Pengetahuan Primordial

Istilah primordial dalam tulisan ini mengacu pada pengetahuan sesuatu sudah pernah dan selalu kita ketahui: sudah pernah, karena kita ketahui sejak zaman azali, era pra-ada kita, atau mungkin sesaat sebelum kita ada; selalu karena pengetahuan itu tidak akan pernah hilang sepenuhnya.

Sudah Lupa

Tetapi kita sudah melupakan zaman itu karena kejadiannya sudah sangat lama. Dalam hal ini Aivanhov menarasikannya secara apik sebagai berikut:

You already know many things, but you do not know that you know. This knowledge comes from a very long time ago, when you still dwelt in the bosom of the Eternal, in light, love and beauty.

Anda sudah tahu banyak hal, tetapi Anda tidak tahu bahwa Anda tahu. Pengetahuan ini berasal dari waktu yang sangat lama, ketika Anda masih berdiam di pangkuan Abadi, dalam cahaya, cinta dan keindahan.

Substansi Pengetahuan

Terkait dengan substansi pengetahuan primordial, Aivanhop menyebut asal-usul ilaihan dan misi kita di bumi ini:

There you learned everything about your divine origin, your predestination, the work you would have to do on earth to give expression to all the powers of your soul and your spirit.

Di sana Anda mempelajari segala sesuatu tentang asal usul ilahi Anda, takdir Anda, pekerjaan yang harus Anda lakukan di bumi untuk memberikan ekspresi kepada semua kekuatan jiwa dan roh Anda.

Kenapa Lupa

Bagi Aivanhop, alasan kita melupakan pengetahuan primordial adalah bahwa kita terlalu fokus pada pengetahuan yang tidak akan bertahan lama:

True, there are so many interesting things in the world to see, hear, read and so on. But try, all the same, not to focus too much on subjects that cannot help you change your life; apply yourself instead to improving the way you live. For that is the way you will attract true knowledge. Otherwise, what will happen is this: you will spend your time accumulating knowledge by all the means at your disposal – books, radio, cinema, television – but what you take in you will not retain for long.

“Benar, ada begitu banyak hal menarik di dunia untuk dilihat, didengar, dibaca, dan sebagainya. Tetapi cobalah… untuk tidak terlalu fokus pada mata pelajaran yang tidak dapat membantu Anda mengubah hidup Anda; terapkan diri Anda sebagai gantinya untuk meningkatkan cara hidup Anda. Karena itulah cara Anda akan menarik pengetahuan sejati. Kalau tidak, yang akan terjadi adalah ini: Anda akan menghabiskan waktu mengumpulkan pengetahuan dengan segala cara yang Anda inginkan – buku, radio, bioskop, televisi – tetapi apa yang Anda peroleh tidak akan bertahan lama.

Weltanshauung Al-Quran

Pandang-dunia, world view atau tepatnya (secara epistemologi) Weltanshauung (Bahasa Jerman, dengan huruf W kapital) Al-Quran terkait pengetahuan primordial dapat dikatakan khas. Terkait dengan zaman azali ketika pengetahuan primordial itu kita kuasai, misalnya, Al-Quran mengilustrasikan kita ketika bahkan belum punya bahkan telinga (samii’an) dan mata (bashira) (QS (76:1). Terkait dengan substansi pengetahuan primordial, sebagai ilustrasi lain, Al-Quran menyebut pengetahuan mengenai Rabb SWT dan kesaksian bahwa se. iap kita memberikan kesaksian mengenai posisi kehambaan kita di hadapan-Nya (QS 7:172):

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku in Tuhanmu”? Mereka menjawab “Betul (engkau Tuhan kami), kami bersasi”. (Kami lakukan yang demikian itu agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini”.

Bagaimana mengenai alasan kita melupakan primordial? Al-Quran mengisyaratkan antara lain  ketebalan daki di hati kita karena kedurhakaan (Arab: fujjar) kepada-Nya.

Wallahualam…@

Covid-19: Tren dan Sebaran

Wabah Covid-19 masih atau semakin memprihatinkan. Tertanggal 23 Februari 2020, per pukul 22.50[1], total kasusnya dilaporkan 78,997. Dari total itu sebanyak 2,470 meninggal dan 23,425 disembuhkan. Jadi sejauh ini ada sebanyak 25,895 (=2,470+23,425) kasus yang sudah ditutup sehingga outcome-nya dapat diketahui, sembuh atau meninggal. Sisanya sebanyak 53,102 kasus statusnya masih kasus aktif yang sekitar 22% di antaranya dilaporkan dalam keadaan serius atau kritis[2].

Berdasarkan angka-angka di atas, angka keparahan penyakit, diukur dengan angka fatalitas kasus (CFR), dapat diperkirakan yaitu sekitar 10% (=2,470/25,895). Angka ini perlu dilihat sebagai hasil perhitungan dengan cara paling sederhana[3] dan sangat sementara karena kasusnya masih berlangsung dengan perkembangannya menurut para ahli masih belum dapat diprediksi secara meyakinkan.

Angka CFR=10% sebenarnya relatif rendah dibandingkan dengan CFR untuk MERS atau SARS, misalnya[4]. Tetapi yang paling mengkhawatirkan dari Covid-19 memang bukan tingkat keparahan[5], tetapi tren dan sebaran geografisnya.

Tren

Grafik 1 menyajikan tren total kasus Covid-19 per hari dalam kurun waktu sebulan dari 23/2-23/2, 2020. Kasusnya meningkat dari sekitar 845 menjadi sekitar 80,000 pada 23 Februari 2020, atau meningkat lebih dari 90 kali. Dalam dua hari terakhir, 22-23 Februari terjadi pertambahan sebanyak 346 kasus (pada grafik tidak tampak). Singkatnya, kasus Covid-19 masih terus meningkat. Sampai hari ini.

Grafik: Total Kasus COVID-19 (23/1-23/2, 2020)

Sebaran

Wabah Covid-19 menjangkau lebih dari 30 negara (lihat Tabel). Pada tabel itu tampak layak jika Korea Selatan dan Italia akhir-akhir ini dilaporkan memperlihatkan “kepanikan” karena kasus dan angka besar angka fatalitasnya (CFR) relatif tinggi.

Tabel: Sebaran Geografis Kasus Covid-19 dan Statusnya

(Keadaan 23/2/20120, Pukul 22.50)

*****

Menanggapi perkembangan wabah Covid-19, dua orang ahli[6] memberikan opini sebagai berikut:

  • I think it is likely we will see a global pandemic. If a pandemic happens, 40% to 70% of people world-wide are likely to be infected in the coming year. What proportion is asymptomatic, I can’t give a good number.
  • It could infect 60% of global population if unchecked.

Mereka bukan orang sembarangan. Yang pertama adalah Prof. Marc Lipsitch, Prof. of Epidemiology, Harvard School of Public Health, Head, Harvard Ctr. Communicable Disease Dynamics (14/2020). Yang kedua, Prof. Gabriel Leung, Expert on coronavirus epidemics Chair of Public Health Medicine, Hong Kong University (11/2/ 2020).

Opini ahli itu sebagaimana dikutip di atas jelas skenario buram. Di sisi lain, skenario itu dalam bahasa agama (Islam) bisa dikategorikan itu takdir. Tugas kita secara kolektif “menghindari suatu takdir dan beralih ke takdir lain yang lebih baik” (Hadits Nabi SAW). Aparat WHO, lembaga karantina, para ahli dalam rumpun ilmu-ilmu kesehatan, dan pihak lain yang terkait, atas nama kita secara jamaah, telah berupaya keras agar skenario buram itu tidak sampai terjadi. Walaupun demikian perlu disadari bahwa dalam takdir ada semacam misteri, semacam “pagar” menurut istilah Ibnu Atha’illah As-Sakandari dalam dalam Al-Hikam aforisme ke-3:

gr2

“Kekuatan semangat (azam, cita-cita, ikhtiar) tidak dapat memecahkan pagar takdir”.

Wallahualam…@

[1] Sumber: https://www.worldometers.info/coronavirus/coronavirus-cases/

Catatan: Dalam kasus virus ini penyebutan jam laporan diperlukan karena perubahan status kasus dapat berubah cepat. Sebagai ilustrasi, per pukul 10 tanggal yang sama total kasus yang dilaporkan per pukul 10 sebanyak 78.889 dan ini berarti penambahan 109 kasus 109 dalam waktu 12 jam.

[2]https://www.worldometers.info/coronavirus/#countries

[3] Artikel mengenai metode estimasi CFR untuk kasus yang masih berlangsung yang mungkin paling dapat diandalkan secara statiistik tetapi relatif kompleks dapat diakses di sini: https://academic.oup.com/aje/article/162/5/479/82647

[4] https://www.worldometers.info/coronavirus/coronavirus-cases/

[5] Mengenai tingkat keparahan lihat https://uzairsuhaimi.blog/2020/02/21/covid-19-dan-angka-fatalitas/

[6] https://www.worldometers.info/coronavirus/coronavirus-expert-opinions/

Mencermati Arti Kata Jahil

Kata jahil (Arab) biasa diartikan sebagai bodoh. Ini tidak salah tetapi secara kebahasaan tidak lengkap. Tulisan ini dimaksudkan untuk menunjukkan secara singkat ketidaklengpan ini menggunakan Al-Quran sebagai referensi utama.

Sang Filsuf dan Joki Unta

Ada cerita menarik mengenai dialog singkat antara dua orang pengembara yang berbeda profesi: filsuf dan joki unta. Sang filsuf sangat terdidik, berpengetahuan sangat luas, serta terlatih berpikir abstrak. Sebaliknya, Sang Joko tidak terdidik, miskin ilmu, dan biasa berpikir sederhana.

Filsuf: “Bagaimana Anda mengetahui bahwa Tuhan itu ada?”

Joki Unta: (Menunjuk pada kotoran Unta) “Kotoran ini membuktikan tadi ada Unta di sini”.

Dalam cerita ini sang filsuf mewakili orang yang berilmu tetapi tidak berpikiran jernih, sementara sang joki yang tidak berilmu tetapi berpikiran jernih. Seperti akan segera terlihat, dua-duanya secara kebahasaan termasuk dalam kategori jahil[1].

Arti Kata Jahil

Kata jahil berasal dari kata kerja jahila-yajhalu (جَهِلَ – يَجْهَلُ). Lawan katanya antara lain ‘alima (‘arafa) dan ‘aqala[2]. Dua kata ini masing-masing berarti mengetahui dan berakal. Jadi kata orang jahil dapat berarti orang yang: (1) tidak mengetahui, tidak berilmu (Inggris: do not know, ignorance), dan (2) tidak berakal, tidak berpikir jernih (Inggris: do not think, mindlessness).

Antara berilmu dan berakal dalam arti berpikiran jernih tidak selalu ada hubungan positif. Artinya, banyak orang yang berilmu tetapi tidak berpikiran jernih (kasus sang filsuf dalam cerita di atas), dan banyak pula yang tidak berilmu tetapi berpikiran jernih (kasus sang joki). “Overdosis” pengetahuan agaknya berpotensi mengurangi kapasitas berpikiran jernih. Al-Quran datang, paling tidak dalam perspektif Muslim, untuk mengonfrontasi dua jenis kejahilan itu, ignorance dan mindlessness, yang menjadi ciri umum masyarakat Arab sebelum kedatangan Islam.

Apakah Kalian Tidak Berakal?

Apakah Kalian Tidak Berakal? (Quran: Afala ta’qilun?) Kalimat ini banyak dijumpai dalam Al-Quran yang pada umumnya diterjemahkan sebagai “Apakah kalian tidak berakal (memikirkan, memahami, mengerti)? Salah satu ayatnya (QS 2:44) berikut ini:

Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat?) Tidakkah kamu mengerti?

Ayat ini mengkritik sebagian ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) yang bertindak tidak logis atau tidak berpikiran jernih. Untuk menegaskannya ayat ini menggunakan turunan dari kata akal (ta’qilun). Kritik serupa dijumpai dalam QS (2:146) berikut.

Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab (Taurat dan Injil) mengenalnya (Muhammad) seperti mengenal anak-anak mereka sendiri. Sesungguhnya sebagian mereka pasti menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahui (nya).

Ayat ini menggunakan kata turunan ‘arafa (ya’rifunahu) dan ‘alima (ya’lamun) yang seakan-akan menegaskan tindakan tidak logis mereka itu (tidak mengakui kerasulan Muhammad SAW) sama-sekali bukan karena tidak tahu, tetapi karena tidak mau tahu yang dalam Bahas Arab tidak berakal.

QS (2:44) bukan satu-satu ayat yang diakhiri dengan kalimat “Apakah kalian berakal?” Kita dapat menjumpai ayat lain dengan akhir kalimat yang sama termasuk  QS (12:199, 6:32, 7:169, 11:51, 2:76, 3:65, 10:16, 21:10, 21:67, 23:80, 28:60, 37:138).

Menarik Kesimpulan Logis

Dari uraian di atas jelas salah satu arti jahil adalah tidak berakal. Istilah tidak berakal dalam Bahasa Arab lebih mendekati arti “tidak mau mengerti”, “tidak mau memetik pelajaran atau hikmah”, “tidak bertindak logis” “tidak peduli”, mindlessness. Singkatnya, lebih mencerminkan aksi kehendak (the will) dari pada aksi pikiran (intelligence).

Orang yang memiliki pengetahuan luas atau konsepsi yang benar mengenai sesuatu (termasuk Allah SWT) tidak menjamin ia berakal dalam pengertian itu. Bacaan sejumlah ayat mengenai karakterisasi masyarakat jahiliah Masyarakat Mekah di era sebelum kedatangan Islam.

Mungkin berbeda dengan kepercayaan umum, Al-Quran mendokumentasikan bahwa masyarakat jahiliah sangat mengenal Allah dan secara umum memiliki konsepsi yang benar mengenai-Nya. Mereka mengenal Allah antara lain sebagai

  • Pencipta langit dan bumi: QS (31:25, 39:28))
  • Yang menurunkan air hujan atau sumber kehidupan: QS (29:63)
  • Tuhan Ka’bah: QS (106)
  • Pencipta mereka: QS(43:87)

Semua konsepsi itu benar menurut Al-Quran dan logisnya menempatkan Allah SWT, meminjam istilah Izutsu (1964), sebagai pusat medan semantik (the center of semantic field[3]) dalam welstaung atau cara pandang-dunia. Di sinilah letak kesalahannya: masyarakat jahiliah tidak mampu menarik kesimpulan yang logis dari konsepsi yang benar.

 …masyarakt jahiliah tidak mampu menarik kesimpulan logis dari konsepsi yang benar

Implikasi dari ketidakmampuan itu antara lain tindakan mereka “mengambil tuhan lain selain Allah (musyrik)” dan keyakinan bahwa “Allah tidak campur tangan dalam urusan aktual manusia sehari-hari”. Implikasi lebih lanjut, sekalipun mereka masih menyeru Alah SWT ketika dalam keadaan putus asa, mereka kembali berpaling dari-Nya begitu lepas dari kesulitan:

Dan apabila kamu ditempa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang (biasa) kamu seru kecuali Dia. Tetapi ketika Dia menyelamatkan kamu, ke daratan, kamu berpaling (dari-Nya). dan manusia memang selalu ingkar (tidak bersyukur) (QS (17:67)).

Implikasi lebih lanjut lagi, dan ini mungkin puncak kesalahan, mereka tidak mempercayai kehidupan akhirat:

Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia ini saja, kita dan mati dan hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita seain masa. Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-menduga saja ((QS(45:24)

Penulis yakin sebagian besar kita percaya pada kehidupan akhirat. Pertanyaannya, apakah kita mampu menarik kesimpulan logis dari- dan konsisten dengan– kepercayaan itu. Jika jawabannya negatif jangan-jangan kita termasuk jahil.

Wallahualam…..@

[1] Kisah lengkap mengenai filsuf dan joki unta dapat diakses di sini https://www.youtube.com/watch?v=9jqJvzSecWw

[2] https://www.almaany.com/en/thes/ar-en/%D8%AC%D9%87%D9%84/

[3] T. Izusu, God and Man in Quran, Keio University.

Air: Apa Kata Al-Quran?

Kita sebagai makhluk hidup ditakdirkan memiliki ketergantungan terhadap air[1]. Kita butuh air karena 60-70% berat tubuh kita berupa air. Demikian vitalnya fungsi air bagi tubuh sehingga kekurangannya akan memaksa tubuh secara otomatis mengambil sumber cairan lain dalam tubuh yaitu darah. Akibatnya darah mengental dan ini mengganggu fungsi darah mendistribusikan oksigen dan sari makanan ke seluruh bagian tubuh.

Untuk memenuhi kebutuhan air itu maka kita perlu minum. Masalahnya, karena minum merupakan urusan sehari-hari, kita cenderung bersikap tidak peduli terhadap sumber air yang minum kita sehari-hari, suatu sikap yang kurang elok (QS 56: 68-70):

Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkan dari awan atau Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur?

Kutipan di atas, dalam bentuk narasi restrospektif, mengilustrasikan gaya khas Al-Quran dalam menjelaskan keberadaan Dia SWT dan ketergantungan kita secara mutlak kepada-Nya. Gaya ini khas dalam arti– mungkin berbeda dengan gaya Kitab-Kitab suci lain– menggunakan contoh kongkret dalam kehidupan sehari-hari yang dapat diverifikasi (verifiable), bukan melalui penjelasan filosofis-abstrak atau cerita mengenai entitas atau peristiwa luar biasa yang adi manusiawi.

Yang menarik untuk dicatat, kata air (Arab: ٱلْمَآءَ), sangat sering disebutkan dalam Al-Quran selain yang dikutip di atas. Catatan penulis paling tidak ada ada 20-an ayat yang menyebutkan secara eksplisit kata air, tiga di antaranya adalah sebagai berikut:

  • “Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah menurunkan air (hujan) dari langit sehingga bumi menjadi hijau. Sesungguhnya Allah Maha halus, Maha Mengetahui” (QS 22:63).
  • Tidakkah engkau melihat bahwasanya Allah menurunkan air dari langit lalu dengan air itu Kami hasilkan buah-buahan yang beraneka macam jenisnya[2] (QS 35:27).
  • Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, kemudian menjadi kering, lalu engkau melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sungguh pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal sehat (QS 39:21).

Kutipan di atas menegaskan paling tidak dua hal. Pertama, air sangat krusial bagi kehidupan makhluk hidup di bumi termasuk manusia. Sains dapat menjelaskan hal ini secara gamblang dan tak-terbantahkan. Kedua, air itu diturunkan-Nya (Arab: anzala) dari langit. Jadi, subyeknya jelas: Dia SWT.

Dengan iptek manusia dapat mengupayakan hujan buatan yang untuk keperluan jangka pendek, upaya yang dapat memberikan manfaat kepada manusia tetapi pasti dalam skala terbatas. Iptek mustahil dapat menggantikan fungsi matahari menguapkan air laut untuk membentuk awan dan mendistribusikannya secara alamiah pada tataran global. Selain itu perlu dicatat bahwa hujan buatan juga membawa dampak negatif yang merugikan antara lain dalam bentuk hujan asam dan pencemaran tanah[3].

Singkat kata, kita butuh air dan untuk memperolehnya kita perlu “campur tangan” langit. Dalam kontkes ini layak disisipkan di sini penuturan Lings[4] yang kaya makna terkait dengan simbolisme air:

In the Qoran the ideas of Mercy and water—in particular, rain—are in a sense inseparable. With them must be included the idea of Revelation, tanzīl, which means literally “a sending down.” The Revelation and the rain are both “sent down” by the All-Merciful, and both are described throughout the Qoran as “mercy,” and both are spoken of as “life-giving.” … rain might even be said to be an integral part of the Revelation which it prolongs, as it were, in order that by penetrating the material world the Divine Mercy may reach the uttermost confines of creation; and to perform the rite of ablution is to identify oneself, in the world of matter, with this wave of Mercy, and to return with it as it ebbs back towards the Principle, for purification is a return to our origins. Nor is Islam—literally “submission”—other than non-resistance to the pull of the current of this ebbing wave.

Dalam Al-Quran, gagasan tentang Rahmat dan air — khususnya hujan — dalam arti tertentu tidak dapat dipisahkan. Bersama mereka harus dimasukkan gagasan Wahyu, tanzil, yang secara literal berarti “mengirim turun.” Wahyu dan hujan keduanya “diturunkan” oleh Yang Maha Penyayang, dan keduanya digambarkan di seluruh Alquran sebagai “rahmat,” dan keduanya disebut sebagai “pemberian hidup.” … hujan bahkan dapat dikatakan sebagai bagian integral atau kelanjutan dari Wahyu yang … seolah-olah menembus dunia material, Rahmat Ilahi dapat mencapai batas-batas penciptaan yang paling tinggi; dan melaksanakan ritual wudu berarti mengidentifikasi diri sendiri, di dunia materi, dengan gelombang rahmat ini, dan untuk kembali bersamanya ketika ia kembali ke Prinsip, karena pemurnian adalah kembalinya ke asal usul kita. Islam yang secara literal “tunduk” tidak bearti selain berserah-diri pada tarikan arus gelombang kembali-ke-asal.

Kutipan di atas mengaitkan air dengan rahmat karena keduanya sama-sama menggunakan kata tanzīl atau anzala. Jelasnya, kata ini dalam Al-Quran hampir semuanya digunakan untuk merujuk kepada rahmat dalam pengertian luas termasuk kitab, quran, ayat, tempat yang diberkati, dan ketenangan yang “diturunkan” ke dalam hati seseorang atau sekelompok orang. Mengenai yang terakhir ini silakan rujuk antara lain QS (48:18).

Islam yang secara literal berarti “tunduk” tidak berarti selain berserah-diri pada tarikan arus gelombang kembali ke asal-usul kita.

Walalhualam…@

[1] Istilah “bumi yang hijau” menarik untuk dicatat karena setara dengan istilah ilmiah “blue planet” yang digunakan berdasarkan fakta ilmiah bahwa sekitar 72% permukaan bumi tertutup oleh air[1]. Lihat https://id.wikipedia.org/wiki/Air

[2] Terkait dengan aneka jenis buah-buahan penulis teringat cerita seorang teman warga Jerman keturunan Argentina yang ingin ke Indonesia. Ketika ditanya apakah bermaksud mengunjungi Bali atau Candi Borobudur ia mengiyakan tetapi yang utama adalah ingin banyak menikmati buah manggis yang katanya tidak tumbuh di kawasan Amerika Latin.

[3] https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/meteorologi/hujan-buatan

[4] Martin Lings “The Qoranic Symbolism of Water”, Studies in Comparative Religion, Vol. 2, No. 3. (Summer, 1968) © World Wisdom, Inc.www.studiesincomparativereligion.com

 

Banjir, Perubahan Iklim dan Ulah Manusia

Warga Jabodetabek dan sekitar kali ini memperoleh “hadiah” tahun baru yang luar biasa: kepungan banjir, tanah longsor dan banjir bandang. Singkatnya, bencana. Kepada para korban kita turut prihatin, berempati serta dituntut untuk membantu meringankan beban kesulitan mereka: para korban perlu diyakinkan bahwa negara “hadir” dan solidaritas sosial di antara warga bangsa masih kental[1].

Bencana alam seperti banjir terkait dengan faktor cuaca yang sebagian di luar kendali manusia: “Cuaca di bumi juga dipengaruhi oleh hal-hal lain yang terjadi di angkasa, di antaranya adanya angin matahari atau disebut juga star’s corona[2]. Oleh karena itu, untuk menyikapinya, selain wajib melakukan segala upaya manusiawi untuk mengurangi dampak negatif akibat perubahan iklim dan cuaca[3], sikap pasrah untuk menerima takdir-Nya adalah suatu sikap sehat dan terpuji, paling tidak dari sisi agama.

Banjir kali ini dilaporkan tidak hanya melanda kawasan ‘langganan” banjir musiman, tetapi juga beberapa wilayah yang sebelumnya ‘bebas” banjir. Kasus banjir bandang yang melanda sebagian wilayah Lebak dilaporkan baru pertama kali terjadi. Laporan semacam ini mendukung dugaan bahwa bencana kali ini terkait dengan cuaca ekstrem akibat perubahan iklim yang bersifat global.

Kabar Baik dan Kabar Buruk

Terkait dengan perubahan iklim global ada kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya, kesadaran penduduk mengenai seriusnya isu itu semakin meningkat (Grafik1).

Grafik 1: Persentase Responden yang Menganggap Perubahan Iklim sebagai Ancaman Utama Negaranya

Sumber: INI

Kabar buruknya, tingkat kerusakan ekologis yang diakibatkan sudah sedemikian parah sehingga tindakan jamaah warga planet bumi bukan pilihan tetapi keharusan serta tidak dapat ditunda[4]. Urgensi masalahnya diabadikan dalam Dokumen Sasaran Pembangunan Berkelanjutan PBB (SDG- Sustaninable Development Goal) (Paragraf 50) yang dinyatakan dengan cara yang bernuansa puitis:

Kita bisa jadi generasi pertama yang sukses mengakhiri kemiskinan; pada saat yang sama seperti kita mungkin generasi terakhir yang memiliki kesempatan untuk menyelamatkan planet ini.

We can be the first generation to succeed in ending poverty; just as we may be the last to have a chance of saving the planet.

Ulah Manusia

Selain faktor alamiah yang di luar kendali, faktor ulah manusia juga berpengaruh terhadap bencana atau kerusakan alam. Bukti ilmiah mengenai hal itu boleh dikatakan melimpah. Dengan kata lain, dalil aklinya meyakinkan. Demikian juga dalil naqlinya, dalil berbasis Quran atau Sunah. Sebagai ilustrasi, QS(30:41) menunjuk langsung hidung manusia sebagai pelaku kerusakan “di darat dan di laut”:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS 30:41)

Ada dua catatan menarik dari ayat ini. Pertama, ayat itu diturunkan lebih dari satu milenium lalu ketika manusia belum mengenal teknologi “perusak” alam dalam skala yang kita kenal sekarang. Kedua, ayat itu memastikan pelaku kerusakan merasakan akibat sebagian perlakukannya terhadap alam.

Selain itu ada ayat lain yaitu QS (2:9-11) yang menengarai “perusak bumi” sebagai ciri orang-orang munafik:

dan di antara manusia ada yang berkata “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman (ayat ke-8).

Dan apabila dikatakan kepada mereka (orang-orang munafik), Janganlah berbuat kerusakan di bumi“. Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan” (ayat ke-11).

Ingatlah sesungguhnya merekalah orang yang berbuat kerusakan tetapi mereka tidak menyadari” (ayat ke-12)

Ada kesan ayat ini ditujukan pada para perencana dan pelaku pembangunan fisik (katakanlah atas nama pertumbuhan ekonomi) yang tidak memiliki visi pembangunan berkelanjutan.

Wallahualam…@

[1] Kentalnya solidaritas ini terungkap dari pemberitaan media masa terkait penanganan korban bencana di sekitar Jakarta. Hal serupa (kalau tidak lebih mengesankan) terkait upaya bantuan kemanusiaan bagi korban bencana banjir bandang di sebagian wilayah Lebak yang medannya dilaporkan sangat sulit dijangkau. Informasi mengenai yang terakhir diperoleh dari lapangan langsung melalui beberapa pegiat kemanusiaan yang kebetulan masih keluarga dekat penulis.

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Cuaca

[3] Iklim adalah kondisi rata-rata cuaca pada suatu wilayah yang sangat luas dalam periode waktu yang sangat lama (11-30 tahun) yang disebabkan oleh letak geografis dan topografi suatu wilayah yang mempengaruhi posisi matahari terhadap daerah di bumi. Lihat https://www.padamu.net/pengertian-cuaca-dan-iklim-dan-perbedaannya

[4] Posting mengenai perubahan iklim dapat diakses di sini https://uzairsuhaimi.blog/2019/06/24/perubahan-iklim-kenapa-kita-abai/

Yesus dalam Al-Quran

Nama Yesus banyak disebutkan dalam Al-Quran, tentu tidak secara harfiah tetapi dalam padanan Arabnya yaitu Isa. Kitab Suci ini mencantumkan nama Isa AS secara eksplisit sebanyak 27 kali dalam 26 ayat. Ini fakta qurani yang menarik karena penyebutan Muhammad SAW secara eksplisit hanya sebanyak 4 kali dalam 4 ayat. Yang mungkin lebih menarik, penyebutan nama Maryam RA sebanyak 34 kali dalam 31 ayat[1]. Tulisan ini membahas secara singkat ayat-ayat yang terkait dengan Isa AS dan Maryam RA. Sebelum memasuki topik utama ini, untuk memberikan konteks yang lebih luas, berikut ini disajikan perspektif Al-Quran mengenai rasul secara keseluruhan[2].

Konteks

Al-Quran “tidak membeda-bedakan” para rasul-Nya dan mengakui “kelebihan” masing-masing. Ayat-ayat mengenai hal ini sangat eksplisit. Mengenai yang pertama QS(2:136) menarasikan sebagai berikut:

Katakanlah “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya. dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta kepada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan kami berserah diri kepada-Nya (teks: muslimun).

(Teks ayat: Klik di sini)

“Kami tidak membeda-bedakan”, la nufarriqu. Penegasan yang sama dapat ditemukan dalam QS(2:185) dan QS(3:84). “Kami berserah diri kepada-Nya” menegaskan makna inklusif dari istilah muslimun; artinya, berlaku bagi umat-umat terdahulu sebelum Umat Muhammad SAW.

Terkait dengan “kelebihan masing-masing”, QS (2:253) menarasikannya sebagai berikut:

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang (langsung) Allah berfirman dengannya dan sebagian lagi ditinggikan beberapa derajat. Dan Kami berikan putra Maryam beberapa mukjizat dan Kami perkuat dengan Roh Kudus…”

(Teks ayat: Klik di sini)

Para penafsir sepakat narasi “yang (langsung) Allah berfirman” merujuk pada Nabi Musa AS. Musa AS, bersama Isa AS dan Muhammad SAW, masing-masing membawa kitab suci untuk umat masing-masing: Taurat-Yahudi (Musa AS), Injil- Nasrani[3] (Isa AS) dan Al-Quran-Muslim (Muhammad SAW). Tiga  agama ini yang kini  dikenal sebagai agama samawi[4], agama “langit”, agama berbasis wahyu.

Terkait dengan Ibrahim AS, Al-Quran menyebutkan istilah milah-hanif yang kira-kira setara dengan agama tetapi dalam bentuk yang lebih longgar. Dengan milah itu Ibrahim AS diakui sebagai leluhur semua agama samawi[5]. Lebih dari itu, ketika berargumen soal agama dengan para ahli kitab Muhammad SAW diperintahkan untuk merujuk milah hanif sebagai karakteristik ajaran yang dibawanya (QS 2:135)

Isa Ibnu Maryam

Dalam banyak ayat (14 dari 26 kasus), penyebutan Isa AS selalu dikaitkan dengan ibunya, Maryam RA. Jadi nama lengkap Isa AS adalah Isa Ibn Maryam. Karakterisasi Maryam AS dalam Al-Quran sangat terhormat dan boleh dikatakan unik:

  • Beliau satu-satunya wanita yang namanya tercantum secara eksplisit dalam Al-Quran.
  • Sebagaimana disinggung sebelumnya, nama beliau tercantum tidak hanya sekali melainkan 34 kali dalam 31 ayat Al-Quran. Lebih dari itu, salah satu nama Surat Al-Quran berjudul Maryam (Surat ke-19).
  • Al-Quran menggelarinya sebagai sangat terhormat: tersucikan dan terpelihara (3:42).

Gambaran umum mengenai beliau dapat dilihat dalam QS (66:12):

… dan Maryam putri ‘Imran yang memelihara kehormatannya, maka kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) kami, dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitabnya, dan dia termasuk orang-orang yang taat.

(Teks ayat: Klik di sini)

Penyaliban dan Trinitas

Soal penyaliban Isa AS QS(4:157) sangat eksplisit:

.. dan (Kami hukum juga) karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih ‘Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang-orang yang diserupakan dengan Isa…

(Teks ayat: Klik di sini)

Demikian juga soal trinitas. QS(4:171) sangat eksplisit mengenai ini:

Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sungguh, Al-Masih putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan) dengan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah mengatakan, “(tuhan itu) tiga”, berhentilah dari ucapan itu).

(Teks ayat: Klik di sini)

Al-Quran menganggap isu trinitas sangat serius sehingga seolah-olah meminta konfirmasi langsung pada Nabi Isa AS dalam suatu “dialog”:

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai “Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku bagai dua tuhan selain Allah?” (‘Isa) menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya… (5:116).

(Teks ayat: Klik di sini)

Wallahualam…@

[1] Penyebutan secara eksplisit Ibrahim AS dan Musa AS masing-masing sebanyak 71 kali (65 ayat) dan 158 kali (149 ayat).

[2] Dalam Islam istilah rasul merujuk kepada nabi (penerima wahyu) yang berkewajiban menyampaikan ajaran-Nya kepada Umat. Istilah rasul dalam Al-Quran terkadang merujuk kepada malaikat yang diutus untuk menyampaikan wahyu kepada seorang rasul.

[3] Dalam artikel ini digunakan istilah Nasrani, bukan Kristen, karena lebih bersifat qurani dalam arti tercantum dalam Al-Quran.

[4] Karena memiliki kitab suci maka semua umat agama samawi ini berhak bergelar ahli kitab. Jika Al- Quran menggunakan istilah ahli kitab tidak termasuk Islam maka hal itu karena Al-Quran masih dalam proses pembentukan. Berbeda Taurat dan Injil, Al-Quran diturunkan secara bertahap dalam waktu relatif lama, lebih dari 20 tahun.

[5] Dalam Islam, penghormatan (tahiyyah) terhadap Ibrahim AS terlembagakan karena merupakan bagian bacaan Salat (tepatnya pada tasyahud akhir).

Total Penduduk Indonesia Masa Depan

Berapa total penduduk Indonesia 10, 30, atau 80 tahun mendatang? Dugaan penulis tidak ada yang berani memastikannya. Siapa yang berani memastikan peristiwa masa depan?

Masalahnya, kita tidak dapat hidup dalam kegelapan mutlak mengenai masa depan kita. Kita perlu tahu sekarang, mengenai gambar besar 10-30 tahun mendatang berbasis ilmiah perkiraan, misalnya, ratus-jutaan mulut yang harus diberi makan, jutaan balita yang perlu dimonitor berat badannya, puluhan juta penduduk usia muda yang siap membanjiri pasar kerja, puluhan juta angkatan kerja terdidik dalam usia prima, dan jutaan wanita usia subur yang siap memasok generasi penerus. Kita perlu sedikit titik terang– sekalipun tidak benderang– mengenai semua isu itu untuk memberikan sedikit kelegaan serta memandu kita menata masa depan.

Dalam konteks ini para ahli demografi menyandang tugas profesional untuk memberikan titik terang yang dimaksud. Berdasarkan dua data sensus penduduk terakhir (2000 dan 2010), misalnya, mereka mampu menawarkan gambar besar profil penduduk ke depan. Caranya sederhana yaitu dengan menghitung rata-rata pertumbuhan penduduk per tahun (=r) dalam periode 2000-2010 dan mengekstrapolasikan total penduduk ke masa depan berdasarkan angka itu dan total penduduk tahun dasar. Hasilnya, proyeksi penduduk berbasis suatu model matematik.

Tapi mereka juga mengingatkan bahwa model itu terlalu sederhana untuk membuat gambar masa depan, paling tidak karena tiga alasan. Pertama, terlalu menyederhanakan persoalan jika angka r suatu populasi diasumsikan tidak berubah (konstan) di masa depan, apalagi masa depan yang jauh. Kedua, r mencerminkan berbagai kekuatan yang belum tentu searah gerakannya: kekuatan positif (faktor penambah) yaitu kelahiran (B, birth) dan Migrasi Masuk (I, immigrant), serta kekuatan negatif (pengurang) yaitu kematian (D, death) dan migrasi keluar (E, emigrant). Singkatnya, Pt=P0+(B-I)-(D+E) di mana Pt=populasi tahun t dan P0 populasi dasar dan Pt. Semua “kekuatan” ini logisnya perlu dipertimbangkan dalam kalkulus perkiraan penduduk masa depan. Model perkiraan masa depan (proyeksi, prediksi) dengan mempertimbangkan kekuatan-kekuatan itu yang umumnya dipraktikkan oleh para ahli demografi dalam kapasitasnya sebagai perorangan atau mewakili lembaga termasuk PBB.

Bagaimana dengan alasan ketiga?

Perkiraan penduduk masa depan, seperti halnya perkiraan mengenai apa pun, perlu mempertimbangkan secara cermat faktor ketidakpastian (uncertainty factors). Mengenai faktor ini berlaku rumus umum: semakin panjang rentang waktu perkiraan semakin besar faktor itu, atau, dengan perkataan lain, semakin tidak akurat perkiraan itu. Perkiraan total penduduk 2050, misalnya, lebih akurat dengan perkiraan total penduduk 2100.

“Hebatnya”, PBB “berani” membuat perkiraan penduduk global yang dirinci menurut negara dan karakteristik wilayah sampai 2100 dalam publikasinya berjudul “World Population Prospects: Highlight[1]. Yang perlu dicatat, dalam perkiraannya, PBB menggunakan faktor “kekuatan” postif maupun negatif sebagaimana dibahas sebelumnya serta telah mempertimbangkan faktor ketidakpastian.

PBB tentu memiliki alasan yang cukup untuk mempublikasikan perkiraannya: PBB berkepentingan untuk memperoleh gambar besar masa depan penduduk global dan juga –dugaan penulis– untuk memfasilitasi banyak pihak yang tengah bersemangat dalam arti positif membuat apa yang dikenal mega-trends dengan berbagai variannya. CSIRO, misalnya, menerbitkan buku dengan judul yang provokatif secara intelektual: Our Future World: Global megatrends that will change the way we live[2].

Bagaimana gambar masa depan penduduk global menurut PBB? Penduduk global masih akan bertambah sehingga pada tahun 2100 totalnya diperkirakan akan mencapai 10.9 milyar jiwa. Menurut PBB, sebenarnya pertumbuhan penduduk di semua wilayah telah mencapai puncaknya sehingga terus berkurang, tetapi dalam hal ini Afrika adalah satu-satunya kekecualian: penduduk di benua itu akan terus tumbuh bahkan setelah akhir abad 21. Gambaran lebih rinci dapat dilihat di sini[3].

Bagaimana dengan Indonesia? Jawabannya disajikan pada Grafik di bawah:

  • Total penduduk Indonesia pada tahun 1950 sekitar 30 juta.
  • Total itu menjadi sepuluh kali pada tahun 2030, sekitar 300 juta.
  • Pertumbuhan penduduk mencapai puncaknya pada tahun 2060 dengan total penduduk sekitar 325 juta; selanjutnya akan terus menurun.

Pertumbuhan penduduk mencapai puncaknya pada tahun 2060 dengan total penduduk sekitar 325 juta; selanjutnya akan terus menurun.

Skenario di atas menggunakan model perkiraan moderat dalam arti mengacu pada estimasi titik atau median dalam interval probabilitas estimasi yang lebar dan melebar.

Wallahualam…@

[1] https://population.un.org/wpp/Publications/Files/WPP2019_Highlights.pdf

[2] https://publications.csiro.au/rpr/download?pid=csiro:EP126135&dsid=DS2

[3] https://uzairsuhaimi.blog/2019/11/18/world-population-trend-forecasts/