Tren Terkini Ketenagakerjaan Indonesia


Tren Terkini Ketenagakerjaan Indonesia

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Seorang akademisi spesialis ketenagakerjaan dari perguruan tinggi terkenal di Australia pernah berseloroh kepada penulis: “Jika semua masalah Australia disatukan, maka hasilnya masih lebih kecil dan lebih sederhana dibandingkan dengan masalah ketenagakerjaan di Indonesia”. Ungkapan itu bersifat seloroh karena perbandingannya jelas tidak apple-to-apple: struktur ekonomi dan ketenagakerjaan Australia dan Indonesia sangat berbeda dilihat dari lapangan usaha, okupasi maupun status pekerjaan. Walaupun demikian, ungkapan itu mengungkapkan isu penting: masalah ketenagakerjaan di Indonesia sangat besar dan kompleks; besar dilihat antara lain dari besarnya angkatan kerja, kompleksitasnya dilihat antara lain dari komposisi ketenagakerjaan yang masih didominasi oleh lapangan usaha pertanian dan sektor informal.

Tren Penduduk Usia Kerja dan Angkatan Kerja

Berapa besar angkatan kerja Indonesia? Tabel 1 memperlihatkan jumlahnya lebih dari 110 juta jiwa, atau lebih dari tiga kali total penduduk Australia. Mereka adalah penduduk Indonesia yang secara aktual atau potensial (bersedia) memberikan konstribusi terhadap produksi barang dan jasa; bukan “sembarang” barang dan jasa, melainkan yang memenuhi persyaratan sistem neraca nasional (System of National Accounts, SNA). Kenapa angkatan kerja Indonesia begitu besar? Karena supply-nya juga besar: penduduk usia kerja (berumur 15+) berjumlah lebih dari 170 juta jiwa.

Bagimana trennya? Tabel 1 menunjukkan bahwa dalam enam semester terakhir, angkatan kerja maupun penduduk usia kerja cenderung terus naik. Kecenderungan itu juga tampak pada Grafik 1. Tabel maupun grafik itu memperlihatkan paling tidak tiga hal yang menarik untuk dicermati.

1)      Kecenderungan naik penduduk usia kerja sejalan dengan kecenderungan pertambahan total penduduk. Yang agak aneh, angka penduduk usia kerja untuk Februari 2011 “cekung” atau lebih rendah dari angka-angka pada semester sebelum dan sesudahnya. Keanehan ini mungkin terjadi karena angka Februari dan Agustus 2011 menggunakan angka proyeksi penduduk yang berbasis utama hasil Sensus Penduduk 2010; sebelumnya, angka proyeksi berbasis hasil Sensus Penduduk 2000 atau Survey Penduduk Antar Sensus 2005.

2)      Kecenderungan naik angkatan sejalan dengan kecenderungan naiknya penduduk usia kerja. Yang aneh, dan ini tidak dapat dijelaskan oleh penulis, adalah “cekungan” angka untuk Februari 2011; dan

3)      Laju kenaikan penduduk usia kerja lebih lambat dibandingkan dengan laju kenaikan penduduk total (lihat juga Grafik 1). Jika Februari 2009 dijadikan sebagai tahun dasar dan Agustus 2011 sebagai tahun akhir, maka rata-rata laju pertumbuhan penduduk per tahun usia kerja hanya 0.98%, lebih rendah dari angka pertumbuhan penduduk total yang mencapai 1.90%. (Dalam hal ini pertumbuhan diasumsikan mengikuti model eksponensial.)

Butir terakhir ini merupakan gejala baru yang tampaknya mendukung dugaan sementara pengamat kependudukan yang “meyakini” bahwa dalam beberapa dekade terakhir ini penduduk kurang “terkendali” dari sisi kuantitas. Tantangan bagi BKKBN? Gejala baru ini tampaknya tidak mendukung “keyakinan” sejumlah kalangan yang menganggap bahwa Indonesia memilik bonus demografis: struktur umur penduduk tidak lagi “berat” pada usia kerja. Butir terakhir itu di satu sisi “menguntungkan” karena tekanan supply tenaga kerja secara relatif berkurang, tetapi di sisi lain “merugikan” karena berarti kebutuhan untuk menanamkan investasi sosial bagi penduduk usia muda (di bawah 15 tahun) relatif meningkat.

Tren “Penganggur”

Istilah “pengangur” (dengan tanda kutip) dalam artikel ini mencakup dua kelompok penduduk usia kerja. Pertama, penganggur dalam artian teknis yang merujuk pada bagian dari angkatan kerja yang tidak terserap sama-sekali dalam kegiatan ekonomi (juga dikenal sebagai penganggur terbuka, open unemployed). Kedua, setengah penganggur yang merujuk pada bagian penduduk yang bekerja tetapi “secara terpaksa” bekerja dengan jam kerja rendah, kurang dari 35 jam per minggu.

Penganggur

Penganggur pada Agustus 2011 berjumlah sekitar 7.7 juta orang atau 6.6% dari angkatan kerja yang berjumlah sekitar 117.3 juta orang. Trennya dalam enam semester terakhir cenderung turun dan laju penurunannya relatif cepat;dengan asumsi eksponensial, laju penurunan mencapai 7.4% per tahun. Angka itu jelas lebih “tinggi” dari pada angka laju pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Jika hal ini benar maka agak mengherankan  “laporan” ILO Jakarta yang diluncurkan baru-baru ini yang mengesankan bahwa perekonomian Indonesia kurang “ramah” terhadap ketenagakerjaan[1].

 

Di luar aspek tren, masalah penganggur di Indonesia yang perlu terus dicermati adalah magnitude-nya. Kesan bahwa angka penganggur 6.6% (Agustus 2011) rendah tidak tepat karena seyogyanya lebih rendah. Kenapa? Karena di Indonesia, seperti halnya di negara-negara berkembang lainnya, tidak ada jaminan bagi pengangur sehingga “sangat sedikit orang yang sanggup menjadi penganggur sebagaimana diutarakan dalam salah satu publikasi ILO: “In developing countries the number of workers covered by unemployment insurance or other public relief schemes is usually quite limited. I these conditions very people can afford to be unemployed…. (ILO, 2003:49)[2].

Setengah Penganggur

Setengah pengaggur, sebagaimana disinggung sebelumnya, merupakan bagian penduduk yang bekerja tetapi masih bersedia untuk memperoleh pekerjaan alternatif (lihat Skema di bawah untuk kerangka konseptual).  Pada Agustus 2011 jumlah kelompok ini sekitar 13.5 juta[3] orang atau 12.3% dari penduduk yang bekerja yang jumlahnya sekitar 109.7 juta orang. Trennya relatif stabil pada kisaran angka 168-171 juta jiwa.

Jika penganggur dan setengah penganggur digabungkan maka akan diperoleh suatu angka yang besarnya hampir tiga-kali jumlah pengaggur. Pada Agustus 2011 angkanya mencapai 21.2 juta atau 12.4% dari penduduk usia kerja (lihat Grafik 2).

Isu Ketenagakerjaan Lain

Selain penganggur dan setengah penganggur banyak isu ketenagakerjaan lain yang dihadapi Indonesia antara laian kelangkaan kerja parsial (partial lack of work), pendapatan kerja yang rendah (low income from unemployment), kekurangan pemanfaatan keterampilan (under-utilization of skills) dan produktivitas yang rendah (low productivity). Di luar ini semua itu, masih banyak isu lain yang juga relevan bagi Indonesia khususunya yang terkait dengan pekerja layak (decent work). Yang terakhir mencakup bidang keprihatinan yang sangat luas, jauh lebih luas dari apa yang dicerminkan oleh indikator-indikator ketenagakerjaan yang konvensional seperti angka penganggur. Indikator-indikator pekerja layak konon merakapitulasikan semua konvensi ILO[4]. Di masa mendatang, tema pekerja layak diperkirakan akan memperkaya dan bahkan mungkin “menggeser” isu ketenagakerjaan konvensional yang bagi sebagian terlalu berorientasi pada paradigma “pekerja penuh” (full employment), paradigama yang dilansir sejak 1930-an.

Karena besar, luas dan komlpleks, serta berdampak terhadap berbagai dimensi kesejahteraan masyarakat, maka masalah ketenagakerjaan di Indonesia layak menempati posisi puncak dalam agenda nasional. Dimensi kesejahteraan yang dimaksud mencakup kemiskinan, kambtibmas, eksploitasi buruh dan pekerja seksual, perdagangan manusia (khusunya wanita) dan pekerja anak termasuk yang dieksploitasi secara komersial dan seksual (Commercial Sexual Exploitation of Children, CSEC). Dua isu terakhir kini merupakan keprihatinan global yang juga relevan bagi Indonesia. Bagimana merespon kedua isu itu, apakah memeranginya secara serius atau melakukan pembiaran, konon merupakan semacam batu_uji peradaban (test of civilization). Setuju? …..@


[1] Penulis tidak memiliki akses pada laporan kajian itu dan kesannya semata-mata hasil spekulasi dari laporan media masa. Laporan media masa itu mengesankan bahwa kajian ILO lebih memfokuskan pada disparitas Jawa-Luar Jawa, bukan pada elastisitas tenaga kerja.

[2] ILO, International training compendium on Labor Statistics, Module 1: Statitics on employment, unemployment, underemployment: economically active population.  

[3] Pada Tabel 1 setengah pengaggur didefinisikan sebagai penduduk yang bekerja tetapi jam kerjanya di bawah normal (kurang dari 35 jam seminggu) karena “terpaksa”, bukan atas kehendak sendiri (involuntarily).

[4] Artikel penulis mengenai pekerj layak dalam bentuk umum dan sangat disederhanakan dapat diakses secara bebas dalam di situs ini. Judul artikel: “Pekerja Layak Bagi Semua Tahun 2015: Mimpi Organisasi Buruh Dunia”. Dalam artikel ini disajikan antara lain daftar indikator pekerja layak untuk kawasan Asia Pasifik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s