Doa Personal


Mengomentari Aksi Demo “Damai” 4/11/16 Ustadz Mansur –dalam suatu acara TV talk show 5/11/16 yang lalu– menekankan arti penting doa, menjelang dan pasca demo. Mengenai relatif amannya demo ini beliau mengatakan kira-kira: “Siapa yang mampu mengendalikan pendemo yang jumlahnya mencapai jutaan (secara nasional) kecuali Dia yang menguasai hati setiap orang”. Selanjutnya, karena menurutnya tidak ada satu pihak pun yang menghendaki kekacauan atau kerusuhan, beliau mengajak semua pihak, termasuk penganut agama lain, untuk memanjatkan doa bagi keamanan Indonesia yang hakikatnya “milik” Tuhan. Beliau sangat meyakini kekuatan doa dan penulis yakin beliau dalam hal ini dia tidak sendirian, apalagi dalam konteks Indonesia yang dikenal religious. Melalui tulisan ini penulis bermaksud berbagai pendapat mengenai doa, khususnya mengenai doa personal.

Mode Berdoa

Dalam bentuknya yang elementer, istilah doa merujuk pada doa personal (personal prayer); artinya, yang menjadi subyek doa adalah seorang individu sehingga yang digunakan adalah kata ganti orang pertama (Saya, Aku). Contoh doa personal: “Ya Allah, karuniakan kepadaku nikmat kesehatan dan keberkahan hidup”. Contoh lain adalah doa Nabi Musa menjelang ketemu Fir’aun (Thaha: 25-26): “… Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku”.

Pernyataan doa di atas berbeda, dengan, misalnya, doa yang dinarasikan dalam al-Fatihah (ayat 5): “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. Di sini yang menjadi subyek doa bukan seorang individu manusia (such a man), melainkan manusia secara keseluruhan atau sebagai satu ras (man as such). Doa ini wajib dibaca dalam salat sehingga ketika salat sebenarnya kita meng-atas-nama-kan atau mewkili semua orang yang salat, bahkan seluruh umat manusia sebagai satu ras. Salat, berbeda dengan doa personal, merupakan mode berdoa dengan tatacara yang sudah baku atau kanonik. Dalam konteks ini ada dua catatan yang layak dikemukakan:

  • Dalam Bahasa Inggris, istilah prayer berlaku untuk doa personal mapun salat. Karena tatacaranya yang baku (given, canonical), salat dapat dikatakan sebagai doa kanonik (canonical prayer).
  • Jika dalam doa personal masing-masing subyek doa secara bebas dapat menetukan cara dan merumuskan lafalnya; dalam doa kanonik tatacara dan lafal doa sudah baku, sudah ditentukan. Siapa yang “mengarang” ketentuan baku itu dalam doa kanonik? Dalam konteks Islam Tuhan sendiri yang menjadi pengarangya, didemontrasikan oleh Jibril yang dapat dilihat secara sempurna oleh Rasul SAW[1] dan diterima oleh umat secara aklamatif.

Doa kanonik dianggap lebih sempurna dari pada doa personal karena individu manusia secara umum terlalu terbatas kepasitasnya untuk menyatakan keinginannya secara layak di hadapan Tuhan yang Maha Tinggi dan Maha Suci. Lebih dari itu, karena keterbatasan visinya, yang dimina dalam doa kita sama-sekali tidak mustahil malah merugikan kita. Kita di hadapan Tuhan, karena keterbatasan kita, bisa jadi berprilaku seperti anak kecil yang tengah menderita pilek merengek minta es krim, atau ketika giginya bermasalah minta diberikan premen atau coklat kepada orang tuanya.

Di atas doa kanonik ada lagi mode doa yang dinilai lebih sempurna yaitu menyebut Nama Tuhan atau, mengunakan istilah agama, dzikir; yakni, melafalkan Nama Tuhan secara berulang-ulang, kira-kira seperti japa dalam tradisi Hindu[2]. Kenapa dzikir lebih sempurna? Karena menurut Schuon[3]: (1) Tuhan dan Nama Tuhan identik, dan (2) Tuhan Sendiri (God Himself) yang menyatakan atau melafalkan NamaNya (His Name) dalam diri-Nya (in Himself), dengan demikian, dalam keabadian dan di luar semua ciptaan. Itulah sebabnya keunikan-Nya dan firman-Nya yang tidak diciptakan (His unique and uncreated Word) merupakan bentuk dasar (purwa-rupa, prototype) dari dzikir dan bahkan, secara kurang langsung, dari semua mode “pertemuan” manusia dengan Tuhan (orison).

Dari uraian singkat di atas terlihat ada tiga cara atau mode berdoa: doa personal, doa kanonik, dan dzikir. Bagian selanjutnya dari tulisan ini, sebagaimana tercermin dari judul, membahas mode doa pertama, doa personal.

Arti Penting Doa Personal

Pernyataan bahwa doa personal kurang sempurna dibandingkan doa kanonik (apalagi dzikir) bukan berarti doa personal tidak penting bagi kita: kita tidak dapat berbuat apa-apa tanpa pertolongan Dia karena Dialah menentukan atau, menggunakan bahasa teologis, sebab efisien dari segalanya. Selain itu, keteguhan atau kebulatan hati (resolution) tidak ada artinya tanpa disertai doa, petisi atau atau permintaan tolong kepada-Nya. Ketika berdoa kita, selaku individu, mengekspresikan secara langsung keinginan dan kehawatiran kita, harapan dan rasa syukur kita.

doa102

Yang sangat mendasar untuk dicatat adalah bahwa tujuan berdoa bukan hanya untuk mengamankan agar keinginan tertentu kita terkabul. Doa seyogyanya juga bertujuan untuk membersihkan jiwa kita karena fungsi doa antara lain melonggarkan simpul-simpul psikis (psichic knots) kita, melarutkan gumpalan-gumpalan yang memenuhi bawah-sadar kita, serta melepaskan berbagai macam racun yang tersembunyi dalam diri kita (bangga, iri, serakah, dan sebagainya). Melalui doa kita mengemukakan di hadapan Tuhan kesulitan-kesulitan kita, kesalahan-kesalahan kita, tekanan-tekanan jiwa yang kita alami, dan semua ini, meminjam istilah Shuon[4] “mengandaikan jiwa yang rendah-hati dan jujur, dan penyingkapan ini, dilakukan di hadapan yang Absolut, perlu untuk membangun kembali keseimbangan dan memulihkan kedamaian; singkatnya, untuk membuka pintu rahmat bagi kita”.

Sebagaimana diungkapkan sebelumnya, dalam doa personal, subyek doa dapat merumuskan lafal doa secara bebas. Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar karena doa yang tulus perlu diawali permintaan ampun, serta disemangati paling tidak oleh oleh rasa syukur dan rasa pasrah.

  • Permintaan ampun (istigfar): bisa jadi yang kita minta bertentangan dengan kehendak Ilahiah (divine Will);
  • Rasa syukur (thankfulness): kita sadar bahwa setiap pengabulan permitaan yang diinginkan pada dasarnya merupakan rahmat (grace) yang bisa saja tidak kita peroleh; dan
  • Pasrah (tawakkal, resignation): kita perlu mengantisipasi doa yang tidak terkabul, atau lebih tepatnya, belum dikabulkan atau dikabulkan tetapi dalam bentuk lain yang lebih menguntungkan bagi kita.

Sikap Pasrah

Teks suci menegaskan bahwa Tuhan dekat dengan kita dan pasti mengabulkan doa personal kita (al-Baqarah: 186), Dia sangat lebih dekat urat leher nadi kita; dia sangat dekat dengan kita, lebih dekat bahka dari pada urat leher kita (Qaaf:16). Walaupun demikian, bisa jadi yang diminta dalam doa kita waktunya belum sesuai, atau perlu diganti dengan yang lebih baik. Bukankah orang tua yang bijak akan menunda mengabulkan permintaan anaknya yang merengek minta dibelikan balap padahal umurnya masih balita sampai umur si anak mencapai belasan, atau mengganti apa yang diminta dengan speda beroda tiga? Terkait pendundaan pengabulan doa ini layak direnungkan wejangan ringkas dari syech sufi berikut ini[5]:

doa101

Jangan sampai tertundaya karunia Tuhan kepadamu setelah kau mengulang-ulang doamu, membuatmu merasa putus asa. Karena Dia menjamin pengabulan doa sesuai pilhan-Nya, bukan sesuai pilihanmy; pada waktu yang diinginkan-Nya, bukan pada waktu yang kau inginkan.

In spite of intense supplication, a delay in the timing of the Gift, let that not be the cause of your despairing. For He has guaranteed you a response in what He chooses for you, not in what you choose for yourself, and at the time He desires, not the time you desire.

 Wallahu’alam …..@

[1] Konon, keungulan Rasul SAW dibandingkan rasul lain adalah kemampuannya untuk melihat. Ayat 1-18 Surat An-Najm hemat penulis mengilustrasikan keunggulan ini.

[2] http://www.hinduwebsite.com/hinduism/concepts/japa.asp.

[3] Schuon, Frithjof, Prayer Fashions Man, World Wisdom (2005:60). Nama muslim Schuon adalah   Isa Nur ad-Din, nama yang konon diberikan oleh Shaykh Ahmad al-Alawi, pendiri salah satu tarekat sufi di Aljazair pada tahun 1930-an.

[4] Schuon, ibid, halaman 58.

[5] Al-Hikam – Ibnu Attha’illah As-Sakandari, Wali Pustaka, 2016

6 thoughts on “Doa Personal

  1. Setiap orang dapat berhubungan langsung dg Allah, SWT sebagaimana yg dijelaskan dlm ayat-ayat suci Al Qur’an. Berdoa…. berdoa… berdoalah kepada-Ku, suruhan yg berulang kali disebutkan-Nya. Spt yg dituangkan dalam Al Baqarah:186, Huud:61, Saba’:50, Qaaf:16, Al Mukmin: 14, 60, 65, Ali Imron:38. Secara pribadi, share Pak Uzair mengingatkan kembali kepada saya untuk tidak putus-putusnya berdoa. Dan, bila saya ingin terkabulkan, maka saya hrs berusaha terus melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya. Semoga bisa👼. Tks, Pak Uzair👌.

  2. assalammu’alaikum wr wb….

    yth pak uzair….memenuhi permintaan bapak via sms, agar saya comment maka ijinkan saya untuk menanggapi postingan tulisan bapak sebagai berikut.

    1. MENANGGAPI “REAKSI” DEMO DAMAI 411 2016
    pertama saya ingin sampaikan bahwa mengapa saya menyebutnya TIDAK sebagai Aksi Demo “Damai” 4/11/16, sebagaimana yang bapak tuliskan di awal tulisan ini. Itu karena pada kenyataannya demo damai itu terjadi sebagai REAKSI atas AKSI Penistaan agama (baca : Al Quran) yang dilakukan oleh Bapak BTP. Jika tidak ada Aksi, maka Reaksi pun tidak ada. itu adalah hukum alam. ada aksi pasti ada reaksi. selanjutnya saya ingin sedikit bercerita tentang peristiwa 411 ini, dimana saya memandangnya sebagai REUNI AKBAR antara hati dengan hati yang dimiliki oleh seluruh umat yang hadir dengan tujuan baik yang sama, dengan mengesampingkan mereka yang datang (saya kira ngga sampai 1 %) mereka yang hadir dengan tujuan berbeda.
    pak uzair yth. …..Subhanallah saya merasakan betapa nikmatnya berkumpul, bertakbir, bersholawat bersama , saling sapa, saling menolong, saling memberi makanan/minuman, layaknya sudah saling mengenal dengan jutaan saudara seaqidah…yang mungkin hanya bisa kita rasakan saat ibadah haji. apa yang dikatakan oleh Panglima TNI Jendral gatot Nurmantyo adalah benar, islam itu indah, islam itu rahmat bagi sekalian alam. saya merasakan betapa nyamannya berada di antara jutaan umat. yang dibelahan lain, mungkin ada juga yang melihatnya mengerikan dan takut. Tapi FAKTA membuktikan, bahwa REAKSI DEMO DAMAI 411 adalah berlangsung DAMAI secara keseluruhan. adapun pemicu kerusuhan diakhir demo pelakunya adalah etrnyata BUKAN PESERTA DEMO, seperti yg ditegaskan oleh bapak Panglima TNI. Allahu akbar…..

    2. TENTANG PERSONAL PRAYER dan CANONICAL PRAYER
    Saya sepakat bahwa Personal prayer sangat sarat dengan muatan subyektif. artinya doa dilantunkan oleh pribadi2 yang memang punya keinginan/permintaan sesuai dengan apa yg diinginkan oleh pribadi2 yg melakukannya. Ketika dia pelajar, mungkin dia berdoa meminta dilancarkan ujian, ketika dia pedagang berdoa agar dagangannya laku dan mendapat untung besar dsj analog dengan itu.

    Tentang canonical prayer, agak menarik. walaupun bapak menyatakan bahwa secara konsep canonical prayer adalah doa dengan tata cara baku dan sifat doanya adalah universal. artinya tata cara itu berlaku bagi semua umat. karena Tuhan sendiri yang menentukannya. SOP dibuat oleh Sang ilahi. dan saat menyalahi SOP canonical prayer, maka gugurlah ibadahnya itu. Apa yang menarik dalam canonical prayer ? saya tertarik dengan kata ” MAN AS SUCH” ——walaupun bapak menyatakan sebagai “SATU RAS” saya mengartikannya sebagai SATU AQIDAH (baca : aqidah islamiyah)….Nah disinilah saya menarik uniqnya DOA BERSAMA saat REAKSI DEMO DAMAI 411 2016.
    masing2 peserta berdoa dengan bahasa doa masing2 (baca : personal prayer) artinya perbedaan tujuan hadir di 411 ternilai oleh Sang Kuasa atas Personal Prayer , dan itu hanya dirinya yg tahu. Namun demikian, ada doa yang dipandu oleh IMAM (baca : Komando Jihad 411 2016) dan umat yang hadir semua mengikutinya layaknya salat. jadi kekuatan doa paduan personal prayer + canonical prayer terjadi di REAKSI DEMO DAMAI 411 2016. hasilnya ? SANGAT DASYAT !!!!
    berjuta umat bersatu dalam satu komando (imam), begitu santun, begitu damai, damai dan damai. jika kita bandingkan jumlah itu jauh lebih besar dari peserta demo 1 Mei 1998. Tapi, apa yang terjadi ? 1998 begitu banyak darah yang mengalir….1998 begitu banyak yang dibakar…1998 begitu banyak kerusuhan. Mengapa ? karena setiap peserta yang hadir punya motif berbeda dengan REAKSI 411. yang dicari adalah perebutan kekuasaan dari soeharto, yang dicari adalah keduniaan. Mengapa 411 begitu DAMAI ?? karena kekuatan doa di 411 2016 begitu kuat, hingga Allah sendiri yang menjaganya dari kerusuhan. Karena yang dibela adalah Kalam Allah, bukan keduniaan. ALLAHU AKBAR.

    3. TENTANG DOA SEBAGAI OBAT
    saya sepakat dengan tulisan bapak diatas, bahwa “Jangan sampai tertundanya karunia Tuhan kepadamu setelah kau mengulang-ulang doamu, membuatmu merasa putus asa. Karena Dia menjamin pengabulan doa sesuai pilhan-Nya, bukan sesuai pilihanmu; pada waktu yang diinginkan-Nya, bukan pada waktu yang kau inginkan.

    perkenankan saya cerita apa yang saya alami sbb :
    suatu waktu, 5 tahun lalu, saya terkena lumpuh total…..dokter memberikan vonis bahwa saya harus terus menerus memakan obat setiap hari tanpa henti, namun saya berpikir positif pada Allah SWT. saya yakin bahwa Allah lah yg menurunkan penyakit itu pada saya. lalu saya buang obat2an itu…..saya hanya berdoa dengan tulus ikhlas….lalu apa yang terjadi ? sampai saat ini kelumpuhan kaki saya sembuh total tanpa obat !!!
    jadi buat saya : Kekuatan doa itu bukan saja mencegah dan mengobati penyakit hati saja, tapi juga MAMPU mencegah penyakit fisik (baca : secara medis berdasarkan dokter, mengidap penyakit tertentu). ALLAHU AKBAR.

    KEKUATAN DOA juga lah yang membuat saya tetap tersenyum dan mampu berpikir normal dalam kondisi sempit sekalipun. alhamdulillah…..

    salam hormat ananda,

    chryssanti widya

    1. Terima kasih komentarnya. Persepktifnya, semuanya, bagus dan saya mengapreasinya. Pertanyaan: Apakah Islam akan menjadi nista kalau dinista? Apakah Kebenaran akan lenyap kalau didustakan? Bagi saya jawabannya tidak sama-sekali: Islam akan tetap tinggi sekalipun dinista oleh semua makhluk bumi; Kebenaran akan muncul kalaupun disembunykan dan akan tetap bertahan semua jenis “test” (“Truth can always stand tests”. kata orang bijak). So, bagi saya Islam atau Kebenaran bisa “jaga diri”, tidak perlu dibela apalagi melalui demo besar-besaran. Tugas kita adalah mengislamkan ego kita dan mengasimilasi (tidak hanya mengetahui) Kebenaran ke dalam seluruh keberdaan kita (our being), bukan membela. Gimana?

      1. benar….namun adalah kewajiban kita untuk selalu : ” beramar makruf dan bernahi munkar”_____dalam arti menegakkan yang benar dan senantiasa membasmi yang bathil.

        sebagaimana halnya “metode penghitungan indikator tertentu…..ketika ada yang merendahkan hasil hitungan, maka kita sebagai pengolah data wajib menjelaskan bgmn cara tahapan dan cara pengolahannya. terlepas dari diterima atau tidak.

        mohon maaf……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s