Pertumbuhan Tak-Berkualitas

Petumbuhan tak-berkualitas  dapat diukur antara lain dari daya ungkitnya terhadap perluasan lapangan kerja. Tanpa daya ungkit ini pertumbuhan menjadi jobless, tak-berkualitas. Bangka Belitung, Gorontalo, Jakarta, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Tenggara, masing-masing merupakan contoh kasus yang ideal dalam arti memiliki pertumbuhan  tinggi dan tidak jobless. Sebaliknya, Jambi dan Sumatera Utara merupakan contoh kasus yang memiliki pertumbuhan tak-berkualitas jobless. Dua propinsi ini, dalam skala nasional, memiliki angka pertmbuhan yang relatif tinggi tetapi angka pertumbuhan tenaga kerjanya relatif rendah.

 [Lanjut}

Pekerja Anak: Hand-Out Seminar

ILO-BPS mendiseminasikan hasil Survey Pekerja Anak (SPA) melalui seminar setengah hari, 11 Februari 2010, di Hotel Borobudur. Hasil survey itu antara lain menunjukkan bahwa dari sekitar 58.8 juta anak umur 5-17, sekitar 4.05 juta atau 6.9 persen tergolong sebagai anak yang bekerja (children in employment). Dari total anak yang bekerja, 1.76 juta atau 43.3 persen tergolong pekerja anak (child workers).

[Lanjut]

Anak yang Bekerja dan Pekerja Anak

Sebagai warga negara yang baik kita harus peduli mengenai aset negara yang mungkin paling berharga bagi dan menentukan nasib masa depan bangsa yaitu anak. Itulah sebabnya negara memberikan perlindungan hukum yang cukup—bahkan dalam standar internasional—kepada aset negara yang tak ternilai ini.  Tetapi perlindungan semacam itu sulit dilakukan jika anak berada dalam pasar kerja baik sebagai ‘anak yang bekerja’ maupun ‘pekerja anak’.

Pada pertengahan tahun 2009 total anak pada kelompok umur 5-17 tahun diperkirakan mencapai 58.8 juta jiwa atau hamir sekitar  25% dari total penduduk. Tetapi yang menjadi fokus keperhatinan global, regional maupun nasional adalah pekerja anak, bukan anak yang bekerja secara keseluruhan. Menurut SPA,  total pekerja anak mencapai angka sekitar 1.8 juta jiwa, setara dengan 3.0 % dari total anak 5-17 tahun atau 43.3% dari total  anak yang bekerja.

[Lanjut]

Pengukuran Pengangguran Terbuka dalam Sakernas

Seroang pakar ketenagakerjaan (yang lebih dikenal sebagai pakar sampling), Mr. Vijay Verma,  mengevaluasi konsep-konsep digunakan oleh BPS mengenai “bekerja” dan “tidak bekerja”. Kesimpulannya, definisi “bekerja” masih sejalan dengan ILO, sedangkan definisi “tidak bekerja” tidak. Ia menyarankan agar dilakukan penelitian empiris untuk mengukur implikasi penggunaan definisi ILO mengenai konsep “tidak bekerja” yang diperluas. Tulisan singkat ini menyajikan hasil evaluasi empiris yang dimaksud menggunakan data Sakernas 1996-2000; disiapkan oleh penulis bersama seorang konsultan USAID, Mr. Yahya Jammal, dengan judul asli ‘’Measuring Open Unemployment in Sakernas” yang di-Indonesia-kan oleh Ibu Sri Budianti Sukmadi.

Ada dua catatan awal. Pertama, dalam tulisan ini istilah ‘tidak bekerja’ tampaknya merupakan terjemahan dari unemployed sehingga mungkin akan lebih mudah diikuti jika dibaca sebaga ‘penganggur’ atau ‘menganggur’. Kedua, angka penganggur yang secara resmi diterbitkan BPS mulai 2001 pada dasarnya mengikuti konsep penganggur yang diperluas seperti yang dibahas dalam tulisan ini.

[Lanjut]