Dari Pertanyaan tentang Ada menuju Tanggung Jawab
What began as a question about reality has become a question about responsibility.
Apa yang bermula sebagai pertanyaan tentang realitas, kini—setidaknya untuk sementara—berujung pada pertanyaan tentang tanggung jawab.
LIMA BUKU. LIMA PINTU. SATU ARSITEKTUR REALITAS.
Beberapa bulan terakhir, saya terus bergulat dengan sebuah pertanyaan yang sepintas terdengar sederhana:
Apa itu realitas—dan apa yang dimintanya dari kita?
Semakin lama pertanyaan itu direnungkan, semakin jelas bahwa ia tidak dapat dijawab dengan satu konsep atau satu sudut pandang. Ia justru membuka pertanyaan-pertanyaan lain.
Apa sebenarnya yang kita sebut nyata? Bagaimana kita mengetahuinya? Apakah yang aktual merupakan seluruh kemungkinan yang ada? Apakah realitas bersifat statis, atau terus diperbarui? Dan akhirnya: jika kita mulai memahami sesuatu tentang realitas, apa konsekuensinya bagi cara kita hidup?
Perlahan saya menyadari bahwa kelimanya bukan pertanyaan yang terpisah.
Mereka adalah lima pintu menuju arsitektur yang sama.
Pintu I — Keberadaan
Apa itu realitas?
Reality is deeper than what appears.
Kita biasanya memperlakukan realitas sebagai sesuatu yang sudah jelas.
Pohon adalah pohon. Tubuh adalah tubuh. Dunia adalah apa yang terlihat di hadapan kita. Yang nyata seolah identik dengan apa yang dapat kita lihat, ukur, dan klasifikasikan.
Tetapi Fuṣūṣ al-Ḥikam Ibn ʿArabī mengusik kemapanan itu.
Ia mengajak kita bertanya kembali: apakah yang tampak sudah mencakup seluruh yang nyata?
Pintu pertama karena itu adalah Pintu Keberadaan—pintu ontologis. Ia tidak meminta kita menyangkal dunia yang terlihat. Ia meminta kita untuk tidak menganggap bahwa yang terlihat adalah keseluruhan realitas.
Do not deny the visible.
Do not mistake it for the whole of reality.
Begitu pertanyaan ini dibuka, dunia tidak lagi tampak sebagai kumpulan benda yang berdiri sendiri.
Realitas memperoleh kedalaman.
Tetapi segera muncul persoalan berikutnya.
Jika realitas lebih dalam daripada apa yang tampak, bagaimana kita mengetahuinya?
Pintu II — Pengetahuan
Bagaimana kita mengetahui realitas?
Information can be processed.
Reality must be encountered.
Di sinilah perjalanan berpindah dari ontologi menuju epistemologi—dari pertanyaan tentang apa yang ada menuju pertanyaan tentang bagaimana manusia mengetahui apa yang ada.
Pertanyaan ini menjadi semakin penting pada zaman ketika kecerdasan sering disamakan dengan kemampuan memproses informasi.
Mesin dapat menghitung. Algoritma dapat mengenali pola. Artificial intelligence dapat menghasilkan teks, gambar, prediksi, dan jawaban dengan kecepatan yang semakin mengagumkan.
Tetapi apakah mengetahui identik dengan memproses informasi?
Manusia tidak hanya menerima data tentang realitas. Kita mengalami, menafsirkan, memberi makna, meragukan, berharap, mencintai, dan bertanggung jawab terhadap apa yang kita ketahui.
Karena itu Pintu II membawa satu pengingat:
Knowing is more than computation.
Dan dari sini muncul pertanyaan berikutnya.
Jika apa yang aktual bukan seluruh realitas, mungkinkah realitas mengandung sesuatu yang belum menjadi aktual?
Pintu III — Kemungkinan
Apa yang bisa menjadi nyata?
The actual does not exhaust the possible.
Kita mudah mengira bahwa yang ada sekarang adalah ukuran dari apa yang mungkin.
Padahal aktualitas hanyalah apa yang telah menjadi nyata.
Ia belum tentu menghabiskan seluruh kemungkinan.
Pintu ketiga membawa kita ke wilayah imkān—kemungkinan, kontingensi, dan potensi. Di sini perhatian beralih dari apa yang sudah ada menuju apa yang dapat menjadi ada.
Pertanyaannya pun berubah.
Bukan lagi hanya:
Apa yang ada?
Tetapi:
Apa yang mungkin menjadi nyata?
Ini membawa implikasi yang jauh melampaui metafisika.
Manusia pun tidak harus dipenjara oleh aktualitas dirinya hari ini. Masyarakat tidak harus dianggap identik dengan kondisinya sekarang. Masa depan tidak harus diperlakukan sebagai pengulangan masa lalu.
What is actual is real.
But it is not the measure of everything that is possible.
Namun kemungkinan saja belum menjelaskan bagaimana realitas terus hadir.
Untuk itu kita perlu memasuki pintu berikutnya.
Pintu IV — Pembaruan
Bagaimana jika realitas terus-menerus diperbarui?
To exist is not merely to remain.
It is to be given again.
Tajallī membuka Pintu Keempat.
Di sini realitas tidak lagi dibayangkan sebagai gudang benda yang sudah selesai diciptakan lalu sekadar bertahan.
Realitas mulai dipandang sebagai penerimaan yang terus diperbarui.
Apa yang ada tidak memiliki keberadaannya dari dirinya sendiri. Keberadaan bukan kepemilikan absolut yang sekali diperoleh lalu menjadi milik kita.
Ia diterima.
Dan kesadaran ini mengubah cara kita melihat sesuatu yang paling biasa sekalipun: napas, waktu, kemampuan berpikir, kesempatan bekerja, perjumpaan dengan orang lain, bahkan datangnya satu hari baru.
Apa yang tampak biasa mulai terlihat sebagai sesuatu yang diberikan.
Existence is gift before it becomes possession.
Tetapi di titik inilah metafisika menghadapi pertanyaan yang tidak dapat dihindarinya.
Jika keberadaan adalah sesuatu yang diterima—
apa yang harus dilakukan oleh sang penerima?
Maka terbukalah pintu kelima.
Pintu V — Tanggung Jawab
Apa yang diminta realitas dari kita?
What is received as gift must be carried as trust.
Barangkali inilah pertanyaan yang diam-diam dituju oleh empat pintu sebelumnya.
Jika keberadaan kita tidak berasal dari diri kita sendiri; jika kemampuan, kesempatan, kecerdasan, kebebasan, dan kehidupan kita diterima sebelum dapat digunakan—maka metafisika tidak boleh berhenti pada pemahaman.
Ia harus menjadi tanggung jawab.
Di sinilah faqr bertemu dengan amānah.
Faqr mengatakan sesuatu yang radikal mengenai kondisi makhluk:
kita bukan sumber bagi diri kita sendiri.
Kita ada, tetapi tidak mengadakan diri sendiri. Kita bertindak, tetapi kemampuan untuk bertindak tidak kita ciptakan dari ketiadaan. Kita memiliki sesuatu, tetapi kepemilikan kita tidak pernah berarti bahwa kita adalah sumber terakhir dari apa yang kita miliki.
Namun faqr tidak menjadikan manusia pasif.
Justru di sinilah amānah masuk.
Apa yang diterima menjadi sesuatu yang harus diemban.
Kemampuan menjadi tanggung jawab.
Pengetahuan menjadi tanggung jawab.
Kebebasan menjadi tanggung jawab.
Kekuasaan menjadi tanggung jawab.
Faqr describes the condition of the creature.
Amānah describes the vocation of the human being.
Dengan demikian, manusia bukan sovereign yang berdiri sendiri.
Tetapi manusia juga bukan wadah pasif tanpa kehendak dan tanggung jawab.
Kita adalah penerima yang harus menjawab.
We are receivers—but we are answerable receivers.
Dari Realitas menuju Tanggung Jawab
Kini kelima pintu mulai memperlihatkan hubungan di antara mereka.
Keberadaan bertanya: Apa yang nyata?
Pengetahuan bertanya: Bagaimana realitas menjadi dapat diketahui?
Kemungkinan bertanya: Apa yang dapat menjadi nyata?
Pembaruan bertanya: Bagaimana keberadaan terus diterima?
Tanggung Jawab bertanya: Bagaimana sang penerima seharusnya menjawab?
Maka perjalanan itu bergerak:
Realitas → Pengetahuan → Kemungkinan → Pembaruan → Tanggung Jawab
Atau, dalam bahasa yang lebih personal:
I encounter reality.
I seek to know it.
I discover its possibilities.
I learn to receive it anew.
I become responsible for my response.
Pintu kelima karena itu tidak sekadar menambahkan satu ruang baru ke dalam arsitektur.
Ia mengubah makna seluruh perjalanan.
Sebab setelah sampai pada tanggung jawab, kita menyadari bahwa tujuan memahami realitas bukan hanya agar kita mempunyai gambaran dunia yang lebih benar.
Pemahaman harus mengubah cara kita hadir di dalamnya.
Understanding without response is incomplete.
Knowing must become care.
Masuklah melalui Pertanyaan yang Memanggilmu
Lima buku ini lahir pada waktu yang berbeda dan dari pertanyaan yang berbeda. Pada awalnya saya sendiri tidak sepenuhnya melihat bahwa mereka sedang membentuk sebuah rangkaian.
Baru setelah kelimanya berdiri berdampingan, pola itu mulai terlihat.
Mungkin demikian pula cara sebuah perjalanan intelektual bekerja.
Kita tidak selalu melihat arsitekturnya ketika sedang menyusun batu demi batu.
Kadang-kadang bentuk keseluruhannya baru tampak setelah kita berjalan cukup jauh.
Maka lima pintu ini tidak harus dimasuki dengan urutan yang sama oleh setiap orang.
Seseorang mungkin dipanggil oleh pertanyaan tentang realitas.
Yang lain oleh persoalan pengetahuan.
Yang lain lagi oleh kemungkinan, pembaruan, atau tanggung jawab.
Tidak masalah dari pintu mana kita mulai.
Yang penting adalah keberanian untuk masuk.
Enter through the question that calls you.
Baca satu, dan kita memasuki sebuah pertanyaan.
Baca kelimanya, dan mungkin sesuatu yang lebih besar perlahan mulai tampak:
bukan hanya lima buku,
bukan hanya lima pertanyaan,
melainkan satu arsitektur realitas—dan sebuah pertanyaan tentang bagaimana manusia seharusnya hidup di dalamnya.
**Nothing is ours by origin.
Everything is ours by trust.**
