Kebajikan Fundamental


Kebajikan Fundamental

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.worspress.com

Kalau ada ajaran yang merupakan pesan semua agama maka itu adalah ajaran mengenai kebajikan. Kalau ada yang dapat membuat kebenaran (truth) menjadi kongkrit, terlihat dan hidup maka itu adalah kebajikan. Kalau ada yang harus selalu merasuk dalam kegiatan kita maka itu adalah kebajikan. Singkatnya, kebajikan terlalu penting untuk luput dari kesadaran kita sehari-hari. Tetapi apa maknanya?

Makna Kebajikan

Istilah kebajikan disini merupakan terjemahan dari virtue (Inggris) atau birr (Arab) yang pada umumnya dikaitkan dengan kualitas moral[1]. Bagi Schuon[2], istilah kebajikan merujuk pada kualitas yang harus merasuki atau dipenetrasikan dalam semua kegiatan kita. Kenapa harus? Karena tanpa kebajikan suatu kegiatan akan kehilangan makna spiritual dan keberkahannya. Karena ruang lingkup kegiatan luas (mencakup “tindakan” berpikir) maka demikian halnya makna kebajikan.

Keluasan makna kebajikan dapat dilihat padanan kata virtue yang mencakup integrity, justice, temperance, purity, decency, merit, distinction dan excellence[3]. Dari “daftar” itu jelas makna kebajikan mencakup integritas, keadilan, kebersahajaan, kepolosan (dalam arti positif) dan sebagainya. Keluasan makna kebajikan juga dapat dilihat dalam padanan katanya dalam Bahasa Arab (birr) yang mencakup makna kejujuran (asshidqu) dan ketaatan (tha’ah) kebaikan (khair), kemasalahatan (ishlah), dan sebagainya[4].

Kebajikan Fundamental

Diantara ragam kebajikan ada tiga diantaranya yang menurut Schuon bersifat fundamental. Ketiga kebajikan fundamental itu adalah kebersahajaan (humility), kemurahan_hati (charity) dan kebenaran (veracity):

1)      Kebersahajaan (humility). Kebersahajaan berarti melihat diri dalam keterbatasan individuasi: ini berarti senantiasa mewaspadai ego, keterbatasan dan ke-bukan-apa-apaan diri (nothingness).

2)      Kemurahan_hati (charity). Kemurahan_hati berarti melihat lingkungan diri: ini berarti melihat Tuhan dalam tetangga dan juga melihat keberadaan orang lain di sana.

3)      Kebenaran (veracity). Kebenaran berarti melihat ke arah Tuhan, menyerahkan dan mengkaitan diri dengannya, dan siap dipenetrasi oleh cahayanya yang terus memancar.

Matriks Kebajikan

Masing-masing kebajikan fundamental itu harus ditemukan dalam -dan bahkan merupakan kriteria dari- kebajikan fundamental lainnya. Implikasinya, hubungan masing-masing kebajikan itu membentuk semacam matriks (Lihat Matriks Kebajikan Fundamental).

 

Matriks Kebajikan Fundamental

Kebersahajaan

Kemurahan_hati

Kebenaran

(1)

(2)

(3)

Kebersahajaan (humility) (1)  (Tidak berlaku) Kemurahan_hati yang bersahaja (Humble charity). Kebenaran yang bersahaja (Humble veracity).
Kemurahan_hati (charity) (2) Kebersahajaan yang murah_hati (Charitable humility). (Tidak berlaku) Kebenaran yang murah_hati (Charitable veracity).
Kebenaran (veracity) (3) Kebersahajaan yang benar (Truthful humility). Kemurahan_hati yang benar (Truthful charity). (Tidak berlaku)
  Sumber: Disarikan dari Schuon, “Spiritual Perspectives and Human Facts”, World Wisdom online library: http://www.wordpresss.com/public/library/ default.aspx.

Matriks itu memperlihatkan, misalnya, kemurahan_hati saja atau kebenaran saja tidak cukup; masing-masing kebajikan itu harus mengandung unsur kebersahajaan (Baris-1). Analog dengan itu, kebersahajaan saja tidak cukup (atau tidak dapat berdiri sendiri) melainkan perlu mengandung unsur kemurahan_hati dan kebenaran (Kolom-1) di dalamnya. Berikut ini penjelasan singkat mengenai kebajikan sebagaimana tertera dalam sel-sel matriks itu.

1-1.            Kemurahan_hati yang bersahaja (humble charity). Kebajikan ini menunjukkan keburukan sifat berbangga, kecenderungan memamerkan diri atau riyâ ketika merealisasikan kemurahan hati[5]. Berbangga pemberian derma (external gift), misalnya, dapat merusak nilai pemberian itu jika tidak disertai sifat kebersahajaan. Pemberian derma (outwrad gift) hanya akan mengandung nilai spiritual dan keberkahan jika diperlakukan sebagai tindakan “pemberian ke dalam” (inward gift) atau bersifat batiniah dari pemberi.

1-2.            Kebenaran yang bersahaja (humble veracity). Kemurahan_hati yang bersahaja bersarti tidak menyembunyikan kebodohan kita: mengaku mengetahui apa yang sebenarnya tidakra kita diketahui membahayakan pengetahuan yang kita miliki.

1-3.            Kebersahajaan yang murah_hati (charitable humility). Menghindari perbuatan memalukan yang berarti juga mengindarkan diri menyakiti atau memalukan tetangga.

1-4.            Kebenaran yang dermawan (charitable veracity). Mengabaikan apapun untuk membuat kebanaran menjadi dapat dipahami.

1-5.            Kebersahajaan yang benar (truthful humility). Menghindari sikap berelebihan karena kebajikan harus sesuai atau mengungkapkan -bukannya bertentangan dengan- kebenaran.

1-6.            Kemurahan_hati yang benar (truthful charity).  Menyadari sifat alamiah segala sesuatu: Saya tidak kurang dari tetangga karena saya juga eksis dan memilki jiwa abadi.

Dari uraian di atas tampak jelas bahwa kebijakan “sintesis” –kebajikan yang diturunkan dari kombinasi dua kebajikan fundamental- sangat penting untuk memperkaya pemahaman kita mengenai kebajikan. Lebih dari itu, cara pandang sintesis itu membantu memperoleh pemahaman secara proporsional dan ini berarti tidak terjebak dalam semangat atau kecenderungan memberikan penekanan yang berlebihan yang tidak perlu (overemphasis) terhadap suatu kebajikan fundamental tertentu. Dengan cara pandang seperti ini maka jelas kurang elok melakukan suatu aksi dengan mengatasnamakan “kebenaran”, misalnya, tetapi mengabaikan “kebersahajaan” dan “kemurahan_hati” ketika melakukan aksi itu (lihat Baris-3). Wallâhu’alam…@


[1] Lihat misalnya, Merriam-Webster’s Advance Learner’s English Dictionary (2008).

[2] Schuon, “Spiritual Perspectives and Human Facts”, World Wisdom online library: www. worldwisdom.com /public/ library/default.aspx.

[3] Webster’s Pocket Thesaurus, New Revised Edition (2002).

[4] Kamus Lisaâul ‘Arabî.

[5] Dalam ajaran Islam, sifat riyâ ketika bersodakoh (apalagi jika diikiuti dengan prilaku meremehkan pihak penerima) akan menghilangkan pahala sodakoh itu seperti halnya “debu di atas batu licin yang tertiup angin kencang”.

One thought on “Kebajikan Fundamental

  1. Dari An Nawas bin Sam’an radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Kebajikan itu keluhuran akhlaq sedangkan dosa adalah apa-apa yang dirimu merasa ragu-ragu dan kamu tidak suka jika orang lain mengetahuinya”. (HR. Muslim)
    Dan dari Wabishah bin Ma’bad radhiyallahu anhu, ia berkata : “Aku telah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, lalu beliau bersabda : ‘Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan ?’ Aku menjawab : ‘Benar’. Beliau bersabda : ‘Mintalah fatwa dari hatimu. Kebajikan itu adalah apa-apa yang menentramkan jiwa dan menenangkan hati dan dosa itu adalah apa-apa yang meragukan jiwa dan meresahkan hati, walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya”. (HR. Imam Ahmad bin Hanbal dan Ad-Darimi, Hadits hasan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s