Rendah-Hati


Rendah-Hati

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Tulisan ini disiapkan menjelang tahun baru 2016, waktu yang tepat untuk menilai amal selama 2015 yang akan segera berakhir tanpa kemungkinan kembali. Bagi penulis, tema mengenai rendah-hati sangat tepat berdasarkan pengalaman pribadi yang seringkali tergoda untuk menduga telah beramal banyak dan ihsan, suatu dugaan yang ternyata sangat keliru dan bahkan sangat berbahaya. Dalam Al-Quran (53:31-32) istilah ihsan (ahsanu) dikaitkan dengan penghindaran diri dari dosa-dosa besar besar (itsma) dan perbuatan keji (fawahisy), bukan kesalahan-kesalahan kecil (lamam).

…. Orang-orang yang berbuat baik…..(Yaitu) mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil. Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya. Dia mengetahui tentang kamu, sejak dia menjadikan kamu dari tanah lalu ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang-orang yang bertakwa (Al-Quran (53:31-32).

Mengenai dosa kecil ini ayat itu mengesankan sebagai sesuatu yang sukar dihindari oleh manusia. Yang jelas, ujung ayat ini berisi teguran keras bagi mereka yang merasa sok suci (fala tuzakku anfusahum), sesuatu yang relevan dengan konsep rendah-hati; wallahu’alam.

images_humble

Pengertain rendah hati (humility) agaknya lebih mudah dipahami jika dikaitkan dengan kebalikannya yaitu tinggi-hati (pride). Istilah ini dalam tradisi Nasrani dianggap sebagai induk segala penyakit hati dan dalam tradisi Islam dipercaya sebagai penghpus pahala semua amal kebaikan. Secara positif, tinggi-hati dapat didefinsikan secara sederhana sebagai perampokan milik Tuhan[1]. Apakah milik Tuhan? Apapun yang bersifat positif: benar, baik, indah, kuasa, pengasih, sehat, kuat, sukses, dan sebagainya. Dalam teks suci, hal ini diekspresikan secara sangat padat dalam potongan ayat Surat al-Fatihah: Semua puji (alhamdu) Milik Allah (lillah).

  • Kebenaran yang kita lakukan merupakan gaung dari Kebenaran Hakiki (al-haqq, the ultimate Truth), milik Tuhan;
  • Kebaikan kita sekadar refleksi –bukan hakiki atau esensi– dari Kuasa Kebaikan (Sovereign Good), milik Tuhan; dan
  • Kebahagian kita sekadar ilustrasi kecil dari Kebahagiaan Hakiki (Beatitude, Ananda), milik Tuhan.

Jadi, jika kita merasa memperoleh sedikit karunia kebenaran, kebaikan dan kebahagian-Nya, maka ucapan yang tepat adalah hamdalah itu: alahmdu-lillah. Ucapan itu sekaligus menandakan rasa syukur: kapasitas untuk mengapresiasi bahkan sesutu yang kecil atau sederhana.

Contoh terbaik dari sikap rendah-hati diteladankan oleh Nabi SAW –sekalipun dosanya dijamin diampuni (al-Fath:2)– yang sering minta ampun atau beristigfar, sebagai pernyataan rasa syukur atau bahkan  hanya karena merasa tidak mampu memuji-Nya secara layak sesuai dengan keagungan-Nya.

Jika Nabi SAW merasa tidak mampu memuji-Nya secara layak, bagaimana dengan kita? Yang jelas, sebagai aturan emas (golden rule), kita diwanti-wanti untuk tidak “mendahului” dan “bersuara lebih keras dari beliau” dengan risiko yang sangat serius: menghapuskan pahala semua amalan kebaikan kita:

…. dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, nanti (pahala) segala amalmu bisa terhapus sedangkan kamu tidak menyadari. Sesugguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya disi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertakwa. Mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar (al-Hujurat:2-3).

Agar valid, sikap rendah-hati harus memenuhi kriteria kebenaran (truth) dan harga-diri (self-respect, nobility)[2]. …….@

[1] Dalam bahasa Schuon: “…attributing to oneself what is due to God”, Prayer Fashion Man (2005:133),

[2] Kombinasi rendah-hati dan harga-diri diilustarsikan oleh sikap tegas Joan of Arc yang ketika ditanya “Apakah kamu percaya kepada Tuhan”? dia menjawab “Better than you”; juga oleh sikap tegas seorang guru Hindu yang mengatakan kepada seorang pengembara yang berkecenderungan sangat duniawi: “I am not worthy to be your master, and you are not worthy to be my disicple” (Schuon, ibid: halaman 132)

One thought on “Rendah-Hati

  1. Terimakasih atas share sebagian ilmu Pak Uzair. Cuplikan artikel:
    Agar valid, sikap rendah-hati harus memenuhi kriteria kebenaran (truth) dan harga-diri (self-respect, nobility) [….]. Kombinasi rendah-hati dan harga-diri diilustarsikan oleh sikap tegas Joan [….].

    Mau dong contoh lain dalam kehidupan sehari-hari, Pak, untuk kedua cuplikan kalimat di atas
    Wass,
    Diana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s