Haji: Seruan Ibrahim AS yang Efektif

Dalam hitungan minggu, jutaan orang Muslim akan menyelenggarakan haji, ibadah yang merupakan Prinsip atau Rukun Islam yang kelima atau terakhir. Jika Rukun Islam ke-1 terkait dengan kesaksian Keesaan Tuhan atau prinsip tauhid, maka Rukun Islam ke-5 dengan afirmasi atau peneguhan prinsip tauhid ini yang dilakukan secara kolosal.

Sumber Gambar: English-arabiya.net

Haji dapat dikatakan sebagai upacara keagamaan terbesar kedua setelah Kumbha Mela bagi Umat Hindu yang dapat dihadiri sampai 60 juta orang. Tetapi keduanya sangat berbeda dalam hal semangat, latar belakang teologis dan acara utamanya[1].

Prinsip tauhid dalam haji tercermin dari bacaan talbiyah. Bacaan ini dilantunkan sebagai bentuk ikrar keikhlasan melakukan haji hanya untuk-Nya. Jamaah melakukan ini berulang kali begitu mereka mengenakan pakaian ihram[1], pakaian yang menyimbolkan upaya menyucikan diri dari hal-hal yang bersifat duniawi. Berikut ini adalah teks talbiyah yang dimaksud berdasarkan Hadits Riwayat Bukhari-Muslim:

labbaika/allhumma/labbaika/

labbaika/Lasyarika laka/labbaika/

innal hamda/ wanni’mata/walmulk/ 

la syarika laka/

Dari teks itu paling tidak ada tiga catatan yang layak digarisbawahi.:

  1. Allah SWT diposisikan sebagai lawan bicara (Arab: mukhatabah) yang mengesankan kedekatan-Nya dengan pembicara. Posisi ini ditunjukkan oleh kata ka atau laka.
  2. Prinsip tauhid terungkap dalam kata La Sharika Laka (artinya: “tidak ada sekutu bagi-Mu) yang diulang sampai dua kali.
  3. Teks itu dilafalkan  sepanjang rute dan waktu yang relatif sama, secara kolosal oleh jutaan orang.

Tetapi berapa juta?

Total jamaah haji tahun ini secara global diperkirakan berjumlah sekitar 2.3 juta orang. Jumlah itu kira-kira setara dengan total penduduk Kabupaten Karawang, atau Kabupaten Cirebon, atau Qatar, atau dua kali Bahrain.

Mengurus orang sebanyak itu jelas memerlukan operasi logistik yang luar biasa, unparalled logistical operation, menurut istilah Arab News (http://www.arabnoews.com). Menurut sumber ini, dalam haji tahun lalu (2018) Kementerian Kesehatan Arab Saudi telah mengerahkan sekitar 30,000 tenaga medis. Pada saat yang sama Palang Merah kerajaan ini telah mengoperasikan 127 pusat gawat darurat, dan hampir 2,000 staf.

Jamaah haji datang dari berbagai penjuru dunia. Yang terbanyak adalah jamaah tuan rumah yang totalnya diperkirakan mencapai 600,000 orang. Di luar jamaah tuan rumah, jamaah Indonesia paling banyak, sekitar 10% dari angka total. Totalnya setara dengan 2.0 kali total jamah Mesir, 2.6  kali total jamaah Iran, dan 2.8 kali total jamaah Turki (lihat Grafik 1).

Grafik 1: Jumlah Jamaah Haji 2017 dari 10 Negara Terpilih

Sumber: Ini

Sekalipun penyuplai jamaah haji terbesar (setelah tuan rumah) Indonesia secara proporsional bukanlah “negara haji”. Menurut PEW Research Center, proporsi penduduk Indonesia yang mengaku pernah haji hanya 3%. Angka ini relatif kecil, lebih kecil dari rata-rata proporsi Asia Tenggara (lihat Grafik 2).

Grafik 2: Proporsi Penduduk yang mengaku Pernah Haji

Sumber: Ini 

Kedatangan jamaah haji dari berbagai penjuru dunia merupakan tanggapan terhadap seruan yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim AS sekitar empat milenium lalu[2]. Secara misterius pengumuman itu sampai ke “hati” Umat Islam sampai sekarang dengan kecepatan penerimaan yang semakin meningkat: jumlah jamaah haji cenderung meningkat dan mungkin sudah maksimal dari sisi implikasi logistiknya. Seruan itu diabadikan dalam Al-Quran:

dan serulah manusia untuk mengerjakan Haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh (QS 22:27).

Seruan ini sangat efektif. Buktinya, tahun ini saja lebih 2 juta Umat Islam menanggapinya. Dari berbagai penjuru. Dari semua lapisan sosek masyarakat. Tidak semua jamaah mampu menanggapi undangan ini secara mudah. Sebut saja kasus seorang jamaah Indonesia tahun ini dilaporkan seorang nenek yang berprofesi sebagai penjual kayu bakar dan menabung selama 20 tahun. Kasus ini juga menyajikan kasus betapa efektifnya sruan Nabi Ibrahim SAW itu.

Wallahualam….@

[1] Kumbha Mela adalah suatu upacara ritual ziarah Umat Hidu di India setiap 12 tahun di empat lokasi di India: Allahabad (Prayag), Haridwar, Ujjain dam Nashik. Upacara ini didasarkan pada teologi Hindu– tepatnya mitologi Hindu– dan acara utamanya adalah mandi di tepi sungai (lihat ini).

[2] Angka ini mengasumsikan bahwa pengumuman itu disampaikan ketika Ibrahim AS dan Ismail AS memugar bangunan Kabah dan itu terjadi antara 2069 dan 2024 Sebelum Masehi (Lihat Dr. Jerald F. Dirk (2002), Ibrahim Sang Sahabat Tuhan, Serambi, Tabel 1).

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Visi Indonesia Jokowi: Beberapa Catatan

Beberapa hari yang lalu (14/7/19 malam) Presiden Jokowi menyampaikan pidato pertamanya sebagai presiden terpilih Pilpres 2019 di Sentul International Convention Center (SICC) Bogor. Tulisan ini menyajikan beberapa catatan singkat mengenai pidatonya yang padat dan terfokus itu.

Dari “Kerja!” menjadi “Cepat!”

Durasi pidato itu sangat singkat, sekitar 25 menit. Isinya padat dan terfokus. Fokusnya, bukan pada apa yang menjadi visi beliau, melainkan pada misi bagaimana pembangunan pembangunan Jilid II akan dieksekusi. [Visinya agaknya dianggap sudah jelas dengan sendirinya.]

Berbeda dengan pidatonya lima tahun sebelumnya (Jilid I) yang banyak mengetengahkan aspek-aspek normatif (misalnya, revolusi mental), pidato kali ini (Jilid II) lebih bersifat pragmatis. Pengalaman Jilid I agaknya menguatkan kepercayaan diri dan determinasi beliau untuk membuka Jilid II. Lebih dari itu, jalau moto Jilid I “Kerja, Kerja, Kerja!”, maka moto Jilid II kira-kira “Cepat, Cepat, Cepat!”. Jadi, ada perbedaan aksentuasi.

Isi Pidato

Ada lima butir pokok pikiran yang disampaikan dalam pidato itu: (1) melanjutkan infrastruktur, (2) menekankan pembangunan SDM, (3) meningkatkan investasi, (4) melanjutkan reformasi birokrasi, dan (5) Memastikan penggunaan APBN yang tepat sasaran. [Penggunaan awalan me dalam rumusan di atas menegaskan bahwa isi pidato terkait dengan misi atau objectives, bukan visi atau goals.] Di luar lima butir ini,  pidato juga menyinggung pentingnya stabilitas politik sebagai prasyarat tercapainya sasaran pembangunan, dengan menekankan arti sentral Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa.

Pembaca yang sudah “sepuh” dapat melihat keterfokusan pidato itu kira-kira setara dengan keterfokusan rumusan Pelita I (1969-1973/4) yang hanya mencakup tiga isu:

  1. Memberikan bibit unggul kepada petani dan melakukan beberapa eksperimen untuk mendapatkan bibit unggul yang tahan hama tersebut.
  2. Memperbaiki infrastruktur yang digunakan oleh sektor pertanian seperti jalan raya, sarana irigasi sawah dan pasar yang menjadi tempat dijualnya hasil pertanian.
  3. Melakukan transmigrasi agar lahan yang berada di Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua dapat diolah agar menjadi lahan yang menghasilkan bagi perekonomian.

Kembali kepada Pidato Presiden.

Karena padat dan terfokus maka isi pidato mudah dicerna oleh kalangan luas, mulai dari emak-emak hingga kalangan peneliti dan akademisi. Walaupun padat dan terfokus, isi pidato secara keseluruhan sudah memadai sebagai policy direction bagi para calon pembantu Presiden, paling tidak untuk beberapa kementrian atau lembaga. Itulah kekuatan dari pidato itu: “Arahnya harus ke sana, fokusnya harus ke sana”, kata Presiden. Tapi kita punya tiga catatan lainnya, catatan kritis.

Isu Pemerataan

Isi pidato dapat diringkas ke tiga kata: pertumbuhan (1 dan 3), SDM (2) dan efisiensi (4 dan 5). Catatan yang layak dikemukakan adalah bahwa isi pidato tidak menyebutkan isu HAM. Kita berprasangka baik saja: hal ini bukan berarti beliau mengabaikan isu HAM, tetapi karena keterbatasan waktu dan ketepatan forum yang menghadiri pidato itu.

Isu pidato juga tidak menyebutkan secara eksplisit isu ketimpangan sosial-ekonomi atau isu pemerataan. Dalam hal ini kita juga berprasangka baik saja: ini karena keterbatasan waktu dan ketepatan forum semata.

Yang pasti ini: isu pemerataan sangat rumit dan kompleks. Demikian rumit dan kompleksnya sehingga dulu, di era Repelita III (1977-1984), isu ini menjadi isu utama kebijakan pembangunan yang dirumuskan secara eksplisit dalam dokumen perencanaan. Ketika itulah dikenal istilah delapan jalur pemerataan yang mencakup:

  1. Pemerataan kebutuhan pokok rakyat, terutama pangan, sandang, dan perumahan.
  2. Pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, pelayanan kesehatan.
  3. Pemerataan pembagian pendapatan.
  4. Pemerataan perluasan kesempatan kerja.
  5. Pemerataan usaha, khususnya bagi golongan ekonomi lemah.
  6. Pemerataan kesempatan berpartisipasi, khususnya bagi generasi muda dan kaum wanita.
  7. Pemerataan pembangunan antar daerah.
  8. Pemerataan kesempatan memperoleh keadilan.

Bahwa isu pemerataan ini rumit dan kompleks dapat dilihat dari dua reasoning berikut: (1) secara teoretis dan empiris terbukti bahwa antara pertumbuhan (ekonomi) dan pemerataan tidak ada hubungan otomatis, dan (2) keberhasilan pembangunan global melalui MDG (2000-15) dalam menekan angka kemiskinan terpaksa harus disertai catatan serius mengenai kegagalan global dalam menangani isu ketimpangan.

Komponen Manusia

Seperti disinggung sebelumnya, pidato memberikan fokus pada isu SDM. Ini tentu perlu disambut baik. Catatannya di sini adalah “jebakan halus” yang perlu diwaspadai. Ini soalnya. By definition, konsep SDM menempatkan manusia sebagai “komponen” pembangunan yang merupakan bagian dari strategi pertumbuhan. Ini bagus tetapi tidak cukup bagus dilihat dalam perspektif model pembangunan manusia (human development).

Seperti ditegaskan UNDP hampir dua dekade yang lalu, model pembangunan ini menempatkan manusia sebagai sasaran akhir (ultimate ends) pembangunan, bukan sekadar komponennya. Model ini juga menekankan manusia sebagai subyek atau pelaku (aktor) pembangunan, bukan hanya obyek atau sasaran. Model ini juga mengingatkan kita mengenai pentingnya pembangunan watak (character building) manusia dalam kedudukannya sebagai subyek pembangunan.

Pentingnya aspek watak ini dapat diilustrasikan dalam kasus smart city yang by concept jelas sangat cemerlang karena dapat mempermudah akses bagi masyarakat untuk memperoleh pelayanan publik. Pertanyaannya adalah bagaimana konsep ini dapat direalisasikan jika, misalnya, watak para pejabat publik pelaksana konsep in dikendalikan oleh syahwat kekuasaan dan kekayaan.

Belenggu Short-termism

Seperti disinggung sebelumnya, isi pidato memberikan aksentuasi yang kuat pada isu pertumbuhan. Agaknya tidak ada yang meragukan pentingnya isu ini bagi kesejahteraan rakyat. Dalam bahasa UNDP, pertumbuhan adalah sarana utama (principal means) bagi pembangunan manusia. Tapi di sini juga ada “jebakan halus”: semangat berlebihan pada aspek pertumbuhan dapat membuat kita terbelenggu dalam rencana jangka pendek, tanpa visi jauh ke depan. Inilah potensi penyakit sistem demokrasi yang menawarkan siklus kepemimpinan publik hanya 4-6 tahun.

…. semangat berlebihan pada aspek pertumbuhan dapat membuat kita terbelenggu dalam rencana jangka pendek, tanpa visi jauh ke depan.

Belenggu ini dikenal dengan istilah short-termism, suatu isme yang memberikan fokus berlebihan pada hasil jangka pendek dengan mengorbankan kepentingan jangka panjang, isme yang cocok dengan mentalitas inversor sebagaimana tersirat dalam kutipan berikut:

Short-termism refers to an excessive focus on short-term results at the expense of long-term interests. Short-term performance pressures on investors can result in an excessive focus on their parts on quarterly earnings, with less attention paid to strategy, fundamentals and long-term value creation.

Karena belenggu short-termism ini maka isu-isu jangka panjang (yang juga tidak disingung dalam pidato) seperti pemanasan global, perubahan iklim dan erosi garis pantai[1] tampak jauh, buram dan bahkan tidak relevan. Itulah sebabnya demokrasi dituduh merampas hak-hak konstitusional generasi mendatang.

Sumber Gambar: Google

Karena tuduhan ini negara bagian Wales menunjuk  Future Generations Commissioner (Komisioner Generasi Mendatang) (Sophie Howe) sebagai bagian dari Well-being for Future Generation Act (2005). Karena alasan yang sama di Jepang timbul gerakan Future Design (Racangan Mendatang) yang menargetkan terbentuknya Ministry of the Future [2].

*****

Sekalipun tidak disinggung dalam pidatonya, penulis berprasangka baik bahwa ketiga catatan terakhir ini– isu pemerataan, komponen manusia, dan bahaya short-termism— sudah menjadi bagian dari visi Presiden. Penulis juga berprasangka baik ketiganya dipahami oleh beliau, bukan sekadar suatu sektor pembangunan, melainkan sebagai mainstream yang menjiwai kebijakan beliau dalam menyopiri pembangunan Indonesia lima tahun mendatang. Penulis yakin Presiden tidak hanya concern mengenai kuantitas pertumbuhan, tetapi juga kualitasnya. Semoga saja demikian….@

[1] Mengenai perubahan iklim lihat ini; untuk erosi garis pantai lihat ini.

[2] Lihat ini

Erosi Garis Pantai Indonesia

Garis pantai (shoreline) dapat menyempit karena erosi dan meluas karena akresi. Erosi dan akresi adalah dua istilah teknis ilmu bumi yang terlalu kompleks untuk dipaparkan secara memadai dalam tulisan singkat ini[1]. Yang  jelas, kedua  istilah ini dalam tulisan ini diterpkan dalam konteks garis pantai dan sederhananya dapat dilihat sebagai faktor alamiah yang menyebabkan perubahan garis pantai.

Tetapi apa relevansi erosi atau akresi bagiku? Ini jawabannya kalau Anda orang Indonesia: (1) Indonesia adalah negara kepulauan sehingga rentan terpapar erosi, dan (2) orang Indonesia– sebagaimana orang rest of the world— dirancang untuk hidup di daratan, bukan di lautan. Lebih dari itu, ada bukti empiris yang menunjuk jari: negara kepulauan ini mengalami erosi dalam skala yang menakutkan, paling tidak demikianlah menurut cita-rasa The Jakarta Post.

Tertanggal 7 Juli 2019 (03.15) Jakarta Post menerbitkan artikel berjudul “Indonesia has lost land equal to size of Jakarta in last 15 years“. Reaksi pertama penulis “apa iya”. Jadi penulis terdorong untuk mencermati angka-angka dalam terbitan itu dan lahirlah tulisan singkat ini.

Lebih Luas dari Kota Medan

Menurut artikel Jakrta Post itu, dalam 15 tahun Indonesia secara nasional telah kehilangan lahan sekitar 29,262 Ha. Angka “nasional” ini tidak termasuk wilayah erosi di enam provinsi: Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Maluku, Papua Barat, dan Papua. Di enam provinsi ini hasil pencitraan satelit dilaporkan tidak jelas.

Angka itu setara dengan 293 Km2. Jika angka ini dibandingkan dengan luas Jakarta yang menurut suatu laporan[2] sekitar 650 Km2, maka angka luas erosi nasional kira-kira setara dengan 45% luas Jakarta secara keseluruhan, bukan equal tosize of Jakarta sebagaimana diklaim Jakarta Post. Tetapi bagaimanapun angka itu mengisyaratkan besarnya masalah erosi di Indonesia.

Untuk “merasakan” besar masalah ini kita dapat membandingkan angka itu dengan luas wilayah secara keseluruahan beberapa kota lain. Hasilnya ini: dalam periode 2000-2014, kawasan yang terpapar erosi secara nasional dalam periode itu (=293 Km2) sedikit kurang luas dibandingkan keseluruhan wilayah Kota Kendari (296 Km2); tetapi sedikit lebih luas dibandingkan keseluruhan wilayah gabungan Jakarta Barat dan Jakrta Selatan (272 Km2), Kota Serang (267 Km2), atau Kota Medan (265 Km2)

….dalam periode 2000-14 kawasan yang terpapar erosi kurang luas dibandingkan keseluruhan wilayah Kendari; tapi lebih luas dibandingkan keseluruhan wilayah (Jakarta Barat + Jakarta Selatan), Serang, atau Medan.

Tebang Pilih

Erosi ternyata menerapkan kebijakan yang tebang pilih. Artinya, ia memiliki preferensi untuk menjarah wilayah-wilayah tertentu. Hal ini terlihat dari distribusi angka erosi nasional (minus 6 provinsi sebagaimana disinggung sebelumnya) yang tidak merata antar provisi sebagaimana diperlihatkan oleh Grafik 1.

Grafik 1: Luas Erosi dan Akresi Garis Pantai menurut Provinsi Hasil Pencitraan Satelit 2000 dan 2014 (Ha)

Sumber: Jakarta Post

Catatan: Angka-angka diperoleh sebagai hasil pencitraan satelit yang tidak mencakup enam provinsi: Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Jawa Timur dan Jawa Tengah

Pada grafik di atas tampak erosi cenderung lebih memilih kawasan Jawa dan Sulawesi. Grafik itu juga menyuguhkan tiga hal yang mencolok berikut ini:

  1. Jawa Tengah dan Jawa Timur menempati rangking pertama dan kedua dalam hal luasnya erosi. Luas erosi di dua provinsi ini masing-masing 5,600Ha (19% angka nasional) dan 4,400Ha (15% angka nasional). Dua provinsi ini memberikan sumbangan lebih dari sepertiga terhadap angka erosi nasional. [Jadi, selamat untuk Pak Ganjar dan Bu Khafifah!.]
  2. Dua provinsi ini juga menempati dua rangking teratas dalam hal akresi walaupun dengan urutan terbalik: dalam hal ini Jawa Timur (4,396 Ha) lebih unggul dari Jawa Tengah (2,171 Ha). [Selamat yang kedua kalinya untuk Bu Khafifah.]
  3. Berbeda dengan kebanyakan provinsi lain, angka akresi Jawa Timur jauh melampau angka erosi. [Selamat yang ketiga kalinya untuk Bu Khafifah.]

Tidak Tahu

Demikianlah cerita singkat mengenai erosi dan akresi di Indonesia. Pertanyaan: Apakah semua ini karena ulah manusia atau kehendak-Nya? Penulis tidak tahu jawabannya tapi setuju dengan ucapan Bunda Teresa ini (dikemukakan dalam konteks berbeda): “I don’t know what God is doing. He knows. We dont’t understand, but one thing I’m sure. He doesn’t make a mistake“.

Wallahualam….. @

[1] Bagi yang berminat mendalami dua istilah ini disarankan untuk merujuk ini untuk erosi dan ini untuk akresi.

[2] Semua angka luas wilayah kota dalam tulisan ini bersumber ini.

Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS

Setiap Jumat pagi HP penulis mengingatkan agar tidak lupa baca Surat Al-Kahfi (QS 18). Penulis tidak sepenuhnya memahami reasoning atau dalil keagamaan dari peringatan ini. Yang penulis sedikit paham, Surat ini berbicara mengenai tiga macam fitnah atau ujian hidup. Melalui tulisan singkat ini penulis ingin berbagai sedikit pemahamannya mengenai topik ini.

Fitnah kelebihan

Fitnah atau ujian hidup yang secara umum dipahami berbentuk ke-serba-kekurangan: kekurangan harta, kekurangan kekuasaan, kekurangan ilmu, atau kekurangan lainnya. Surat al-Kahfi mengingatkan ada cobaan lain yang berbentuk ke-serba-kelebihan. Surat ini juga menegaskan bahwa bentuk cobaan yang kedua ini tidak kalah beratnya dari yang pertama:

Ayat 22-43: kasus gagal ujian orang yang kelebihan harta; sebab kegagalan: sombong dan tidak-pandai-bersyukur. Kasusnya diwakili petani korma dan anggur di atas lahan luas dengan sumber air melimpah.

Ayat 83-94: kasus lulus ujian kelebihan kekuasaan; sebab kelulusan: rendah hati dan proporsional dalam penggunaan kekuasaan. Kasusnya diilustrasikan oleh Zulkarnain yang konon jendral paling hebat sepanjang sejarah.

Bagaimana dengan kasus kelebihan ilmu? Kasus ini diilustrasikan kisah Nabi Musa AS yang berguru kepada Nabi Khidir AS.

Nabi Khidir AS

Menurut riwayat, Nabi Musa AS diperintahkan berguru kepada Nabi Khidir karena “salah ucap” dengan mengatakan dirinya paling pintar. Nabi Musa AS ini pasti pintar karena semua nabi supra-pintar. Tetapi mengucapkan diri paling pintar mencerminkan ketinggian hati. Ucapan ini jelas tidak elok, apalagi bagi seorang nabi.

Tetapi siapa Nabi Khidir AS? Banyak spekulasi mengenai sosok ini. Yang jelas jika beliau seorang nabi maka itu di luar 25 nabi yang namanya tercantum dalam Al-Quran.

Ada spekulasi lain. Kata Khidir berasal dari kata hadhara yang artinya kira-kira menghijaukan. Jika ini diterapkan pada sifat seseorang maka orang itu memiliki kemampuan untuk menghijaukan dalam arti mencerahkan pikiran banyak orang. Sifat ini dapat dimiliki oleh banyak orang, di setiap zaman, di mana pun. Jelasnya, Khidir dalam pengertian ini  bukan merujuk pada seorang individu tertentu.

Analisis bahasa ini sesuai dengan kepercayaan umum bahwa Nabi Khidir sampai sekarang masih hidup (yang bagi kebanyakan tentu tidak sesuai dengan fitrah seorang manusia). Bacaan penulis terhadap Tafsir Al-Azhar Juz 15 mengesankan bahwa Buya Hamka cenderung pada pendapat ini.

Seperti disinggung sebelumnya, nama Khidir tidak tercantum dalam Al-Quran. Dalam kaitannya sebagai “guru” Nabi Musa AS, Al-Quran menyebutnya sebagai “seorang hamba dari hamba-hamba-Kami” (QS 18:65). [Jadi jangan anggap remeh gelar “hamba” yang mungkin terkesan kurang gereget.]

Ujian Luar Biasa

Oleh gurunya Nabi Musa AS sejak awal diingatkan bahwa beliau akan gagal ujian QS (18:67). Peringatan terbukti sebagaimana akan kita lihat.

musa

Sumber gambar: Geogle

Ujian yang diberikan sang guru sebenarnya sederhana: sabar untuk tidak bertanya atau berkomentar mengenai apa pun yang dilakukan sang guru sebelum dijelaskan. Nabi Musa AS berikrar menyanggupi syarat ini (QS 18:69) yang ternyata gagal, bukan sekali, tetapi sampai tiga kali. Dalam kegagalan pertama sang guru mengingatkan:

Dia berkata, “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?” (QS 18:72)

Peringatan yang sama dikatakan sang guru untuk pelanggaran kedua (ayat ke-75).

Menyadari kegagalan ini Nabi Musa AS menyatakan diri akan berhenti berguru jika melakukan kegagalan ketiga kalinya yang ternyata dialaminya. Akibatnya, ia “dipecat” sebagai “murid”:

Ayat 76: Dan (Musa) berkata, ‘Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, maka jangan lagi engkau memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya engkau sudah cukup (bersabar) menerima alasan dariku”.

Ayat 78: Dia berkata, “Inilah perpisahan antara aku dengan engkau, aku akan memberikan kejelasan kepadamu atas perbuatan yang engkau tidak mampu sabar terhadapnya.

Tiga Macam Ujian

Musa AS disuguhi  tiga macam yang semuanya luar biasa. Ujian pertama adalah menyaksikan ulah sang guru melubangi perahu yang ditumpangi mereka (ayat 71). Ulah guru ini jelas tidak masuk akal sehingga wajar jika Nabi Musa AS gagal menghadapinya tanpa berta nya.

Ujian kedua berupa tindakan sang guru membunuh seorang anak yang mereka temui (ayat 74). Tindakan ini jelas “kelewatan”  dalam ukuran normal sehingga Nabi Musa AS gagal lagi.

Ujian ketiga berupa tindakan sang guru memperbaiki dinding rumah yang hampir roboh di suatu kampung yang para penghuninya menolak memberikan makanan sekadarnya:

Ayat 77: Maka keduanya berjalan hingga ketika keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka berdua meminta dijamu oleh penduduknya, tetapi mereka (penduduk negeri itu) tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dinding rumah yang hampir roboh (di negeri itu), lalu dia menegakkannya. Dia (Musa) berkata, “Jika engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu”.

Kalimat terakhir ayat ini adalah bentuk pelanggaran ketiga yang menyebabkan Nabi Musa AS dipecat sebagai “murid”.

Rahasia Tindakan Khidir

Sesuai janji, sang guru menceritakan alasan tindakannya.

Ayat 79: Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut, aku bermaksud merusaknya karena di hadapan mereka seorang raja yang akan merampok setiap perahu.

Ayat 80: Dan adapun  anak muda (kafir) itu, kedua orang-tuanya mukmin, dan kami khawatir dia akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran.

Ayat 81: Kemudian kami menghendaki, sekiranya Tuhan mereka menggantinya dengan (seorang anak lain) yang lebih baik kesuciannya dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya).

Ayat 82: Dan adapun rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang saleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri, itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya.

Kalimat terakhir ini menegaskan bahwa tindakan sang guru, bukan dilakukan karena kemauan sendiri, melainkan perintah “Rabb-mu”.

Sumber Gambar: Pinterest

Dua Hikmah

Demikian kisah Nabi Musa AS dan Nabi Hidir AS. Kisah-kisah dalam Al-Quran jelas bukan dongeng  (fairytale) sekadar untuk hiburan, melainkan sarana pengajaran moral-spiritual yang perlu digali hikmahnya, khususnya oleh mereka diberi kelebihan ilmu.

Hemat penulis, hikmah itu paling tidak ada dua.

Pertama, fitnah atau cobaan hidup tidak hanya berbentuk serba-kekurangan tetapi juga serba-kelebihan. Dari tiga kasus yang dikemukakan, dua di antarnya berisi kegagalan. Jika hal ini dapat digeneralisasi maka dapat dikatakan bahwa peluang kegagalan karena kelebihan hanya sepertiga. Peluang lulus ujian bagi penguasa lebih besar ketimbang peluang lulus bagi hartawan maupun ilmuwan. Ini mungkin peringatan keras bagi hartawan dan ilmuwan; sekaligus kabar baik bagi penguasa atau pejabat publik. Kelompok ini berpeluang paling besar untuk– dalam bahasa Obama di tengah mahasiswa Al-Azhar– melayani masyarakat yang berarti pula tiket untuk menjadi “manusia terbaik” yang menurut Hadits didefinsikan sebagai orang “yang paling bermanfaat bagi sesama”.

Kedua, fitnah dapat berbentuk kecenderungan untuk overestimate atau menilai diri lebih dari yang sebenarnya atau megalomania dalam istilah psikologi; juga, kepicikan-diri yang cenderung underestimate mengenai ilmu Tuhan SWT yang luasnya tak-terbatas.

Wallahualam…@

Karakter Nabi SAW yang Paradoksal

Kata orang bijak, untuk mencintai sesuatu atau seseorang dengan benar, kita harus mengenal karakternya secara benar pula. Hal ini juga agaknya berlaku dalam kasus mencintai Nabi SAW.

Melalui bacaan sejarah Nabi SAW yang cermat (atau obyektif), kita dapat menemukan beberapa karakter beliau– yang bagi ukuran normal– paradoks dalam kaitannya dengan kedudukannya sebagai Nabi atau Rasul. Berikut ini beberapa contoh kasus:

Pendiam

Walaupun Nabi SAW tugas utamanya adalah menyampaikan risalah Islam, beliau ternyata lebih dikenal sebagai sosok yang tidak banyak bicara atau pendiam. Sikap pendiam ini justru membuat perkataannya (yang jarang) atau perbuatannya (yang sederhana) sangat berkesan bagi siapa pun yang melakukan kontak dengan beliau, langsung maupun tidak langsung.

Pendengar yang baik

Terkait dengan tugasnya sebagai Rasulullah, Nabi SAW jelas harus banyak berbicara; walaupun demikian, beliau lebih masyhur sebagai pendengar yang baik. Sikap beliau ketika mendengarkan para sahabatnya berbicara, oleh Rumi digambarkan (secara jenaka tetapi kena) sebagai orang yang di dikepalanya bertengger seekor burung (takut bergerak karena khawatir mengusir si burung).

Dengan memosisikan sebagai pendengar yang baik Nabi SAW justru “belajar” bagaimana bersikap, bertindak dan berujar secara efektif dan efisien. Yang terakhir ini istilah Al-Qurannya adalah qaulan sadida (QS 4:9, 33:70) atau qaulan layyina (QS 20:44). Istilah pertama kira-kira berarti tutur kata yang benar, sedangkan yang kedua kata-kata yang lemah lembut, atau “diplomatis” yang tanpa mengaburkan apalagi mengorbankan kebenaran.

Memilih bacaan pendek

Nabi SAW adalah penghafal Al-Quran terbaik serta paling memahami kandungan kitab suci itu. Tetapi ketika mengimami Salat beliau lebih sering memilih Surat-surat pendek dan mudah dibaca. Diriwayatkan beliau menegur keras seorang sahabat yang ketika mengimami Salat membacakan Surat panjang (sehingga diadukan kepada Nabi SAW).

Sikap ini agaknya “dibentuk” Rabb SWT melalui QS (73:20):”… maka bacalah yang mudah (bagimu) dari Al-Quran”. Wallahu’alam bimuradih.

Memahami dan Memaafkan

Nabi SAW jelas paling mengetahui pesan Islam tetapi beliau cenderung lebih bersikap “memahami” dan “memaafkan”, ketimbang mengadili atau memberikan penilaian, apalagi “menghujat” atau “melaknat”.

Sikap ini agaknya “dibentuk” oleh QS (88: 25-26):

“Sesungguhnya, kepada Kamilah mereka kembali, kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kamilah membuat perhitungan atas mereka”. Atau (QS 73):

“Dan bersabarlah (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik”. Wallahu’alam bimuradih.

Sadar Lingkungan

Nabi SAW paling khusyuk dalam Salat. Walaupun demikian, beliau mempercepat Salat ketika mendengar tangisan seorang anak (yang agaknya ikut ibunya ke masjid). Demikian cepatnya Salat ketika itu sehingga beberapa sahabat mempertanyakannya. Beliau hanya menjawab singkat kira-kira begini: “Apa kalian tidak mendengar ada anak yang menangis”. Agaknya Nabi SAW ingin mengajarkan bahwa khusyuk dalam Salat tidak berarti mengabaikan lingkungan.

Jauh dari ego-sentris

Nabi SAW sangat menyadari kalau perkataan, perbuatan dan sikapnya sangat dihargai oleh para sahabat. Walaupun demikian, beliau melarang sahabat untuk mencatat perkataan, perbuatan dan sikap beliau; alasannya, khawatir “tercampur” dengan catatan wahyu. (Tradisi pencatatan Hadits baru dimulai pasca kekhalifahan Ali RA, ketika Umat Islam mengalami dua fitnah besar: terbunuhnya Ali RA dan anaknya Husain RA.)

Sikap “ekstra” hati-hati ini agaknya terbangun karena adanya ancaman Rabb SWT yang luar biasa menakutkan melalui QS (69:44-47):

Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) kami, pasti Kami pegang tagan kananya. Kemudian Kami potong pembuluh jantungnya. Maka tidak seorang pun dar kamu yang dapat menghalangi (Kami untuk menghukumnya)”.

Wallahualam bimuradih.

Dari beberapa kasus di atas terlihat pengaruh Al-Quran terhadap pembentukan karakter Nabi SAW. Itulah agaknya sebabnya Ummul mukminin, Aisyah RA, mendeskripsikan secara sangat padat bahwa akhlak Nabi SAW adalah Al-Quran.

Wallahualam….@

Sumber Gambar: Pinterest

Mengingat Hari Alastu

Kalau ada hari yang harus diingat, maka itu adalah Hari Alastu. Kalau ada kewajiban yang harus ditunaikan, maka itu adalah implementasi prinsip dan nilai yang terkandung dalam momen yang terjadi pada Hari itu dalam kehidupan sehari-hari. Kalau ada larangan yang harus dijauhi, maka itu adalah hilangnya ingatan pada Hari itu. Kalau ada kesetiaan yang harus dijunjung tinggi, maka itu adalah konsistensi pada prinsip dan nilai Hari itu. Kalau ada filsafat pendidikan yang perlu diacu, maka substansinya adalah pengenalan dan penguatan ingatan peserta-didik pada Hari Alstu itu.

Demikianlah arti penting Hari Alastu.

Karena demikian penting maka seluruh misi kenabian– sejak Adam AS sampai Muhammad SAW–  dapat dikatakan terkait dengan prinsip dan nilai Hari Alstu itu. Misi mereka, jika harus dirumuskan secara padat, kira-kira begini: menyampaikan kabar gembira akan pahala bagi yang konsisten dengan prinsip dan nilai Hari Alastu, dan memberikan peringatan akan kerasnya siksa balasan bagi yang mencederai prinsip dan nilai Hari itu. Dalam hal konteks ini misi Nabi SAW agaknya plus ini: memberikan keteladanan bagaimana menerapkan prinsip dan nilai Hari Alstu itu dalam dunia nyata.

Jadi, apa Hari Alstu itu?

Hari Alastu tidak lain dari hari ketika semua Anak Adam (baca: manusia, tanpa kecuali) memberikan kesaksian dan membuat perjanjian dengan Rabb SWT, Rabb mereka. Perjanjian dan kesaksian ini diabadikan dalam QS (7:172):

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan menera dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), Bukankah Aku ini Tuhanmu?” (Teks: Alastu birabbikum.) Mereka menjawab, “Betul, Engkau Tuhan kami), kami bersaksi…

Ingatan pada Hari Kesaksian dan Perjanjian purba itu terpatri dalam lubuk-hati-paling-dalam setiap manusia. Tetapi kita memiliki bakat kuat untuk menjadi pelupa. Itulah sebabnya dalam Islam ada ibdah Salat “untuk meningat-Ku” (QS 20:14), kata Rabb SWT. (Anjuran untuk banyak berzikir perlu dilihat dalam monteks ini.)

Menurut banyak sufi, ingatan pada Hari Alastu berbentuk cahaya, Cahaya Ilahi, yang akan tetap menyala (sekalipun redup) dalam sanubari manusia. Fungsi celahaya ini adalah pengerak inteligensi, kehendak dan hati:

  • Penggerak inteligensi para pencari kebenaran (veracity) termasuk para filsuf, sufi dan ilmuan. Catatannya, tanpa bimbingan “langit”, mereka rentan terhadap penyakit BangEgo: bangga diri (pride) dan egosentris (self-centered); juga terhadap sedotan labirin-gelap-tanpa ujung, tanpa kejelasan manfaat bagi kemanusiaan.
  • Pnggerak kehendak para pejuang kebajikan (virtue).  Catatannya, tanpa bimbingan “langit”, perbuatan baik rentan terhadap serangan penyakit BangEgo yang merusak.
  • Penggerak hati para pencinta keindahan (beauty), termasuk para petualang cinta sufistik yang lebih meminati hubungan vertikal dengan Rabb SWT. Catatanya, tanpa bimbingan Rasul SAW, mereka dapat cenderung mengabaikan urusan hubungan horizontal antar-sesama, urusan kekhalifahan “memakmurkan bumi” dan urusan sosial “menyejahterakan manusia”, urusan-urusan yang sentral dalam risalah Muhammad SAW.

Yang terakhir ini cenderung tenggelam dalam keindahan-Nya dalam berbagai cara: kontemplasi (zikir), meditasi (tafakur), pendalaman teks suci, dan pengamatan “ayat” alamiah.

Cahaya ilahi juga dapat dilihat sebagai  sumber energi bagi inteligensi, kehendak dan hati manusia untuk berfungsi sesuai dengan wilayah kerja masing-masing: mengetahui Rabb SWT atau Absolut, bertindak sejalan dengan pengetahuan itu, dan melakukannya sesempurna dan seindah mungkin..

*******

Bagi Muslim, kesadaran Hari Alastu itu dalam (deep), mendalam (profound), dan berdampak jauh (far reaching impact). Kesadaran itulah yang mengalasi peradaban mereka, melatari perilaku kehidupan sehari-hari, dan mendasari konsepsi mereka mengenai manusia, khususnya yang terkait dengan gagasan mengenai fithrah (fitra). Mengenai yang terakhir ini Tariq Ramadan mengatakannya begini:

The original testimony is of the fundamental importance for the formation of the Islamic conception of humanity. … the human being has within it an almost instinctive longing for a dimension that is “beyond”. This idea of fitra, which has given rise to numerous exegetical, mystical, and philosophical commentaries, so central is it to the Islamic conception of human being, faith and sacred[1]

Wallahualam…. @

[1] Tariq Ramadan (2004:16), Western Muslim and the Future Islam. Oxford University Press.

Wording

Bagi Trump, executive order itu biasa. Yang luar biasa ia kali ini menggunakan jurus yang sama untuk urusan statistik yang sangat teknis, wording pada Kuesioner Sensus Penduduk 2020 (SP2020) terkait dengan pertanyaan mengenai kewarganegaraan. Ini mungkin historis dalam arti dapat memulai tradisi baru dalam sensus penduduk yang pada hakikatnya bertujuan menghitung setiap orang sekali, dan hanya sekali, di tempat yang tepat. Dalam SP2020 AS narasinya begini:

The goal of the 2020 Census is to count everyone once, only once, and in the right place.

(Garis bawah tambahan penulis)

Terkait dengan pertanyaan kewarganegaraan, pertanyaan normal dalam kuesioner sensus penduduk kira-kira begini ini: “Apakah kewarganegaraan (Nama)?”

(Ketika mengajukan pertanyaan ini pencacah diinstruksikan untuk menyebutkan nama dari anggota rumah tangga yang bersangkutan.)

Yang dimaui Trump kira-kira begini: “Apakah (Nama) warga negara Amerika Serikat?”

Dua pertanyaan ini sepintas lalu sama saja. Tapi hasilnya dapat sangat berbeda: wording matters dalam kuesioner survei maupun sensus penduduk. Dan ini agaknya disadari oleh Trump. (Ini “hebatnya” Trump”: mungkin ia satu-satunya kepala negara yang care mengenai kuesioner sensus.)

Kira-kira apa maunya Trump? Mudah diduga: wording pertanyaan modelnya akan menghasilkan angka warga negara AS yang under count–atau– angka imigran relatively over count. (Ini 100% benar.) Tapi apa untungnya bagi Trump? Juga mudah diduga: angka sensus akan menjustifikasi kebijaksanaan “keras” dalam urusan keimigrasian. Lebih dari itu, angka imigrasi yang diperoleh dengan cara itu akan dijadikan alat statistik bagi Trump untuk menuding negara-negara bagian yang biru “kantong” migran; artinya, yang didominasi Partai Demokrat yang relatif “ramah” imigran.

Itulah persisnya kenapa “musuh” Trump atau para profesional sensus di AS keberatan, atau bahkan menentang saran Trump. (Menentang presidential executive order?) Urusan ini agaknya belum tuntas. Motifnya dapat beda: musuhnya takut hasil sensus merugikan partainya, preofesional membebaskan diri dari “api neraka” kericuhan politik.

Sumber Gambar: Google

So, seperti saran Obama, jangan anggap remah Trump!

Bagaimana dengan model pertanyaan normal? Itulah model “dingin” profesi statistik. Model ini tidak mengarahkan jawaban responden sehingga hasilnya obyektif; juga dapat menghindari “campur tangan” politik. Paling tidak demikianlah kata orang statistik.

Bagaimana dengan Indonesia yang juga siap (?) menyelenggarakan SP2020 sebagaimana negara lain sesuai denngan rekomendasi PBB? Penulis tidak tahu tetapi harapannya sih masih dingin sebagaimana sensus-sensus sebelumnya sejak 1930… @