Wudu: Makna Batiniah dan Doa

Daftar Isi

Wudu tidak hanya bersih-bersih dalam artian lahiriah atau persyaratan formal (syariah) sebelum Salat. Ia sarat dengan makna-batin: anggota tubuh yang dibasuh ketika wudu menyimbolkan aneka daki-kekotoran-diri yang tak kasat mata.

Penyucian ini disyaratkan ketika akan menghadap-Nya karena Dia-Maha-Suci. Lebih dari itu, mengingat tebalnya daki itu, masih terkait dengan wudu, diperlukan doa yang mengungkapkan pengakuan kelemahan diri dihadapan-Nya.

Dua tulisan pendek ini mengenai makna-batin dan doa yang dimaksud.

1. Dalamnya Makna Batiniah Wudu

2. Doa Wudu: Kesaksian Diri

Advertisements

Nabi SAW sebagai Negarawan

Pernah baca buku Seratus Tokoh karya Heart? Jika belum sebaiknya baca karena penting dan menarik:

  • Penting karena dapat membantu memetakan secara singkat peran menentukan dari 100 tokoh dunia dalam membentuk profil dunia kita sekarang, paling tidak sampai 1978 (ketika buku ini diterbitkan), paling tidak menurut pengarang buku ini.
  • Menarik karena sifatnya yang provokatif secara intelektual: provokatif dalam arti menghujat status quo kepercayaan sebagian pembacanya, intelektual karena pengarangnya sangat memahami metode ilmiah dan menerapkannya dalam menyusun buku ini. (Maklum dia seorang ilmuan, ahli Astrofisika.)

Nama lengkap pengarangnya adalah Michael H. Heart. Dia adalah seorang Yahudi berwarga negara Amerika Serikat. Judul bukunya, The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History. (Lihat INI.)

Sepeti terkesan dari judulnya, dalam buku ini Heart mendaftar 100 tokoh dunia yang paling berpengaruh sepanjang sejarah. Yang menarik, ia menempatkan Nabi Muhammad SAW (selanjutnya, Nabi SAW) pada urutan pertama, di atas Nabi Isa AS (urutan ke-3 setelah Copernicus) maupun Musa AS (urutan ke-15, setelah Euclides). Buku ini laku keras, terjual lebih dari 500,000 eksemplar, dan diterjemahkan ke dalam 15 bahasa.

Seperti diduga buku ini mendulang banyak protes terutama dari kalangan masyarakat Barat dan Umat Kristiani. Bagi mereka, mestinya Nabi Isa AS (Yesus) di tempat pertama karena secara global lebih banyak Umat Kristiani dari pada Umat Islam. Klaim ini sah jika yang jadi ukuran populasi penganut agama. Dari total penduduk global, sekitar 2.3 milyar atau 31.2% beragama Agma Kristen dan 1.8 milyar atau 24.1% beragama Islam. (Lihat INI.)

Tetapi Heart tidak bergeming dengan kesimpulannya. Baginya, Nabi SAW “sangat sukses” (supermly successful“) dalam dua dunia sekaligus: dunia agama dan dunia sekuler. Baginya juga, peran Nabi SAW dalam mengembangkan Agama Islam jauh lebih besar dari pada peran Isa AS dalam mengembangkan Agama Kristen. Baginya, dalam hal pengembangan Kristen, St. Paul lebih berperan dari pada Isa AS.

Sukses Nabi SAW di dunia sekuler terlihat dari keberhasilannya melakukan seuatu yang konon merupakan salah satu kemustahilan dunia yaitu mempersatukan suku-suku Arab. Tidak hanya itu, tokoh ini mengubah Bangsa Arab yang terbelakang, barbar, dan egois menjadi bangsa yang maju dibidang ekonomi, budaya, dan militer. Bangsa ini, pada waktunya, bahkan sanggup mengalahkan Romawi yang waktu itu sebagai kekuatan terbesar dunia. Selain itu, nama Nabi SAW ini paling sering disebut sepanjang masa. (Lihat INI.)

Keberhasilan luar biasa seperti ini hanya mungkin dapat dibayangkan diraih oleh tokoh yang memiliki kapasitas kenegarawanan yang luar biasa. Kapasitas ini terlihat dari keberhasilan Nabi SAW ini dalam mengupayakan Perdamaian Hudaibiyah (621-2) antara Nabi SAW dan kelompok mukmin Madinah. Perjanjian ini sangat menentukan karena (dari sisi upaya manusiawi) memungkinkan komunitas Muslim Mekah yang jumlahnya kecil dan rapuh secara politik melakukan migrasi-paksa permanen (Arab: hijrah, Inggris: forced migration) dari Kota Mekah ke Kota Yatsrib (622).

Di Kota Yatsrib ini ini Nabi SAW membangun peradaban Muslim dan memperlihatkan kapasitas kenegarawanannya. Kota ini berubah nama menjadi Al-Madinah Al-Munawwarah (artinya, Kota yang Bercahaya) walaupun segera berubah lagi menjadi Madinah saja (tanpa al-munawwarah)

Nabi SAW juga memperlihatkan kapasitas ini ketika memprakarsai apa yang dikenal sebagai Konstitusi Madinah (Arab: Dustūr al-Madīnah) yang dikenal juga sebagai Piagam Madinah (Arab: Mīthāq al-Madīnah). Yang layak dicatat, piagam ini dibentuk pada tahun 622 (1 Hijriyah); artinya, segera setelah beliau dan rombongan Mekah tiba di Madinah. Sebagai perbandingan, Magna Carta yang secara populer dikenali sebagai Konstitusi Modern pertama dilansir tahun 1215 (lihat INI) atau hampir satu milenium setelah Konstitusi Madinah.

Piagam ini diciptakan untuk mengakhiri pertikaian sengit antar suku antara Klan Banu Aws dan Klan Banu Khazraj di Madinah, serta untuk memelihara perdamaian dan membangun kerja sama antara semua kelompok Madinah. Piagam ini menetapkan peran NabinSAW sebagai otoritas mediasi antara kelompok masyarakat di Madinah. Piagam ini secara efektif mengakhiri kekerasan internal Madinah dam ini merupakan fitur penting dari suatu konstitusi. Konstitusi membentuk dasar negara Islam multi-agama di Madinah.

Istilah Konstitusi Madinah dalam konteks ini tepat paling tidak karena tiga alasan:

  1. Isi piagam menyatakan semacam deklarasi suatu negara, negara kesatuan (Arab: ummah wāḥidah) yang terpisah dari negara lain,
  2. Isi piagam menetapkan tanggung jawab kolektif semua suku  di Madinah (termasuk Migran Quraisy), dan
  3. Ketentuan dalam piagam ini bersifat mengikat (binding) semua anggota masyarakat dari suku penandatanganan piagam yang praktis mencakup semua suku.

Oleh karena itu maka tidak mengherankan jika cendekiawan sekelas Welch mengomentari konstitusi ini sebagai berikut:

The constitution reveals Muhammad‘s great diplomatic skills, for it allows the ideal that he cherished of an ummah (community) based clearly on a religious outlook to sink temporarily into the background and is shaped essentially by practical considerations. (Lihat INI.)

Gambaran mengenai isi lengkap Konstitusi Madinah dapat diakses di SINI. atau di SINI.]

Apa “rahasia” kenegarawanan Nabi SAW? Sederhana saja: berhati lembut, pemaaf, memaklumi keterbatasan “anak-buah”, selalu bermusyawarah dalam urusan keumatan, serta tawakal jika keputusan telah diambil. Itulah kira-kira sebagian yang terungkap dalam teks suci berikut (QS 3:159):

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu, maafkanlah mereka dan mohonlah ampunan untuk meraka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang yang bertawakal.

(Untuk teks ayat dan bacaannya kilik INI.)

Ayat ini layak agaknya disimak oleh para pejabat publik dari cabang eksekutif maupun legislatif, balondat (bakal calon kandidat) dan sadaya-daya camat (calon mati).

Wallahualam bi muradih….@

 

Sumber Gambar: Google

 

 

 

Layaknya Pertandingan Sepak Bola…

Menurut wejangan seorang kiai sepuh, melakoni kehidupan di dunia ini layaknya memainkan pertandingan sepak bola.

(Sang Kiai penggemar berat sepak bola.)

 

 

Layaknya dalam pertandingan sepak bola, hidup harus memiliki gol (sasaran, tujuan), serta mengarahkan energi hidup ke sana. Tanpa gol, hidup tidak bermakna, absurd, atau terjebak dalam penjara nihilisme. Gol bisa didefinisikan sendiri: hanya untuk kehidupan di dunia-sini-sekarang, atau untuk kehidupan di akhirat-sana-nanti; tetapi yang pasti, setiap pilihan berkonsekuensi.

… Maka di antara manusia ada yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebajikan) di dunia” dan di akhirat tidak memperoleh bagian apa pun. Dan di antara mereka ada yang berkata, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka” (QS 2:200-201).

(Klik INI untuk melihat teks ayat dan bacaannya.)

 

Layaknya dalam pertandingan sepak bola, hidup harus menaati aturan.

Wahai orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan janganlah kamu merusakkan segala amalmu (QS 47:33).

(Klik INI untuk melihat teks ayat dan bacaannya.)

 

Layaknya dalam pertandingan sepak bola, hidup harus punya musuh (tantangan, lawan) dan memperlakukannya sebagai musuh.

Sesungguhnya setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyal (QS 35:6).

(Klik INI untuk melihat teks ayat dan bacaannya.)

 

Layaknya pertandingan sepak bola, agar lebih terarah, hidup perlu coach, guru, kiai atau mursyid. Coach diperlukan untuk memeragakan bagaimana cara “menendang bola ke arah goal”, guru untuk membantu memetakan “skenario pertandingan”, dan kiai atau musryid untuk membantu memastikan jalan yang ditempuh menuju ke arah sasaran “yang hak” serta untuk bertanya.

…. maka bertanyalah kepada orang yang mengetahui pengetahuan jika kamu tidak mengetahui (QS 16:43).

(Klik INI untuk melihat teks ayat dan bacaannya.)

 

Layaknya dalam pertandingan sepak bola, hidup lebih efektif kalau berjamaah dan saling-tolong. Untuk kepentingan yang lebih besar, untuk menggarap proyek jamaah atau kolektif, terkadang lebih terhormat memainkan peran “pemberi umpan matang” dari pada memaksakan diri sebagai “pencetak gol “.

… Maka tolong menolonglah dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan (QS 5:2).

(Klik.INI untuk melihat teks ayat dan bacaannya.)

 

Layaknya pertandingan sepak bola, hidup di dunia ini, dibandingkan hidup di akhirat, hanya permainan. Kata orang arif, “kita bermimpi ketika hidup dan baru bangun ketika mati”.

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani, dan kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhiran (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan palsu (QS 57:20).

Maka adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya. Dan orang-oang yang taku kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinguinan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya) (QS 79:37-41).

(Klik INI untuk melihat teks ayat dan bacaannya.)

Wallahualam….@

 

 

Early Muslim Civilization

 

Charitable donations

Hard work in months had been invested to prepare this book. Voluntary donations, as little as USD $2, accordingly are highly valued to compensate; jazakallah khaira.

$2.00

For better comprehension of the early history of Muslim civilization.

This book gives you a quick and easy reading material to understand the origin and dynamic of early Muslim civilization.

In this book, you will learn:

  1. Historical context that shaped the rise of Islam as the last cycle of Abrahamic monotheistic tradition;
  2. Hostile rejection by the Mecca infidel to the radical monotheistic message of Islam;
  3. Hijrah or forced migration of small and vulnerable Muslim community from Mecca to Medina that marked the
    the emergence of Muslim civilization;
  4. Challenges faced by early Ummah in Medina to maintain survival and to develop civilization;
  5. How early Ummah was guided by Revelation for roughly 23 years in Mecca and Medina eras; and
  6. The legacy inherited by the Prophet Muhammad-PBUH to the Ummah.

If you have the commitment to broaden and deepen comprehension of early Muslim civilization in a short time, TIHIS BOOK is for you.