Demokrasi dalam Islam: Pandangan Umat

Banyak yang melihat demokrasi sedang sekarat dan harus mati. Salah satu alasannya, sistem ini tidak mengakui hak konstitusional generasi mendatang dan ini memandulkan kepekaan kita mengenai ancaman kelangsungan hidup di planet bumi ini[1].

Terlepas dari pandangan negatif ini, demokrasi bagaimanapun masih dinilai sebagai sesuatu yang baik (Arab: makruf) oleh masyarakat global termasuk mereka yang tinggal di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Hal ini masuk akal paling tidak kalau kita mengontraskan kata “demokratis” kata (democratic) dengan kata “tidak demokratis (undemocratic)”.

Judul tulisan “Demokrasi dalam Islam” mengisyaratkan genre kajian hukum (tepatnya fiqh muamalah) yang bukan kompetensi penulis. Karena alasan ini maka dibubuhkan anak judul “Persepsi Umat” yang menegaskan bahwa kajian lebih bersifat sosiologis ketimbang hukum. Pertanyaannya dengan demikian kira-kira begini: “Bagaimana Islam melihat demokrasi sebagaimana dipersepsikan oleh Umat Islam (selanjutnya Umat).

Pertanyaan ini penting dalam rangka merespons dugaan sebagian kalangan yang menilai Islam tidak kompatibel dengan demokrasi. Sebagai catatan awal, sebagian besar ulama menilai demokrasi sebagai bidang muamalah, bidang yang dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman, demi kemaslahatan Umat (prinsip ishlah) dalam suatu konteks sosial-politik-kesejarahan tertentu.

Metodologi

Tulisan ini menggunakan hasil survei opini yang diselenggarakan oleh PEW Reserach Center (selanjutnya PEW) sebagai rujukan utama[2]. Alasannya, survei ini secara metodologis dapat dipercaya[3].

Terkait dengan topik tulisan, Survei ini mencangkup enam negara yang dikenal sebagai negara Islam: Lebanon, Turki, Mesir, Tunisia, Yordania dan Pakistan.

Pandangan mengenai Demokrasi

Sekalipun dunia Arab baru saja melalui hiruk-pikuk politik, Umat di empat negara Arab yang disurvei menyatakan kecenderungan kuat pada demokrasi sebagai sistem pemerintahan (Grafik 1). Ke empat negara itu adalah Lebanon, Mesir, Yordania, dan Tunisia. Umat di negara yang terakhir ini yang menginisiasi Arab Spring (2011).

Grafik 1: Preferensi pada Demokrasi (% Responden).

Umat di empat negara Arab ini, bersama Umat di Turki dan Pakistan, secara umum mendukung hak-hak dan kelembagaan demokrasi yang spesifik, termasuk soal sistem pemilu multi-partai dan kebebasan berpendapat. Dengan mendukung nilai-nilai demokrasi tidak berarti Umat mengabaikan pentingnya faktor lain khususnya kekuatan pemimpin untuk menyelesaikan persoalan negara.

Secara keseluruhan tidak ada konsensus mengenai mana yang lebih layak diberikan prioritas lebih tinggi: kepemimpinan yang kuat atau demokrasi yang baik. Dalam hal ini kekecualian berlaku untuk Pakistan di mana mayoritas Umat menilai kepemimpinan yang kuat lebih tinggi prioritasnya dari pada demokrasi yang baik (Tabel 1). Latar belakangnya mungkin karena Umat di negara ini sering kali menyaksikan kekerasan politis akibat perbedaan wawasan keislaman.

Tabel 1: Demokrasi, Pemimpin yang Kuat dan Ekonomi yang Kuat

Pandangan Umat yang positif mengenai demokrasi bukan tanpa rasionalitas. Mereka– diwakili oleh responden survei– menilai demokrasi sangat penting untuk kemakmuran ekonomi (dinyatakan oleh 54-70% responden), pemilu yang bebas (56-69%), kebebasan beragama (60-87%), stabilitas politik (46-90%), kesetaraan gender (48-76), kebebasan berpendapat (40-87%), mengurangi jurang kaya-miskin (42-89%), dan kebebasan media

Peranan Islam dalam Politik

Mayoritas responden menilai Islam memainkan peran besar dalam politik dan itu dinilai “baik”. Dalam hal ini catatan khusus perlu diberikan untuk Yordania. Bagi negara ini, responden yang menyatakan Islam memainkan peranan besar dalam politik relatif rendah proporsinya yaitu hanya 31%. Selain itu, sebagian mereka menilai peranan besar itu baik atau buruk dengan proporsi yang tidak jauh berbeda: baik: 48%, buruk: 46% (Tabel 2). Pola angka-angka itu mungkin mungkin terbentuk karena Yordania menganut sistem kerajaan sehingga isu demokratis dianggap tidak terlalu relevan buat mereka. Mungkin.

Lebanon memiliki pola yang serupa dengan pola Yordania tetapi alasannya beda: di negara ini proporsi non-Muslim relatif besar, 46%.

Tabel 2: Peran Islam dalam Politik

Bagaimana persepsi Umat menganai peran Al-Quran?

Mengenai hal ini jawaban responden bervariasi antar negara yang diperbandingkan. Mayoritas responden di Pakistan, Yordania dan Mesir menilai Al-Quran seharusnya diikuti secara ketat. Bagi Tunisia yang utama adalah mengikuti “nilai dan prinsip” Al-Quran.

Lebanon polanya sangat berbeda. Kebanyakan responden (42%) di negara ini menilai Hukum tidak dipengaruhi oleh negara (lihat Tabel 3). Kembali faktor besar penduduknya yang non-Muslim dapat menjelaskan besarnya angka ini.

Tabel 3: Antara Al-Quran dan Hukum

Pandangan mengenai Ekstremisme

Tinjauan mengenai isu ini penting karena pandangan keagamaan yang bersifat ekstrem memiliki sejarah yang panjang. Hal ini diilustrasikan oleh peristiwa terbunuhnya Ali RA (657M) oleh kaum Khawarij yang dikenal sebagai kelompok ekstrem. Peristiwa tragis ini dikenang oleh Umat sebagai Fitnah Besar Pertama. Pertanyaannya adalah bagaimana persepsi Umat masa kini melihat kelompok ekstrem semacam ini.

Hasil Survei menunjukkan bahwa di enam negara yang diperbandingkan, mayoritas responden menyatakan keprihatinannya terhadap kelompok ekstremisme. Ini berlaku di semua negara tetapi untuk Lebanon kadarnya mencolok. Tidak ada penjelasan mengenai ini. Secara spekulatif dapat dikatakan alasannya mungkin kedekatan geografis negara ini dengan lokus utama perseteruan Palestina-Israil.

Dalam hal ini Turki dan Yordania merupakan kekecualian. Mayoritas responden di dua negara ini menyatakan “tidak prihatin” (unconcerned); proporsinya 531% di Turki dan 51% di Yordania (Grafik 2).

Grafik 2: Keprihatinan Mengenai Ekstremisme

Keprihatinan terhadap pandangan ekstrem pada dasarnya tidak banyak berubah dalam dua tahun terakhir, kecuali di Turki yang mengalami penurunan drastis (Tabel 4).

Tabel 4: Tren Keprihatinan terhadap Ekstremisme

Pandangan mengenai Kelompok Ekstrem

Kelompok ekstremesme memperoleh dukungan (favorable) dari sebagian kecil masyarakat. Besar dukungan tergantung  kelompok ekstermisme dan negara sampel. Sebagai ilustrasi, dalam kasus Hamas, dukungan yang diperoleh hanya 2% di Lebanon dan 19% di Mesir. Dalam kasus Hezbollah besar dukungan juga tergantung sekte yang dianut responden. Kelompok ini di Libanon memperoleh dukungan hanya 5% dari responden bersekte Sunni dan mencapai 94% dari yang bersekte Syiah.

Yang perlu segara dicatat adalah contoh terakhir ini adalah kasus ekstrem yang bukan gambaran umum populasi. Secara keseluruhan, mayoritas responden tidak mendukung semua kelompok ekstremisme itu. Rata-rata sederhana (simple average) proporsi yang tidak mendukung  (unfavorable) bervariasi menurut kelompok ekstrem: 53% untuk Hamas, 54% Hezbollah, 73% Al-Qaeda dan 75% Taliban.

Dukungan terhadap kelompok ekstrem cenderung menyusut. Sebagai iluatrasi, dukungan terhadap Hezbollah di Mesir dan Yordania, dua negara yang menjadi pendukung utama kelompok ini, semakin menyust selama periode 2007-2011 (Grafik 3).

… proporsi responden yang tidak mendukung Hamas 53%, Hebollah 54%, Al-Qaeda 73%, dan Taliban 75%. … Dukungan terhadap eksterm cenderung menyusut.

Dari uraian di atas jelas bahwa Umat di enam negara yang disurvei secara umum kurang atau tidak memberikan dukungan terhadap kelompok ekstrem.

Grafik 3: Dukungan terhadap Hezbollah di Mesir dan Yordania

Ringkasan Kesimpulan

Pencitraan Islam tidak kompatibel dengan demokrasi secara sosiologis tidak berdasar. Umat– yang diwakili oleh responden survei ini– secara umum memiliki preferensi kuat terhadap demokrasi. Dan itu bukan tanpa rasionalitas. Tapi demokrasi bukan satu-satu yang penting dalam ranah pikiran Umat. Mereka juga menilai pentingnya faktor kekuatan kepemimpinan. Mereka meyakini pentingnya Kitab  Suci mereka– Al-Quran– sebagai pegangan hidup bermasyarakat.

Pencitraan bahwa Umat mendukung eksteremisme secara sosiologis juga tidak berdasar.  Umat secara umum merasa prihatin terhadap ekstremisme atau pandangan keagamaan yang ekstrem. Mereka kurang atau tidak mendukung kelompok-kelompok yang dikenal ekstrem seperti A-Qaeda. Pendukung kelompok seperti Al-Qaeda ini tentu ada dalam lingkungan Umat tetapi proporsinya kecil. Kadar dukungan atau penolakan terhadap kelompok ekstrem bervariasi antar negara dan kelompok ekstrem sehingga–untuk kajian lebih mendalam– perlu dilihat dalam konteks masing-masing …. @

[1] Lihat, misalnya, https://uzairsuhaimi.blog/2019/06/24/perubahan-iklim-kenapa-kita-abai/

[2] Lihat ini.

[3] Mengenai metodologi lihat ini.

Mahkamah Konstitusi dan Generasi Santri

Kita baru saja menyaksikan persidangan Mahkamah Konstitusi terkait dengan Sengketa Pemilihan Presiden 2019. Yang menarik, dalam persidangan ini sempat mengemuka kutipan dan bahkan bacaan ayat Al-Quran.

Beberapa teman yang sempat diajak diskusi meyakini kutipan-bacaan Kitab Suci mempengaruhi secara misterius proses persidangan dan penerimaan hasilnya. Wallahualam. Bagi penulis yang jelas kutipan ayat dilakukan oleh para pihak: oleh anggota majelis, pemohon (yang juga melafalkannya) dan pihak terkait. Ini mengindikasikan mereka akrab dengan Al-Quran, paling tidak yang terkait dengan persoalan hukum ketatanegaraan.

Sumber Gambar: Google

Pijakan Bersama

Proses persidangan yang berlangsung lancar dan hasilnya diterima secara positif. Ini dapat dipahami karena para pihak, bagaimanapun, menaruh perhatian pada “kepentingan yang lebih besar”, Persatuan Bangsa. Ini dikemukakan secara eksplisit bahkan oleh pihak yang perkaranya dikalahkan segera setelah hasil persidangan dibacakan. Sensibilitas mengenai kepentingan yang lebih besar inilah yang menjadi pijakan bersama (common ground, kalimatun sawa) bagi para pihak yang dapat meredakan syahwat menang sesaat.

Ada pijakan bersama lain sekalipun ini lebih tersirat. Pijakan yang dimaksud adalah kepercayaan bersama bahwa Al-Quran, sebagai rujukan proses pengambilan hukum, dapat diandalkan. Indikasinya, sebagaimana disinggung sebelumnya, kerapnya pengutipan ayat Al-Quran selama masa persidangan, khususnya pada prime-time; yakni, pada acara pembukaan dan penutupan sidang.

Soal Interpretasi

“Fakta bisa sama tetapi interpretasi bisa beda”. Itulah kira-kira moto MetroTV. Moto ini dapat diaplikasikan dalam kaitannya dengan Al-Quran: untuk ayat yang sama interpretasinya dapat memiliki spektrum interpretasi yang sangat luas. Ini khususnya berlaku bagi ayat-ayat yang terkait dengan masalah hukum, termasuk hukum ketatanegaraan. Ini menunjukkan bahwa menggunakan Al-Quran sebagai pijakan bersama belum memadai, perlu ada interpretasi.

Sebagai ilustrasi dapat diambil kasus dua negara Muslim besar yaitu Turki dan Iran. Yang pertama, Iran, melihat urusan kenegaraan di bawah kendali para ulama, political order based on velayat-e faqih  (guardianship of the legal scholar). Dalam ujung lain ada model Turki yang menganut sistem perwakilan parlementer demokrasi[1]. Dua-duanya mengklaim berbasis Al-Quran. Bagaimana dengan kasus Indonesia?

Ilustrasi ini menunjukkan adanya universalitas Islam, sekaligus pluralistis Muslim. Ilustrasi ini juga menunjukkan bahwa realisasi prinsip-prinsip Islam perlu mempertimbangkan konteks dan realitas sosial-budaya-kesejarahan setempat. Inilah makna interpretasi yang sangat-sangat manusiawi. Inilah “medan perang” para ahli ushul fikih: bagaimana berlaku adil terhadap teks suci dengan meletakannya dalam koteks sosial-budaya setempat.

Interpretasi teks suci merupakan keniscayaan; tanpa interpretasi (yang jujur) teks suci dapat menghasilkan keadaan yang tidak diinginkan. Inilah yang diingatkan oleh Keith Khan-Harris dalam salah satu tulisannya: “How should we read religious text“:

For almost the whole of their histories, Jews, Christians and Muslims have wrestled with the meanings of their scriptures, developing in the process elaborate hermeneutic and jurisprudential systems … Hard texts need interpreting; without it, they lead to violence. God has given us both the mandate and the responsibility to do just that.

Generasi Santri

Fakta bahwa banyak kampiun bidang hukum yang akrab Al-Quran sebagaimana ditunjukkan dalam Sidang MK kali ini menunjukkan adanya partisipasi kalangan santri di bidang ini. Fakta ini tentu memiliki sejarah sendiri yang mungkin dimulai di era Pak Harto justru ketika yang bersangkutan mencanangkan Pancasila sebagai satu-satunya Azas kebangsaan. Ketika itu salah salah seorang kiai sepuh NU konon menemui Pak Harto di istana untuk meminta kejelasan maksud Pak Harto yang sebenarnya. Hasilnya, adalah kesepahaman di antara keduanya. Kesepahaman ini pada gilirannya memupus kecurigaan pemerintah terhadap Islam. Dampaknya, lahirlah generasi santri yang semakin leluasa berpartisipasi dalam urusan publik sebagaimana ditunjukkan oleh para kampiun hukum di Mahkamah Konstitusi.

Bagaimana generasi ini menyikapi Al-Quran? Untuk menjawab ini tentu perlu kajian sendiri. Bagi penulis yang jelas ini. Jika para kampiun hukum ketatanegaraan diasumsikan mewarisi semangat (khitttah) para ulama sesepuh NU, maka prinsip nilai-nilai keislaman dalam semesta Indonesia akan dapat direalisasikan secara damai.

Ada dua argumen mengenai pernyataan terakhir ini. Pertama, tradisi NU sangat mengapresiasi budaya ketika menafsirkan teks-teks keagamaan (lihat saja Gus Dur). Sebagian bahkan menuduh terlalu jauh. Kedua, wawasan kenegaraan para sesepuh NU dikenal sangat inklusif, bahkan oleh sebagian dianggap terlalu inklusif. Tapi ini soal interpretasi.

Tugas Ulama

Konteks sosial selalu berubah. Ini berarti panggilan terus menerus bagi para ulama untuk menkonstruksi landasan hukum agar prinsip-prinsip moral quraniah dapat direalisasikan dalam dunia nyata berdasarkan bacaan konteks yang selalu berubah itu.  Metologinya jelas yaitu ijtihad yang berarti kerja keras dengan penuh tekad  serta berbasis kejujuran intelektual. Demikianlah penulis memaknai kata ijtihad hasil bacaan QS (29:69).

Kalau pembaca berpendapat lain maka itu kembali soal interpretasi yang sangat manusiawi.

Wallahualam….@

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi@gmail.com

[1] Tariq Ramadan’s Copernican Revolution (2011), Sage publication.

 

Bangsa Arab: Ancaman dan Tokoh Populer

Jika Bangsa Arab ditanya negara mana yang paling mengancam, maka jawabannya adalah Israil. Dalam hal ini “paling mengancam” diukur dengan proporsi responden yang menyatakannya. Jika mereka ditanya siapa di antara tiga tokoh ini– Trump, Putin dan Endrogan– yang paling populer, maka jawabannya adalah Endrogan. Dalam hal ini popularitas di sini diukur dengan proporsi responden yang memberikan pencitraan positif: semakin tinggi proporsi, semakin populer.

Demikianlah sebagian hasil survei opini  yang diselenggarakan oleh Arab Barometer, Gelombang ke-5 ( 2018-2019).

Dalam survei ini istilah Bangsa Arab mengacu pada bangsa-bangsa yang mendiami kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara– dikenal dengan istilah MENA, singkatan dari Middle East and North Africa— dan secara historis-budaya dianggap arab. Dengan definisi ini maka Iran tidak termasuk di dalamnya, demikian juga dengan Israil. Survei ini mencakup 11 negara: Sudan, Yordania, Palestina, Maroko, Tunisia, Yaman, Irak, Lebanon, Libya dan Mesir.

Kredibilitas Metodologi

Survei ini mencakup sampel 25,407 responden (berumur (18+) yang diwawancarai langsung (face-to-face) di rumah masing-masing. Alokasi per negara sampel sama yang sekitar 2,400 responden. Margin kesalahan ditetapkan plus-minus 3%.

Dilihat dari metodologinya, survei ini kredibel. Diksi ini didasarkan bacaan kritis dan menyeluruh mengenai metodologi survei ini dalam semua aspeknya: penetapan responden, kerangka sampel, strategi sampling, organisasi lapangan, metode pengumpulan data, mekanisme penjaminan kualitas hasil, dan kerja lapangan. Sebagai ilustrasi, pemilihan sampel rumah tangga dan individu dilakukan atas dasar nilai probabilitas yang dapat dihitung (calculable probability), sesuatu kriteria untuk menarik kesimpulan.

Dalam survei ini, ada lima negara pilihan untuk dipilih sebagai pemberi ancaman terbesar: Israil, Amerika Serikat, Arab Saudi, Iran dan “tidak ada” (kategori residual).

Hasil Survei

Negara Ancaman

Persepsi bahwa Israil adalah ancaman terbesar terlihat pada Gambar 1. Pada gambar itu responden yang yang mengatakan negara itu merupakan ancaman paling besar, proporsinya paling tinggi. Dalam hal ini Yaman dan Irak merupakan kekecualian. Bagi kedua negara ini ancaman terbesar adalah Iran.

Maroko dan Aljazair juga merupakan kekecualian tetapi dalam arti yang berbeda. Di kedua negara ini proporsi untuk “tidak ada negara” paling besar, lebih besar dari pada proporsi untuk Israil.

Gambar 1: Persepsi Responden mengenai Negara Ancaman

Popularitas Tokoh

Bagaimana dengan tokoh populer dalam arti memperoleh penciptaan positif? Gambar 2 menyajikan gambaran visual mengenai jawabannya. Pada gambar itu tampak Endorgan (Presiden Turki) dipersepsikan sebagai paling populer. Dalam hal ini ada beberapa kecualian:

    • Bagi Irak, Putin sama populernya dengan Endrogan.
    • Bagi Lebanon, Libya dan Mesir, Putin lebih populer dari Endrogan.

Gambar 2: Popularitas Trump, Putin dan Endrogan

Gambar 2 juga secara jelas menempatkan Trump sebagai tokoh paling tidak populer. Ini berlaku di semua negara sampel. Satu-satunya kekecualian adalah Mesir di mana Trump sama populer dengan Edrogran, itu pun proporsinya hanya belasan pesen.

*****

Demikianlah sebagian hasil survei opini Arab Baromter. Survei ini sebenarnya menanyakan isu lain termasuk tingkat religiositas (yang ternyata turun drastis), isu gender, masalah homoseksual dan “kematian terhormat”. Hasil survei ini layak dibaca oleh mereka yang tertarik untuk memahami aspirasi dan pandangan masyarakat luas Bangsa Arab; layak karena berbasis populasi dan ilmiah, bukan sekadar mengandalkan spekulasi di atas meja yang rawan tercemar pandangan subyektif.

Wallahualam….@

 

 

 

 

.

Perubahan Iklim: Lima Alasan Mengabaikan

Isu perubahan iklim (climate change) sangat riil. Gejalanya dirasakan pada peningkatan suhu global, kenaikan permukaan laut, pengasaman samudera dan dampak iklim serius lainnya bagi wilayah pesisir dan negara-negara pantai dataran rendah, termasuk banyak negara kurang berkembang dan negara berkembang pulau kecil. Dampaknya beragam mulai dari semakin berkurangnya sumber daya alam sebagai dampak negatif dari degradasi lingkungan, termasuk desertifikasi (meluasnya wilayah padang pasir), kekeringan, degradasi lahan, kelangkaan air tawar dan hilangnya keanekaragaman hayati.

Dari sifatnya mudah dipahami dampak negatif isu perubahan iklim  sebagian bersifat permanen (tidak dapat diperbaharui), menjangkau periode jauh ke depan (far reaching) dan urgen (mendesak). Urgensinya tercantum dalam Dokumen Sasaran Pembangunan Berkelanjutan PBB (SDG- Sustaninable Development Goal) (Paragraf 50) yang dinyatakan dengan cara yang bernuansa puitis:

Kita bisa jadi generasi pertama yang sukses mengakhiri kemiskinan; pada saat yang sama seperti kita mungkin generasi terakhir yang memiliki kesempatan untuk menyelamatkan planet ini.

(We can be the first generation to succeed in ending poverty; just as we may be the last to have a chance of saving the planet .)

Dari diskusi di atas tampak bahwa isu perubahan iklim menyangkut hidup orang banyak (global) generasi sekarang dan juga generasi mendatang. Semuanya menambah dan memperburuk daftar tantangan yang dihadapi umat manusia.

Pertanyaannya, kenapa dalam praktik kita secara kolektif mengabaikan isu perubahan iklim yang sangat riil ini? Tulisan ini bermaksud menjawab pertanyaan ini.

Seperti akan segera terlihat, jawabannya tidak sederhana karena menyangkut pola pikir (mindest), ketidaktahuan (ignorance) dan perlikau bodoh kita yang cenderung tidak kita sadari. Singkatnya, penjelasannya kompleks. Walaupun demikian, kita paling tidak kita dapat mengidentifikasi lima alasan (reasoning) yang mendorong kita cenderung mengabaikan isu yang menyangkut hajat hidup antar-generasi ini. Berikut ini adalah lima alasan yang dimaksud.

1. Doktrin Waktu Hampa

Penaklukkan Australia oleh Inggris pada abad ke-18 dan ke-19 berdasarkan doktrin hukum yang dikenal sebagai terra nullius, “bukan tanah siapa-siapa”. Doktrin ini menjustifikasi penaklukan dan memperlakukan penduduk asli ( aborigin, aborigine) seolah tidak ada, atau tidak punya hak-milik terhadap tanah leluhurnya itu.

Doktrin serupa tapi tidak sama dengan doktrin terra ini adalah doktrin tempus nullinus (empty time, “waktu hampa”). Doktrin tempus ini, sebagaimana diungkapkan Roman Krznaric (19/2/19), seakan-akan menjustifikasi penjajahan masa depan.

We treat the future like a distant colonial outpost devoid of people, where we can freely dump ecological degradation, technological risk, nuclear waste and public debt, and that we feel at liberty to plunder as we please.

2. Pola Pikir Negatif

Doktrin tempus nullius mempengaruhi pola pikir kita yang negatif mengenai isu perubahan iklim yang berskala TSM- terstruktur, sistematis dan masif: terstruktur karena melibatkan semua agen pembangunan, sistematis karena dikemas dalam model demokrasi yang dapat dikatakan dianut secara universal, dan masif karena diamini oleh semua pemangku kepentingan. Pola pikir yang berskala TSM ini memberikan kita amunisi untuk membela diri secara terampil:

  • Jika dikatakan isu perubahan iklim itu adalah riil dan berbasis ilmiah, maka kita membela diri dengan mengatakan bahwa dampaknya tidak tampak, masih terlalu jauh di depan. Demikianlah pandangan orang yang berpenyakit rabun jarak jauh (nearsight). Itulah penyakit kita secara kolektif.
  • Jika ditunjukkan bukti konkret– misalnya krisis air di India, atau migrasi internal di Afrika yang terjadi utamanya karena dampak perubahan iklim– maka masing-masing kita membela diri dengan mengatakan kira-kira: “itu kan terjadi terhadap mereka, bukan terhadap kita”. Itulah mentalitas “Kita VS Mereka”. Itulah mentalitas kita secara kolektif.
  • Jika diyakinkan pentingnya apek kesehatan dan kelestarian lingkungan dalam model pembangunan ekonomi, maka kita berkilah pertimbangan itu merugikan secara ekonomi dalam jangka pendek (short term). Itulah penyakit short-termism; penyakit yang sejalan dengan penyakit rabun jarak jauh. Itulah penyakit kita secara kolektif.

3. Catat Demokrasi

Praktik demokrasi, di mana pun, didasarkan pada hak konstitusional penduduk dewasa. Jadi, anak-anak, bayi, janin, dan generasi mendatang tidak masuk hitungan. Inilah salah satu catat demokrasi: pengabaian hak-hak konstitusional generasi mendatang.

Salah satu cacat demokrasi adalah pengabaian hak-hak konstitusional generasi mendatang.

Cacat ini menjustifikasi eksploitasi lingkungan alam secara semena-mena dengan mengabaikan hak-hak konstitusional generasi menatang. Mereka diperlakukan sama seperti oborigin dalam kasus penaklukkan Australia: hak hidup mereka tidak diakui.

Dalam konteks ini kita perlu mengasah kepekaan mendengarkan suara “malaikat” yang diwakili antara lain oleh Greta Thunberg (16) yang telah berhasil secara gemillang menginspirasi generasi anak-anak sekolah untuk memprotes dan menuding kita kelewat lamban dalam merespons isu perubahan iklim.

Sumber: gambar ini

Apa preastasi gadis ini? Berikut ini adalah sekilas gambarannya:

On 15 March 2019, an estimated 1.4 million students in 112 countries around the world joined her call in striking and protesting. A similar event involving students from 125 countries took place on 24 May 2019.

Thunberg has received various prizes and awards for her activism. In March 2019, three members of the Norwegian parliament nominated Thunberg for the Nobel Peace Prize. In May 2019, at the age of 16, she featured on the cover of Time magazine. Some media have described her impact on the world stage as the Greta Thunberg effect.

4. Ekses Kemajuan Teknologi

Tidak ada yang membantah manfaat positif dari kemajuan teknologi terhadap kenyamanan hidup. Yang luput dari perhatian kita adalah ekses kemajuan ini terhadap perilaku hidup kita sehari-hari dalam kaitannya dengan kerangka waktu kita semakin pendek. Mengenai hal ini Dyson (seorang investor) mengungkapkannya begini:

… in politics the dominant time frame is a term of office, in fashion and culture it’s a season, for corporations it’s a quarter, on the internet it’s minutes, and on the financial markets mere milliseconds. (Dikutip oleh Richard Fisher (10/1/19))

Apa hubungannya dengan isu perubahan iklim?

Kerangka waktu yang semakin pendek mendorong tumbuh-suburnya “isme jangka pendek” (short-termism) yang membuat isu perubahan iklim menjadi kabur dalam kesadaran kongkret kita.

5. Hiper Indivisualisme

Kesibukan kita dalam dunia dengan kerangka waktu yang semakin pendek menyuburkan naluri individualistis kita. Secara psikologis ini mungkin manusiawi. Masalahnya, naluri ini sudah sedemikian tinggi, tak-lagi terkendali, hiper. Mengenai hal ini Krznaric merumuskannya begini:

We live in an age of hyper-individualism, an era in which an overdose of free-market culture and simplistic self-help, have led us to believe that the best way to lead the good life, and achieve human happiness, is to pursue our narrow self-interest, to follow our personal desires. In a way, the question, ‘What’s in it for me?’ has become the leading question of our time.

Demikianlah lima alasan kenapa kenapa kita mengabaikan isu perubahan lingkungan. Daftar semacam ini tentu dapat diperpanjang tetapi empat itu saja sudah memadai untuk bahan refleksi.

Terkait dengan alasan terakhir, hiper individualisme, penangkalnya sebenarnya sederhana yaitu empati. Masalahnya, justru empati ini yang defisit dalam zaman now. Sebagai ilustrasi, di Amerika Serikat level empati dilaporkan turun hampir 50% dalam 40 tahun terakhir dan penurunan paling drastis terjadi dalam 10 tahun terakhir.

Penangkal hiper individualisme adalah empati.

******

Ke mana pun kita memandang, kita melihat kesenjangan sosial dalam berbagai bentuk: di dua-pertiga dunia Barat, kesenjangan kaya-miskin kini lebih parah dibandingkan tahun 1980-an. Di sisi lain, lebih dari satu milyar penduduk hidup di bawah satu dolar/hari. Ke mana pun kita memandang, kita melihat konflik karena berbagai sebab yang semuanya ini membutuhkan empati. Untuk merespons semua itu dibutuhkan empati. Empati dibutuhkan untuk merekat kebersamaan sosial dan menjinakkan mentalitas “Kita VS Mereka” yang menjadi penyebab demikian banyak konflik.

Tapi apa itu empati? Sebagian kita mungkin berpengalaman terlibat dalam perdebatan sengit dengan rekan (termasuk istri) yang hasil akhirnya mengecewakan. Kita mungkin akan berpikir begini: “Aku berharap mereka memahami sudut pandangan saya, sayangnya mereka gagal”. Harapan semacam itulah persisnya empati, bahkan melampaui harapan semacam itu Roman Krznaric (19/2/19):

Empathy can create radical social change. Empathy, I believe, can create a revolution, not one of those old-fashioned revolutions of new laws and institutions, public policies, but a revolution of human relationships. And we urgently need this revolution because of a growing global empathy deficit.

Wallahualam….@

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi@gmail.com

 

 

Populasi Muslim: Profil dan Proyeksi

Sinopsis: Tulisan ini membahas profil dan proyeksi populasi Muslim global. Topik-topik yang dibahas: pertumbuhan, proyeksi dan komponen pertumbuhan populasi Muslim, dalam perbandingannya dengan populasi global dan populasi Kristen. Istilah populasi (bukan Umat) digunakan untuk menegaskan bahwa analisis menggunakan pendekatan sosiologis (bukan teologis).

Sumber Gambar: Google

Semua penganut agama-agama samawi– Yahudi, Kristen dan Islam– mengaku keturunan Nabi Ibrahim AS dalam arti meyakini agama mereka adalah kelanjutan dari tradisi (milah) nabi itu. Dalam tradisi alkitabiah (biblical) terdapat narasi mengenai janji Tuhan SWT akan mengaruniai Ibrahim AS berupa keturunan sebanyak “bintang di langit”[1]. Janji ini agaknya telah terpenuhi jika diukur dari populasi penganut agama-agama samawi yang semakin mendominasi populasi global.

Tema tulisan adalah populasi Muslim global. Topik yang dibahas antara lain pertumbuhan, proyeksi dan komponen pertumbuhan populasi Muslim, dalam perbandingannya dengan populasi global dan populasi Kristen. Istilah populasi (bukan Umat) digunakan untuk menegaskan bahwa analisis menggunakan pendekatan sosiologis (bukan teologis). Dengan pendekatan ini penganut agama didasarkan  pada pengakuan yang bersangkutan (self declaration) mengenai agama yang dianut.

Populasi Agama Samawi

Populasi Agama Samawi terus meningkat jumlahnya. Pernyataan sesuai dengan data World Religion Project berikut:

    • Populasi global pada tahun 1945 –atau 74 tahun lalu– berjumlah sekitar 2.25 milyar. Dari jumlah itu, sebanyak 873 juta atau 39% adalah populasi Agama Samawi.
    • Pada tahun 2010– atau 74 tahun berikutnya– total populasi global adalah 6.84 milyar dan 54% di antaranya populasi Agama Samawi.

Singkatnya, dalam 1945-2010 terjadi kenaikan proporsi penduduk Agama Samawi dari 39% menjadi 54%.

    • Pada tahun 1945 populasi Muslim diperkirakan 159 juta. Ini berarti sekitar 7.7% dari populasi global. Sebagai perbandingan, pada tahun yang sama, proporsi untuk populasi Kristen sekitar 31.2%.
    • Pada tahun 2010 populasi Muslim sekitar 1.6 milyar milyar atau 23.2% dari populasi global. Pada tahun yang sama total dan proporsi populasi Kristen masing-masing 2.1 milyar dan 30.9%.

Singkatnya, dalam periode 2010-2010 terjadi penurunan proporsi populasi Kristen terhadap populasi global turun dari 31.2% menjadi 30.9%.

Bagaimana perkiraannya ke depan? Gambarannya dapat disimak dari proyeksi periode 2010-2050 yang dipublikasikan oleh PEW Research Center:

    • Penduduk global meningkat dari 6.90 milyar pada tahun 2010 menjadi 9.31 milyar pada tahun 2050, atau tumbuh sekitar 0.77% per tahunnya. Jika angka pertumbuhan ini berlaku setelah 2050 maka populasi global memerlukan waktu sekitar 90 tahun untuk menjadi dua kali lipat[2].
    • Dalam periode yang sama proporsi penduduk Agama Samawi naik dari 54.8% menjadi 58.3%. Sebagai catatan, kenaikan proporsi ini terjadi hanya untuk Muslim (dari 23.2% ke 26.7) dan tidak terjadi untuk Kristen maupun Yahudi.

Periset dalam lembaga ini menggunakan dan menganalisis sekitar 2,500 sumber data termasuk sensus penduduk, survei demografi, dan survei kependudukan secara umum. Terkait dengan identitas keagamaan, lembaga ini merumuskannya begini:

The measure of religious identity in this study is sociological rather than theological. In order to have statistics that are comparable across countries, the study attempts to count individuals who self-identify with each religion. This includes people who hold beliefs that may be viewed as unorthodox or heretical by others who claim the same religion. It also includes people who do not regularly practice the behaviors prescribed by their religion, such as those who seldom pray or attend worship services.

Proyeksi Populasi Muslim

Terkait proyeksi populasi Muslim, dapat dicermati proyeksi PEW Research Center berikut:

    • Populasi Muslim meningkat dari 1.60 milyar pada tahun 2010 menjadi 2.76 milyar pada tahun 2050. Dengan demikian, rata-rata angka pertumbuhan per tahun sekitar 1.38%.
    • Proporsi populasi Muslim (terhadap populasi global) dalam periode yang sama meningkat dari 23.2% menjadi 27.9%. [Sebagai perbandingan, proporsi untuk populasi Kristen tetapi pada tingkat 31.4%.]

Semua angka-angka di atas dapat diamati pada Gambar 1.

Gambar 1: Proyeksi Populasi Global 2010-2050

Sumber: PEW Research Center

Gambar di atas menegaskan beberapa hal termasuk berikut ini:

    • Selama empat dekade (2010-2050) populasi Muslim tumbuh lebih cepat dari agama-agama lain.
    • Populasi Muslim dan populasi Kristen memberikan sumbangan yang relatif sama terhadap populasi global.
    • Populasi yang mengaku bukan penganut agama tumbuh hampir 10% tetapi sumbangannya terhadap populasi global turun dari 16.4% pada tahun 2010 menjadi 13.2% pada tahun 2050.

Komponen Pertumbuhan Populasi

Angka Kelahiran

Pada level global, komponen pertumbuhan populasi secara keseluruhan  bersifat alamiah. Artinya, dalam suatu periode, penduduk bertambah karena kelahiran dan berkurang karena kematian. Jadi komponennya adalah kelahiran (B, dari Birth) dan kematian (D, dari Death). [Faktor lain yaitu migrasi (M, dari Migration) karena sejauh ini tidak ada laporan migrasi masuk maupun keluar dari planet bumi.]

Faktor utama yang menjelaskan relatif tingginya angka pertumbuhan populasi Muslim. Data PEW Research Center menunjukkan adanya penurunan rata-rata kelahiran anak per wanita (TFR, dari total fertility rate) dalam periode 2010-50: Muslim: turun dari 3.1 ke 2.3. Untuk populasi Kristen penurunanya  dari 2.7 ke 2.3, sementara untuk populasi global:  dari 2.5 ke 2.1. Yang layak dicatat, sekalipun tahun 2050 TFR untuk Muslim dan Kristen sama (2.3),  titik awalnya (2010) jauh lebih tinggi untuk Muslim dari pada untuk Kristen. Ini berdampak pada momentum pertumbuhan penduduk (yang lebih besar untuk Muslim dari pada Kristen.

Struktur Umur

TFR suatu populasi mungkin rendah tetapi struktur umur muda memberikan momentum bagi populasi secara keseluruhan untuk tumbuh cepat. Inilah yang terjadi dengan populasi Muslim.

Struktur umur muda secara sederhana ditunjukkan oleh rendahnya median umur: semakin rendah, semakin muda. Sebagai ilustrasi, pada tahun 2010 median umur adalah 23 tahun untuk populasi Muslim dan 30 tahun untuk populasi Kristen.

Struktur umur yang “tua” (aging) membawa konsekuensi pertumbuhan ekonomi. Faktor ini melatarbelakangi fenomena sulitnya bagi negara-negara maju (termasuk Jepang) untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Logikanya sederhana: bagi populasi “tua”, penduduk produktif proporsnya rendah sehingga nilai produksi secara keseluruhan sulit meningkat  (betapa pun tinggi tingkat produktivitas mereka).

Perpindahan Agama

Populasi global suatu agama tidak hanya dipengaruhi oleh faktor alamiah tetapi juga oleh faktor perpindahan agama. Faktor ini menjelaskan relatif tingginya pertumbuhan populasi Muslim. Data xx menujukan bahwa dalam periode 2010-20150, populasi yang masuk Islam sekitar 12.6 juta sementara yang keluar Islam sekitar 9.4 juta. Artinya, ada perpindahan agama neto sekitar plus 3.2 juta.

Sebagai perbandingan, untuk Kristen, perpindahan agama neto adalah minus 66.0 juta: yang masuk 40.1 juta, yang keluar 106.1 juta

Ringkasan

Populasi Muslim secara global terus bertambah dengan dengan tingkat pertumbuhan yang relatif tinggi. Ini terlihat dari rata-rata angka pertumbuhan per tahun (=r) yaitu 1.8%. Untuk populasi global dan Kristen angka r sama yaitu 0.77%. Jika angka-angka ini berlangsung pasca 2050 maka populasi global (juga Kristen) perlu waktu sekitar 90 tahun untuk menjadi dobel jumlahnya. Bagi populasi Muslim waktu itu hanya 50 tahun.

Relatif tingginya angka r untuk populasi Muslim terkait dengan relatif tinginya angka kelahiran, relatif mudanya struktur umur, dan relatif besarnya perpindahan agama dari agama lain.

[1] Analogi “bintang di langit”– yang mengonotasikan jumlah yang sangat banyak– mudah dipahami karena dapat diamati. Alusi semacam ini normal digunakan dalam Bahasa Agama yang tidak dapat dimaknai secara harfiah.

[2] Angka ini diperoleh dari persamaan t = ln(2)/r di mana t adalah tahun yang diperlukan untuk menjadi dobel dan r adalah rata-rata pertumbuhan per tahun.

Mengenal Muhammad Mursi

Sumber gambar: Google

Dunia Muslim kehilangan tokoh ini yang meninggal Selasa 18 Juni 2019 di tengah masa persidangannya terkait berbagai tuduhan yang ditujukan kepadanya. Nama lengkapnya Muḥammad Mursī ʿĪsā al-ʿAyyāṭ. Ia adalah mantan Presiden Mesir (yang ke-5) yang dijabat hanya setahun, dari 30 Juni 2012- 3 Juli 2013, mungkin paling singkat dalam sejarah Mesir. Jabatan itu digantikan oleh General Abdel Fattah el-Sisi melalui suatu kudeta militer.

Kehidupan dan Karier Pendidikan

Almarhum Mursi AS terlahir dari keluarga sederhana di Desa El-Adwah, Mesir Utara pada 8/8/1951: bapaknya petani dan ibunya pengurus rumah tangga biasa. Untuk bersekolah di desanya ia dilaporkan masih menunggangi keledai.

Pada 1960-an almarhum memperoleh gelar sarjana muda dengan pujian tinggi sebagai insinyur dari Universitas Kairo. Sekitar 1975-76 ia mengikuti wajib militer dan bekerja sebagai di unit persenjataan kimia.

Setelah menyelesaikan program master selanjutnya almarhum melanjutkan studi di Universitas California Selatan, Amerika Serikat, melalui bea siswa pemerintah. Di sana ia meraih gelar PhD dengan disertasi “High-Temperature Electrical Conductivity and Defect Structure of Donor-Doped Al2O3“. Ia sempat menjabat asisten profesor di Universitas Negara California 1982-85 dan bekerja di NASA (awal 1980-an) membantu membangun mesin Pesawat Ruang Angkasa.

Singkatnya, karier pendidikan dan profesi sebagai insinyur, almarhum gemilang. Bagaimana kariernya di bidang politik?

Karier Politik

Untuk sampai menjadi presiden, karier politiknya tentu gemilang. Sayangnya tidak bertahan lama, hanya setahun beberapa hari, sebelumnya akhirnya dijatuhkan melalui kudeta militer. Kenapa dijatuhkan? Untuk menjawab ini secara memuaskan tentu diperlukan kajian mendalam yang bukan porsi dari tulisan ini yang fokusnya hanya pada hal-hal pokok yang bersifat indikatif.

Tinjauan singkat sejumlah bacaan terkait dengan isu ini mengarah pada beberapa faktor yang patut diduga menyebabkan kejatuhan karier politik almarhum: kurang-akurnya dengan pihak militer, ketegasan sikapnya mengenai sejumlah isu politik global khususnya di Timur Tengah, kedekatannya dengan Iran (dan Qatar) dan –ini mungkin paling menentukan– “kejahatan” media-massa yang secara sistematis memfitnah atau memojokkannya dengan cara mengutip ucapannya di luar konteks.

Hubungannya dengan pihak militer didorong oleh keyakinannya bahwa seorang presiden adalah panglima tertinggi dan menghendaki agar anggaran militer accountable. Ia memecat beberapa petinggi militer yang dinilai tidak sejalan dan menggantikan dengan mereka yang dinilai cocok, termasuk El-Sisi (presiden sekarang). Masalahnya ini: (1) Almarhum Mursi RA bukan seorang militer, dan (2) akuntabilitas anggaran kemiliteran merugikan kepentingan para petinggi militer yang selama ini dinikmati secara leluasa.

Terkait dengan isu lain, sikap Mursi RA sangat tegas:

    • Ia mengancam Peristiwa 9/11, sekaligus mengkritik AS terlalu gegabah menghukum sejumlah negara Muslim.
    • Ia menegaskan hak kewargaan penuh bagi Umat Kristen di Mesir, sekaligus tidak mentolelir sikap tidak hormat terhadap Rasul SAW.
    • Ia mengakui Umat Agama Yahudi sebagai ahli kitab sesuai ajaran Al-Quran dan sangat menaruh respek kepada mereka, tetapi sekaligus mengecam kebrutalan Pemerintah Israil terhadap warga sipil Palestina. (Diksi terakhir ini mudah dipahami membuat tidak nyaman pemerintah Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.)

Mengenai Israil sebenarnya ia berhubungan sangat baik dengan PM Israil ketika itu tetapi hal itu malah dipelintir oleh lawan-lawan politiknya dan masyarakat Inilah salah satu contoh dari “kejahatan” media masa”. Kejahatan serupa terjadi dalam kasus hubungan baiknya dengan Iran yang dinarasikan sedemikian rupa sehingga menumbuhkan sikap permusuhan internal di kalangan Suni.

Memahami Pandangan Mursi

Ucapan seseorang dapat diasumsikan menggambarkan sikap genuine orang itu. Jika pernyataan benar maka kutipan-kutipan berikut layak dijadikan rujukan untuk memahami pandangan Mursi AS dalam berbagai bidang kehidupan (Sumber: ini):

    1. There cannot be peace in the Middle East without giving Palestinians their full rights.
    2. The Zionists have no right to the land of Palestine. There is no place for them on the land of Palestine.
    3. The world is not uni-cultural. We must live together rather than seeking to dominate each other. The people in the world cannot accept domination anymore.
    4. Freedom of expression comes with responsibilities, especially when it comes with serious implications for peace.
    5. The revolutions of the Arab Spring happened because people realized they were the power.
    6. I’m very keen on having true freedom of expression. True freedom of faith. And the free practice of religious faith.
    7. There is no power above people power.
    8. I will treat everyone equally and be a servant of the Egyptian people.
    9. I am the first Egyptian civilian president elected democratically, freely, following a great, peaceful revolution.
    10. The world stage is very difficult. It’s not easy to be on the world stage.
    11. I will not betray my country.
    12. Egyptians are always and will always be supportive of their Palestinian brothers, all Palestinians.
    13. When the Egyptians decide something, probably it is not appropriate for the U.S. When the Americans decide something, this, of course, is not appropriate for Egypt.
    14. Egypt is practicing its very normal role on its soil and does not threaten anyone and there should not be any kind of international or regional concerns at all from the presence of Egyptian security forces.
    15. We must confront this Zionist entity. All ties of all kinds must be severed with this plundering criminal entity, which is supported by America and its weapons, as well as by its own nuclear weapons, the existence of which is well known. It will bring about their own destruction.
    16. If you want to judge the performance of the Egyptian people by the standards of German or Chinese or American culture, then there is no room for judgment.
    17. I never meant to antagonize anyone.
    18. There is a positive and personal relationship between the Egyptian people and the Syrian people.
    19. We Egyptians reject any kind of assault or insult against our prophet.
    20. The president of the Arab Republic of Egypt is the commander of the armed forces, full stop.
    21. Egypt now is a real civil state. It is not theocratic, it is not military. It is democratic, free, constitutional, lawful and modern.
    22. I will not use my legislative powers except in a very limited framework.
    23. The situation in Egypt is stable. We are ready for tourism and investment
    24. Conflict does not lead to stability in the world.
    25. We all have to announce our full solidarity with the struggle of those seeking freedom and justice in Syria and translate this sympathy into a clear political vision that supports a peaceful transition to a democratic system of rule that reflects the demands of the Syrian people for freedom.
    26. If there is a spot where you have a dictatorship, where people are not free, people are not satisfied, they do not find food and shelter, they are under the poverty level, this is a dangerous spot for the whole world, because those people will move, and they will move to different places. They will be carrying bad feelings towards others.
    27. When I say, ‘I am supporting the police or the army,’ I am talking about the army in general and the police in general. In general, those institutions are good institutions.
    28. I know about technology, about research, scientific applications, culture, civilization, differences between nations of the world, the nature of history.
    29. The most important thing for me is to have a real friendship between Egyptians and Americans.

Mudah-mudahan kutipan-kutipan di atas membantu memahami secara proporsional pandangan Mursi RA dalam berbagai bidang. Insyaallah beliau wafat sebagai seorang syahid: allhummanagfir lahu warhamhu wa’afi’hu wa’fu ‘anhu…..@

Berhalusinasi: Belajar Tauhid dari Rumi

Judul ini sekilas tampak aneh karena Rumi tidak dikenal sebagai ahli tauhid. Secara populer ia dikenal– di Timur maupun di Barat (yang ternyata lumayan banyak “pemujanya”)– sebagai penyair, tepatnya penyair sufistik. Kesan eneh muncul karena kebanyakan kita mengabaikan fakta historis bahwa sebelum menjadi penyair ia adalah seorang ulama besar-masyhur bahkan ketika usianya masih sangat muda[1].

Tidak berlebihan jika dikatakan karya-karya puitis Rumi merefleksikan keyakinan tauhid seorang ulama besar yang kokoh tetapi dinyatakan secara khas. Kekhasan inilah yang membuat karyanya dapat diterima oleh kalangan ulama tradisional yang cenderung mencurigai ajaran-ajaran sufistik.

Kekhasan itu juga yang agaknya membuat ia populer bahkan di kalangan non-Muslim, termasuk kalangan Barat-Nasrani kontemporer, paling tidak di kalangan intelektual. Yang terakhir ini mungkin salah satu “pahala” terbesar Rumi. Kenapa? Karena karya Rumi– sampai taraf tertentu– memainkan peran penting dalam menepis kesalahpahaman Barat terhadap ajaran Islam, khususnya di kalangan masyarakat awam Barat.

Tulisan ini mengulas secara singkat salah satu karya Rumi yang sarat dengan ajaran Tauhid yaitu “Kita Bertiga”. Aspek ajaran terkait dengan tema keabadian jiwa– atau kehidupan akhirat– yang mungkin bersifat universal yang diakui oleh semua agama yang dikenal manusia.

Sumber Gambar: Google

Ajaran mengenai kehidupan akhirat  layak terus-dibaca-ulang paling tidak karena dua alasan: (1) ajarannya paling sulit ditransformasikan menjadi kesadaran kongkret dalam arti menentukan sikap dan perilaku hidup sehari-hari, dan (2) dalam banyak kesempatan Al-Quran “meringkas” perinsip keimanan menjadi hanya dua yaitu percaya kepada Rabb SWT dan ada hari akhir[2].

Untuk menjelaskan ajaran ini Rumi mengajak pembaca untuk merefleksikan pengalaman langsung siklus hidup kita masing-masing mulai dari embrio. Jadi, argumennya bersifat eksistensial[3], suatu pendekatan yang dapat diterima secara universal. Pendekatan ini jelas berbeda dengan pendekatan umum para ulama tradisional yang umumnya mempercayakan diri pada dalil naqliyah (berbasis teks suci) maupun metode para mutakallimin yang cenderung mengandalkan dalil aqliyah (berbasis akal).

Untuk memperoleh gambaran lengkap isi puisi Rumi yang berjudul “Kita Bertiga” ini berikut disajikan terjemahan bebas penulis. Terjemahan ini tidak berasal dari karya Rumu melainkan dari terjemahan karya Espada[4]. Tokoh ini adalah satu dari sekian banyak “pengagum” Rumi .

 

Terjemahan

Kita Bertiga

 

Sedikit demi sedikit, sapihlah dirimu.

 

Ini adalah inti dari apa yang saya katakan.

 

Dari embrio, yang makanannya masuk dalam darah,

menjadi bayi peminum susu,

menjadi seorang anak dengan makanan padat,

menjadi pengejar kebijaksanaan,

menjadi pemburu permainan yang lebih tak-kasat-mata.

 

Pikirkan bagaimana melakukan percakapan dengan embrio.

 

Anda mungkin berkata, “Dunia di luar sangat luas dan rumit.

Ada ladang gandum dan gunung terbentang, dan kebun mekar.

Di malam hari ada jutaan galaksi, dan di bawah sinar matahari

keindahan teman-teman yang menari di pesta pernikahan.”

 

Anda bertanya kepada embrio kenapa tinggal diam-diam

di kegelapan dengan mata tertutup.

 

Dengarkan jawabannya:

 

Tidak ada “dunia lain”

Saya hanya tahu apa yang saya alami

Anda pasti berhalusinasi.

 

Teks Inggris:

We Are Three

 

Little by little, wean yourself.

 

This is the gist of what I have to say.

 

From an embryo, whose nourishment comes in the blood,

move to an infant drinking milk,

to a child on solid food,

to a searcher after wisdom,

to a hunter of more invisible game.

 

Think of how it is to have a conversation with an embryo.

You might say, “The world outside is vast and intricate.

There are wheat field and mountain passes, and orchards in bloom.

 

At night there are millions of galaxies and in sunlight

the beauty of friends dancing at a wedding.”

 

You ask the embryo who he, or she, stays copped up

at the dark with eyes closed.

 

Listen to the answer.

 

There is no “other world”

I only know what I’ve experienced

You must be hallucinating.

 

 

[1] Tulisan mengenai Rumi dapat diakses di sini.

[2] Lihat QS (2: 232,234), QS (3:114), QS (4:39,162), QS (9:45,99), QS (58:22), QS (65:2).

[3] Eksistenssiali: kemampuan mengenal  dan  memaknai  diri sendiri  untuk kemudian menentukan  apa  yang  akan  dilakukan  dengan  memilih  di  antara  berbagai  kemungkinan yang terbuka sebagai ungkapan keberadaannya (diri sendiri) sebagai manusia.

[4]  “My Favorite Rumi: selected by Jason Espada (200:65). Rujukan mengenai karya-kara Espada dapat diakses di sini.