International Conference of Labour Statisticians (ICLS): A Brief Note

Sumber gambar: Google

 

(i) Function and Participants of ICLS:

  • Global standard-setting mechanism in labour statistics
  • ILO hosts & acts as Secretariat
  • Meets every 5 years (since 1923)
  • Tripartite structure: Governments (NSO, MoL), Employers, and Workers representatives
  • Observers: International and regional organizations, NGOs

 

(ii) The objective of ICLS:

Main objectives of ICLS statistical standards

  • Provide guidance to countries in setting their national labour statistics programmes
  • Promote coherence in concepts & methods across sources & topics / areas
  • Promote international comparability, and
  • Set priorities for future work

 

(iii) The most recent ICLS:

The most recent ICLS (the 19th) took place in 2013. It produces, among others, “Resolution 1: Resolution concerning statistics of work, employment and labour underutilization’ that contains 97 Paragraphs.

The complete version of the resolution can be accessed Here; some excerpts, Here.

 

 

Faktor Pengali Kebaikan dan Permutasi Kebajikan

Seharusnya kita lebih bergairah untuk melakukan kebaikan (Arab: hasanat) dari pada kejahatan (Arab: sayyiat).

Paling tidak ada dua argumen mengenai ini. Pertama, bagi manusia kebaikan secara spiritual bersifat alami. Tidak ada keraguan mengenai ini karena merupakan pengetahuan-langsung-bawaan. Kedua, bagi yang percaya Kitab Suci, rasio faktor pengali antara kebaikan dan keburukan sangat besar yaitu 10:1. Ajaran ini bukan berasal dari nasihat Ustaz, wejangan Kiai, atau bahkan Sabda Nabi SAW; ia bersumberkan Firman Ilahi.

Barang siapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya, dan barang siapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (QS 6:160).

Kalimat terakhir merujuk pada balasan kejahatan yang ditegaskan sebagai konsekuensi dari kezaliman diri-sendiri atau tanggung jawab individu; jadi, tidak perlu mencari “kambing hitam”. (Ayat ke-164 menegaskan tanggung jawab individu ini.)

Rabb SWT tentu lebih mengetahui maksud sebenarnya dari rasio 10:1 ini. Walaupun demikian kita mungkin diizinkan untuk berilustrasi mengenainya melalui skenario sederhana berikut.

Misalkan hari ini Anda melakukan 5 kebaikan dan 10 kejahatan. Misalkan juga, untuk mudahnya, bobot kebaikan dan keburukan sama (=1, tetapi beda tanda). Dalam kasus ini skor Anda adalah 45, angka yang diperoleh dari: 5×10(+1) + 10x(-1). Jika Anda melakukan kebaikan dan kejahatan dengan frekuensi yang sama (=10), maka skor Anda itu menjadi 90 = 10×10(+1) + 10×1(-1).

Sekali lagi, skenario di atas sekadar ilustrasi, sekadar upaya untuk memudahkan memaknai ayat yang bersangkutan. Lebih dari itu, jika dikehendaki-Nya, faktor pengali balasan kebaikan dapat tak terhingga (QS 40:40), sementara faktor pengali balasan kejahatan dapat NOL karena terhapus oleh kebaikan (QS 11:114).

Barang siapa mengerjakan perbuatan jahat maka dia akan dibalas sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang siapa mengerjakan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tidak terhingga (QS 40:40).

Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah) (QS 11:114).

Ruang lingkup kebaikan sangat luas, tidak hanya mencakup apa yang jelas-jelas merupakan kewajiban agama seperti salat, zakat, taklim dan sebagainya. Kebaikan termasuk perilaku dan kegiatan kongkret sehari-hari yang dimotivasi, dibimbing dan diarakan oleh kebajikan spiritual yang fundamental. Artinya, perilaku dan kegiatan yang berbasis kebenaran (veracity), serta mencerminkan kebersahajaan (humility) dan kemurahan hati (generosity).

Kebenaran, kebersahajaan, kemurahan hati. Inilah trilogi kebajikan fundamental.

Permutasi dua logi dari trilogi ini akan menghasilkan enam kebajikan turunan yang dapat memperjelas makna serta kualifikasi masing-masing logi: (1) Kemurahan-hati yang bersahaja, (2) Kebenaran yang bersahaja,  (3) Kebersahajaan yang murah-hati, (4) Kebenaran yang dermawan, (5) Kebersahajaan yang benar, dan (6) Kemurahan-hati yang benar. Penjelasan mengenai masing-masing kebajikan turunan ini dapat diakses di SINI, juga di SINI.

 

Sumber Gambar: Google

Mata Pelajaran untuk Anak: Refleksi Surat Lukman

Sumber Gambar: Google

Ada pepatah: di belakang seorang besar selalu ada seorang istri setia yang mendukungnya. Ini menunjukkan pentingnya istri sebagai pendamping hidup. Tetapi imbuhan “selalu ada” dalam pepatah ini berlebihan karena banyak kasus orang besar yang istrinya bukan saja tidak mendukung tetapi malah menjadi sumber masalah. Lihat saja kasus Nelson Mandela (Afrika Selatan). Atau, kalau kasus ini belum meyakinkan, lihat saja kasus Nabi Nuh AS dan Lut AS:

Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Lut. Keduanya di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara  hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya…. (QS 66:10).

Ada pepatah lain: di belakang orang besar selalu ada orang tua yang mendidiknya. Kembali, imbuhan “selalu ada” dalam konteks ini berlebihan. Banyak kasus orang besar dan berhasil secara politik dan sosial, bahkan para pendidik dan ulama-ulama besar, yang terjerumus oleh perilaku anak-anaknya. (Maaf untuk kasus ini tidak diberikan contoh.)

Apa pun kasusnya, Al-Quran mewanti-wanti bahwa di antara “istri-istri” dan “anak-anakmu” berposisi “musuh bagimu” (QS 64:14). Apa pun kasusnya, siapa pun memiliki kewajiban untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka “yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS 66:6). Salah satu upaya ke arah ini adalah dengan memberikan pelajaran khususnya untuk anak-anak. (Untuk istri sudah telat?)

Soal pembelajaran kepada anak-anak menurut ayat terakhir jelas merupakan kewajiban orang tua. Ayatnya sangat eksplisit. Menyerahkan anak kepada ustaz, guru atau lembaga pendidikan, perlu dilihat sebagai upaya ke arah ini tetapi tidak menggugurkan kewajiban orang tua melihat eksplisitnya ayat ini.

Al-Quran sangat serius mengenai masalah pendidikan anak sehingga menyajikannya secara relatif rinci. Hal ini dapat disimak dalam tujuh ayat dalam Surat Lukman (QS 31:13-19) yang menceritakan bagaimana Lukman menasihati anaknya. Nasehatnya mencakup pelajaran mengenai keimanan, penghormatan kepada orang tua khususnya ibu, dan perilaku terpuji termasuk sikap rendah hati dan berkata santun:

  1. Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika di memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”
  2. Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada orang tua Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada orang tuamu.
  3. Dan jika keduanya memaksamu mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia ini dengan baik, ikutlah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang kamu kerjakan.
  4. (Lukman berkata), “Wahai anakku! Sungguh jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti.
  5. Wahai anakku! Laksanakan Salat dan suruhlah (manusia) berbuat makruf dan cegahlah (mereka) dari yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu perkara yang penting.
  6. Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.
  7. Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sungguh seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Dari kumpulan ayat di atas tampak jelas pentingnya menghormati orang tua. Pelajaran mengenai ini disajikan dalam dua ayat berturut-turut, diletakkan segera setelah pelajaran tauhid, dan disajikan bahkan sebelum pelajaran mengenai Salat.

Wallahualam bi maradih….@

Salat yang Sempurna

Sumber Gambar: Google

Ibadah Istimewa

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya pertama-tama perbuatan manusia yang dihisab pada hari kiamat, adalah Salat Wajib. Maka apabila ia telah menyempurnakannya (maka selesailah persoalannya). Tetapi apabila tidak sempurna Salatnya, dikatakan (kepada malaikat), “Lihatlah dulu, apakah ia pernah mengerjakan Salat Sunat! Jika ia mengerjakan Salat Sunat, maka kekurangan dalam Salat Wajib wajib disempurnakan dengan Salat Sunatnya”. Kemudian semua amal-amal yang wajib diperlakukan seperti itu”. (HR. Khamsah dalam Nailul Authar Juz I halaman 345)[1].

Hadits di atas menyiratkan keistimewaan Salat. Keistimewaannya juga tersirat dari banyaknya ayat Al-Quran yang berbicara mengenai Salat.

Penelusuran ayat dengan Lafzi mengantarkan kita pada lebih dari 100 ayat Al-Quran mengenai Salat yang diletakkan dalam berbagai konteks. Salah satu ayat yang dimaksud adalah ini:

Dan laksanakanlah Salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah) (QS 11:114).

Analisis Bahasa

Kata laksanakanlah dalam kutipan atas merupakan terjemahan dari kata aqimi yang berbentuk kata kerja perintah (Arab: fi’il amr). Kata ini berasal dari kata aqama (bukan qama) yang memiliki timbangan (Arab: wazan) af’ala (bukan fa’ala).

Seperti diungkapkan Shihab[2], kata af’ala berarti ’melaksanakan sesuatu pada waktunya, berbentuk, tertib urutan-urutannya, menghasilkan sesuatu, sungguh-sungguh, serta penuh kekhidmatan; singkatnya, melakukan sesuatu secara sempurna. Jadi, kalimat aqimi al-shalah (dalam ayat di atas) terjemahan lebih lengkapnya kira-kira laksanakanlah Salat secara sempurna yang berbeda dari terjemahan yang sering ditemukan yaitu “dirikanlah Salat”[3] .

Salat Sempurna

Dari analisis singkat di atas kita dapat mengidentifikasi paling lima ciri Salat yang sempurna sebagai berikut.

1. Pada Waktunya.

Salat– maksudnya lima Salat Wajib yaitu Subuh, Zuhur, Asar, Magrib dan Isya– dilakukan pada waktu yang ditetapkan. Mengenai waktu Salat ini Nash (ayat Al-Quran) mencantumkannya secara eksplisit (QS 4:103).

Rentang waktu Salat Wajib menetapkan batasan kapan dimulai dan kapan berakhir waktu Salat. Sebagai contoh, Salat Subuh dimulai dari waktu fajar dan berakhir ketika matahari terbit. Rentang waktu itu relatif panjang tetapi para Ulama agaknya sepakat untuk menyegerakannya atau di awal waktu.

2. Mematuhi Tata Cara yang Baku

Salat harus dilaksanakan dengan mematuhi tata cara yang sudah baku. Tata cara ini termasuk menghadapkan diri ke arah Kiblat, melafalkan Al-Fatihah dan bacaan wajib lainnya,  dan melakukan gerakan tubuh sesuai yang dicontohkan oleh Nabi SAW. Mengenai yang terakhir Hadits Nabi SAW menyatakannya secara eksplisit: “Salatlah sebagaimana kalian melihatku Salat.” (HR. Bukhari 631, 5615, 6008)

3. Menaati Tata Tertib

Menurut definisi Salat dimulai dengan mengucapkan Takbir dan diakhiri dengan Salam. Ucapan takbir ‘membuka komunikasi sangat pribadi dengan Allah SWT’ dan merupakan ‘lambang dari iman, dari taqwa, dari ikhlas, dan dari segala sesuatu yang bersifat pribadi’. Tetapi itu tidak cukup karena Salat harus diakhiri dengan ucapan Salam sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Ucapan dan tindakan ini ‘menandakan bahwa setelah khusyuk berkomunikasi dengan Allah, kita tidak boleh melupakan komunikasi kita dengan lingkungan sosial kita’ (Majid, 2000:82)[4].

Di antara Takbir dan Salam ini terdapat gerak tubuh (dan bacaan) yang harus dilakukan secara tertib atau urutan yang ditentukan. Menaati tata tertib ini bersifat mutlak dalam arti menentukan keabsahan Salat.

4. Berdampak Sosial Positif

Salat dapat dikatakan berhasil-guna jika berhasil “menghadirkan” Rabb SWT ke dalam hati pelaku Salat. Al-Quran menggunakan istilah mengingat-Nya untuk maksud yang sama (QS 20:14):

Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah dan laksanakanlah Salat untuk mengingat-Ku.

Dalam konteks yang lebih luas, Salat dikatakan sempurna jika melahirkan dampak sosial yang positif. Mengenai hal ini paling tidak ada dua argumen. Pertama, dalam Al-Quran perintah Salat hampir selalu diikuti oleh perintah berzakat yang jelas berdimensi sosial. Kedua, dalam salah satu Surat (ke-107), Al-Quran secara eksplisit mengecam orang Salat– bahkan menuduhnya sebagai pendusta agama– tetapi mengabaikan anak yatim dan orang miskin.

5. Serius

Untuk dikatakan sempurna Salat perlu dilakukan secara serius dalam arti terbebas dari perilaku negatif termasuk malas, ria, dan lalai. Al-Quran mencirikan orang munafik dengan orang yang Salat tetapi menyandang perilaku-perilaku negatif semacam itu (QS 4:142):

Sesungguhnya orang munafik hendak menipu Allah, tetapi Allah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk Salat mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit.

Na’udzu billah min dzalik.

Demikianlah catatan singkat mengenai kesempurnaan Salat. Sebagai catatan akhir, Salat idealnya difungsikan juga sebagai wahana “Latihan Mati” sebagaimana terungkap dalam posting INI.

Wabillahit taufiq wal hidayah…  @

 

[1] https://www.fiqihmuslim.com/2015/09/kumpulan-hadist-nabi-tentang-sholat.html.

[2] Quraisy Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Volume I (2002:176).

[3] Yang terakhir ini tidak tepat secara kebahasaan karena menggunakan timbangan fa’ala, bukan af’ala .

[4] Majid, Nurholish, Perjalanan Religius ‘Umrah Haji, PARAMADINA.

 

[Versi pdf dapat dakses di SINI]

Wudu: Makna Batiniah dan Doa

Daftar Isi

Wudu tidak hanya bersih-bersih dalam artian lahiriah atau persyaratan formal (syariah) sebelum Salat. Ia sarat dengan makna-batin: anggota tubuh yang dibasuh ketika wudu menyimbolkan aneka daki-kekotoran-diri yang tak kasat mata.

Penyucian ini disyaratkan ketika akan menghadap-Nya karena Dia-Maha-Suci. Lebih dari itu, mengingat tebalnya daki itu, masih terkait dengan wudu, diperlukan doa yang mengungkapkan pengakuan kelemahan diri dihadapan-Nya.

Dua tulisan pendek ini mengenai makna-batin dan doa yang dimaksud.

1. Dalamnya Makna Batiniah Wudu

2. Doa Wudu: Kesaksian Diri

Nabi SAW sebagai Negarawan

Pernah baca buku Seratus Tokoh karya Heart? Jika belum sebaiknya baca karena penting dan menarik:

  • Penting karena dapat membantu memetakan secara singkat peran menentukan dari 100 tokoh dunia dalam membentuk profil dunia kita sekarang, paling tidak sampai 1978 (ketika buku ini diterbitkan), paling tidak menurut pengarang buku ini.
  • Menarik karena sifatnya yang provokatif secara intelektual: provokatif dalam arti menghujat status quo kepercayaan sebagian pembacanya, intelektual karena pengarangnya sangat memahami metode ilmiah dan menerapkannya dalam menyusun buku ini. (Maklum dia seorang ilmuan, ahli Astrofisika.)

Nama lengkap pengarangnya adalah Michael H. Heart. Dia adalah seorang Yahudi berwarga negara Amerika Serikat. Judul bukunya, The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History. (Lihat INI.)

Sepeti terkesan dari judulnya, dalam buku ini Heart mendaftar 100 tokoh dunia yang paling berpengaruh sepanjang sejarah. Yang menarik, ia menempatkan Nabi Muhammad SAW (selanjutnya, Nabi SAW) pada urutan pertama, di atas Nabi Isa AS (urutan ke-3 setelah Copernicus) maupun Musa AS (urutan ke-15, setelah Euclides). Buku ini laku keras, terjual lebih dari 500,000 eksemplar, dan diterjemahkan ke dalam 15 bahasa.

Seperti diduga buku ini mendulang banyak protes terutama dari kalangan masyarakat Barat dan Umat Kristiani. Bagi mereka, mestinya Nabi Isa AS (Yesus) di tempat pertama karena secara global lebih banyak Umat Kristiani dari pada Umat Islam. Klaim ini sah jika yang jadi ukuran populasi penganut agama. Dari total penduduk global, sekitar 2.3 milyar atau 31.2% beragama Agma Kristen dan 1.8 milyar atau 24.1% beragama Islam. (Lihat INI.)

Tetapi Heart tidak bergeming dengan kesimpulannya. Baginya, Nabi SAW “sangat sukses” (supermly successful“) dalam dua dunia sekaligus: dunia agama dan dunia sekuler. Baginya juga, peran Nabi SAW dalam mengembangkan Agama Islam jauh lebih besar dari pada peran Isa AS dalam mengembangkan Agama Kristen. Baginya, dalam hal pengembangan Kristen, St. Paul lebih berperan dari pada Isa AS.

Sukses Nabi SAW di dunia sekuler terlihat dari keberhasilannya melakukan seuatu yang konon merupakan salah satu kemustahilan dunia yaitu mempersatukan suku-suku Arab. Tidak hanya itu, tokoh ini mengubah Bangsa Arab yang terbelakang, barbar, dan egois menjadi bangsa yang maju dibidang ekonomi, budaya, dan militer. Bangsa ini, pada waktunya, bahkan sanggup mengalahkan Romawi yang waktu itu sebagai kekuatan terbesar dunia. Selain itu, nama Nabi SAW ini paling sering disebut sepanjang masa. (Lihat INI.)

Keberhasilan luar biasa seperti ini hanya mungkin dapat dibayangkan diraih oleh tokoh yang memiliki kapasitas kenegarawanan yang luar biasa. Kapasitas ini terlihat dari keberhasilan Nabi SAW ini dalam mengupayakan Perdamaian Hudaibiyah (621-2) antara Nabi SAW dan kelompok mukmin Madinah. Perjanjian ini sangat menentukan karena (dari sisi upaya manusiawi) memungkinkan komunitas Muslim Mekah yang jumlahnya kecil dan rapuh secara politik melakukan migrasi-paksa permanen (Arab: hijrah, Inggris: forced migration) dari Kota Mekah ke Kota Yatsrib (622).

Di Kota Yatsrib ini ini Nabi SAW membangun peradaban Muslim dan memperlihatkan kapasitas kenegarawanannya. Kota ini berubah nama menjadi Al-Madinah Al-Munawwarah (artinya, Kota yang Bercahaya) walaupun segera berubah lagi menjadi Madinah saja (tanpa al-munawwarah)

Nabi SAW juga memperlihatkan kapasitas ini ketika memprakarsai apa yang dikenal sebagai Konstitusi Madinah (Arab: Dustūr al-Madīnah) yang dikenal juga sebagai Piagam Madinah (Arab: Mīthāq al-Madīnah). Yang layak dicatat, piagam ini dibentuk pada tahun 622 (1 Hijriyah); artinya, segera setelah beliau dan rombongan Mekah tiba di Madinah. Sebagai perbandingan, Magna Carta yang secara populer dikenali sebagai Konstitusi Modern pertama dilansir tahun 1215 (lihat INI) atau hampir satu milenium setelah Konstitusi Madinah.

Piagam ini diciptakan untuk mengakhiri pertikaian sengit antar suku antara Klan Banu Aws dan Klan Banu Khazraj di Madinah, serta untuk memelihara perdamaian dan membangun kerja sama antara semua kelompok Madinah. Piagam ini menetapkan peran NabinSAW sebagai otoritas mediasi antara kelompok masyarakat di Madinah. Piagam ini secara efektif mengakhiri kekerasan internal Madinah dam ini merupakan fitur penting dari suatu konstitusi. Konstitusi membentuk dasar negara Islam multi-agama di Madinah.

Istilah Konstitusi Madinah dalam konteks ini tepat paling tidak karena tiga alasan:

  1. Isi piagam menyatakan semacam deklarasi suatu negara, negara kesatuan (Arab: ummah wāḥidah) yang terpisah dari negara lain,
  2. Isi piagam menetapkan tanggung jawab kolektif semua suku  di Madinah (termasuk Migran Quraisy), dan
  3. Ketentuan dalam piagam ini bersifat mengikat (binding) semua anggota masyarakat dari suku penandatanganan piagam yang praktis mencakup semua suku.

Oleh karena itu maka tidak mengherankan jika cendekiawan sekelas Welch mengomentari konstitusi ini sebagai berikut:

The constitution reveals Muhammad‘s great diplomatic skills, for it allows the ideal that he cherished of an ummah (community) based clearly on a religious outlook to sink temporarily into the background and is shaped essentially by practical considerations. (Lihat INI.)

Gambaran mengenai isi lengkap Konstitusi Madinah dapat diakses di SINI. atau di SINI.]

Apa “rahasia” kenegarawanan Nabi SAW? Sederhana saja: berhati lembut, pemaaf, memaklumi keterbatasan “anak-buah”, selalu bermusyawarah dalam urusan keumatan, serta tawakal jika keputusan telah diambil. Itulah kira-kira sebagian yang terungkap dalam teks suci berikut (QS 3:159):

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu, maafkanlah mereka dan mohonlah ampunan untuk meraka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang yang bertawakal.

(Untuk teks ayat dan bacaannya kilik INI.)

Ayat ini layak agaknya disimak oleh para pejabat publik dari cabang eksekutif maupun legislatif, balondat (bakal calon kandidat) dan sadaya-daya camat (calon mati).

Wallahualam bi muradih….@

 

Sumber Gambar: Google

 

 

 

Layaknya Pertandingan Sepak Bola…

Menurut wejangan seorang kiai sepuh, melakoni kehidupan di dunia ini layaknya memainkan pertandingan sepak bola.

(Sang Kiai penggemar berat sepak bola.)

 

 

Layaknya dalam pertandingan sepak bola, hidup harus memiliki gol (sasaran, tujuan), serta mengarahkan energi hidup ke sana. Tanpa gol, hidup tidak bermakna, absurd, atau terjebak dalam penjara nihilisme. Gol bisa didefinisikan sendiri: hanya untuk kehidupan di dunia-sini-sekarang, atau untuk kehidupan di akhirat-sana-nanti; tetapi yang pasti, setiap pilihan berkonsekuensi.

… Maka di antara manusia ada yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebajikan) di dunia” dan di akhirat tidak memperoleh bagian apa pun. Dan di antara mereka ada yang berkata, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka” (QS 2:200-201).

(Klik INI untuk melihat teks ayat dan bacaannya.)

 

Layaknya dalam pertandingan sepak bola, hidup harus menaati aturan.

Wahai orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan janganlah kamu merusakkan segala amalmu (QS 47:33).

(Klik INI untuk melihat teks ayat dan bacaannya.)

 

Layaknya dalam pertandingan sepak bola, hidup harus punya musuh (tantangan, lawan) dan memperlakukannya sebagai musuh.

Sesungguhnya setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyal (QS 35:6).

(Klik INI untuk melihat teks ayat dan bacaannya.)

 

Layaknya pertandingan sepak bola, agar lebih terarah, hidup perlu coach, guru, kiai atau mursyid. Coach diperlukan untuk memeragakan bagaimana cara “menendang bola ke arah goal”, guru untuk membantu memetakan “skenario pertandingan”, dan kiai atau musryid untuk membantu memastikan jalan yang ditempuh menuju ke arah sasaran “yang hak” serta untuk bertanya.

…. maka bertanyalah kepada orang yang mengetahui pengetahuan jika kamu tidak mengetahui (QS 16:43).

(Klik INI untuk melihat teks ayat dan bacaannya.)

 

Layaknya dalam pertandingan sepak bola, hidup lebih efektif kalau berjamaah dan saling-tolong. Untuk kepentingan yang lebih besar, untuk menggarap proyek jamaah atau kolektif, terkadang lebih terhormat memainkan peran “pemberi umpan matang” dari pada memaksakan diri sebagai “pencetak gol “.

… Maka tolong menolonglah dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan (QS 5:2).

(Klik.INI untuk melihat teks ayat dan bacaannya.)

 

Layaknya pertandingan sepak bola, hidup di dunia ini, dibandingkan hidup di akhirat, hanya permainan. Kata orang arif, “kita bermimpi ketika hidup dan baru bangun ketika mati”.

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani, dan kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhiran (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan palsu (QS 57:20).

Maka adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya. Dan orang-oang yang taku kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinguinan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya) (QS 79:37-41).

(Klik INI untuk melihat teks ayat dan bacaannya.)

Wallahualam….@