15-Pengetahuan Pasti


Pengantar:

Tulisan ini merupakan terjemahan bebas dari artikel Schuon, tepatnya cupilkan salah satu suratnya (ada 18 surat) yang dipublikasikan dalam bukunya yang berjudul Logic and Transcendence[1]. Artikel ini menarik untuk diterjemahkan karena, hemat penerjemah, memiliki dua alasan penting. Pertama, karena ia paling mudah dicerna. Bagian lain dari buku sangat sulit dicerna walaupun sangat menantang karena kualitas esensialitas dan universalitas kandungan maknanya. Kedua, artikel ini menggambarkan dasar “keyakinan” Schuon yang mendasari sebagian karyanya yang melimpah (tidak hanya berupa buku, tetapi juga dalam bentuk puisi dan lukisan). Artikel asli tanpa judul, urutan  nomor dan catatan kaki; semuanya merupakan tambahan oleh penerjemah.

Pembaca yang budiman tentu saja dapat setuju atau tidak setuju dengan isi artikel ini tetapi –karena esnsialitas dan universlitas kandungan isinya- sangat layak dibaca. Pembaca sangat disarankan untuk mengakses artikel aslinya (bukan hanya terjemahannya ini) untuk mengeliminir kesalahpahaman akibat kekeliruan terjemahan. Berikut ini disajikan terjemahan artikel yang dimaksud yang masing-masing butirnya dimulai dengan “Aku mengetahui dengan pasti” yang merupakan terjemahan dari “I know with certainty” dan mengilhami pemberian judul.

1)      Aku mengetahui dengan pasti keberadaan fenomena atau dunia fenomenal dan diriku adalah salah satu bagian dari dunia fenomenal ini.

2)      Aku mengetahui dengan pasti bahwa yang mendasari fenomena atau yang di atasnya adalah satu Esensi (dengan E besar); fenomena tampak hanya karena salah satu kualitas Esensi ini yakni ketakterbatasan, karenanya merupakan Radiasi atau Pemancaran (dengan R besar).

3)      Aku mengetahui dengan pasti bahwa Esensi itu baik dan semua kebaikan atau keindahan di dalam fenomena memanifestasikan Esensi itu.

4)      Aku mengetahui dengan pasti bahwa fenomena akan kembali kepada Esensi itu yang tidak benar-benar terpisah karena pada dasarnya tidak ada apapun kecuali Esensi itu, bahwa mereka akan kembali ke Esensi itu disebabkan tidak ada fenomena yang mutlak atau karenanya abadi, dan bahwa Manifestasi (dengan M besar) seharusnya merupakan subyek dari suatu ritme yang seharusnya tergantung hirarki.

5)      Aku mengetahui dengan pasti bahwa tujuan agama adalah untuk mengingatkan kebenaran-kebenaran ini dan bahwa agama adalah benar dan sah karena mengingatkan kembali kebenaran-kebenaran ini.

6)      Aku mengetahui bahwa kepastian kebenaran-kebenaran ini termaktub dalam Itelek (dengan I besar) dan bahwa ada suatu agama Hati yang merupakan prefigurasi semua agama.

7)      Aku mengetahui dengan pasti bahwa alasan keberadaan kita adalah untuk membedakan Esensi itu dalam fenomena dan kemudian kembali kepada Esesnsi itu dan ini kita lakukan dengan menahan diri dari apa yang bertentangan dengannya dan dengan mempraktekan apa yang membawa kita dekat dengannya; intisari apa yang membawa kita mendekati Esensi itu adalah fiksasi pikiran dan dengan cara tertentu (fiksasi) keseluruhanm wujud kita dihadapan Esensi yang menciptakan dan menarik kita.

8)      Aku mengetahui dengan pasti bahwa agama Hati itu sempurna[2]; karena berisikan pertentangan atau pembatasan, bagaimana agama lain sempurna padahal saling bertentangan?

9)      Aku mengetahui dengan pasti bahwa untuk memperoleh akses pada agama Hati kita harus mengambil satu agama wahyu sebagai pijakan awal[3]; jika tidak diperlukan, mengapa agama-agama itu ada?

10)  Aku mengetahui dengan pasti bahwa penjelmaan luar dari  agama Hati adalah alam yang masih perawan (virgin nature) karena ia adalah buku yang tidak bertentangan dan dipertentangkan dengan buku apapun.

11)  Aku mengetahui dengan pasti bahwa jiwa itu abadi karena hakikatnya yang tidak dapat dihancurkan itu diperoleh dari sifat paling dasar dari inteligensi.

12)  Aku mengetahui dengan pasti bahwa hanya ada satu subyek yang mendasari kesadaran yang berbeda: Diri (Self) -dengan D atau S besar- yang transenden sekaligus imanen, yang dapat diakses melalui Intelek, tempat kedudukan atau organ agama Hati; karena kesadaran yang berbeda saling meniadakan dan bertentangan satu sama lain, sementara Diri meliputi semua dan tidak dapat dipertentangan oleh apapun.

13)  Aku mengetahui dengan pasti bahwa Esensi itu Tuhan, menegaskan dirinya dalam hubungannya dengan fenomena, dunia, sebagai Kekuatan Daya_tarik and Kehendak Keseimbangan dan bahwa kita diciptakan untuk mengikuti Atraksi vertikal ini yang tidak dapat dilakukan kecuali dengan mengkomfirmasikan secara horizontal Keseimbangan itu dengan memperhitungkan Hukum-hukum yang suci dan alamiah.

14)  Aku mengetahui dengan pasti bahwa semua fenomena, lahiriah maupun batiniah, merefleksikan Esensi itu, apakah dalam dirinya atau dalam relasinya dengan suatu apek tertentu; bahwa mereka merfeleksikan diri dengan cara langsung maupun tidak langsung, positif atau negatif; bahwa hal demikian sudah seharusnya begitu karena hanya ada satu Realitas, yakni Esensi itu, dan bahwa lapangan kerja kita sebagai inteligen dan makhluk bebas adalah mempersepsikan dan memilih Kebanaran, Keindahan, dan Kebaikan, di dalam diri atau lingkungan kita.

15)  Aku mengetahui dengan pasti bahwa setan tercipta dari apa yang merupakan ilusi yang bukan Esensi dan bahwa setan tidak dapat eksis karena Ketakterhinggaan dari Esensi (the Infinitude of the Esense)  mengimplikasikan Radiasi, karenanya Manifestasi; sekarang untuk mengtakan Manifestasi berarti mengatakan alterasi dan remotasi; tetapi setan yang selalu bersifat fragmentaris adalah kelimpahan yang dikompensasikan untuk, dan bahkan di-nolkan secara definitif, oleh kebaikan yang selalu mengekspresikan totalitas dan realitas, dan bahwa hanya yang Esensi itu saja yang hakikatnya ada.


[1] Frithjof SCHUON, Logic and Transcendence, edited by James S. Cutsinger, World Wisdom (2009).  Teks asli artikel ini disajikan dalam halama 247-248 buku itu.

[2] Istilah agama Cinta digunakan oleh Ibnu ‘Arabi dengan maksud yang sama, juga oleh Rumi sekalipun dalam bentuk yang lebih alegoris.

[3] Dalam banyak karyanya Schuon menekankan mutlaknya agama wahyu sebagai pijakan awal. Dia selalu mencurigai dan bahkan mengecam keras model-model “spiritualisme”  yang tidak memiliki akar tradisional dari agama wahyu. Bagi Schuon semua agama semua wahyu sah dan masing-masing merupakan bentuk (form) tertentu dari esensi kebenaran yang sama (dalam artikel ini digunakan istilah agama Cinta).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s