Kita hidup di zaman aneh.
Di satu sisi, kita bisa ngobrol sama orang di seberang dunia lewat gawai kecil. Kita bisa beli apa aja tanpa keluar rumah. Kita bisa tahu cuaca besok, harga saham, sampai gosip artis dalam hitungan detik.
Tapi di sisi lain, banyak dari kita yang gelisah. Capek. Kayak ada yang kurang. Kayak ada yang hilang.
Pernah nggak, Bang, ngerasa dunia ini terlalu rame? Tapi hati kosong?
Pernah nggak, ngerasa hidup kita kayak naik treadmill: lari kenceng, tapi nggak kemana-mana?
Itu tandanya kita lagi kehilangan satu hal penting: realitas yang sesungguhnya.
—
Yang Keliatan vs Yang Beneran Ada
Dunia sekarang ini pintar banget bikin kita percaya sama realitas palsu.
– Uang, kita kira sumber kebahagiaan.
– Jabatan, kita kira sumber harga diri.
– Like dan follower, kita kira sumber pengakuan.
– Pasangan idaman, kita kira sumber ketenangan.
Padahal, semua itu cuma “realitas pinjaman.” Sementara realitas yang asli—yang bikin hati tenang, yang bikin jiwa teduh, yang bikin hidup bermakna—justru kita lupakan.
Kayak orang yang sibuk bersihin kaca jendela, tapi lupa kalau di luar jendela ada pemandangan gunung yang indah. Yang dibersihin cuma debu, yang dilihat cuma kaca, padahal gunungnya ada di depan mata.
—
Al-Ghazali Ketemu Ibn Arabi di Kopi Darat
Dalam buku The Forgotten Real, saya coba ngajak pembaca ngobrol santai sama dua tokoh besar Islam:
Al-Ghazali, orang yang dulunya profesor paling keren di zamannya. Tapi suatu hari dia sadar: “Ah, ilmu yang aku pelajari nggak bikin hatiku tenang.” Lalu dia tinggalin semua jabatannya, pergi ke padang pasir, dan mulai nyari yang bener-bener real.
Lalu ada Ibn Arabi, orang yang ngeliat dunia ini kayak cermin raksasa. Menurutnya, kita ini bukan sumber cahaya. Kita cuma cermin. Cahaya aslinya dari Allah. Tugas kita cuma satu: bersihin cerminnya biar nggak kusam.
Dua orang ini ngomongin hal yang sama: kita terlalu sibuk sama yang sementara, sampai lupa sama Yang Kekal.
—
Pertanyaan Buat Diri Sendiri
Coba, Bang, kita tanya diri kita sendiri:
– Apa yang paling aku takutkan kehilangan?
– Apa yang paling aku perjuangkan?
– Kalau semua yang aku punya hari ini hilang, apa yang tersisa?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu bisa ngasih tahu kita: apa sih realitas yang sebenernya kita cari selama ini?.
Kadang, kita nggak sadar kalau yang kita cari itu bukan uang, bukan jabatan, bukan pengakuan. Tapi ketenangan. Kepastian. Kedekatan sama Yang Maha Nyata.
—
Realitas Itu Nggak Pernah Pergi
Yang menarik: realitas yang asli itu nggak pernah pergi.
Kita yang sering pergi dari realitas.
Kita yang sibuk sama gadget, sampai nggak liat anak-anak kita tumbuh.
Kita yang sibuk sama target kerjaan, sampai nggak denger suara hati.
Kita yang sibuk sama gengsi, sampai nggak ngerasa nikmatnya jadi diri sendiri.
Realitas itu ada di mana-mana. Di nafas yang masuk dan keluar. Di senyum anak kita. Di suara adzan maghrib. Di rintik hujan di luar jendela.
Cuma, kita lupa memperhatikannya.
—
Pesan Terakhir
Buku The Forgotten Real ini bukan buku tebal yang bikin pusing. Ini buku ngopi bareng filsafat—serius tapi ringan, dalam tapi nggak bikin mumet.
Tujuannya cuma satu: ngingetin kita semua, bahwa realitas yang selama ini kita cari, nggak pernah pergi. Cuma, kita yang lupa ngeliat.
Jadi, mulai sekarang, coba sesekali lepas gadget. Lihat sekeliling. Hirup udara. Senyum.
Karena sebenarnya, yang asli itu udah ada di depan mata.
Mau tau gimana caranya ngeliat? Baca bukunya. Nanti ketemu di warung kopi buat ngobrolin.
—
The Forgotten Real — Buku tentang menemukan kembali apa yang sebenarnya nyata.
—
Ringkasan Singkat
| Yang Sering Kita Kejar | Yang Sebenarnya Kita Cari |
| Uang, jabatan, pengakuan | Ketenangan, kepastian, makna |
| Like, follower, popularitas | Kedekatan dengan diri sendiri |
| Target, prestasi, gelar | Ridha Allah dan ketenangan hati |
—
Catatan Kecil
Artikel ini adalah versi santai dari paper akademik yang saya tulis di Academia.edu dan LinkedIn. Kalau tertarik sama versi yang lebih dalam dan serius, silakan cek paper lengkapnya di Academia.edu—di situ saya bahas lebih mendalam tentang metafisika al-Ghazali, Ibn Arabi, dan relevansinya bagi kehidupan modern.
Tapi kalau cuma mau ngopi sambil mikir-mikir ringan, artikel ini cukup.
Selamat menemukan realitas yang terlupakan.

Tulisan reflektif yang sangat dalam tapi dibawain santai, pas banget buat ngingetin kita yang sering kecapekan ngejar hal-hal fana. Jadi penggebug kesadaran biar kita bisa hening sejenak dan balik fokus ke hal yang bener-bener nyata dan menentramkan jiwa.
tulisan ini, sangat menggugah hati dan pemikiran saya. yang selama ini juga merasakan bahwa semua ini adalah tidak nyata, saya merindukan masa masa lalu yang serba nyata. kalau lari 10 Km artinya saya berpindah tempat sejauh 10 km dari titik awal saya lari. So, kalimat –> “Pernah nggak, ngerasa hidup kita kayak naik treadmill”: lari kenceng, tapi nggak kemana-mana? ….. asli ini realita. jaman now, semuanya begitu serba halu.