Lebaran dan Megengen

Sumber Gambar: Google

Rasanya baru kemarin menyambut sekarang harus melepaskan Ramadhan: “Selamat Jalan Bulan Suci!”. Umat Islam menyambut Lebaran dengan penuh sukacita, mungkin lebih intens dari ketika menyambut kedatangan bulan suci itu. Perasaan semacam itu– “baru kemarin”– agaknya yang akan dialami Anak Adam ketika menyambut datangnya kiamat. Ketika itu mereka mersakan hidup di dunia masih berlangsung kemarin sore atau kemarin pagi yang lalu– ‘asyiyyataan au duhaha” (QS 79:46).

Penulis bersyukur antara lain karena Ramadhan kali ini berlalu tanpa gangguan kesehatan berarti: dua ampul obat sakit kepala ringan yang disiapkan menjelang puasa habis tidak tersisa, tetapi bukan oleh penulis yang tidak sempat menyentuhnya. Bagi yang sudah berkepala-6 ini “prestasi” atau berkah luar biasa. Pertanyaannya, apakah itu bersifat kauisistis atau secara umum berlaku bahwa puasa membawa berkah kesehatan? Ini mungkin pertanyaan riset yang perlu digarap secara profesional. Hipotesis Nolnya (Ho) mungkin begini: “Jumlah frekuensi kunjungan ke dokter atau prasarana pelayanan kesehatan pada Ramadhan (=VR) dan Syawal (=VS) sama saja”.

Tetangga penulis yang berprofesi di bidang medis di suatu rumah sakit besar cerita yang pada intinya menolak Ho di atas; dia “merasa” VS>VR. Sayangnya dia bukan orang statistik yang cenderung menggunakan “perasaan” ketimbang “pikiran jernih” sehingga penilaiannya kurang dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah.

Puasa tentu saja bukan hanya soal makan-minum. Bagi yang berpendapat sebaliknya patut diduga tidak memahamai makna dari tradisi Jawa yang disebut megengen. Kata ini berarti menahan dalam arti luas; jadi, bisa megeng nafas, megeng makan-minum, megeng ngomongin orang, megeng ngotot tanpa dasar-rasional, megeng dorongan syahwat  megalomania, megeng Selfi, megeng sebar hoax, dan sebagainya, dan seterusnya.

“Menahan” diri semacam itu yang Bahasa Aranbnya imsak dan itulah arti Puasa yang merupakan bagian dari ritual keagamaan bagi Umat.

Beyond ritual keagamaan, puasa adalah wahana pendidikan (Arab: tarbiyyah) yang dirancang Rab SWT bagi Umat untuk melakoni proses pemurnian nafs (Arab: tazkiyah an-nafs).

Pribadi-pribadi yang memiliki nafs murni (Arab: nafsul muthmainnah) inilah yang diinginkan dari alumni tarbiyah model Rabb SWT ini; merekalah yang layak berlebaran dalam arti “kembali ke fitrah”.

Wallahualam.

Penulis merasa jauh dari kelayakan itu. Bagi pembaca yang merasa beda-beda-tipis dari penulis tidak perlu terlalu berkecil-hati karena, seperti nasihat Rumi (berbagai sumber):

Jika hanya mampu merangkak, merangkaklah kepada-Nya … Jika belum mampu berdoa secara khusyuk, tetaplah persembahkan doamu yang kering, munafik dan tanpa keyakinan itu, karena Tuhan dengan rahmat-Nya akan tetap menerima uang palsumu!…

Kembali ke mengengen. Banyak yang mengartikan istilah ini dengen “meng-ageng-egeng“: membesarkan atau menyambut dengan besar-besaran dengan suka-cita datangnya Bulan Ramadhan. Ruar biasa! Ini sejalan dengan salah satu Hadits yang menganjurkan menyambut bulan suci ini dengan penuh sukacita. Konon yang menginisiasi tradisi megengen adalah Sunan Kali jaga rohimahullah. Pantes!

Selamat Lebaran bagi yang merayakan. Ied Mubarrak, tawqbbalallhu minal ‘aidin-al-waifidzin, maaf lahir-batin….@

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com