Kalau Ngaji Cuma di Mulut, Kapan Sampai ke Hati?

Catatan santai tentang ucapan yang belum jadi kelakuan

—

Ada satu ayat di Quran yang kalau dibaca sambil ngopi, bisa membuat tangan kita berhenti memegang gelas.

Yā ayyuhā alladhīna āmanū lima taqūlūna mā lā tafʿalūn. Kabura maqtan ʿinda Allāh an taqūlū mā lā tafʿalūn.

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan? Sungguh besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS al-Ṣaff 61:2–3)

Ayat ini bukan ayat yang lembut di telinga. Ia menampar, tapi dengan cara yang khas Quran—singkat, dan tidak bisa dielakkan. Tidak ada pengantar. Tidak ada “mohon maaf sebelumnya.” Langsung.

Dan yang menarik: ayat ini tidak sedang melarang orang berbicara. Quran sendiri penuh dengan perintah bicara—qul, qul, qul. Yang dikritik bukan bicara, melainkan bicara yang tidak sampai ke tangan dan kaki. Qawl yang tidak menjadi fiʿl. Ucapan yang berhenti di kerongkongan, tidak turun ke amal.

Kita semua tahu rasanya. Kita tahu ayat ini. Kita mungkin pernah menghafalnya waktu masih di TPQ. Tapi justru karena sudah tahu, kita sering lupa bahwa ayat ini sedang menunjuk kita—bukan orang lain di mimbar sebelah.

—

Kalau filsuf Yunani punya istilahnya

Sekitar seribu tahun setelah ayat ini turun, di belahan dunia yang sama sekali lain, seorang filsuf Prancis bernama Pierre Hadot menulis buku tentang filsafat Yunani kuno. Tesisnya sederhana tapi mengganggu: dulu, filsafat bukan pelajaran, tapi jalan hidup.

Orang Stoik tidak belajar filsafat untuk lulus ujian. Mereka belajar filsafat untuk berubah. Ada yang namanya exercices spirituels—latihan batin: merenungkan kematian, membayangkan musibah sebelum datang, mengingat bahwa hari ini bisa jadi hari terakhir. Bukan buat nulis buku, tapi buat membentuk diri.

Hadot lalu bilang sesuatu yang tajam: filsafat bisa mati bukan karena salah, tapi karena terlalu banyak dibicarakan dan terlalu sedikit dijalani. Filsafat yang cuma jadi wacana—logos yang lepas dari bios. Bicara yang lepas dari hidup.

Kalau kita dengar ini, jangan buru-buru bilang “nah, itu filsafat Barat.” Sebab ayat 61:2–3 sudah bilang hal yang sama jauh sebelum Hadot lahir—hanya saja dalam bahasa yang lebih tajam: kebencian di sisi Allah.

—

Jadi, kita ini bicara apa atau hidup apa?

Kalau mau jawaban lengkap baca saja paper di Academia.edu yang berjudul SPEAKING TRUTH: Pierre Hadot, Qur’an 61:2–3, and the Problem of Unbodied Discourse– (masih hangat, baru rilis kemarin sore)

Yang layak digarisbawahi dari paper itu adalah satu istilah keren unbodied discourse—ucapan yang belum berbadan. Maksudnya bukan ucapan yang salah. Bukan ucapan yang dusta. Tapi ucapan yang belum punya wujud dalam hidup orang yang mengucapkannya.

Contohnya sederhana saja.

Kita bicara tentang sabar—tapi begitu kena macet lima menit, kita sudah mengumpat.

Kita bicara tentang ikhlas—tapi begitu ada yang tidak mengucapkan terima kasih, kita mengingatnya setahun.

Kita bicara tentang tawakal—tapi begitu hasil tidak sesuai doa, kita mulai menyalahkan keadaan, menyalahkan orang, menyalahkan diri, menyalahkan Tuhan.

Kita bicara tentang zuhud—tapi begitu lihat barang bagus di marketplace, tangan lebih cepat dari akal.

Nah, ini bukan berarti kita munafik. Jangan buru-buru menuduh diri sendiri nifaq. Itu terlalu berat. Yang lebih tepat: kita sedang dalam perjalanan. Dan ayat ini sedang mengingatkan, bukan menghakimi.

Bedanya begini:

– Kalau kita tahu kita sedang dalam perjalanan, ayat ini jadi cermin.

– Kalau kita mengira kita sudah sampai, ayat ini jadi bumerang.

Kiyai-kiyai NU dulu sering mengingatkan: “Ora kabeh sing ngerti iku ngamal.” Tidak semua yang tahu itu mengamalkan. Dan itu sudah jadi penyakit lama umat manusia—bukan hanya kita.

—

Quran tidak cuma menegur, ia juga mengobati

Sisi menarik lainnya: Quran tidak berhenti di teguran. Ayat 61:4—dua ayat setelahnya—bilang: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka bangunan yang tersusun kokoh.”

Ayat ini seolah bilang: kalau kamu ingin ucapanmu berbadan, masuklah ke dalam barisan. Bukan barisan yang berteriak paling keras, tapi barisan yang rapat, yang saling menopang, yang tidak gampang goyah oleh angin.

Artinya, embodied truth—kebenaran yang berbadan—bukanlah proyek individu. Ia adalah proyek jamaah. Kita tidak bisa mengamalkan sendirian. Kita butuh kawan yang menegur, butuh guru yang mengingatkan, butuh lingkungan yang menjaga.

Di NU, ini yang disebut jamʿiyyah—kebersamaan. Bukan cuma kumpul, tapi saling menjaga. Kalau ada satu yang oleng, yang lain menopang. Bukan menertawakan.

—

 Al-Ghazālī dan Mullā Ṣadrā juga sudah lama bicara soal ini

Saya ingin sedikit menoleh ke dua tokoh yang mungkin tidak akrab bagi sebagian pembaca blog—tapi sebenarnya sangat dekat dengan kita.

Imam al-Ghazālī dalam Iḥyāʾ ʿUlūm al-Dīn pernah bilang: ilmu yang tidak membuat kita makin dekat kepada Allah itu bukan ilmu yang bermanfaat, tapi justru bisa jadi hujjah terhadap diri kita sendiri di hari kiamat. Artinya, ilmu yang kita kumpulkan bisa jadi bahan tuntutan, bukan bahan pembelaan.

Dan di al-Munqidh min al-Ḍalāl, al-Ghazālī bercerita tentang perjalanan panjangnya—dari yakin pada warisan ilmu, lalu goyah, lalu dihantam keraguan, sampai akhirnya menemukan keyakinan yang bukan cuma di kepala, tapi di seluruh diri. Bukan dari tidak tahu menjadi tahu, tapi dari tahu menjadi sadar.

Mullā Ṣadrā—filsuf besar dari Syiraz—lebih jauh lagi. Ia bilang: ilmu bukan cuma kumpulan informasi tentang realitas; ilmu adalah bagian dari proses di mana manusia menjadi. Orang yang tahu itu menjadi tahu. Pengetahuan bukan hanya isi otak, tapi bentuk wujud. Ada istilah yang ia pakai: ʿilm ḥuḍūrī—ilmu kehadiran—yang lebih dalam dari sekadar tahu tentang sesuatu.

Jadi kalau kita bilang kepada Kiyai: “Saya sudah tahu, Kiyai,” jawaban Kiyai biasanya: “Sudah tahu, tapi sudah jadi belum?”

Itulah pertanyaan Ṣadrā dalam bahasa yang lebih sederhana.

—

Jadi, ini soal filsafat Barat versus Islam?

Bukan. Ini bukan soal siapa yang lebih dulu, siapa yang lebih hebat, atau siapa meniru siapa.

Pierre Hadot tidak datang untuk menjelaskan Quran. Quran tidak butuh Hadot untuk menjelaskan dirinya sendiri. Tapi keduanya—dari dua horizon yang berbeda—menunjuk satu masalah yang sama: ucapan bisa benar di lidah, dan tetap salah di hidup.

Kita yang hidup di zaman ini bisa mengambil manfaat dari keduanya. Dari Hadot: kesadaran bahwa belajar itu bukan cuma mengisi kepala, tapi membentuk diri. Dari Quran: kesadaran bahwa ucapan kita dipertanggungjawabkan di hadapan Allah—bukan hanya di hadapan manusia.

Jadi ayat 61:2–3 itu bukan ayat yang menyeramkan. Ia ayat yang menyayangkan. Menyayangkan kalau kita sudah tahu banyak, tapi belum menjadi lebih baik. Menyayangkan kalau kita sudah ngaji bertahun-tahun, tapi belum berubah.

—

Penutup: Antara bicara dan mengerjakan

Di akhir paper itu, ada kalimat yang saya suka sekali:

> Between saying and doing lies the formation of the human being.

Antara bicara dan mengerjakan, di situlah manusia dibentuk.

Jadi jangan takut kalau kita belum sempurna. Jangan takut kalau ayat ini masih menunjuk kita. Justru kalau ayat ini masih menunjuk kita, artinya kita masih di jalan, masih di dalam proses, masih dalam bimbingan.

Yang berbahaya bukan orang yang tahu tapi belum mengamalkan. Yang berbahaya adalah orang yang tidak lagi merasa perlu mengamalkan karena merasa sudah tahu. Yang pertama masih bisa dibimbing. Yang kedua sudah menutup pintu.

Mari kita akhiri dengan satu doa yang sederhana—seperti doa Kiyai-kiyai dulu yang jarang panjang:

Rabbanā ātinā min ladunka raḥmah, wa hayyiʾ lanā min amrinā rashadā.

“Tuhan kami, berikanlah kami rahmat dari sisi-Mu, dan siapkanlah untuk kami jalan yang lurus.” (QS al-Kahf 18:10)

Dan mudah-mudahan, setelah membaca ini, tidak ada satu pun dari kita yang merasa lebih baik dari yang lain. Justru sebaliknya: kita makin sadar bahwa kita semua sedang belajar, sedang berjalan, dan sedang berharap.

Wallāhu aʿlam bi al-ṣawāb.