Assalamu’alaikum. Selamat datang di Pintu Ketiga, saudara-saudara.
Judulnya agak filosofis: Pintu Kemungkinan.
Atau kalau kata anak muda sekarang: What if…? Atau lebih keren lagi: Kira-kira, apa yang bisa jadi nyata, ya?
—
Ceritanya begini:
Kita ini sering banget terkecoh. Kita menganggap bahwa yang namanya “realitas” itu ya cuma apa yang sudah ada di depan mata. Kita lihat negara, kita lihat teknologi, kita lihat jabatan, kita lihat nasib yang udah digariskan—lalu kita bilang, “Ya sudahlah, ini sudah takdirnya.”
Padahal, kata saya—dan ini juga kata para filsuf—kenyataan itu belum tentu seluruhnya. Jangan salah kaprah.
Contoh gampang: biji sawo belum tentu pohon sawo. Iseng di kepala belum tentu jadi naskah ceramah. Keputusan hari ini belum tentu jadi nasib besok.
Nah, di sinilah Pintu Ketiga ini dibuka. Namanya: Pintu Kemungkinan.
—
Dalam ilmu kuno yang dipelajari oleh Ibn ‘Arabi—yang bukan orang Arab biasa, tapi sufi yang pikirannya seluwung—realitas itu dibagi tiga:
1. Wajib — yang harus ada, ya Allah lah.
2. Muhal — yang mustahil, ya kayak misalnya: “Mbah Kiai ikut balap motor.” Muhal!
3. Mumkin — yang mungkin. Ini yang penting.
Nah, yang namanya mumkin ini posisinya unik. Dia belum ada, tapi juga bukan tidak ada. Dia itu… bisa ada. Dan kata “bisa” ini yang mengubah segalanya.
Bayangin, kalau kita enggak punya kata “bisa”, hidup kita cuma kayak mesin fotokopi: mengulang-ulang yang sudah lalu. Tapi karena ada “bisa”, kita punya harapan, kita punya pilihan, kita punya keberanian untuk mencoba.
—
Ibn ‘Arabi lalu memperdalam dengan istilah yang bikin pusing tujuh keliling: a’yan tsabitah. Istilah kerennya: entitas tetap atau archetype. Tapi jangan dibayangkan seperti gudang di langit yang isinya benda-benda jadi. Bukan begitu.
Itu lebih kayak… gambaran ideal tentang segala sesuatu yang Allah tahu. Kayak cetak biru. Bukan barang jadi, tapi potensi yang siap diwujudkan.
Makanya penting:
Kalau kita salah paham, kita bisa membayangkan bahwa kemungkinan itu adalah gudang barang bekas. Padahal, kemungkinan itu adalah ruang terbuka bagi segala yang belum lahir. Sebuah pintu yang masih menunggu kita ketuk.
—
Dan ini, saudara-saudara, ternyata relevan banget sama zaman sekarang.
Coba lihat: algoritma medsos kita sudah bisa nebak kita mau beli apa, nonton apa, mungkin juga mau nikah sama siapa. Scary! Semua ditebak dari data masa lalu.
Tapi pertanyaan saya: Apakah masa depan manusia cuma statistik? Apakah kita cuma hitungan dari data-data yang lalu?
Masa lalu mengajarkan kita banyak hal, tapi masa depan bukanlah mesin fotokopi. Ada yang namanya terobosan, kejutan, rahmat, istidraj, atau bahkan takdir yang berubah.
—
Maka, membuka Pintu Kemungkinan ini sebenarnya adalah latihan kerendahan hati. Kita sadar bahwa alam semesta lebih besar dari yang sudah kita pahami. Manusia lebih kompleks dari yang sudah diukur. Dan masa depan lebih luas dari yang sudah diprediksi.
Apa yang sudah terjadi itu penting.
Tapi yang sudah terjadi bukanlah segalanya.
Kadang, peradaban ini mulai segar kembali ketika kita berani bertanya bukan hanya: “Apa yang sedang terjadi?” Tapi lebih dalam lagi:
“Apa yang bisa menjadi nyata?”
—
Nah, kalau pertanyaan itu sudah masuk ke hati, silakan masuk lewat pintu yang paling memanggilmu.
Tapi ingat: jangan buru-buru. Ambil kopi dulu, duduk, renungkan. Soalnya pintu ini nggak bisa dipaksa. Dia cuma terbuka untuk mereka yang punya hati yang lapang dan pikiran yang cair.
Dan kalau kamu sudah masuk, jangan heran kalau kamu mulai melihat dunia dengan cara yang berbeda. Bisa jadi, kamu akan mulai melihat lebih banyak kemungkinan daripada keterbatasan.
—
Sekian.
The Architecture of Reality, Pintu III: Kemungkinan.
Selamat merenung, dan jangan lupa baca doa sebelum memutuskan. Karena kadang, kemungkinan yang kita pilih, ternyata sudah Allah siapkan sejak lama.
Salam kiai kece!
