Sulitnya Mempersatukan Umat

Kalau ada suatu ideal yang dihasratkan oleh Umat tetapi hampir tidak pernah diraih maka itu adalah persatuan Umat, dengan sedikit pengecualian tentunya. Dalam hal ini kata Umat digunakan untuk merujuk pada komunitas Muslim atau penganut Agama Islam.

Titik Keseimbangan

Kata Umat tercantum dalam teks suci Al-Quran Surat ke-2 ayat ke-143 (selanjutnya, QS 2:143) yang mengkarakterisasikan sebagai komunitas yang moderat (Arab: wasatha). Salah satu tafsir ayat ini, Umat (seyogianya) menempatkan diri pada titik keseimbangan tiga pilar agama yaitu Iman, Islam dan Ihsan[1]. Wallahu’alamu bimradih! Dalam milah Ibrahim pilar pertama demikian ditekankan sehingga seolah-olah menyerap dua pilar lainnya. Dalam “agama” Musa AS dan Isa AS pilar ke-2 dan ke-3 yang ditekankan sehingga dua pilar lainnya seolah-oleh terserap. Terkait dengan tafsir ini dapat dirujuk kutipan Schuon (2002:87-88) berikut[2]:

Untuk menunjukkan bagaimana agama Muslim menganggap dirinya sebagai penyelesaian dan sintesis dari monoteisme sebelumnya, pertama-tama kita harus ingat bahwa unsur-unsur konstitutifnya adalah al-Iman, al-Islam, dan al-Ikhsan, istilah-istilah yang dapat dipadankan, tidak secara harfiah tetapi tetap memadai, dengan “Iman” (Faith), “Hukum” (Law) dan “Jalan” (Way). “Iman” berkorespondensi dengan yang pertama dari tiga monoteisme, yaitu dari Abraham; “Hukum” untuk yang kedua, dari Musa, dan “Jalan” dari ke yang ketiga, yaitu Yesus dan Maryam. Dalam Abrahamisme, unsur “Hukum” dan “Jalan” seolah-olah terserap oleh unsur “Iman”; dalam Musaisme, unsur “Hukum” yang mendominasi sehingga menyerap unsur “Iman” dan “Jalan”, dan dalam agama Kristen, “Jalan” yang menyerap dua elemen lainnya. Islam, mengandung ketiga unsur ini secara berdampingan dan membentuk keseimbangan sempurna.

Era Istimewa

Apakah kesatuan Umat mungkin? Ya, karena pernah dibuktikan dalam era Rasul SAW, era 10 tahun pertama peradaban Muslima (622-632). Periode ini adalah model ideal yang dapat dicapai (attainable). Karena dapat dicapai? Karena individu Umat seperti kita, manusia biasa. Lebih dari itu, Rasul SAW adalah juga manusia “seperti kalian” menurut narasi teks suci (QS 18:110); bedanya, beliau memperoleh wahyu.

Tetapi periode itu memang periode istimewa dilihat dalam tiga hal berikut:

  • Peradaban Umat dalam proses pembentukan dan masih dibimbing oleh wahyu (ayat-ayat Madaniyyah).
  • Umat masih dibimbing Rasul SAW yang memiliki kepemimpinan luar biasa serta memiliki “akhlak yang agung” menurut QS (68:4); dan
  • Komposisi utama pembentuk Umat terdiri dua kaum yang memiliki karakter luar biasa yaitu Kaum Muahajirin yang Kaum Ansar[3].

Karakter luar biasa dua kaum ini mereka diabadikan dalam teks suci:

(Harta rampasan itu juga) untuk orang-orang fakir dari kaum Muhajirin (yang berhijrah) yang terusir dari kampung halamannya dan meninggalkan harta bendanya demi mencari karunia dari Allah dan keredaan(Nya) dan (demi) menolong (agama) Allah dan rasul-Nya. Mereka itulah shaadiquun, orang-orang yang benar (QS 59: 8).

Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka memerlukan. Dan barang siapa yang dijaga dirinya dari syukhah (kekikiran), maka mereka itulah muflihuun, orang-orang yang beruntung (QS 59:9).

Peradaban Umat dalam 10 tahun pertamanya mewarisi tiga pusaka: Quran, Sunnah Rasul SAW, dan persatuan jazirah Arab. Yang terakhir ini layak disebut pusaka karena ada adagium yang mengatakan bahwa salah satu kemustahilan dunia adalah mempersatukan suku-suku Arab. Capaian era istimewa ini secara apik dinarasikan oleh Amstrong (2002:33):

Kehidupan dan pencapaian Muhammad akan mempengaruhi visi spiritual, politis dan etis Muslim selamnya. Mereka mengekspresikan pengalaman Islami dari “penyelamatan”, yang tidak terdiri dari perbuatan “dosa asal” yang dilakukan Adam dan pengakuan terhadap kehidupan yang abadi, melainkan dalam pencapaian sebuah masyarakat yang mengamalkan kehendak Tuhan untuk ras manusia. Ia bukan hanya membebaskan Muslim dari neraka politis dan sosial yang ada di Arabia pada masa sebelum Islam, tetapi juga memberi mereka sebuah konteks yang di dalamnya mereka bisa dengan mudah tulus memasrahkan diri pada Tuhan yang dapat memenuhi kebutuhan mereka.

Capaian era istimewa ini sampai tarap tertentu dipertahankan dalam era dua khalifah pertama: Abu Bakar RA (memerintah 632-634) dan Umar RA (memerintah 634-644). Kenapa dua khalifah berhasil? Karena keduanya berpegang teguh pada tiga pusaka warisan Umat, kualitas kepemimpinan yang luar biasa, semangat “menggadaikan diri” pada kepentingan Umat, dan menjalani kehidupan rendah hati dan “super sederhana”.

Khalifah pertama berhasil mengatasi ancaman perpecahan Umat karena banyaknya suku Arab yang murtad; juga mulai merintis perluasan wilayah kekuasaan “negara” Madinah. Oleh Umar RA rintisan dilanjutkan bahkan diperluas sehingga wilayah kekuasaan Madinah mencapai sebagian kawasan Suriah, Irak, Palestina dan Mesir.

Gambaran kualitas kepemimpinan Abu Bakar RA terungkap dalam pidato pelantikannya sebagai khalifah sebagaimana dicantumkan dalam bukunya Muhammad: Kisah Hidup Nabi Bedasarkan Sumber Klasik::

Aku telah diangkat sebagai pemimpin kalian, tetapi aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Jika aku melakukan kebaikan, bantulah aku, dan jika aku melakukan kesalahan, maka luruskan aku. Bersungguh-sungguh kepada kebenaran adalah kesetiaan, dan pengkhianatan. Orang yang paling lemah di antara kalian akan menjadi kuat di sisiku, hingga aku serahkan haknya, Insya Allah, dan orang yang paling kuat di antara kalian akan menjadi lemah di sisiku, hingga aku ambil harta yang bukan haknya, insya Allah. Taatilah aku selama selama aku menaati Allah dan Rasul-Ny. Namun jika tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak ada keharusan bagi kalian untuk taat kepadaku! Tegakkanlah salat kalian, Tuhan merahmati kalian (Lings, 1991:65).

Era Fitnah

Kesatuan Umat mulai goyah dalam era khalifah ketiga, Utsman RA (memerintah 644-656). Kepemimpinannya dinilai terlalu lemah untuk mengendalikan syahwat kekuasaan dari keluarganya, Bani Umayah, yang sejak turun temurun merasa tersaingi oleh wibawa Bani Hasyim (buyut rasul SAW). Kelemahan “manusiawi” ini mulai merobek kesatuan Umat yang pada akhirnya menimbulkan fitnah pertama yaitu terbunuhnya Utsman RA oleh seorang Muslim, ya seorang Muslim.

Fitnah berlanjut pada era khalifah keempat, Ali RA (memerintah 656-661), bahkan meningkat. Puncaknya, Ali RA terbunuh, juga oleh seorang Muslim. Akibatnya, Umat mulai terkoyak dalam tiga kelompok atau mazhab besar: Sunni (mayoritas), Syiah (pencinta Ali RA) dan Khawarij (berasal dari kelompok Ali RA tetapi keluar dan mengambil sikap ekstrem).

Dalam suasana perpecahan ini berakhir era khulafaur rasyidin, empat khalifah yang memperoleh petunjuk, rightly-guided calips. Apa hikmahnya? Soal kesatuan Umat merupakan masalah pelik bahkan bagi tokoh sekaliber Utsman RA dan Ali RA.

Dengan wafatnya Ali RA, era khulafaur rasyidin berakhir dan mulai dinasti Umayah. Banyak yang menyebut namanya kerajaan Arab (arab Kingdom) sebagai pernyataan protes terhadp gaya kekhalifahannya yang sekuler. Yang jelas, mulai era ini dan seterusnya dalam sejarah peradaban Muslim, suksesi kepemimpinan sudah mengikuti garis keturunan (bloodline), model yang asing dalam tradisi Arab.

Dinasti Umayah didirikan oleh Muawiyah yang juga merupakan khalifah pertamanya. Terlepas dari kualitas pribadinya sebagai seorang Muslim, kepemimpinan diakui luar biasa. Di tengah perpecahan Umat dia berhasil mempertahankan alat pemersatu Umat, kekhalifahan, dan bahkan melakukan ekspansi ke berbagai wilayah bahkan sampai ke kawasan India, Afrika Utara dan Spanyol.

Keberhasilan kepemimpinan Umayah tidak berarti tidak ada masalah kesatuan Umat. Kelompok sektarian di kalangan internal Umat yang marak pasca era Ali RA tidak pernah benar dapat diatasi oleh dinasti Umayah. Pemberontakan demi pemberontakan mulai marah dan mencapai puncaknya ketika seluruh keluarga Bani Umayah yang ditemui dibantai oleh pemberontak Muslim, ya Muslim.

Ramalan Rasul SAW

Itulah sejarah peradaban Muslim masa lalu dalam konteks persatuan Umat. Jadi, tidak perlu terlalu heran jika sekarang ini kita menyaksikan maraknya perpecahan Umat dalam berbagai bentuknya antara lain:

  • berbagai fitnah (perang sipil) antar faksi-faksi internal Umat di berbagai “negara Muslim” di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara,
  • permusuhan sektarian Sunni-Syiah,
  • perang saudara di Suriah dan Yaman yang menimbulkan berbagai bentuk tragedi kemanusiaan;
  • konflik Arab Saudi-Iran yang sampai sekarang tidak terlihat prospek penyelesaian yang realistis.

Dari peristiwa-peristiwa semacam ini kita memahami ramalan Rasul SAW bahwa Umat akan diperlakukan layaknya santapan lezat yang diperebutkan pihak lain. “Apakah ketika itu kita sedikit?” “Tidak, ketika itu kalian berjumlah banyak tetapi kualitasnya seperti buih yang tidak punya daya”. Demikianlah kira-kira dialog antara Rasul SAW dan para sahabat ketika ramalan itu disampaikan.

Apakah kini Umat sedikit? Tidak! Populasi Muslim kini mencapai sekitar 1.8 milyar[4]. Jadi; jangan-jangan kita tengah menyaksikan terjadinya ramalan Rasul SAW ini….@

[1] https://uzairsuhaimi.blog/2018/04/30/titik-temu-agama-samawi/

[2] Schuon, F. (2002:87-88), Forms and Substance in the Religion, “Insights into Muhammadan Phenomenon”, World Wisdom, Inc.

[3] https://uzairsuhaimi.blog/2017/10/13/bibit-umat/

[4] https://uzairsuhaimi.blog/2018/02/04/sejarah-singkat-muslim/

 

 

Khotbah Haji Perpisahan dan Pesan Kemanusiaan

Dalam hitungan hari, diperkirakan lebih dari dua juta muslim akan melaksanakan Ibadah Haji tahun ini, ibadah yang merupakan rukun (prinsip) Islam yang kelima bagi yang mampu. Mereka semua akan mencapai puncak ibadah yaitu berkumpul di Arafah (wukuf) pada hari yang sama yaitu tanggal 9 Julhijah. Dalam puncak ibadah inilah disampaikan Khotbah Haji dalam bahasa yang dapat dipahami oleh jamaah.

Dalam tulisan ini kita memfokuskan pada isi khotbah haji yang disampaikan sekitar 1.5 milenium yang lalu ketika berlangsung haji perpisahan (Arab: Haji Wada’)[1]. Haji kali ini dikatakan haji perpisahan karena merupakan haji terakhir yang diikuti Rasul SAW. Beliau wafat pada tahun yang sama. Ketika melaksanakan haji in Rasul SAW terkesan sudah memiliki firasat akan segera meninggalkan Umat yang mencintai dan dicintainya. Tidak lama setelah haji itu turun teks suci yang menyatakan Islam sebagai suatu agama telah sempurna (QS 5:3). Turunnya ayat ini sempat membuat salah satu sahabat senior Rasul SAW, Umar RA, menangis. situasi yang terkesan agak aneh karena sahabat yang satu ini terkenal tegar dan tegas, tetapi sekaligus menggambarkan kejauhan visi dan kecerdasan sahabat yang kelak akan menjadi “bos” orang beriman (Arab: Amirul Mukminin). Ketika ditanya kenapa beliau menangis, beliau hanya merespons dalam bahasa yang kira-kira berarti “setelah kesempurnaan hanya ada ke-tidak-sempurna-an”, suatu respons yang cerdas.

Didorong oleh firasat akan segera pamit kepada Umat, Rasul SAW menyiapkan narasi pidato yang dapat “merangkum” esensi atau ajaran-ajaran pokok dari risalah yang di bawanya. Tetapi isinya yang utama ternyata bukan mengenai ibadah dalam arti sempit, melainkan isu-isu terkait dengan Hak-hak Azasi Manusia (HAM).

Khotbah Haji Perpisahan sangat menekankan arti penting penghormatan terhadap hidup (darah) dan hak milik seseorang. Ini adalah pesan revolusioner bagi era itu, tidak hanya bagi masyarakat arab jahiliah. Isu khotbah lainnya terkait degan masalah kehidupan sosial kemasyarakatan dalam arti luas: kewajiban menyempurnakan amanah, penghapusan riba, hak-hak dan kewajiban wanita (termasuk hak dan kewajiban timbal-balik suami-istri), ukhuwah islamiah dan persamaan hak dan martabat manusia tanpa memandang bangsa dan warna kulit. Kita dapat merasakan kedalaman dan keluasan isi khotbah, serta relevansinya bahkan bagi peradaban kontemporer. Dan itu disampaikan 1.5 milenium yang lalu!

Layak disisipkan catatan di sini bahwa khotbah itu disampaikan dalam bentuk dialog dan setiap kali selesai menyampaikan satu topik, beliau selalu berseru: ‘Apakah aku sudah sampaikan?’ Umat yang hadir secara spontan akan meresponsnya: “Betul, sudah engkau sampaikan. Mendengarkan respons spontan itu Rasul SAW segera melanjutkan dengan munajat: ‘Wahai Tuhanku, persaksikanlah’. Dengan munajat ini seolah-olah Rasul SAW ingin menegaskan bahwa dia telah menyampaikan misinya, mission accomplished! Untuk memperoleh gambaran lebih cermat dan menyeluruh, berikut disajikan sebagian isi khotbah sebagaimana yang dinarasikan oleh Natsir (2008:111-118)[2].

Rasul (R): “Wahai manusia! Dengar kataku, agar aku terangkan kepadamu. Sesungguhnya aku tak tahu, barangkali aku tak akan bertemu lagi denganmu sesudah tahun ini, di tempat pemberhentian ini untuk selamanya’. ‘Wahai orang banyak! Tahukah kamu, bulan apakah sekarang?”

Umat yang hadir (U): “Bulan haram”

R: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kamu, darah sesamamu, sampai kamu berjumpa dengan Tuhanmu, seperti haramnya bulan ini’. ‘Tahukah kamu daerah apakah ini?”

U: ‘Daerah Haram”

R: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kamu darah sesamamu dan harta sesamamu; sampai kamu berjumpa dengan Tuhanmu; seperti haramnya daerahmu ini”. “Tahukah kamu hari apakah sekarang?”

U: ‘Hari haram’

R: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan kepadamu darah sesamamu dan harta sesamamu sampai kamu berjumpa dengan Tuhanmu, seperti haramnya haramnya hari ini di bulanmu ini, di daerahmu ini. Sesungguhnya kamu akan berjumpa dengan Tuhanmu, dan akan ditanya akan segala perbuatanmu’. “Wahai! Apakah aku sudah sampaikan? (Alä hal balagtu?)

U: ‘Allahumma, betul, sudah engkau sampaikan’

R: “Wahai Tuhanku! Persaksikanlah”.

Sebagai catatan akhir, dalam khotbahnya Rasul SAW memanggil hadirin dengan ungkapan “Wahai Manusia” (bukan Wahai Umatku”), suatu ungkapan yang mencerminkan universalitas ajaran risalahnya. Wallahualam. Pertanyaan: Sejauh mana Muslim kontemporer menginternalisasikan pesan moral khotbah haji perpisahan?

[1] Urian lebih lengkap dpat diakses dalam https://uzairsuhaimi.blog/2009/10/27/tablig-haji-wada-dan-hak-azasi-manusia/

[2] M. Natsir, Fiqhud Da’wah, PT Abadi, Cetakan ke-13, 2008.

Sumber: https://www.aljazeera.com/topics/country/yemen.html

Kesultanan Utsmaniyah: Sejarah Singkat dan Refleksi

utsmani1

Sumber Gambar: Google

Kalau kita diizinkan membuat penyederhanaan-berlebihan mengenai sejarah peradaban muslim sebagai suatu kesatuan Umat, agaknya tidak terlalu keliru jika kita membaginya ke dalam empat babakan sejarah berikut: (1) 1.5 milenium yang lalu: Lahir, (2) Satu milenium berikutnya: tumbuh, berkembang, dan mencapai titik puncak, (3) 0.6 milenium selanjutnya: melemah; dan (4) Satu abad terakhir: “mati”. Di sini istilah kestuan Umat dilihat pada level sosiologis-politis yang konkret; jelasnya, ketika Umat Islam (selanjutnya: Umat) secara keseluruhan memiliki faktor pemersatu berupa sistem pemerintahan tertentu, kekhalifahan atau kesultanan. Dalam konteks ini Kesultanan Utsmaniah (Inggris: Ottoman Empire) menarik untuk ditelisik karena periodenya mencakup era ketika peradaban Umat bergerak maju ke titik puncak, melemah dan “mati” [1].

Kesultanan Utsmaniah termasuk salah satu entitas politik negara adikuasa (superpower) termegah dan terlama dalam sejarah dunias selama lebih dari 600 tahun. Kekuasaannya mencakup wilayah yang sangat luas: Timur Tengah, Eropa Timur dan Afrika Utara. Puncak kekuasaan terletak pada Sultan yang memiliki otoritas keagamaan dan politik terhadap rakyat. Sementara Eropa menganggapn kekuasaan Kesultanan ini sebagai ancaman, banyak para ahli sejarah melihatnya sebagi sumber stabilitas regional yang juga memberikan sumbangan positif terhadap kemajuan bidang-bidang seni, sains, agama dan kebudayaan.

Kesultanan ini mulai dibangun oleh pimpinan suku Turki di Anatolia sekitar tahun 1299. Perluasan pemerintahan formal Kesultanan ini dibangun di bawah sultan-sultan berikutnya khususnya Osman I, Orhan, Murad I dan Beyazid I. Era Sultan Mehmed II, Kesultanan ini merebut kota kuno Konstantinopel, Ibu Kota Imperium Bizantium, pada tahun 1517. Sultan mengganti namanya menjadi Istambul yang berarti ‘Kota Islam”. Penaklukkan ini mengakhiri kekuasaan 1000-tahun Imperium Bizantium. Pada awal abad ke-17, kesultanan ini terdiri dari 32 provinsi dan sejumlah negara vasal, sisanya diberikan otonomi dalam berbagai tigkat[2].

Puncak kejayaan Kesultanan ini –dilihat dari luasnya wilayah kekuasaan, stabilitas sosial-politik, dan kemakmuran rakyat–  dicapai dalam Era Sultan Sulaiman Agung (1520-1566). Di bawah kepemimpinannya, kekuasaan Kesultanan mencakup wilayah-wilayah Turki, Yunani, Bulgaria, Mesir, Hongaria, Mecedonia, Romania, Yordania, Palestina, Lebanon, Syiria, beberapa wilayah Arab, dan sejumlah wilayah garis pantai Afrika Utara.

Sesuai “hukum sejarah”, gerak maju dan mencapai titik puncak pasti dikuti oleh gerak mundur. Bagi Kesultanan Utsmaniah, gerak mundur ini dimulai sekitar tahun 1600 karena dominasi ekonomi dan militer Eropa. Sekitar tahun ini Eropa mengalami kemajuan cepat karena menguatnya semangat zaman Renaisans (Renaissance)[3] dan fajar revolusi industri.

Terkait dengan istilah Renaisans kita dapat menyisipkan catatan singkat berikut. Istilah ini merujuk pada suatu gerakan budaya di benua Eropa pada abad 14-17. Sebagai gerakan budaya, Renaisans tidak bergerak serempak di seluruh Eropa tetapi semangatnya satu: pencarian alternatif budaya dari yang sepenuhnya diwarnai ajaran Kristen dan beralih ke kebudayaan-Yunani-Romawi sebagai model. Zaman Renaisans diikuti oleh Zaman Pencerahan sekitar abad ke-18 ketika masyarakat mulai menyadari pentingnya diskusi-diskusi ilmiah. Zaman ini—dengan tonggak Sekularisme—merupakan masa produktif bagi Eropa dan pada masa ini ditemukan bubuk mesiu, mesin cetak, dan kompas yang sangat bepegaruh terhadap peradaban manusia[4].

Kembali kepada Kesltanan Utsmaniah. Pelemahan Kesultanan ini juga terjadi karena buruknya kepemimpinan dan kekalahan dagang dalam berkompetisi dengan pihak-pihak Amerika dan India. Kemunduran kekuasaan Kesultanan ini ditandai oleh lima peristiwa menentukan berikut:

  • 1683: Kekalahan dalam Pertempuran Viena (the Battle of Vienna);
  • 1830: Kemenangan Yunani dalam melepaskan diri dari kekuasaan Kesultanan;
  • 1878: Kemerdekaan Romania, Serbia dan Bulgaria yang dideklarasikan dalam Kongres Berlin;
  • 1912-1913: Kesultanan kehilangan kekuasaan hampir di seluruh daratan Er opa;
  • 1918: Kekalahan dalam Perang Dunia ke-I. Kesultanan, bersama Jerman dan Austria-Hongaria, berada di pihak Kekuatan Terpusat (the Central Power). Sesuai kesepakatan, hampir semua wilayah kekuasaan Kesultanan dibagi-bagi antara Inggris, Prancis, Yunani dan Rusia.

Kesultanan secara resmi berakhir tahun 1922 ketika istilah Kesultanan Utsmaniah dihapuskan dan Turki mendeklarasikan sebagai Negara Republik pada tahun 1923. Dalam perjalanan sejarahnya dalam periode 1299-1922, Kesultanan dipimpin oleh 36 Sultan.

Sebagai penutup agaknya layak direnungkan teks suci berikut yang diturunkan terkait dengan kekalahan bala tentara Rasul SAW dalam perang Uhud.

Dan mengapa kamu (heran) ketika ditimpa musibah (kekalahan pada Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan musibah dua kali lipat (kepada musuhmu pada peperangan Badar) kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu (QS 3:165).

Wallahualam….@

[1] Rujukan utama tulisan ini diperoleh dari https://www.history.com/topics/ottoman-empire

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Utsmaniyah

[3] https://id.wikipedia.org/wiki/Abad_Renaisans

[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Abad_Pencerahan

Konflik-Sesama dan Kritik Dunia Modern

Sejarah mencatat sekitar seabad lalu Perang Dunia Ke-1 (PD I) berakhir setelah berkecamuk selama empat tahun dalam periode 1914-1918. PD I adalah jenis konflik masal antar sesama manusia (singkatnya, konflik-sesama) yang melibatkan kekerasan dan ketika penghilangan nyawa manusia dari pihak lawan dianggap sah (valid) secara moral dan bahkan dinilai semacam kebajikan (virtue). Momen berakhirnya konflik sejenis itu jelas suatu “kemenangan” bagi kemanusiaan dan bersifat historis sehingga layak bagi kita untuk merefleksikannya.

Kita dapat mulai refleksi dengan mengingat bahwa PD I adalah konflik-sesama bertaraf internasional yang melibatkan hampir semua negara Eropa bersama Rusia, Amerika Serikat (AS), Timur Tengah, dan wilayah-wilayah lainnya. Dalam konflik ini berhadapan dua kelompok kekuatan: di satu pihak ada Kekuatan Poros (Central Powers) dengan anggota utama Jerman, Austria-Hongaria, dan Turki, di sisi lain ada Kekuatan Sekutu dengan anggota utama Perancis, Inggris, Rusia, Italia dan Jepang di sisi lain. (AS menyusul kemudian pada tahun 2017.) Konon semua peserta peperangan ini merasa yakin akan memenangkan peperangan dalam hitungan bulan.

PD I dijuluki Perang Besar (Great War) dan julukan ini layak paling tidak dilihat dari besarnya korban. Menurut suatu laporan, PD I melibatkan sekitar 960 juta penduduk dengan korban: lebih dari 8 juta jiwa meninggal dalam peperangan, 2.3 juta jiwa warga sipil meninggal, 5.4-6.1 juta warga sipil yang meninggal akibat dari kekurangan gizi dan penyakit (di luar influenza), 15.4 juta jiwa yang meninggal atau 19 jiwa per 1000 penduduk, dan 22.1-23.7 juta personil korban luka dari kalangan militer[1].

Sejarah mencatat pula bahwa konflik dengan korban yang sangat besar ini tidak membuat kita (secara kolektif) merasa jera. Buktinya, sekitar dua dekade usai PD I berkecamuk Perang Dunia Kedua (PD II), perang global yang melibatkan banyak sekali negara yang tergabung dalam kekuatan Sekutu atau Poros. Perang ini melibatkan senjata yang jauh lebih merusak (termasuk senjata nuklir) dibandingkan dengan yang digunakan dalam PD I, ditandai oleh sejumlah peristiwa penting yang melibatkan kematian massal warga sipil termasuk Holocaust, memakan korban jiwa sebanyak 50- 70 juta jiwa, serta menegaskan reputasinya sebagai konflik yang paling mematikan sepanjang sejarah umat manusia[2].

Konflik yang mematikan akibat PD II ternyata tidak juga membuat kita jera. Buktinya, pasca PD II sejarah menyaksikan sejumlah peperangan lain: Perang Korea (1950-53), Perang Vietnam (1957-75), Perang Irak-Iran (1980-88), Perang Afganistan (2001-sekarang), Perang Irak (2003-11), Perang Libiya (2011-sekarang), Perang Syria (2011-sekarang), dan Perang Yaman (2015-sekarang). Semua peperangan ini tidak bersifat global tetapi bukan berarti tanpa korban jiwa dan tragedi kemanusiaan yang bersifat masif. Dua yang pertama pada umumnya dinilai sebagai “perang yang dimandatkan” (Inggris: proxy war) antara AS dengan sekutu PBB-nya melawan China-Rusia, sementara empat terakhir merupakan perang saudara disertai tragedi kemanusiaan meluas dalam lingkup regional. Bentuk tragedi itu antara lain pengungsian masal ke negara tetangga bahkan Eropa, pengungsi-lokal (internally-displaced persons), pekerja paksa (forced labour), degradasi tingkat kesejahteraan masyarakat, penyebaran wabah penyakit, bahkan kelaparan ekstrem.

pd1_100

Pertanyaan retrospektif yang layak layak-simak bagi kita secara kolektif adalah mengapa kita membiarkan terjadinya konflik-sesama sejenis itu. Banyak jawaban yang ditawarkan untuk pertanyaan semacam ini tetapi bagi orang semacam Guènon[3], peperangan atau semua bentuk kekacauan lainnya, merupakan implikasi logis dari cara-pandang-dunia budaya modern. Pandangan Guènon mengenai hal ini dapat kita simak dalam bukunya yang berjudul The Crisis of Modern World[4] yang dipublikasikan pasca PD I, tepatnya 1927.

Isi buku ini pada intinya menarasikan, dalam bahasa Martin Ling[5], “kritik tajam (penetrating critique) Guènon terhadap Dunia Modern dan penilaiannya mengenai kekacauan total dalam waktu dekat”. Gagasan pokok Guènon diungkapkan secara padat oleh Martin Ling dalam kutipan berikut[6]:

The rational, material, and secular worldview of modern science threaten to overwhelm realities that underlie the grand design of the natural world… Renè Guènon identified the deep chasm that separates ancient from modern, sacred from profane, and true knowledge from empirical science, a series of deep wounds such as can fully be helded (sic.) only by ending of this cosmic cycle and the beginning of another.

Pandangan duniawi yang rasional, material, dan sekuler dari ilmu pengetahuan modern yang mengancam realitas yang mendasari desain besar dunia alami … Renè Guènon mengidentifikasi jurang yang mendalam yang memisahkan dunia kuno dari dunia modern, yang sakral dari yang profan, dan pengetahuan sejati dari sains empiris, suatu rangkaian luka yang sedemikian parahnya sehingga seolah-olah hanya dapat diobati sepenuhnya dengan mengakhiri siklus kosmik ini dan dimulai lagi dari siklus yang lain.

Anak kalimat terakhir “suatu rangkai luka …” mengungkapkan keprihatinan Guènon yang mendalam terhadap ulah “manusia modern” yang bahkan terkesan putus asa. Keprihatinannya didasari oleh pengamatannya terhadap PD I dan isu yang terkait dengannya. Kita dapat membayangkan keprihatinan beliau jika sempat mengamati PD II, tragedi September 11, Tragedi Kemanusiaan Yaman-Syria-Rohingnya, dan sebagainya.

Terlepas dari kritik Guènon terhadap budaya Dunia Modern, alasan mendasar bagi konflik-sesama yang disertai penghilangan nyawa manusia barangkali dapat dikembalikan kepada tabiat manusia yang menurut “penilaian” malaikat suka “menumpahkan darah” [7] (Arab: yasfikud-dimaa). Wallahualam!

Mengapa kita membiarkan peperangan konflik sejenis itu berulang? Jangan-jangan karena kita termasuk makhluk yang lengah sebagaimana dilansir dalam teks suci:

Dan sungguh akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka (seperti) hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah[8].

Menurut teks suci ini kelengahan membuat kita bermartabat lebih rendah dari binatang ternak. MasyAllah!…@

[1] https://www.britannica.com/event/World-War-I

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Dunia_II

[3] Nama lengkapnya René Guénon (15 November 1886– 7/ January 1951) yang juga dikenl sebagai “Shaykh `Abd al-Wahid Yahya”.

[4] London: Luzac and Co., 1942; edisi dalam Bahasa Prancis terbit 1927.

[5] Martin Lings dalam “Introduction” buku The Essential Rene Guenon (2009:ix), World Wisdom.

[6] Ibid

[7] Al-Quran (2:30); yakni, Surat ke-2 Ayat ke-20.

[8] Al-Quran (7:179).

Umur Alam Semesta dan Kalender Kosmik: Catatan dan Refleksi

Usia Alam Semesta

Berapa umur alam semesta? Jawaban yang paling meyakinkan dan aman mungkin wallahualam. Sayangnya kita terlanjur terdidik untuk tidak merasa puas dengan jawaban semacam ini dan tergoda untuk merujuk pada hasil kajian ilmiah. Hasil kajian ilmiah terkini menduga kuat usia alam semesta sekitar 13.8 milyar tahun[1], suatu angka yang lebih tepatnya dinyatakan dalam bentuk

(13.799±0.021) x109

Angka pertama menunjukkan dugaan-titik (point estimate) sedangkan yang kedua kesalahan-margin (margin errors, ME) dari dugaan yang mengukur tingkat kecermatan dugaan itu. Kesalahan margin itu relatif sangat kecil, jauh di bawah satu persen, yang berarti selang kepercayaan dugaan lebih dari 99 persen. Bagi orang statistik, dugaan dengan ME sekecil itu, dikategorikan sebagai sangat dapat dipercaya, highly reliable. Bagaimana mengenai umur bum? Dugaan ilmiah merujuk pada angka 4.54 milyar tahun, tepatnya

(4.54±0.05) x109

ME-nya hanya sekitar 1.1 persen yang berarti tingkat keyakinan dugaan sekitar 98.9 persen, masih highly reliable.

Kalender Kosmis

Bagi yang ber-IQ pas-pasan seperti penulis sangat sulit membayangkan lamanya waktu 13.8 milyar tahun. Oleh karena itu kita patut berterima kasih kepada Carl Sagan yang telah memperkenalkan Kalender Kosmik, suatu metodologi untuk memvisualisasikan kronologi alam semesta secara populer. Dalam sistem kalender ini, umur 13.8 tahun diskalakan menjadi hanya satu tahun: Ledakan Besar (Big Bang) diletakkan pada awal tahun, 1 Januari tepat tengah malam (=pukul 00:00:00), dan waktu saat ini pada akhir tahun, 31 Desember sesaat sebelum tepat tengah malam (=pukul 24:00:00 kurang sedikit). Di antara dua titik ekstrem ini kita dapat meletakkan semua peristiwa alam semesta.

Gambar 1 menyajikan bebrapa peristiwa penting dalam Kalender Kosmis. Bagian pertamanya memvisualkan, antara lain, terbentuknya Galaksi Bima Sakti (Milky Way) pada bulan May, sementara Sistem Matahari Kita (Solar System) pada bulan September. Visualisasi ini membantu kita memahami proses dan skala waktu kosmis pembentukan benda-benda langit. Walaupun demikian perlu dicatat bahwa skala kosmik dalam Gambar 1 didasarkan pada asumsi umur alam semesta 3.7 milyar tahun, bukan 3.8 milyar tahun sebagaimana disingung sebelumnya. Perbedaan ini berdampak pada kurang tepatnya penentuan tanggal terjadinya peristiwa sebagaimana akan kita lihat nanti.

Gambar 1: Beberapa Peristiwa Penting dalam Kalender Kosmik

Sumber: http://myphascination.blogspot.co.id/2014/07/kalender-kosmik-cosmic-calendar.html

Bagian 2 dalam Gambar 1 menyajikan beberapa peristiwa penting pada bulan terakhir dalam Kalender Kosmik, Desember. Dalam gambar ini kita menyaksikan peritiwa dimulainya kehidupan yang kita kenal terjadi pada bulan terakhir itu: spons (14 Desember), ikan(17 Desember), tumbuhan darat (20 Desember), serangga (21 Desember), reptil (23 Desember), dinosaurus (25 Desember), mamalia (26 Desember),…., asal-usul manusia (dalam perspektif Darwinis) (31 Desember).

Bagian 3 Gambar 1 menyajikan beberapa peristiwa penting pada menit terakhir dalam Kalender Kosmis. Kita melihat peradaban manusia dimulai pada menit terakhir dalam Kalender Kosmis: pertanian dan kehidupan menetap (sekitar 22 detik terakhir), Dinasti China (9 detik terakhir), kelahiran Nabi Isa AS (4 detik terakhir), kelahiran Nabi Muhammad SAW (3 detik terakhir) dan penemuan Benua Amerika oleh Kolumbus (1 detik terakhir). Seperti disinggung sebelumnya, gambaran-gambaran waku peristiwa-peristiwa itu terjadi kurang tepat.

Kesetaraan Waktu Sebenarnya dengan Waktu Kosmik

Dalam Sistem Kalender Kosmik ini kita dapat menyusun beberapa persamaan  kesetaraan antara “tahun lalu waktu yang sebenarnya” dan “tahun lalu waktu kosmik” sebagai berikut:

  • 1 hari <—> (13.8×109/365[2]) tahun =37.8 juta tahun….. (1),
  • 1 jam <—> (3)/24 = 1.575 juta tahun ……………………………..(2),
  • 1 menit <—> (4)/60 = 26,265 tahun ……………………………….(3), dan
  • 1 detik <—> (5)/60 = 437.5 tahun …………………………………..(4)

Dengan persamaan (1), sebagai ilustrasi, kita dapat melihat peristiwa terbentuknya bumi yang terjadi pada 4.54 milyar tahun itu setara dengan peristiwa 121.1 hari yang lalu:

(4.54×109 )/(37.8 x106) hari = 120.1 hari.

Dalam Kalender Kosmik yang kita bicarakan, peristiwa itu merujuk pada sekitar akhir Agustus, bukan pada September sebagaimana disarankan oleh Gambar 1. Perbedaan ini terjadi karena perhitungan perbedaan asumsi mengenai umur alam semesta sebagaimana disinggung sebelumnya

Kronologi Formasi Alam Semesta

Berdasarkan persamaan (1) kita dapat meletakkan dalam sistem kalender itu beberapa peristiwa kosmis yang terjadi milyaran tahun yang lalu:

  • Terbentuknya Galaksi Bima Sakti. Galaksi Bima Sakti, di mana sistem matahari kita merupakan bagian darinya, dilaporkan terbentuk sekitar 11 milyar tahun lalu. Dalam skala kosmik ini berarti sekitar 291 hari yang lalu. Angka itu kita dapatkan dari hasil pembagian berikut:

(11×109 )/ (37.8×106) = 291

Dalam sistem kalender ini, waktu kosmik 291 hari yang lalu (terhitung dari 31 Desember) identik dengan 74 hari pertama (terhitung dari 1 Januari) atau 15 Maret. Tanggal itu berbeda dengan yang disajikan pada Gambar 1 (May) karena perbedaan asumsi umur alam semesta sebagaimana disinggung sebelumnya.

  • Terbentuknya Matahari dan Planetnya. Matahari dilaporkan terbentuk 4.7 milyar tahun yang lalu dan planet=planetnya terbentuk segera setelah matahari terbentuk. Peristiwa ini dalam Kalender Kosmik adalah 31 Agustus.
  • Terbentuknya batu tertua di bumi. Batu tertua di bumi dilaporkan berumur 4.0 milyar tahun yang lalu yang setara dengan 16 September dalam Sistem Kalender Kosmik.

Sejarah Awal

Para ilmuan sepakat bahwa tulisan pertama menandai awal sejarah dan peristiwa itu terjadi pada sekitar 5,500 tahun yang lalu. Dengan menggunakan persamaan (4) di atas, waktu kosmik dari peristiwa itu baru terjadi sekitar 13 detik yang lalu atau pada 31 Desember, Pukul 23:59:47. Dengan cara yang sama kita dapat melihat kronologi peristiwa sejarah lainnya sebagaimana ditunjukkan oleh Tabel 1.

Mengenai tabel itu ada dua catatan yang layak disisipkan:

  • Kolom (1) menunjukkan jarak waktu normal dalam arti menggunakan sistem Kalender Masehi diukur dalam ribuan tahun. Jarak waktu 5.0 dalam baris kedua, misalnya, menunjukkan bahwa peristiwa pembentukan Dinasti Mesir yang pertama terjadi 5,000 tahun yang lalu dari waktu kita sekarang.
  • Kolom (2) menunjukkan skala kosmis yang dinyatakan dalam tanggal dan waktu dalam Kalender Kosmis sebagaimana dibahas sebelumnya. Seperti terlihat dari tabel itu, semua peristiwa sejarah terjadi dalam menit terakhir akhir tahun (31 Desember, 23:59).

Dari tabel itu tampak bahwa peristiwa peradaban modern, sebagai ilustrasi, yang dimulai dengan era Renaisance di Eropa, baru terjadi dua detik yang lalu dalam Kalender Kosmik.

Tabel 1: Peristiwa Sejarah Awal menurut Jarak Waktu Normal (Ribuan Tahun) dan Kalender Kosmik (Tanggal-waktu Kosmik)
Jarak waktu normal Kalender kosmik

Peristiwa

(1) (2) (3)
5.5

31 Desember,

23:59:47

Tulisan pertama (menandai akhir prasejarah dan awal sejarah), dimulainya Zaman Perunggu
5.0

31 Desember,

23:59:48

Dinasti pertama Mesir, periode dinasti awal di Sumer, astronomi
4.5

31 Desember,

23:59:49

Alfabet, Kekaisaran Akkadia, roda
4.0

31 Desember,

23:59:51

Piagam Hammurabi, Kerajaan Pertengahan Mesir
3.5

31 Desember,

23:59:52

Yunani Mycenean; peradaban Olmec; Zaman Besi di Timur Dekat, India, dan Eropa; berdirinya Kartago.
3.0

31 Desember,

23:59:53

Kerajaan Israel, Olimpiade kuno.
2.5

31 Desember,

23:59:54

Buddha, Konfusius, Dinasti Qin, Yunani Klasik, Kekaisaran Ashoka, Weda selesai, geometri Euklides, fisika Archimedes, Republik Romawi.
2.0

31 Desember,

23:59:55

Astronomi Ptolemeus, Kekaisaran Romawi, Kristus, penemuan angka 0.
1.5

31 Desember,

23:59:56

Muhammad, peradaban Maya, Dinasti Song, kebangkitan Kekaisaran Bizantium.
1.0

31 Desember,

23:59:58

Kekaisaran Mongol, Perang Salib, pelayaran Christopher Columbus ke Amerika, Renaisans di Eropa.
Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Kosmik

Kelahiran Para Rasul

Sebagaimana ditunjukkan oleh Tabel 1, peristiwa kelahiran Rasul SAW dalam skala kosmis baru terjadi empat detik yang lalu. Bagaimana dengan kelahiran Nabi Nuh AS, Ibrahim AS, Musa AS dan Isa? Informasinya tidak tercantum dalam tabel itu tetapi dapat kita hitung secara sederhana berdasarkan data kelahiran dan rumus (4) sebagaimana disajikan sebelumnya. Hasil perhitungan disajikan pada Tabel 2.

Pada tabel itu tampak, misalnya, Nabi Nuh AS yang lahir 3,993 Sebelum Masehi (SM) (berarti sekitar 6,000 tahun yang lalu) dalam skala kosmik peristiwanya baru terjadi 13.7 detik yang lalu. Pada tabel yang sama juga tampak bahwa peristiwa kelahiran Nabi Isa AS baru terjadi kurang dari lima menit yang lalu dalam skala kosmis.

Tabel 2: Tanggal Kelahiran Empat Rasul AS dalam Sistem Kalender Kosmik
Nabi Lahir (*) Jarak waktu (**) Skala Kosmik (detik)

Tanggal/waktu dalam Kalender Kosmik

Nuh AS 3,993 SM  6,011 13.7 31 Desember, 23:59:46
Ibrahim AS 2,295 M  4,313 9.9 31 Desember, 23:59:40
Musa AS 1,527 SM  3,545 8.1 31 Desember, 23:59:52
Isa AS 1 M  2,018 4.6 31 Desember, 23:59:55
(*) Sumber: Google
(**) Jarak waktu dari waktu masa-kini (dalam tahun)

Refleksi

Jika umur kita 70 tahun[3], maka dalam skala kosmik angka itu setara dengan 0.16 detik, durasi yang sangat singkat, jauh lebih singkat dari pada kedipan mata yang oleh para ilmuan diyakini 0.4 detik (atau 400 milidetik)[4]. Dalam durasi yang sangat singkat itulah waktu yang tersedia bagi kita untuk “menanam” di “ladang amal” (meminjam istilah Aa Gym) selama kita hidup di sini di dunia-rendah (the lower-world-here), sebagai bekal kehidupan di akhirat. Tantangannya, apa dan bagaimana yang kita tanam itu dalam durasi waktu yang sangat singkat ini menentukan kehidupan di kampung akhirat[5], kehidupan abadi di dunia-atas-sana (the upper-world-there). Di luar imajinasi kita untuk dapat membayngkan lamanya kehidupan abadi itu: bisa mencapai 3.8 milyar tahun atau bahkan lebih. Yang pasti, selain wajah-Nya, semuanya punya batas waktu, punah (QS Ar-Rahman:26-27). Wallahualam……… @

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Age_of_the_universe

[2] Ini sebenarnya angka pendekatan. Jumlah hari dalam setahun, dengan memperhitungkan tahun Kabisat, secara rata-rata sebenarnya 365.25.

[3] Angka 70 dipilih sekadar untuk kemudahan. Perhitungan menurut data Sensus Penduduk 2010 menyarankan bahwa bagi penduduk Indonesia, angka harapan hidup (life expectancy) adalah 67.2 tahun bagi laki-laki dan 72.6 tahun bagi perempuan. Angka-angka ini bukan angka resmi (unpublished) dan merupakan hasil perhitungan penulis sebagai konsultan BPS-UNFPA dan Tim BPS dalam kegiatan “Konstruksi Life Table Indonesia Berdasarkan Data Sensus Penduduk”.

[4] https://health.detik.com/hidup-sehat-detikhealth/1348512/berapa-kali-mata-berkedip-dalam-1-menit.

[5] Bagi yang tertarik dengan “kampung akhirat”, lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/03/04/kampung-akhirat/.

 

Penyebaran Muslim: Catatan Sangat Singkat

Kini populasi Muslim atau Umat Islam, selanjutnya disingkat Umat, diperkirakan sekitar 2.4 milyar jiwa yang tersebar di seluruh dunia[1]. Dihitung dari peristiwa Hijrah dari Mekah ke Madinah, kini umur Umat sekitar 1.44 milenium menurut Kalender Hijriyyah atau 1.38 milenium menurut Kalender Masehi[2]. Sekitar 14 abad lalu menurut sistem Masehi, populasinya diduga kurang dari 100 jiwa, populasi yang sangat kecil sebagai “benih” suatu entitas sosial.

Selain berjumlah kecil, kelangsungan hidup “benih” ini sangat rentan karena selalu terancam dimusnahkan oleh kaum kuffar[3] Quraisy yang menilai ajaran Umat terlalu revolusioner dan egalitarian sehingga kelompok elitnya merasa sangat terancam. Kaum ini, menggunakan alusi qur’ani, selalu berupaya memadamkan “cahaya Allah” (QS61:8) yang baru menyala itu. Walaupun pada mulanya sangat rentan benih Umat ini ditakdirkan unggul sehingga dalam waktu seabad menjelma menjadi kekuatan yang mampu mengungguli pusat-pusat peradaban dunia saat itu.

Sekitar 14 Abad Lalu: Masa Kesedihan

Sekitar 14 abad lalu adalah masa kesedihan bagi Umat. Ketika itu, diukur dari peristiwa turunnya wahyu pertama di Guha Hira (610 M)[4], Umat baru berumur sekitar 18 tahun dan Rasul SAW beumur 41 tahun. Pemberian label masa kesedihan tidak berlebihan sebagaimana tercermin dari lima peristiwa historis berikut[5]:

  • 615: Hijrah I sekelompok Muslim ke Ethiopia;
  • 616: Hijrah II sekelompok Muslim ke Ethiopia;
  • 617: Pemboikotan sosial kaum kuffar orang Quraish terhadap keluarga Bani Hasyim dan Rasul SAW. Keluarga ini diucilkan di suatu lembah kecil di luar Kota Makkah;
  • 619: Dikenal sebagai tahun kesedihan; pencabutan boikot; wafatnya Abu Thalib RA dan Bunda Khadija RA; dan
  • 620: Misi dakwah ke Thaif yang gagal dan sempat melukai Rasul SAW; Mikraj Rasul SAW.

Peristiwa terakhir, Mikraj Rasul SAW, dinilai sebagai “hiburan” bagi Rasul SAW yang baru saja melewati masa-masa yang menyedihkan secara bertubi-tubi. Hiburan ini ternyata segera diikuti oleh sejumlah anugerah-Nya yang lain yang membawa angin segar bagi perkembangan Umat: Perjanjian Aqabah I (621), Perjanjian Aqabah II (622) dan Hijrah ke Madinah (mulai 622).

Peristiwa tearakhir sangat historis karena memberikan peluang bagi Umat membangun masyarakat yang sesuai dengan ajaran-ajaran agamanya. Upaya ke arah itu sama-sekali bukan tanpa tantangan: komposisi masyarakat jauh lebih prulalistis di bandingkan di Mekah dilihat dari suku dan agama, permusuhan dari kaum kuffar quraisy terus berlanjut yang menyebabkan dua perang yang sangat menentukan yaitu Perang Badar dan Perang Uhud, dan banyaknya “musuh dalam selimut” atau kaum munafiq. Tetapi semua tantangan itu dapat dilalui berkat bimbingan wahyu dan kepemimpinan Rasul SAW: dalam Era ini Umat mulai menyebar di seluruh jazirah Arab.

Satu Abad Kemudian: Masa Gemilang

Sekitar seabad setelah masa kesedihan, Umat mulai memasuki masa gemilang diukur dari penyebaran geografis yang dimulai pada Era Rasidun atau era dari empat khalifah yang pertama yaitu Abu Bakar RA, Umar RA, Usman RA dan Ali RA. Dalam puncak kegemilangannya Umat bahkan mampu memberikan sumbangan kemanusiaan yang sangat signifikan dalam pengembangan hampir semua cabang keilmuan: ilmu-pengobatan, penyakit mata (opthamology), sejarah kedokteran, lingusitik, arsitektur, matematik, ilmu optik, filsafat dan sebagainya[6].

Setelah Era Rasidun, kegemilanan Umat dilihat dari perluasan wilayah geografis dilanjutkan oleh Dinasti Umayah yang mampu mengungguli kekuatan “superpower” dunia saat itu yaitu Kerajaan Roma di Barat dan Kerajaan Persia di Timur. Kegemilangan itu terlihat dari lima peristiwa historis berikut ini[7]:

  • 711: Penaklukkan Spanyol, Sind (bagian dari Pakstan) dan Transoxiana[8] (kawasan Asia tengah yang mencakup Uzbekistan, Tajikistan, Kazakhstan, and Kyrgyzstan);
  • 712: Perluasan kekuasaan di Spanyol, Sind dan Transoxiana;
  • 713: Penaklukkan Mutan;
  • 716: Invasi ke Konstantinopel; dan
  • 725: Pendudukan Nimas di Pernacis.

Gambaran mengenai luasnya wilayah muslim dalam periode 622M-750M, periode yang mencakup Era Rasul SAW sampai Era Dinasti Umayah, dapat dilihat pada Gambar 1. Pada gambar itu tampak bahwa pada Era Rasul SAW, misalnya, muslim telah tersebar di hampir di semua kawasan jazirah Arabia walaupun baru disempurnakan pada Era Dinasti Umayah. Dalam dinasti ini wilayah penyebaran sudah mencakup wilayah Iberia dan sekitar.

Penyebaran muslim terus berlanjut pada Era Dinasti Abasyiah yang menggantikan dinasti Umayah. Gambar 2 memberikan ilustrasi mengenai luas wilayah geografis muslim sampai tahun 1050s.

Setelah Era Abasyiah, imperium muslim digantikan oleh Dinasti Ottoman dan penyebaran muslim terus, sebelum akhirnya berhenti pada sekitar dekade ke-2 abad ke-20 (jadi; dalam ukuran sejarah manusia, belum lama). Berakhirnya Era Ottoman menandai berakhirnya imperium muslim sebagai suatu kekhalifahan. Sebagai akibatnya, hampir semua wilayah gerografis muslim melepaskan diri dari kekuatan terpusat di Turki.

Gambar 3 meringkas sejarah ekspansi Islam ke sejumlah pusat perdaban sampai dua dekade awal abad ke-20 menurut abad dan era kekhalifahan (dinasti). Dalam gambar itu tampak, misalnya, dalam era Rashidun wilayah muslim mencakup kawasan-kawasan Arabia, Mesopotamia (Irak modern), Persia (Iran modern), Levant (Syria modern, Lebanon, Suriah, Yordania, Israel, dan Palestina). Era ini berakhir sekitar pertengahan abad ke-7M. Sebagai contoh lain, dalam era Otoman (Turki) yang berakhir pertengahan abad ke-20 M, ekspansi muslim mencakup wilayah-wilayah, selain kawasan-kawasan tadi, Magribi (Aljazair, Moroko, Tunisia, Libya and Mauritania, Transoxmania, Hindustan (termasuk Pakistan modern) dan Anatolia (Turki modern).

Abad 20: Era Kemunduran

Memasuki abad ke-20 imperium muslim tinggal sejarah, Umat memasuki era kemunduran, dan sebagian besar wilayahnya secara terpecah segera menjadi jajahan Barat. Kemunduran ini sejalan dengan penyebaran konsep negara-bangsa (nation state) yang dalam pengertiannya yang sangat spesifik mengacu pada “suatu negara di mana suatu kelompok budaya atau suku mendiami suatu wilayah teritorial dan membentuk suatu negara” (“a country where a distinct cultural or ethnic group (a “nation” or “people“) inhabits a territory and have formed a state)[9]. Konsep negara ini juga yang memupus sistem kekaisaran atau kerajaan yang berbasis multi-etnik termasuk Kekaisaran Austria, Kerajaan Perancis, Kerajaan Hungaria, kekaisaran Rusia, kekaisaran Ottoman, Kekaisaran Inggris.

Konsep negara bangsa pasti bukan satu-satunya bagi imperium Umat untuk mengalami kemunduran sebelum akhirnya sirna. Banyak faktor lain yang turut bertanggung jawab termasuk di antaranya faktor-faktor berikut:

  • Perubahan mode ekonomi dari yang berbasis agraris menjadi teknikalis, serta ketertinggalan Umat dalam mengadaptasi perubahan itu;
  • Pola pikir mainstrem Umat dalam menafsirkan syariah terlalu terfokus pada aspek ubudiyyah dalam artian sempit dan mengabaikan aspek muamalah dalam pengertian luas dan aktual; pola pikir ini menurut pengamatan Tariq Ramadan masih berlangsung sampai kini[10];
  • Perang Salib yang membuka mata Barat terhadap peradaban lebih maju;
  • Konsekuensi logis dari Islam sebagai suatu bentuk (form) agama yang, by definition, terbatas dalam memanifestasikan esensi Islam yang universal dan tak-terbatas (menurut F. Schuon); dan
  • Kehendak yang Maha Tinggi.

Faktor terakhir tentunya yang paling menentukan. Faktor ini diisyaratkan oleh ayat Al-Qur’an yang “menghibur” kekalahan tentara Rasul SAW dalam perang Uhud:

Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapatkan luka, maka mereka pun mendapatkan luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka dapat pelajaran) (QS3:140).

Iy yaysaskum faqad massal-qauma qarhum mitsluh, wa tilkal-ayyaamu nudaawiluha bainan-naas (QS3:140).

Wallahu’alam….@

[1] Sebagai rujukan lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/06/27/muslim_popn/.

[2] Alim.org-Timeline History-6th Century (500-599) C.E.

[3] Dalam Bahasa Arab istilah kuffar merujuk pada kelompok orang kafir tetapi dengan tingkat kekafiran yang amat sangat.

[4] Diukur dengan sistem Kalender Masehi, umur beliau ketika menerima wahyu pertama adalah 33 tahun. (Beliau Lahir 577 M.)

[5] Alim.org-Timeline History-6th Century (500-599) C.E.

[6] Lihat, misalnya, Philip K. Kitty (1961), History of the Arabs, khususnya dalam Bab XLIX, MACMILLAN & CO LTD.

[7] Alim.org-Timeline History-7th Century (600-699) C.E.

[8] https://en.wikipedia.org/wiki/Muslim_conquest_of_Transoxiana.

[9] https://en.wikipedia.org/wiki/Nation_state.

[10] Lihat, misalnya, Tariq Ramadan (2009), Radical Reform: Islamic Ethics and Liberation, Oxford University Press.

Peristiwa Penting 2017: Refleksi Akhir Tahun

Tahun 2017 segera berlalu dan Tahun Baru 2018 hampir tiba. Semua berharap tahun baru membawa harapan baru, tentunya ke arah yang lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pertanyannya, apakah harapan semacam ini realistis? Pada tataran individual, jawabannya seyogyanya positif: harapan hari-esok yang lebih baik perlu dirawat agar tetap “tampak” realistis. Pada tataran global, sayangnya kita perlu mengakui bahwa jawabannya cenderung negatif. Jawaban ini logis berdasarkan fakta dari sejumlah peristiwa yang terjadi sepanjang tahun 2017.

Sukar bagi kita untuk mengabaikan fakta berbagai bencana yang terjadi pada tahun ini, bencana alam maupun bencana kemanusiaan. Mengenai yang pertama sebut saja Badai Harvei yang yang menyerang wilayah metropolitan Houston (Amerika Serikat) pada minggu ke-4 Agustus[1]. Mengenai yang kedua, dapat diambil contoh kasus peristiwa “pembersihan etnis” (istilah yang diberikan oleh PBB) melalui suatu operasi militer pada 25 Agustus yang menargetkan Muslim Rohingya di Myanmar[2].

Kasus Rohingya merupakan contoh kasus pindah paksa (forced displacement) yang menurut UNHCR, secara global, mengambil korban sekitar 65,6 juta orang pada akhir tahun 2016 (angka 2017 belum tersedia tetapi patut diduga tidak banyak berkurang). Angka itu lebih besar dari pada populasi Inggris dan secara rata-rata berarti 20 orang diusir dari rumah mereka setiap menit, atau seorang setiap tiga detik. Bagi Filippo Grandi (UNHCR), “Dalam ukuran apa pun angka ini tidak dapat diterima” dan untuk menyelesaikannya perlu determinasi dan keberanian, bukan takut: “For a world in conflict, what is needed is determination and courage, not fear[3]

Jika bencana alam seperti Badai Harvei boleh dikatakan sebagai manifestasi “kehendak Tuhan”, maka kasus seperti pindah paksa jelas “buatan manusia” (man-made). Kenapa manusia melakukannya? Jawaban singkatnya, karena kebodohan, dalam berbagai tingkat dan bentuknya. Einstein mungkin benar ketika mengatakan bahwa kebodohan manusia itu tidak terhingga: “Only two things are infinite, the universe and human stupidity, and I’m not sure about the former” (“Hanya dua hal yang tak-terhigga, alam raya dan kebodohan manusia, dan saya tidak yakin mengenai yang pertama”) [4].

Kita dapat membuat daftar panjang peristiwa sepanjang tahun 2017. Walaupun demikian, kita dapat menyederhanakanna dengan memilih kasus yang secara umum dinilai memiliki signifikansi kemanusiaan dan merefleksikan suasana batin global. Daftar peristiwa selektif semacam ini dapat dilihat, misalnya, dalam daftar yang dikompilasi oleh Wikipedia[5].

Urutan pertama dalam kompilasi Wikipedia adalah demonstrasi Women’s March besar-besaran pada 21 Januari 2017 sebagai tanggapan atas peresmian Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat. Demonstrasi ini dilaporkan melibatkan jutaan orang (sebagian besar perempuan), dan berlangsung tidak hanya di AS tetapi juga di negara lain. Para demonstran menolak Presiden sebagian karena dianggap kurang hormat terhadap perempuan, rasialist, agresif, kurang akomodatif, tidak presidential, dan dituduh cenderung pada kebijakan yang kontroversial.

Tuduhan para demonstran kebijakan kontroversial belakangan terbukti sebagaimana terlihat dari beberapa peristiwa berikut:

6 April – Militer A.S. meluncurkan rudal jelajah Tomahawk di sebuah pangkalan udara di Suriah yang oleh Rusia digambarkan sebagai “agresi”;

13 April – Dalam serangan udara AS menjatuhkan senjata non-nuklir terbesar di dunia, di sebuah markas ISIL di Afghanistan.

1 Juni – A.S. mengumumkan keputusannya untuk menarik diri dari Paris Climate Agreement pada waktunya.

12 Oktober – AS menarik diri dari UNESCO yang segera diikuti oleh Israel.

6 Desember – AS secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Semua peristiwa ini tercantum dalam daftar yang dikompilasi oleh Wikipedia. Selain itu, daftar ini mencantumkan juga peristiwa lain termasuk ujicoba nuklir Korea Utara (Februari), kelaparan di di Yaman, Somalia, Sudan Selatan dan Nigeria (Maret), dan keptusan Dewan Keamanan PBB untuk memberikan sangsi tambahan kepada Korea Utara (Desember). Tabel 1 berikut menyajikan daftar yang dimaksud.

Berdasarkan daftar itu sukar bagi kita untuk berharap banyak bahwa 2018 akan lebih baik dari 2017. Daftar itu justru mengisyaratkan beratnya tantangan bagi masyarakat global di tahun depan, tanpa harus berharap terlalu banyak pada inisiatif dan kepemimpinan Administrasi Trump. Walaupun demikian kita tampaknya perlu menyetujui pendapat Grandi bahwa dunia dalam “keadaan perang” dan yang kita butuhkan bukan rasa takut, tetapi determinasi dan keberanian. Selain unsur determinasi dan keberanian, mungkin kita dapat tambahkan unsur sabar, unsur yang konon menjadi “rahasia” kemenangan Barca terhadap Madrid dalam pertandingan klasik baru-baru ini. Sebagai catatan, istilah sabar dalam konteks ini mengambil definisi Fulton J. Sheen[6]:

Patience is power

Patience is not an absence of action;

rather it is “timing”

it waits on the right time to act,

for the right principles

and in the right way.

Wallhu’alam….@

Tabel 1: Peristiwa Penting Tahun 2017
Bulan Peristiwa
Januari 21 Januari – Jutaan orang di seluruh dunia bergabung dalam demonstrasi Women’s March sebagai tanggapan atas peresmian Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat. Pada hari itu dilaporkan 420 gelombang protes di A.S dan diikuti di 168 di negara lain sehingga tercatat sebagai hari demonstrasi terbesar dalam sejarah Amerika, bahkan secara global dalam sejarah baru-baru ini.
Februari 11 Februari – Korea Utara mengundang kecaman internasional karena melakukan uji coba menembakkan rudal balistik yang melintasi Laut Jepang.
Maret 10 Maret – PBB memperingatkan bahwa dunia menghadapi krisis kemanusiaan terbesar sejak Perang Dunia II terkait dengan risiko kelaparan bagi 20 juta orang lebih di Yaman, Somalia, Sudan Selatan dan Nigeria.

29 Maret – Inggris memulai Negosiasi Brexit untuk meninggalkan Uni Eropa.

30 Maret – SpaceX melakukan penerbangan-ulang roket kelas orbital pertama di dunia.

April 6 April – Menanggapi dugaan serangan senjata kimia di sebuah kota yang dikuasai pemberontak, militer A.S. meluncurkan rudal jelajah Tomahawk di sebuah pangkalan udara di Suriah. Rusia menggambarkan tindakan itu sebagai “agresi”, dan menambahkan bahwa hal itu secara signifikan merusak hubungan A.S.-Rusia.

13 April – Dalam serangan udara Nangarhar tahun 2017, AS menjatuhkan MOU GBU-43 / B, senjata non-nuklir terbesar di dunia, di sebuah markas ISIL di Afghanistan.

May 12 Mei – Komputer di seluruh dunia terkena serangan cyber ransomware skala besar yang menyerang setidaknya 150 negara.

22 Mei – Suatu erangan bom teroris di sebuah konser Ariana Grande di Manchester, Inggris, membunuh 22 orang dan melukai lebih dari 500 orang.

Juni 1 Juni – Di tengah kritik luas, A.S. mengumumkan keputusannya untuk menarik diri dari Paris Climate Agreement pada waktunya.

7 Juni – Dua serangan teroris bersamaan dilakukan oleh lima teroris milik Negara Islam Irak dan Levant (ISIL) melawan gedung Parlemen Iran dan Mausoleum Ruhollah Khomeini, keduanya di Teheran, Iran, menyebabkan 17 warga sipil tewas dan 43 luka. Ini menjadi serangan ISIL pertama di Iran.

10 Juni – Expo Dunia 2017 dibuka di Astana, Kazakhstan.

12 Juni – Mahasiswa Amerika Otto Warmbier kembali ke rumah dalam keadaan koma setelah menghabiskan 17 bulan di sebuah penjara Korea Utara dan meninggal seminggu kemudian.

18 Juni – Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) menembakkan enam rudal balistik mid-range permukaan ke darat dari basis domestik yang menargetkan pasukan ISIL di Provinsi Deir ez-Zor Suriah sebagai tanggapan atas serangan teroris di Teheran awal bulan itu.

21 Juni – Masjid Agung al-Nuri di Mosul, Irak, hancur oleh Negara Islam Irak dan Levant.

25 Juni – Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan Yaman mengalami lebih dari 200.000 kasus kolera.

27 Juni – Serangkaian serangan cyber yang menggunakan malware Petya dimulai, mempengaruhi organisasi-organisasi di Ukraina.

Juli 4 Juli – Rusia dan China mendesak Korea Utara untuk menghentikan program rudal dan nuklirnya setelah berhasil menguji rudal balistik antarbenua pertamanya.

7 Juli – Perjanjian Larangan Senjata Nuklir dipilih oleh 122 dari 193 negara anggota PBB.

10 Juli – Perang Sipil Irak (2014-sekarang): Mosul dinyatakan sepenuhnya dibebaskan dari Negara Islam Irak dan Levant.

Agustus 5 Agustus – Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat menyetujui sanksi baru terhadap perdagangan dan investasi Korea Utara.

17 Agustus – Observasi pertama dari tabrakan dua bintang neutron (GW170817) dipuji sebagai terobosan dalam astronomi multi-messenger   ketika gelombang gravitasi dan elektromagnetik dari peristiwa tersebut terdeteksi. Data dari acara tersebut memberikan bukti konfirmasi untuk teori proses-r asal mengenai unsur-unsur berat seperti emas.

21 Agustus – Gerhana matahari total (dijuluki “The Great American Eclipse”) terlihat di dalam suatu band di seluruh Amerika Serikat yang bersebelahan, melintas dari Pasifik ke pantai Atlantik.

25 Agustus – masih berlangsung – Suatu operasi militer yang menargetkan Muslim Rohingya di Myanmar “tampaknya merupakan contoh buku teks tentang pembersihan etnis”, menurut Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa.

25-30 Agustus – Badai Harvey menyerang Amerika Serikat sebagai topan Kategori 4, yang menyebabkan kerusakan parah pada wilayah metropolitan Houston, sebagian besar karena banjir yang memecahkan rekor. Sedikitnya 90 kematian dicatat, dan kerusakan total mencapai $ 198,6 miliar (2017 USD), menjadikan Harvey sebagai bencana alam paling mahal dalam sejarah Amerika Serikat.

September 1 September – Presiden Rusia Vladimir Putin mengusir 755 diplomat sebagai tanggapan atas sanksi Amerika Serikat.

3 September – Korea Utara melakukan uji coba nuklir keenam dan paling kuat.

6-10 September – Karibia dan Amerika Serikat diserang oleh Badai Irma, badai Kategori 5 yang merupakan badai terkuat yang tercatat di cekungan Atlantik di luar Karibia dan Teluk Meksiko. Badai menyebabkan setidaknya 134 kematian dan setidaknya $ 63 miliar (2017 USD) dalam kerusakan.

13 September – Komite Olimpiade Internasional memberi penghargaan kepada Paris dan Los Angeles untuk menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas 2024 dan 2028.

15 September – Cassini-Huygens mengakhiri misi 13 tahunnya dengan terjun ke Saturnus, menjadi pesawat ruang angkasa pertama yang memasuki atmosfer planet ini.

19 September – Sebelas hari setelah gempa dahsyat yang dahsyat, dan pada hari ulang tahun ke-32 dari gempa yang mematikan pada tahun 1985 di Kota Meksiko, sebuah gempa Mw 7.1 menyerang Meksiko tengah, menewaskan lebih dari 350 orang dan menyebabkan sampai 6.000 orang terluka. dan menyebabkan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal.

19-20 September – Hanya dua minggu setelah Badai Irma menyerang Karibia, Badai Maria menyerang daerah serupa, membuat pendaratan di Dominika sebagai topan Kategori 5, dan Puerto Riko sebagai topan Kategori 4. Maria menyebabkan setidaknya 94 kematian dan kerusakan diperkirakan mencapai $ 103 miliar (2017 USD).

25 September – Kurdistan Irak memberikan suara dalam suatu referendum untuk menjadi negara merdeka, yang bertentangan dengan Irak; pada tanggal 15 Oktober, krisis tersebut meningkat menjadi konflik bersenjata singkat mengenai wilayah-wilayah yang disengketakan.

Oktober 1 Oktober – Lima puluh delapan orang terbunuh dan 546 lainnya cedera saat Stephen Paddock menembaki kerumunan di Las Vegas, melebihi serangan klub malam tahun 2016 di Orlando sebagai pemotretan paling mematikan yang dilakukan oleh seorang pria bersenjata tunggal dalam sejarah A.S.

12 Oktober – Amerika Serikat mengumumkan keputusannya untuk menarik diri dari UNESCO, dan segera diikuti oleh Israel.

14 Oktober – Sebuah ledakan besar yang disebabkan oleh pemboman truk di Mogadishu, Somalia membunuh setidaknya 512 orang dan melukai 316 lainnya.

17 Oktober – Perang Sipil Suriah: Raqqa dinyatakan sepenuhnya dibebaskan dari Negara Islam Irak dan Levant.

25 Oktober – Pada Kongres Nasional Partai Komunis China ke-19, Xi Jinping menganggap masa jabatan keduanya sebagai Sekretaris Jenderal (pemimpin penting China), dan teori politik Xi Jinping Thought ditulis dalam konstitusi partai.

27 Oktober – Catalonia menyatakan kemerdekaan dari Spanyol, namun Republik Catalan tidak diakui oleh pemerintah Spanyol atau negara berdaulat lainnya.

November 2 November – Spesies baru orangutan diidentifikasi di Indonesia, menjadi spesies orangutan ketiga yang dikenal sebagai kera besar pertama yang dideskripsikan selama hampir satu abad.

3 November – Perang saudara Suriah: Deir ez-Zor di Suriah dan Al-Qa’im di Irak dinyatakan dibebaskan dari ISIL pada hari yang sama.

5 November – Surat kabar Jerman Süddeutsche Zeitung menerbitkan 13,4 juta dokumen yang bocor dari firma hukum lepas pantai Appleby, bersama dengan pendaftar bisnis di 19 yurisdiksi pajak yang mengungkapkan kegiatan keuangan luar negeri atas nama politisi, selebriti, raksasa perusahaan dan pemimpin bisnis. Surat kabar tersebut membagikan dokumen-dokumen tersebut dengan Konsorsium Investigasi Internasional dan memintanya untuk memimpin penyelidikan tersebut.

12 November – Sebuah gempa berkekuatan 7,3 skala Richter menyerang wilayah perbatasan antara Irak dan Iran yang menyebabkan sedikitnya 530 orang tewas dan lebih dari 70.000 orang kehilangan tempat tinggal.

15 November – Presiden Zimbabwe Robert Mugabe ditempatkan di bawah tahanan rumah, saat militer menguasai negara tersebut. Dia mengundurkan diri enam hari kemudian setelah 37 tahun memerintah.

Lukisan Leonardo da Vinci, Salvator Mundi, dijual seharga US $ 450 juta di Christie’s di New York, harga rekor baru untuk karya seni apapun.

20 November – Alam menerbitkan sebuah artikel yang mengenali asteroid kecepatan tinggi’Oumuamua yang berasal dari luar tata surya yaitu objek antar bintang pertama yang diketahui.

22 November – Pengadilan Internasional menemukan Ratko Mladić bersalah melakukan genosida yang dilakukan di Srebrenica selama Perang Bosnia 1990-an, pembantaian terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II. Dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

24 November – Sebuah serangan masjid di Sinai, Mesir membunuh 305 pemuja dan menyebabkan ratusan lainnya terluka.

Desember 5 Desember – Rusia dilarang mengikuti Olimpiade Musim Dingin 2018 di Pyeongchang oleh Komite Olimpiade Internasional, menyusul suatu penyelidikan mengenai doping yang disponsori negara.

6 Desember – Amerika Serikat secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

9 Desember – Militer Irak mengumumkan pihaknya telah “membebaskan sepenuhnya” seluruh wilayah Irak dari “gerombolan teroris ISIS” dan merebut kembali kendali penuh atas perbatasan Irak-Suriah.

14 Desember – Walt Disney Company mengumumkan akan mengakuisisi sebagian besar 21st Century Fox, termasuk studio film 20th Century Fox, seharga $ 66 miliar.

22 Desember – Dewan Keamanan PBB memberikan suara 15-0 untuk mendukung sanksi tambahan terhadap Korea Utara, termasuk langkah-langkah untuk memangkas impor minyak bumi hingga 90%.

Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/2017

 

Sumber: Google

 

[1] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/09/02/badai-harvey/

[2] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/09/17/rohingya/

[3] http://www.unhcr.org/afr/news/stories/2017/6/5941561f4/forced-displacement-worldwide-its-highest-decades.html

[4] http://www.azquotes.com/quote/87292

[5] https://en.wikipedia.org/wiki/2017

[6] Google.