Agus Sang PNS

jibril1

Agus menatapi paras Si-kecil (6 bulan) yang tengah tidur lelap di samping putri sulungnya (3  tahun) yang juga lelap. Sore tadi Si-kecil terpapar demam yang mencemaskan. Ibunya dengan sigap membawanya ke dokter spesialis swasta yang bagi Agus bertarif terlalu mahal. Buktinya semalam ia mengeluarkan sepertiga honor bulanannya untuk sang dokter. Tetapi dalam hal dokter ini istrinya fanatik sehingga Agus hanya bisa mengurut dada. “Urusan kesehatan anak kok coba-coba”, argumen istrinya ketika Agus menyarankan untuk mencoba dokter umum atau Puskesmas. Di dua jenis pelayanan ini Agus dapat memanfaatkan BJPS Kesehatan sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya berarti.

“Sudah turun panasnya”.

Agus kaget mendengar suara istrinya yang dikira masih di belakang. Tetapi dia lega melihat istri terkesan lega.

“Jam tiga tadi dia baru tidur”, lanjut istrinya.

Agus membayangkan istrinya bergadang dan mungkin juga menggendong si kecil sesekali. Ia tidak tahu persis karena lagi “pisah ranjang”. Maksudnya, akhir-akhir ini dia biasa tidur di ranjang terpisah, bahkan di kamar berbeda.

Paling tidak ada empat alasan kenapa dia pisah ranjang. Pertama, Agus sering menerima telepon malam hari soal pekerjaan kantor dari atasan langsungnya, seorang ibu separuh baya yang terkenal taft. Agus tidak keberatan karena menganggapnya sebagai risiko kerja. Kedua, dia terkadang bangun malam untuk salat sunat yang dikhawatirkan mengganggu tidur istri dan anak-anaknya. Ketiga, ranjang di kamar tidur utama terlalu sempit untuk empat kepala. Keempat, istrinya tidak keberatan.

Setelah pamit kepada istri Agus dengan tenang mengendarai motor menuju stasiun KA terdekat. “Paling menelepon ibunya”, pikir Agus ketika mengantisipasi istrinya repot karena sakitnya di-kecil. Dia merasa beruntung punya mertua yang masih cekatan, memiliki waktu bebas setelah suaminya (mantan pejabat satu BUMN) meninggal, tinggal tidak jauh dari rumahnya, dan sayang cucu. “Sayang berlebihan”, pikir Agus.

Menekan Pengeluaran

“Masih pagi”, pikir Agus ketika melihat jam dinding stasiun KA masih merujuk pada angka 5.30. Dia terbiasa memanfaatkan Commuter Line pada jam ini menuju kantornya di kawasan Jakarta Pusat. Pagi ini ia beruntung berkesempatan duduk.

Sambil menikmati duduk dengan mata terpejam-agak-kantuk ia membayangkan paras si-kecil yang tadi sempat ditatapnya. Diam-diam dia berdoa agar si-kecil dikaruniai nikmat kesehatan. Harapannya, anak-anaknya tidak perlu terlalu sering ke dokter spesialis swasta yang mahal. “Naluri protektif keibuan yang berlebihan”, bisiknya dalam hati menilai istrinya.

Bagi Agus yang bergelar S2 dan sudah berkarier sebagai PNS hampir 10 tahun membayar dokter spesialis anak identik dengan pengurangan signifikan tabungannya yang tipis. Tahun ini, tabungannya menipis drastis karena dua macam pengeluaran: (1) biaya kelahiran si-kecil, dan (2) donasi sukarela biaya kuliah keponakan yang sudah yatim sejak usia SD. Yang terakhir ini jumlahnya lumayan besar tetapi dilakukan antara lain karena dorongan istri. Dalam hal kepekaan sosial istrinya layak diacungi jempol.

Walaupun tabungannya tipis Agus masih berharap tahun depan mampu menunaikan zakat. Tahun ini, untuk pertama kali dalam 5 tahun terakhir, ia tidak berzakat karena tabungannya di akhir waktu penghitungan tidak memenuhi nisab atau batas minimal untuk berkewajiban zakat.

Jam masih menunjukkan pukul 6.35 ketika Agus turun dari kereta di stasiun terakhir dan segera menyusuri trotoar jalan kaki ke kantor yang masih dalam rentang walking distance.

Kebiasaan jalan kaki dari stasiun terakhir ke kantor sudah dimulai setahun lalu. (Kebiasaan sebelumnya ngojeg.) Bagi Agus ini bagian upayanya untuk menekan pengeluaran. Upaya lainnya termasuk beberapa jenis pengurangan frekuensi: (1) frekuensi minum jus sirsak yang merupakan hobi beratnya, (2) frekuensi mentraktir istri makan bakso, dan (3) frekuensi menikmati double espresso di Starbucks Coffee yang juga merupakan hobi beratnya.

Menyempurnakan Tugas

Ketika memasuki ruang kerjanya dan baru menyalakan komputer Agus dipanggil menghadap Bos (besar). Ia segera melapor singkat ke atasan langsungnya. Kebetulan ia berada di kantor padahal pada jam itu bisanya belum hadir karena kesibukan luar. Agus melapor ke Ibu karena tahu itulah etika dan prosedur standar kantor.

Ketika menghadap Bos dia memperoleh  perintah singkat: “Ihsan, Bapak lusa akan menghadiri rapat antar-kementerian bertemakan B di Kementerian A. Kamu siapkan bahannya. Besok jam 8 sudah siap ya”. Agus merespons, “Siap Pak”. “Mohon izin bertanya Pak. Nama saya Agus, bukan Ihsan. Apa Bapak tidak salah panggil”.  Bos menjawab: “Oh tidak, tidak. Yang Bapak maksud memang kamu, tadi hanya salah sebut nama. Tadi pagi Bapak baru baca artikel bagus mengenai Ihsan, jadi keceplosan memanggilmu Ihsan”.

Agus lega mendengar penjelasan Bos. Sambil menuju ruang kerjanya ia mulai membayangkan rencana kerja untuk menyelesaikan tugas barunya ini. Sebelum mulai mengerjakannya ia melapor ke Ibu yang kali ini berbaik hati memberikan arahan singkat: “Untuk keperluan Bos kamu cukup menyiapkan pointers dan catatan ringkas, jangan bertele-tele”. “Siap Bu”, respons Ahmad.

Setelah melapor Agus langsung googling mencari informasi yang relevan mengenai Kementerian A dan Tema B. Maklum dia merasa awam soal keduanya. Ia menghabiskan sekitar satu jam untuk kegiatan ini sebelum akhirnya merasa memiliki bahan cukup.

Selesai googling dia mulai menyusun pointers sesuai arahan Ibu dan menggunakan waktu 90 menit untuk menyelesaikannya. Ia segera melapor ke Ibu yang menerimanya datar-datar saja. Ibu sempat memberikan sedikit koreksi walaupun kebanyakan (seperti biasanya) trivial, tidak substantif. Ia kembali ke komputernya untuk mengakomodasikan arahan Ibu walaupun menyadari sudah kehilangan sepertiga waktu istirahatnya.

Ketika menuntaskan pointers (dalam Words) sebenarnya ia telah menyelesaikan tugasnya menurut ukuran normal kantornya. Walaupun demikian ia merasa yang dilakukannya belum sempurna dan berniat untuk menyiapkan versi Power Point setelah makan siang. Dia bermaksud mengonsultasikan dengan Ibu mengenai idenya ini tetapi yang bersangkutan sudah keluar. “Tidak akan kembali sampai besok pagi”, kata sekretarisnya.

Ia melanjutnya niatnya menyiapkan Power Point yang dilengkapi logo kantor dan aksesori sederhana tetapi apik: “Biar besok pagi dikonsultasikan dengan Ibu”, pikirnya.

Usai menyelesaikan Power Point Agus masih belum puas. (Ia terkenal kreatif dan sedikit perfectionist.) Ia dapat membayangkan dalam rapat nanti Bos memiliki peluang memberikan sumbangan pikiran substantif. Agus meyakini kantornya memiliki ladang subur untuk menanam kebaikan bagi kepentingan masyarakat luas. Keyakinan ini yang selalu menyalakan semangatnya mengabdi sepenuh hati.

Didorong oleh pikiran ini ia berpikir untuk menyiapkan artikel singkat sebagai pelengkap Power Point: “Biar besok pagi hasilnya dikonsultasikan dengan Ibu”, pikirnya. Ia mulai menggarap artikel itu walaupun tidak selancar dugaannya. Penulisan artikel ternyata perlu diselingi googling untuk memperoleh evidence-based yang kuat dan argumen yang meyakinkan untuk menghasilkan artikel kredibel. Ia menyadari Bos-nya yang menyandang gelar PhD itu akrab dengan model artikel ilmiah.

Agus menyelesaikan artikelnya satu jam setelah jam-pulang-kantor sehingga harus berdesak-ria dalam kereta. ia tidak keberatan dengan situasi tidak nyaman itu karena menyadari sudah menjadi risiko kerja. Sebelum pulang ia sempat mem-print artikelnya. Niatnya, malam nanti kan memeriksa artikel agar lebih sempurna.

Paginya dia bersyukur memeriksa artikel karena ternyata masih mengandung beberapa kekurangan. Dia berangkat kerja lebih pagi untuk menyelesaikan penyempurnaan yang ternyata hanya butuh waktu 15 menit. Setelah menyelesaikan pekerjaan ini waktu menunjukkan pukul 7.30. “Masih ada waktu mengonsultasikan dengan Ibu”, pikirnya. Sayangnya yang bersangkutan belum ada di kantor. Ia menunggu sampai sekretaris menginformasikan Ibu baru siang nanti di kantor. Karena informasi ini ia menyerahkan seluruh hasil kerjanya langsung ke Bos karena sudah mendekati tenggang waktu yang diberikan.

Sabar, sabar

Setelah menyerahkan tugas ia merasa lega dan berniat untuk santai sejenak. Niatnya urung: ia dipanggil Ibu yang baru tiba dan di luar dugaan marah berat karena merasa dilangkahi: “Kenapa kamu menyerahkan hasil kerja ke Bos sebelum Aku periksa?, dst., dst., ..,,” Agus sempat terenyak dan hampir marah. Tetapi segera menyadari ia tengah berhadap dengan atasan. Amarahnya pun segera mereda: “Ya Bu”, responsnya pendek. Dengan lunglai ia kembali ke ruang kerjanya.

Di ruang kerjanya sempat terpikir oleh Agus bagaimana dirinya sering diperlakukan tidak adil oleh Ibu. Dua teman seangkatannya yang juga anak buah Ibu memperoleh promosi jabatan dua tahun lalu padahal “kinerjanya biasa-biasa saja” menurut teman sejawat. Tetapi Agus segera menyadari pikirannya itu berasal dari Setan sehingga ia segera bersistigfar. Ia merasa hampir menghujat kebijaksanaan Tuhan sehingga segera menangkan diri: “Sabar, sabar. Apa yang menjadi nasibmu adalah izin Tuhan dan ini berati yang terbaik bagimu”, bisiknya dalam hati.

Agus populer di kalangan teman-teman antara lain karena dinilai terlalu lama di posisinya sekarang. Normalnya, tiga tahun lalu ia sudah memperoleh promosi jabatan. Agus mengetahui penilaian koleganya tetapi sama-sekali tidak merasa terganggu. Ia tetap bermuka jernih ketika bekerja dan bergaul di lingkungan kantor.

Di lingkungan kantor Agus juga populer sebagai PNS yang baik: hampir tidak pernah terlambat tiba di kantor, rajin bekerja dan produktif-kreatif, selalu bermuka jernih dan tidak pernah melawan atasan.

Agus-Ahmad-Ihsan

Sebenarnya label “PNS yang baik” untuk sosok Agus terlalu sederhana. Ia mewakili sosok “PNS yang terpuji”. Label terpuji sesuai bagi Agus yang bernama lengkap Ahmad Agus: Ahmad (Arab) artinya terpuji.

Selain berlabel Ahmad, sosok Agus sebenarnya juga layak dilabeli Ihsan. Alasannya, Agus terbisa menyelesaikan tugas lebih dari yang dituntut secara formal yang menurut para ustaz merupakan ciri Ihsan. Kata ustaz Ihsan adalah “puncak kebaikan”; Ihsan tidak hanya melakukan pekerjaan secara sempurna menurut aturan, tetapi melakukannya dengan mengerahkan inteligensi (Inggris: intelligence, lebih luas dari pada mind), dan jiwa (Inggris: soul). Juga menurut ustaz, Ihsan memiliki kemampuan untuk memberikan donasi sukarela dalam keadaan sulit dan untuk menahan amarah. Semua ciri-ciri ini ada pada Agus bahkan sudah merupakan akhlak atau kebiasaan spontannya.

Demikianlah Agus, sang PNS. Dalam populasi PNS banyak Agus-agus lain yang jumlahnya cenderung meningkat. Walaupun demikian, kelompok ini tetap minoritas dan umumnya tidak berbakat untuk menarik perhatian atasan. Bagi mereka, mengasah bakat ini identik dengan mengaburkan nilai profesionalisme sejati….@

Kesultanan Utsmaniyah: Sejarah Singkat dan Refleksi

utsmani1

Sumber Gambar: Google

Kalau kita diizinkan membuat penyederhanaan-berlebihan mengenai sejarah peradaban muslim sebagai suatu kesatuan Umat, agaknya tidak terlalu keliru jika kita membaginya ke dalam empat babakan sejarah berikut: (1) 1.5 milenium yang lalu: Lahir, (2) Satu milenium berikutnya: tumbuh, berkembang, dan mencapai titik puncak, (3) 0.6 milenium selanjutnya: melemah; dan (4) Satu abad terakhir: “mati”. Di sini istilah kestuan Umat dilihat pada level sosiologis-politis yang konkret; jelasnya, ketika Umat Islam (selanjutnya: Umat) secara keseluruhan memiliki faktor pemersatu berupa sistem pemerintahan tertentu, kekhalifahan atau kesultanan. Dalam konteks ini Kesultanan Utsmaniah (Inggris: Ottoman Empire) menarik untuk ditelisik karena periodenya mencakup era ketika peradaban Umat bergerak maju ke titik puncak, melemah dan “mati” [1].

Kesultanan Utsmaniah termasuk salah satu entitas politik negara adikuasa (superpower) termegah dan terlama dalam sejarah dunias selama lebih dari 600 tahun. Kekuasaannya mencakup wilayah yang sangat luas: Timur Tengah, Eropa Timur dan Afrika Utara. Puncak kekuasaan terletak pada Sultan yang memiliki otoritas keagamaan dan politik terhadap rakyat. Sementara Eropa menganggapn kekuasaan Kesultanan ini sebagai ancaman, banyak para ahli sejarah melihatnya sebagi sumber stabilitas regional yang juga memberikan sumbangan positif terhadap kemajuan bidang-bidang seni, sains, agama dan kebudayaan.

Kesultanan ini mulai dibangun oleh pimpinan suku Turki di Anatolia sekitar tahun 1299. Perluasan pemerintahan formal Kesultanan ini dibangun di bawah sultan-sultan berikutnya khususnya Osman I, Orhan, Murad I dan Beyazid I. Era Sultan Mehmed II, Kesultanan ini merebut kota kuno Konstantinopel, Ibu Kota Imperium Bizantium, pada tahun 1517. Sultan mengganti namanya menjadi Istambul yang berarti ‘Kota Islam”. Penaklukkan ini mengakhiri kekuasaan 1000-tahun Imperium Bizantium. Pada awal abad ke-17, kesultanan ini terdiri dari 32 provinsi dan sejumlah negara vasal, sisanya diberikan otonomi dalam berbagai tigkat[2].

Puncak kejayaan Kesultanan ini –dilihat dari luasnya wilayah kekuasaan, stabilitas sosial-politik, dan kemakmuran rakyat–  dicapai dalam Era Sultan Sulaiman Agung (1520-1566). Di bawah kepemimpinannya, kekuasaan Kesultanan mencakup wilayah-wilayah Turki, Yunani, Bulgaria, Mesir, Hongaria, Mecedonia, Romania, Yordania, Palestina, Lebanon, Syiria, beberapa wilayah Arab, dan sejumlah wilayah garis pantai Afrika Utara.

Sesuai “hukum sejarah”, gerak maju dan mencapai titik puncak pasti dikuti oleh gerak mundur. Bagi Kesultanan Utsmaniah, gerak mundur ini dimulai sekitar tahun 1600 karena dominasi ekonomi dan militer Eropa. Sekitar tahun ini Eropa mengalami kemajuan cepat karena menguatnya semangat zaman Renaisans (Renaissance)[3] dan fajar revolusi industri.

Terkait dengan istilah Renaisans kita dapat menyisipkan catatan singkat berikut. Istilah ini merujuk pada suatu gerakan budaya di benua Eropa pada abad 14-17. Sebagai gerakan budaya, Renaisans tidak bergerak serempak di seluruh Eropa tetapi semangatnya satu: pencarian alternatif budaya dari yang sepenuhnya diwarnai ajaran Kristen dan beralih ke kebudayaan-Yunani-Romawi sebagai model. Zaman Renaisans diikuti oleh Zaman Pencerahan sekitar abad ke-18 ketika masyarakat mulai menyadari pentingnya diskusi-diskusi ilmiah. Zaman ini—dengan tonggak Sekularisme—merupakan masa produktif bagi Eropa dan pada masa ini ditemukan bubuk mesiu, mesin cetak, dan kompas yang sangat bepegaruh terhadap peradaban manusia[4].

Kembali kepada Kesltanan Utsmaniah. Pelemahan Kesultanan ini juga terjadi karena buruknya kepemimpinan dan kekalahan dagang dalam berkompetisi dengan pihak-pihak Amerika dan India. Kemunduran kekuasaan Kesultanan ini ditandai oleh lima peristiwa menentukan berikut:

  • 1683: Kekalahan dalam Pertempuran Viena (the Battle of Vienna);
  • 1830: Kemenangan Yunani dalam melepaskan diri dari kekuasaan Kesultanan;
  • 1878: Kemerdekaan Romania, Serbia dan Bulgaria yang dideklarasikan dalam Kongres Berlin;
  • 1912-1913: Kesultanan kehilangan kekuasaan hampir di seluruh daratan Er opa;
  • 1918: Kekalahan dalam Perang Dunia ke-I. Kesultanan, bersama Jerman dan Austria-Hongaria, berada di pihak Kekuatan Terpusat (the Central Power). Sesuai kesepakatan, hampir semua wilayah kekuasaan Kesultanan dibagi-bagi antara Inggris, Prancis, Yunani dan Rusia.

Kesultanan secara resmi berakhir tahun 1922 ketika istilah Kesultanan Utsmaniah dihapuskan dan Turki mendeklarasikan sebagai Negara Republik pada tahun 1923. Dalam perjalanan sejarahnya dalam periode 1299-1922, Kesultanan dipimpin oleh 36 Sultan.

Sebagai penutup agaknya layak direnungkan teks suci berikut yang diturunkan terkait dengan kekalahan bala tentara Rasul SAW dalam perang Uhud.

Dan mengapa kamu (heran) ketika ditimpa musibah (kekalahan pada Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan musibah dua kali lipat (kepada musuhmu pada peperangan Badar) kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu (QS 3:165).

Wallahualam….@

[1] Rujukan utama tulisan ini diperoleh dari https://www.history.com/topics/ottoman-empire

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Utsmaniyah

[3] https://id.wikipedia.org/wiki/Abad_Renaisans

[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Abad_Pencerahan

Gong: Makna Simbolisnya Bagi Masyarakat Tradisional Jawa

Sumber Gambar: Wikipedia

Bukan khas Indonesia

Kita mengenal gong sebagai salah satu alat musik gamelan, musik tradisional masyarakat Jawa dan Bali. Gong sesungguhnya bukan khas Indonesia; ia dikenal juga di berbagai negara di Asia termasuk China, Jepang, Vietnam, Myanmar dan Filipina. Pemukulan gong dimaksudkan tidak hanya untuk keperluan musik tetapi juga untuk keperluan lain termasuk menandai pembukaan upacara “kantor” (Indonesia) atau olahraga Sumo (Jepang).

Di China gong –dengan berbagai jenis dan ukuran—konon sudah dikenal selama ribuan tahun dan difungsikan sebagai alat panggil bagi petani untuk mulai bekerja; maklum, suara dari sebagian gong dapat didengar dalam diameter 8 kilometer[1]. Tetapi tulisan ini bukan mengenai gong semata, melainkan mengenai makna simbolismenya dalam budaya Jawa.

Bukan Sekadar Alat Musik

Dalam perspektif budaya tradisional Jawa, gong memiliki makna yang jauh lebih luas dan mendalam dari sekadar alat musik. Dalam budaya ini, bentuk dan materi gong, peran yang dimainkan dalam musik gamelan, serta energi yang diciptakan ketika dipukul, masing-masing melambangkan filsafat mengenai waktu dan masyarakat Jawa yang unik.

Seperti yang dikatakan Miatke (2009)[2], bentuk bundar gong melambangkan keabadian dan keseimbangan; pukulan gong merefleksikan koinsidensi antara permulaan dan akhir, antara kelahiran dan kematian, atau antara lahir dan batin. Agar memperoleh gambaran agak lengkap, berikut ini dikutip sebagian apa yang dikatakan Miatke[3]:

The gong as an expression of a Unified Being or “Divine Oneness,” expresses Java’s unique organisation of time and society. It represents harmony in a number of ways. Firstly, in form: the circle shape symbolises eternity and balance, and its single-material body bears the quality of uniformity. Secondly, in the role that it plays within the music of the gamelan, which symbolises both time and timelessness. The gong’s strike indicates the coincidence of start and end, birth and death, or, as the Indonesians say, lahir batin, that is, body and soul. Thirdly, in the actual energy that it creates: a self-perpetuating vibration which produces an undifferentiated and complex dissonance.

Ungkapan bahwa “gong sebagai ekspresi dari Kesatuan Wujud (Unified Being) atau Keesaan yang Ilahi (Divine Oneness)” menarik untuk dicermati lebih lanjut. Jika ungkapan ini menggambarkan keadaan yang sebenarnya maka kita memperoleh kesan kuat bahwa konsep tauhid (Keesaan Tuhan) sebenarnya tidak asing bagi masyarakat Jawa tradisional, sekalipun mereka menggunakan istilah Tuhan yang bagi Muslim-literalis mungkin kurang nyaman yaitu Sang Hiyang Widi.

Lingkaran: Metafora Filosofis

Bentuk lingkaran Gong adalah lingkaran yang secara universal diakui mengandung metafora filosofis. Suatu lingkaran memiliki titik pusat yang menggambarkan titik-awal dan prinsip, menyimbolkan realitas non-spasial dan Keabadian. Ia juga menggambarkan partisipasi waktu-mengalir dan Keabadian dalam alam. Suatu lingkaran juga memiliki dimensi garis lingkaran yang terdiri dari titik-titik yang jumlahnya tak-terhingga dan berjarak sama terhadap titik pusat sehingga terharmonisasi dengan merujuk pada titik itu.

Bagi masyarakat tradisional Jawa, sebagaimana diungkapkan Miatke[4], citra spasial lingkaran secara memadai melambangkan gagasan waktu siklik yang mendukung cara-cara masyarakat tradisional Jawa untuk memahami alam semesta. Dalam konteks ini, konsep harmoni melekat di dalamnya karena adanya persatuan atau keseimbangan antara awal dan akhir: ia memulai dari mana ia berakhir, mewujudkan kedua ekstrem itu, mengandung kedua ekstrem itu dan menyeimbangkan keduanya.

Bentuk lingkaran juga menunjukkan roda, Cakra Manggilingan dalam istilah Jawa, yang mengekspresikan filsafat Jawa tentang putaran konstan dari proses kehidupan. Dalam proses perputaran kehidupan ini konsep harmoni bagi masyarakat tradisional Jawa sangat penting sebagaimana diungkapkan oleh Miatke[5]:

For the Javanese, it is the obligation of man to maintain the harmony of reality. This is expressed in the ancient high Javanese language as the virtue of mamayu hayuning bawono or “preserving the beauty of the world.” Harmony is the primary pillar of Kejawen, the indigenous mystic religion of Java.

Bagi orang Jawa, adalah kewajiban manusia untuk menjaga keharmonisan realitas. Ini diekspresikan dalam bahasa Jawa kuno yang tinggi dalam istilah mamayu hayuning bawono atau “melestarikan keindahan dunia.” Harmoni adalah pilar utama Kejawen, agama mistik pribumi Jawa.

Wallahualam…..@

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Gong

[2] Rebecca Miatke, “The Gong: Harmony in the religion of Java” dalam EYE of the HEART: A Journal of Traditional Wisdom, Issue 4, halaman 41-60.

[3] Ibid

[4] Ibid

[5] Ibid

Versi pdf dapat diakses di  https://drive.google.com/open?id=11ofS3z-vDQ2f733WCFMgctNVsNfEhkDR

Populasi Muslim: Besar, Sebaran Geografis dan Tantangan

Jika —kakakanlah saat bersantai menikmati secangkir kopi di suatu Cafe bandara internasional– Anda bertemu dengan tiga orang non-muslim, maka patut diduga Anda adalah seorang Muslim. Dinyatakan secara berbeda, secara rata-rata, satu-dari-empat populasi global adalah Muslim. Dugaan ini bukan tanpa dasar ilmiah karena dihitung berdasarkan teori peluang dan hasil kajian suatu lembaga riset yang dapat diandalkan.

Muslim: Urutan Kedua

Dugaan bahwa satu-dari-empat penduduk global  Muslim didasarkan pada hasil suatu analisis demografis oleh PEW Research Center (selanjutnya PEW) yang menunjukkan bahwa pada tahun 2015 ada sekitar 7.3 milyar penduduk global dan 1.8 milyar atau 24.1% di antarnya adalah Muslim[1]. Angka-angka ini menempatkan Islam pada urutan kedua agama terbesar dilihat dari jumlah pengikutnya, setelah Kristen yang diperkirakan memiliki pengikut sekitar 2.3 milyar atau 31.2% dari populasi global[2]. Menurut proyeksi PEW, sekitar tahun 2070 Muslim diperkirakan akan mengungguli Kristen karena alasan demografis: rata-rata anak per keluarga 2.2 bagi rumah tangga Kristen dan 2.7 bagi rumah tangga Muslim. Dengan angka kelahiran seperti itu maka Islam adalah agama tercepat pertumbuhan populasi penganutnya.

Ada tiga catatan yang layak disisipkan mengenai riset PW ini. Pertama, penentuan agama dalam studi ini didasarkan pada pengakuan responden (self identification).  Kedua, dalam penelitian ini istilah Muslim mencakup mazhab Suni maupun Syiah. Penggabungan dalam satu kategori (Islam) tepat karena perbedaan antara kedua mazhab dapat diabaikan karena tidak terkait dengan perbedaan teologis yang mendasar. Ketiga, istilah Kristen mencakup Katolik, Protestan, Ortodoks, dan Kristen lainnya. Katolik merupakan kelompok Kristen terbesar, diikuti oleh Protestan dan Ortodoks; populasi masing-masing, satu milyar, 850 juta dan 260 juta[3]. Penggabungan dalam satu kategori (Kristen) mungkin kurang tepat karena perbedaan antar kelompok ini sifatnya mendasar dilihat dari aspek perumusan teologis maupun praktik keagamaan[4].

Setelah Kristen dan Islam, “agama” apa yang terbesar dilihat dari populasi penganutnya? Jawabannya mungkin di luar dugaan kebanyakan: Tak-Beragama (Inggris: Unaffiliated). Mereka pada umumnya menagaku sebagai ateis, sekuler atau agnostik. Berapa jumlah mereka? Diperkirakan sekitar 1.2 milyar, atau hanya kurang 600 ribu dibandingkan populasi Muslim.

Urutan agama terbesar lainnya setelah kelompok Tak-Beragama adalah Hindu, Budha dan lainnya. Proporsi mereka terhadap populasi global masing-masing 15.1% dan 6.9% (lihat Grafik 1).

Sebaran Geografis Populasi Muslim

Secara geografis populasi Muslim tersebar: sebagai mayoritas di lebih dari 50 negara, sebagai minoritas di hampir setiap benua (lihat Grafik2).  Sekitar 20%: populasi Muslim global tinggal di kawasan MENA (Middle East and North Africa) atau Timur Tengah dan Afrika Utara, lebih dari 60% di Asia Tenggara, dan sekitar 20% di negara-negara non-Muslim utamanya India dan China

Dengan populasi Muslim sekitar 209 juta jiwa saat ini Indonesia merupakan negara Muslim terbesar. Posisi ke-2 dan ke-3 terbesar diduduki masing-masing oleh Pakistan dan India. Populasi Muslim di kedua negara itu masing-masing 176 juta dan 167 juta jiwa. Yang menarik untuk dicatat, diperkirakan pada tahun 2050 India akan menggeser posisi Indonesia sebagai negara Muslim terbesar. Pada tahun itu India diperkirakan akan menampung paling tidak 300 juta Muslim. Setelah India, dua urutan negara Muslim terbesar berikutnya adalah Bangladesh dan Nigeria dengan populasi Muslim masing-masing sekitar 134 juta dan 77 juta jiwa (Lihat Grafik 3).

Tantangan

Perkembangan teknologi komunikasi kontemporer semakin meningkatkan hubungan antar sesama. Pertanyaan bagi internal komunitas muslim adalah apakah hubungan ini memperkuat gairah mereka terhadap kesatuan ummah (Arab: ummatan wahidah) atau semakin membuka mata terhadap realitas keragaman ekspresi keislaman. Inilah pertanyaan yang mengenai “otentitas” dan “hibriditas” ekspresi keislaman. Bagi Riaz Hassan, perjuangan antara keduanya “menyajikan tantangan yang mungkin paling penting bagi globalisasi Umat Islam” ( represents perhaps the most important challenge of globalisation for the Muslim ummah[5]). Mengenai hibriditas ekspresi keislaman Riaz Hassan menulis:

Unlike in the past, when limitations of transport and communication technologies made it difficult for Muslims worldwide to acknowledge the cultural and social diversity of the ummah, the introduction of satellite television, internet, international travel, and access to books and magazines and increasing literacy is now making Muslims aware of their cultural and social diversity[6].

Wallahualam….@

[1] http://www.pewresearch.org/fact-tank/2017/04/05/christians-remain-worlds-largest-religious-group-but-they-are-declining-in-europe/. Hasil analisis ini berbeda dengan hasil perhitungan penulis sebagaimana disajikan di SINI

[2] https://uzairsuhaimi.blog/2017/06/27/muslim_popn/

[3] http://www.suarakristen.com/2015/02/22/statistik-tentang-kekristenan-sedunia-saat-ini/

[4] Lihat https://www.kaskus.co.id/thread/563ad0bc1cbfaa444a8b456e/perbedaan-kristen-dan-katolik/; juga, https://tuhanyesus.org/perbedaan-agama-kristen-dan-katolik.

[5] https://yaleglobal.yale.edu/content/globalizations-challenge-islam

[6] Ibid

[Untuk kembali ke Daftar Isi klik INI]

 

Puasa (7): Puasa dan Manusia Ideal

Related image

Related imageRelated imageRelated image

Sumber Gambar: Google

Dalam hitungan hari, Bulan Ramadhan akan tiba. Milyaran Muslim di seluruh dunia siap menyambutnya[1]. Bagi muslim, ini adalah kewajiban agama dan itu sudah cukup sebagai alasan untuk melaksanakannya secara patuh. Bagi mereka, yang paling penting Puasa adalah kewajiban agama, bukan masalah untung-rugi atau manfaat-mudaratnya.

Kesadaran semacam ini membuat mereka mengabaikan pandangan yang menghawatirkan dampak negatif puasa terhadap kesehatan, misalnya. Pandangan semacam ini bukan tanpa dasar karena didukung oleh banyak hasil penelitian ilmiah. Yang perlu dicatat adalah bahwa penelitian yang berpendapat sebaliknya tidak kurang atau bahkan mungkin lebih banyak. Satu di antaranya yang layak simak adalah penelitian Zibdeh, seorang ahli nutrisi, yang mengajukan pendapat profesionalnya sebagai berikut:

People think that fasting means starvation, but that doesn’t happen until someone doesn’t eat for four consecutive days,” Zibdeh said. “There are no dangers to fasting if people refuel in the evening hours. Fasting improves brain function and mood, increases vigilance and mental clarity. It also allows the gut to clean chemicals that accumulate. That doesn’t happen often because when we eat, we interfere with that function.[2]

Selain meyakini Puasa sebagai kewajiban agama, apakah Umat juga meyakini manfaat ibadah ini? Kita tidak mengetahui jawaban secara pasti karena sejauh pengetahuan penulis belum ada survei mengenai ini. Walaupun demikian, kita dapat menduga jawabannya positif. Indikasinya, Puasa dikenal oleh semua tradisi atau agama[3] dan di kalangan internal Umat Puasa merupakan ibadah yang sangat populer (banyak dipraktikkan), lebih populer dari pada Salat dan (apalagi) Zakat, misalnya.

Keyakinan Umat akan manfaat Puasa agaknya didasarkan pada ungkapan populer yang artinya kira-kira: “Berpuasalah maka niscaya kalian sehat”. Sangat penting untuk dicatat, meskipun isinya baik, ungkapan itu bukan Hadits[4]. Selain itu, pengetahuan itu agaknya tertanam dalam kesadaran kolektif Umat karena sudah dipraktikkan selama ribuan tahun. Dengan perkataan lain, pengetahuan Umat mengenai manfaat Puasa bukan didasarkan pada pengetahuan obyektif yang bisa benar atau salah, melainkan berbasis pengetahuan langsung oleh subyek yang mengetahui sehingga terbebas dari falsifikasi salah-benar. Pengetahuan terakhir ini analog dengan pengetahuan mengenai sakit yang kita rasakan, bukan pengetahuan dokter mengenainya. Pengetahuan semacam ini dikenal dengan Ilmu Hudhuri[5].

Apa saja pengetahuan (langsung) Umat mengenai manfaat Puasa? Kita dapat membuat daftar panjang mengenai hal ini tetapi empat kategori manfaat berikut agaknya memadai sebagai ilustrasi.

  1. Puasa membuat lebih dekat dengan-Nya.

Pengetahuan ini didasarkan pada kesadaran bahwa Puasa merupakan ajaran agama sebagaimana tercantum dalam ayat Al-Quran (2:183). Pengetahuan ini diperkuat oleh tradisi tadarus (membaca Al-Quran), salat sunat tarawih,  itikaf (bertafakur pada siang hari di masjid), dan ibadah sunat yang secara khas sangat ditekankan pada Bulan Ramadhan.

  1. Puasa membuat lebih dekat dengan sesama.

Pengetahuan ini didasarkan pada pengalaman langsung –dalam arti bukan semata-mata pengamatan atau laporan ilmiah atau laporan jurnalis– bahwa lapar dan haus sangat tidak nyaman dan bahkan “menyiksa”. Pengalaman semacam ini dapat mendorong seseorang untuk berempati dengan kelompok masyarakat duafa (terpinggirkan, serba kekurangan).

Pengetahuan ini diperkuat dengan sejumlah ibadah sunat (tidak harus tetapi dianjurkan) yang ditekankan ketika puasa: sedekah, menyantuni fakir-miskin, berbagi takjil (buka puasa), dan sebagainya. Yang perlu disisipkan di sini, ajaran Islam mengenai kedermawanan (charity) tidak didasarkan pada pengetahuan teori etika-moral yang abstrak, tetapi bertitik-tolak dari pengalaman kongkret. Analog dengan ini, ajaran Islam mengenai rendah hati (humility) tidak didasarkan pada teori etika, tetapi lebih didorong oleh pengamatan empiris mengenai keterbatasan fisik manusia: “Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi ini dengan sombong  karena sesungguhnya engkau tidak dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung” (17:37).

  1. Puasa meningkatkan standar moral.

Umat menyadari ketika puasanya menjadi tidak atau kurang efektif (berpahala) jika tidak mengindahkan perilaku yang dilarang ketika berpuasa termasuk berbohong, bergunjing, marah berlebihan, intoleran, berlaku angkuh, perilaku koruptif, memperlihatkan syahwat seksual, dan perilaku sejenis. Lawan dari perilaku itu yaitu perilaku berkata jujur, berkata seperlunya,  pemaaf, toleransi, rendah hati, hati-hati untuk tidak mengambil hak orang. Semua perilaku ini dapat meningkatkan standar moral seseorang.

  1. Puasa membantu memperdalam pengenalan jati-diri.

Larangan mutlak untuk tidak makan, tidak minum, dan tidak melakukan hubungan seksual ketika puasa, memaksa pelakunya untuk mengenali jati dirinya secara lebih mendalam. Pengenalan ini memaksanya untuk eling (istilah Jawa) atau membuat jarak-ontologis (istilah filsafat) bahwa hakikat dirinya bukan binatang, tetapi lebih mulia dari binatang, yang geraknya hanya didorong insting mencari makan, minum dan sex. Pengenalan ini menyadarkannya bahwa dalam dirinya ada –atau lebih tepat hakikatnya– Ruh-Nya yang ditiupkan-Nya ke dalam relung jati-dirinya yang paling dalam.

Sebagai penutup dapat disampaikan bahwa pengetahuan mengenai empat manfaat Puasa sebagaimana dibahas di atas, ditambah kesadaran mengenai pentingnya pola makan dan perilaku sehat, dapat membuat seseorang menjadi ideal. Hal ini terungkap dalam suatu laporan berikut ini:

If persons take care about their dietary patterns, avoid addictions, speak the truth, practice the concept of neighbourhood and hospitality and give charity as prescribed, do regular prayers, they will not only become an ideal human beings, but will certainly be also entitled for God’s blessing and protection which all of us so desperately need[6].

Seorang manusia ideal (an ideal human beings) itulah yang agakanya dimaksudkan sebagai orang takwa dalam teks suci (2:183). Wallahualam….@

[1] Mengenai estimasi populasi muslim lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/06/27/muslim_popn/.

[2] https://thinkprogress.org/the-controversy-over-the-health-effects-of-fasting-during-ramadan-db620fee1d03/

[3] Al-Quran (2:183): Surat ke-2, Ayat ke-183.

[4] https://konsultasisyariah.com/12786-derajat-hadis-berpuasalah-maka-kamu-akan-sehat.html.

[5] https://abuthalib.wordpress.com/2009/06/27/ilmu-hudhuri/.

[6] https://www.omicsonline.org/psycho-social-behaviour-and-health-benefits-of-islamic-fasting-during-the-month-of-ramadan-2161-0711.1000178.php?aid=9594.