Senam Intelektual


Senam Intelektual

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Istilah senam intelektual (intellectual gymnastic) dikemukakan Swami Yatiswarananda (1889-1966) ketika melancarkan kritik terhadap Filsafat Barat. Dia adalah “anak spiritual” Ramakrishna (1836-1886), seorang mistis dan yogi India yang sangat dihormati.  Ramakrishna konon pernah mempraktekkan ajaran Kristen dan pernah pula diislamkan oleh seorang guru India. Terkait dengan yang terakhir ini ia dilaporkan taat berdzikir, mempraktekkan salat lima kali, dan mengenakan pakaian Arab Muslim [1]; semuanya menandakan bahwa ia serius dalam keislamannya, wallahu’alam. Ajaran-ajaran Ramakrishna sampai ke kita melalui para muridnya antara lain dan Swami Yatiswarananda yang menyebarkan ajaran gurunya itu di kawasan Eropa selama dekade 1930-1940-an.

Kenapa Swami Yatiswarananda mengkritik Filsafat Barat? Karena menurutnya Filsafat Barat terlalu mengandlakan nalar. Baginya, nalar saja tidak cukup, bahkan tidak banyak berguna. Untuk lengkapnya, dan untuk mengurangi risiko salah tafsir, berikut ini disajikan kutipan terkait argumen itu [2]:

Western philosophy has never had any great influence on life, not even on the life of the philosopher himself. Western philosophy is all reasoning, and mere reasoninsg has no great value and only leads us up to a certain point. We see the results in Kant. This is of no value at all as far as life and our progress are concerned. It is just intellectual gymnastics.

Filsafat Barat tidak pernah berpengaruh besar dalam kehidupan, bahkan bagi kehidupan filsuf sendiri. Filsafat Barat hanya berdasarkan pada penalaran saja tidak memiliki nilai yang besar dan hanya mengarahkan kita suatu titik tertentu. Kita lihat hasilnya dalam (filsafat) Kant. Ini tidak bernilai sama sekali sejauh keprihatinan kita tertuju pada kehidupan dan kemajuan. Itu hanya senam intelektual.

Mengatakan karya Kant tidak bernilai sama-sekali mungkin berlebihan; yang lebih tepat mungkin karyanya dalam realitas kehidupan tidak membawa kita kemana-mana kecuali kepada kebingungan. Untuk memperjelas maksudnya, Swami Yatiswarananda membandingkan Filsafat Barat dengan tradisi India. Menurutnya, dalam tradisi India yang datang terlebih dahulu adalah pengalaman, setelah selang waktu yang lama baru datang dasar intelektual yang berbasis pengalaman. Singaktnya, dalam tradisi India pengalaman selalu ditekankan, bukan spekulasi intelektual yang tanpa basis pengalaman.

Meninjau Ulang Makna Intelek

Kata dasar intektual jelas intelek (intellect) yang pada umumnya diartikan sebagai kemampuan berfikir secara logis (“the ability to think with a logical way”) dan kepintaran atau kecerdasan seseorang (“a very smart person”) [3]. Jika arti itu yang digunakan maka istilah senam intelektual sah secara kebahasaan. Pertanyaannya, kenapa ada istilah intellect jika maknanya sudah tercakup dalam kata think, logical dan smart? Hemat penulis, yang terjadi di sini ini adalah reduksi makna intellect yang dilakukan secara sadar maupun tidak sadar. Reduksi makna semacam itu pada umumnya merefleksikan keengganan peradaban kontemporer untuk mengakui dan berbicara mengenai hal-hal yang bersifat subtil.

Untuk memperjelas dapat dilihat persepktif filsafat perennial mengenai hal ini. Menurut Schuon, seorang juru bicara utama filsafat itu, intelek –yang berbeda dengan nalar yang kerjanya melalui operasi logika– befungsi melalui instuisi. Uraian lebih lengkap dapat dilihat dalam kutipan berikut

Intellectual intuition … is contemplative power, receptivity toward uncreated Light, the opening of the Eye of the heart, which distinguishes transcendent intelligent from reason. Reason perceives the general and proceeds by logical operations, whereas Intellect perceives the principial—the methaphysical—and proceeds by intuition; intellection is concrete in relation to rational abstraction and abstract in relation to divine Consciousness; …

Intuisi intelektual…. adalah daya kontemplatif, penerimaan Cahaya abadi, pembukaan Mata hati, yang membedakan kecerdasan transenden dari nalar. Nalar mempersepsikan yang umum dan berfungsi melalui oprasi logika, sementara intelek mempersepsikan yang prinsip atau metafisis dan bekerja melalui intuisi; intelleksi konkrit dalam kaitannya dengan abstraksi rasional dan abstrak dalam kaitannya dengan Kesadaran ilahiah.

Dari kutipan di atas jelas bahwa intelek berbeda dengan nalar. Karena intelek dalam pengertian ini asing bagi Filsfat Barat maka penerapan istilah senam intelektual bagi filsafat itu sebenarnya tidak tepat. Dari kutipan yang sama, penulis memperoleh kesan bahwa intelek kira-kira setara dengan hati dalam Bahasa Indonesia.

Hati dan Kedalamannya

Sekadar penyegar ingatan, dalam bahasa qurani terdapat empat kata yang semuanya berarti hati (Bahasa Indonesia): shard, qolb. fuad atau afidah dan albab. Konotasi masing-masing kata itu berbeda. Kata shard meruju pada bagian luar hati dan biasa diterjemahkan dada (tetapi bukan artian fisik). Kata ini digunakan oleh Nabi Musa AS ketika siap menghadapi Fir’aun: “Rab-ku, luaskanlah dadaku” (Thaha: 25). Doa ini mengisyaratkan bahwa hati sebenarnya di uar kuasa kita tetapi berada di genggaman-Nya. Karena bukan dalam kekuasaan kita bagaimana mengajaknya “bersenam”? Kutipan berikut mungkin memperjelas makna shadr:

Menurut Amir An-Najr, shadr merupakan pintu masuknya segala macam godaan nafsu, penyakit hati dan juga petunjuk dari Tuhan. Shadr juga merupakan tempat masuknya ilmu pengetahuan ke dalam dirinya manusia.
Dada adalah wilayah pertempuran utama antara kekuatan positif dan negatif dalam diri kita, tempat kita di uji dengan kecendrungan-kecendrungan nagatif nafsu. Kalau sisi positif itu yang dominan, maka dada dipenuhi oleh cahaya dan berada dalam pengawasan jiwa ilahi. Tapi jika sebaliknya yakni sisi negatif yang dominan, seperti dengki, syahwat, keangkuhan, atau kepedihan, penderitaan atau tragedi yang berlangsung lama, maka dada akan dilingkupi oleh kegelapan. Hati akan mengeras dan cahaya bhatiniyah menjadi redup [4].

Jika kata shadr merujuk pada bagian luar hati maka kata qalb pada hati dalamnya. Mengenai yang terakhir ini, sekadar penyegar ingatan, bagian akhir tahiyat akhir dalam salat berisi doa: “Wahai dzat yang membolak-balikan qalb, tetapkanlah dalam qalb-ku dalam agamamu dan ketaatan kepada-Mu” [5]. Narasi doa ini kembali memperjelas bahwa urusan hati di luar kendali kita (jadi tidak bisa diajak bersenam).

Dua padanan kata lainnya yang berarti hati adalah fuad atau afidah dan albab: fuad adalah hati yang lebih dalam dari qalb, sementara albab lebih dalam lagi dari fuas, “hatinya hati”. Wallahu’alamubimraadih.

images2

Tanda matinya hati

Sebagai penutup, berikut disajikan kutipan dari seorang Syech Sufi yang sangat berpengaruh mengenai tanda matinya hati[6]:

Di antara tanda-tanda matinya hati (qalb) dalah tidak adanya perasaan sedih atas ketaatan yang kaulewatkan dan tidak adanya perasaan menyesal atas kesalahan yang kaulakukan.

A sign of the heart’s death is the absence of sadness over the acts of obedience you have neglected and the abandonment of regret over the mistakes you have made.

Pertanyaan: Seberapa hidup hati kita?

Astagfirullaah…..@

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Ramakrishna.

[2] Swami Yatiswarananda, Readings on the Gospel of Sri Ramakrihna (1994:177), Vedanta Study Circle, Athens, Greek.

[3] Merriam-Webster’s Advanced Learner’s English Dictionary, 2008.

[4] http://emka.web.id/ke-nu-an/2011/4-level-hati-menurut-tafsir-quran/

[5]Ya muqallibal qulubi tsabbit qalbi ‘alaa diinika wa’ala thaa’atika

[6] Al-Hikam: Ibnu Atha’illah s-Sakandari, Wali Pustaka, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s