Refleksi, Spiritual

Puasa dan Manusia Ideal

Related image

Related imageRelated imageRelated image

Sumber Gambar: Google

Dalam hitungan hari, Bulan Ramadhan akan tiba. Milyaran Muslim di seluruh dunia siap menyambutnya[1]. Bagi muslim, ini adalah kewajiban agama dan itu sudah cukup sebagai alasan untuk melaksanakannya secara patuh. Bagi mereka, yang paling penting Puasa adalah kewajiban agama, bukan masalah untung-rugi atau manfaat-mudaratnya.

Kesadaran semacam ini membuat mereka mengabaikan pandangan yang menghawatirkan dampak negatif puasa terhadap kesehatan, misalnya. Pandangan semacam ini bukan tanpa dasar karena didukung oleh banyak hasil penelitian ilmiah. Yang perlu dicatat adalah bahwa penelitian yang berpendapat sebaliknya tidak kurang atau bahkan mungkin lebih banyak. Satu di antaranya yang layak simak adalah penelitian Zibdeh, seorang ahli nutrisi, yang mengajukan pendapat profesionalnya sebagai berikut:

People think that fasting means starvation, but that doesn’t happen until someone doesn’t eat for four consecutive days,” Zibdeh said. “There are no dangers to fasting if people refuel in the evening hours. Fasting improves brain function and mood, increases vigilance and mental clarity. It also allows the gut to clean chemicals that accumulate. That doesn’t happen often because when we eat, we interfere with that function.[2]

Selain meyakini Puasa sebagai kewajiban agama, apakah Umat juga meyakini manfaat ibadah ini? Kita tidak mengetahui jawaban secara pasti karena sejauh pengetahuan penulis belum ada survei mengenai ini. Walaupun demikian, kita dapat menduga jawabannya positif. Indikasinya, Puasa dikenal oleh semua tradisi atau agama[3] dan di kalangan internal Umat Puasa merupakan ibadah yang sangat populer (banyak dipraktikkan), lebih populer dari pada Salat dan (apalagi) Zakat, misalnya.

Keyakinan Umat akan manfaat Puasa agaknya didasarkan pada ungkapan populer yang artinya kira-kira: “Berpuasalah maka niscaya kalian sehat”. Sangat penting untuk dicatat, meskipun isinya baik, ungkapan itu bukan Hadits[4]. Selain itu, pengetahuan itu agaknya tertanam dalam kesadaran kolektif Umat karena sudah dipraktikkan selama ribuan tahun. Dengan perkataan lain, pengetahuan Umat mengenai manfaat Puasa bukan didasarkan pada pengetahuan obyektif yang bisa benar atau salah, melainkan berbasis pengetahuan langsung oleh subyek yang mengetahui sehingga terbebas dari falsifikasi salah-benar. Pengetahuan terakhir ini analog dengan pengetahuan mengenai sakit yang kita rasakan, bukan pengetahuan dokter mengenainya. Pengetahuan semacam ini dikenal dengan Ilmu Hudhuri[5].

Apa saja pengetahuan (langsung) Umat mengenai manfaat Puasa? Kita dapat membuat daftar panjang mengenai hal ini tetapi empat kategori manfaat berikut agaknya memadai sebagai ilustrasi.

  1. Puasa membuat lebih dekat dengan-Nya.

Pengetahuan ini didasarkan pada kesadaran bahwa Puasa merupakan ajaran agama sebagaimana tercantum dalam ayat Al-Quran (2:183). Pengetahuan ini diperkuat oleh tradisi tadarus (membaca Al-Quran), salat sunat tarawih,  itikaf (bertafakur pada siang hari di masjid), dan ibadah sunat yang secara khas sangat ditekankan pada Bulan Ramadhan.

  1. Puasa membuat lebih dekat dengan sesama.

Pengetahuan ini didasarkan pada pengalaman langsung –dalam arti bukan semata-mata pengamatan atau laporan ilmiah atau laporan jurnalis– bahwa lapar dan haus sangat tidak nyaman dan bahkan “menyiksa”. Pengalaman semacam ini dapat mendorong seseorang untuk berempati dengan kelompok masyarakat duafa (terpinggirkan, serba kekurangan).

Pengetahuan ini diperkuat dengan sejumlah ibadah sunat (tidak harus tetapi dianjurkan) yang ditekankan ketika puasa: sedekah, menyantuni fakir-miskin, berbagi takjil (buka puasa), dan sebagainya. Yang perlu disisipkan di sini, ajaran Islam mengenai kedermawanan (charity) tidak didasarkan pada pengetahuan teori etika-moral yang abstrak, tetapi bertitik-tolak dari pengalaman kongkret. Analog dengan ini, ajaran Islam mengenai rendah hati (humility) tidak didasarkan pada teori etika, tetapi lebih didorong oleh pengamatan empiris mengenai keterbatasan fisik manusia: “Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi ini dengan sombong  karena sesungguhnya engkau tidak dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung” (17:37).

  1. Puasa meningkatkan standar moral.

Umat menyadari ketika puasanya menjadi tidak atau kurang efektif (berpahala) jika tidak mengindahkan perilaku yang dilarang ketika berpuasa termasuk berbohong, bergunjing, marah berlebihan, intoleran, berlaku angkuh, perilaku koruptif, memperlihatkan syahwat seksual, dan perilaku sejenis. Lawan dari perilaku itu yaitu perilaku berkata jujur, berkata seperlunya,  pemaaf, toleransi, rendah hati, hati-hati untuk tidak mengambil hak orang. Semua perilaku ini dapat meningkatkan standar moral seseorang.

  1. Puasa membantu memperdalam pengenalan jati-diri.

Larangan mutlak untuk tidak makan, tidak minum, dan tidak melakukan hubungan seksual ketika puasa, memaksa pelakunya untuk mengenali jati dirinya secara lebih mendalam. Pengenalan ini memaksanya untuk eling (istilah Jawa) atau membuat jarak-ontologis (istilah filsafat) bahwa hakikat dirinya bukan binatang, tetapi lebih mulia dari binatang, yang geraknya hanya didorong insting mencari makan, minum dan sex. Pengenalan ini menyadarkannya bahwa dalam dirinya ada –atau lebih tepat hakikatnya– Ruh-Nya yang ditiupkan-Nya ke dalam relung jati-dirinya yang paling dalam.

Sebagai penutup dapat disampaikan bahwa pengetahuan mengenai empat manfaat Puasa sebagaimana dibahas di atas, ditambah kesadaran mengenai pentingnya pola makan dan perilaku sehat, dapat membuat seseorang menjadi ideal. Hal ini terungkap dalam suatu laporan berikut ini:

If persons take care about their dietary patterns, avoid addictions, speak the truth, practice the concept of neighbourhood and hospitality and give charity as prescribed, do regular prayers, they will not only become an ideal human beings, but will certainly be also entitled for God’s blessing and protection which all of us so desperately need[6].

Seorang manusia ideal (an ideal human beings) itulah yang agakanya dimaksudkan sebagai orang takwa dalam teks suci (2:183). Wallahualam….@

[1] Mengenai estimasi populasi muslim lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/06/27/muslim_popn/.

[2] https://thinkprogress.org/the-controversy-over-the-health-effects-of-fasting-during-ramadan-db620fee1d03/

[3] Al-Quran (2:183): Surat ke-2, Ayat ke-183.

[4] https://konsultasisyariah.com/12786-derajat-hadis-berpuasalah-maka-kamu-akan-sehat.html.

[5] https://abuthalib.wordpress.com/2009/06/27/ilmu-hudhuri/.

[6] https://www.omicsonline.org/psycho-social-behaviour-and-health-benefits-of-islamic-fasting-during-the-month-of-ramadan-2161-0711.1000178.php?aid=9594.

Advertisements
Standard
Spiritual, Refleksi

Mengidentifikasi Titik-Temu Agama Samawi

Kata samawi (Arab) identik dengan kata langit (Indonesia) sehingga istilah agama samawi dapat diganti dengan agama langit. Kata yang terakhir ini menegaskan bahwa sumber ajaran agama samawi, bukannya produk kebudayaan atau berasal dari dunia-bawah-sini, melainkan dari dunia-atas-sana (wahyu), sekalipun dimaksudkan sebagai pedoman hidup di dunia-bawah-sini. Dengan pengertian ini maka agama samawi mencakup semua agama, millah, tradisi[1] yang bersumberkan wahyu Allah SWT, sejak era Adam AS, Idris AS, Nuh AS, dan Ibrahim AS beserta keturunannya, sampai kepada Muhammad SAW. Tulisan ini memfokuskan pada tiga agama besar yang sampai kini masih ada yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam. Istilah agama samawi yang digunakan dalam tulisan ini terbatas hanya pada tiga agama ini.

Lembaran Buram

Sejarah mencatat hubungan antar umat agama samawi tidak selalu harmonis bahkan sering disertai konflik berdarah. Daftar konflik berdarah antar umat agama samawi dapat dibuat panjang tetapi lima kasus berikut ini agaknya memadai sebagai ilustrasi:

  • Akhir Abad 11: Pembantaian komunitas Yahudi dan Muslim di Yerusalem ketika aliansi Pasukan Salib merebut Kota Yerusalem;
  • Sekitar Abad 15: Pengusiran komunitas muslim dan pemaksaan pindah agama bagi komunitas Yahudi di sekitar Teluk Iberia pasca kekalahan penguasa sisa Imperium Umayah di kawasan itu;
  • Pertengahan Abad 20: Perlakuan buruk terhadap komunitas Yahudi di Eropa (Kristen) yang mencapai puncaknya pada peristiwa Holocaust;
  • Konflik Palestina: Permusuhan dan kekerasan berdarah di Palestina dan sekitar yang sampai kini masih berlangsung tanpa prospek penyelesaian yang jelas; dan
  • Konflik di sebagian kawasan di Timur Tengah dan Afrika Utara: Permusuhan dan kekerasan berdarah oleh para ekstremis dari sebagian kecil komunitas Muslim terhadap komunitas non-muslim (minoritas) bahkan terhadap kelompok muslim tertentu (Syiah, kelompok Sufi, dan sebagainya) yang sampai kini masih berlangsung yang juga tanpa prospek penyelesaian yang jelas.

Pertanyaannya: Kenapa kekerasan berdarah semacam itu dapat terjadi? Kita dapat merujuk pada hasil kajian historis maupun sosiologis untuk memperoleh jawaban terhadap pertanyaan itu. Walaupun demikian, dalam analisis terakhir, agaknya akan lebih bijak bagi kita “menyerah” (Arab: aslama, akar kata Islam) dengan mengatakan bahwa semua itu terjadi pada hakikatnya karena kehendak Tuhan SWT. Dari sisi manusia, harus diakui bahwa peristiwa kekerasan berdarah semacam itu menunjukkan kelemahan manusiawi kita secara kolektif atau rendahnya kedudukan (Arab: maqaam) spiritual kita secara berjamaah. Kelemahan manusiawi itu yang mungkin mengundang ketetapan-Nya berlaku. Wallahualam. (God knows better!)

Sebenarnya ada alasan yang lebih substantif kenapa konflik berdarah antar umat agama samawi seharusnya tidak terjadi. Alasan itu, sebagaimana akan kita lihat nanti, adalah Pilar Ihsan yang tercakup dalam Tradisi Ibrahimik: pilar ini menuntut upaya aktif dan proaktif untuk menyempurnakan realisasi dua pilar agama lainnya (Iman dan Islam), juga untuk memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal. Pilar Ihsan ini secara normatif menonjol dalam Tradisi Isa AS tetapi fakta historis Perang Salib menunjukkan lemahnya kesadaran kolektif di kalangan Umat Nasrani terhadap ajaran Ihsan. Kelemahan yang sama –kalau tidak lebih serius– kita temukan di kalangan Umat Yahudi maupun Umat Islam.

Pertanyaan lain yang lebih mendasar: Kenapa ada perbedaan agama? Jawaban mudahnya: sudah menjadi ketetapan atau kehendak-Nya. Selain itu, perbedaan agama pada hakikatnya memperlihatkan karakter supra formal wahyu yang satu tetapi sifat manusia membutuhkan perbedaan. Upaya untuk mempersatukan agama bukan saja mustahil dilakukan tetapi juga tidak perlu, seandainya itu mungkin. Dalam konteks ini, kutipan dari Frithjof Schuon berikut layak disimak:

The diversity of religions, far from proving the falseness of all the doctrines concerning the supernatural, shows on the contrary the supra formal character of revelation—or enlightenment—is one, but human nature requires diversity[2].

the unity of the different religion is not only unrealizable on external level, that of the form themselves, but ought not to be realized at that level, even were this possible, for in that case the revealed form would be deprives of their sufficient reasons[3].

Keturunan Ibrahim AS

Secara normatif, kekerasan berdarah antar penganut agama samawi mestinya tidak terjadi. Kenapa? Karena Yahudi, Nasrani dan Islam memiliki leluhur yang sama yaitu Ibrahim AS. Semua pembawa agama samawi– Musa AS untuk Yahudi, Isa AS untuk Nasrani dan Muhammad SAW untuk Islam— keturunan Ibrahim AS. Nabi besar ini bergelar Bapak Para Nabi dan gelar itu tepat karena semua rasul pasca Nuh AS yang namanya disebut dalam Al-Quran, semuanya keturunan Ibrahim SAW. Kekecualian dalam hal ini adalah Soleh AS, Hud AS dan Luth AS. Musa AS dan Isa AS adalah keturunan Ibrahim AS melalui jalur Ishaq, Muhammad SAW melalui jalur Ismail AS.

Tabel 1 menyajikan beberapa identitas empat Nabi besar agama samawi yaitu Ibrahim AS, Musa AS, Isa AS dan Muhammad AS. Pada tabel itu tampak bahwa tiga yang terakhir adalah keturunan Ibrahim AS. Yang pertama secara genealogis tersambung dengan Adam AS, sebagai keturunan ke-19. Termasuk dalam leluhur Ibrahim AS adalah Idris AS dan Nuh AS yang masing-masing keturunan Adam AS yang ke-6 dan ke-9. Semua nabi, bahkan semua manusia dan makhluk hidup lainnya, seterlah Era Nuh AS, adalah keturunan beliau atau yang diselamatkan oleh perahu beliau dari bencana bah yang bersifat global.

Gambaran umum mengenai jarak waktu antara era Ibrahim AS dengan era ketiga keturunannya itu dapat dilihat dari urutan keturunan (lihat Kolom 2 Tabel 1): Musa AS, Isa AS dan Muhammad SAW, masing-masing keturunan yang ke-8, ke-30 dan ke-33. Gambaran yang lebih cermat dapat dilihat dari periode kehidupan masing-masing nabi itu (Kolom 4): Ibrahim AS (1997-1822 SM), Musa AS (1527-1407 SM), Isa AS (1S M-32 M), dan Muhammad AS (570-632 M).

Yang menarik juga untuk dicatat adalah bahwa Musa AS ternyata “paling populer” diukur dari frekuensi penyebutan namanya dalam Al-Quran (Kolom 5): sementara Ibrahim AS, Isa AS dan Muhammad SAW disebut hanya 69, 21 dan 25 kali, Musa AS disebut sampai 136 kali.

Warisan Spiritual Ibrahim AS

Bapak Para Nabi ini mewariskan tidak hanya garis keturunan secara genealogis tetapi juga inti ajaran agama yang berbasis ajaran tauhid atau ajaran Keesaan Tuhan SWT. Argumentasi mengenai hal ini dapat ditemukan dalam sejumlah ayat Al-Quran antara lain:

  • Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan kepada Nuh dan apa telah kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya (42:13)[4];
  • (Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim) “berserah-dirilah! (Arab: aslim), Dia menjawab “Aku berserah diri (Arab: aslamtu) kepada Tuhan seluruh Alam (2:131);
  • Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya. Demikian pula Ya’kub, “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kemu mati kecuali dalam keadaan muslim (Arab: muslimun)” (2:132);
  • Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Ya’kub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab’ Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, smail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya berserah diri kepada-Nya (2:133); dan
  • Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka usahakan dan bagimu apa yang telah kamu usahakan. Dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang apa yang mereka kerjakan (2:134; juga 2: 141):

Kutipan ayat pertama menegaskan kesamaan inti ajaran agama-agama samawi sejak Nuh AS; kutipan ayat yang ke 2 s/d 4 menegaskan Islam sebagai nama agama Ibrahim AS serta keturunan-keturunannya, baik yang melalui jalur Ishak AS (Yahudi dan Nasrani), maupun Ismail AS (Islam). Jelasnya, Islam dalam narasi Al-Quran, sangat inklusif karena tidak hanya mencakup ajaran yang dibawa Muhammad SAW (Islam dalam pengertian populer). Dalam konteks ini patut disisipkan di sini karakterisasi Al-Quran mengenai ahli Kitab:

Mereka tidak seluruhnya sama. Di antara Ahli Kitab ada golongan yang jujur, mereka membaca atyat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (salat). Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebaikan. Mereka termasuk orang-orang yang saleh. Dan kebajikan apa pun yang mereka kerjakan, tidak ada yang mengingkarinya. Dan Allah maha mengetahui orang-orang yang bertakwa (3:113-115).

Sekalipun memiliki inti ajaran yang sama, Agama Yahudi, Nasrani dan Islam jelas memiliki bentuk, rumusan teologis mengenai ketuhanan, sejarah keumatan, serta siklus pewahyuan yang berbeda. Tetapi juga jelas wisdom qurani –kebijaksanaan berbasis ayat Al-Quran—bahwa perbedaan itu “bukan urusan kita” sebagai umat sebagaimana tersirat dalam kutipan nomor lima di atas (2:134). Ayat ini tampaknya sedemikian penting sehingga diulang dengan redaksi yang persis sama dalam (2:141). Yang juga jelas adalah wisdom qurani yang menegaskan “tidak ada paksaan dalam agama” (2:256).

Wisdom qurani dengan nada serupa dapat ditemkan dalam ayat lain yang pada intinya berupa seruan agar umat agama samawi lebih mengetengahkan kesamaan antar mereka (Arab: kalimatun sawa), bukan meruncingkan perbedaan:

Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan kita selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka) “Saksikanlah bahwa kami adalah orang muslim”  (3:64).

Perbedaan Penekanan

Kutipan ayat terakhir pada intinya seruan kepada ajaran tauhid yang merupakan inti dari ajaran agama samawi. Karena inti ajaran ini maka  agama samawi dikenal dengan sebutan agama monoteisme. Dalam Millah atau Tradisi[5] Ibrahim AS, pilar Iman (Faith) yang berkarakter ajaran tauhid ini sangat menonjol dan karakter ajaran itu yang diwasiatkan kepada keturunannya sebagaimana terungkap dalam kutipan-kutipan ayat terdahulu. Yang perlu dicatat adalah bahwa Millah Ibrahim AS mencakup juga dua pilar agama (Dien) yang lain yaitu Islam (Law) dan Ihsan (Way). Tetapi penekanan terhadap pilar pertama (Iman) sedemikian kuatnya sehingga dua pilar yang lainnya seolah-olah terserap dalam pilar pertama.

Berbeda dengan Millah Ibrahim, Tradisi Musa AS lebih menekankan pada pilar ke 2 (Hukum, Law) sedemikian sehingga dua pilar lainnya seolah-olah terserap dalam Pilar ke-2. Tradisi Isa AS lain lagi; penekanannya terletak pada Pilar ke-3 (Ihsan, Way); dua pilar lainnya seolah-olah terserap dalam Pilar ke-3 itu. Bagaimana dengan Tradisi Muhammad SAW? Hadits Jibril mengindikasikan bahwa Tradisi nabi terakhir ini mengetengahkan keseimbangan tiga pilar Dien ajaran agama samawi. Dalam narasi Schuon, Islam, for its parts, intend to contain these three elements side by side, thus in perfect equilibrium, whence precisely its doctrine of the three elements iman, islam, and ihsan[6].  Untuk memberikan gambaran yang lebih baik, berikut ini disajikan kutipan dari Schuon yang lebih lengkap:

In order to show in what way the Muslim religion considers itself to be the completion and synthesis of earlier monotheisms, we must first of all recall that its constitutive   elements are al-iman, al-islam, and al-ikhsan, terms that can be rendered, not literally but nonetheless adequate, as “Faith”, “Law” and “Way”. “Faith” corresponds to the first of the three monotheisms, that of Abraham; “Law” to the second, that of Moses; and the “Way” to the third, that of Jesus and Mary. In Abrahamism, the element of “Law” and “Way” are as it were absorbed in by element “Faith”; in Mosaism, it is the element of “Law” that predominates and that, as a result, absorbs the elements “Faith” and “Way”; and in Christianity, it is the element of “Way” that absorbs the two other elements. Islam, for its parts, intend to contain these three elements side by side, thus in perfect equilibrium, whence precisely its doctrine of the three elements iman, islam, and ihsan[7].

Jika diizinkan menggunakan analogi dalam trigonometri, kita dapat menyajikan konfigurasi tradisi Ibrahimik sebagaimana diiulstrasikan oleh Gambar 1. Pada gambar itu tampak sudut sangat besar (lebih dari 90 derajat) yang merepresentasikan Pilar Iman untuk konfigurasi Tradisi Ibrahim. Konfigurasi tradisi Musa AS dan tradisi Isa AS juga menyerupai segitiga yang sama tetapi dengan sudut sangat besar masing-masing pada Pilar Islam dan Pilar Ihsan. Konfigurasi tradisi Muhammad SAW berbeda; semua pilar memiliki sudut yang sama besar (60 derajat) sehingga membentuk segitiga sama-sisi (lihat Gambar 1).

Wallahualam…..@

[1] Dalam konteks ini istilah tradisi mengandung konotasi kepastian adanya hubungan dengan sumber awal. Dalam hal agama wahyu berarti Allah SWT.

[2] “No Activity Without Truth”, 4.

[3] Transcendent Unity of Religion, “Preface”, xxxiv.

[4] Angka yang pertama menunjukkan nomor surat Al-Quran, yang lainnya nomor ayat.

[5] Lihat catatan kaki 1 mengenai pengertian tradisi. Sekadar untuk membedakan, di sini kita menggunakan istilah Tradisi; istilah agama kurang sesuai karena bagi Al-Quran semua agama samawi bernama Islam sebagaimana terlihat dalam beberapa ayat yang dikutip sebelumnya.

[6]  Forms and Substance in the Religion, “Insights into Muhammadan Phenomenon”, 87-88

[7]   Forms and Substance in the Religion, “Insights into Muhammadan Phenomenon”, 87-88

 

Standard
Refleksi, Sejarah, Spiritual

Konflik-Sesama dan Kritik Dunia Modern

Sejarah mencatat sekitar seabad lalu Perang Dunia Ke-1 (PD I) berakhir setelah berkecamuk selama empat tahun dalam periode 1914-1918. PD I adalah jenis konflik masal antar sesama manusia (singkatnya, konflik-sesama) yang melibatkan kekerasan dan ketika penghilangan nyawa manusia dari pihak lawan dianggap sah (valid) secara moral dan bahkan dinilai semacam kebajikan (virtue). Momen berakhirnya konflik sejenis itu jelas suatu “kemenangan” bagi kemanusiaan dan bersifat historis sehingga layak bagi kita untuk merefleksikannya.

Kita dapat mulai refleksi dengan mengingat bahwa PD I adalah konflik-sesama bertaraf internasional yang melibatkan hampir semua negara Eropa bersama Rusia, Amerika Serikat (AS), Timur Tengah, dan wilayah-wilayah lainnya. Dalam konflik ini berhadapan dua kelompok kekuatan: di satu pihak ada Kekuatan Poros (Central Powers) dengan anggota utama Jerman, Austria-Hongaria, dan Turki, di sisi lain ada Kekuatan Sekutu dengan anggota utama Perancis, Inggris, Rusia, Italia dan Jepang di sisi lain. (AS menyusul kemudian pada tahun 2017.) Konon semua peserta peperangan ini merasa yakin akan memenangkan peperangan dalam hitungan bulan.

PD I dijuluki Perang Besar (Great War) dan julukan ini layak paling tidak dilihat dari besarnya korban. Menurut suatu laporan, PD I melibatkan sekitar 960 juta penduduk dengan korban: lebih dari 8 juta jiwa meninggal dalam peperangan, 2.3 juta jiwa warga sipil meninggal, 5.4-6.1 juta warga sipil yang meninggal akibat dari kekurangan gizi dan penyakit (di luar influenza), 15.4 juta jiwa yang meninggal atau 19 jiwa per 1000 penduduk, dan 22.1-23.7 juta personil korban luka dari kalangan militer[1].

Sejarah mencatat pula bahwa konflik dengan korban yang sangat besar ini tidak membuat kita (secara kolektif) merasa jera. Buktinya, sekitar dua dekade usai PD I berkecamuk Perang Dunia Kedua (PD II), perang global yang melibatkan banyak sekali negara yang tergabung dalam kekuatan Sekutu atau Poros. Perang ini melibatkan senjata yang jauh lebih merusak (termasuk senjata nuklir) dibandingkan dengan yang digunakan dalam PD I, ditandai oleh sejumlah peristiwa penting yang melibatkan kematian massal warga sipil termasuk Holocaust, memakan korban jiwa sebanyak 50- 70 juta jiwa, serta menegaskan reputasinya sebagai konflik yang paling mematikan sepanjang sejarah umat manusia[2].

Konflik yang mematikan akibat PD II ternyata tidak juga membuat kita jera. Buktinya, pasca PD II sejarah menyaksikan sejumlah peperangan lain: Perang Korea (1950-53), Perang Vietnam (1957-75), Perang Irak-Iran (1980-88), Perang Afganistan (2001-sekarang), Perang Irak (2003-11), Perang Libiya (2011-sekarang), Perang Syria (2011-sekarang), dan Perang Yaman (2015-sekarang). Semua peperangan ini tidak bersifat global tetapi bukan berarti tanpa korban jiwa dan tragedi kemanusiaan yang bersifat masif. Dua yang pertama pada umumnya dinilai sebagai “perang yang dimandatkan” (Inggris: proxy war) antara AS dengan sekutu PBB-nya melawan China-Rusia, sementara empat terakhir merupakan perang saudara disertai tragedi kemanusiaan meluas dalam lingkup regional. Bentuk tragedi itu antara lain pengungsian masal ke negara tetangga bahkan Eropa, pengungsi-lokal (internally-displaced persons), pekerja paksa (forced labour), degradasi tingkat kesejahteraan masyarakat, penyebaran wabah penyakit, bahkan kelaparan ekstrem.

pd1_100

Pertanyaan retrospektif yang layak layak-simak bagi kita secara kolektif adalah mengapa kita membiarkan terjadinya konflik-sesama sejenis itu. Banyak jawaban yang ditawarkan untuk pertanyaan semacam ini tetapi bagi orang semacam Guènon[3], peperangan atau semua bentuk kekacauan lainnya, merupakan implikasi logis dari cara-pandang-dunia budaya modern. Pandangan Guènon mengenai hal ini dapat kita simak dalam bukunya yang berjudul The Crisis of Modern World[4] yang dipublikasikan pasca PD I, tepatnya 1927.

Isi buku ini pada intinya menarasikan, dalam bahasa Martin Ling[5], “kritik tajam (penetrating critique) Guènon terhadap Dunia Modern dan penilaiannya mengenai kekacauan total dalam waktu dekat”. Gagasan pokok Guènon diungkapkan secara padat oleh Martin Ling dalam kutipan berikut[6]:

The rational, material, and secular worldview of modern science threaten to overwhelm realities that underlie the grand design of the natural world… Renè Guènon identified the deep chasm that separates ancient from modern, sacred from profane, and true knowledge from empirical science, a series of deep wounds such as can fully be helded (sic.) only by ending of this cosmic cycle and the beginning of another.

Pandangan duniawi yang rasional, material, dan sekuler dari ilmu pengetahuan modern yang mengancam realitas yang mendasari desain besar dunia alami … Renè Guènon mengidentifikasi jurang yang mendalam yang memisahkan dunia kuno dari dunia modern, yang sakral dari yang profan, dan pengetahuan sejati dari sains empiris, suatu rangkaian luka yang sedemikian parahnya sehingga seolah-olah hanya dapat diobati sepenuhnya dengan mengakhiri siklus kosmik ini dan dimulai lagi dari siklus yang lain.

Anak kalimat terakhir “suatu rangkai luka …” mengungkapkan keprihatinan Guènon yang mendalam terhadap ulah “manusia modern” yang bahkan terkesan putus asa. Keprihatinannya didasari oleh pengamatannya terhadap PD I dan isu yang terkait dengannya. Kita dapat membayangkan keprihatinan beliau jika sempat mengamati PD II, tragedi September 11, Tragedi Kemanusiaan Yaman-Syria-Rohingnya, dan sebagainya.

Terlepas dari kritik Guènon terhadap budaya Dunia Modern, alasan mendasar bagi konflik-sesama yang disertai penghilangan nyawa manusia barangkali dapat dikembalikan kepada tabiat manusia yang menurut “penilaian” malaikat suka “menumpahkan darah” [7] (Arab: yasfikud-dimaa). Wallahualam!

Mengapa kita membiarkan peperangan konflik sejenis itu berulang? Jangan-jangan karena kita termasuk makhluk yang lengah sebagaimana dilansir dalam teks suci:

Dan sungguh akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka (seperti) hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah[8].

Menurut teks suci ini kelengahan membuat kita bermartabat lebih rendah dari binatang ternak. MasyAllah!…@

[1] https://www.britannica.com/event/World-War-I

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Dunia_II

[3] Nama lengkapnya René Guénon (15 November 1886– 7/ January 1951) yang juga dikenl sebagai “Shaykh `Abd al-Wahid Yahya”.

[4] London: Luzac and Co., 1942; edisi dalam Bahasa Prancis terbit 1927.

[5] Martin Lings dalam “Introduction” buku The Essential Rene Guenon (2009:ix), World Wisdom.

[6] Ibid

[7] Al-Quran (2:30); yakni, Surat ke-2 Ayat ke-20.

[8] Al-Quran (7:179).

Standard
Refleksi, Spiritual

Homo Islamicus: Perbandingan dengan Manusia Modern

Dalam kalimat pertama salah satu bukunya yang terkenal yaitu Understanding Islam[1], Schuon mendefinisikan Islam sebagai ajaran mengenai “Tuhan apa adanya dan manusia apa adanya”. Walaupun terkesan enteng, definisi ini sebenarnya relatif lengkap dan sangat padat: lengkap, karena sudah mencakup dua tema utama ajaran Agama Islam yaitu Rabb Alamin dan manusia; sangat padat, karena dinarasikan hanya dalam tujuh kata. Ketepatan definisi Schuon lebih jelas terlihat dalam uraiannya yang juga sangat padat mengenai dua kalimat kunci itu: “Tuhan apa adanya (God as such)”, dan “manusia apa adanya (man as such)”. Mengenai yang pertama Schuon memaknainya sebagai Dia yang Mutlak dalam diri-Nya, suatu makna yang tersirat dalam misteri kata hua[2]. Mengenai yang kedua dia merujuk pada manusia yang secara normatif sesuai dengan cetak-biru penciptanya, manusia yang belum “tercemari” oleh perdaban  modern. Tulisan ini memfokuskan pada makna manusia dalam pengertian ini yang oleh Nasr disebut sebagai Homo Islamicus[3].

Manusia Modern: Antropomorfisme

Makna Homo Islamicus tersirat dari perbandingkannya dengan Manusia Modern[4]. Sayangnya, istilah yang terakhir ini tidak mudah didefinisikan karena dua hal. Pertama, kita berada di dalam dunianya sehingga diperlukan refleksi untuk memahaminya dengan cara mengambil jarak kognitif. Kedua, diskusi mengenai modernitas pada umumnya memiliki tema tertentu (tematis) dalam pengertian bersifat sepotong-sepotong (parsial) sehingga jika dilihat secara keseluruhan tema modernitas akan tampak sangat beragam dengan rentang mulai dari dunia kekinian (contemporary) sampai hanya sekadar istilah sederhana seperti “inovatif” atau “kreatif”. Prinsip dasar atau nilai kebanaran ultimanya jarang sekali didiskusikan. Kelangkaan dalam hal kejelasan, ketepatan dan ketajaman mengenai prinsip dasar dan kebenaran ultima semacam ini sering kali menyebabkan diskusi mengenai modernitas –khususnya jika dikaitkan dengan agama– menjadi “panas”, emosional, dan kurang produktif. Kelangkaan semacam ini yang justru khas dalam arus-utama cakrawala pikir manusia modern

Kekecualian dari arus-utama dalam konteks ini adalah mazhab pemikiran tradisional[5]. Bagi mazhab ini modernitas tidak ada kaitannya dengan kekinian, kebaharuan (up-to-date), atau keberhasilan “menaklukkan” atau mendominasi dunia alamiah. Bagi mereka modern berarti segala sesuatu yang, seperti dinarasikan oleh Nasr[6],

… cut off from the transcendent, from the immutable principles which in reality govern everything and which are made known to man through revelation in its most universal sense. Modernism is thus contrasted with tradition (al-din).

… terputus dari yang transenden, dari prinsip-prinsip yang tak- terbantahkan yang dalam realitas mengendalikan semua hal, sesuatu yang dapat diketahui oleh manusia melalui wahyu dalam pengertiannya yang paling universal. Modernisme dengan demikian berbeda dengan tradisi (agama).

Apanya yang terputus? Yang terputus adalah keajekan dalam cara pandang dunia (worldview), khususnya mengenai posisi manusia di dalam jagat raya kesadaran. Menurut Nasr, selama “ratusan ribu tahun” hidup di muka bumi manusia mempertahankan tanpa putus pandangannya mengenai hubungannya dengan Tuhan dan alam dilihat sebagai ciptaan dan ayat (Teofani) Tuhan. Pandangan tradisional yang sudah berumur “ratusan ribu tahun ini’ oleh manusia modern “diputus” sejak sekitar abad ke-16[7] dengan menetapkan manusia sebagai satu-satunya kriteria kepastian kebenaran.

Modern thought, …, became profoundly anthropomorphic the moment man was made the criterion of reality. When Descartes uttered “I think, therefore I am” (cogito ergo sum), he placed his individual awareness of his own limited to self as the criterion of existence for certainly the “I” in Decrates assertion was not to be divine “I” who through Hallj exclaimed “I am the Truth (ana’l Haqq), the Divine “I” which according to tradition doctrine alone has the the right to say “I”.

Alam pikiran Modern, …, menjadi sangat antropomorfis dengan menjadikan manusia sebagai kriteria kebenaran. Ketika Descates[8] mengatakan “Aku berpikir, maka Aku ada”, dia meletakan kesadaran individualnya terbatas pada diri sebagai kriteria kepastian; “Aku” dalam penegasan Descartes bukan “Aku” ilahiah sebagaimana yang dikumandangkan Hallaj[9] “Aku adalah Kebenaran”, “Aku” ilahiah yang dalam pandangan tradisional hanya yang berhak mengatakan “Aku”.

Kutipan berikut ini diharapkan dapat memperjelas:

What happened in the post-medieval period in the West was that higher levels of reality became eliminated on both subjective and the objectives domains. There was nothing higher in man than his reason and nothing higher in the objective worlds.

Apa yang terjadi dalam setelah periode kegelapan (yakni sebelum era modern) di Barat adalah bahwa realitas yang lebih tinggi dihilangkan dalam kesadaran subjektif maupun objektif. Tidak ada di dalam manusia yang lebih tinggi dari pada pikirannya dan tidak ada dunia objektif yang lebih tinggi.

Dari dua kutipan di atas jelas mode pemikiran modern memosisikan pikiran manusia (human reason) sebagai satu-satunya acuan kebenaran subyektif maupun obyektif. Ini sangat berbeda dengan ilmu pengetahuan tradisional yang menganggap lokus dan wadah pengetahuan bukan semata-mata pikiran manusia tetapi Intelek Ilahiah (the Divine Intellect). Seperti ditegaskan Nasr, pengetahuan yang benar bukan didasarkan pada pikiran manusia tetapi pada Intelek milik realitas tingkat supra-manusia yang juga berfungsi memberikan pencerahan kepada pikiran manusia.

Homo Islamicus

Sangat berbeda dengan Manusia Modern, mode pemikiran Homo Islamicus menempatkan wahyu (revelation) dan intuisi intelektual (dhawq, kashf atau shuhud) sebagai lokus dan wadah pengetahuan. Seorang muslim melihat wahyu sebagai sumber utama pengetahuan dan menyadari kemungkinan memurnikan diri sehingga mencapai “pandangan hati” (eye of the heart, ‘ayn al– qalb) yang terletak di pusat keberadaannya, yang memungkinkannya memperoleh visi langsung mengenai realitas “surgawi” (supernal reality). Seperti diungkapkan Nasr, akhirnya, “ia menerima kekuatan pikiran untuk mengetahui tetapi pikiran ini senantiasa terkait dan memperoleh bantuan kekuatan wahyu di satu sisi dan intuisi intelektual di lain sisi”. Matriks berikut ini mempertegas perbedaan mode pemikiran antara Manusia Modern dengan Homo Islamicus.

Matriks: Kontras antara Manusia Modern dan Homo Islamicus

Isu Manusia Modern Homo Islamicus
Evolusi Manusia berevolusi dari ciptaan yang lebih rendah Sekalipun mengandung unsur nabati dan hewani manusia tidak berasal dari ciptaan lebih rendah. Manusia adalah “mahkota” ciptaan (ashraf al-makhluqat): Tuhan YME “meniupkan” ruh-Nya
Kebutuhan Kebutuhan manusia hanya bersifat kebumian (earthly needs). Kebutuhan manusia tidak terbatas pada sesuatu yang terkait dengan kebumian (terrestrial) tetapi kebutuhan lain yang lebih subtil (kebutuhan jiwa dan spiritual), pikiran yang bersumberkan wahyu dan intuisi intelektual.
Peran di bumi Penguasa bumi Memerintah bumi bukan atas nama dirinya tetapi sebagai khalifah-Nya yang dituntut pertanggung-jawaban. Pikiran tetapi dalam pengertian luas (sesuai dengan kata fikr dalam Bahasa Arab) yang terkait dengan meditasi dan kontemplasi, tidak semata-mata pikiran murni.
Sumber pengetahuan Pikiran dalam pengertian sempit (reason) Pikiran tetapi dalam pengertian luas (sesuai dengan kata fikr dalam Bahasa Arab) yang terkait dengan meditasi dan kontemplasi, tidak semata-mata pikiran murni.
Terminal terakhir Bumi sebagai terminal akhir perjalanan Hidup di bumi sekadar singgah dalam perjalanan ke terminal akhir yang sangat jauh.
Sumber: Diadaptasi dari Sayyid Nasr dalam “Reflection on Islam and Modern Life”, online library articles, http://www.worldwisdom.com

Dari uraian di atas tampak jelas perbedaan tajam antara mode pemikiran modern dan mode pemikiran Homo Islamicus. Bagi yang pertama, manusia dianggap sebagai bebas dari “surga”, menguasai sepenuhnya takdirnya, terikat tetapi juga penguasa bumi. Bagi yang kedua, manusia tidak sepenuhnya bebas dari “surga”, tidak sepenuhnya menguasai takdirnya, dan bukan sepenuhnya penguasa bumi. Demikian tajam perbedaan itu sehingga sangat sulit (kalau tidak mustahil) mengharmonikan keduanya.

Sinopsis: Ditinjau dari cara pandang dunia (worldview) dan mode pemikiran, Homo Islamicus dan manusia modern berbeda secara mendasar. Upaya mengharmonikannya sangat sulit kalau tidak mustahil dilakukan. Wallahualam …@

homo1

[1] World Wisdom Books, Inc. (1998). Nama lengkap Schuon adalah Frithjof Schuon (18/6/1907 – 5/5/1998); juga dikenal dengan nama Islamnya yaitu  Īsā Nūr al-Dīn.

[2] Misteri kata hua dapat diihat dalam bukunya yang berjudul Transfigurasi Manusia. Versi sederhananya dapat dilihat dalam https://uzairsuhaimi.blog/2017/04/21/tiga-puisi-misteri/

[3] Lihat Sayyid Nasr dalam “Reflection on Islam and Modern Life”, online library articles, http://www.worldwisdom.com. Semua kutipan Nasr dalam artikel ini merujuk pada artikel yang berjudul itu. Tulisan ini merupakan penyempurnaan tulisan serupa sebelumnya yang berjudul Homo Islamicus yang juga disajikan dalam blog ini tetapi sayangnya tidak bisa lagi diakses secara sempurna (corrupted).

[4] Kata modern pertama kali digunakan 1585 terkait dengan, atau ciri dari kekinian atau masa lalu yang belum lama (contemprary); atau melibatkan teknik, metode, atau ide baru (up-to date) (www.merriam- webster/dictionary).

[5] Istilah tradisional digunakan di sini sekadar untuk memudahkan. Istilah yang lebih tepat mungkin mazhab perenialis yang dipopulerkan oleh Schuon. Mazhab ini mengedepankan hakikat kebenaran abadi yang tanpa bentuk tetapi kemudian diberi “bentuk tertentu” oleh suatu agama dan tradisi.

[6]  Seyyed Hossein Nasr (1983), “Reflections on Islam and Modern Thought”, Studies in Comparative Religion, Vol. 15, No. 3 & 4. (Summer-Autumn, 1983). © World Wisdom, Inc. http://www.studiesincomparativereligion.com.

[7] Era modern dimulai kira-kira abad ke-16; jadi, belum lama (baru sekitar setengah milenium yang lalu) dalam rentang sejarah panjang umat manusia. Era ini diawali oleh peristiwa kejatuhan Konstantinopel tahun 1153, kejatuhan Muslim Spanyol dan penemuan Benua Amerika tahun 1992, dan reformasi Protetan Luther tahun 1517 (www.wikipedia/wiki/Modern_history).

[8] Pada tataran filosofis Descartes dapat dianggap sebagai “Nabi” manusia modern.

[9] Hallaj adalah tokoh sufi yang dihukum pancung karena perkataannya oleh para ulama ketika itu dianggap terlalu subtil untuk dapat dipahami oleh orang awam sehingga “berbahaya” bagi umat.

 

Standard
Refleksi, Spiritual

Manusia Lanjut Usia: Suatu Refleksi

Kira-kira seminggu yang lalu penulis menghadiri acara reuni yang semua pesertanya adalah manusia lanjut usia (manula). Walaupun sudah manula, vitalitas mereka patut diacungkan jempol: mereka mampu menikmati acara reuni dengan santai dan penuh semangat sampai larut malam[1]. Kata manula, mungkin karena sering disebut selama acara itu berlangsung, mendorong penulis yang sudah manula ini untuk mengajukan pertanyaan retrospektif: Apa makna manula bagiku? Tulisan singkat ini mereflekasikan jawaban terhadap pertanyaan ini.

Menjelang Magrib

Para sufi konon sangat prihatin kepada kita yang terlalu memboroskan waktu, sumberdaya dan energi untuk sesuatu yang dijamin Tuhan (rizki); tetapi sebaliknya, mengabaikan yang tidak dijamin-Nya (nasib di akhirat). Keprihatinan ini tentunya lebih mengena bagi manula. Tidak perlu menjadi sufi untuk memiliki keprihatinan semacam itu: ia dapat dimilki oleh mereka yang mampu berpikir integral dan proporsional: integral dalam arti tidak hanya berpikir mengenai dunia-bawah-sini (lower world) tetapi dunia-atas-sana (higher world), proporsional dalam arti mampu menyadari kekerdilan-diri di hadapan Tuhan (nothingness before God) dan kesementaraan dunia-bawah-sini dibandingkan dengan keabadian dunia-atas-sana. Bagi yang meragukan kepastian rizki, kutipan berikut mungkin bermakna:

Allah berfirman ‘Wahai Bani Adam, fokuskanlah hati kalian dalam beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan lapangkan hatimu, dan Aku penuhi kebutuhanmu. Kalau kamu tidak memfokuskan ibadah kepada-Ku, maka Aku akan penuhi hatimu dengan kesibukan dan kebutuhanmu tidak akan Aku penuhi” (Hadis qudsi riwayat Ahmad,Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim).

Kenapa keprihatinan sufi itu lebih mengena kepada para manula? Karena bagi kelompok ini siklus-mataharinya secara alamiah sudah memasuki “waktu ashar”, bahkan menjelang “waktu magrib”, waktu ketika Rabb memanggilnya, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap. Ini pasti sebagaimana banyak teks suci mengingatkan:

“Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, Ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan Kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan nyata, lalu Dia beritahukan keadamu apa yang telah kamu kerjakan” (al-Jumu’ah:8).

Menarik untuk dicatat bahwa dalam teks itu kata maut adalah subyek-aktif (yang pasti datang untuk menjemput) yang obyek-pasif-nya adalah manusia (yang pasti akan dijemput).

Angka Harapan Hidup

Tetapi kapan “waktu magrib” itu bagi seorang individu, manula atau bukan? Ini rahasia Tuhan, tidak ada yang mengetahuinya. Walaupun demikian, secara statistik kita dapat memperkirakan rata-rata angka harapan hidup (life expectancy) suatu populasi, suatu istilah teknis dalam Demografi yang merujuk pada rata-rata tahun suatu populasi (menurut umur) diharapkan dapat mencapainya selama hidup. Jadi, istilah “harapan hidup” tidak ada kaitannya dengan “harapan yang akan diperoleh dalam hidup” seperti yang mungkin dikesankan oleh istilah itu.

Sumber: Youtube

Bagi penduduk Indonesia, angka harapan hidup bayi baru lahir (berumur tepat 0 tahun) atau e0 adalah 67.2 tahun bagi bayi laki-laki dan 72.6 tahun bagi bayi perempuan. Ini tidak berarti bahwa lansia laki-laki berusia 60 tahun, misalnya, sisa hidupnya tinggal 7.2 tahun; bagi mereka sisa hidup masih lebih lama yaitu 16 tahun. Bagi lansia perempuan pada kelompok umur yang sama harapan hidup bahkan lebih lama yaitu 19 tahun[2]. Sekali lagi ini adalah angka rata-rata nasional pada tingkat populasi.

Pada tingkat individu penduduk penduduk Indonesia dapat saja mencapai umur 100 tahun. Secara statistik itu dimungkinkan walaupun diperkirakan hanya sekitar 5% penduduk yang mencapai usia itu. Ini berlaku bagi laki-laki maupun wanita. Bagi umur-umur lebih muda, angka harapan hidup selalu lebih tinggi untuk perempuan ketimbang untuk laki-laki sebagaimana ditunjukkan oleh Grafik. Sekadar catatan, pada grafik itu sumbu horizontal menyajikan variabel umur, sementara sumbu vertikal angka harapan hidup dalam tahun. Batang pertama pada grafik itu, misalnya, berlaku bagi mereka yang berumur 60 tahun, dan angka harapan hidupnya 16.0 tahun bagi laki-laki (berwarna biru) dan 19.0 tahun bagi perempuan (berwarna merah).

Sumber: BPS-UNFPA, unpublished paper

Proyek yang cocok

Karena faktor usia (jadi bersifat alamiah), kondisi fisik manula semakin melemah: pikiran semakin “lemot”, mata semakin buram, telinga semakin tuli. Secara fisiologis ini konon dapat dijelaskan karena fungsi organ-organ tubuhnya mulai tidak optimal dan ini “mengundang” datangnya penyakit tertentu; “celakanya” bagi manula, pengobatan terhadap penyakit itu dapat secara mudah “mengundang” penyakit lainnya, akibatnya terjadi komplikasi. Secara fisiologis tampaknya jelas bahwa manusia “dirancang” untuk, pada akhirnya, mati.

Walaupun secara fisik semakin lemah, berkat pengalaman hidup yang panjang, mereka diharapkan lebih bijak: lebih cermat dan matang dalam membuat pertimbangan dan keputusan; lebih terang mata-hatinya dalam melihat kebenaran; dan lebih peka telinga-hatinya dalam mendengar suara batin, telinga yang menurut istilah teks suci “telinga yang mampu menyimak”, udzun al-wa’iyah (al-Haqqah:16). Itulah harapannya. Hati mereka juga diharapkan, berkat pengalaman hidup yang panjang, lebih terarah pada urusan hatinya ketimbang pada hiruk-pikuk dunia-luar sebagaimana yang dilakukan Rumi:

Yesterday I was clever, So I wanted to change the world.

Today I am wise. So I am changing myself

(Dulu saya pintar sehinga ingin mengubah dunia;

sekarang saya bijaksana sehingga saya sedang mengubah diri saya).

Dengan pikiran yang matang, mata-hati yang terang dan telinga-hati yang mampu menyimak suara hati, manula diharapkan semakin menyadari “keter-perangkap-an” jiwa dalam dunia fisik. Mengenai hal ini layak disimak ungkapan Philo dari Alexander (20SM-50M) seorang filsuf Yahudi yang berupaya ajaran kiab-kitab Yahudi (khususnya Taurat) dengan filsafat Yunani[3]. Filsuf ini memandang jiwa seperti dalam pengasingan, terperangkap dalam dunia materi yang bersifat fisik; baginya jiwa, sebagaimana dinarasikan oleh Amstrong (2001:109)[4].

Ia harus kembali kepada Tuhan, rumahnya yang sejati, meninggalkan kesenangan, dunia indrawi, dan bahkan bahasa, karena semua itu mengikat kita dengan dunia yang tidak sempurna. Akhirnya jiwa akan mencapai kebahagiaan yang membawanya mengatasi kesuraman keterbatasan ego menuju realitas yang lebih luas dan utuh.

“Jiwa yang akan mencapai kebahagiaan” dalam kutipan di atas agaknya yang dimaksud dengan istilah qurani “jiwa yang tenang”, nafsu al-muthma’innah, jiwa yang layak memenuhi undangan untuk memasuki golongan hamba-Nya dan surga-Nya (al-Fajr:27-30). Tentu tidak realistis menguntuk berharap memiliki jiwa tenang jika jiwa masih berlumur dosa yang justru manula, karena umur panjangnya, memiliki risiko besar untuk terpapar: “Bahkan apa yang mereka kerjkan itu (pekerjaan buruk) telah menutupi hati mereka” (al-Muthaffifin:14).

Mengingat hal ini semua, dalam perspektif Islami, maka “proyek” yang cocok bagi manula adalah upaya pembersihkan jiwa (tazkyatu al-nafs) dalam sisa-waktu yang tersedia. Proyek ini tentu perlu dilengkapi dengan memerbanyak istigfar (minta ampunan) serta rajin bermohon memperoleh karunia rahmat-Nya yang tak-tebatas. Bukankah Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang seperti yang ditegaskan dalam al_Zumar (53):

Wahai hamba-hamba-Ku yang melampui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh Dialah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang

Ringkasan

Apa arti manula bagiku? Bagiku manula berarti menjelang “waktu magrib” yang siap menghadapi fakta bahwa fisiknya semakin melemah, diharapkan memiliki mata- dan telinga-hati yang semakin tajam dan peka dalam melihat kebenaran dan mendengar suaru batin, dan dituntut mampu memanfaatankan waktu-mepet untuk membersihkan jiwa agar menjadi bening dan tenang sehingga layak memenuhi undangan untuk memasuki surga-Nya….. @

[1] Mengenai reuni itu lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/07/10/catatan-reuni/

[2] Semua angka-angka ini bukan angka resmi dalam arti dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tetapi berasal dari tulisan yang tidak dipublikasikan (unpublished), tepatnya laporan penulis untuk BPS-UNFPA yang berjudul “Konstruksi Life Table Indonesia Berdasarkan Data Sensus Penduduk”. Penulis berterima kasih kepada Pak Richard Makelew (UNFPA) atas izinnnya mengutip angka dalam laporan.

[3] Lihat https://en.wikipedia.org/wiki/Philo

[4] Karen Amstrong, Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang Dilakukan oleh Orang-orang Yahudi, Kristen dan Islam, Penerbit Mizan (Cetakan ke-3).

 

Standard
Refleksi

Setelah Lebaran Apa?

Umat Islam sejagat yang berjumlah sekitar 2.4 milyar iiwa[1] baru saja usai merayakan lebaran atau iedul fitri untuk menandai berakhirnya puasa wajib selama bulan Ramadhan tahun ini. Hari raya itu tepat hari ke-1 bulan Syawal. Pertanyaannya, apa yang sebaiknya dilakukan segera setelah perayaan itu? Tulisan ini mencoba menyajikan beberapa catatan kecil dalam rangka menjawab pertayaan itu dengan harapan ada dari pembaca budiman yang dapat mengambil manfaat darinya.

Yang wajib dulu

Dengan alasan tepat, puasa bulan Ramadhan dapat di-qadha pada bulan-bulan sesudahnya sebelum masuk bulan Ramadhan tahun berikutnya. Artinya, jika ada sejumlah hari pada bulan itu tidak dapat atau dibolehkan tidak berpuasa[2] maka kewajiban berpuasa itu dapat diganti dengan jumlah yang sama pada hari-hari di luar Ramadhan sebelum masuk bulan Ramadhan tahun depan. Ketetapan ini sesuai Q.S al-Baqarah:184.

Waktu yang sah untuk melakukan puasa qadha lumayan panjang, 11 bulan. Walaupun demikian, karena puasa ini hukumnya wajib maka jumhur (mayoritas) ulama menganjurkan untuk men-segerakan-nya dan ini berarti melakukannya pada bulan Syawal. Implikasinya, jika ada niat melakukan Puasa Sunat pada bulan itu maka sebaiknya dilakukan setelah puasa qadha. Mengenai hal ini layak disimak kutipan berikut:

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Siapa yang mempunyai kewajiban qodho’ puasa Ramadhan, hendaklah ia memulai puasa qodho’nya di bulan Syawal. Hal itu lebih akan membuat kewajiban seorang muslim menjadi gugur. Bahkan puasa qodho’ itu lebih utama dari puasa enam hari Syawal.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 391).

Begitu pula beliau mengatakan, “Siapa yang memulai qodho’ puasa Ramadhan terlebih dahulu dari puasa Syawal, lalu ia menginginkan puasa enam hari di bulan Syawal setelah qodho’nya sempurna, maka itu lebih baik. Inilah yang dimaksud dalam hadits yaitu bagi yang menjalani ibadah puasa Ramadhan lalu mengikuti puasa enam hari di bulan Syawal. Namun pahala puasa Syawal itu tidak bisa digapai jika menunaikan qodho’ puasanya di bulan Syawal. Karena puasa enam hari di bulan Syawal tetap harus dilakukan setelah qodho’ itu dilakukan.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 392)[3].

Puasa Syawal

Puasa sunat pada Bulan Syawal bagi umat Islam di Indonesia, mungkin juga bagi umat di nega lain, lumayan populer. Ini dapat dipahami mengingat ada hadist mengenai hal itu dengan janji pahala yang “menggiurkan”. Berdasarkan hadits itu para ulama umumya sepakat mengenai sunatnya puasa syawal.

Mayoritas umat (termasuk penulis) tampaknya merasa puasa sunat ini “berat” karena selain tidak wajib, juga lumayan banyak godaan: sisa opor ayam, kue nastar, halal-bihalal, kacang, biskuit, dsb. Tetapi Rasul saw lebih mengetahui apa yang terbaik bagi umat sehingga menganjurkan puasa ini. Hikmah di balik ini mungkin antara lain umat memerlukan latihan ekstra untuk meng-costomize perilaku baik. Costomize seperti ini yang dicontohkan oleh Beckam: ia konon melakukan latihan menendang bola jarak jauh secara terarah selama 2-3 jam (baginya “sunah”) per sesi latihan setelah usai menjalani latihan resmi yang dipimpin oleh coach (baginya “wajib”).

Kembali ke puasa sunat Syawal. Hadits yang tampaknya dijadikan dasar bagi ulama untuk mensunatkannya diriwayatkna oleh Muslim: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164).[4]

syawal1

Sumber: Youtube

Mengenai penjelasan hadits ini dapat disimak kutipan berikut:

Itulah dalil dari jumhur atau mayoritas ulama yag menunjukkan sunnahnya puasa Syawal. Yang berpendapat puasa tersebut sunnah adalah madzhab Abu Hanifah, Syafi’i dan Imam Ahmad. Adapun Imam Malik memakruhkannya. Namun sebagaimana kata Imam Nawawi rahimahullah, “Pendapat dalam madzhab Syafi’i yang menyunnahkan puasa Syawal didukung dengan dalil tegas ini. Jika telah terbukti adanya dukungan dalil dari hadits, maka pendapat tersebut tidaklah ditinggalkan hanya karena perkataan sebagian orang. Bahkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah ditinggalkan walau mayoritas atau seluruh manusia menyelisihinya. Sedangkan ulama yang khawatir jika puasa Syawal sampai disangka wajib, maka itu sangkaan yang sama saja bisa membatalkan anjuran puasa ‘Arafah, puasa ‘Asyura’ dan puasa sunnah lainnya.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 51)

Singkatnya, karena ada haditsnya, sikap terbaik dan teraman bagi umat tentu melaksanakannya, bila kaifa, tanpa banyak tanya. Tetapi sayangnya sebagian umat (termasuk penulis) kerapkali tidak tahan untuk tidak ber-kaifa: kok bisa setahun penuh, bagaimana hitungan-hitungannya? Untuk memenuhi selera yang mungkin “keterlaluan ini”, hitungan-hitungan berikut mungkin membantu.

Mengenai “pahala” puasa syawal ini ada dua dasar perhitungan yang semuanya berdasarkan dalil naqli-nash atau argumen berbasis al-Qur’an:

  1. Jumlah bulan dalam setahun berdasarkan sistem kalender Masehi atau Hijriyah adalah 12 (dua belas) bulan. Ketetapan ini sesuai Q.S. At-Taubah:36.
  2. Ganjaran amal baik minimal 10 (sepuluh) kali lipat. Angka ini sesuai dengan Q.S. al-An’am:160.

Berdasarkan dalil ke-2 di atas maka:

  1. Pahala Puasa Ramadhan satu bulan (penuh) setara dengan 10 bulan-pahala; dan
  2. Puasa Sunat Syawal 6 (enam) hari setra dengan 6×10 hari pahala, atau 2 ulan-pahala;
  3. Jika (1) dan (2) dijumlahkan maka ketemu angka 12 bulan-pahala atau, sesuai dengan dalil ke-1, sama dengan setahun.

Perjumlahan itu mengasumsikan Puasa Ramadhan dilakukan secara penuh, tidak ada hari yang “bolong” selama bulan itu. Men-segarakan Puasa Qadha yang hukumnya wajib sebelum Puasa Syawal yang hukumnya sunah tentunya sejalan dengan prinsip “mendahulukan yang wajib”. Sikap itu juga mempermudah “perhitungan pahala” bagi yang minat tentunya….. . @

[1] Mengenai angka ini lihat: https://uzairsuhaimi.blog/2017/06/27/muslim_popn/

[2] Alasan tepat yang dimaksud mencakup menstruasi bagi wanita, sakit, dalam perjalanan, dan sebagainya, sesuai hukum syar’i.

[3] https://muslim.or.id/17782-tata-cara-puasa-syawal.html

[4] https://muslim.or.id/17782-tata-cara-puasa-syawal.html

 

Standard
Refleksi, Spiritual

Ayat Korupsi

Ayat Korupsi[1]

Syahwat Harta

Tidak ada negara yang tidak berupaya mencegah praktik korupsi. Tidak ada agama yang tidak mengutuk perilaku korupsi. Agama mungkin berbeda dalam hal perumusan ajaran teologis tetapi sama dalam hal semangat memerangi korupsi karena sifatnya yang sangat merusak tatanan masyarakat dan diakui luas sebagai “ibu” dari berbagai macam penyakit sosial (social evil), khususnya ketimpangan ekonomi. Lalu kenapa korupsi tetap merajalela? Jawaban singkatnya adalah karena kebanyakan kita tidak mampu mengendlikan syahwat harta yang melekat dalam sisi gelap kita, nafsu untuk memperoleh kekayaan material sebanyak-banyaknya dan berbangga dengan itu. Dalam frase qur’ani (102:1-2), syhawat itu, tidak akan berakhir “sampai kamu masuk dalam kubur”.

Penulis yakin banyak teks suci agama atau tradisi besar di luar Islam yang berbicara serius mengenai penyakit sosial yang satu ini. Dalam konteks Islam, teks suci itu mengenai korupsi dalam arti luas, dapat ditemukan antara lain dalam Surat al-Baqarah Ayat 188. Ayat ini yang dicoba dibahas secara singkat dalam tulisan ini.

Posisi Ayat.

Menarik utuk dicatat, posisi ayat ini terletak setelah ayat mengenai puasa (ayat 183-187), bentuk ibadah yang mendidik umat untuk dapat mengendalikan syhawat makanan, sebagai upaya mencapai derajat taqwa. Posisi ayat ini bagi penulis mengesankan ajaran bahwa untuk mencapai derajat ideal (taqwa) seseorang tidak cukup hanya dengan mengendalikan syahwat makanan tetapi harus diikuti oleh mengendalian syahwat harta, syahwat yang men-trigger praktek korupsi.

Menarik juga untuk dicatat, posisi ayat ini terletak sebelum ayat hajji (ayat 189-203), ibadah puncak dalam rukun Islam. Posisi ini bagi penulis mengisyaratkan bahwa ibadah haji tidak boleh menggunakan harta hasil korusi tetapi juga mengajarkan bahwa kita tidak layak bertemu dengan-Nya di padang mahsyar (yang diiulstrasikan oleh ritual berkumpul di padang Arafah) apalagi berada di sekitarat-Nya (diilustrasikan oleh ritual tawaf ifadah). Wallahu’alam.

Fungsi Sosial Harta

Ayat korupsi itu dimulai dengan larangan memakan harta: “Dan janganlah kamu makan hartamu di antaramu secara batil” (“Walaa ta’kuluu amwaalakum bil baathil…”). Ada tiga catatan penting mengenai potongan ayat ini:

  1. Istilah makan di sini tentu tidak hanya bermakna harfiah, “makan”, tetapi juga “memperoleh” dan “menggunakan”, atau menggunakan istilah teknis ekonomi, “mengkonsumsi” (makanan atau non-makanan);
  2. Istilah batil, menurut frase Qur’ani, mengandung dua makna: salah (sebagai lawan kata haqq[2] dan tanpa tujuan[3] (tanpa makna, berlebihan, iseng); dan
  3. Redaksi “di anatara kamu” (“bainakum”) mengisyaratkan fungsi sosial harta.

Mengenai yang terakhir ini Syihab memberikan ilustrasi[4]:

Harta yang dimilki oleh si A hari ini, dapat menjadi milik B esok. Harta seharusnya memiliki fungsi sosial, sehingga sebagian di antara apa yang dimiliki si A seharusnya dimiliki pula oleh B, melalui zakat maupun sedekah.

Singkatnya, Islam tidak mengizinkan harta pribadi secara eksklusif. Dalam konteks ini peran “hakim” (pemerintah) sangat penting dalam hal pengelolaan hak “pribadi” untuk menghindari gesekan sosial yang sangat mudah dipicu karena perbedaan kekayaan antar masyarakat.

Perilaku Korupsi

Potongan berikutnya dari ayat korupsi ini, hemat penulis, terkait dengan kekayaan negara, “harta manusia” dalam istilah Quani[5]:

… dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa padahal kamu mengetahui.

wa tudluu bihaa ilal hukkaami lita’kuluu fariqan min anwaalin annaas wa awantum ta’lamuun.

Terjamahan the Wisdom[6] terhadap frase “tudluu bihaa ilal hukkaami“ tampaknya lebih sesuai dengan situasi kontemporer paling tidak di Indonesia: “menyuap para hakim”. Ayat Korupsi sebagaimana tercantum dalam al-Baqarah 188 adalah sebagai berikut:

korupsi102

Makna lain potongan terakhir ayat ini menurut Syihab adalah sebagai berikut:

… dan janganlah menyerahkan harta kepada hakim yang berwenang memutuskan perkara bukan untuk tujuan memperoleh hak kalian, tetapi untuk mengambil hak orang lain dengan melakukan dosa, dan dalam keadaan mengetahui bahwa kalian sebenarnya tidak berhak”

Bagi penulis, dalam konteks ke-Indonesiaan kontemporer, kata hakim dalam ayat di atas dapat merujuk kepada yang menyandang profesi sebagai hakim, anggota dewan (semoga tidak termasuk anggota DKM), atau mungkin lebih jelas, Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Yang terakhir ini dalam lembaga pemerintahan biasanya berkedudukan sebagai kepala lembaga atau pembantunya.  “Menyerahkan urusan” mungkin dapat diterjemahkan sebagai upaya “memanipulasi data atau keadaan” sedemikian rupa agar KPA memberikan izin untuk menggunakan “kekayaan negara” untuk kepentingan pribadi atau kelompok (korupsi berjamaah).

Naudzubillah min dzalik.…@

korupsi1

Sumber gambar: Google

[1] Tulisan ini diilhami oleh Khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ali Khan yang bertajuk A Quranic Lesson in Religious Psychology: https://www.youtube.com/watch?v=S_spaSigisY

[2] Waqul jaaal haqqa wazahaqal baathila (Al-Isra:81).

[3] “Wama khalaqna assamaawaati wal ardha wamaa bainahuma baathila.. (ayat).

[4] M. Quraisy Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jilid 1: 413

[5] Shihab, ibid

[6] The Wisdom, Al-Mizan (2014: 58).

Standard