Pelajaran dari Irma

Amerika Serikat (AS) tengah didera bencana alam, lagi. Kali ini Badai Irma yang dinilai dan terbukti “menghancurkan dan mematikan” (devastating and deadly). Sebelumnya, akhir Agustus lalu, negara adidaya ini didera Harvei, badai lain yang telah meninggalkan beragam “sidik jari” di kawasan Tenggara Texas[1]: wilayah Houston, misalnya, berupa guyuran sekitar 20 triliun galon air hujan, volume air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan air bagi Kota New York selama lebih dari lima dekade. Dapat dibayangkan kerusakan material yang diakibatkannya; yang jelas, terkait badai itu dilaporkan sekitar 50 jiwa meninggal.

Sementara upaya pemulihan akibat Badai Harvey masih berlangsung yang diperkirakan memerlukan anggaran sangat besar dan waktu yang lama (bulanan atau bahkan tahun), AS kini tengah sibuk menyiapkan kedatangan Irma yang dinilai lebih dahsyat dari Harvey dan diduga kuat akan mendarat di kawasan Florida. Menghadapi ini Gubernur negara bagian itu menyatakan sudah minta bantuan negara (bagian) lain dan pemerintah Federal[2]. Dia telah mewanti-wanti warganya untuk memfokuskan pada keselamatan jiwa: “rumah yang hancur dapat dibangun kembali tetapi jiwa yang hilang tidak dapat dikembalikan”, ujarnya kira-kira. Menurut laporan CNN, meghadapi bencana ini sekitar 17.000 volunter dibutuhkan di luar sumberdaya yang telah disediakan oleh pemerintah negara bagian dan federal.

Ketika tulisan ini tengah disiapkan, Irma dilaporkan telah meluntuh-lantahkan wilayah Karibia (Caribbian), suatu wilayah yang mencakup luas sekitar 2.8 juta km (daratan: 240.000 km), berpenduduk sekitar 44 juta, kepadatan 151.5/km persegi, dan 30 unit pemerintahan (13 negara merdeka; sisanya negara “jajahan” negara lain termasuk AS, Inggris, Prancis, Belanda). Korban Irma di wilayah Karibia secara keseluruhan mencakup sekitar 1.2 juta jiwa dan 26 juta lainnya dilaporkan memiliki risiko serupa. Di Barbuda saja badai itu telah menghancurkan sekitar 95% infrastruktur[3].

Ketika AS tengah sibuk menyiapkan diri untuk menghadapi Badai Irma yang berkategori 5 dan sangat dihawatirkan akan memakan banyak korban jiwa (life threatening), Mexico sibuk menagatasi korban dan kerusakan gempa bumi berskala 8.1, terbesar dalam 100 tahun terakhir menurut presidennya. Di luar ini, ada ancaman lain: dua badai serupa tengah aktif “mengintip” wilayah Karibia.

karibia1

Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Caribbean

Pelajaran apa yang dapat diambil? Yang jelas, bencana alam seperti ini di luar kendali kita. Adakah yang dapat menolong? Kebanyakan kita mungkin menjawab: “tidak ada, ini bencana alam”. Sebagian (kecil) kita yang memiliki kepekaan spiritual di atas rata-rata akan menjawab: “ada, Rabb, definitely! Surat al-Falaq mengingatkan ini[4]. Golongan terakhir ini merasa selalu tidak aman terhadap azab Tuhan: “

… dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azan Tuhannya, sesungguhnya terhadap azab Tuhan mereka, tidak ada seseorang yang merasa aman (dari kedatangannya) (Al-Ma’arij: 26-28).

Tetapi sayangnya kita “pelupa-berat”, tabiat yang diabadikan dalam teks suci:

Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut ketika kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah hati dan dengan suara yang lembut?” (Dengan mengatakan), “Sekiranya Dia menyelamtkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur”. Katakanlah (Muhammad), “Allah yang menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, namun kemudian kemudian kamu (kembali) mempersekutukann-Nya (Al-An’aam:63-64).

Wallahu’alam…. @

[1] Mengenai topik ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/09/02/badai-harvey/

[2] Mantan Preseiden Bush dan Obama dilaporkan tenagh aktif menghimpun dana untuk membantu korban Harvey.

[3] Lihat misalnya http://www.express.co.uk/news/weather/850317/H.urricane-Irma-path-track-when-Irma-hit-Florida-US-latest-forecast-weather-models

[4] Mengenai relevansi surat ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2016/10/08/tragedi-badai-matthew-tragedi-aleppo-dan-jejak-ilahi/

 

Badai Harvey: Suatu Tinjauan Singkat

Warga Amerika Serikat (AS), khususnya warga di wilayah tenggara Texas dan sekitar, tengah mengalami musibah dahsyat terkait dengan Badai Harvey, badai tropis terbesar yang mendarat di AS sejak Wilma 2005. Kita tentunya turut prihatin dan berempati dengan mereka dan berharap yang terbaik buat mereka. Kita tidak boleh melupakan keprihatinan, empati, simpati serta bantuan dari warga global (termasuk warga AS) kepada kita ketika terjadi bencana tsunami Aceh akhir 2004 lalu. Ketika itu warga AS sempat mengutus salah satu putra terbaiknya, mantan presiden yang sangat dihormati, Jimmy Carter.

Badai Harvey berkembang dari gelombang tropis ke timur Antilles Kecil, yang mencapai status badai tropis pada 17 Agustus. Badai melintasi Kepulauan Windward yang pada keesokan harinya melintas tepat di sebelah selatan Barbados dan kemudian dekat Saint Vincent. Harvey sempat melemah pada awal 19 Agustus karena hembusan angin moderat di utara Kolombia sehingga statusnya menjadi gelombang tropis. Ketika melinatasi Teluk Campeche pada 23-24 Harvey kembali menguat cepat sehigga kembali berstatus badai tropis. Sementara badai bergerak secara umum ke barat laut, fase intensifikasi Harvey terhenti sedikit dalam semalam dari 24-25 Agustus, namun segera melanjutkan penguatan dan menjadi topan Kategori 4 pada akhir Agustus 25. Beberapa jam kemudian, Harvey mendarat di dekat Rockport, Texas, pada intensitas puncak.

Dalam periode empat hari, di beberapa daerah, Badai Harvey mencurahkan hujan lebih dari 40 inci (1.000 mm) dan dengan akumulasi puncak 51,88 in (1,318 mm) sehingga tercatat sebagai “topan tropis terbasah”. Terkait dengan badai itu Direktur FEMA Brock Long menyebut Harvey sebagai bencana terburuk di sejarah Texas dan memperkirakan pemulihan tersebut akan memakan waktu bertahun-tahun. Perkiraan awal kerugian ekonomi berkisar antara $ 10 miliar sampai $ 160 miliar, sebagian besar kerugian dialami oleh pemilik rumah yang tidak diasuransikan[1].

Akibat badai itu dilaporkan ribuan orang mengungsi (displaced), sekitar 72,000 orang diselamatkan dan 47 jiwa meninggal. Dari sisi korban bencana itu tidak sedahsyat bencana tsunami yang diperkiakan menelan korban sekitar 200,000 jiwa[2]. Walaupun demikian, Badai Harvey jelas tergolong dahsyat sebagaimana terungkap dari beberapa angka berikut ini[3].

Besarnya angka-angka di atas mengilustrasikan signifiknasi masalah yang ditimbulkan oleh Badai Harvey yang oleh CNN dilaporkan bersifat histortical. Ini jelas memprihatinkan. Yang melegakan adalah besarnya dedikasi petugas dalam upaya penyelamatan korban bencana badai itu. Yang juga melegakan adalah bahwa musibah itu tampaknya telah memicu gerakan solidarits sesama warga AS dalam membantu dan meringankan beban penderitaan korban. Dalam kaitan ini dilaporkan banyak voluntir yang terlibat secara spontan, bersemangat dan penuh pengabdian. Ada harapan samar-samar: bencana alam ini mendorong mempersatukan masyarakat AS yang kini oleh beberapa pengamat dinilai “terbelah” dan memicu diskusi publik mengenai global warming.

Apa yang dapat dilakukan menghadapi bencana alam semacam ini? Jelas tidak banyak: kita sama-sekali tidak dapat mencegah terjadinya, kita secara kolektif–bahkan dengan tingkat IPTEK yang paling terkini– hanya dapat mengantisipasi dampaknya dengan mengupayakan agar korban sesedikit mungkin. Bencana semacam ini, untuk kesekian kali, seyogyanya memberikan pelajaran penting bagi kita untuk secara legowo “menghormati” alam: pada dasarnya kita tidak dapat mengendalikan alam, tetapi “dikendalikan alam”[4].

harvey1

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Hurricane_Harvey

[2] Penulis aktif terlibat dalam Sensus Penduduk Nangro Aceh dan Nias (SPAN) 2005 yang salah satu tujuan utamanya adalah untuk menghitung jumlah korban jiwa akibat tsunami. Kegaiatan ini dibayai oleh komunitas global di bawah koordinasi UNFPA.

[3] http://abcnews.go.com/US/hurricane-harvey-wreaks-historic-devastation-numbers/story?id=49529063. Sebagian angka-angka itu masih mungkin berubah karena situasi masih sangat cair ketika tulisan ini disiapkan. Laporan CNN Sabtu (3/9/2017) petang, misalnya, mengungkapkan korban meninggal terkait Harvey menjadi 50 jiwa.

[4] Mengenai yang terakhir ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2011/12/06/dikuasai-alam/

Trump Sang Presiden

Trump Sang Presiden

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Donald J. Trump kini menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) yang ke-45. Kita baru saja menyaksikan pelantikannya yang meriah, walaupun tidak semeriah pelantikan Barrack Obama 8 tahun sebelumnya. Penulis sependapat dengan Bapak Wapres bahwa kita harus menghormati proses demokrasi di negara adidaya itu. Fakta tak-terbantahkan dia memenangkan pemilu sekalipun menyandang daftar panjang kelemahan: bukan pemenang mayoritas, bukan politisi, visi globalnya tidak popuer, tidak didukung oleh partai “pendukung”, “dimusuhi” oleh banyak politikus senior dari Partai Republik maupun Demokrat, tidak populer di kalangan wanita dan kaum muda, dan dinilai luas sebagai rasialis dan tidak memiliki standar moral yang layak bagi seorang pemimpin negara. Daftar itu bisa diperpanjang; demikian panjangnya daftar itu sehingga kalaupun toh dia menang maka hal itu dapat dilihat sebagai, singkatnya, wujud dari “Kersanipun Gusti Allah”.

trump101.png

Sumber Foto: Googgle image

Masalah Sosial

Perspektif Moïsi (2009) dalam memahami fenomena geopolitik boleh dikatakan unik. Bagi dia, kita tidak dapat memahami sepenuhnya dunia di mana kita hidup tanpa mencoba memahami emosinya, dan (2) emosi, seperti kolesterol, ada yang baik dan ada yang jahat[1]. Emosi yang dimaksud dapat berbentuk kekhawatiran (fear), perasaan malu (humiliation) dan harapan (hope).

Dengan menggunakan perspektif Moïsi kita dapat melihat kemenangan Trump secara sederhana sebagai bentuk kekhawatiran dan harapan publik AS, khususnya, pendukung Trump, mengenai sejumah masalah sosial mendasar yang dipersepsikan saat ini menimpa masyarakat AS: pengangguran, kebangkrutan sektor manufaktur, kriminalitas, kemiskinan (kota), rasa aman, “beban” Obamacare, “sistem” kenegaraan yang “korup” dan tidak efektif, ketimpangan ekonomi (diakui oleh Obama), dan sebagainya.

  • Kekhawatiran bahwa masalah-masalah itu tidak akan berakhir dalam sistem yang sudah mapan (established) dan sudah kehilangan trust; dan
  • Harapan bahwa Trump lebih meyakinkan untuki mengakhiri situasi itu dibandingkan Hillary Clinton yang dianggap sebagai bagian dari –atau akan melanggengkan–sistem yang mapan.

Tetapi itu semua adalah persepsi (politik konon soal persepsi), yang belum tentu faktual. Mengenai pengangguran dan kemiskinan, misalnya, angkanya justru turun secara drastis dalam era Obama. Lebih dari itu, masalah-masalah serupa yang bahkan jauh lebih parah dan rumit, bagi sebagian pengamat, justru dihadapi oleh Obama menjelang kepemimpinannya sebagai presiden.

American First

Bahwa Trump bukan seorang politisi (biasa) tarlihat dari pidato inaguralnya sebagai Presiden. Para analis menduga atau berharap, pidato itu akan dimanfaatkan oleh Trump sebagai kesempatan emas untuk mengemukakan rekonsiliasi nasional, given gejala perpecahan masyarakat domestik yang sangat kentara. Para analis juga menduga, sesuai tradisi, pidato inagural akan berisi “basa-basi” untuk tidak memberi kesan buruk kepada out-going Presiden. Itu semua tidak terjadi. Tema pidato inagural ternyata berputar sekitar: (1) “kebobrokan” pemerintahan-pemerintahan sebelumnya yang dianggap sebagai penyebab karnagi, dan (2) American First.

Tema American First bagi penulis sah-sah saja. Trump benar ketika mengatakan bahwa setiap negara berhak mengedepankan kepentingan negara sendiri. Dalam praktek, hemat penulis, semua negara berupaya mempraktekkannya. Ini adalah HDL, kolesterol baik. Masalahnya adalah bahwa karena tema itu dideklarasikan (apalagi dalam pidato inagurasi ketika mata dunia tertuju) maka hal itu diduga kuat diterjemahkan oleh pihak luar sebagai sikap proteksionis yang berlebihan. Ini adalah LDL, koletorel jahat. Indikasi ke arah proteksionisme terlihat dari apa yang dilakukan Trump selama 2-3 hari pertamanya sebagai Presiden.

Bagi penulis, kebijakan proteksinisme justified sejauh tidak berlebihan, tidak mengarah kepada ekslusifieme dan ekspansionisme serta tidak mencerminkan sikap “mau_menang_sendiri”. Penulis tidak memiliki latar belakang ekonomi untuk mengomentari kebijakan itu secara layak. Walaupun demikian penulis memiliki beberapa pertanyaan yang mungkin layak didiskusikan:

  • Apakah kebijakan proteksionisme compatible dengan semangat globalisasi? Bagi penulis, given tingkat teknologi informasi kontemporer, globalisasi tidak dapat dihindari dan merupakan keniscayaan sejarah sehingga we have to live with it.
  • Apakah kebijakan itu harus selalu berlandaskan prinsip zero-sum atau menang sendiri seperti terkesan dalam pidato-pidato Trump selama masa kampanye? Bagi penulis, prinsip “menang bersama” adalah mungkin, lebih realistis dan lebih adil dalam pergaulan internasional sejauh yang menjadi concern adalah kemakmuran global?
  • Apakah kebijakan itu secara ekonomi makro jangka panjang justified dilihat dari sisi penciptaan lapangan kerja (yang merupakan tema besar Trump) maupun pertumbuhan ekonomi? Bagi penulis ini adalah isu masih terbuka untuk diperdebatkan?

Dalam tahun-tahun mendatang tampaknya dunia siap menyaksikan para pemimpin adidaya yang eksklusif dan proteksionis. Mudah-mudahan keduanya tidak mendorong tumbuhnya paham ultra-nasionalisme dan ekspansionisme. Khusus untuk AS, penulis berharap keadaan mendatang sesuai yang dijanjikan Trump: ada perluasan lapangan kerja, ada pengurangan kesenjangan ekonomi, ada peningkatan rasa aman, dan sebagainya yang membawa kemaslahatan riil bagi warga AS. Khusus bagi AS pula, penulis berdoa agar situasi mendatang tidak seperti yang dihawatirkan Obama: AS menjadi magnit bagi terorisme. Semoga … @

[1] Moïsi, Dominique (2009), The Geopolitics of Emotion: How Culture of Fear, Humiliation, and Hope Are Reshaping the World, Doubleday, halaman x. Kita mengenal istilah HDL (High Density Lipoprotein) untuk kolesterol baik dan LDL (Low Density Lipretein) untuk kolesterol jahat. Tinjauan buku ini dapat diakses dalam blog ini.

Konversi Lahan Petanian

Tulisn ini mengilustrasikan seriusnya isu konversi lahan pertanian menjadi non-pertanian. Isu ini serius karena terkait secara langsung dengan produksi pangan– dan karenanya dengan ketahanan pengan (food security) atau mungkin lebih tepat kedaulatan  pangan (food sovereignty)–  dan secara tidak langsung dengan kualitas lingkungan hidup berupa jasa-jasa non-marketable yang disumbangkan oleh lapangan usaha pertanian. Tulisan pendek ini (sekitar 1000 kata) mencoba menjawab pertanyaan ini: “Seberapa cepat konversi lahan pertanian berlangsung dan terjadi di belahan Nusantara mana saja?”

(Lanjut)

[Kembali ke Daftar Isi]

Berapa Burukkah Kualitas Lingkungan Hidup Kita?

Penulis yakin pembaca mengetahui buruknya lingkungan hidup kita. Tetapi seberapa buruk? Pertanyaan kuantitatif itu semacam inilah  yang dicoba dijawab melalui artikel ini. Jawaban diberikan dalam bentuk suatu indeks komposit Indeks Kualitas Lingkungan (IKL). Pembaca mungkin sudah menduga kesimpulannya: kualitas lingkungan hidup kita buruk atau sangat buruk khusunya kualitas udaranya. Ini terutama berlaku di ibukota Ecoregion Jawa-Bali.

Bagi yang berminat mengakses artikel lengkap silakan klik: IKL_2008

Data Potensi Desa dan Mitigasi Bencana Alam

Salah satu jenis kegiatan pendataan yang dilakukan secara berkala BPS adalah Potensi Desa (Podes) yang secara metodologis bersifat sensus karena mencakup seluruh desa di Indonesia. Berbeda dengan pendataan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) atau Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang berbasis rumahtangga, pendataan Podes berbasis kewilayahan.

Data Podes dapat digunakan untuk berbagai studi berbasis kewilayahan, termasuk untuk keperluan mitigasi bencana alam.  Tulisan ini merupakan modifikasi dari suatu materi rapat terkait mitigasi yang dimaksud delapan tahun yang lalu (2011). Isinya mengilustrasikan bagaimana data Podes dimanfatkan untuk mengidentifikasi desa-desa yang rawan bencana alam.

(Lanjut)

[]