Allahu Akbar yang Menolak Selesai

Catatan dari Paper 1 — seri “The Grammar of the Unreachable”

Pernahkah Abang dan Mpok memperhatikan satu kalimat yang kita ucapkan lebih sering dari kalimat apa pun di dunia ini? Kalimat yang keluar sebelum makan, sebelum tidur, sebelum perjalanan, sebelum menghadapi mertua, sebelum menghadapi ujian, bahkan sebelum membuka HP yang baterainya tinggal 3%?

Allahu akbar.

Coba perhatikan baik-baik. Kalimat ini tidak selesai. “Tuhan Maha Besar.” Lebih besar dari apa? Kok tidak ada objeknya? Kalau kata “besar” biasanya butuh pembanding—besar dari rumah, besar dari gunung, besar dari utang yang belum lunas—ini kok tiba-tiba menggantung begitu saja?

Nah, itu bukan kalimat yang cacat. Itu kalimat yang menolak diselesaikan. Karena begitu kita isi objeknya, kita sudah mengecilkan Tuhan. Kita sudah menaruh-Nya di atas timbangan yang bisa kita baca. Padahal Dia tidak muat di timbangan mana pun. Jadi kalimat itu sengaja dibiarkan menggantung—seperti pesan WhatsApp yang cuma “typing…” tapi tidak pernah terkirim, karena tidak ada kata yang cukup.

Tapi ini yang lucu—dan sekaligus agak bikin pusing. Bibir yang sama yang mengucapkan Allahu akbar juga mengucapkan rabbi. Tuhanku. Kata ganti orang pertama. Kita menyapa-Nya langsung, akrab, seperti bicara ke teman sendiri. Padahal baru saja kita akui Dia Maha Besar tanpa batas. Yang Tak Terjangkau kok disapa? Yang Tak Terkurung kok dinamai?

Kalau ini terjadi di dunia pesantren, ini seperti santri yang baru saja menulis esai “Pak Kiai itu manusia paling agung, tidak ada yang menandingi keilmuannya,” lalu di baris berikutnya menulis “Pak Kiai, saya minta izin pulang, uang saku saya habis.” Dua hal yang seolah bertabrakan, tapi ternyata tidak. Justru itulah keindahannya.

Al-Qur’an Tidak Menyelesaikan Paradoks, Ia Menghuninya

Dalam Paper 1 yang baru saja saya luncurkan, saya mengangkat Surah Al-Mulk ayat 1–2. Di sana Allah menyebut diri-Nya tabāraka—Maha Berkah, sumber keberkahan yang tak habis—lalu biyadihi al-mulk, di tangan-Nya segala kekuasaan. Tidak ada pembanding. Tidak ada “Tuhan paling kuat di antara yang kuat.” Tidak ada kategori. Ini yang dalam tradisi disebut tanzīh—transendensi murni. Tuhan tidak bisa disamakan dengan apa pun.

Lalu ayat berikutnya, dalam satu tarikan napas, ditutup dengan dua nama: al-‘Azīz dan al-Ghafūr. Yang Maha Perkasa. Dan Yang Maha Pengampun. Yang satu seolah berkata “Aku tak terjangkau.” Yang lain berkata “Aku dekat, datanglah.”

Al-Qur’an tidak memilih. Tidak mendamaikan. Tidak menyelesaikan. Ia menghuninya. Seperti kiyai yang menjawab pertanyaan santri dengan “iya dan tidak, tergantung”—bukan karena tidak tahu, tapi karena pertanyaannya memang lebih kecil dari jawabannya.

Dua Jalan yang Sama-Sama Buntu Kalau Sendiri

Di sini kita perlu waspada. Ada dua ekstrem, dan keduanya berbahaya.

Pertama, tanzīh tanpa tashbīh. Kalau kita terlalu sibuk menjaga transendensi, Tuhan bisa hilang di balik abstraksi kita. “Penyebab Pertama.” “Wujud Niscaya.” “Yang Absolut.” Semua istilah ini benar, tapi semuanya nama orang ketiga. Kita bicara tentang Tuhan, bukan kepada Tuhan. Akhirnya doa menjadi monolog yang dialamatkan ke… apa? Ke konsep? Konsep tidak bisa disapa. Konsep tidak bisa mendengar. Konsep tidak bisa mengampuni.

Kedua, tashbīh tanpa tanzīh. Kalau kita terlalu sibuk membuat Tuhan mirip kita, Tuhan jadi versi besar dari manusia. Tuhan punya tangan seperti tangan kita, marah seperti marah kita, senang seperti senang kita. Akhirnya doa jadi percakapan dengan manusia yang diperbesar. Ini juga bukan Tuhan Al-Qur’an.

Qur’an memegang keduanya dalam satu ayat: Laysa ka-mithlihi shay’, wa huwa al-Samī’ al-Baṣīr—”Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat” (Q 42:11). Satu kalimat. Dua register. Tanzīh di klausa pertama. Tashbīh di klausa kedua. Tidak dipilih. Tidak diselesaikan. Dihuni.

Batas Berpikir Bukan Kegagalan, Tapi Penolakan

Ada satu hal yang sering saya temui dalam diskusi: orang merasa bahwa karena Tuhan tak terjangkau, maka Tuhan tak dikenal. Karena tak terkurung, maka tak bisa disapa. Ini kekeliruan yang halus.

Batas pemikiran bukanlah kegagalan pengetahuan. Batas pemikiran adalah penolakan atas pengurungan. Kita boleh mengenal tanpa memiliki. Kita boleh menerima tanpa mengurung. Kita boleh berbicara tanpa membatasi.

La tudrikuhu al-abṣār—pandangan tidak menjangkau-Nya (Q 6:103). Tapi ini bukan tata bahasa ketiadaan. Ini tata bahasa kelebihan. Tuhan tidak tersembunyi karena jauh. Tuhan tak terjangkau karena setiap alat penjangkauan kita lebih kecil dari Dia.

Dan di ayat lain: Wa idhā sa’alaka ‘ibādī ‘annī fa-innī qarīb—”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat” (Q 2:186).

Dua ayat ini tidak bertentangan. Mereka adalah dua sisi dari satu realitas: Tuhan yang tak terkurung adalah Tuhan yang dekat.

Jadi, Doa Itu Apa?

Kalau tata bahasa ini benar, maka doa bukanlah aib metafisik. Bukan keberanian makhluk untuk bicara kepada Tuhan yang tidak perlu mendengar. Bukan pula monolog orang yang bicara ke langit kosong.

Doa adalah partisipasi dalam relasi yang Tuhan sendiri yang lebih dulu membangun. Yang Tak Terjangkau telah mengizinkan diri-Nya disapa. Dia memberi Nama-nama agar bisa diseru. Dia menyingkapkan diri tanpa terkurung.

Jadi kalau Abang dan Ning merasa doa itu canggung, merasa “ah, saya ini siapa, kok berani-beraninya bicara ke Tuhan”—ingat: bukan kita yang memulai percakapan ini. Tuhan yang membuka pintunya. Kita hanya masuk.

Dan pintu itu tidak pernah dikunci.

Ini adalah paper pertama dari lima. Paper berikutnya akan membahas tata bahasa Basmalah dan bagaimana du’ā’ bekerja di dalam qadar. InsyaAllah.