peresmian Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat. Pada hari itu dilaporkan 420 gelombang protes di A.S dan diikuti di 168 di negara lain sehingga tercatat sebagai hari demonstrasi terbesar dalam sejarah Amerika, bahkan secara global dalam sejarah baru-baru ini.
Februari 11 Februari – Korea Utara mengundang kecaman internasional karena melakukan uji coba menembakkan rudal balistik yang melintasi Laut Jepang.
Maret 10 Maret – PBB memperingatkan bahwa dunia menghadapi krisis kemanusiaan terbesar sejak Perang Dunia II terkait dengan risiko kelaparan bagi 20 juta orang lebih di Yaman, Somalia, Sudan Selatan dan Nigeria.

29 Maret – Inggris memulai Negosiasi Brexit untuk meninggalkan Uni Eropa.

30 Maret – SpaceX melakukan penerbangan-ulang roket kelas orbital pertama di dunia.

April 6 April – Menanggapi dugaan serangan senjata kimia di sebuah kota yang dikuasai pemberontak, militer A.S. meluncurkan rudal jelajah Tomahawk di sebuah pangkalan udara di Suriah. Rusia menggambarkan tindakan itu sebagai “agresi”, dan menambahkan bahwa hal itu secara signifikan merusak hubungan A.S.-Rusia.

13 April – Dalam serangan udara Nangarhar tahun 2017, AS menjatuhkan MOU GBU-43 / B, senjata non-nuklir terbesar di dunia, di sebuah markas ISIL di Afghanistan.

May 12 Mei – Komputer di seluruh dunia terkena serangan cyber ransomware skala besar yang menyerang setidaknya 150 negara.

22 Mei – Suatu erangan bom teroris di sebuah konser Ariana Grande di Manchester, Inggris, membunuh 22 orang dan melukai lebih dari 500 orang.

Juni 1 Juni – Di tengah kritik luas, A.S. mengumumkan keputusannya untuk menarik diri dari Paris Climate Agreement pada waktunya.

7 Juni – Dua serangan teroris bersamaan dilakukan oleh lima teroris milik Negara Islam Irak dan Levant (ISIL) melawan gedung Parlemen Iran dan Mausoleum Ruhollah Khomeini, keduanya di Teheran, Iran, menyebabkan 17 warga sipil tewas dan 43 luka. Ini menjadi serangan ISIL pertama di Iran.

10 Juni – Expo Dunia 2017 dibuka di Astana, Kazakhstan.

12 Juni – Mahasiswa Amerika Otto Warmbier kembali ke rumah dalam keadaan koma setelah menghabiskan 17 bulan di sebuah penjara Korea Utara dan meninggal seminggu kemudian.

18 Juni – Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) menembakkan enam rudal balistik mid-range permukaan ke darat dari basis domestik yang menargetkan pasukan ISIL di Provinsi Deir ez-Zor Suriah sebagai tanggapan atas serangan teroris di Teheran awal bulan itu.

21 Juni – Masjid Agung al-Nuri di Mosul, Irak, hancur oleh Negara Islam Irak dan Levant.

25 Juni – Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan Yaman mengalami lebih dari 200.000 kasus kolera.

27 Juni – Serangkaian serangan cyber yang menggunakan malware Petya dimulai, mempengaruhi organisasi-organisasi di Ukraina.

Juli 4 Juli – Rusia dan China mendesak Korea Utara untuk menghentikan program rudal dan nuklirnya setelah berhasil menguji rudal balistik antarbenua pertamanya.

7 Juli – Perjanjian Larangan Senjata Nuklir dipilih oleh 122 dari 193 negara anggota PBB.

10 Juli – Perang Sipil Irak (2014-sekarang): Mosul dinyatakan sepenuhnya dibebaskan dari Negara Islam Irak dan Levant.

Agustus 5 Agustus – Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat menyetujui sanksi baru terhadap perdagangan dan investasi Korea Utara.

17 Agustus – Observasi pertama dari tabrakan dua bintang neutron (GW170817) dipuji sebagai terobosan dalam astronomi multi-messenger   ketika gelombang gravitasi dan elektromagnetik dari peristiwa tersebut terdeteksi. Data dari acara tersebut memberikan bukti konfirmasi untuk teori proses-r asal mengenai unsur-unsur berat seperti emas.

21 Agustus – Gerhana matahari total (dijuluki “The Great American Eclipse”) terlihat di dalam suatu band di seluruh Amerika Serikat yang bersebelahan, melintas dari Pasifik ke pantai Atlantik.

25 Agustus – masih berlangsung – Suatu operasi militer yang menargetkan Muslim Rohingya di Myanmar “tampaknya merupakan contoh buku teks tentang pembersihan etnis”, menurut Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa.

25-30 Agustus – Badai Harvey menyerang Amerika Serikat sebagai topan Kategori 4, yang menyebabkan kerusakan parah pada wilayah metropolitan Houston, sebagian besar karena banjir yang memecahkan rekor. Sedikitnya 90 kematian dicatat, dan kerusakan total mencapai $ 198,6 miliar (2017 USD), menjadikan Harvey sebagai bencana alam paling mahal dalam sejarah Amerika Serikat.

September 1 September – Presiden Rusia Vladimir Putin mengusir 755 diplomat sebagai tanggapan atas sanksi Amerika Serikat.

3 September – Korea Utara melakukan uji coba nuklir keenam dan paling kuat.

6-10 September – Karibia dan Amerika Serikat diserang oleh Badai Irma, badai Kategori 5 yang merupakan badai terkuat yang tercatat di cekungan Atlantik di luar Karibia dan Teluk Meksiko. Badai menyebabkan setidaknya 134 kematian dan setidaknya $ 63 miliar (2017 USD) dalam kerusakan.

13 September – Komite Olimpiade Internasional memberi penghargaan kepada Paris dan Los Angeles untuk menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas 2024 dan 2028.

15 September – Cassini-Huygens mengakhiri misi 13 tahunnya dengan terjun ke Saturnus, menjadi pesawat ruang angkasa pertama yang memasuki atmosfer planet ini.

19 September – Sebelas hari setelah gempa dahsyat yang dahsyat, dan pada hari ulang tahun ke-32 dari gempa yang mematikan pada tahun 1985 di Kota Meksiko, sebuah gempa Mw 7.1 menyerang Meksiko tengah, menewaskan lebih dari 350 orang dan menyebabkan sampai 6.000 orang terluka. dan menyebabkan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal.

19-20 September – Hanya dua minggu setelah Badai Irma menyerang Karibia, Badai Maria menyerang daerah serupa, membuat pendaratan di Dominika sebagai topan Kategori 5, dan Puerto Riko sebagai topan Kategori 4. Maria menyebabkan setidaknya 94 kematian dan kerusakan diperkirakan mencapai $ 103 miliar (2017 USD).

25 September – Kurdistan Irak memberikan suara dalam suatu referendum untuk menjadi negara merdeka, yang bertentangan dengan Irak; pada tanggal 15 Oktober, krisis tersebut meningkat menjadi konflik bersenjata singkat mengenai wilayah-wilayah yang disengketakan.

Oktober 1 Oktober – Lima puluh delapan orang terbunuh dan 546 lainnya cedera saat Stephen Paddock menembaki kerumunan di Las Vegas, melebihi serangan klub malam tahun 2016 di Orlando sebagai pemotretan paling mematikan yang dilakukan oleh seorang pria bersenjata tunggal dalam sejarah A.S.

12 Oktober – Amerika Serikat mengumumkan keputusannya untuk menarik diri dari UNESCO, dan segera diikuti oleh Israel.

14 Oktober – Sebuah ledakan besar yang disebabkan oleh pemboman truk di Mogadishu, Somalia membunuh setidaknya 512 orang dan melukai 316 lainnya.

17 Oktober – Perang Sipil Suriah: Raqqa dinyatakan sepenuhnya dibebaskan dari Negara Islam Irak dan Levant.

25 Oktober – Pada Kongres Nasional Partai Komunis China ke-19, Xi Jinping menganggap masa jabatan keduanya sebagai Sekretaris Jenderal (pemimpin penting China), dan teori politik Xi Jinping Thought ditulis dalam konstitusi partai.

27 Oktober – Catalonia menyatakan kemerdekaan dari Spanyol, namun Republik Catalan tidak diakui oleh pemerintah Spanyol atau negara berdaulat lainnya.

November 2 November – Spesies baru orangutan diidentifikasi di Indonesia, menjadi spesies orangutan ketiga yang dikenal sebagai kera besar pertama yang dideskripsikan selama hampir satu abad.

3 November – Perang saudara Suriah: Deir ez-Zor di Suriah dan Al-Qa’im di Irak dinyatakan dibebaskan dari ISIL pada hari yang sama.

5 November – Surat kabar Jerman Süddeutsche Zeitung menerbitkan 13,4 juta dokumen yang bocor dari firma hukum lepas pantai Appleby, bersama dengan pendaftar bisnis di 19 yurisdiksi pajak yang mengungkapkan kegiatan keuangan luar negeri atas nama politisi, selebriti, raksasa perusahaan dan pemimpin bisnis. Surat kabar tersebut membagikan dokumen-dokumen tersebut dengan Konsorsium Investigasi Internasional dan memintanya untuk memimpin penyelidikan tersebut.

12 November – Sebuah gempa berkekuatan 7,3 skala Richter menyerang wilayah perbatasan antara Irak dan Iran yang menyebabkan sedikitnya 530 orang tewas dan lebih dari 70.000 orang kehilangan tempat tinggal.

15 November – Presiden Zimbabwe Robert Mugabe ditempatkan di bawah tahanan rumah, saat militer menguasai negara tersebut. Dia mengundurkan diri enam hari kemudian setelah 37 tahun memerintah.

Lukisan Leonardo da Vinci, Salvator Mundi, dijual seharga US $ 450 juta di Christie’s di New York, harga rekor baru untuk karya seni apapun.

20 November – Alam menerbitkan sebuah artikel yang mengenali asteroid kecepatan tinggi’Oumuamua yang berasal dari luar tata surya yaitu objek antar bintang pertama yang diketahui.

22 November – Pengadilan Internasional menemukan Ratko Mladić bersalah melakukan genosida yang dilakukan di Srebrenica selama Perang Bosnia 1990-an, pembantaian terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II. Dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

24 November – Sebuah serangan masjid di Sinai, Mesir membunuh 305 pemuja dan menyebabkan ratusan lainnya terluka.

Desember 5 Desember – Rusia dilarang mengikuti Olimpiade Musim Dingin 2018 di Pyeongchang oleh Komite Olimpiade Internasional, menyusul suatu penyelidikan mengenai doping yang disponsori negara.

6 Desember – Amerika Serikat secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

9 Desember – Militer Irak mengumumkan pihaknya telah “membebaskan sepenuhnya” seluruh wilayah Irak dari “gerombolan teroris ISIS” dan merebut kembali kendali penuh atas perbatasan Irak-Suriah.

14 Desember – Walt Disney Company mengumumkan akan mengakuisisi sebagian besar 21st Century Fox, termasuk studio film 20th Century Fox, seharga $ 66 miliar.

22 Desember – Dewan Keamanan PBB memberikan suara 15-0 untuk mendukung sanksi tambahan terhadap Korea Utara, termasuk langkah-langkah untuk memangkas impor minyak bumi hingga 90%.

Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/2017

 

Sumber: Google

 

[1] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/09/02/badai-harvey/

[2] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/09/17/rohingya/

[3] http://www.unhcr.org/afr/news/stories/2017/6/5941561f4/forced-displacement-worldwide-its-highest-decades.html

[4] http://www.azquotes.com/quote/87292

[5] https://en.wikipedia.org/wiki/2017

[6] Google.

 

Standard
Refleksi, Sejarah, Spiritual

Haji yang Historis

Kata historis ini dalam tulisan ini digunakan sebagai padanan kata historic dalam Bahasa Inggris yang berarti bukan hanya menyatakan sesuatu yang terkait dengan sejarah atau masa lalu (historical), tetapi juga sesuatu yang signifikan dalam sejarah, sesuatu yang menandai perubahan selanjutnya dalam peristiwa kemanusiaan[1]. Istilah haji historis dalam pengertian seperti ini tampaknya hanya layak jika dinisbahkan kepada peristiwa haji yang berlangsung pada tahun ke-10 Hijriyyah.

Tanpa atribut keberhalaan

Kenapa haji pada tahun itu bersifat historis? Paling tidak karena tiga alasan. Pertama, haji ini berlangsung ketika Makah baru saja dibebaskan sehingga semua situs upacara haji sudah bersih dari atribut-atribut keberhalaan. Mengenai hal ini Ling mencatat:

Ibadah haji kali ini berbeda dengan yang dilakukan beratus-ratus tahun sebelumnya: seluruh jamaah akan menyembah hanya pada satu Tuhan, dan tidak ada lagi penyembah berhala yang akan mencemari Rumah Suci dengan mengadakan ritus-ritus kemusyrikan. Lima hari sebelum akhir bulan, Nabi keluar memimpin 30,000 laki-laki dan perempuan[2].

Dalam kontkes ini kita dapat memahami signifikansi lafa-lafal talbiyyah yang dikumandangkan dalam upacara haji dan sangat menekankan ajaran-ajaran tauhid: “…tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji dan nikmat hanyalah milik-Mu, juga semua kerajaan, tidak ada sekutu bagi-Mu”[3].

Haji perpisahan

Kedua, haji ini merupakan haji perpisahan (haji wada’) antara Rasul saw yang sangat mencintai umatnya dengan umat yang sangat mencintai rasulnya[4]. Kecintaan beliau kepada umatnya terungkap dari redaksi pembukaan khutbah beliau: “Wahai manusia!” Dengarkan kataku, agar aku terangkan kepadamu. Sesungguhnya aku tak tahu, barangkali aku tak akan bertemu dengan kamu sesudah tahunku ini, di tempat perhentian ini untuk selama-lamanya”[5]. Mengenai redaksi ini Natsir memberikan komentar yang bernada puitis[6]:

Dengan kata-kata yang sederhana yang memancarkan sinar kasih sayang dari lubuk hatinya, beliau berbicara kepada Ummatnya. Kepada Ummatnya yang telah dipupuknya, dipeliharanya, disusunnya selama 23 tahun, ibaratnya: dari benih kecil, kemudian memancarkan kembang yang perlahan-lahan, lambat laun bertambah kuat, sampai menjadi pohon rindang, “uratnya menghujam ke dalam bumi, puncaknya tinggi menjulang ke langit”, yakni Ummat yang sedikit hari lagi akan ditinggalkannya.

Redaksi pembukaan itu mungkin didorong oleh firasat beliau bahwa ajalnya tidak akan lama lagi sebagaimana dikemukakan kepada– tetapi ketika itu diminta dirahasiakan– puteri beliau, Fatimah RA: “Jibril membacakan Alquran kepadaku dan aku membacakan kepadanya sekali setahun, tetapi tahun ini ia membacakannya dua kali. Aku menduga waktuku telah tiba“[7]. Karena firasatnya ini maka Rasul saw tampaknya menilai haji kali ini istimewa sebagaimana terungkap dalam tiga peristiwa ini:

  • Isteri Abu Bakar RA yang melahirkan dalam rombongan haji—yang sebelumnya direncanakan dikembalikan ke Madinah– diminta oleh Rasul saw untuk mandi junub dan melanjutkan perjalanan haji sesuai rencana semula[8];
  • Aisyah RA isteri beliau yang berada dalam keadaan tidak suci dikirim keluar dari Tanah Suci, diminta bersuci di sana, kembali ke Mekah dan bertawaf[9]; dan
  • Haji kali ini yang dikampanyekan secara luas akan dipimpin langsung oleh Rasul saw memperoleh sambut Umat sehinga terkumpul, sebagaimana dicatat sebelumnya, sekitar 30,000 dari rombongan dari Madinah saja[10].

Umat juga tampaknya mengangap haji kali ini istimewa. Dengan semangat dan penuh perhatian mereka mencermati semua apa yang dikatakan, dilakukan dan disikapi oleh Rasul saw selama ritual haji berlangsung. Catatan mereka kelak menjadi sumber utama tata-cara haji yang kita kenal sampai saat ini. Dalam suatu kesempatan, sebagai ilustrasi, Rasul saw sempat mengherankan para jamaah dengan memperluas wilayah Tanah Suci untuk ritual haji sampai mencakup bukit Arafah, yang tampaknya tidak umum bagi penduduk Makah. Tapi beliau menekankan bahwa “hari ‘Arafah” sebagai bagian terpenting dari ibadah haji, dan Quraisy mengabaikan pelaksanaannya. Nabi menegaskan pula bahwa hari ‘Arafah adalah ritus haji masa lalu, dan kata-kata “napak tilas Ibrahim” sering kali beliau ucapkan”[11].

Isu Hak Azasi Manusia

Dari uraian terdahulu kita memiliki dua alasan kenapa haji wada’ itu bersifat historis. Tapi ada alasan ketiga yang perlu dikemukakan yaitu isi dari khutbah haji wada’ itu. Karena Rasul saw menganggap haji ini istimewa dan memilki firasat merupakan haji terakhir baginya, maka wajar bagi beliau jika merasa harus menyamaikan pesan-pesan risalah kenabian yang terpenting saja dalam kesempatan waktu khutbah yang singkat.

Ada banyak versi hadits mengenai isi khutbah haji wada’ ini tetapi semuanya sepakat bahwa beliau mengedepankan isu kehormaan jiwa dan harta sesama sebagai dalam khutbahnya. Dalam konteks ini apa yang dikemukakan Natsir layak disimak. Menurut beliau, penyampaian isu ini dikemukakan dalam bentuk dialog sebagai berikut[12]:

Rasul (R): “Wahai manusia! Dengar kataku, agar aku terangkan kepadamu. Sesungguhnya aku tak tahu, berangkali aku tak akan bertemu lagi denganmu sesudah tahun ini, di tempat perhentian ini untuk selamanya’. ‘Wahai orang banyak! Tahukah kamu, bulan apakah sekarang?”

Umat yang hadir (U): “Bulan haram”

R: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kamu, darah sesamamu, sampai kamu berjumpa dengan Tuhanmu, seperti haramnya bulan ini’. ‘Tahukah kamu daerah apakah ini?”

U: ‘Daerah Haram”

R: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kamu darah sesamamu dan harta sesamamu; sampai kamu berjumpa dengan Tuhanmu; seperti haramnya daerahmu ini”. “Tahukah kamu hari apakah sekarang?”

U: ‘Hari haram’

R: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan kepadamu darah sesamamu dan harta sesamamu sampai kamu berjumpa dengan Tuhanmu, seperti haramnya haramnya hari ini di ulanmu ini, di daerahmu ini. Sesungguhnya kamu akan berjumpa dengan Tuhanmu, dan akan ditanya akan segala perbuatanmu’. “Wahai! Apakah aku sudah sampaikan? (Alä hal balagtu)

U: ‘Allahumma, betul, sudah engkau sampiakan’

R: “Wahai Tuhanku! Persaksikanlah”.

Paling tidak ada dua catatan dari kutipan di atas. Pertama, potongan khutbah jelas sekali menegaskan dua isu hak azasi manusia (HAM) yang mendasar yaitu hak hidup dan hak kepemilikan barang pribadi. Kedua, Posisi penempatan teks Alä hal balagtu? dalam rangkaian dialog di atas mengisyaratkan bahwa Rasul ingin menegaskan bahwa dua isu HAM yang disebutkan sebelumnya harus merupakan bagian materi tablig dalam menyampaikan Risalah Islam.

Pencantuman isu HAM dalam khutbah ini tentu saja tidak hanya menggambarkan pandangan Rasul saw sebagai pribadi tetapi merupakan ajaran risalah Islam yang mendasar dan mungkin “terlalu maju” bagi zamannya. Kenapa terlalu maju? Karena kesadaran kolektif ras manusia secara keseluruhan mengenai isu HAM ini baru mengkristal 1.4 milenium berikutnya, dalam bentuk Pasal 3 dan Pasal 17 Deklarasi Hak Azasi Manusia PBB yang ditandatangi di Paris 10 Desember 1948:[13]:

Pasal 3: Setiap orang memiliki hak untuk hidup, kebebasan dan keamanan pribadi (Everyone has the right to life, liberty and security of person.)

Pasal 17: (1) Setiap orang memiliki hak untuk memiliki kekayaan pribadi dan juga berhubungan dengan orang lain. (2) Tidak seorangpun boleh dirampas secara sewenang-wenang hak-miliknya. (Everyone has the right to own property alone as well as in association with others.
(2) No one shall be arbitrarily deprived of his property.)

Isi khutbah selanjutnya terkait degan masalah kehidupan sosial kemasyarakatan dalam arti luas: kewajiban menyempurnakan amanah, penghapusan riba, hak-hak dan kewajiban wanita (termasuk hak dan kewajiban timbal-balik suami-istri), ukhuwah islamiah dan persamaan hak dan martabat manusia, tanpa memandang bangsa dan warna kulit. dan kewajiban menyampaikan isi khutbah kepada orang lain.

Topik terakhir dari khutbah, kewajiban menyampaikan isi khutbah kepada orang lain, mengisyaratkan “timbang terima” (istilah Natsir) kewajiban menyampaikan risalah Islam kepada dari Rasul saw kepada “pewarisnya”; yakni, alim-ulama. Topik ini disampaikan bagian terakhir dari khutbah yang sekaligus juga merupakan pernyataan “pertanggung-jawaban” Rasul saw kepada Rabb-nya sebagaimana terungkap dalam kutipan ini[14]:

Ya Allah, sudahkah aku menyampaikan pesan ini kepada mereka?
 Kamu sekalian akan menemui Allah, maka setelah kepergianku nanti janganlah kamu menjadi sesat seperti sebagian kamu memukul tengkuk sebagian yang lain.
 Hendaklah mereka yang hadir dan mendengar khutbah ini menyampaikan kepada mereka yang tidak hadir. Mungkin nanti orang yang mendengar berita tentang khutbah ini lebih memahami daripada mereka yang mendengar langsung pada hari ini.
 Kalau kamu semua nanti akan ditanya tentang aku, maka apakah yang akan kamu katakan? Semua yang hadir bergemuruh menjawab, “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan tentang risalah-risalah tuhanmu, engkau telah menunaikan amanah, dan telah memberikan nasehat”. Sambil menunjuk ke langit, Rasulullah kemudian bersabda, ”Ya Allah, saksikanlah pernyataan mereka ini, ya Allah saksikanlah pernyatan mereka ini, ya Allah saksikanlah pernyataan mereka ini”.

Dua kalimat yang digaris-bawahi dalam kutipan di atas layak dicermati. Pertama, jelas merupakan pernyataan “timbang-terima” penyampian Risalah. Kedua, mengisyaratkan bahwa generasi Umat pasca generasi beliau bisa jadi lebih baik dalam memahami inti Risalah Islam karena –seperti disinggung sebalumnya– ajaran Islam “terlalu maju” bagi zaman kelahirannya. Wallahu’alam….@

Sumber Gambar: Google

Referensi

[1] Seperti tertulis Kamus dalam Google, “To write historic instead of historical may imply a greater significance than is warranted: a historical lecture may simply tell about something that happened whereas a historic lecture would in some way change the course of human events”.

[2] Martin Ling (Abu Bakar Siraj al-Din), Muhmmad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, PT Serambi Ilmu Semesta, Cetkan ke-6 (2009).

[3] Lafal talbiyyah secara lengkap: “Labbaikallaahumma labbaika, labbaika laa syariika laka labbaika, innal hamda wanni’mata laka wal mulka laa syariika laka” ( “Aku penuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu,”).

[4] Usia hidup beliau, menurut kalander masehi, sekitar 61 tahun: lahir 571 dan (8 Juni) 632. Lihat Hitti (1961: 111-119), History of the Arab, Macmillan & Co Ltd.

[5] M. Natsir (2008), Fiqhud Da’wah, Cetakan ke-13, PT Abadi.

[6] Ibid, halaman 113.

[7] Ling, ibid, hal 628.

[8] Ling, ibid, halaman 628.

[9] Ling, ibid, halaman 634

[10] Ling, ibid, hal. 629

[11] Ling, ibid, halaman 631.

[12] Natsir, ibid, halaman 111-115.

[13] http://www.un.org/en/universal-declaration-human-rights/.

[14] https://penyegarhati.wordpress.com/khutbah/khutbah-haji-wada/

Standard
Refleksi, Sejarah, Spiritual

Empat Jenis Fitnah: Refleksi Surat Al-Kahf

Kata fitnah dalam tulisan ini bermakna cobaan (ibtilaa) atau ujian (imtihan)[1]. Makna ini ditemukan antara lain dalam ayat ke-2 Surat Al’Ankabuut: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji (teks: laa yuftanuun)?” Bagi yang meyakini kebenaran Al-Qur’an, ayat ini dipahami sebagai penegasan bahwa keimanannya akan mengalami cobaan atau ujian.

Fitnah keimanan dapat mengambil berbagai bentuk termasuk lingkungan sosial yang tidak mendukung atau bahkan membahayakan seorang yang beriman untuk merealisasikan nilai-nilai keimanannya dalam kehidupan sehari-hari. Fitnah inilah yang dihadapi sekelompok pemuda penghuni gua (ashabul kahfi). Fitnah keimanan dapat juga mengambil bentuk lain termasuk: (1) kekurangan atau kelimpahan harta, (2) kemiskinan atau kekayaan ilmu, dan (3) kemiskinan atau kelimpahan kekuasaan. Jadi kita paling tidak memilki daftar yang terdiri empat jenis fitnah keimanan: lingkungan sosial, harta, ilmu dan kekuasaan. Keempat jenis fitnah ini disajikan dalam Surat Al-Kaf dalam bentuk cerita yang sarat makna[2].

Surat ini mencakup 110 ayat yang sekitar 70 ayat atau hampir dua-pertiga di antaranya terkait dengan cerita ilustratif mengenai empat jenis fitnah itu. Besarnya proporsi ini mengindikasikan pentingnya pesan moral yang ingin disampaikan. Wallahu’alam. Posisi ayat terkait dengan cerita yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  • Fitnah lingkungan sosial: ayat 9-26 (17 ayat), dinarasikan dalam bentuk cerita penghuni gua;
  • Fitnah harta: ayat 32-43 (12 ayat), cerita pemillik dua kebun yang subur;
  • Fitnah ilmu: ayat 60-82 (23 ayat), cerita Nabi Musa AS dan Khidr AS; dan
  • Fitnah kekuasaan: ayat 83-101 (19 ayat), cerita Zulkarnain.

Latar belakangi Surat Al-Kahf adalah pertanyaan beberapa orang Quraisy kepada Rasul saw mengenai perkara ruh, ashabul kahfi, dan Zulkarnain[3]. Untuk merespon pertanyaan ini beliau berjanji akan memberikan jawabannya besok, suatu respon yang menyebabkan beliau memperoleh teguran:

Dan janganlah sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu “Aku pasti melalukan itu besok pagi” kecuali (dengan mengatakan “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberikan petunjuk kepadaku agar aku lebih dekat (kebenarannya) dari pada ini” (Al-Kahf:23-24).

Fitnah Lingkungan Sosial

Finah ini dinarasikan dalam bentuk cerita penghuni gua (ashabul kahfi) sebagaimana digambarkan dalam ayat 13-14:

Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka. Dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu mereka berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami tidak menyeru Tuhan selain Dia. Sungguh, kalau kami berbuat demikian, tentu kami telah mengucapkan yang sangat jauh dari kebenaran”.

Jelasnya, penghuni gua yang kita bicarakan ini mengacu kepada sekelompok pemuda yang beriman serta berani menegaskan keimanannya. Dia berani “berdiri”, yang menurut suatu riwayat, di hadapan Raja Dikyanus, seorang raja yang zalim dan sombong[4]. Berapa jumlah mereka? Dugaannya bervariasi: 3, 5 dan 7 orang. Nash (ayat al-Qur’an) tampaknya cenderung menekankan pesan moral cerita, bukan jumlah anggota kelompok itu. Dugaan ini dapat disimak dari perintah kepada Rasul saw untuk mengatakan: “Tuhanku lebih mengetahui (bilangan) mereka, tidak ada yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit” (ayat ke-22).

Untuk mempertahankan keimanan serta menyelamatkan diri ancaman raja yang zalim itu kelompok pemuda ini diperintahkan untuk mencari perlindungan di suatu gua (ayat ke-16); di sana ditidurkan selama 309 tahun hitungan Qamariyah (ayat ke-25), walaupun mereka menganggap hanya “satu hari atau setengah hari” (ayat ke-19). Cerita luar biasa berupa “tidur yang sangat lama ini” dimaksudkan untuk mengajarkan manusia bahwa “janji Allah” untuk membangkitkan manusia dari kematian adalah benar adanya dan bahwa “kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya” (ayat ke-21). Wallahu’alam.

Diletakkan dalam konteks dunia kontemporer, penulis tergoda untuk menganalogikan nasib penghuni gua ini dengan nasib yang dihadapi penganut agama minoritas yang tinggal dalam suatu negara yang masyarakat dan penguasanya bersifat tiranik terhadap kelompok masyarakat yang lemah secara politis.

Fitnah Harta

Fitnah ini diilustrasikan melalui cerita seorang pemilik dua kebun anggur yang dikelilingi pohon kurma dan dipisahkan oleh ladang (ayat ke-32). Pepohonan di kebun itu sangat subur dan produksinya melimpah antara lain karena adanya sungai di celah-celah kedua kebun itu (ayat ke-34).

Yang menjadi topik bukan kesuburan kebunnya tetapi sikap pemiliknya yang sombong. Ketika bercakap-cakap dengan temannya dia mengklaim “Hartaku lebih banyak dan pengikutku lebih kuat” (ayat ke-34). Ketika memasuki kebunnya dia mengukapkan keyakinannya: “Aku kira kebun ini tidak binasa selamanya dan aku kira hari Kiamat itu tidak akan datang, dan sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti akan mendapatkan kembali yang lebih baik dari ini” (ayat ke-35 dan ke-36).

Kayakinan bahwa kebunnya “tidak binasa selamanya” ternyata tidak terbukti. Karena kesombongannya, kebunnya disambar petir (ayat ke-40) dan sumber airnya mengering (ayat ke-41). Sebagai akibatnya, kekayaan pemilik kebun itu binasa tanpa ada pihak yang dapat menolong:

Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu dia membolak-balikan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang telah dia belanjakan untuk itu, sedangkan pohon anggur roboh bersama penyangganya (para-para) lalu dia berkata, “Betapa sekiranya dahulu aku tidak mempersekutukan Tuhanku dengan sesuatu apa pun”. Dan tidak ada (lagi) baginya kesombongan yang dapat menolongnya selain Allah, dan dia pun tidak dapat membela dirinya (ayat ke-41 dan ke-42).

Fitnah Ilmu

Dalam Surat Al-Kahf, fitnah ilmu dinisbahkan kepada Nabi Musa AS yang dikisahkan pernah mengucapkan paling berilmu. Akibat ucapannya itu beliau memperoleh teguran Rabb dan diperintahkan untuk berguru kepada “seorang hamba di antara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami” (ayat ke-65). Nash tidak menyebutkan nama dari “hamba” itu tetapi para ulama, berdasarkan hadits, pada umumnya sepakat bahwa yang dimaksud adalah Khidr AS. Menurut Sihab[5], yang dimaksud dengan rahmat dalam kutipan di atas adalah wahyu dan kenabian, dan yang dimaksudkan dengan ilmu adalah ilmu tentang yang gaib.

Melalui perjalanan panjang dan berat (dilustrasikan dalam ayat 60-64) Musa AS dan muridnya berhasil bertemu dengan Khidr AS. Dia mengingatkan Musa AS bahwa dia tidak akan sanggup untuk bersabar ketika menerima pelajarannya (ayat 67-68). Walaupun demikian, Musa AS berhasil meyakinkan gurunya bahwa ia akan sabar dan taat menerima ajaran guru (ayat ke-69). Khidr akhirnya menerima Musa AS sebagai guru dengan syarat ia tidak bertanya menganai sesuatu apa pun sampai diterangkan kepadanya sesuatu itu (ayat 70). Syarat ini ternyata tidak dapat dipenuhi Musa AS sehingga ia “dipecat” sebagai murid.

Dalam ukuran normal, kegagalan Musa AS untuk memenuhi syarat yang diajukan sangat wajar karena peristiwa-peristiwa yang ia alami bersama gurunya itu sangatlah luar biasa, jauh di luar nalar manusia normal untuk memahaminya. Peristiwa-peristiwa itu adalah tindakan Khidr AS melubangi perahu yang mereka tumpangi (ayat ke-71), membunuh anak muda yang dijumpai (ayat ke-74), memperbaiki dinding suatu bangunan yang hampir roboh di suatu kampung yang tidak ramah kepada mereka (ayat ke-77). Semua tindakan itu ternyata bukan tanpa maksud, mengandung hikmah yang dalam, serta dimaksudkan untuk kebenaran yang lebih tinggi dan kepentingan yang lebih besar (ayat 80-82). Semua tindakan Khidr yang supranormal (bukan abnormal) ternyata dilakukan bukan atas kehendak sendiri tetapi karena perintah Rabb (ayat ke-82).

Inti dari cerita fitnah ilmu ini adalah bahwa kebijakan Rabb terlalu luas untuk dapat dipahami oleh akal manusia normal yang terbatas. Kebijakan itu mungkin dapat dikatakan sebagai keperluan kosmis sebagaimana terungkap dalam kutipan berikut:

Dalam tataran syariat (normal), dan itu yang merupakan domain Musa AS sebagai nabi dan pemimpin Bani Israil, semua tindakan Khidr AS jelas “keterlaluan” sebagaimana dituduhkan Musa AS. Tetapi dalam tatanan yang lebih intergral, dan ini domain Rabb-‘Alamin, tindakan-tindakan itu tampaknya merupakan keperluan kosmis untuk kebaikan yang lebih besar sehingga harus kita terima bilaa kaifa[6].

Fitnah Kekuasaan

Fitnah ini diilustrasikan dengan kisah Zulkarnain, nama yang dalam literatur Barat dinisbahkan kepada Alexander III (356-323 SM) yang pada umumnya dikenal sebagai Alexander yang Agung. Ia adalah seorang raja Macedonia Kuno yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk kampanye militer yang belum pernah terjadi sebelumnya di kawasan Asia dan Afrika timur laut. Pada usia 30 dia berhasil menciptakan salah satu kerajaan dunia kuno yang paling besar yang cakupannya membentang dari Yunani ke India barat laut. Dia tak terkalahkan dalam setiap pertempuran dan secara luas dianggap sebagai salah satu komandan militer paling sukses dalam sejarah[7]. Karena kebesarannya ini (dalam ukuran manusia) maka pantas ia mendapat perhatian khusus.

Mengenai besarnya kekuasaan Zulkarnain, nash mengkonfirmasi bahwa dia telah dianugerahi “kedudukan di bumi” dan memberikan jalan “untuk mencapai segala sesuatu” (ayat ke-84). Mengenai luas kekuasaannya, nash juga mengkonfirmasi dengan menyatakan bahwa ia telah menjangkau tempat “matahari terbenam” (ayat ke-86) sampai ke tempat “matahari terbit” (ayat ke-90). Karakteristik dari masyarakat yang ditemui juga bermacam-macam: kelompok ateis di tempat “matahari terbenam” dan kelompok “tak terlindung dari matahari” di tempat matahari terbit. Yang terakhir ini mungkin kelompok nelayan tradisional yang menurut Shihab masyarakat miskin[8].

Di luar kedua kelompok masyarakat itu (ateis dan nelayan), Zulkarnain juga bertemu dengan dua kelompok masyarakat lain yang tampaknya masih liar, “belum berbahasa” (ayat ke-93) dan “berbuat kerusakan di muka bumi” (ayat ke-94). Kelompok ini disebut sebagai Yakjuj dan Makjuz.

Penekanan nash terletak bukan pada gambaran rinci mengenai kelompok-kelompok masyarakat yang ditemui Zulkarnain, melainkan pada pesan moral bagaimana Zulkarnain menyikapi masing-masing kelompok masyarakat itu. Mengenai Yakjuz dan Makjuz, misalnya, Zulkarnain digambarkan menolong masyarakat sekitar untuk menghadapi dua kelompok liar dan merusak itu. Beliau melukukannya dengan cara membangun benteng kokoh diperkuat oleh campuran besi dan tembaga (ayat ke-96). Dengan perkataan lain, pesan moralnya adalah tindakan kemaslahatan oleh “penakluk” bagi masyarakat yang ditaklukkan.

Pesan moral yang lebih kuat juga dapat disimak dari tindakan Zulkarnain dalam menghadapi kaum Ateis (ayat ke-86). Menghadapi kelompok ini sebenarnya Zulkarnain diberi kesempatan untuk memusnahkan kelompok ini tetapi dia menolak:

Kami berfirman, “Wahai Zulkarnain! Engkau boleh menghukum atau berbuat kebaikan kepada mereka: Dia berkata, “Barangsiapa berbuat zalim kami akan menghukumnya, lalu dia akan dikembalikan kepada Tuhan yang mengazabnya dengan azab yang sangat keras. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, maka dia mendapat (pahala) terbaik sebagai balasan, dan kami sampaikan kepadanya perintah kami yang mudah-mudah” (Ayat 86-88).

Kutipan di atas layak disimak lebih lanjut. Walaupun memiliki kekuasaan besar, Zulkarnain menolak menggunakannya karena merasa belum perlu. Dalam tradisi Arab klasik (yang tidak lagi populer), kemampuan ini dikenal sifat hilm, kemampuan luar biasa untuk menggunakan kekuatan hanya jika kekuatan benar-benar diperlukan dan menggunakan tindakan tegas untuk semua kasus lainnya. Kemampuan inilah yang tampaknya merupakan “jurus rahasia” Mu’awiyah, khalifah pertama pasca era khulafaur rasyidin[9]. Mengenai kemampuan ini Muawiyah dilaporkan pernah mengungkapkan[10]:

I apply not my sword where my lashes sufices, nor my lash where my tongue is enough. And even if there be one hair binding me to my fellowmen, I do not let it break: where they pull I loosen, and if they lossen I pull.

Saya tidak menggunakan pedang saya di mana bulu mata saya cukup, atau bulu mata saya di mana lidah saya sudah cukup. Dan bahkan jika ada satu rambut yang mengikatku pada sesama saya, saya tidak membiarkannya pecah: di mana mereka menarik saya melonggarkan, dan jika mereka kehilangan saya tarik.

Tulisan ini telah menyajikan secara singkat uraian mengenai empat macam fitnah keimanan yang sebagaian besar dimabil dari sumber yang memiliki otoritas tertinggi bagi muslim, Al-Qur’an, sejauh yang dapat penulis pahami. Wallahu’alam. Sebagai penutup, diilhami oleh kutipan terkhir di atas, mungkin tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa “kampanye” mengenai sifat hilm (atau nonviolence model Gandhi dan Mandella) merupakan kebutuhan bagi dunia kontemporer yang senantiasa diwarnai hiruk-pikuk kekerasan… @

 

[1] Menurut Lisanul Arab (Ibnu Manzhur) fitnah bermakna macam-macam: “Fitnah bermakna ujian, fitnah bermakna cobaan, fitnah bermakna harta, fitnah bermakna anak-anak, fitnah bermakna kekafiran, fitnah bermakna perselisihan pendapat diantara manusia, fitnah bermakna pembakaran dengan api”

[2] Jika dibaca secara cermat, jujur (secara intelektual) dan rendah hati, Surat ini dapat menawarkan sejumlah pesan moral yang senantiasa aktual. Mungkin karena alasan ini banyak ulama yang menganjurkan membaca Surat ini secara selepas Salat Jum’at.

[3] Shihab (2008:494), Al-Qur’an Disertai Terjemahan dan Transelasi, Al-Mizan

[4] Ibid, halaman 491

[5] Ibid, halaman 502.

[6] https://uzairsuhaimi.blog/2017/04/14/kebijakan-tuhan/

[7] https://en.wikipedia.org/wiki/Alexander_the_Great

[8] Shihab, Ibid, halaman 506.

[9] Istilah ini dinisbahkan kepada empat khalifah yang pertama: Abu Bakar RA, Umar RA, Utsman RA, Ali RA. Istilah ini merupakan gelar sekaligus pengakuan bahwa kekhalifahan mereka “memperoleh petujuk” (Arab: rasyidin).

[10] Sumber: Dikutip Philip K. Hitti (1961: 197) dari berbagai sumber klasik berbahasa Arab. Lihat Sejarah Arabs (Edisi 7), Macmillan & Co Ltd.

Standard