Latihan Mati


Latihan Mati

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Durasi hidup kita adalah jalur sempit yang semakin menyempit dan berujung pada kematian[1]. Dalam jalur itu ada dua kepastian yang menentukan segalanya: “masa kini” dan “kematian”. Yang pertama, penuh kebebasan[2]; yang kedua, tanpa kebebasan karena semuanya di “tangan” Tuhan.

mati

Salat –dalam pengertian “ibadah mahdhah” atau “cannonical prayer[3]—dapat dikatakan identik dengan kematian. Kenapa? Karena dalam Salat maupun “kematian” tidak ada kebebasan: kebebasan gerak, kebebasan bicara, kebebasan bersikap, atau kebebasan lainnya.

  • Ketika Salat, gerakan tubuh maupun ucapan mesti megikuti aturan tertentu sesuai “pakem” atau kanonikal; tidak ada ruang bagi kebebasan atau inisiatif;
  • Ketika salat, kedua kepastian itu –“masa kini” dan “kematian”—bertemu; tepatnya “waktu” berhenti di hadapan Salat; dan
  • Ketika salat, dua kepastian lainnya juga bertemu: “bertemu Tuhan” dan tenggelam dalam “keabadian”.

Singkatnya, Salat mempertemukan empat kepastian: “masa kini”, “kematian”, “bertemu Tuhan” dan “keabadian”[4]. Itulah sebabnya orang cerdas[5] latihan mati melalui Salat.

Pertanyaan: Selain latihan mati, apa yang layak dilakukan pada “masa kini” sebelum “bertemu Tuhan”? Jawaban singkat: dzikir. Dalam konteks ini, bagi orang cerdas, renungan terhadap teks suci berikut dapat mencerahkan:

Belum tibakah waktunya bagi orang yang beriman, untuk secara khusuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang fasik (Al-Hadid:16)[6].

Wallahu ‘alam …..@

[1] Lihat At-Takastsur (Qur’an: Surah 102)

[2] Kebebasan itu tentu saja tidak mutlak karena manusia secara niscaya adalah makhluk kontingen yang terikat ruang dan waktu.

[3] Pelaku Salat dalam pengertian ini kedudukannya bukan sebagai manusia “tertentu” atau yang “menyejarah” (such a man), tetapi manusia fithrah (man as such) bersama makhluk lainnya.

[4] Lihat “Makna Hidup da Salat” dalam blog ini.

[5] Orang cerdas adalah orang yang mengetahui atau mampu membedakan mana yang prioritas, esensial, penting dan menentukan.

[6] Al-Mizan (2008): Al-Qur’an disertai Terjemahan & Transliterasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s