Simbolisme Haji: Belajar dari Syariati

Kini jamaah haji tengah berada di Arafah, suatu wilayah terbuka di timur luar Kota Mekah. Di sana, sekitar 2.3 juta jamaah berkumpul untuk wukuf, salah satu rukun haji.

An aerial view of Mount Arafat, where thousands of Muslim worshippers gather during the Hajj pilgrimage. EPA

Sumber: Ini

Jamaah sudah harus meninggalkan Arah sebelum malam, bergerak ke Mudalifah untuk “bermalam” (di sini ada bukit kecil yang disebut sebagai Masy’aril Haram dalam Al-Quran), sebelum akhirnya sampai di Mina untuk tinggal 2-3 hari di sana. Ketika di Mina inilah jamaah melakukan Jumrah (lempar batu) dan menyembelih hewan korban (umumnya diserahkan kepada Panitia Haji). Dari Mina Jamaah kembali ke Kabah untuk Tawaf Ifadah (Rukun Haji).

Kenapa jamaah melakukan semua itu? Jawaban singkatnya, karena itulah yang dicontohkan Nabi SAW: tindakan jamaah adalah perwujudan kepatuhan kepada ajaran yang dibawanya, tanpa bertanya kenapa? (Arab: bila kaifa).

Terlepas dari soal kepatuhan, semua ritual haji sebenarnya mengandung banyak hikmah atau simbolisme yang layak direnungkan. Salah satu rujukan mengenai ini adalah karya-karya Ali Syariati (1933-1977) mengenai Haji. Beliau adalah seorang sosiolog (ideolog) revolusioner Iran yang sangat dihormati karya-karyanya di bidang sosiologi agama dan masyhur sebagai seorang cendekiawan Iran abad ke-20.

Bagian selanjutnya tulisan ini meninjau secara singkat sebagian kecil dari simbolisme yang dimaksud sebagaimana dikemukakan oleh Syariati dalam salah satu karyanya [1].

Filsafat Hampa

Bagi Syariati ibadah haji adalah bentuk penolakan terhadap filsafat hampa (rejection of an empty philosophy). Kenapa? Karena sehari-hari kita cenderung kehilangan tujuan. Tujuan kita hanya untuk hidup dan apa yang ada dalam tubuh kita yang hidup adalah jiwa yang mati. Baginya itu adalah kondisi yang tidak sehat dan pengalaman haji dapat mengubah kondisi tidak sehat ini. Selanjutnya Syariati mengatakan ini:

Haji adalah antitesis dari ketiadaan tujuan. Ini adalah pemberontakan melawan nasib terkutuk yang dipandu oleh kekuatan Setan. Pelaksanaan Haji akan memungkinkan Anda melarikan diri dari jaringan kerumitan yang kompleks. Tindakan revolusioner ini akan mengungkapkan kepada Anda cakrawala yang jelas dan cara bebas untuk bermigrasi ke keabadian, kepada Allah SWT.

Hajj is the antithesis of aimlessness. It is a rebellion against a damned fate guided by the evil force. The fulfillment of Hajj will enable you to escape from the complex network of fuzzles. This revolutionary act will reveal to you the clear horizon and free way to migration to eternity to the Almighty Allah.

Ibadah Haji dimulai dari miqat, tempat yang sejak era Nabi SAW sudah ditentukan untuk tujuan itu . Di sanalah jamaah menegaskan niat untuk memulai ibadah haji, mengenakan pakaian ihram, serta melepaskan semua pakaian sehari-hari.

Simbolisme Pakaian

Bagi Syraiati ritual melepaskan pakaian sehari-hari kaya dengan simbolisme. Argumennya, kita sehari-hari hakikatnya tidak mengenakan pakaian, tetapi dengan pakaian kita membungkus diri kita yang sebenarnya.

Pakaian kita, lanjutnya, menyimbolkan (simbolizes), memolakan (patterns), dan membedakan (distincts). Pakaian kita menciptakan batas semu (superficial border) yang menyebabkan keterpisahan antar manusia. Dalam kebanyakan kasus, keterpisahan ini melahirkan diskriminasi. Lebih lanjut, lahirlah konsep “Aku”, bukan “Kita”. “Aku” diletakkan dalam konteks sukuku, margaku, keluargaku, posisiku, keluargaku, dan seterusnya; bukan “Aku” sebagai manusia (human being).

Manusia terdiri dari ras, bangsa, kelas, sub-klas, kelompok, dan marga. “Untuk apa?”, tanya Syariati. Untuk menunjukkan “ones-self-but under so much make-up”, jawabnya sendiri. Selanjutnya dia mengatakan ini:

Sekarang bukalah pakaian Anda. Tinggalkan semuanya di miqat. Kenakan Kafan yang terdiri dari bahan putih polos. Anda akan menjadi seperti orang lain. Lihatlah keseragaman tercipta! Jadilah partikel dan menyatulah dengan massa; jadilah setetes air dan masukilah lautan.

Now take off your clothes. Leave then at miqat. Wear the Kafan which consists of plain white material. You will be like everyone else. See the uniformity appear! Be a particle and joint the mass; as drop, enter the ocean.  

Kita dapat merasakan kuatnya bahasa Syariati. Pantaslah jika dia hidup dari satu penjara ke penjara lain karena penguasa pada masanya merasa sangat “gerah” dengan ide-idenya yang revolusioner dan mengancam status quo.

Demikianlah gambaran singkat simbolisme Haji menurut Syariati. Baginya Arafah berasosiasi dengan Pengetahuan dan sains,  Ma’syar atau Muzdalifah dengan Kesadaran dan pemahaman, Mina dengan Cinta dan Iman. Pengetahuan-Kesadaran-Cinta. Trilogi inilah yang dibutuhkan dalam perjalanan untuk menghampiri-Nya yang dilambangkan dengan kembalinya jamaah dari Mina ke Kabah untuk Tawaf Ifadah.

Wallahualam…@

[1] Hajj (the Pilgimage), terjemahan Inggris oleh Ali A. Behzadnia MD & Najla Denny.

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

 

Perlukah Ibukota Negara Kita Dipindahkan?

Kabarnya, ibukota negara kita akan dipindahkan ke Luar Jawa. Kabar ini disampaikan oleh Presiden Jokowi dalam beberapa kesempatan. Juga oleh Pak Bambang Bojonegoro dalam beberapa kesempatan wawancara dengan media televisi, termasuk dengan BBC. Yang kedua ini menarik karena informannya Menteri PPN/Ketua Bappenas dengan latar belakang ahli ekonomi perencanaan kota. Yang dikemukakannya tentu bukan sesuatu yang masih wacana atau dalam kajian, melainkan sesuatu yang sudah meruapakan keputusan politik dan bahkan mungkin sudah dalam persiapan implementasi.

Salah satu argumen dari keputusan politik ini, Pulau Jawa ke depan tidak akan lagi memiliki kapasitas tampung untuk mendukung kegiatan pusat pemerintahan nasional. Argumen ini jelas tetapi masih sah bagi kita yang memiliki jangkauan visi terbatas untuk bertanya mengapa harus pindah. Penulis tidak bermaksud menjawab pertanyaan besar ini secara langsung. Alih-alih, melalui tulisan ini, penulis mencoba menjawab pertanyaan: “Bagaimana skenario demografis di masa mendatang dan implikasinya bagi kawasan Jakarta dan sekitarnya, jika status quo dipertahankan?” [Artinya, tidak ada perpindahan ibukota negara.]

Tiga Kali Lipat

Berbicara mengenai skenario berarti berbicara masa depan yang idealnya berbasis ilmiah. Pertanyaan dasarnya kira-kira berapa jumlah penduduk di kawasan Jakarta dan sekitarnya 10, 20, atau 50 tahun ke depan, misalnya. Kawasan yang dimaksud adalah Jakarta dan kabupaten/kota tetangganya: Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, kabupaten dan kota Bekasi, Kota Depok, dan kabupaten serta kota Bogor. Wilayah-wilayah ini perlu dipertimbangkan karena sebagian penduduknya secara de facto adalah penduduk siang Jakarta.

Untuk menjawab pertanyaan ini kita dapat menggunakan dua angka proyeksi penduduk sebagai basis, menghitung  angka rata-rata pertumbuhan  per tahun (=r) berdasarkan dua nagka itu, dan mengektrpolasi ke depan berdasarkan angka r. Secara demografis ini mungkin agak kasar tetapi itulah yang dapat dilakukan saat ini untuk keperluan tulisan ini.

Menurut sumber data resmi[1], proyeksi penduduk di kawasan Jakarta dan sekitarnya pada tahun 2015 dan 2018, masing-masing 24.8 dam 26.4 juta. Berdasarkan dua angka ini kita memperoleh angka r=0.021 yang dengannya kita dapat mengekstrapolasi jumlah penduduk 50 tahun ke depan (=2068). Hasilnya, penduduk kawasan pada 2068 diperkirakan akan mencapai angka 75.8 juta atau hampir tiga kali jumlah penduduk 2018. Tabel di bawah ini mengilustrasikan bagaimana angka itu diperoleh.

Kapasitas Daya Dukung

Yang perlu dicatat, perhitungan pada tabel berdasarkan model pertumbuhan eksponensial, model yang berlaku bagi manusia dan organisme lain, termasuk kelinci dan kerbau, misalnya[2]. Secara teknis demografis, model ini tergantung kepadatan (density dependent); artinya, model ini tidak realistis diterapkan pada suatu keadaan ketika kepadatan sudah mendekati batas maksimum kapasitas daya dukung (carrying capacity), kemampuan habitat untuk menyediakan sumber kehidupan bagi  organisme yang hidup di dalamnya.

Sumber Gambar: Google

Batas maksimum yang dimaksud  dapat dibayangkan sebagai limit atau garis asimtot yang hanya dapat didekati tapi tidak dapat dilampaui. Dalam konteks ini berlaku rumus umum bagi semua organisme: sekain dekat dengan batas maksimum itu, semakin keras kompetisi untuk mengakses sumber daya hidup: makan, air, pemukiman, dan sebagainya.

Sejauh ini kita tidak memiliki garis asimtot yang dimaksud. Dugaan penulis, kondisinya akan dicapai pada tahun 2030 (tahun target SDG) ketika penduduk di kawasan ini mencapai jumlah 34 juta. Juga dugaan penulis, setelah tahun itu pertumbuhan di kawasan ini akan dipaksa mengikuti model logistik atau model lain yang memiliki unsur garis asimtot.

Implikasi Kepadatan

Dengan penduduk 75.8 juta (2068), kawasan Jakarta dan sekitarnya pasti sangat padat. Implikasinya luas dan negatif bagi kualitas hidupan masyarakat, termasuk: (1) interaksi antar manusia semakin intens yang berarti mempermudah penyebaran penyakit, (2) sampah rumah tangga warga akan meningkat dan ini berarti kerusakan lingkungan hidup serta meluasnya sumber kontaminasi minuman-makanan, dan (3)  jumlah “predator” akan meningkat karena demikian mudahnya mencari “mangsa”. Yang terakhir ini bukan mengada-ngada tetapi berlaku umum bagi semua organisme.

Kita dapat memperpanjang daftar implikasi negatif kepadatan penduduk: kemacetan lalu lintas semakin parah, polusi udara yang semakin memburuk, kualitas pemukiman dan lingkungan hidup yang semakin memprihatinkan, persaingan di pasar kerja semakin keras, dan besarnya kebutuhan listrik dan air bersih akan semakin membesar.

Terkait dengan kerasnya persaingan di pasar kerja khususnya di kalangan penduduk usia muda yang semakin terdidik, gejalanya berlaku hampir universal. Fenomena ini memicu timbulnya frustasi di kalangan penduduk usia muda, mendorong tindakan kriminal, diharmonisasi sosial, dan bahkan pembangkangan publik terhadap otoritas yang sah. Hemat penulis, itulah salah satu latar belakang timbulnya Arab Spring di kawasan Arab dan Afrika Utara, juga menguatnya politik yang bernuansa supremasi kulit putih dan ultra-nasionalis di Amerika Serikat dan Eropa.

Bagaimana dengan masalah kebutuhan air bersih? Yang pasti masalah ini menentukan kualitas hidup masyarakat. Tetapi seberapa serius masalah ini menurut skenario kita di atas? Ini gambarannya. Menurut Ditjen Cipta Karya (2006), kebutuhan air bersih Liter/Orang/Hari (OLH) adalah 120-150 liter untuk wilayah yang berpenduduk di atas satu juta jiwa[3]. Katakanlah, untuk mudahnya, kebutuhan itu 120 OLH. Jika angka di scaled up untuk 75,8 juta jiwa maka kebutuhan air bersih per hari sekitar 9.1 milyar OLH. Siapa mampu?

*********

Pindah ibukota ke Luar Jawa itu perlu. Visinya jelas. Argumennya, masuk akal untuk menghindari implikasi negatif terlalu padatannya  penduduk di kawasan Jakarta dan sekitarnya. Juga untuk menjauhi wilayah Sunda Mega thrust?[4] Singkatnya, rencana pindah ini justified.

[1] Website BPS Jakarta dan BPS Jawa Barat.

[2] Pertumbuhan populasi kelinci dan kerbau di Australia konon pernah mengancam kelangsungan hidup binatang lokal karena menghabiskan hampir semua sumber daya vital bagi binatang yaitu rumput dan air. Predator alamiah tidak menghentikan sehingga mengundang campur tangan supra-predator; yakni, manusia.

[3] Lihat ini.

[4] Wilayah ini rawan terpapar gempa sangat besar (mega). Wilayahnya memanjang sekitar 5.500 Km dari Myanmar di utara, membentang di sepanjang sisi barat daya Sumatra, ke selatan Jawa dan Bali sebelum berakhir di dekat Australia (lihat ini)

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Pesan Sufistik Musik Rahman

Kata Rahman dalam judul merujuk pada seorang individu yang bernama  Allahraka Rahman dan populer dengan nama  AR Rahman. Ia adalah komposer dan produser musik ternama kelahiran India. Kelebihannya, mengintegrasikan musik India klasik dengan musik elektronik dan aransemen orkestra tradisional.

Reputasi Rahman

Dalam dunia musik Rahman banyak mendulang penghargaan (Award): 6 National Film Awards, 2 Academy Award, 2 Grammy Award , 1 BAFTA Award, 1 Golden Globe Award, 15 Filmfare Awards, dan 17 Filmfare Awards South. Dengan reputasi semacam iini ia bukan pemusik biasa:

  • Tahun 2009, Time memasukkannya ke dalam daftar 100 orang paling berpengaruh;
  • Tahun 2011, majalah musik dunia yang berbasis di Inggris menggelarinya sebagai salah seorang dari Tomorrow’s World Music Icons; 
  • Nama kecilnya, Isai Puyai (Inggris: the Musical Storm) dan Mozart Madras.

Selain sebagai pemusik, Rahman juga dikenal juga sebagai dermawan (filantropis):

Rahman is involved with a number of charitable causes. In 2004 he was appointed as the global ambassador of the Stop TB Partnership, a WHO project. Rahman has supported Save the Children India and … help orphans in Banda Aceh who were affected by the 2004 Indian Ocean Tsunami.

Pengaruh Sufi

Rahman terlahir sebagai seorang Hindu dan masuk Islam ketika umur 20-an. Peralihan agamanya karena dorongan hatinya sendiri. Dia mengakui sufisme mempengaruhi sikap hidupnya sebagaimana terlihat dari cuplikan wawancara berikut:

How has Sufism affected your attitude to life?

It has taught me that just as the rain and the sun do not differentiate between people, neither should we. Only when you experience friendship across cultures, you understand there are many good people in all communities…

Did the peer ask you to embrace Islam?

No, he didn’t. Nobody is forced to convert to the path of Sufism. You only follow if it comes from your heart. A year after we met Qadri Saaheb, in 1987…I was reminded of what Jesus Christ, Peace be upon Him, once said: “I wish that you were cold and hot. So because you are lukewarm and neither hot nor cold, I will spit you out of My mouth.”

What I understood by His words was that it is better to choose one path. The Sufi path spiritually lifted both my mother and me, and we felt it was the best path for us, so we embraced Sufi Islam.

Hasbi Rabbi Jallallah

Rahman memproduksi beberapa musik yang bergenre sufistik yang dua antaranya populer bagi kalangan paduan suara di lingkungan sekolah maupun perguruan tinggi. Dua produksi yang dimaksud berjudul Kun Fa Yakun dan Hasbi Rabbi Jallalah (selanjutnya, Hasbi). Yang pertama agaknya diakrabi ibu-ibu yang suka yasinan. Pesan intinya adalah keniscayaan kekuasan-Nya yang mutlak dan sikap rendah hati di hadapannya. Salah satu syairnya yang sering diulang, “Saya tidak tahu apa-apa”.

Bagaimana dengan yang kedua (Hasbi)? Pesan utamanya adalah zikr yang dinarasikan dalam bahasa yang kuat (Quran: qaulan baliga), aransemen lagu yang apik, serta pesannya yang “mendesak”. Untuk memahami ini, berikut diajikan cuplikan syairnya yang aslinya berbahasa India dan Arab:

——–

Those who addicted to problem of heart,

the Essence of Allah calls you!…

Those who zikr of God from the heart is indeed freed!…

Zikr is peace,

Zikr id the Victory,

Zikr is Healing,

Zikr is the Cure…

——

Hasbi rabbi jallallah,

Maa fii qalbi gaitullah,

Nuri Muhammad shallallah,

Haqq lailaha illallah.

——-

Pesan syair di atas jelas: (1) ajaran tauhid atau ajaran mengenai keesaan-Nya, dan (2) ajakan untuk berzikir atau mengingat-Nya. Ajaran tauhid terlihat pada baris terakhir; ajakan berzikir pada keseluruhan bagian pertama di mana kata zikir disebutkan sampai lima-kali. Yang ditekankan pada bagian pertama bukan definisi zikir, melainkan makna atau nilainya bagi pelaku (Arab: zakir). Itulah kekuatan syair itu!

Sebenarnya baris ke-2 bagian kedua syair di atas berbicara mengenai definisi, tetapi dinarasikan dalam bahasa yang sangat operasional: maa fii qalbi gairullah. Kalimat ini secara sederhana berarti tidak ada apa pun dalam kalbu selain-Nya. “Definisi” ini sejalan dengan penegasan almarhum KH Zezen (wafat 2015) yang disampaikannya dalam suatu  pengajian Al-Hikam bahwa kalbu adalah dimensi ketuhanan dalam diri manusia yang merupakan hak-Nya yang ekslusif

Selain sarat dengan ajaran tauhid dan ajakan berzikir, dalam syair Hasbi banyak disebutkan Nama-nama-Nya-yang-Indah (Arab: Asmaul Husna) termasuk alhayyu, lqayyum, arrahman, almannan, dan dzul jalaal wal-ikram.

Popularitas Rahman

Musik dengan genre sufistik Rahman populer tidak hanya di India tetapi juga di Eropa, Amerika Serikat, Kanada dan Asia (antara lain Jepang dan Taiwan). Ini berlaku setidaknya bagi kelompok paduan suara di lingkungan sekolah maupun perguruan tinggi, termasuk yang memiliki tradisi kekeristenan yang kental.

Kenapa populer? Hampir dipastikan sebagian karena tingginya kualitas musiknya. Apakah juga karena pesan perdamaian yang dikandung dalam musiknya yang bergenre sufistik? Ini dapat diperdebatkan walaupun penulis cenderung memberikan jawaban positif.

Untuk dapat mengapresiasi musik Rahman yang bergenre sufistik silakan pembaca mengunjungi tautan ini  yang menayangkan Hasbi ketika dibawakan langsung oleh penciptanya (2017). Dari tayangan ini, penulis dapat merasakan kekuatan bahasa yang digunakan, kedalaman penghayatan penciptanya, serta kedalaman dan ke-mendesakan pesan yang ingin disampaikannya.

Atau, pembaca lebih menyukai tayangannya oleh paduan suara mojang-bujang UNPAD yang baru dirilis (May 27, 2019)?  Jika ya silakan kunjungi tautan ini. Dari tayangan ini penulis memperoleh kesan kuat bahwa keindahan musik dan kedalaman pesan sufistik Rahman dapat dinikmati oleh generasi muda.

Semoga….@

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

 

 

Simbolisme Bendera dan Hewan Kurban

Teman kita yang satu ini kreatif. Meski sudah pensiun dan berusia-kepala-6, ia masih aktif berbisnis, “bisnis serabutan” katanya. Bulan ini bisnisnya agak aneh: jualan bendera dan hewan kurban, sebagai “pemodal” sekaligus “manajer”. Ketika ditanya kenapa tidak fokus pada salah satu, ia menjawab ada kesamaan di antara keduanya. Ini argumennya: “Kalau sampean memasang bendera di depan rumah, atau patungan membeli sapi korban, maka itu merupakan tindakan simbolis”.

Ungkapan itu memulai “ceramah” teman kita mengenai dua topik ini: bendera dan kurban. Sasaran ceramah hanya penulis. Tulisan ini meringkas isi ceramah yang dimaksud.

Rasa Kebangsaan

Mengenai bendera, yang penting bukan gambar atau warna-warninya, tetapi bagaimana warga negara itu memaknainya: “Bendera menyimbolkan entitas dan kehormatan suatu negara”, tegasnya. Nilai rupiah sehelai kain bendera bukan apa-apa dibandingkan dengan nilai simbolis yang diwakilinya:

“Bendera mewakili solidaritas dan kehormatan bangsa sedemikian rupa sehingga warga-bangsa yang bersangkutan dapat menjadi emosional mengenainya dan menumbuhkan rasa patriotisme. Bendera adalah instrumen untuk menumbuhkan rasa kebangsaan warga-bangsa”.

Demikianlah ceramahnya mengenai bendera. Ia siap pergi tetapi urung karena penulis bertanya mengenai simbolisme Kurban.

Analisis Bahasa

“Kalau sampaian serius mengenai sesuatu, maka langkah pertama adalah melakukan analisis bahasa mengenai sesuatu itu”.

Demikianlah kalimat pembuka ceramahinya mengenai kurban. Baginya kalimat ini wajar: ia jebolan Fakultas Adab (Bahasa) suatu IAIN sehingga memahami seluk-beluk nahwu-sharaf, tata Bahasa Arab). Lanjutnya:

“Kalau sampean berselawat dan bersalam kepada junjungan nabi kita maka itu bagus, tetapi tidak cukup bagus, sebelum sampean memahami arti selawat dan salam”.

“Tapi kita tidak sedang membicarakan selawat dan salam; topik kita kurban”, penulis menyela.

[Penulis menyela karena ia mulai terlihat tidak fokus, gejala kepala 60-an.] Dia kembali fokus dan melanjutkan ceramahnya:

“Kata kurban berasal dari qurb (Arab) yang artinya pendekatan atau suatu metode untuk mendekati seseorang. “Jadi, cara sampean mendekati janda itu namanya qurb“, selorohnya.

Untuk menghentikan seloroh penulis bertanya dengan nada dibuat serius:

“Dulu kaum musyrik Mekah menyembah berhala sebagai qurb kepada Allah. Apakah tindakan semacam ini dapat dibenarkan?” Teman kita merespons:

“Sama sekali tidak! Juga sangat berisiko karena praktik semacam itu dapat membuat kita berhenti pada simbol dan bahkan meng-ilah-kannya, memberi status keilahian pada simbol”.

Gemuk dan Sehat

Terkait dengan hukum berkurban, teman kita ini menjelaskan adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama. Walaupun demikian, ia memberi nasihat serius: “Kalau sampean mampu lakukan saja. Pasalnya, ragam pendapat mengenai masalah ini false positive“. [Penulis tertawa mendengar dua-kata terakhir ini tapi teman kita melanjutkan ceramahnya dengan datar sebelum penulis bertanya.]

Dia menjelaskan ada tiga pendapat ulama mengenai hukum kurban: menganjurkan (sunnah, jumhur ulama), sangat dianjurkan (sunnah muakkadah, mazhab Syafii), wajib (mazhab Hanafi). Atas dasar ini dia sangat menganjurkan berkurban.

“Kalau ternyata wajib, dengan melakukannya sampean terbebas dari kewajiban; kalau ternyata sunnah, semoga saja sampean memperoleh pahala sunnah moyang purba kita yaitu Ibrahim AS”.

Mengenai hewan kurban ia menasehati untuk memilih yang gemuk dan sehat “agar banyak dagingnya dan aman dikonsumsi oleh orang lain” katanya. “Ingat, yang mengonsumsi hewan kurban sampean bukan hanya sampean dan keluarga”, lanjutnya. Dia juga meyakinkan penulis, sekalipun hewan kurban yang gemuk dan sehat relatif mahal, memilihnya pasti tidak merugikan karena pahalanya sebanyak bulu hewan yang dikorbankan.

Sumber Foto: Google

Bukan dagingnya, bukan darahnya

Teman kita ini sebenarnya cenderung pada pendapat yang mewajibkan berkurban atas dasar QS (108): “Coba sampean rasakan kesungguhan perintah berkurban dalam Surat terpendek itu”, sarannya.  Mengenai latar belakang perintah berkurban ia merujuk tulisan Shehzad Saleem yang bertajuk “Philosophy of Animal Sacrifice on Eid”. Bagi penulis ia mengutip sebagian isinya tanpa terjemahan:

The reason for animal sacrifice on eid is to commemorate a great event which depicts an extraordinary expression of submission to the command of Allah – the essence of Islam. The Prophet Abraham (sws) while obeying the Almighty set a platinum example of this submission.

Sebelum mengakhiri ceramah, teman kita ini menegaskan yang esensial dalam berkurban adalah takwa yang seharusnya melatarbelakangi tindakan berkurban. Setelah direnungkan, penegasan ini ternyata sejalan dengan kutipan di atas, juga dengan kandungan QS (22:37):

Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.

Demikianlah ceramah teman kita ini. Ringkasannya dalam dua kalimat yang mudah diingat kira-kira begini:

Menghormati bendera dan berkurban adalah tindakan simbolik. Yang pertama menyimbolkan rasa kebangsaan, yang kedua nilai takwa.

Wallahualam…@

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Ibrahim AS: Sejarah dan Doa

Musim haji ini adalah waktu yang tepat untuk menengok sosok Nabi Ibrahim AS paling tidak karena ada dua alasan. Pertama, Nabi AS inilah yang menyerukan manusia untuk berhaji. Seruannya sangat efektif dilihat dari banyaknya jamaah merespons dan beragamnya status sosial ekonomi[1] mereka. Kedua, beberapa ritual haji melestarikan nilai-nilai yang merupakan warisan Nabi AS atau keluarganya[2]. Pertanyaannya, siapakah tokoh luar biasa ini? Tulisan ini[3] bermaksud menjawab pertanyaan ini dengan menyajikan secara singkat sejarah Nabi AS ini dan mengilustrasikan– berdasarkan sejumlah ayat Al-Quran– bagaimana semua doa Nabi AS ini dikabulkan.

Sumber gambar: Google

Sejarah Ibrahim AS

Salah satu sumber bacaan sejarah Nabi AS ini yang kredibel, mudah diakses dan dibaca adalah Karya Dirk (2002)[4] dalam bukunya Abraham, the Friend of God[5]. Menurut Dirk, Ibrahim AS lahir di UR (Irak) pada tahun 2166 SM atau sekitar empat milenium yang lalu.

Ibrahim AS sangat berani dalam mengusung ajaran tauhid yang murni. Ketika masih berusia 16 tahun beliau sudah berdakwah secara terbuka bahkan di hadapan Kaisar Naram, kaisar Irak Kuno, yang musyrik. Akibatnya, beliau diadili oleh kaisar itu dan dihukum dengan cara diceburkan ke dalam api yang menyala. Gambaran selanjutnya mengenai sejarah Nabi AS ini diringkas pada Tabel 1.

Tabel 1: Garis Waktu Sejarah Ibrahim AS

Tahun (Sebelum Masehi)Umur Ibrahim AS (tahun)

Peristiwa

21660Lahirnya Ibrahim AS ibn Aazar di UR (Irak).
215016

Ibrahim AS menghancurkan berhala, diadili Kaisar Naram dan dimasukkan ke dalam api.

Luth AS mengakui Keesaan Tuhan.

211749Ibrahim AS menikah dengan Sarah RA.
210660Ibrahim AS membakar Kuil di UR.
209175Ibrahim AS tiba di Palestina bersama Sarah RA dan Luth AS.
208977Ibrahim AS, Sarah RA dan Luth AS tiba di Mesir.
208482Ibrahim AS, Sarah RA dan Siti Hajar pindah ke Hebron.

Sarah RA memberikan Siti Hajar kepada Ibrahim AS sebagai istri kedua.

208185Siti Hajar RA mengandung.
208086Ismail AS lahir (dari Siti Hajar RA).
206799Ibrahim AS mengurbankan Ismail AS.

Ibrahim AS dan Ismail AS dikhitan.

2064-2029108-137Ibrahim AS dan Ismail AS Membangun Kabah.
1991175Wafatnya Ibrahim AS.

Sumber: Lihat Catatan 5.

Doa yang Terkabul

Sebagian doa Nabi AS ini didokumentasikan dalam Al-Quran. Tiga doa di antaranya yang terkait dengan haji adalah sebagai berikut (QS 2: 126-8):

  1. Doa agar Kota Mekah dikaruniai keamanan dan penduduknya dianugerahi kelimpahan buah-buahan (ayat 126);
  2. Doa yang doanya dikabulkan (ayat 127); dan
  3. Doa agar diri dan keturunan-keturunannya menjadi muslim dan diajari tata cara haji (ayat 128).

Semua doa ini terkabul. Ada doa lainnya yang diabadikan dalam ayat lanjutan:

Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Perkasa, Maha bijaksana (QS 2:129).

Ayat ini menarik jika disandingkan dengan ayat ke-151 (Surat yang sama):

Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikanmu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Quran) dan Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.

“Seorang rasul” yang dimaksud dalam ayat ke-129 adalah Nabi Muhammad SAW. Jadi, doanya terkabul. Bagian selanjutnya ayat ini menggambarkan karakteristik misi rasul yang didoakan. Apakah ini juga terkabul? Jawabannya terungkap dalam ayat ke-151.

Agar jelas, kita dapat mencermati dua ayat ini dan membandingkannya. Sebagaimana terlihat, ayat ke-129 menggambarkan tiga misi rasul yang didoakan: (1) membacakan ayat-ayat-Nya, (2) mengajarkan Kitab dan Hikmah, dan (3) menyucikan. Ayat ke-151– dapat dikatakan sebagai “realisasi” dari doa itu– menggambarkan empat misi rasul: (1) membacakan ayat-ayat-Nya, (2) menyucikan, (3) mengajarkan Kitab dan Hikmah, dan (4) mengajarkan yang belum diketahui. Dari perbandingan dua ayat ini kita dapat menyimpulkan:

  1. Semua doa Ibrahim AS dikabulkan;
  2. Fungsi rasul yang ke-4, “mengajarkan yang belum diketahui”, adalah bonus dalam arti tidak termasuk dalam doa Ibrahim AS; dan
  3. Berbeda dengan ayat ke-129, urutan “menyucikan” disebutkan terlebih dahulu sebelum “mengajarkan Kitab Suci dan Hikmah” dan “mengajarkan yang belum diketahui”.

Kesimpulan ke-2 mengesankan misi khas Nabi Muhammad SAW adalah “mengajarkan apa yang belum diketahui”. Kesan ini paralel dengan ayat ke-5 Surat Al-Alaq (ke-96), Surat yang lima ayat pertamanya [6] mengabadikan wahyu pertama kepada Nabi SAW.  Kesimpulan ke-3 agaknya mengisyaratkan kepada kita bahwa “kesucian” merupakan prasyarat untuk memperoleh “pengajaran Kitab dan Hikmah” dan untuk “memperoleh pelajaran baru“, tapi …

Wallahualam….@

[1] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2019/07/21/haji-ibrahim-seruan-efektif/

[2] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2019/07/24/haji-warisan-ibrahim/.

[3] Tulisan lain terkait dengan Nabi AS ini yang berjudul “Mengenal Pemimpin Besar Ibrahim” dapat diakses di sini.

[4] Dirk adalah mantan pendeta yang nama lengkapnya Haji Abu Yahya Jerald F. Donald, PsyD Abu ‘Alenda. Ini sebagian pengakuannya: “… saya lahir dan dibesarkan di lingkungan Kristen; saya punya izin berkhotbah dari Gereja Metodis Bersatu, 1969; saya adalah pendeta resmi dari Gereja Metodis Bersatu, 1972, dan memeluk Islam pada 1993 (halaman 10).

[5] Buku ini terbitan Amana Publications (2002) dan sudah diterbitkan dalam Bahasa Indonesia dengan judul Ibrahim Sang Sahabat Tuhan oleh Serambi (2004).

[6]  Inilah terjemahan lima ayat yang dimaksud: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.  Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajarkan manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya“. 

 

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

 

Haji dan Warisan Ibrahim AS

Ibadah Haji terkait dengan warisan Nabi Ibrahim AS di Arab[1]. Warisan yang dimaksud utamanya adalah ajaran untuk mengesakan Tuhan YME, monoteisme atau tauhid. Nabi AS ini masyhur karena kegigihan dan keberaniannya mengusung prinsip tauhid ini secara murni. Prinsip tauhid inilah yang terungkap dalam talbiyah, bacaan yang dikumandangkan oleh jamaah haji ketika mengenakan pakaian ihram. Dengan mengumandangkan ini jamaah berikrar siap berhaji hanya untuk-Nya dan pengakuan tidak ada sekutu bagi-Nya. Singkatnya, ibadah haji menekankan pemurnian prinsip tauhid.

Sumber Gambar: Google

Bukan Ziarah Biasa

Haji biasa diterjemahkan dengan ziarah (Indonesia) atau pilgrimage (Inggris). Penulis meragukan ketepatan terjemahan ini:

  • Istilah ziarah (pilgrmage) umumnya terkait dengan niatan mengunjungi makam (kuburan), situs atau peninggalan orang yang dianggap suci. Dalam berhaji tidak ada makam yang dikunjungi! Makam Rasul SAW? Tidak juga. Kunjungan ke sana bukan bagian dari ibadah haji.
  • Sebagian jamaah mungkin mengunjungi hudaibiyah, situs di mana Rasul SAW menyelenggarakan perjanjian historis dengan pihak Quraisy Mekkah. Tetapi itu bukan untuk berziarah, melainkan untuk miqat atau mengambil titik mulai haji dan mulai mengenakan pakaian ihram.
  • Masjid Haram dan Kabah jelas situs sejarah tetapi kehadiran jamaah di sana tidak diniatkan untuk ziarah dalam pengertian umum kata itu, melainkan untuk salat, sa’i dan tawaf. Mencium Kabah juga bukan bagian dari ibadah haji. Terkait dengan ini ada ucapan Umar RA otoritatif: “Kalau Rasul SAW tidak melakukan aku pasti tidak melakukannya”.

Singkatnya, haji bukanlah ziarah dalam pengertian umum. Oleh karena itu, memadankan kata haji dengan kata ziarah dalam pengertian umum berisiko mengaburkan makna substantif ibadah haji.

Warisan Ibrahim AS

Seperti ditegaskan sebelumnya, warisan utama Ibrahim AS adalah ajaran tauhid. Di luar ini paling tidak ada enam alasan untuk mengaitkan ibadah haji dengan warisan Nabi AS itu. Hampir semua alasan itu bersifat qurani dalam arti berbasis ayat Al-Quran sebagaimana terlihat pada daftar berikut:

  1. Yang menyerukan ibadah haji adalah Ibrahim AS (QS: 22:27) kira-kira empat milenium yang lalu[2];
  2. Yang membangun (ulang) Kabah adalah Ibrahim AS dan anaknya Ismail (QS 2:125);
  3. Yang memohon petunjuk mengenai tata-cara atau Manasik Haji adalah Ibrahim AS bersama anaknya Ismail AS (QS 2:128);
  4. Ritual Sa’i –lari-lari kecil antara Bukit Marwah dan Bukit Shafa tujuh balik– melestarikan nilai kegigihan seorang ibu (Sarah AS) ketika berjuang mencari air dan meminta pertolongan (di tempat yang tak berpenghuni) bagi bayinya (Ismail AS) yang tengah sekarat karena kepalaparan dan dehidrasi;
  5. Ritual Jumrah melestarikan nilai ketegasan Ibrahim AS menentang desakan Setan untuk melawan perintah-Nya  kembali ke istri pertamanya (Sarah AS) di Palestina dan meninggalkan Hajr AS yang tengah mengandung; dan
  6. Tradisi korban hewan pada Bulan Haji melestarikan nilai kepatuhan-mutlak Ibrahim AS terhadap peritah-Nya untuk mengorbankan satu-satunya anak (ketika itu) yang sudah puluhan tahun di dambakannya yaitu Ismail AS ketika beranjak dewasa (QS 37:102).

QS (37:102) tidak menyebutkan secara eksplisit anak yang dikorbankan Ibrahim AS: Ismail AS sebagaimana diyakini Muslim atau Ishak AS sebagaimana diyakini Yahudi dan Kristen. Dalam konteks ini layak dicatat kesimpulan Dirk (lihat catatan ke-2), berdasarkan kajian cermat terhadap teks biblikal yang relevan, yang lebih mengarah kepada keyakinan Muslim. Selain itu, fakta sosiologis historis bahwa tradisi korban (hewan) dalam Bulan Haji yang mentradisi di wilayah Arab dan lingkungan komunitas Muslim, sejalan dengan kesimpulan Dirk: anak yang dikorbankan oleh Ibrahim AS adalah Ismail AS, leluhur Nabi Muhammad SAW.

Allahumma shalli wa barik ‘alaa Muahmmad waalihi/kama shallaita wa barakta ‘alaa Ibrahim waalilihi/fil’alamin innaka hamidun majid/

[1] Rujukan geografis perlu disebutkan karena wilayah dakwah beliau sangat luas: Irak, Palestina, Mesir dan Arab. Itulah sebabnya beliau diakui sebagai pemimpin besar, imam atau patriarch oleh penganut ketiga agama samawi: Yahudi, Kristen dan Islam.

[2] Dr. Jerald F. Dirk (2002, Ibrahim Sang Sahabat Tuhan (Tabel 9, 286-290), Serambi.

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Haji: Seruan Ibrahim AS yang Efektif

Dalam hitungan minggu, jutaan orang Muslim akan menyelenggarakan haji, ibadah yang merupakan Prinsip atau Rukun Islam yang kelima atau terakhir. Jika Rukun Islam ke-1 terkait dengan kesaksian Keesaan Tuhan atau prinsip tauhid, maka Rukun Islam ke-5 dengan afirmasi atau peneguhan prinsip tauhid ini yang dilakukan secara kolosal.

Sumber Gambar: English-arabiya.net

Haji dapat dikatakan sebagai upacara keagamaan terbesar kedua setelah Kumbha Mela bagi Umat Hindu yang dapat dihadiri sampai 60 juta orang. Tetapi keduanya sangat berbeda dalam hal semangat, latar belakang teologis dan acara utamanya[1].

Prinsip tauhid dalam haji tercermin dari bacaan talbiyah. Bacaan ini dilantunkan sebagai bentuk ikrar keikhlasan melakukan haji hanya untuk-Nya. Jamaah melakukan ini berulang kali begitu mereka mengenakan pakaian ihram[1], pakaian yang menyimbolkan upaya menyucikan diri dari hal-hal yang bersifat duniawi. Berikut ini adalah teks talbiyah yang dimaksud berdasarkan Hadits Riwayat Bukhari-Muslim:

labbaika/allhumma/labbaika/

labbaika/Lasyarika laka/labbaika/

innal hamda/ wanni’mata/walmulk/ 

la syarika laka/

Dari teks itu paling tidak ada tiga catatan yang layak digarisbawahi.:

  1. Allah SWT diposisikan sebagai lawan bicara (Arab: mukhatabah) yang mengesankan kedekatan-Nya dengan pembicara. Posisi ini ditunjukkan oleh kata ka atau laka.
  2. Prinsip tauhid terungkap dalam kata La Sharika Laka (artinya: “tidak ada sekutu bagi-Mu) yang diulang sampai dua kali.
  3. Teks itu dilafalkan  sepanjang rute dan waktu yang relatif sama, secara kolosal oleh jutaan orang.

Tetapi berapa juta?

Total jamaah haji tahun ini secara global diperkirakan berjumlah sekitar 2.3 juta orang. Jumlah itu kira-kira setara dengan total penduduk Kabupaten Karawang, atau Kabupaten Cirebon, atau Qatar, atau dua kali Bahrain.

Mengurus orang sebanyak itu jelas memerlukan operasi logistik yang luar biasa, unparalled logistical operation, menurut istilah Arab News (http://www.arabnoews.com). Menurut sumber ini, dalam haji tahun lalu (2018) Kementerian Kesehatan Arab Saudi telah mengerahkan sekitar 30,000 tenaga medis. Pada saat yang sama Palang Merah kerajaan ini telah mengoperasikan 127 pusat gawat darurat, dan hampir 2,000 staf.

Jamaah haji datang dari berbagai penjuru dunia. Yang terbanyak adalah jamaah tuan rumah yang totalnya diperkirakan mencapai 600,000 orang. Di luar jamaah tuan rumah, jamaah Indonesia paling banyak, sekitar 10% dari angka total. Totalnya setara dengan 2.0 kali total jamah Mesir, 2.6  kali total jamaah Iran, dan 2.8 kali total jamaah Turki (lihat Grafik 1).

Grafik 1: Jumlah Jamaah Haji 2017 dari 10 Negara Terpilih

Sumber: Ini

Sekalipun penyuplai jamaah haji terbesar (setelah tuan rumah) Indonesia secara proporsional bukanlah “negara haji”. Menurut PEW Research Center, proporsi penduduk Indonesia yang mengaku pernah haji hanya 3%. Angka ini relatif kecil, lebih kecil dari rata-rata proporsi Asia Tenggara (lihat Grafik 2).

Grafik 2: Proporsi Penduduk yang mengaku Pernah Haji

Sumber: Ini 

Kedatangan jamaah haji dari berbagai penjuru dunia merupakan tanggapan terhadap seruan yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim AS sekitar empat milenium lalu[2]. Secara misterius pengumuman itu sampai ke “hati” Umat Islam sampai sekarang dengan kecepatan penerimaan yang semakin meningkat: jumlah jamaah haji cenderung meningkat dan mungkin sudah maksimal dari sisi implikasi logistiknya. Seruan itu diabadikan dalam Al-Quran:

dan serulah manusia untuk mengerjakan Haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh (QS 22:27).

Seruan ini sangat efektif. Buktinya, tahun ini saja lebih 2 juta Umat Islam menanggapinya. Dari berbagai penjuru. Dari semua lapisan sosek masyarakat. Tidak semua jamaah mampu menanggapi undangan ini secara mudah. Sebut saja kasus seorang jamaah Indonesia tahun ini dilaporkan seorang nenek yang berprofesi sebagai penjual kayu bakar dan menabung selama 20 tahun. Kasus ini juga menyajikan kasus betapa efektifnya sruan Nabi Ibrahim SAW itu.

Wallahualam….@

[1] Kumbha Mela adalah suatu upacara ritual ziarah Umat Hidu di India setiap 12 tahun di empat lokasi di India: Allahabad (Prayag), Haridwar, Ujjain dam Nashik. Upacara ini didasarkan pada teologi Hindu– tepatnya mitologi Hindu– dan acara utamanya adalah mandi di tepi sungai (lihat ini).

[2] Angka ini mengasumsikan bahwa pengumuman itu disampaikan ketika Ibrahim AS dan Ismail AS memugar bangunan Kabah dan itu terjadi antara 2069 dan 2024 Sebelum Masehi (Lihat Dr. Jerald F. Dirk (2002), Ibrahim Sang Sahabat Tuhan, Serambi, Tabel 1).

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com