Profil Ketenagakerjaan Indonesia Berdasarkan Survei Terkini


 Sumber Gambar: Google

 

Tulisan ini mengkaji secara singkat profil ketenagakerjaan Indonesia berdasarkan hasil survei terakhir yaitu Survei Angkatan Kerja 2018 (Sakernas 2018). Bagi Indonesia survei ini merupakan sumber statistik resmi (official statistics) dalam bidang ketenagakerjaan. Fokus kajian adalah komposisi penduduk usia kerja (PUK) dan salah satu komponennya yang utama yaitu pengangguran. Untuk memperoleh gambaran mengenai perkembangan antar waktu, Sakernas tahun-tahun sebelumnya juga digunakan.

Penduduk Usia Kerja

Profil ketenagakerjaan Indonesia dapat digambarkan secara singkat sebagai “serba besar”. Sebagai ilustrasi, penduduk usia kerja (PUK) menurut Sakernas 2018 berjumlah sekitar 194,8 juta jiwa. Besarnya angka ini sebenarnya wajar karena dengan total penduduk sekitar 268 juta jiwa Indonesia menempati urutan keempat negara terbesar setelah China (1.39 milyar), India (1.36 juta), Amerika Serikat (327 juta). Besarnya angka PUK Indonesia itu kira-kira setara dengan tiga kali angka keseluruhan total penduduk lima negara jiran terdekat yaitu Timor Leste, Australia, Singapura, Malaysia, Brunei[1].

PUK Indonesia == tiga kali angka keseluruhan total penduduk Timor Leste, Australia, Singapura, Malaysia, dan  Brunei

PUK dapat dibagi habis ke dalam tiga komponen utamanya yaitu “bekerja” (B), “penganggur” (P) dan “bukan angkatan kerja” (BAK). Masing-masing komponen ini eksklusif dalam arti tidak saling beririsan sehingga PUK = B + P + BAK. Istilah Angkatan Kerja (AK) merujuk pada gabungan B dan P.

Dalam persamaan ini diberlakukan aturan prioritas: B terhadap komponen lainnya dan AK terhadap BAK. Dengan aturan ini ada kepastian mengategorikan status ketenagakerjaan setiap responden survei.

Berapa besar B dan P? Sakernas 2018 menujukan angka total masing-masing lumayan besar: yaitu 124 juta dan 7 juta. Dengan demikian AK berjumlah sekitar 131 juta. Dari angka-angka ini dapat dihitung dua indikator ketenagakerjaan yaitu “angka penganggur” (AP) dan “rasio tenaga kerja/penduduk” (RTP):

    • AP = (P/AK)*100 = (7/131)*100 = 5.3%
    • RTP = (B/PUK)*100 = (124 /194.8) *100= 64%.

Sebaran umur dua indikator ini dapat dilihat pada Tabel 1. Pada tabel ini angka penganggur dapat diperoleh dengan mengurangi angka 100 dengan angka-angka pada kolom “%Bekerja/AK”.

Penganggur

Seperti terlihat dalam Tabel 1, angka penganggur di Indonesia adalah 5.3%, suatu angka tergolong kecil. Yang perlu dicatat, angka mutlak dari angka persentase yang kecil masih jutaan, 7.0 juta jiwa. Angka ini setara dengan 1.2 total penduduk Singapura[2].

Total penganggur Indonesia== 1.2 total penduduk Singapura.

Relatif kecilnya angka penganggur itu “menyembunyikan” permasalahan yang lebih struktural: angka penganggur yang didominasi oleh penduduk usia muda dan kelompok terdidik.

Sumber: INI

Tingginya angka penganngur untuk kelompok usia muda dapat dicermati pada Tabel 1. Perkembangannya antar tahun dapat dilihat pada Gambar 1.

Sumber: INI

Catatan: 2011-2013 hasil backast menggunakan penimbang perbaikan berdasarkan angka proyeksi penduduk.

Tabel 2 menunjukan relatif tingginya angka penganggur bagi kelompok terdidik (tamatan SLTA+). Menurut tabel itu risiko penganggur 2.6 kali lebih tinggi bagi kelompok terdidik dibandingkan dengan kelompok tak-terdidik.

Risiko pengaggur bagi penduduk terdidik == 2.6 kali risiko bagi yang non-terdidik.

Tingginya angka prevalensi penganggur bagi kelompok terdidik tercermin pada Gambar 2. Pada tahun 2018 terlihat, misalnya, dari 100 orang penganggur, 66-67 di anataranya terdidik. Gambatr itu juga mencerminkan bahwa tinginya angka itu bukan hal baru dan kecenderungannya memburuk.

Sumber/Catatan: Sama dengan Gambar 1.

Sebagai catatan, semua istilah, aturan, dan rumus penghitungan yang dikemukakan di atas mengacu pada standar global dalam bidang ketenagakerjaan. Standar ini tercantum dalam resolusi International Conference Labour Statistician yang ke-13 (1982) atau ICLS-13. Belakangan disadari adanya sejumlah permasalahan konseptual pada reolusi ICLS-13 ini. Permasalahan ini dicoba diatasi melalui resolusi ICLS-19 (2013) [3].

BPS merespons aspirasi ICLS-19 ini sejak 2016 sekalipun  sejauh ini baru pada tahapan penyempurnaan kuesioner. Upaya ini perlu diapresiasi dan didukung oleh pemakai data Sakernas. Alasannya, Sakernas berbasis ICLS-19 dapat diharapkan menghasilkan sejumlah headline indicators yang lebih lengkap untuk memotret profil, lebih cermat dalam mengukur besaran, serta lebih peka dan realistis dalam memantau dinamika ketenagakerjaan di Indonesia dalam terang standar global.

Semoga!

[1] Angka penduduk diambil dari SINI.

[2]  Lihat catatan kaki-1.

[3] Rujukan mengenai ICLS-19 dapat diakses di SINI.

Advertisements

2 thoughts on “Profil Ketenagakerjaan Indonesia Berdasarkan Survei Terkini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.