Nabi SAW sebagai Negarawan

Pernah baca buku Seratus Tokoh karya Heart? Jika belum sebaiknya baca karena penting dan menarik:

  • Penting karena dapat membantu memetakan secara singkat peran menentukan dari 100 tokoh dunia dalam membentuk profil dunia kita sekarang, paling tidak sampai 1978 (ketika buku ini diterbitkan), paling tidak menurut pengarang buku ini.
  • Menarik karena sifatnya yang provokatif secara intelektual: provokatif dalam arti menghujat status quo kepercayaan sebagian pembacanya, intelektual karena pengarangnya sangat memahami metode ilmiah dan menerapkannya dalam menyusun buku ini. (Maklum dia seorang ilmuan, ahli Astrofisika.)

Nama lengkap pengarangnya adalah Michael H. Heart. Dia adalah seorang Yahudi berwarga negara Amerika Serikat. Judul bukunya, The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History. (Lihat INI.)

Sepeti terkesan dari judulnya, dalam buku ini Heart mendaftar 100 tokoh dunia yang paling berpengaruh sepanjang sejarah. Yang menarik, ia menempatkan Nabi Muhammad SAW (selanjutnya, Nabi SAW) pada urutan pertama, di atas Nabi Isa AS (urutan ke-3 setelah Copernicus) maupun Musa AS (urutan ke-15, setelah Euclides). Buku ini laku keras, terjual lebih dari 500,000 eksemplar, dan diterjemahkan ke dalam 15 bahasa.

Seperti diduga buku ini mendulang banyak protes terutama dari kalangan masyarakat Barat dan Umat Kristiani. Bagi mereka, mestinya Nabi Isa AS (Yesus) di tempat pertama karena secara global lebih banyak Umat Kristiani dari pada Umat Islam. Klaim ini sah jika yang jadi ukuran populasi penganut agama. Dari total penduduk global, sekitar 2.3 milyar atau 31.2% beragama Agma Kristen dan 1.8 milyar atau 24.1% beragama Islam. (Lihat INI.)

Tetapi Heart tidak bergeming dengan kesimpulannya. Baginya, Nabi SAW “sangat sukses” (supermly successful“) dalam dua dunia sekaligus: dunia agama dan dunia sekuler. Baginya juga, peran Nabi SAW dalam mengembangkan Agama Islam jauh lebih besar dari pada peran Isa AS dalam mengembangkan Agama Kristen. Baginya, dalam hal pengembangan Kristen, St. Paul lebih berperan dari pada Isa AS.

Sukses Nabi SAW di dunia sekuler terlihat dari keberhasilannya melakukan seuatu yang konon merupakan salah satu kemustahilan dunia yaitu mempersatukan suku-suku Arab. Tidak hanya itu, tokoh ini mengubah Bangsa Arab yang terbelakang, barbar, dan egois menjadi bangsa yang maju dibidang ekonomi, budaya, dan militer. Bangsa ini, pada waktunya, bahkan sanggup mengalahkan Romawi yang waktu itu sebagai kekuatan terbesar dunia. Selain itu, nama Nabi SAW ini paling sering disebut sepanjang masa. (Lihat INI.)

Keberhasilan luar biasa seperti ini hanya mungkin dapat dibayangkan diraih oleh tokoh yang memiliki kapasitas kenegarawanan yang luar biasa. Kapasitas ini terlihat dari keberhasilan Nabi SAW ini dalam mengupayakan Perdamaian Hudaibiyah (621-2) antara Nabi SAW dan kelompok mukmin Madinah. Perjanjian ini sangat menentukan karena (dari sisi upaya manusiawi) memungkinkan komunitas Muslim Mekah yang jumlahnya kecil dan rapuh secara politik melakukan migrasi-paksa permanen (Arab: hijrah, Inggris: forced migration) dari Kota Mekah ke Kota Yatsrib (622).

Di Kota Yatsrib ini ini Nabi SAW membangun peradaban Muslim dan memperlihatkan kapasitas kenegarawanannya. Kota ini berubah nama menjadi Al-Madinah Al-Munawwarah (artinya, Kota yang Bercahaya) walaupun segera berubah lagi menjadi Madinah saja (tanpa al-munawwarah)

Nabi SAW juga memperlihatkan kapasitas ini ketika memprakarsai apa yang dikenal sebagai Konstitusi Madinah (Arab: Dustūr al-Madīnah) yang dikenal juga sebagai Piagam Madinah (Arab: Mīthāq al-Madīnah). Yang layak dicatat, piagam ini dibentuk pada tahun 622 (1 Hijriyah); artinya, segera setelah beliau dan rombongan Mekah tiba di Madinah. Sebagai perbandingan, Magna Carta yang secara populer dikenali sebagai Konstitusi Modern pertama dilansir tahun 1215 (lihat INI) atau hampir satu milenium setelah Konstitusi Madinah.

Piagam ini diciptakan untuk mengakhiri pertikaian sengit antar suku antara Klan Banu Aws dan Klan Banu Khazraj di Madinah, serta untuk memelihara perdamaian dan membangun kerja sama antara semua kelompok Madinah. Piagam ini menetapkan peran NabinSAW sebagai otoritas mediasi antara kelompok masyarakat di Madinah. Piagam ini secara efektif mengakhiri kekerasan internal Madinah dam ini merupakan fitur penting dari suatu konstitusi. Konstitusi membentuk dasar negara Islam multi-agama di Madinah.

Istilah Konstitusi Madinah dalam konteks ini tepat paling tidak karena tiga alasan:

  1. Isi piagam menyatakan semacam deklarasi suatu negara, negara kesatuan (Arab: ummah wāḥidah) yang terpisah dari negara lain,
  2. Isi piagam menetapkan tanggung jawab kolektif semua suku  di Madinah (termasuk Migran Quraisy), dan
  3. Ketentuan dalam piagam ini bersifat mengikat (binding) semua anggota masyarakat dari suku penandatanganan piagam yang praktis mencakup semua suku.

Oleh karena itu maka tidak mengherankan jika cendekiawan sekelas Welch mengomentari konstitusi ini sebagai berikut:

The constitution reveals Muhammad‘s great diplomatic skills, for it allows the ideal that he cherished of an ummah (community) based clearly on a religious outlook to sink temporarily into the background and is shaped essentially by practical considerations. (Lihat INI.)

Gambaran mengenai isi lengkap Konstitusi Madinah dapat diakses di SINI. atau di SINI.]

Apa “rahasia” kenegarawanan Nabi SAW? Sederhana saja: berhati lembut, pemaaf, memaklumi keterbatasan “anak-buah”, selalu bermusyawarah dalam urusan keumatan, serta tawakal jika keputusan telah diambil. Itulah kira-kira sebagian yang terungkap dalam teks suci berikut (QS 3:159):

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu, maafkanlah mereka dan mohonlah ampunan untuk meraka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang yang bertawakal.

(Untuk teks ayat dan bacaannya kilik INI.)

Ayat ini layak agaknya disimak oleh para pejabat publik dari cabang eksekutif maupun legislatif, balondat (bakal calon kandidat) dan sadaya-daya camat (calon mati).

Wallahualam bi muradih….@

 

Sumber Gambar: Google