Mengingat Hari Alastu

Kalau ada hari yang harus diingat, maka itu adalah Hari Alastu. Kalau ada kewajiban yang harus ditunaikan, maka itu adalah implementasi prinsip dan nilai yang terkandung dalam momen yang terjadi pada Hari itu dalam kehidupan sehari-hari. Kalau ada larangan yang harus dijauhi, maka itu adalah hilangnya ingatan pada Hari itu. Kalau ada kesetiaan yang harus dijunjung tinggi, maka itu adalah konsistensi pada prinsip dan nilai Hari itu. Kalau ada filsafat pendidikan yang perlu diacu, maka substansinya adalah pengenalan dan penguatan ingatan peserta-didik pada Hari Alstu itu.

Demikianlah arti penting Hari Alastu.

Karena demikian penting maka seluruh misi kenabian– sejak Adam AS sampai Muhammad SAW–  dapat dikatakan terkait dengan prinsip dan nilai Hari Alstu itu. Misi mereka, jika harus dirumuskan secara padat, kira-kira begini: menyampaikan kabar gembira akan pahala bagi yang konsisten dengan prinsip dan nilai Hari Alastu, dan memberikan peringatan akan kerasnya siksa balasan bagi yang mencederai prinsip dan nilai Hari itu. Dalam hal konteks ini misi Nabi SAW agaknya plus ini: memberikan keteladanan bagaimana menerapkan prinsip dan nilai Hari Alstu itu dalam dunia nyata.

Jadi, apa Hari Alstu itu?

Hari Alastu tidak lain dari hari ketika semua Anak Adam (baca: manusia, tanpa kecuali) memberikan kesaksian dan membuat perjanjian dengan Rabb SWT, Rabb mereka. Perjanjian dan kesaksian ini diabadikan dalam QS (7:172):

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan menera dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), Bukankah Aku ini Tuhanmu?” (Teks: Alastu birabbikum.) Mereka menjawab, “Betul, Engkau Tuhan kami), kami bersaksi…

Ingatan pada Hari Kesaksian dan Perjanjian purba itu terpatri dalam lubuk-hati-paling-dalam setiap manusia. Tetapi kita memiliki bakat kuat untuk menjadi pelupa. Itulah sebabnya dalam Islam ada ibdah Salat “untuk meningat-Ku” (QS 20:14), kata Rabb SWT. (Anjuran untuk banyak berzikir perlu dilihat dalam monteks ini.)

Menurut banyak sufi, ingatan pada Hari Alastu berbentuk cahaya, Cahaya Ilahi, yang akan tetap menyala (sekalipun redup) dalam sanubari manusia. Fungsi celahaya ini adalah pengerak inteligensi, kehendak dan hati:

  • Penggerak inteligensi para pencari kebenaran (veracity) termasuk para filsuf, sufi dan ilmuan. Catatannya, tanpa bimbingan “langit”, mereka rentan terhadap penyakit BangEgo: bangga diri (pride) dan egosentris (self-centered); juga terhadap sedotan labirin-gelap-tanpa ujung, tanpa kejelasan manfaat bagi kemanusiaan.
  • Pnggerak kehendak para pejuang kebajikan (virtue).  Catatannya, tanpa bimbingan “langit”, perbuatan baik rentan terhadap serangan penyakit BangEgo yang merusak.
  • Penggerak hati para pencinta keindahan (beauty), termasuk para petualang cinta sufistik yang lebih meminati hubungan vertikal dengan Rabb SWT. Catatanya, tanpa bimbingan Rasul SAW, mereka dapat cenderung mengabaikan urusan hubungan horizontal antar-sesama, urusan kekhalifahan “memakmurkan bumi” dan urusan sosial “menyejahterakan manusia”, urusan-urusan yang sentral dalam risalah Muhammad SAW.

Yang terakhir ini cenderung tenggelam dalam keindahan-Nya dalam berbagai cara: kontemplasi (zikir), meditasi (tafakur), pendalaman teks suci, dan pengamatan “ayat” alamiah.

Cahaya ilahi juga dapat dilihat sebagai  sumber energi bagi inteligensi, kehendak dan hati manusia untuk berfungsi sesuai dengan wilayah kerja masing-masing: mengetahui Rabb SWT atau Absolut, bertindak sejalan dengan pengetahuan itu, dan melakukannya sesempurna dan seindah mungkin..

*******

Bagi Muslim, kesadaran Hari Alastu itu dalam (deep), mendalam (profound), dan berdampak jauh (far reaching impact). Kesadaran itulah yang mengalasi peradaban mereka, melatari perilaku kehidupan sehari-hari, dan mendasari konsepsi mereka mengenai manusia, khususnya yang terkait dengan gagasan mengenai fithrah (fitra). Mengenai yang terakhir ini Tariq Ramadan mengatakannya begini:

The original testimony is of the fundamental importance for the formation of the Islamic conception of humanity. … the human being has within it an almost instinctive longing for a dimension that is “beyond”. This idea of fitra, which has given rise to numerous exegetical, mystical, and philosophical commentaries, so central is it to the Islamic conception of human being, faith and sacred[1]

Wallahualam…. @

[1] Tariq Ramadan (2004:16), Western Muslim and the Future Islam. Oxford University Press.