Dalamnya Makna-Batiniah Wudu

Istilah wudu (Inggris: abolition) merujuk pada aktivitas pembasuhan sebagian anggota tubuh khususnya muka, kedua belah tangan sampai siku, dan kedua pasang kaki sampai pergelangan kaki (QS 5:6). Itulah definisi lahiriah wudu. Tetapi aktivitas ini mengandung makna batin yang mendalam, tidak sekadar bersih-bersih dalam artian lahiriah. Niat atau tujuan hakiki dari aktivitas ini adalah adalah membebaskan, membersihkan atau menyucikan diri dari segala sesuatu yang bersifat tidak suci (hadats).

Arti mendalam wudu tercermin dari praktik para ulama yang melafalkan bacaan-bacaan tertentu ketika melakukannya. Sebagai ilustrasi, ketika membasuh kaki, sebagian ulama melafalkan doa ini”[1]:

Allâhumma tsabbit qadamayya ‘alas shirâti yauma tazillul aqdâmu fin nâri”

(“Wahai Tuhanku, tetapkan kedua kakiku di atas Jalan (shirat) pada hari ketika banyak kaki manusia terpeleset di api neraka”)

Menurut fikih, wudu hukumnya bersifat anjuran (Sunat) tetapi menjadi keharusan (Wajib) ketika hendak melakukan salat (atau tawaf): wudu merupakan prasyarat sahnya salat (atau tawaf). Dengan berwudu seseorang menjadi terbebas dari ke-tidak-suci-an atau hadas kecil yang tidak kasat mata[2].

Dalam praktik, anggota tubuh yang dibasuh dalam berwudu tidak hanya mencakup wajah, tangan dan kaki, tetapi juga mulut, hidung dan telinga. Mulut maupun hidung juga perlu dibasuh sekalipun hukumnya Sunat. Masing-masing anggota tubuh ini mengandung simbol kekotoran tertentu yang harus disucikan ketika seorang hamba siap menghadap-Nya. Tangan, misalnya, menurut Schuon menyimbolkan keseluruhan tindakan-tindakan duniawi (profan) secara umum.

Sebagai catatan, Schuon (1907-1998) adalah seorang pengarang Jerman kelahiran Swiss. Ia dikenal juga sebagai  Īsā Nūr al-Dīn, nama yang dilaporkan diperoleh dari seorang yang dikenal sebagai wali abad ke 20 yaitu adalah seorang Syech Ahmad al-Alawi pada tahun 1930-1n. Schuon memperoleh ijazah dari Sech al-Alawi untuk menjadi mursyid dari tarekat yang dikembangkan oleh wali ini dan melakukannya sampai akhir hayatnya (wafat: May 1998).

Gambaran agak lengkap gagasan Schuon mengenai makna batin wudu terungkap dalam kutipan berikut[3]:

In abolition, the hand refers to profane actions; the mouth to the impurities contracted knowingly; the nose to the impurities contracted unwillingly and unconsciously; the face to the shame of sin; the forearms to impure intention; the ears to deafness with regard to the divine Words; the head to pride; the ears to waywardness. Or in positive terms: the purified hand to spiritual actions; the mouth to active purity; the nose to passive and unconsciousness purity; the face to the state of grace; the forearms to purity of intention; the ears to the receptivity to the divine Words or to spiritual or angelic inspirations; the heads to humility before God, hence to awareness of our nothingness; the feet to our qualification for the path of contemplation (Schuon: 145-146).

Dari kutipan di atas tampak bahwa masing-masing anggota tubuh melambangkan suatu aspek ketidaksucian atau ketidakmurnian tertentu. Semua ini melekat dalam diri kita sehingga perlu dimurnikan terlebih dahulu sebelum menghadap Dia yang Maha Suci.

·      Tangan : Tindakan duniawi (profan);
·      Mulut : Kekotoran yang dilakukan secara sengaja;
·      Hidung : Kekotoran yang dilakukan tanpa sengaja dan tanpa sadar;
·      Wajah : Keburukan aib dosa;
·      Lengan : Kekotoran niat; dan
·      Telinga : Ke-tidak-patuh-an.

Dari kutipan di atas juga tampak bahwa setelah dimurnikan masing-masing anggota tubuh itu diharapkan menghasilkan suatu aspek kesucian tertentu:

·      Tangan : Tindakan spiritual;
·      Mulut : Kemurnian yang bersifat aktif;
·      Hidung : Kemurnian yang bersifat pasif dan tanpa sadar;
·      Wajah : The state of grace;
·      Lengan : Kemurnian niat;
·      Telinga : Kesigapan menerima Firman ilahiah atau inspirasi spiritual;
·      Kepala : Kerendahan hati di hadapan Tuhan; dan
·      Kaki : Kualifikasi untuk menempuh jalan kontemplasi.

Keharusan wudu sebelum menghadap-Nya melalui salat menghendaki agar kita terbebas dari semua bentuk “kekotoran”: keterikatan terhadap semua urusan duniawi serta terbebas dari semua jenis kekotoran, aib dosa, kekotoran niat, dan dari semua bentuk ke-tidak-patuh-an. Semua ini mengisyaratkan bahwa Dia hanya berkenan menerima kita jika keseluruhan individualitas kita sudah murni dalam arti terbebas dari semua bentuk kekotoran itu.

Pertanyaan: Apakah syarat terbebas-dari-kekotoran semacam ini berlaku untuk menghadap-Nya setelah kematian?

Astagfirullah…. @

[1] Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta; http://www.nu.or.id/post/read/66243/doa-basuh-kaki-kanan-saat-wudhu.

[2] Untuk terbebas dari hadas besar seseorang harus mandi dengan niat khusus yakni bersuci dari hadas besar (mandi junub).

[3] Frithjof Schuon, Sufism: Veil and Quintessence (2006), World Wisdom, Inc.

 

Kembali ke Daftar Isi