Karakter Nabi SAW yang Paradoksal

Kata orang bijak, untuk mencintai sesuatu atau seseorang dengan benar, kita harus mengenal karakternya secara benar pula. Hal ini juga agaknya berlaku dalam kasus mencintai Nabi SAW.

Melalui bacaan sejarah Nabi SAW yang cermat (atau obyektif), kita dapat menemukan beberapa karakter beliau– yang bagi ukuran normal– paradoks dalam kaitannya dengan kedudukannya sebagai Nabi atau Rasul. Berikut ini beberapa contoh kasus:

Pendiam

Walaupun Nabi SAW tugas utamanya adalah menyampaikan risalah Islam, beliau ternyata lebih dikenal sebagai sosok yang tidak banyak bicara atau pendiam. Sikap pendiam ini justru membuat perkataannya (yang jarang) atau perbuatannya (yang sederhana) sangat berkesan bagi siapa pun yang melakukan kontak dengan beliau, langsung maupun tidak langsung.

Pendengar yang baik

Terkait dengan tugasnya sebagai Rasulullah, Nabi SAW jelas harus banyak berbicara; walaupun demikian, beliau lebih masyhur sebagai pendengar yang baik. Sikap beliau ketika mendengarkan para sahabatnya berbicara, oleh Rumi digambarkan (secara jenaka tetapi kena) sebagai orang yang di dikepalanya bertengger seekor burung (takut bergerak karena khawatir mengusir si burung).

Dengan memosisikan sebagai pendengar yang baik Nabi SAW justru “belajar” bagaimana bersikap, bertindak dan berujar secara efektif dan efisien. Yang terakhir ini istilah Al-Qurannya adalah qaulan sadida (QS 4:9, 33:70) atau qaulan layyina (QS 20:44). Istilah pertama kira-kira berarti tutur kata yang benar, sedangkan yang kedua kata-kata yang lemah lembut, atau “diplomatis” yang tanpa mengaburkan apalagi mengorbankan kebenaran.

Memilih bacaan pendek

Nabi SAW adalah penghafal Al-Quran terbaik serta paling memahami kandungan kitab suci itu. Tetapi ketika mengimami Salat beliau lebih sering memilih Surat-surat pendek dan mudah dibaca. Diriwayatkan beliau menegur keras seorang sahabat yang ketika mengimami Salat membacakan Surat panjang (sehingga diadukan kepada Nabi SAW).

Sikap ini agaknya “dibentuk” Rabb SWT melalui QS (73:20):”… maka bacalah yang mudah (bagimu) dari Al-Quran”. Wallahu’alam bimuradih.

Memahami dan Memaafkan

Nabi SAW jelas paling mengetahui pesan Islam tetapi beliau cenderung lebih bersikap “memahami” dan “memaafkan”, ketimbang mengadili atau memberikan penilaian, apalagi “menghujat” atau “melaknat”.

Sikap ini agaknya “dibentuk” oleh QS (88: 25-26):

“Sesungguhnya, kepada Kamilah mereka kembali, kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kamilah membuat perhitungan atas mereka”. Atau (QS 73):

“Dan bersabarlah (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik”. Wallahu’alam bimuradih.

Sadar Lingkungan

Nabi SAW paling khusyuk dalam Salat. Walaupun demikian, beliau mempercepat Salat ketika mendengar tangisan seorang anak (yang agaknya ikut ibunya ke masjid). Demikian cepatnya Salat ketika itu sehingga beberapa sahabat mempertanyakannya. Beliau hanya menjawab singkat kira-kira begini: “Apa kalian tidak mendengar ada anak yang menangis”. Agaknya Nabi SAW ingin mengajarkan bahwa khusyuk dalam Salat tidak berarti mengabaikan lingkungan.

Jauh dari ego-sentris

Nabi SAW sangat menyadari kalau perkataan, perbuatan dan sikapnya sangat dihargai oleh para sahabat. Walaupun demikian, beliau melarang sahabat untuk mencatat perkataan, perbuatan dan sikap beliau; alasannya, khawatir “tercampur” dengan catatan wahyu. (Tradisi pencatatan Hadits baru dimulai pasca kekhalifahan Ali RA, ketika Umat Islam mengalami dua fitnah besar: terbunuhnya Ali RA dan anaknya Husain RA.)

Sikap “ekstra” hati-hati ini agaknya terbangun karena adanya ancaman Rabb SWT yang luar biasa menakutkan melalui QS (69:44-47):

Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) kami, pasti Kami pegang tagan kananya. Kemudian Kami potong pembuluh jantungnya. Maka tidak seorang pun dar kamu yang dapat menghalangi (Kami untuk menghukumnya)”.

Wallahualam bimuradih.

Dari beberapa kasus di atas terlihat pengaruh Al-Quran terhadap pembentukan karakter Nabi SAW. Itulah agaknya sebabnya Ummul mukminin, Aisyah RA, mendeskripsikan secara sangat padat bahwa akhlak Nabi SAW adalah Al-Quran.

Wallahualam….@

Sumber Gambar: Pinterest