Ketika Rasul SAW Menjamu Makan Kerabat Dekat


Sumber Gambar: Pinterest

 

Rasul SAW mulai dakwah kepada kerabat-dekat. Ini sesuai perintah-Nya (QS 26:214). Untuk keperluan ini beliau mengudang jamuan makan keluarga kakeknya Abdul Mutolib.

Tetapi rencana itu pada mulanya tidak berlangsung mulus. Sebelum Rasul SAW menyampaikan maksud jamuan makannya, salah seorang paman beliau angkat bicara yang pada intinya meneror tuan rumah.

Memperhadapkan Rasul SAW dengan keluarga besarnya dan menuduhnya sebagai “penyeleweng” dari tradisi keluarga, serta memperlakukan beliau layaknya tertuduh;

Menghasut hadirin dengan gambaran besarnya bahaya yang akan menimpa keluarga jika Rasul SAW tidak berhenti berdakwah;

Memperlakukan Rasul SAW yang sudah berumur 40 tahun sebagai anak-anak yang perlu dididik;

Membujuk hadirin dengan menawarkan “penyelesaian” dengan cara Rasul SAW kembali rujuk kepada tradisi keluarga.

Paman Rasul SAW yang dimaksud adalah Abu Lahab yang namanya diabadikan dalam Al-Quran (Surat ke-111). Mengenai suasana jamuan itu Natsir (ibid:187) mengatakan: “Baru saja Muhammad SAW hendak bertolak melayarkan perahu dakwahnya, sudah begitu kerasnya badai yang datang menimpa”.

[Terjemahan pidato Abu Lahab ini dapat diakses di SINI.]

Apa reaksi Rasul SAW ketika itu? Tidak ada, diam-seribu-bahasa. Agaknya Rasul SAW memperhitungkan kemungkinan suasana akan lebih rusuh  jika menanggapi hasutan itu secara langsung pada saat itu juga. Rasul SAW agaknya melihat “target dakwahnya” belum siap mendengarkan seruan dakwah. Bagi Natsir respons semacam ini sebagian dari tanda hikmah dalam berdakwah.

Lalu apa yang dilakukan Rasul SAW selanjutnya? Menghentikan usahanya? Sama-sekali tidak. Beliau kembali mengundang jamuan makan. Kali ini, ketika waktunya pas dan sebelum yang lain berbicara, beliau angkat bicara.

Dalam kesempatan itu Rasul SAW berpidato dalam bahasa yang sangat efektif dan efisien (Quran: qaulan baligha).

[Terjemahan pidato Rasul SAW ini dapat diakses di SINI.]

Beliau mengakhiri pidatonya dengan seruan: “Maka siapakah (di antara yang hadir) yang bersedia menyambut seruanku kepada urusan (penting) ini, dan bersedia mendampingiku untuk mendampinginya (maksudnya, risalah kerasulannya)?”

Salah seorang pamannya, Abu Talib, menyambut positif ajakan Rasul SAW itu :

“Aku ya Rasulullah! Aku membelamu, Aku adalah musuh bagi siapa yang memusuhimu”.

“Dan (lihatlah), itu semua kaum kerabat ayahmu, yang sedang berkumpul. Dan aku hanyalah salah seorang dari mereka, tetapi aku tidak akan mendahului mereka untuk memenuhi apa yang Kau kehendaki.

Teruskan menjalankan tugasmu. Demi Allah, aku tetap melindungimu. Hanya aku sendiri tidak sanggup berpisah dari agama Abdul Mutolib… “

Sambutan Abu Talib memicu amarah  Abu Lahab dan berteriak sengit: “Demi Allah, salangkah memalukan semua ini. Sergaplah dia sebelum dia disergap orang lain”. Tetapi Abu Talib menanggapinya spontan: “Demi Allah, kami akan bela dia selama kami masih ada “.

Demikianlah cerita peristiwa jamuan makan Rasul SAW ini di hadapan keluarga besarnya. Paling tidak ada tiga pelajaran yang dapat dipetik dari peristiwa jamuan makan ini.

Pentingnya timing atau memilih waktu yang tepat dalam menyampaikan pesan dakwah; ada kalanya sikap diam-seribu-bahasa adalah yang terbaik.

Pentingnya faktor keberanian untuk menyampaikan apa yang harus disampaikan. Dalam kutipan di atas Rasul SAW telah menyampaikan inti dari misi kerasulannya: tauhid, kenisacayaan kebangkitan setelah mati, pertanggung jawaban amal individual, kabar gembira surga dan ancaman neraka.

Pentingnya penggunaan bahasa yang efektif dan efisien. (Istilah Alquran: qaulan baligha.) Eefetivitasnya terlihat dalam penggunaan analogi bangun dari tidur untuk menggambarkan kebangkitan dari kematian. Efesiensinya terlihat cakupan pesan yang disampaikan yang dapat dikatakan merangkum inti risalah Islam dalam waktu singkat.

Agaknya sudah menjadi bagian dari wisdom-Nya untuk selalu menguji keimanan seseorang, lebih-lebih kegigihan seorang pembawa risalah kerasulan:

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami beriman”, dan mereka tidak diuji (QS 29:2)”.

Wallahualam bi muradih….@ 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.