Haji: Seruan Ibrahim AS yang Efektif


Dalam hitungan minggu, jutaan orang Muslim akan menyelenggarakan haji, ibadah yang merupakan Prinsip atau Rukun Islam yang kelima atau terakhir. Jika Rukun Islam ke-1 terkait dengan kesaksian Keesaan Tuhan atau prinsip tauhid, maka Rukun Islam ke-5 dengan afirmasi atau peneguhan prinsip tauhid ini yang dilakukan secara kolosal.

Sumber Gambar: English-arabiya.net

Haji dapat dikatakan sebagai upacara keagamaan terbesar kedua setelah Kumbha Mela bagi Umat Hindu yang dapat dihadiri sampai 60 juta orang. Tetapi keduanya sangat berbeda dalam hal semangat, latar belakang teologis dan acara utamanya[1].

Prinsip tauhid dalam haji tercermin dari bacaan talbiyah. Bacaan ini dilantunkan sebagai bentuk ikrar keikhlasan melakukan haji hanya untuk-Nya. Jamaah melakukan ini berulang kali begitu mereka mengenakan pakaian ihram[1], pakaian yang menyimbolkan upaya menyucikan diri dari hal-hal yang bersifat duniawi. Berikut ini adalah teks talbiyah yang dimaksud berdasarkan Hadits Riwayat Bukhari-Muslim:

labbaika/allhumma/labbaika/

labbaika/Lasyarika laka/labbaika/

innal hamda/ wanni’mata/walmulk/ 

la syarika laka/

Dari teks itu paling tidak ada tiga catatan yang layak digarisbawahi.:

  1. Allah SWT diposisikan sebagai lawan bicara (Arab: mukhatabah) yang mengesankan kedekatan-Nya dengan pembicara. Posisi ini ditunjukkan oleh kata ka atau laka.
  2. Prinsip tauhid terungkap dalam kata La Sharika Laka (artinya: “tidak ada sekutu bagi-Mu) yang diulang sampai dua kali.
  3. Teks itu dilafalkan  sepanjang rute dan waktu yang relatif sama, secara kolosal oleh jutaan orang.

Tetapi berapa juta?

Total jamaah haji tahun ini secara global diperkirakan berjumlah sekitar 2.3 juta orang. Jumlah itu kira-kira setara dengan total penduduk Kabupaten Karawang, atau Kabupaten Cirebon, atau Qatar, atau dua kali Bahrain.

Mengurus orang sebanyak itu jelas memerlukan operasi logistik yang luar biasa, unparalled logistical operation, menurut istilah Arab News (http://www.arabnoews.com). Menurut sumber ini, dalam haji tahun lalu (2018) Kementerian Kesehatan Arab Saudi telah mengerahkan sekitar 30,000 tenaga medis. Pada saat yang sama Palang Merah kerajaan ini telah mengoperasikan 127 pusat gawat darurat, dan hampir 2,000 staf.

Jamaah haji datang dari berbagai penjuru dunia. Yang terbanyak adalah jamaah tuan rumah yang totalnya diperkirakan mencapai 600,000 orang. Di luar jamaah tuan rumah, jamaah Indonesia paling banyak, sekitar 10% dari angka total. Totalnya setara dengan 2.0 kali total jamah Mesir, 2.6  kali total jamaah Iran, dan 2.8 kali total jamaah Turki (lihat Grafik 1).

Grafik 1: Jumlah Jamaah Haji 2017 dari 10 Negara Terpilih

Sumber: Ini

Sekalipun penyuplai jamaah haji terbesar (setelah tuan rumah) Indonesia secara proporsional bukanlah “negara haji”. Menurut PEW Research Center, proporsi penduduk Indonesia yang mengaku pernah haji hanya 3%. Angka ini relatif kecil, lebih kecil dari rata-rata proporsi Asia Tenggara (lihat Grafik 2).

Grafik 2: Proporsi Penduduk yang mengaku Pernah Haji

Sumber: Ini 

Kedatangan jamaah haji dari berbagai penjuru dunia merupakan tanggapan terhadap seruan yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim AS sekitar empat milenium lalu[2]. Secara misterius pengumuman itu sampai ke “hati” Umat Islam sampai sekarang dengan kecepatan penerimaan yang semakin meningkat: jumlah jamaah haji cenderung meningkat dan mungkin sudah maksimal dari sisi implikasi logistiknya. Seruan itu diabadikan dalam Al-Quran:

dan serulah manusia untuk mengerjakan Haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh (QS 22:27).

Seruan ini sangat efektif. Buktinya, tahun ini saja lebih 2 juta Umat Islam menanggapinya. Dari berbagai penjuru. Dari semua lapisan sosek masyarakat. Tidak semua jamaah mampu menanggapi undangan ini secara mudah. Sebut saja kasus seorang jamaah Indonesia tahun ini dilaporkan seorang nenek yang berprofesi sebagai penjual kayu bakar dan menabung selama 20 tahun. Kasus ini juga menyajikan kasus betapa efektifnya sruan Nabi Ibrahim SAW itu.

Wallahualam….@

[1] Kumbha Mela adalah suatu upacara ritual ziarah Umat Hidu di India setiap 12 tahun di empat lokasi di India: Allahabad (Prayag), Haridwar, Ujjain dam Nashik. Upacara ini didasarkan pada teologi Hindu– tepatnya mitologi Hindu– dan acara utamanya adalah mandi di tepi sungai (lihat ini).

[2] Angka ini mengasumsikan bahwa pengumuman itu disampaikan ketika Ibrahim AS dan Ismail AS memugar bangunan Kabah dan itu terjadi antara 2069 dan 2024 Sebelum Masehi (Lihat Dr. Jerald F. Dirk (2002), Ibrahim Sang Sahabat Tuhan, Serambi, Tabel 1).

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Advertisements

3 thoughts on “Haji: Seruan Ibrahim AS yang Efektif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.