Penembakan Masal di Masjid New Zealand

Dalam suatu kesempatan jumpa Press PM New Zealand (Mrs. Jacinda Arden) antara lain menyatakan: “This is, and will be, one of New Zealand’s darkest days,[1].

Pernyataan itu dikemukakan untuk menanggapi tragedi penembakan masal yang terjadi Jumat 15/3/2019 pukul 13.40 (NZDT) di dua Masjid di Chrischurh, New Zealand: Masjid Al-Noor dan Linwood Islamic Center. Target penembakan adalah jamaah di kedua masjid itu yang diperkirakan berjumlah sekitar 500 orang. Ketika tragedi itu terjadi mereka baru saja selesai jumatan. PM menggambarkan tragedi itu sebagai aksi teroris yang tertata- rapi.

 

Masjid Al-Noor

Sumber Gambar: https://en.wikipedia.org/wiki/Christchurch_mosque_shootings

 

Dalam tragedi ini korban meninggal berjumlah 49 orang. Ini angka yang dikonfirmasi oleh pihak berwajib yang juga mengkonfirmasi adanya sejumlah bom mobil di sekitar lokasi tetapi untungnya dapat diamankan.

Sejauh ini diidentifikasi empat orang pelaku teror penembakan itu; satu di antaranya seorang pria berumur 28 tahun kelahiran Australia. Pelaku ini diketahui sempat mengibarkan panji-panji Neo Nazi dan Supremasi Kulit Putih yang ditayangkan secara online.

Tragedi kemanusiaan ini mengagetkan dunia serta menuai banyak kutukan dan empati global.

Komunitas Muslim global — hampir semua– mengecam aksis teror ini.

Hampir semua tokok dunia mengecam aksi teroris ini. (Tetapi Presiden USA agaknya kekecualian.)

Australia memasang bendera setengah tiang sebagai bentuk kecaman terhadap pelaku sekaligus empati kepada korban dan keluarga.

PM Turki “menuntut” tindakan-tindakan kongkret negara-negara Barat untuk merespon aksi teror dan kezaliman semacam ini.

Hampir semua media masa internasional menayangkan peristiwa teror ini secara luas, berulang kali, dan menempatkannya dalam rubrik Breaking News selama lebih dari sehari. (Tetapi agaknya tidak demikian halnya dengan media masa nasional RI.)

Tragedi kemanusiaan ini mengagetkan juga karena terjadi di New Zealand yang terkenal indah alamnya, ramah penduduknya, dan toleran hal kehidupan beragama.

[Total penduduk negara ini menurut Sensus Penduduk 2013 sekitar 4.2 juta jiwa. Dari total ini, sekitar 42% mengaku “tidak beragama” sekitar 42%. Dari yang mengaku beragama mayoritas adalah penganut Kristen dengan populasi sekitar 1,858,977 (47.6%). Penganut agama lainnya antara lain: (1) Hindu: 89.300 (2.11%), (2) Budha: 58.4000 (1.5%), dan Islam 46.100 (1.18%). Sebagai catatan, pemeluk Kristen selama kurun 2001-2013 turun sekitar 0.75%/tahun sementara pemeluk Islam  naik 5.15%/ tahun.][2]

[Lihat Tabel untuk Rincian]

Dari tragedi ini dapat ditarik paling tidak tiga catatan:

(1) Pelaku teror adalah ekstremis yang– seperti dikemukakan oleh PM New Zealand– tidak mewakili penduduk suatu negara atau kelompok agama apa pun.

(2) Ini adalah fakta sosial yang sangat tidak dikehendaki dan bahkan menyakitkan: kelompok ekstremis ada di belahan dunia mana pun, dalam kelompok agama apa pun;

(3) Ini juga fakta sosial: berbagai bentuk ekspresi kebencian (Antisemitism, IslamicPhobia, retorika anti-imigran dsb) cenderung semakin menguat, di mana pun. Celakanya– sebagaimana dikemukakan oleh Muhammad Shafiq[3]— lembaga negara yang seharusnya berkewajiban merajut kebersamaan kelompok masyarakat terlalu lama mengabaikan fakta ini.

Tragedi ini jelas merupakan kezaliman kemanusiaan luar biasa: doa untuk para syuhada dan empati untuk para keluarga. Bagi pembaca Muslim yang biasa qunut, ini momen yang tepat untuk melakukan Qunut Nazilah. Qunut ini juga layak terkait nasib komunitas Muslim Ulighur (RRC) yang sangat miskin pemberitaan.

[Klik  INI untuk memperoleh gambaran mengenai korban penembakan]

Wallahualam…..@

 

[1] https://www.aljazeera.com/news/2019/03/shooter-situation-zealand-mosque-attack-190315015927391.html

[2] https://en.wikipedia.org/wiki/Religion_in_New_Zealand

[3] Shafiq adalah CEO Ramadhan Foundation Leeds yang diwawancarai CNN (Pukul 14.15 WIB) terkait dengan tragedi penembakan ini.