Faktor Pengali Kebaikan dan Permutasi Kebajikan


Seharusnya kita lebih bergairah untuk melakukan kebaikan (Arab: hasanat) dari pada kejahatan (Arab: sayyiat).

Paling tidak ada dua argumen mengenai ini. Pertama, bagi manusia kebaikan secara spiritual bersifat alami. Tidak ada keraguan mengenai ini karena merupakan pengetahuan-langsung-bawaan. Kedua, bagi yang percaya Kitab Suci, rasio faktor pengali antara kebaikan dan keburukan sangat besar yaitu 10:1. Ajaran ini bukan berasal dari nasihat Ustaz, wejangan Kiai, atau bahkan Sabda Nabi SAW; ia bersumberkan Firman Ilahi.

Barang siapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya, dan barang siapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (QS 6:160).

Kalimat terakhir merujuk pada balasan kejahatan yang ditegaskan sebagai konsekuensi dari kezaliman diri-sendiri atau tanggung jawab individu; jadi, tidak perlu mencari “kambing hitam”. (Ayat ke-164 menegaskan tanggung jawab individu ini.)

Rabb SWT tentu lebih mengetahui maksud sebenarnya dari rasio 10:1 ini. Walaupun demikian kita mungkin diizinkan untuk berilustrasi mengenainya melalui skenario sederhana berikut.

Misalkan hari ini Anda melakukan 5 kebaikan dan 10 kejahatan. Misalkan juga, untuk mudahnya, bobot kebaikan dan keburukan sama (=1, tetapi beda tanda). Dalam kasus ini skor Anda adalah 45, angka yang diperoleh dari: 5×10(+1) + 10x(-1). Jika Anda melakukan kebaikan dan kejahatan dengan frekuensi yang sama (=10), maka skor Anda itu menjadi 90 = 10×10(+1) + 10×1(-1).

Sekali lagi, skenario di atas sekadar ilustrasi, sekadar upaya untuk memudahkan memaknai ayat yang bersangkutan. Lebih dari itu, jika dikehendaki-Nya, faktor pengali balasan kebaikan dapat tak terhingga (QS 40:40), sementara faktor pengali balasan kejahatan dapat NOL karena terhapus oleh kebaikan (QS 11:114).

Barang siapa mengerjakan perbuatan jahat maka dia akan dibalas sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang siapa mengerjakan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tidak terhingga (QS 40:40).

Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah) (QS 11:114).

Ruang lingkup kebaikan sangat luas, tidak hanya mencakup apa yang jelas-jelas merupakan kewajiban agama seperti salat, zakat, taklim dan sebagainya. Kebaikan termasuk perilaku dan kegiatan kongkret sehari-hari yang dimotivasi, dibimbing dan diarakan oleh kebajikan spiritual yang fundamental. Artinya, perilaku dan kegiatan yang berbasis kebenaran (veracity), serta mencerminkan kebersahajaan (humility) dan kemurahan hati (generosity).

Kebenaran, kebersahajaan, kemurahan hati. Inilah trilogi kebajikan fundamental.

Permutasi dua logi dari trilogi ini akan menghasilkan enam kebajikan turunan yang dapat memperjelas makna serta kualifikasi masing-masing logi: (1) Kemurahan-hati yang bersahaja, (2) Kebenaran yang bersahaja,  (3) Kebersahajaan yang murah-hati, (4) Kebenaran yang dermawan, (5) Kebersahajaan yang benar, dan (6) Kemurahan-hati yang benar. Penjelasan mengenai masing-masing kebajikan turunan ini dapat diakses di SINI, juga di SINI.

 

Sumber Gambar: Google

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.