Gong: Makna Simbolisnya Bagi Masyarakat Tradisional Jawa

Sumber Gambar: Wikipedia

Bukan khas Indonesia

Kita mengenal gong sebagai salah satu alat musik gamelan, musik tradisional masyarakat Jawa dan Bali. Gong sesungguhnya bukan khas Indonesia; ia dikenal juga di berbagai negara di Asia termasuk China, Jepang, Vietnam, Myanmar dan Filipina. Pemukulan gong dimaksudkan tidak hanya untuk keperluan musik tetapi juga untuk keperluan lain termasuk menandai pembukaan upacara “kantor” (Indonesia) atau olahraga Sumo (Jepang).

Di China gong –dengan berbagai jenis dan ukuran—konon sudah dikenal selama ribuan tahun dan difungsikan sebagai alat panggil bagi petani untuk mulai bekerja; maklum, suara dari sebagian gong dapat didengar dalam diameter 8 kilometer[1]. Tetapi tulisan ini bukan mengenai gong semata, melainkan mengenai makna simbolismenya dalam budaya Jawa.

Bukan Sekadar Alat Musik

Dalam perspektif budaya tradisional Jawa, gong memiliki makna yang jauh lebih luas dan mendalam dari sekadar alat musik. Dalam budaya ini, bentuk dan materi gong, peran yang dimainkan dalam musik gamelan, serta energi yang diciptakan ketika dipukul, masing-masing melambangkan filsafat mengenai waktu dan masyarakat Jawa yang unik.

Seperti yang dikatakan Miatke (2009)[2], bentuk bundar gong melambangkan keabadian dan keseimbangan; pukulan gong merefleksikan koinsidensi antara permulaan dan akhir, antara kelahiran dan kematian, atau antara lahir dan batin. Agar memperoleh gambaran agak lengkap, berikut ini dikutip sebagian apa yang dikatakan Miatke[3]:

The gong as an expression of a Unified Being or “Divine Oneness,” expresses Java’s unique organisation of time and society. It represents harmony in a number of ways. Firstly, in form: the circle shape symbolises eternity and balance, and its single-material body bears the quality of uniformity. Secondly, in the role that it plays within the music of the gamelan, which symbolises both time and timelessness. The gong’s strike indicates the coincidence of start and end, birth and death, or, as the Indonesians say, lahir batin, that is, body and soul. Thirdly, in the actual energy that it creates: a self-perpetuating vibration which produces an undifferentiated and complex dissonance.

Ungkapan bahwa “gong sebagai ekspresi dari Kesatuan Wujud (Unified Being) atau Keesaan yang Ilahi (Divine Oneness)” menarik untuk dicermati lebih lanjut. Jika ungkapan ini menggambarkan keadaan yang sebenarnya maka kita memperoleh kesan kuat bahwa konsep tauhid (Keesaan Tuhan) sebenarnya tidak asing bagi masyarakat Jawa tradisional, sekalipun mereka menggunakan istilah Tuhan yang bagi Muslim-literalis mungkin kurang nyaman yaitu Sang Hiyang Widi.

Lingkaran: Metafora Filosofis

Bentuk lingkaran Gong adalah lingkaran yang secara universal diakui mengandung metafora filosofis. Suatu lingkaran memiliki titik pusat yang menggambarkan titik-awal dan prinsip, menyimbolkan realitas non-spasial dan Keabadian. Ia juga menggambarkan partisipasi waktu-mengalir dan Keabadian dalam alam. Suatu lingkaran juga memiliki dimensi garis lingkaran yang terdiri dari titik-titik yang jumlahnya tak-terhingga dan berjarak sama terhadap titik pusat sehingga terharmonisasi dengan merujuk pada titik itu.

Bagi masyarakat tradisional Jawa, sebagaimana diungkapkan Miatke[4], citra spasial lingkaran secara memadai melambangkan gagasan waktu siklik yang mendukung cara-cara masyarakat tradisional Jawa untuk memahami alam semesta. Dalam konteks ini, konsep harmoni melekat di dalamnya karena adanya persatuan atau keseimbangan antara awal dan akhir: ia memulai dari mana ia berakhir, mewujudkan kedua ekstrem itu, mengandung kedua ekstrem itu dan menyeimbangkan keduanya.

Bentuk lingkaran juga menunjukkan roda, Cakra Manggilingan dalam istilah Jawa, yang mengekspresikan filsafat Jawa tentang putaran konstan dari proses kehidupan. Dalam proses perputaran kehidupan ini konsep harmoni bagi masyarakat tradisional Jawa sangat penting sebagaimana diungkapkan oleh Miatke[5]:

For the Javanese, it is the obligation of man to maintain the harmony of reality. This is expressed in the ancient high Javanese language as the virtue of mamayu hayuning bawono or “preserving the beauty of the world.” Harmony is the primary pillar of Kejawen, the indigenous mystic religion of Java.

Bagi orang Jawa, adalah kewajiban manusia untuk menjaga keharmonisan realitas. Ini diekspresikan dalam bahasa Jawa kuno yang tinggi dalam istilah mamayu hayuning bawono atau “melestarikan keindahan dunia.” Harmoni adalah pilar utama Kejawen, agama mistik pribumi Jawa.

Wallahualam…..@

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Gong

[2] Rebecca Miatke, “The Gong: Harmony in the religion of Java” dalam EYE of the HEART: A Journal of Traditional Wisdom, Issue 4, halaman 41-60.

[3] Ibid

[4] Ibid

[5] Ibid

Versi pdf dapat diakses di  https://drive.google.com/open?id=11ofS3z-vDQ2f733WCFMgctNVsNfEhkDR

← Back

Thank you for your response. ✨

Populasi Muslim: Besar, Sebaran Geografis dan Tantangan

Jika —kakakanlah saat bersantai menikmati secangkir kopi di suatu Cafe bandara internasional– Anda bertemu dengan tiga orang non-muslim, maka patut diduga Anda adalah seorang Muslim. Dinyatakan secara berbeda, secara rata-rata, satu-dari-empat populasi global adalah Muslim. Dugaan ini bukan tanpa dasar ilmiah karena dihitung berdasarkan teori peluang dan hasil kajian suatu lembaga riset yang dapat diandalkan.

Muslim: Urutan Kedua

Dugaan bahwa satu-dari-empat penduduk global  Muslim didasarkan pada hasil suatu analisis demografis oleh PEW Research Center (selanjutnya PEW) yang menunjukkan bahwa pada tahun 2015 ada sekitar 7.3 milyar penduduk global dan 1.8 milyar atau 24.1% di antarnya adalah Muslim[1]. Angka-angka ini menempatkan Islam pada urutan kedua agama terbesar dilihat dari jumlah pengikutnya, setelah Kristen yang diperkirakan memiliki pengikut sekitar 2.3 milyar atau 31.2% dari populasi global[2]. Menurut proyeksi PEW, sekitar tahun 2070 Muslim diperkirakan akan mengungguli Kristen karena alasan demografis: rata-rata anak per keluarga 2.2 bagi rumah tangga Kristen dan 2.7 bagi rumah tangga Muslim. Dengan angka kelahiran seperti itu maka Islam adalah agama tercepat pertumbuhan populasi penganutnya.

Ada tiga catatan yang layak disisipkan mengenai riset PW ini. Pertama, penentuan agama dalam studi ini didasarkan pada pengakuan responden (self identification).  Kedua, dalam penelitian ini istilah Muslim mencakup mazhab Suni maupun Syiah. Penggabungan dalam satu kategori (Islam) tepat karena perbedaan antara kedua mazhab dapat diabaikan karena tidak terkait dengan perbedaan teologis yang mendasar. Ketiga, istilah Kristen mencakup Katolik, Protestan, Ortodoks, dan Kristen lainnya. Katolik merupakan kelompok Kristen terbesar, diikuti oleh Protestan dan Ortodoks; populasi masing-masing, satu milyar, 850 juta dan 260 juta[3]. Penggabungan dalam satu kategori (Kristen) mungkin kurang tepat karena perbedaan antar kelompok ini sifatnya mendasar dilihat dari aspek perumusan teologis maupun praktik keagamaan[4].

Setelah Kristen dan Islam, “agama” apa yang terbesar dilihat dari populasi penganutnya? Jawabannya mungkin di luar dugaan kebanyakan: Tak-Beragama (Inggris: Unaffiliated). Mereka pada umumnya menagaku sebagai ateis, sekuler atau agnostik. Berapa jumlah mereka? Diperkirakan sekitar 1.2 milyar, atau hanya kurang 600 ribu dibandingkan populasi Muslim.

Urutan agama terbesar lainnya setelah kelompok Tak-Beragama adalah Hindu, Budha dan lainnya. Proporsi mereka terhadap populasi global masing-masing 15.1% dan 6.9% (lihat Grafik 1).

Sebaran Geografis Populasi Muslim

Secara geografis populasi Muslim tersebar: sebagai mayoritas di lebih dari 50 negara, sebagai minoritas di hampir setiap benua (lihat Grafik2).  Sekitar 20%: populasi Muslim global tinggal di kawasan MENA (Middle East and North Africa) atau Timur Tengah dan Afrika Utara, lebih dari 60% di Asia Tenggara, dan sekitar 20% di negara-negara non-Muslim utamanya India dan China

Dengan populasi Muslim sekitar 209 juta jiwa saat ini Indonesia merupakan negara Muslim terbesar. Posisi ke-2 dan ke-3 terbesar diduduki masing-masing oleh Pakistan dan India. Populasi Muslim di kedua negara itu masing-masing 176 juta dan 167 juta jiwa. Yang menarik untuk dicatat, diperkirakan pada tahun 2050 India akan menggeser posisi Indonesia sebagai negara Muslim terbesar. Pada tahun itu India diperkirakan akan menampung paling tidak 300 juta Muslim. Setelah India, dua urutan negara Muslim terbesar berikutnya adalah Bangladesh dan Nigeria dengan populasi Muslim masing-masing sekitar 134 juta dan 77 juta jiwa (Lihat Grafik 3).

Tantangan

Perkembangan teknologi komunikasi kontemporer semakin meningkatkan hubungan antar sesama. Pertanyaan bagi internal komunitas muslim adalah apakah hubungan ini memperkuat gairah mereka terhadap kesatuan ummah (Arab: ummatan wahidah) atau semakin membuka mata terhadap realitas keragaman ekspresi keislaman. Inilah pertanyaan yang mengenai “otentitas” dan “hibriditas” ekspresi keislaman. Bagi Riaz Hassan, perjuangan antara keduanya “menyajikan tantangan yang mungkin paling penting bagi globalisasi Umat Islam” ( represents perhaps the most important challenge of globalisation for the Muslim ummah[5]). Mengenai hibriditas ekspresi keislaman Riaz Hassan menulis:

Unlike in the past, when limitations of transport and communication technologies made it difficult for Muslims worldwide to acknowledge the cultural and social diversity of the ummah, the introduction of satellite television, internet, international travel, and access to books and magazines and increasing literacy is now making Muslims aware of their cultural and social diversity[6].

Wallahualam….@

[1] http://www.pewresearch.org/fact-tank/2017/04/05/christians-remain-worlds-largest-religious-group-but-they-are-declining-in-europe/. Hasil analisis ini berbeda dengan hasil perhitungan penulis sebagaimana disajikan di SINI

[2] https://uzairsuhaimi.blog/2017/06/27/muslim_popn/

[3] http://www.suarakristen.com/2015/02/22/statistik-tentang-kekristenan-sedunia-saat-ini/

[4] Lihat https://www.kaskus.co.id/thread/563ad0bc1cbfaa444a8b456e/perbedaan-kristen-dan-katolik/; juga, https://tuhanyesus.org/perbedaan-agama-kristen-dan-katolik.

[5] https://yaleglobal.yale.edu/content/globalizations-challenge-islam

[6] Ibid

[Untuk kembali ke Daftar Isi klik INI]

 

← Back

Thank you for your response. ✨

Puasa (7): Puasa dan Manusia Ideal

Related image

Related imageRelated imageRelated image

Sumber Gambar: Google

Dalam hitungan hari, Bulan Ramadhan akan tiba. Milyaran Muslim di seluruh dunia siap menyambutnya[1]. Bagi muslim, ini adalah kewajiban agama dan itu sudah cukup sebagai alasan untuk melaksanakannya secara patuh. Bagi mereka, yang paling penting Puasa adalah kewajiban agama, bukan masalah untung-rugi atau manfaat-mudaratnya.

Kesadaran semacam ini membuat mereka mengabaikan pandangan yang menghawatirkan dampak negatif puasa terhadap kesehatan, misalnya. Pandangan semacam ini bukan tanpa dasar karena didukung oleh banyak hasil penelitian ilmiah. Yang perlu dicatat adalah bahwa penelitian yang berpendapat sebaliknya tidak kurang atau bahkan mungkin lebih banyak. Satu di antaranya yang layak simak adalah penelitian Zibdeh, seorang ahli nutrisi, yang mengajukan pendapat profesionalnya sebagai berikut:

People think that fasting means starvation, but that doesn’t happen until someone doesn’t eat for four consecutive days,” Zibdeh said. “There are no dangers to fasting if people refuel in the evening hours. Fasting improves brain function and mood, increases vigilance and mental clarity. It also allows the gut to clean chemicals that accumulate. That doesn’t happen often because when we eat, we interfere with that function.[2]

Selain meyakini Puasa sebagai kewajiban agama, apakah Umat juga meyakini manfaat ibadah ini? Kita tidak mengetahui jawaban secara pasti karena sejauh pengetahuan penulis belum ada survei mengenai ini. Walaupun demikian, kita dapat menduga jawabannya positif. Indikasinya, Puasa dikenal oleh semua tradisi atau agama[3] dan di kalangan internal Umat Puasa merupakan ibadah yang sangat populer (banyak dipraktikkan), lebih populer dari pada Salat dan (apalagi) Zakat, misalnya.

Keyakinan Umat akan manfaat Puasa agaknya didasarkan pada ungkapan populer yang artinya kira-kira: “Berpuasalah maka niscaya kalian sehat”. Sangat penting untuk dicatat, meskipun isinya baik, ungkapan itu bukan Hadits[4]. Selain itu, pengetahuan itu agaknya tertanam dalam kesadaran kolektif Umat karena sudah dipraktikkan selama ribuan tahun. Dengan perkataan lain, pengetahuan Umat mengenai manfaat Puasa bukan didasarkan pada pengetahuan obyektif yang bisa benar atau salah, melainkan berbasis pengetahuan langsung oleh subyek yang mengetahui sehingga terbebas dari falsifikasi salah-benar. Pengetahuan terakhir ini analog dengan pengetahuan mengenai sakit yang kita rasakan, bukan pengetahuan dokter mengenainya. Pengetahuan semacam ini dikenal dengan Ilmu Hudhuri[5].

Apa saja pengetahuan (langsung) Umat mengenai manfaat Puasa? Kita dapat membuat daftar panjang mengenai hal ini tetapi empat kategori manfaat berikut agaknya memadai sebagai ilustrasi.

  1. Puasa membuat lebih dekat dengan-Nya.

Pengetahuan ini didasarkan pada kesadaran bahwa Puasa merupakan ajaran agama sebagaimana tercantum dalam ayat Al-Quran (2:183). Pengetahuan ini diperkuat oleh tradisi tadarus (membaca Al-Quran), salat sunat tarawih,  itikaf (bertafakur pada siang hari di masjid), dan ibadah sunat yang secara khas sangat ditekankan pada Bulan Ramadhan.

  1. Puasa membuat lebih dekat dengan sesama.

Pengetahuan ini didasarkan pada pengalaman langsung –dalam arti bukan semata-mata pengamatan atau laporan ilmiah atau laporan jurnalis– bahwa lapar dan haus sangat tidak nyaman dan bahkan “menyiksa”. Pengalaman semacam ini dapat mendorong seseorang untuk berempati dengan kelompok masyarakat duafa (terpinggirkan, serba kekurangan).

Pengetahuan ini diperkuat dengan sejumlah ibadah sunat (tidak harus tetapi dianjurkan) yang ditekankan ketika puasa: sedekah, menyantuni fakir-miskin, berbagi takjil (buka puasa), dan sebagainya. Yang perlu disisipkan di sini, ajaran Islam mengenai kedermawanan (charity) tidak didasarkan pada pengetahuan teori etika-moral yang abstrak, tetapi bertitik-tolak dari pengalaman kongkret. Analog dengan ini, ajaran Islam mengenai rendah hati (humility) tidak didasarkan pada teori etika, tetapi lebih didorong oleh pengamatan empiris mengenai keterbatasan fisik manusia: “Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi ini dengan sombong  karena sesungguhnya engkau tidak dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung” (17:37).

  1. Puasa meningkatkan standar moral.

Umat menyadari ketika puasanya menjadi tidak atau kurang efektif (berpahala) jika tidak mengindahkan perilaku yang dilarang ketika berpuasa termasuk berbohong, bergunjing, marah berlebihan, intoleran, berlaku angkuh, perilaku koruptif, memperlihatkan syahwat seksual, dan perilaku sejenis. Lawan dari perilaku itu yaitu perilaku berkata jujur, berkata seperlunya,  pemaaf, toleransi, rendah hati, hati-hati untuk tidak mengambil hak orang. Semua perilaku ini dapat meningkatkan standar moral seseorang.

  1. Puasa membantu memperdalam pengenalan jati-diri.

Larangan mutlak untuk tidak makan, tidak minum, dan tidak melakukan hubungan seksual ketika puasa, memaksa pelakunya untuk mengenali jati dirinya secara lebih mendalam. Pengenalan ini memaksanya untuk eling (istilah Jawa) atau membuat jarak-ontologis (istilah filsafat) bahwa hakikat dirinya bukan binatang, tetapi lebih mulia dari binatang, yang geraknya hanya didorong insting mencari makan, minum dan sex. Pengenalan ini menyadarkannya bahwa dalam dirinya ada –atau lebih tepat hakikatnya– Ruh-Nya yang ditiupkan-Nya ke dalam relung jati-dirinya yang paling dalam.

Sebagai penutup dapat disampaikan bahwa pengetahuan mengenai empat manfaat Puasa sebagaimana dibahas di atas, ditambah kesadaran mengenai pentingnya pola makan dan perilaku sehat, dapat membuat seseorang menjadi ideal. Hal ini terungkap dalam suatu laporan berikut ini:

If persons take care about their dietary patterns, avoid addictions, speak the truth, practice the concept of neighbourhood and hospitality and give charity as prescribed, do regular prayers, they will not only become an ideal human beings, but will certainly be also entitled for God’s blessing and protection which all of us so desperately need[6].

Seorang manusia ideal (an ideal human beings) itulah yang agakanya dimaksudkan sebagai orang takwa dalam teks suci (2:183). Wallahualam….@

[1] Mengenai estimasi populasi muslim lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/06/27/muslim_popn/.

[2] https://thinkprogress.org/the-controversy-over-the-health-effects-of-fasting-during-ramadan-db620fee1d03/

[3] Al-Quran (2:183): Surat ke-2, Ayat ke-183.

[4] https://konsultasisyariah.com/12786-derajat-hadis-berpuasalah-maka-kamu-akan-sehat.html.

[5] https://abuthalib.wordpress.com/2009/06/27/ilmu-hudhuri/.

[6] https://www.omicsonline.org/psycho-social-behaviour-and-health-benefits-of-islamic-fasting-during-the-month-of-ramadan-2161-0711.1000178.php?aid=9594.

Agama-agama Samawi: Identifikasi Titik Temu

Kata samawi (Arab) identik dengan kata langit (Indonesia) sehingga istilah agama samawi dapat diganti dengan agama langit. Kata yang terakhir ini menegaskan bahwa sumber ajaran agama samawi, bukannya produk kebudayaan atau berasal dari dunia-bawah-sini, melainkan dari dunia-atas-sana (wahyu), sekalipun dimaksudkan sebagai pedoman hidup di dunia-bawah-sini. Dengan pengertian ini maka agama samawi mencakup semua agama, millah, tradisi[1] yang bersumberkan wahyu Allah SWT, sejak era Adam AS, Idris AS, Nuh AS, dan Ibrahim AS beserta keturunannya, sampai kepada Muhammad SAW. Tulisan ini memfokuskan pada tiga agama besar yang sampai kini masih ada yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam. Istilah agama samawi yang digunakan dalam tulisan ini terbatas hanya pada tiga agama ini.

Lembaran Buram

Sejarah mencatat hubungan antar umat agama samawi tidak selalu harmonis bahkan sering disertai konflik berdarah. Daftar konflik berdarah antar umat agama samawi dapat dibuat panjang tetapi lima kasus berikut ini agaknya memadai sebagai ilustrasi:

  • Akhir Abad 11: Pembantaian komunitas Yahudi dan Muslim di Yerusalem ketika aliansi Pasukan Salib merebut Kota Yerusalem;
  • Sekitar Abad 15: Pengusiran komunitas muslim dan pemaksaan pindah agama bagi komunitas Yahudi di sekitar Teluk Iberia pasca kekalahan penguasa sisa Imperium Umayah di kawasan itu;
  • Pertengahan Abad 20: Perlakuan buruk terhadap komunitas Yahudi di Eropa (Kristen) yang mencapai puncaknya pada peristiwa Holocaust;
  • Konflik Palestina: Permusuhan dan kekerasan berdarah di Palestina dan sekitar yang sampai kini masih berlangsung tanpa prospek penyelesaian yang jelas; dan
  • Konflik di sebagian kawasan di Timur Tengah dan Afrika Utara: Permusuhan dan kekerasan berdarah oleh para ekstremis dari sebagian kecil komunitas Muslim terhadap komunitas non-muslim (minoritas) bahkan terhadap kelompok muslim tertentu (Syiah, kelompok Sufi, dan sebagainya) yang sampai kini masih berlangsung yang juga tanpa prospek penyelesaian yang jelas.

Pertanyaannya: Kenapa kekerasan berdarah semacam itu dapat terjadi? Kita dapat merujuk pada hasil kajian historis maupun sosiologis untuk memperoleh jawaban terhadap pertanyaan itu. Walaupun demikian, dalam analisis terakhir, agaknya akan lebih bijak bagi kita “menyerah” (Arab: aslama, akar kata Islam) dengan mengatakan bahwa semua itu terjadi pada hakikatnya karena kehendak Tuhan SWT. Dari sisi manusia, harus diakui bahwa peristiwa kekerasan berdarah semacam itu menunjukkan kelemahan manusiawi kita secara kolektif atau rendahnya kedudukan (Arab: maqaam) spiritual kita secara berjamaah. Kelemahan manusiawi itu yang mungkin mengundang ketetapan-Nya berlaku. Wallahualam. (God knows better!)

Sebenarnya ada alasan yang lebih substantif kenapa konflik berdarah antar umat agama samawi seharusnya tidak terjadi. Alasan itu, sebagaimana akan kita lihat nanti, adalah Pilar Ihsan yang tercakup dalam Tradisi Ibrahimik: pilar ini menuntut upaya aktif dan proaktif untuk menyempurnakan realisasi dua pilar agama lainnya (Iman dan Islam), juga untuk memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal. Pilar Ihsan ini secara normatif menonjol dalam Tradisi Isa AS tetapi fakta historis Perang Salib menunjukkan lemahnya kesadaran kolektif di kalangan Umat Nasrani terhadap ajaran Ihsan. Kelemahan yang sama –kalau tidak lebih serius– kita temukan di kalangan Umat Yahudi maupun Umat Islam.

Pertanyaan lain yang lebih mendasar: Kenapa ada perbedaan agama? Jawaban mudahnya: sudah menjadi ketetapan atau kehendak-Nya. Selain itu, perbedaan agama pada hakikatnya memperlihatkan karakter supra formal wahyu yang satu tetapi sifat manusia membutuhkan perbedaan. Upaya untuk mempersatukan agama bukan saja mustahil dilakukan tetapi juga tidak perlu, seandainya itu mungkin. Dalam konteks ini, kutipan dari Frithjof Schuon berikut layak disimak:

The diversity of religions, far from proving the falseness of all the doctrines concerning the supernatural, shows on the contrary the supra formal character of revelation—or enlightenment—is one, but human nature requires diversity[2].

the unity of the different religion is not only unrealizable on external level, that of the form themselves, but ought not to be realized at that level, even were this possible, for in that case the revealed form would be deprives of their sufficient reasons[3].

Keturunan Ibrahim AS

Secara normatif, kekerasan berdarah antar penganut agama samawi mestinya tidak terjadi. Kenapa? Karena Yahudi, Nasrani dan Islam memiliki leluhur yang sama yaitu Ibrahim AS. Semua pembawa agama samawi– Musa AS untuk Yahudi, Isa AS untuk Nasrani dan Muhammad SAW untuk Islam— keturunan Ibrahim AS. Nabi besar ini bergelar Bapak Para Nabi dan gelar itu tepat karena semua rasul pasca Nuh AS yang namanya disebut dalam Al-Quran, semuanya keturunan Ibrahim SAW. Kekecualian dalam hal ini adalah Soleh AS, Hud AS dan Luth AS. Musa AS dan Isa AS adalah keturunan Ibrahim AS melalui jalur Ishaq, Muhammad SAW melalui jalur Ismail AS.

Tabel 1 menyajikan beberapa identitas empat Nabi besar agama samawi yaitu Ibrahim AS, Musa AS, Isa AS dan Muhammad AS. Pada tabel itu tampak bahwa tiga yang terakhir adalah keturunan Ibrahim AS. Yang pertama secara genealogis tersambung dengan Adam AS, sebagai keturunan ke-19. Termasuk dalam leluhur Ibrahim AS adalah Idris AS dan Nuh AS yang masing-masing keturunan Adam AS yang ke-6 dan ke-9. Semua nabi, bahkan semua manusia dan makhluk hidup lainnya, seterlah Era Nuh AS, adalah keturunan beliau atau yang diselamatkan oleh perahu beliau dari bencana bah yang bersifat global.

Gambaran umum mengenai jarak waktu antara era Ibrahim AS dengan era ketiga keturunannya itu dapat dilihat dari urutan keturunan (lihat Kolom 2 Tabel 1): Musa AS, Isa AS dan Muhammad SAW, masing-masing keturunan yang ke-8, ke-30 dan ke-33. Gambaran yang lebih cermat dapat dilihat dari periode kehidupan masing-masing nabi itu (Kolom 4): Ibrahim AS (1997-1822 SM), Musa AS (1527-1407 SM), Isa AS (1S M-32 M), dan Muhammad AS (570-632 M).

Yang menarik juga untuk dicatat adalah bahwa Musa AS ternyata “paling populer” diukur dari frekuensi penyebutan namanya dalam Al-Quran (Kolom 5): sementara Ibrahim AS, Isa AS dan Muhammad SAW disebut hanya 69, 21 dan 25 kali, Musa AS disebut sampai 136 kali.

Warisan Spiritual Ibrahim AS

Bapak Para Nabi ini mewariskan tidak hanya garis keturunan secara genealogis tetapi juga inti ajaran agama yang berbasis ajaran tauhid atau ajaran Keesaan Tuhan SWT. Argumentasi mengenai hal ini dapat ditemukan dalam sejumlah ayat Al-Quran antara lain:

  • Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan kepada Nuh dan apa telah kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya (42:13)[4];
  • (Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim) “berserah-dirilah! (Arab: aslim), Dia menjawab “Aku berserah diri (Arab: aslamtu) kepada Tuhan seluruh Alam (2:131);
  • Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya. Demikian pula Ya’kub, “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kemu mati kecuali dalam keadaan muslim (Arab: muslimun)” (2:132);
  • Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Ya’kub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab’ Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, smail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya berserah diri kepada-Nya (2:133); dan
  • Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka usahakan dan bagimu apa yang telah kamu usahakan. Dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang apa yang mereka kerjakan (2:134; juga 2: 141):

Kutipan ayat pertama menegaskan kesamaan inti ajaran agama-agama samawi sejak Nuh AS; kutipan ayat yang ke 2 s/d 4 menegaskan Islam sebagai nama agama Ibrahim AS serta keturunan-keturunannya, baik yang melalui jalur Ishak AS (Yahudi dan Nasrani), maupun Ismail AS (Islam). Jelasnya, Islam dalam narasi Al-Quran, sangat inklusif karena tidak hanya mencakup ajaran yang dibawa Muhammad SAW (Islam dalam pengertian populer). Dalam konteks ini patut disisipkan di sini karakterisasi Al-Quran mengenai ahli Kitab:

Mereka tidak seluruhnya sama. Di antara Ahli Kitab ada golongan yang jujur, mereka membaca atyat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (salat). Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebaikan. Mereka termasuk orang-orang yang saleh. Dan kebajikan apa pun yang mereka kerjakan, tidak ada yang mengingkarinya. Dan Allah maha mengetahui orang-orang yang bertakwa (3:113-115).

Sekalipun memiliki inti ajaran yang sama, Agama Yahudi, Nasrani dan Islam jelas memiliki bentuk, rumusan teologis mengenai ketuhanan, sejarah keumatan, serta siklus pewahyuan yang berbeda. Tetapi juga jelas wisdom qurani –kebijaksanaan berbasis ayat Al-Quran—bahwa perbedaan itu “bukan urusan kita” sebagai umat sebagaimana tersirat dalam kutipan nomor lima di atas (2:134). Ayat ini tampaknya sedemikian penting sehingga diulang dengan redaksi yang persis sama dalam (2:141). Yang juga jelas adalah wisdom qurani yang menegaskan “tidak ada paksaan dalam agama” (2:256).

Wisdom qurani dengan nada serupa dapat ditemkan dalam ayat lain yang pada intinya berupa seruan agar umat agama samawi lebih mengetengahkan kesamaan antar mereka (Arab: kalimatun sawa), bukan meruncingkan perbedaan:

Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan kita selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka) “Saksikanlah bahwa kami adalah orang muslim”  (3:64).

Perbedaan Penekanan

Kutipan ayat terakhir pada intinya seruan kepada ajaran tauhid yang merupakan inti dari ajaran agama samawi. Karena inti ajaran ini maka  agama samawi dikenal dengan sebutan agama monoteisme. Dalam Millah atau Tradisi[5] Ibrahim AS, pilar Iman (Faith) yang berkarakter ajaran tauhid ini sangat menonjol dan karakter ajaran itu yang diwasiatkan kepada keturunannya sebagaimana terungkap dalam kutipan-kutipan ayat terdahulu. Yang perlu dicatat adalah bahwa Millah Ibrahim AS mencakup juga dua pilar agama (Dien) yang lain yaitu Islam (Law) dan Ihsan (Way). Tetapi penekanan terhadap pilar pertama (Iman) sedemikian kuatnya sehingga dua pilar yang lainnya seolah-olah terserap dalam pilar pertama.

Berbeda dengan Millah Ibrahim, Tradisi Musa AS lebih menekankan pada pilar ke 2 (Hukum, Law) sedemikian sehingga dua pilar lainnya seolah-olah terserap dalam Pilar ke-2. Tradisi Isa AS lain lagi; penekanannya terletak pada Pilar ke-3 (Ihsan, Way); dua pilar lainnya seolah-olah terserap dalam Pilar ke-3 itu. Bagaimana dengan Tradisi Muhammad SAW? Hadits Jibril mengindikasikan bahwa Tradisi nabi terakhir ini mengetengahkan keseimbangan tiga pilar Dien ajaran agama samawi. Dalam narasi Schuon, Islam, for its parts, intend to contain these three elements side by side, thus in perfect equilibrium, whence precisely its doctrine of the three elements iman, islam, and ihsan[6].  Untuk memberikan gambaran yang lebih baik, berikut ini disajikan kutipan dari Schuon yang lebih lengkap:

In order to show in what way the Muslim religion considers itself to be the completion and synthesis of earlier monotheisms, we must first of all recall that its constitutive   elements are al-iman, al-islam, and al-ikhsan, terms that can be rendered, not literally but nonetheless adequate, as “Faith”, “Law” and “Way”. “Faith” corresponds to the first of the three monotheisms, that of Abraham; “Law” to the second, that of Moses; and the “Way” to the third, that of Jesus and Mary. In Abrahamism, the element of “Law” and “Way” are as it were absorbed in by element “Faith”; in Mosaism, it is the element of “Law” that predominates and that, as a result, absorbs the elements “Faith” and “Way”; and in Christianity, it is the element of “Way” that absorbs the two other elements. Islam, for its parts, intend to contain these three elements side by side, thus in perfect equilibrium, whence precisely its doctrine of the three elements iman, islam, and ihsan[7].

Jika diizinkan menggunakan analogi dalam trigonometri, kita dapat menyajikan konfigurasi tradisi Ibrahimik sebagaimana diiulstrasikan oleh Gambar 1. Pada gambar itu tampak sudut sangat besar (lebih dari 90 derajat) yang merepresentasikan Pilar Iman untuk konfigurasi Tradisi Ibrahim. Konfigurasi tradisi Musa AS dan tradisi Isa AS juga menyerupai segitiga yang sama tetapi dengan sudut sangat besar masing-masing pada Pilar Islam dan Pilar Ihsan. Konfigurasi tradisi Muhammad SAW berbeda; semua pilar memiliki sudut yang sama besar (60 derajat) sehingga membentuk segitiga sama-sisi (lihat Gambar 1).

Wallahualam…..@

[1] Dalam konteks ini istilah tradisi mengandung konotasi kepastian adanya hubungan dengan sumber awal. Dalam hal agama wahyu berarti Allah SWT.

[2] “No Activity Without Truth”, 4.

[3] Transcendent Unity of Religion, “Preface”, xxxiv.

[4] Angka yang pertama menunjukkan nomor surat Al-Quran, yang lainnya nomor ayat.

[5] Lihat catatan kaki 1 mengenai pengertian tradisi. Sekadar untuk membedakan, di sini kita menggunakan istilah Tradisi; istilah agama kurang sesuai karena bagi Al-Quran semua agama samawi bernama Islam sebagaimana terlihat dalam beberapa ayat yang dikutip sebelumnya.

[6]  Forms and Substance in the Religion, “Insights into Muhammadan Phenomenon”, 87-88

[7]   Forms and Substance in the Religion, “Insights into Muhammadan Phenomenon”, 87-88

 

← Back

Thank you for your response. ✨

Konflik-Sesama dan Kritik Dunia Modern

Sejarah mencatat sekitar seabad lalu Perang Dunia Ke-1 (PD I) berakhir setelah berkecamuk selama empat tahun dalam periode 1914-1918. PD I adalah jenis konflik masal antar sesama manusia (singkatnya, konflik-sesama) yang melibatkan kekerasan dan ketika penghilangan nyawa manusia dari pihak lawan dianggap sah (valid) secara moral dan bahkan dinilai semacam kebajikan (virtue). Momen berakhirnya konflik sejenis itu jelas suatu “kemenangan” bagi kemanusiaan dan bersifat historis sehingga layak bagi kita untuk merefleksikannya.

Kita dapat mulai refleksi dengan mengingat bahwa PD I adalah konflik-sesama bertaraf internasional yang melibatkan hampir semua negara Eropa bersama Rusia, Amerika Serikat (AS), Timur Tengah, dan wilayah-wilayah lainnya. Dalam konflik ini berhadapan dua kelompok kekuatan: di satu pihak ada Kekuatan Poros (Central Powers) dengan anggota utama Jerman, Austria-Hongaria, dan Turki, di sisi lain ada Kekuatan Sekutu dengan anggota utama Perancis, Inggris, Rusia, Italia dan Jepang di sisi lain. (AS menyusul kemudian pada tahun 2017.) Konon semua peserta peperangan ini merasa yakin akan memenangkan peperangan dalam hitungan bulan.

PD I dijuluki Perang Besar (Great War) dan julukan ini layak paling tidak dilihat dari besarnya korban. Menurut suatu laporan, PD I melibatkan sekitar 960 juta penduduk dengan korban: lebih dari 8 juta jiwa meninggal dalam peperangan, 2.3 juta jiwa warga sipil meninggal, 5.4-6.1 juta warga sipil yang meninggal akibat dari kekurangan gizi dan penyakit (di luar influenza), 15.4 juta jiwa yang meninggal atau 19 jiwa per 1000 penduduk, dan 22.1-23.7 juta personil korban luka dari kalangan militer[1].

Sejarah mencatat pula bahwa konflik dengan korban yang sangat besar ini tidak membuat kita (secara kolektif) merasa jera. Buktinya, sekitar dua dekade usai PD I berkecamuk Perang Dunia Kedua (PD II), perang global yang melibatkan banyak sekali negara yang tergabung dalam kekuatan Sekutu atau Poros. Perang ini melibatkan senjata yang jauh lebih merusak (termasuk senjata nuklir) dibandingkan dengan yang digunakan dalam PD I, ditandai oleh sejumlah peristiwa penting yang melibatkan kematian massal warga sipil termasuk Holocaust, memakan korban jiwa sebanyak 50- 70 juta jiwa, serta menegaskan reputasinya sebagai konflik yang paling mematikan sepanjang sejarah umat manusia[2].

Konflik yang mematikan akibat PD II ternyata tidak juga membuat kita jera. Buktinya, pasca PD II sejarah menyaksikan sejumlah peperangan lain: Perang Korea (1950-53), Perang Vietnam (1957-75), Perang Irak-Iran (1980-88), Perang Afganistan (2001-sekarang), Perang Irak (2003-11), Perang Libiya (2011-sekarang), Perang Syria (2011-sekarang), dan Perang Yaman (2015-sekarang). Semua peperangan ini tidak bersifat global tetapi bukan berarti tanpa korban jiwa dan tragedi kemanusiaan yang bersifat masif. Dua yang pertama pada umumnya dinilai sebagai “perang yang dimandatkan” (Inggris: proxy war) antara AS dengan sekutu PBB-nya melawan China-Rusia, sementara empat terakhir merupakan perang saudara disertai tragedi kemanusiaan meluas dalam lingkup regional. Bentuk tragedi itu antara lain pengungsian masal ke negara tetangga bahkan Eropa, pengungsi-lokal (internally-displaced persons), pekerja paksa (forced labour), degradasi tingkat kesejahteraan masyarakat, penyebaran wabah penyakit, bahkan kelaparan ekstrem.

pd1_100

Pertanyaan retrospektif yang layak layak-simak bagi kita secara kolektif adalah mengapa kita membiarkan terjadinya konflik-sesama sejenis itu. Banyak jawaban yang ditawarkan untuk pertanyaan semacam ini tetapi bagi orang semacam Guènon[3], peperangan atau semua bentuk kekacauan lainnya, merupakan implikasi logis dari cara-pandang-dunia budaya modern. Pandangan Guènon mengenai hal ini dapat kita simak dalam bukunya yang berjudul The Crisis of Modern World[4] yang dipublikasikan pasca PD I, tepatnya 1927.

Isi buku ini pada intinya menarasikan, dalam bahasa Martin Ling[5], “kritik tajam (penetrating critique) Guènon terhadap Dunia Modern dan penilaiannya mengenai kekacauan total dalam waktu dekat”. Gagasan pokok Guènon diungkapkan secara padat oleh Martin Ling dalam kutipan berikut[6]:

The rational, material, and secular worldview of modern science threaten to overwhelm realities that underlie the grand design of the natural world… Renè Guènon identified the deep chasm that separates ancient from modern, sacred from profane, and true knowledge from empirical science, a series of deep wounds such as can fully be helded (sic.) only by ending of this cosmic cycle and the beginning of another.

Pandangan duniawi yang rasional, material, dan sekuler dari ilmu pengetahuan modern yang mengancam realitas yang mendasari desain besar dunia alami … Renè Guènon mengidentifikasi jurang yang mendalam yang memisahkan dunia kuno dari dunia modern, yang sakral dari yang profan, dan pengetahuan sejati dari sains empiris, suatu rangkaian luka yang sedemikian parahnya sehingga seolah-olah hanya dapat diobati sepenuhnya dengan mengakhiri siklus kosmik ini dan dimulai lagi dari siklus yang lain.

Anak kalimat terakhir “suatu rangkai luka …” mengungkapkan keprihatinan Guènon yang mendalam terhadap ulah “manusia modern” yang bahkan terkesan putus asa. Keprihatinannya didasari oleh pengamatannya terhadap PD I dan isu yang terkait dengannya. Kita dapat membayangkan keprihatinan beliau jika sempat mengamati PD II, tragedi September 11, Tragedi Kemanusiaan Yaman-Syria-Rohingnya, dan sebagainya.

Terlepas dari kritik Guènon terhadap budaya Dunia Modern, alasan mendasar bagi konflik-sesama yang disertai penghilangan nyawa manusia barangkali dapat dikembalikan kepada tabiat manusia yang menurut “penilaian” malaikat suka “menumpahkan darah” [7] (Arab: yasfikud-dimaa). Wallahualam!

Mengapa kita membiarkan peperangan konflik sejenis itu berulang? Jangan-jangan karena kita termasuk makhluk yang lengah sebagaimana dilansir dalam teks suci:

Dan sungguh akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka (seperti) hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah[8].

Menurut teks suci ini kelengahan membuat kita bermartabat lebih rendah dari binatang ternak. MasyAllah!…@

[1] https://www.britannica.com/event/World-War-I

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Dunia_II

[3] Nama lengkapnya René Guénon (15 November 1886– 7/ January 1951) yang juga dikenl sebagai “Shaykh `Abd al-Wahid Yahya”.

[4] London: Luzac and Co., 1942; edisi dalam Bahasa Prancis terbit 1927.

[5] Martin Lings dalam “Introduction” buku The Essential Rene Guenon (2009:ix), World Wisdom.

[6] Ibid

[7] Al-Quran (2:30); yakni, Surat ke-2 Ayat ke-20.

[8] Al-Quran (7:179).

← Back

Thank you for your response. ✨