Menjadi Guru dan Murid yang Baik

Suka atau tidak, kita selalu memainkan peran guru sekaligus murid, paling tidak guru bagi anak-cucu dan murid dari para cerdik-cendekia yang masyhur. Karena kita tidak pernah sempurna maka upaya untuk menjadi guru dan murid yang baik merupakan tugas seumur hidup. Tulisan ini menyajikan catatan singkat mengenai upaya ke arah ini dengan menengok sejarah komunitas Muslim awal yang memang diberkati, khas dan unik[1]. Sebelumnya, demi kejelasan, berikut ini disajikan tinjauan sepintas mengenai arti dan fungsi guru.

Arti dan Fungsi Guru

Guru secara umum didefinisikan sebagai pribadi yang layak digugu dan ditiru atau diteladani. Oleh siapa? Oleh orang yang berguru atau murid. Gugu (Jawa) artinya mempercayai, menuruti, dan mengindahkan[2]. Jadi digugu artinya dipercaya, dituruti dan diindahkan. Sementara aspek gugu lebih terkait dengan unsur materi ilmu, aspek tiru dengan keteladanan.

Dalam definisi ini jelas unsur kepercayaan (Inggris: trust, Arab: amanah) sangat penting, kalau tidak paling penting. Seorang guru yang baik, dengan demikian, selain dituntut untuk menguasai materi ajar-didik serta teknik penyampaiannya, juga diwajibkan berperilaku yang layak dipercaya (Inggris: tustworthy, Arab: amin).

Dari sisi profesionalitas, fungsi guru mencakup fungsi-fungsi dosen, pembimbing, teladan, mentor, pelatih (coach), konsultan, dan sebagainya. Fungsi-fungsi ini tentu saja lebih menitik beratkan aspek gugu dari pada tiru. Dalam hal kredibilitas guru tentu beragam: ada yang layak digugu sekaligus ditiru semua ilmu dan perilakunya, ada layak digugu dan ditiru sebagian perilakunya, ada pula yang hanya dapat digugu tetapi tetapi layak ditiru. Dalam konteks ini murid yang baik dituntut memiliki daya kritis dan kreativitas.

Guru dan Murid Terbaik

Tetapi siapa guru dan murid terbaik? Menurut Matta (2010:30) murid terbaik adalah Nabi SAW dan murid terbaik adalah para sahabatnya:

Tidak ada guru sehebat nabi Muhammad Saw dan tidak ada murid sehebat sahabat radiallaahuanhum. Umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa yang membuat baik generasi pertamanya itu. Nabi sebagai guru terbaik tidak berkata-kata, bersikap dan bertindak kecuali dengan bimbingan dari Allah Swt. Sedangkan para sahabat mengisi hari-harinya selama dua puluh tahun dengan semua keteladanan gurunya itu secara kreatif dan independen.

Dari kutipan di atas tampak bahwa Nabi SAW menjadi guru terbaik karena dibimbing Rabb SWT dan sahabat menjadi murid terbaik karena meneladani Nabi SAW.

Bimbingan Rabb SWT menyebabkan Nabi SAW terbebas dari kesalahan (Arab: maksum), paling tidak demikianlah menurut keyakinan Muslim. Materi bimbingan-Nya sangat beragam. Nabi SAW dibimbing Rabb SWT, sebagai ilustrasi, soal identitas keagamaan terkait dengan Ahli Kitab. Dalam hal ini Rabb SWT menegaskan adanya bidang kesamaan (Arab: kalimatun sawa) antara Islam dengan dua agama samawi lainnya (Yahudi dan Kristen). Pada saat yang ditegaskan mengenai penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian pemeluk Yahudi dan Nasrani dan mengenai perbedaan orientasi keagamaan (teks: qiblah) dengan kedua pemeluk agama ini. Nabi SAW diingatkan mengenai perlunya ajakan untuk kembali kepada bidang kesamaan ketika berdialog dengan mereka, sekaligus diingatkan mengenai sia-sianya memaksakan kesamaan orientasi keagamaan (lihat Quran 2:145).

Bimbingan Rabb SWT tidak hanya terbatas pada urusan keimanan tetapi juga menyangkut perilaku beliau sebagaimana tersirat dalam dua peristiwa berikut:

  • Ketika Nabi SAW mengharamkan madu untuk dirinya akibat provokasi beberapa istrinya yang “cemburu”, Rabb SWT langsung menegur beliau melalui ayat ke-1 Surat At-Tahrim (ke-66). Surat ini juga mengingatkan kedudukan khusus istri Nabi SAW dan ancaman khusus (berlipat ganda) bagi mereka jika melakukan maksiat kepada Nabi SAW.
  • Ketika didatangi secara tiba-tiba oleh salah seorang sahabat yang buta dan menanyakan soal agama Nabi SAW sempat bermuka asam. Dalam ukuran normal sikap ini manusiawi karena ketika itu Nabi SAW tengah berada dalam suatu forum penting (high level meeting) dengan petinggi Kaum Quraisy dalam upaya untuk mengislamkan mereka. Tetapi dalam pandangan Rabb SWT sikap itu tercela sehingga Nabi SAW memperoleh teguran keras melalui Surat ‘Abasa (ke-80).

Nabi SAW bahkan dibimbing soal menggunakan kata-kata yang tepat (Arab: qaulan sadida, Quran 33:70) ketika berdakwah dan kata-kata yang halus tetapi tajam ketika berdebat (Arab: qaulan layyinan, Quran 20: 44). Yang terakhir ini dicontohkan melalui dialog antara Nabi Musa AS dan Fir’aun yang dinarasikan secara lugas oleh Natsir (2008:212-3).

Singkatnya, Nabi SAW memperoleh bimbingan Rabb SWT dalam semua bidang kehidupan Bimbingan itulah yang membuat Nabi SAW menjadi guru terbaik.

Sebenarnya ada faktor lain yang membuat Nabi SAW menjadi guru terbaik. Faktor itu adalah kemampuannya membangun “hubungan rasa” (meminjam istilah Natsir, terjemahan dari mawaddah fil qurba) antara beliau sebagai pembawa Risalah Islam dan Umat sebagai sasaran Risalah itu.

Jika Nabi SAW guru terbaik maka sahabat adalah terbaik karena “meneladani” Nabi SAW sebagaimana terlihat dalam kutip Matta di atas. Kata “meneladani alam konteks ini sebenarnya terlalu sederhana. Dalam kehidupan sehari-hari di era Rasul SAW sering turun Wahyu yang berisi pendidikan bagi para sahabat bahkan menjadikan mereka sebagai lawan bicara (Arab: mukhatabah). Mereka “diajari” oleh wahyu menegani hakikat dan penyebab kemenangan dan kekalahan mereka dalam Perang Badar dan Uhud, misalnya. Jadi, para sahabat dalam bebrapa hal dapat dikatakan memperoleh bimbingan Wahyu, tidak hanya meneladani Rasul SAW[3].

Bidang dan Materi Pendidikan

Sistem yang hebat membutuhkan manusia yang hebat. Sistem yang hebat tidak akan terwujud tanpa dukungan manusia hebat. “Hukum” sosial ini yang agaknya sangat dihayati oleh Nabi SAW. Oleh karena itu beliau mencurahkan perhatian yang sangat serius pada bidang pendidikan komunitas Muslim. Kebijaksanaan beliau membebaskan tahanan perang dengan cara mengajarkan baca-tulis kepada Komunitas itu mencerminkan besarnya perhatian itu.

Bidang pendidikan (tarbiyah) yang diajarkan Nabi SAW sangat luas. Luasnya bidang itu mungkin yang tercermin dari apa yang menjadi bidang keprihatinan  seorang ulama besar Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (lahir di Damaskus 691H). Bidang itu dirangkum oleh Hasan bin Ali al-Hijaz sebagaimana dikutip Matta (2010: 30-36: keimanan (taribyah Imaniayah), ruhiyah (ruh), fikriyah (pikiran), athifiah (persaan), akhlak (khuluqiyah), kemasyarakatan (ijtimaiyah), cita-cita (iradiyah), jasmani, dan seks (jinsiyah).

Dalam bahasa populer, apa saja yang materi bimbingan Nabi SAW kepada para sahabat?

Secara umum dapat dikatakan … mencakup semua aspek dan makna kehidupan: kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, kehidupan bertetangga, kehidupan bermasyarakat, makna dan tujuan hidup, keseimbangan antara hubungan vertikal dengan Allah SWT dengan hubungan horizontal antar sesama, nilai kebenaran, nilai kebaikan, nilai keadilan, nilai kemanusiaan, nilai ilmu, dan nilai keindahan. Quran mengajarkan semua materi itu Nabi SAW menjelaskan lebih lanjut dan bahkan mencontohkannya[4].

Daftar materi itu cukup lengkap untuk dijadikan modal membangun peradaban luhur (high civilization) sebagaimana dibuktikan dalam panggung sejerah oleh komunitas Muslim pasca generasi sahabat.

Sikap Kritis dan Pintu Ijtihad

Kembali kepada kutipan Matta di atas. Yang menarik untuk disimak ungkapan “kreatif dan independen” dalam kalimat terakhir. Tidak diketahui persis maksud ungkapan ini. Walaupun demikian dapat diduga ini terkait dengan daya kritis para sahabat mengenai masalah-maslah teknis operasional bidang muamalah (non-ibadah) dan di luar masalah keimanan. Artinya, para sahabat memiliki kemampuan untuk dapat membedakan ucapan dan perilaku Nabi SAW yang berasal dari bimbingan Rabb SWT dan mana yang bersifat perilaku pribadi.

Mengenai sifat kritis ini dapat dirujuk kasus Prang Parit (627) dan Perjanjian Hudaibiyah (628). Dalam kasus pertama Nabi SAW berpendapat untuk menyerang musuh di luar Kota Madinah. Pendapat ini bersifat pribadi sehingga dikoreksi oleh Salman Al-Farisi yang menyarankan untuk bertahan dalam Kota dengan cara menggali parit. Dalam kasus kedua, Umar RA protes berat karena menganggap perjanjian itu sangat merugikan Madinah. Bagaimana tidak merugikan karena dalam perjanjian itu ada klausul untuk mengembalikan orang Mekah yang pindah ke Madinah tetapi membiarkan orang Madinah yang pindah ke Mekah. Umar RA pada akhirnya menatai perjanjian itu setelah ditegaskan bahwa isi perjanjian itu berdasarkan Wahyu.

Dalam konteks lain, ilustrasi sikap kritis, “kreatif serta independen” seorang murid dicontohkan oleh Aristoteles (484-322 SM) dan Imam Syafii RA (767-819). Mereka sangat patuh dan menghormati guru mereka– Plato (424/3-348/7 SM) dan Imam Malik (711-795)– tetapi tetap bersikat kritis dan independen. Sikap ini yang memampukan mereka mengembangkan mazhab atau sistem pemikiran sendiri yang berbeda secara signifikan dengan mazhab guru mereka.

Sikap kritis ini diperlukan untuk membuka pintu ijtihad– “Mata Air Peradaban” menurut istilah istilah Matta (2010:41)– di bidang peradaban yang jelas-jelas tidak diatur dalam sumber primer (Wahyu-Sunnah). Penggunaan ijtihad sebagai sumber pengambilan hukum diberkati Nabi SAW (HR Abu Daud dan Tirmidzi). Ijtihad tentu mensyaratkan pemahaman agama yang mendalam, tafaqquh fid din, istilah Natsir (2008:165).

Singkatnya, sahabat sebagai “murid yang terbaik” Nabi SAW memiliki sikap kritis. Mereka mengisi supra-struktur Negara Madinah yang sistemnya adalah Islam (istilah Matta). Negara ini memiliki struktur layaknya suatu negara: tanah (Kota Madinah), jaringan sosial (persaudaraan Kaum Muhajirin dan Ansar) dan nota kesepakatan yang mengatur hubungan hidup bersama semua komponen masyarakat Madinah (Konstitusi Madinah). Tetapi bahan dasarnya adalah Islam dan Muslim: Islam sebagai sistem yang given dan Muslim yang mengoperasionalkan sistem itu. Sikap kritis memampukan mereka berijtihad sehingga membuat sistem itu berkibar dalam panggung sejarah.

Wallahualam….@

Referensi

Matta, M.H. Anis (2010), Dari Gerakan ke Negara, Fitrah Rabbani.

Natsir, M. (2008), Fiqhud Da’wah, Cerkan XIII, Yayasan Cipta Selecta dan Media Da’wah.

[1] Mengenai keunikan komunitas ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/02/3841/

[2] https://www.kamusbesar.com/gugu

[3] Uraian lebih lanjut dapat dilihat dalam https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/02/3841/

[4] https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/02/3841/

Advertisements

Agus Sang PNS

jibril1

Agus menatapi paras Si-kecil (6 bulan) yang tengah tidur lelap di samping putri sulungnya (3  tahun) yang juga lelap. Sore tadi Si-kecil terpapar demam yang mencemaskan. Ibunya dengan sigap membawanya ke dokter spesialis swasta yang bagi Agus bertarif terlalu mahal. Buktinya semalam ia mengeluarkan sepertiga honor bulanannya untuk sang dokter. Tetapi dalam hal dokter ini istrinya fanatik sehingga Agus hanya bisa mengurut dada. “Urusan kesehatan anak kok coba-coba”, argumen istrinya ketika Agus menyarankan untuk mencoba dokter umum atau Puskesmas. Di dua jenis pelayanan ini Agus dapat memanfaatkan BJPS Kesehatan sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya berarti.

“Sudah turun panasnya”.

Agus kaget mendengar suara istrinya yang dikira masih di belakang. Tetapi dia lega melihat istri terkesan lega.

“Jam tiga tadi dia baru tidur”, lanjut istrinya.

Agus membayangkan istrinya bergadang dan mungkin juga menggendong si kecil sesekali. Ia tidak tahu persis karena lagi “pisah ranjang”. Maksudnya, akhir-akhir ini dia biasa tidur di ranjang terpisah, bahkan di kamar berbeda.

Paling tidak ada empat alasan kenapa dia pisah ranjang. Pertama, Agus sering menerima telepon malam hari soal pekerjaan kantor dari atasan langsungnya, seorang ibu separuh baya yang terkenal taft. Agus tidak keberatan karena menganggapnya sebagai risiko kerja. Kedua, dia terkadang bangun malam untuk salat sunat yang dikhawatirkan mengganggu tidur istri dan anak-anaknya. Ketiga, ranjang di kamar tidur utama terlalu sempit untuk empat kepala. Keempat, istrinya tidak keberatan.

Setelah pamit kepada istri Agus dengan tenang mengendarai motor menuju stasiun KA terdekat. “Paling menelepon ibunya”, pikir Agus ketika mengantisipasi istrinya repot karena sakitnya di-kecil. Dia merasa beruntung punya mertua yang masih cekatan, memiliki waktu bebas setelah suaminya (mantan pejabat satu BUMN) meninggal, tinggal tidak jauh dari rumahnya, dan sayang cucu. “Sayang berlebihan”, pikir Agus.

Menekan Pengeluaran

“Masih pagi”, pikir Agus ketika melihat jam dinding stasiun KA masih merujuk pada angka 5.30. Dia terbiasa memanfaatkan Commuter Line pada jam ini menuju kantornya di kawasan Jakarta Pusat. Pagi ini ia beruntung berkesempatan duduk.

Sambil menikmati duduk dengan mata terpejam-agak-kantuk ia membayangkan paras si-kecil yang tadi sempat ditatapnya. Diam-diam dia berdoa agar si-kecil dikaruniai nikmat kesehatan. Harapannya, anak-anaknya tidak perlu terlalu sering ke dokter spesialis swasta yang mahal. “Naluri protektif keibuan yang berlebihan”, bisiknya dalam hati menilai istrinya.

Bagi Agus yang bergelar S2 dan sudah berkarier sebagai PNS hampir 10 tahun membayar dokter spesialis anak identik dengan pengurangan signifikan tabungannya yang tipis. Tahun ini, tabungannya menipis drastis karena dua macam pengeluaran: (1) biaya kelahiran si-kecil, dan (2) donasi sukarela biaya kuliah keponakan yang sudah yatim sejak usia SD. Yang terakhir ini jumlahnya lumayan besar tetapi dilakukan antara lain karena dorongan istri. Dalam hal kepekaan sosial istrinya layak diacungi jempol.

Walaupun tabungannya tipis Agus masih berharap tahun depan mampu menunaikan zakat. Tahun ini, untuk pertama kali dalam 5 tahun terakhir, ia tidak berzakat karena tabungannya di akhir waktu penghitungan tidak memenuhi nisab atau batas minimal untuk berkewajiban zakat.

Jam masih menunjukkan pukul 6.35 ketika Agus turun dari kereta di stasiun terakhir dan segera menyusuri trotoar jalan kaki ke kantor yang masih dalam rentang walking distance.

Kebiasaan jalan kaki dari stasiun terakhir ke kantor sudah dimulai setahun lalu. (Kebiasaan sebelumnya ngojeg.) Bagi Agus ini bagian upayanya untuk menekan pengeluaran. Upaya lainnya termasuk beberapa jenis pengurangan frekuensi: (1) frekuensi minum jus sirsak yang merupakan hobi beratnya, (2) frekuensi mentraktir istri makan bakso, dan (3) frekuensi menikmati double espresso di Starbucks Coffee yang juga merupakan hobi beratnya.

Menyempurnakan Tugas

Ketika memasuki ruang kerjanya dan baru menyalakan komputer Agus dipanggil menghadap Bos (besar). Ia segera melapor singkat ke atasan langsungnya. Kebetulan ia berada di kantor padahal pada jam itu bisanya belum hadir karena kesibukan luar. Agus melapor ke Ibu karena tahu itulah etika dan prosedur standar kantor.

Ketika menghadap Bos dia memperoleh  perintah singkat: “Ihsan, Bapak lusa akan menghadiri rapat antar-kementerian bertemakan B di Kementerian A. Kamu siapkan bahannya. Besok jam 8 sudah siap ya”. Agus merespons, “Siap Pak”. “Mohon izin bertanya Pak. Nama saya Agus, bukan Ihsan. Apa Bapak tidak salah panggil”.  Bos menjawab: “Oh tidak, tidak. Yang Bapak maksud memang kamu, tadi hanya salah sebut nama. Tadi pagi Bapak baru baca artikel bagus mengenai Ihsan, jadi keceplosan memanggilmu Ihsan”.

Agus lega mendengar penjelasan Bos. Sambil menuju ruang kerjanya ia mulai membayangkan rencana kerja untuk menyelesaikan tugas barunya ini. Sebelum mulai mengerjakannya ia melapor ke Ibu yang kali ini berbaik hati memberikan arahan singkat: “Untuk keperluan Bos kamu cukup menyiapkan pointers dan catatan ringkas, jangan bertele-tele”. “Siap Bu”, respons Ahmad.

Setelah melapor Agus langsung googling mencari informasi yang relevan mengenai Kementerian A dan Tema B. Maklum dia merasa awam soal keduanya. Ia menghabiskan sekitar satu jam untuk kegiatan ini sebelum akhirnya merasa memiliki bahan cukup.

Selesai googling dia mulai menyusun pointers sesuai arahan Ibu dan menggunakan waktu 90 menit untuk menyelesaikannya. Ia segera melapor ke Ibu yang menerimanya datar-datar saja. Ibu sempat memberikan sedikit koreksi walaupun kebanyakan (seperti biasanya) trivial, tidak substantif. Ia kembali ke komputernya untuk mengakomodasikan arahan Ibu walaupun menyadari sudah kehilangan sepertiga waktu istirahatnya.

Ketika menuntaskan pointers (dalam Words) sebenarnya ia telah menyelesaikan tugasnya menurut ukuran normal kantornya. Walaupun demikian ia merasa yang dilakukannya belum sempurna dan berniat untuk menyiapkan versi Power Point setelah makan siang. Dia bermaksud mengonsultasikan dengan Ibu mengenai idenya ini tetapi yang bersangkutan sudah keluar. “Tidak akan kembali sampai besok pagi”, kata sekretarisnya.

Ia melanjutnya niatnya menyiapkan Power Point yang dilengkapi logo kantor dan aksesori sederhana tetapi apik: “Biar besok pagi dikonsultasikan dengan Ibu”, pikirnya.

Usai menyelesaikan Power Point Agus masih belum puas. (Ia terkenal kreatif dan sedikit perfectionist.) Ia dapat membayangkan dalam rapat nanti Bos memiliki peluang memberikan sumbangan pikiran substantif. Agus meyakini kantornya memiliki ladang subur untuk menanam kebaikan bagi kepentingan masyarakat luas. Keyakinan ini yang selalu menyalakan semangatnya mengabdi sepenuh hati.

Didorong oleh pikiran ini ia berpikir untuk menyiapkan artikel singkat sebagai pelengkap Power Point: “Biar besok pagi hasilnya dikonsultasikan dengan Ibu”, pikirnya. Ia mulai menggarap artikel itu walaupun tidak selancar dugaannya. Penulisan artikel ternyata perlu diselingi googling untuk memperoleh evidence-based yang kuat dan argumen yang meyakinkan untuk menghasilkan artikel kredibel. Ia menyadari Bos-nya yang menyandang gelar PhD itu akrab dengan model artikel ilmiah.

Agus menyelesaikan artikelnya satu jam setelah jam-pulang-kantor sehingga harus berdesak-ria dalam kereta. ia tidak keberatan dengan situasi tidak nyaman itu karena menyadari sudah menjadi risiko kerja. Sebelum pulang ia sempat mem-print artikelnya. Niatnya, malam nanti kan memeriksa artikel agar lebih sempurna.

Paginya dia bersyukur memeriksa artikel karena ternyata masih mengandung beberapa kekurangan. Dia berangkat kerja lebih pagi untuk menyelesaikan penyempurnaan yang ternyata hanya butuh waktu 15 menit. Setelah menyelesaikan pekerjaan ini waktu menunjukkan pukul 7.30. “Masih ada waktu mengonsultasikan dengan Ibu”, pikirnya. Sayangnya yang bersangkutan belum ada di kantor. Ia menunggu sampai sekretaris menginformasikan Ibu baru siang nanti di kantor. Karena informasi ini ia menyerahkan seluruh hasil kerjanya langsung ke Bos karena sudah mendekati tenggang waktu yang diberikan.

Sabar, sabar

Setelah menyerahkan tugas ia merasa lega dan berniat untuk santai sejenak. Niatnya urung: ia dipanggil Ibu yang baru tiba dan di luar dugaan marah berat karena merasa dilangkahi: “Kenapa kamu menyerahkan hasil kerja ke Bos sebelum Aku periksa?, dst., dst., ..,,” Agus sempat terenyak dan hampir marah. Tetapi segera menyadari ia tengah berhadap dengan atasan. Amarahnya pun segera mereda: “Ya Bu”, responsnya pendek. Dengan lunglai ia kembali ke ruang kerjanya.

Di ruang kerjanya sempat terpikir oleh Agus bagaimana dirinya sering diperlakukan tidak adil oleh Ibu. Dua teman seangkatannya yang juga anak buah Ibu memperoleh promosi jabatan dua tahun lalu padahal “kinerjanya biasa-biasa saja” menurut teman sejawat. Tetapi Agus segera menyadari pikirannya itu berasal dari Setan sehingga ia segera bersistigfar. Ia merasa hampir menghujat kebijaksanaan Tuhan sehingga segera menangkan diri: “Sabar, sabar. Apa yang menjadi nasibmu adalah izin Tuhan dan ini berati yang terbaik bagimu”, bisiknya dalam hati.

Agus populer di kalangan teman-teman antara lain karena dinilai terlalu lama di posisinya sekarang. Normalnya, tiga tahun lalu ia sudah memperoleh promosi jabatan. Agus mengetahui penilaian koleganya tetapi sama-sekali tidak merasa terganggu. Ia tetap bermuka jernih ketika bekerja dan bergaul di lingkungan kantor.

Di lingkungan kantor Agus juga populer sebagai PNS yang baik: hampir tidak pernah terlambat tiba di kantor, rajin bekerja dan produktif-kreatif, selalu bermuka jernih dan tidak pernah melawan atasan.

Agus-Ahmad-Ihsan

Sebenarnya label “PNS yang baik” untuk sosok Agus terlalu sederhana. Ia mewakili sosok “PNS yang terpuji”. Label terpuji sesuai bagi Agus yang bernama lengkap Ahmad Agus: Ahmad (Arab) artinya terpuji.

Selain berlabel Ahmad, sosok Agus sebenarnya juga layak dilabeli Ihsan. Alasannya, Agus terbisa menyelesaikan tugas lebih dari yang dituntut secara formal yang menurut para ustaz merupakan ciri Ihsan. Kata ustaz Ihsan adalah “puncak kebaikan”; Ihsan tidak hanya melakukan pekerjaan secara sempurna menurut aturan, tetapi melakukannya dengan mengerahkan inteligensi (Inggris: intelligence, lebih luas dari pada mind), dan jiwa (Inggris: soul). Juga menurut ustaz, Ihsan memiliki kemampuan untuk memberikan donasi sukarela dalam keadaan sulit dan untuk menahan amarah. Semua ciri-ciri ini ada pada Agus bahkan sudah merupakan akhlak atau kebiasaan spontannya.

Demikianlah Agus, sang PNS. Dalam populasi PNS banyak Agus-agus lain yang jumlahnya cenderung meningkat. Walaupun demikian, kelompok ini tetap minoritas dan umumnya tidak berbakat untuk menarik perhatian atasan. Bagi mereka, mengasah bakat ini identik dengan mengaburkan nilai profesionalisme sejati….@

Belum Siap Melepas Ramadhan

ramadhan105

Sumber Gambar: Google

Begitu menyelesaikan dua rakaat terakhir tarawih berjamaah, seperti biasa, penulis keluar masjid yang berlokasi dekat rumah dan bersiap untuk pulang. Penulis biasa melakukan salat witir tiga rakaat untuk menutup tarawih di rumah sendirian pada tengah malam. Sejauh pengamatan, penulis adalah satu-satunya jamaah di masjid itu yang memiliki kebiasaan ini. Tapi tidak demikian halnya pada siklus tarawih terakhir (malam ke-29) kali ini: beberapa orang melakukan hal yang sama, termasuk seorang jamaah yang biasanya berada dalam saf pertama dalam jamaah, tepat di belakang Iman, posisi yang “riskan” karena harus siap menggantikan Imam jika terpaksa.

Ketika orang itu ditanya kenapa tidak ikut jamaah witir, jawabannya membuat penulis tercenung: “Rasanya belum siap melepas Ramadhan Ji!” “Malam ini niatnya mau melanjutkan tarawih sendiri di rumah, seperti haji”. Dia agaknya berprasangka baik kepada penulis. (Orang ini biasa memanggil penulis “Ji”, panggilan akrab, singkatan dari haji. Dia sendiri sudah haji setelah konon 17 tahun menabung.)

Dalam perjalanan pulang penulis sempat merenung apakah suasana-batin orang itu merepresentasikan suasana-batin Umat pada umumnya ketika menyadari bahwa siklus Ramadhan akan segera berakhir. Jika jawabannya “ya” maka dapat diduga bahwa bagi Umat, Bulan Ramadhan, berbeda dengan bulan lain, adalah bulan yang kedatangannya disambut gembira dan kepergiannya diiringi kesedihan khas yang membahagiakan, katakanlah kesedihan spiritual. Istilah ini tidak berlebihan karena pada bulan ini Umat menyandang kewajiban agama yang sekalipun ‘menyengsarakan” secara fisik tetapi menggairahkan secara spiritual. Lebih dari pada bulan-bulan lainnya, pada bulan ini Umat lebih serius menjalin hubungan positif baik secara vertikal dengan-Nya maupun secara horizontal antar-sesama; mudahnya, lebih rajin ibadah dan lebih gemar bersedekah. Rajin beribadah dan gemar bersedekah mungkin indikasi dari perasaan “manisnya Iman”. Wallahualam.

Sambutan gembira oleh Umat atas kedatangan Ramadhan terungkap dalam frase populer ‘Marhaban ya Ramadhan”; kesedihan mereka karena ditinggalkannya terungkap dalam narasi doa: “Rabb panjangkan umur hamba setahun lagi agar dapat bertemu dengan Ramadhan tahun depan”. Doa ini diajarkan Rasul SAW yang agaknya hanya dapat diungkapkan secara tulus oleh mereka yang menyadari bahwa umurnya secara hakiki berada di “jari”-Nya. Selain itu, doa semacam ini sangat realistis bagi kelompok lanjut usia yang secara demografis memiliki peluang lebih kecil untuk dapat bertemu Ramadhan tahun depan, dibandingkan dengan kelompok yang lebih muda.

Ketika berdoa seorang hamba wajar jika berharap dapat “jatah hidup” lebih dari setahun asalkan niatnya tulus sebagaimana diajarkan oleh Abdul Malik Mujahid dalam butir terakhir “doa malam terakhir Lailatul Qadr”[1]:

  1. Ya Allah, Engkau adalah perwujudan pengampunan, Engkau suka mengampuni, Tolong abaikan kekurangan hamba, O Pengampun, Ghafur, Tuhan yang Maha Pengampun.
  2. Ya Allah, mudahkanlah hamba berbuat baik dan tolong hamba mampu menghindari perbuatan buruk dalam segala situasi.
  3. Ya Allah, berilah hamba kesuksesan dalam semua urusan hidup ini dan yang urusan Selanjutnya.
  4. Tolong tingkatkan pengetahuan hamba dan berkatilah hamba dengan para guru yang luar biasa.
  5. Ya Allah, biarkan hamba meninggal dalam keadaan Iman yang paling mantap.
  6. Ya Allah, berkatilah umat ini, bimbinglah kami, dan satukan hati kami.
  7. Ya Allah, angkat hati hamba, lepaskan beban-beban hamba, dan jadikan hamba termasuk orang-orang yang menaruh kepercayaan penuh kepada-Mu dalam semua urusan.
  8. Ya Allah, tolong berkati hamba dengan kesempatan untuk melihat lebih banyak Ramadhan dan untuk melakukan ibadah yang jauh lebih baik dari pada yang telah hamba lakukan tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya.

Amin…@

[1] https://www.soundvision.com/article/duas-for-the-last-day-of-ramadan-and-eid.

 

Populasi Muslim: Besar, Sebaran Geografis dan Tantangan

Jika —kakakanlah saat bersantai menikmati secangkir kopi di suatu Cafe bandara internasional– Anda bertemu dengan tiga orang non-muslim, maka patut diduga Anda adalah seorang Muslim. Dinyatakan secara berbeda, secara rata-rata, satu-dari-empat populasi global adalah Muslim. Dugaan ini bukan tanpa dasar ilmiah karena dihitung berdasarkan teori peluang dan hasil kajian, seperti akan segera lihat, suatu lembaga riset yang dapat diandalkan.

Muslim: Urutan Kedua

Dugaan bahwa satu-dari-empat penduduk global  Muslim didasarkan pada hasil suatu analisis demografis oleh PEW Research Center (selanjutnya PEW) yang menunjukkan bahwa pada tahun 2015 ada sekitar 7.3 milyar penduduk global dan 1.8 milyar atau 24.1% di antarnya adalah Muslim[1]. Angka-angka ini menempatkan Islam pada urutan kedua agama terbesar dilihat dari jumlah pengikutnya, setelah Kristen yang diperkirakan memiliki pengikut sekitar 2.3 milyar atau 31.2% dari populasi global[2]. Menurut proyeksi PEW, sekitar tahun 2070 Muslim diperkirakan akan mengungguli Kristen karena alasan demografis: rata-rata anak per keluarga 2.2 bagi rumah tangga Kristen dan 2.7 bagi rumah tangga Muslim. Dengan angka kelahiran seperti itu maka Islam adalah agama tercepat pertumbuhan populasi penganutnya.

Ada tiga catatan yang layak disisipkan mengenai riset PW ini. Pertama, penentuan agama dalam studi ini didasarkan pada pengakuan responden (self identification).  Kedua, dalam penelitian ini istilah Muslim mencakup mazhab Suni maupun Syiah. Penggabungan dalam satu kategori (Islam) tepat karena perbedaan antara kedua mazhab dapat diabaikan karena tidak terkait dengan perbedaan teologis yang mendasar. Ketiga, istilah Kristen mencakup Katolik, Protestan, Ortodoks, dan Kristen lainnya. Katolik merupakan kelompok Kristen terbesar, diikuti oleh Protestan dan Ortodoks; populasi masing-masing, satu milyar, 850 juta dan 260 juta[3]. Penggabungan dalam satu kategori (Kristen) mungkin kurang tepat karena perbedaan antar kelompok ini sifatnya mendasar dilihat dari aspek perumusan teologis maupun praktik keagamaan[4].

Setelah Kristen dan Islam, “agama” apa yang terbesar dilihat dari populasi penganutnya? Jawabannya mungkin di luar dugaan kebanyakan: Tak-Beragama (Inggris: Unaffiliated). Mereka pada umumnya menagaku sebagai ateis, sekuler atau agnostik. Berapa jumlah mereka? Diperkirakan sekitar 1.2 milyar, atau hanya kurang 600 ribu dibandingkan populasi Muslim.

Urutan agama terbesar lainnya setelah kelompok Tak-Beragama adalah Hindu, Budha dan lainnya. Proporsi mereka terhadap populasi global masing-masing 15.1% dan 6.9% (lihat Grafik 1).

Sebaran Geografis Populasi Muslim

Secara geografis populasi Muslim tersebar: sebagai mayoritas di lebih dari 50 negara, sebagai minoritas di hampir setiap benua (lihat Grafik2).  Sekitar 20%: populasi Muslim global tinggal di kawasan MENA (Middle East and North Africa) atau Timur Tengah dan Afrika Utara, lebih dari 60% di Asia Tenggara, dan sekitar 20% di negara-negara non-Muslim utamanya India dan China

Dengan populasi Muslim sekitar 209 juta jiwa saat ini Indonesia merupakan negara Muslim terbesar. Posisi ke-2 dan ke-3 terbesar diduduki masing-masing oleh Pakistan dan India. Populasi Muslim di kedua negara itu masing-masing 176 juta dan 167 juta jiwa. Yang menarik untuk dicatat, diperkirakan pada tahun 2050 India akan menggeser posisi Indonesia sebagai negara Muslim terbesar. Pada tahun itu India diperkirakan akan menampung paling tidak 300 juta Muslim. Setelah India, dua urutan negara Muslim terbesar berikutnya adalah Bangladesh dan Nigeria dengan populasi Muslim masing-masing sekitar 134 juta dan 77 juta jiwa (Lihat Grafik 3).

Tantangan

Perkembangan teknologi komunikasi kontemporer semakin meningkatkan hubungan antar sesama. Pertanyaan bagi internal komunitas muslim adalah apakah hubungan ini memperkuat gairah mereka terhadap kesatuan ummah (Arab: ummatan wahidah) atau semakin membuka mata terhadap realitas keragaman ekspresi keislaman. Inilah pertanyaan yang mengenai “otentitas” dan “hibriditas” ekspresi keislaman. Bagi Riaz Hassan, perjuangan antara keduanya “menyajikan tantangan yang mungkin paling penting bagi globalisasi Umat Islam” ( represents perhaps the most important challenge of globalisation for the Muslim ummah[5]). Mengenai hibriditas ekspresi keislaman Riaz Hassan menulis:

Unlike in the past, when limitations of transport and communication technologies made it difficult for Muslims worldwide to acknowledge the cultural and social diversity of the ummah, the introduction of satellite television, internet, international travel, and access to books and magazines and increasing literacy is now making Muslims aware of their cultural and social diversity[6].

Wallahualam….@

 

[1] http://www.pewresearch.org/fact-tank/2017/04/05/christians-remain-worlds-largest-religious-group-but-they-are-declining-in-europe/. Hasil analisis ini berbeda dengan hasil perhitungan penulis sebagaimana disajikan dalam   https://uzairsuhaimi.blog/2017/06/27/muslim_popn/.

[2] https://uzairsuhaimi.blog/2017/06/27/muslim_popn/

[3] http://www.suarakristen.com/2015/02/22/statistik-tentang-kekristenan-sedunia-saat-ini/

[4] Lihat https://www.kaskus.co.id/thread/563ad0bc1cbfaa444a8b456e/perbedaan-kristen-dan-katolik/; juga, https://tuhanyesus.org/perbedaan-agama-kristen-dan-katolik.

[5] https://yaleglobal.yale.edu/content/globalizations-challenge-islam

[6] Ibid

Seri_Uzair_On_Puasa: Puasa Ramadhan dan Kebaikan Sempurna

Besok pagi sejak fajar (Kamis, 17 Mei 2018), milyaran Umat Islam sedunia mulai melaksanakan ibadah puasa. Mereka akan melakukan ibadah ini selama sebulan penuh, selama Bulan Ramadhan. Bagi Umat ibadah ini istimewa. Kenapa? Karena ibadah ini mendorong mereka untuk mengintensifkan ibadah lain yang bukan saja yang harus (wajib) tetapi juga yang disarankan (sunat), bukan saja yang terkait dengan hubungan vertikal dengan Rabb SWT, tetapi juga yang terkait dengan hubungan horizontal antar sesama. Lebih dari itu, selama Ramadhan, Umat melakukan semua ajaran agamanya bukan saja sesuai dengan ketentuan hukum agama (syariat), tetapi juga dengan semangat untuk melakukannya secara sempurna (ihsan). Mereka melakukan sejumlah amalan unggulan yang sangat ditekankan selama Bulan Ramadhan.

Sebagian dari amalan unggulan itu adalah salat malam (tarawih), tadarus (membaca Kitab Suci) dan itikaf (kegiatan di Masjid untuk merenung dan berdialog dengan diri-sendiri). Kegiatan-kegiatan ini diharapkan dapat mempererat hubungan vertikal dengan-Nya.

Selain itu, sebagian amalan unggulan itu adalah kegemaran berbagi makanan-minuman untuk berbuka puasa bagi orang lain yang berpuasa, bersedekah, menyantuni kaum duafa (fakir, miskin, yatim, dan kelompok rentan lainnya), menahan diri untuk tidak berbicara atau melakukan sesuatu yang sia-sia atau mubazir, serta menahan diri secara sabar dari gejolak amarah dan dorongan hebat syahwat seksual. Semua kegiatan ini diharapkan dapat membantu proses pendewasaan mental-spiritual serta mempererat hubungan horizontal dengan sesama.

Dengan melakukan amalan-amalan unggulan ini secara sungguh-sungguh, kita dapat berharap dikaruniai-Nya kemampuan untuk mendekati kebaikan sempurna (Arab: Ihsan; Inggris: perfect goodness). Apakah kebaikan sempurna? Salah jawabannya tertuang dalam kutipan berikut[1]:

… perfect goodness is an action of the heart that involves thinking according to the standards of truth; forming the intention to do good, useful things and then doing them; and performing acts of worship in the consciousness that God sees them. To attain perfect goodness, an initiate must establish his or her thoughts, feelings, and conceptions on firm belief, and then deepen that belief by practicing the essentials of Islam and training his or her heart to receive Divine gifts and illuminate it with the light of His manifestations. Only one who has attained such a degree of perfect goodness can really do good to others just for God’s sake, without expecting any return.

… kebaikan sempurna adalah tindakan hati yang melibatkan pemikiran menurut standar kebenaran; membentuk niat untuk melakukan hal-hal yang baik, berguna, dan kemudian melakukannya; dan melakukan ibadah dalam kesadaran bahwa Tuhan melihat mereka. Untuk mencapai kebaikan sempurna, seorang harus menetapkan pikiran, perasaan, dan konsepsinya pada keyakinan yang teguh, dan kemudian memperdalam keyakinan itu dengan mempraktikkan esensi Islam dan melatih hatinya untuk menerima karunia Ilahi dan meneranginya dengan cahaya manifestasi-Nya. Hanya orang yang telah mencapai tingkat kebaikan sempurna seperti itu yang benar-benar dapat berbuat baik kepada orang lain secara ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apa pun.

Tanpa mengharapkan imbalan tidak berarti tanpa imbalan. Imbalannya justru terjamin: “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula) (QS Ar-Rahman: 60). Sebagai catatan, ayat ini didahului oleh 14 ayat mengenai surga dan diikuti oleh 18 ayat yang juga mengenai surga. Gambaran mengenai nikmatnya kehidupan di surga dalam ayat-ayat itu luar biasa, jauh melampaui imaji kita yang paling liar sekali pun. Walaupun demikian, narasinya elegan dan jauh dari kesan vulgar. Nikmatnya kehidupan surga luar biasa, tetapi nikmat karunia rida-Nya melampauinya sebagaimana tercermin dari lantunan doa orang yang tengah berpuasa (Arab: shaimun) ketika siap menghadapi momen berbuka puasa pada senja hari: “….nasaluka ridhaka wal jannata…”.

Seperti catatan akhir, istilah kebaikan sempurna dalam konteks tulisan ini perlu dilihat sebagai arah atau titik rujukan (reference point), bukan status kebaikan yang dapat diraih oleh seseorang. Kenapa? Karena kebaikan sempurna pada hakikatnya hanya milik Dia SWT.

Wallahualam….@

[1] http://www.thewaytotruth.org/heart/ihsan.html

Agama-agama Samawi: Identifikasi Titik Temu

Kata samawi (Arab) identik dengan kata langit (Indonesia) sehingga istilah agama samawi dapat diganti dengan agama langit. Kata yang terakhir ini menegaskan bahwa sumber ajaran agama samawi, bukannya produk kebudayaan atau berasal dari dunia-bawah-sini, melainkan dari dunia-atas-sana (wahyu), sekalipun dimaksudkan sebagai pedoman hidup di dunia-bawah-sini. Dengan pengertian ini maka agama samawi mencakup semua agama, millah, tradisi[1] yang bersumberkan wahyu Allah SWT, sejak era Adam AS, Idris AS, Nuh AS, dan Ibrahim AS beserta keturunannya, sampai kepada Muhammad SAW. Tulisan ini memfokuskan pada tiga agama besar yang sampai kini masih ada yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam. Istilah agama samawi yang digunakan dalam tulisan ini terbatas hanya pada tiga agama ini.

Lembaran Buram

Sejarah mencatat hubungan antar umat agama samawi tidak selalu harmonis bahkan sering disertai konflik berdarah. Daftar konflik berdarah antar umat agama samawi dapat dibuat panjang tetapi lima kasus berikut ini agaknya memadai sebagai ilustrasi:

  • Akhir Abad 11: Pembantaian komunitas Yahudi dan Muslim di Yerusalem ketika aliansi Pasukan Salib merebut Kota Yerusalem;
  • Sekitar Abad 15: Pengusiran komunitas muslim dan pemaksaan pindah agama bagi komunitas Yahudi di sekitar Teluk Iberia pasca kekalahan penguasa sisa Imperium Umayah di kawasan itu;
  • Pertengahan Abad 20: Perlakuan buruk terhadap komunitas Yahudi di Eropa (Kristen) yang mencapai puncaknya pada peristiwa Holocaust;
  • Konflik Palestina: Permusuhan dan kekerasan berdarah di Palestina dan sekitar yang sampai kini masih berlangsung tanpa prospek penyelesaian yang jelas; dan
  • Konflik di sebagian kawasan di Timur Tengah dan Afrika Utara: Permusuhan dan kekerasan berdarah oleh para ekstremis dari sebagian kecil komunitas Muslim terhadap komunitas non-muslim (minoritas) bahkan terhadap kelompok muslim tertentu (Syiah, kelompok Sufi, dan sebagainya) yang sampai kini masih berlangsung yang juga tanpa prospek penyelesaian yang jelas.

Pertanyaannya: Kenapa kekerasan berdarah semacam itu dapat terjadi? Kita dapat merujuk pada hasil kajian historis maupun sosiologis untuk memperoleh jawaban terhadap pertanyaan itu. Walaupun demikian, dalam analisis terakhir, agaknya akan lebih bijak bagi kita “menyerah” (Arab: aslama, akar kata Islam) dengan mengatakan bahwa semua itu terjadi pada hakikatnya karena kehendak Tuhan SWT. Dari sisi manusia, harus diakui bahwa peristiwa kekerasan berdarah semacam itu menunjukkan kelemahan manusiawi kita secara kolektif atau rendahnya kedudukan (Arab: maqaam) spiritual kita secara berjamaah. Kelemahan manusiawi itu yang mungkin mengundang ketetapan-Nya berlaku. Wallahualam. (God knows better!)

Sebenarnya ada alasan yang lebih substantif kenapa konflik berdarah antar umat agama samawi seharusnya tidak terjadi. Alasan itu, sebagaimana akan kita lihat nanti, adalah Pilar Ihsan yang tercakup dalam Tradisi Ibrahimik: pilar ini menuntut upaya aktif dan proaktif untuk menyempurnakan realisasi dua pilar agama lainnya (Iman dan Islam), juga untuk memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal. Pilar Ihsan ini secara normatif menonjol dalam Tradisi Isa AS tetapi fakta historis Perang Salib menunjukkan lemahnya kesadaran kolektif di kalangan Umat Nasrani terhadap ajaran Ihsan. Kelemahan yang sama –kalau tidak lebih serius– kita temukan di kalangan Umat Yahudi maupun Umat Islam.

Pertanyaan lain yang lebih mendasar: Kenapa ada perbedaan agama? Jawaban mudahnya: sudah menjadi ketetapan atau kehendak-Nya. Selain itu, perbedaan agama pada hakikatnya memperlihatkan karakter supra formal wahyu yang satu tetapi sifat manusia membutuhkan perbedaan. Upaya untuk mempersatukan agama bukan saja mustahil dilakukan tetapi juga tidak perlu, seandainya itu mungkin. Dalam konteks ini, kutipan dari Frithjof Schuon berikut layak disimak:

The diversity of religions, far from proving the falseness of all the doctrines concerning the supernatural, shows on the contrary the supra formal character of revelation—or enlightenment—is one, but human nature requires diversity[2].

the unity of the different religion is not only unrealizable on external level, that of the form themselves, but ought not to be realized at that level, even were this possible, for in that case the revealed form would be deprives of their sufficient reasons[3].

Keturunan Ibrahim AS

Secara normatif, kekerasan berdarah antar penganut agama samawi mestinya tidak terjadi. Kenapa? Karena Yahudi, Nasrani dan Islam memiliki leluhur yang sama yaitu Ibrahim AS. Semua pembawa agama samawi– Musa AS untuk Yahudi, Isa AS untuk Nasrani dan Muhammad SAW untuk Islam— keturunan Ibrahim AS. Nabi besar ini bergelar Bapak Para Nabi dan gelar itu tepat karena semua rasul pasca Nuh AS yang namanya disebut dalam Al-Quran, semuanya keturunan Ibrahim SAW. Kekecualian dalam hal ini adalah Soleh AS, Hud AS dan Luth AS. Musa AS dan Isa AS adalah keturunan Ibrahim AS melalui jalur Ishaq, Muhammad SAW melalui jalur Ismail AS.

Tabel 1 menyajikan beberapa identitas empat Nabi besar agama samawi yaitu Ibrahim AS, Musa AS, Isa AS dan Muhammad AS. Pada tabel itu tampak bahwa tiga yang terakhir adalah keturunan Ibrahim AS. Yang pertama secara genealogis tersambung dengan Adam AS, sebagai keturunan ke-19. Termasuk dalam leluhur Ibrahim AS adalah Idris AS dan Nuh AS yang masing-masing keturunan Adam AS yang ke-6 dan ke-9. Semua nabi, bahkan semua manusia dan makhluk hidup lainnya, seterlah Era Nuh AS, adalah keturunan beliau atau yang diselamatkan oleh perahu beliau dari bencana bah yang bersifat global.

Gambaran umum mengenai jarak waktu antara era Ibrahim AS dengan era ketiga keturunannya itu dapat dilihat dari urutan keturunan (lihat Kolom 2 Tabel 1): Musa AS, Isa AS dan Muhammad SAW, masing-masing keturunan yang ke-8, ke-30 dan ke-33. Gambaran yang lebih cermat dapat dilihat dari periode kehidupan masing-masing nabi itu (Kolom 4): Ibrahim AS (1997-1822 SM), Musa AS (1527-1407 SM), Isa AS (1S M-32 M), dan Muhammad AS (570-632 M).

Yang menarik juga untuk dicatat adalah bahwa Musa AS ternyata “paling populer” diukur dari frekuensi penyebutan namanya dalam Al-Quran (Kolom 5): sementara Ibrahim AS, Isa AS dan Muhammad SAW disebut hanya 69, 21 dan 25 kali, Musa AS disebut sampai 136 kali.

Warisan Spiritual Ibrahim AS

Bapak Para Nabi ini mewariskan tidak hanya garis keturunan secara genealogis tetapi juga inti ajaran agama yang berbasis ajaran tauhid atau ajaran Keesaan Tuhan SWT. Argumentasi mengenai hal ini dapat ditemukan dalam sejumlah ayat Al-Quran antara lain:

  • Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan kepada Nuh dan apa telah kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya (42:13)[4];
  • (Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim) “berserah-dirilah! (Arab: aslim), Dia menjawab “Aku berserah diri (Arab: aslamtu) kepada Tuhan seluruh Alam (2:131);
  • Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya. Demikian pula Ya’kub, “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kemu mati kecuali dalam keadaan muslim (Arab: muslimun)” (2:132);
  • Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Ya’kub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab’ Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, smail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya berserah diri kepada-Nya (2:133); dan
  • Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka usahakan dan bagimu apa yang telah kamu usahakan. Dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang apa yang mereka kerjakan (2:134; juga 2: 141):

Kutipan ayat pertama menegaskan kesamaan inti ajaran agama-agama samawi sejak Nuh AS; kutipan ayat yang ke 2 s/d 4 menegaskan Islam sebagai nama agama Ibrahim AS serta keturunan-keturunannya, baik yang melalui jalur Ishak AS (Yahudi dan Nasrani), maupun Ismail AS (Islam). Jelasnya, Islam dalam narasi Al-Quran, sangat inklusif karena tidak hanya mencakup ajaran yang dibawa Muhammad SAW (Islam dalam pengertian populer). Dalam konteks ini patut disisipkan di sini karakterisasi Al-Quran mengenai ahli Kitab:

Mereka tidak seluruhnya sama. Di antara Ahli Kitab ada golongan yang jujur, mereka membaca atyat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (salat). Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebaikan. Mereka termasuk orang-orang yang saleh. Dan kebajikan apa pun yang mereka kerjakan, tidak ada yang mengingkarinya. Dan Allah maha mengetahui orang-orang yang bertakwa (3:113-115).

Sekalipun memiliki inti ajaran yang sama, Agama Yahudi, Nasrani dan Islam jelas memiliki bentuk, rumusan teologis mengenai ketuhanan, sejarah keumatan, serta siklus pewahyuan yang berbeda. Tetapi juga jelas wisdom qurani –kebijaksanaan berbasis ayat Al-Quran—bahwa perbedaan itu “bukan urusan kita” sebagai umat sebagaimana tersirat dalam kutipan nomor lima di atas (2:134). Ayat ini tampaknya sedemikian penting sehingga diulang dengan redaksi yang persis sama dalam (2:141). Yang juga jelas adalah wisdom qurani yang menegaskan “tidak ada paksaan dalam agama” (2:256).

Wisdom qurani dengan nada serupa dapat ditemkan dalam ayat lain yang pada intinya berupa seruan agar umat agama samawi lebih mengetengahkan kesamaan antar mereka (Arab: kalimatun sawa), bukan meruncingkan perbedaan:

Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan kita selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka) “Saksikanlah bahwa kami adalah orang muslim”  (3:64).

Perbedaan Penekanan

Kutipan ayat terakhir pada intinya seruan kepada ajaran tauhid yang merupakan inti dari ajaran agama samawi. Karena inti ajaran ini maka  agama samawi dikenal dengan sebutan agama monoteisme. Dalam Millah atau Tradisi[5] Ibrahim AS, pilar Iman (Faith) yang berkarakter ajaran tauhid ini sangat menonjol dan karakter ajaran itu yang diwasiatkan kepada keturunannya sebagaimana terungkap dalam kutipan-kutipan ayat terdahulu. Yang perlu dicatat adalah bahwa Millah Ibrahim AS mencakup juga dua pilar agama (Dien) yang lain yaitu Islam (Law) dan Ihsan (Way). Tetapi penekanan terhadap pilar pertama (Iman) sedemikian kuatnya sehingga dua pilar yang lainnya seolah-olah terserap dalam pilar pertama.

Berbeda dengan Millah Ibrahim, Tradisi Musa AS lebih menekankan pada pilar ke 2 (Hukum, Law) sedemikian sehingga dua pilar lainnya seolah-olah terserap dalam Pilar ke-2. Tradisi Isa AS lain lagi; penekanannya terletak pada Pilar ke-3 (Ihsan, Way); dua pilar lainnya seolah-olah terserap dalam Pilar ke-3 itu. Bagaimana dengan Tradisi Muhammad SAW? Hadits Jibril mengindikasikan bahwa Tradisi nabi terakhir ini mengetengahkan keseimbangan tiga pilar Dien ajaran agama samawi. Dalam narasi Schuon, Islam, for its parts, intend to contain these three elements side by side, thus in perfect equilibrium, whence precisely its doctrine of the three elements iman, islam, and ihsan[6].  Untuk memberikan gambaran yang lebih baik, berikut ini disajikan kutipan dari Schuon yang lebih lengkap:

In order to show in what way the Muslim religion considers itself to be the completion and synthesis of earlier monotheisms, we must first of all recall that its constitutive   elements are al-iman, al-islam, and al-ikhsan, terms that can be rendered, not literally but nonetheless adequate, as “Faith”, “Law” and “Way”. “Faith” corresponds to the first of the three monotheisms, that of Abraham; “Law” to the second, that of Moses; and the “Way” to the third, that of Jesus and Mary. In Abrahamism, the element of “Law” and “Way” are as it were absorbed in by element “Faith”; in Mosaism, it is the element of “Law” that predominates and that, as a result, absorbs the elements “Faith” and “Way”; and in Christianity, it is the element of “Way” that absorbs the two other elements. Islam, for its parts, intend to contain these three elements side by side, thus in perfect equilibrium, whence precisely its doctrine of the three elements iman, islam, and ihsan[7].

Jika diizinkan menggunakan analogi dalam trigonometri, kita dapat menyajikan konfigurasi tradisi Ibrahimik sebagaimana diiulstrasikan oleh Gambar 1. Pada gambar itu tampak sudut sangat besar (lebih dari 90 derajat) yang merepresentasikan Pilar Iman untuk konfigurasi Tradisi Ibrahim. Konfigurasi tradisi Musa AS dan tradisi Isa AS juga menyerupai segitiga yang sama tetapi dengan sudut sangat besar masing-masing pada Pilar Islam dan Pilar Ihsan. Konfigurasi tradisi Muhammad SAW berbeda; semua pilar memiliki sudut yang sama besar (60 derajat) sehingga membentuk segitiga sama-sisi (lihat Gambar 1).

Wallahualam…..@

[1] Dalam konteks ini istilah tradisi mengandung konotasi kepastian adanya hubungan dengan sumber awal. Dalam hal agama wahyu berarti Allah SWT.

[2] “No Activity Without Truth”, 4.

[3] Transcendent Unity of Religion, “Preface”, xxxiv.

[4] Angka yang pertama menunjukkan nomor surat Al-Quran, yang lainnya nomor ayat.

[5] Lihat catatan kaki 1 mengenai pengertian tradisi. Sekadar untuk membedakan, di sini kita menggunakan istilah Tradisi; istilah agama kurang sesuai karena bagi Al-Quran semua agama samawi bernama Islam sebagaimana terlihat dalam beberapa ayat yang dikutip sebelumnya.

[6]  Forms and Substance in the Religion, “Insights into Muhammadan Phenomenon”, 87-88

[7]   Forms and Substance in the Religion, “Insights into Muhammadan Phenomenon”, 87-88

 

Homo Islamicus: Perbandingan dengan Manusia Modern

Dalam kalimat pertama salah satu bukunya yang terkenal yaitu Understanding Islam[1], Schuon mendefinisikan Islam sebagai ajaran mengenai “Tuhan apa adanya dan manusia apa adanya”. Walaupun terkesan enteng, definisi ini sebenarnya relatif lengkap dan sangat padat: lengkap, karena sudah mencakup dua tema utama ajaran Agama Islam yaitu Rabb Alamin dan manusia; sangat padat, karena dinarasikan hanya dalam tujuh kata. Ketepatan definisi Schuon lebih jelas terlihat dalam uraiannya yang juga sangat padat mengenai dua kalimat kunci itu: “Tuhan apa adanya (God as such)”, dan “manusia apa adanya (man as such)”. Mengenai yang pertama Schuon memaknainya sebagai Dia yang Mutlak dalam diri-Nya, suatu makna yang tersirat dalam misteri kata hua[2]. Mengenai yang kedua dia merujuk pada manusia yang secara normatif sesuai dengan cetak-biru penciptanya, manusia yang belum “tercemari” oleh perdaban  modern. Tulisan ini memfokuskan pada makna manusia dalam pengertian ini yang oleh Nasr disebut sebagai Homo Islamicus[3].

Manusia Modern: Antropomorfisme

Makna Homo Islamicus tersirat dari perbandingkannya dengan Manusia Modern[4]. Sayangnya, istilah yang terakhir ini tidak mudah didefinisikan karena dua hal. Pertama, kita berada di dalam dunianya sehingga diperlukan refleksi untuk memahaminya dengan cara mengambil jarak kognitif. Kedua, diskusi mengenai modernitas pada umumnya memiliki tema tertentu (tematis) dalam pengertian bersifat sepotong-sepotong (parsial) sehingga jika dilihat secara keseluruhan tema modernitas akan tampak sangat beragam dengan rentang mulai dari dunia kekinian (contemporary) sampai hanya sekadar istilah sederhana seperti “inovatif” atau “kreatif”. Prinsip dasar atau nilai kebanaran ultimanya jarang sekali didiskusikan. Kelangkaan dalam hal kejelasan, ketepatan dan ketajaman mengenai prinsip dasar dan kebenaran ultima semacam ini sering kali menyebabkan diskusi mengenai modernitas –khususnya jika dikaitkan dengan agama– menjadi “panas”, emosional, dan kurang produktif. Kelangkaan semacam ini yang justru khas dalam arus-utama cakrawala pikir manusia modern

Kekecualian dari arus-utama dalam konteks ini adalah mazhab pemikiran tradisional[5]. Bagi mazhab ini modernitas tidak ada kaitannya dengan kekinian, kebaharuan (up-to-date), atau keberhasilan “menaklukkan” atau mendominasi dunia alamiah. Bagi mereka modern berarti segala sesuatu yang, seperti dinarasikan oleh Nasr[6],

… cut off from the transcendent, from the immutable principles which in reality govern everything and which are made known to man through revelation in its most universal sense. Modernism is thus contrasted with tradition (al-din).

… terputus dari yang transenden, dari prinsip-prinsip yang tak- terbantahkan yang dalam realitas mengendalikan semua hal, sesuatu yang dapat diketahui oleh manusia melalui wahyu dalam pengertiannya yang paling universal. Modernisme dengan demikian berbeda dengan tradisi (agama).

Apanya yang terputus? Yang terputus adalah keajekan dalam cara pandang dunia (worldview), khususnya mengenai posisi manusia di dalam jagat raya kesadaran. Menurut Nasr, selama “ratusan ribu tahun” hidup di muka bumi manusia mempertahankan tanpa putus pandangannya mengenai hubungannya dengan Tuhan dan alam dilihat sebagai ciptaan dan ayat (Teofani) Tuhan. Pandangan tradisional yang sudah berumur “ratusan ribu tahun ini’ oleh manusia modern “diputus” sejak sekitar abad ke-16[7] dengan menetapkan manusia sebagai satu-satunya kriteria kepastian kebenaran.

Modern thought, …, became profoundly anthropomorphic the moment man was made the criterion of reality. When Descartes uttered “I think, therefore I am” (cogito ergo sum), he placed his individual awareness of his own limited to self as the criterion of existence for certainly the “I” in Decrates assertion was not to be divine “I” who through Hallj exclaimed “I am the Truth (ana’l Haqq), the Divine “I” which according to tradition doctrine alone has the the right to say “I”.

Alam pikiran Modern, …, menjadi sangat antropomorfis dengan menjadikan manusia sebagai kriteria kebenaran. Ketika Descates[8] mengatakan “Aku berpikir, maka Aku ada”, dia meletakan kesadaran individualnya terbatas pada diri sebagai kriteria kepastian; “Aku” dalam penegasan Descartes bukan “Aku” ilahiah sebagaimana yang dikumandangkan Hallaj[9] “Aku adalah Kebenaran”, “Aku” ilahiah yang dalam pandangan tradisional hanya yang berhak mengatakan “Aku”.

Kutipan berikut ini diharapkan dapat memperjelas:

What happened in the post-medieval period in the West was that higher levels of reality became eliminated on both subjective and the objectives domains. There was nothing higher in man than his reason and nothing higher in the objective worlds.

Apa yang terjadi dalam setelah periode kegelapan (yakni sebelum era modern) di Barat adalah bahwa realitas yang lebih tinggi dihilangkan dalam kesadaran subjektif maupun objektif. Tidak ada di dalam manusia yang lebih tinggi dari pada pikirannya dan tidak ada dunia objektif yang lebih tinggi.

Dari dua kutipan di atas jelas mode pemikiran modern memosisikan pikiran manusia (human reason) sebagai satu-satunya acuan kebenaran subyektif maupun obyektif. Ini sangat berbeda dengan ilmu pengetahuan tradisional yang menganggap lokus dan wadah pengetahuan bukan semata-mata pikiran manusia tetapi Intelek Ilahiah (the Divine Intellect). Seperti ditegaskan Nasr, pengetahuan yang benar bukan didasarkan pada pikiran manusia tetapi pada Intelek milik realitas tingkat supra-manusia yang juga berfungsi memberikan pencerahan kepada pikiran manusia.

Homo Islamicus

Sangat berbeda dengan Manusia Modern, mode pemikiran Homo Islamicus menempatkan wahyu (revelation) dan intuisi intelektual (dhawq, kashf atau shuhud) sebagai lokus dan wadah pengetahuan. Seorang muslim melihat wahyu sebagai sumber utama pengetahuan dan menyadari kemungkinan memurnikan diri sehingga mencapai “pandangan hati” (eye of the heart, ‘ayn al– qalb) yang terletak di pusat keberadaannya, yang memungkinkannya memperoleh visi langsung mengenai realitas “surgawi” (supernal reality). Seperti diungkapkan Nasr, akhirnya, “ia menerima kekuatan pikiran untuk mengetahui tetapi pikiran ini senantiasa terkait dan memperoleh bantuan kekuatan wahyu di satu sisi dan intuisi intelektual di lain sisi”. Matriks berikut ini mempertegas perbedaan mode pemikiran antara Manusia Modern dengan Homo Islamicus.

Matriks: Kontras antara Manusia Modern dan Homo Islamicus

Isu Manusia Modern Homo Islamicus
Evolusi Manusia berevolusi dari ciptaan yang lebih rendah Sekalipun mengandung unsur nabati dan hewani manusia tidak berasal dari ciptaan lebih rendah. Manusia adalah “mahkota” ciptaan (ashraf al-makhluqat): Tuhan YME “meniupkan” ruh-Nya
Kebutuhan Kebutuhan manusia hanya bersifat kebumian (earthly needs). Kebutuhan manusia tidak terbatas pada sesuatu yang terkait dengan kebumian (terrestrial) tetapi kebutuhan lain yang lebih subtil (kebutuhan jiwa dan spiritual), pikiran yang bersumberkan wahyu dan intuisi intelektual.
Peran di bumi Penguasa bumi Memerintah bumi bukan atas nama dirinya tetapi sebagai khalifah-Nya yang dituntut pertanggung-jawaban. Pikiran tetapi dalam pengertian luas (sesuai dengan kata fikr dalam Bahasa Arab) yang terkait dengan meditasi dan kontemplasi, tidak semata-mata pikiran murni.
Sumber pengetahuan Pikiran dalam pengertian sempit (reason) Pikiran tetapi dalam pengertian luas (sesuai dengan kata fikr dalam Bahasa Arab) yang terkait dengan meditasi dan kontemplasi, tidak semata-mata pikiran murni.
Terminal terakhir Bumi sebagai terminal akhir perjalanan Hidup di bumi sekadar singgah dalam perjalanan ke terminal akhir yang sangat jauh.
Sumber: Diadaptasi dari Sayyid Nasr dalam “Reflection on Islam and Modern Life”, online library articles, http://www.worldwisdom.com

Dari uraian di atas tampak jelas perbedaan tajam antara mode pemikiran modern dan mode pemikiran Homo Islamicus. Bagi yang pertama, manusia dianggap sebagai bebas dari “surga”, menguasai sepenuhnya takdirnya, terikat tetapi juga penguasa bumi. Bagi yang kedua, manusia tidak sepenuhnya bebas dari “surga”, tidak sepenuhnya menguasai takdirnya, dan bukan sepenuhnya penguasa bumi. Demikian tajam perbedaan itu sehingga sangat sulit (kalau tidak mustahil) mengharmonikan keduanya.

Sinopsis: Ditinjau dari cara pandang dunia (worldview) dan mode pemikiran, Homo Islamicus dan manusia modern berbeda secara mendasar. Upaya mengharmonikannya sangat sulit kalau tidak mustahil dilakukan. Wallahualam …@

homo1

[1] World Wisdom Books, Inc. (1998). Nama lengkap Schuon adalah Frithjof Schuon (18/6/1907 – 5/5/1998); juga dikenal dengan nama Islamnya yaitu  Īsā Nūr al-Dīn.

[2] Misteri kata hua dapat diihat dalam bukunya yang berjudul Transfigurasi Manusia. Versi sederhananya dapat dilihat dalam https://uzairsuhaimi.blog/2017/04/21/tiga-puisi-misteri/

[3] Lihat Sayyid Nasr dalam “Reflection on Islam and Modern Life”, online library articles, http://www.worldwisdom.com. Semua kutipan Nasr dalam artikel ini merujuk pada artikel yang berjudul itu. Tulisan ini merupakan penyempurnaan tulisan serupa sebelumnya yang berjudul Homo Islamicus yang juga disajikan dalam blog ini tetapi sayangnya tidak bisa lagi diakses secara sempurna (corrupted).

[4] Kata modern pertama kali digunakan 1585 terkait dengan, atau ciri dari kekinian atau masa lalu yang belum lama (contemprary); atau melibatkan teknik, metode, atau ide baru (up-to date) (www.merriam- webster/dictionary).

[5] Istilah tradisional digunakan di sini sekadar untuk memudahkan. Istilah yang lebih tepat mungkin mazhab perenialis yang dipopulerkan oleh Schuon. Mazhab ini mengedepankan hakikat kebenaran abadi yang tanpa bentuk tetapi kemudian diberi “bentuk tertentu” oleh suatu agama dan tradisi.

[6]  Seyyed Hossein Nasr (1983), “Reflections on Islam and Modern Thought”, Studies in Comparative Religion, Vol. 15, No. 3 & 4. (Summer-Autumn, 1983). © World Wisdom, Inc. http://www.studiesincomparativereligion.com.

[7] Era modern dimulai kira-kira abad ke-16; jadi, belum lama (baru sekitar setengah milenium yang lalu) dalam rentang sejarah panjang umat manusia. Era ini diawali oleh peristiwa kejatuhan Konstantinopel tahun 1153, kejatuhan Muslim Spanyol dan penemuan Benua Amerika tahun 1992, dan reformasi Protetan Luther tahun 1517 (www.wikipedia/wiki/Modern_history).

[8] Pada tataran filosofis Descartes dapat dianggap sebagai “Nabi” manusia modern.

[9] Hallaj adalah tokoh sufi yang dihukum pancung karena perkataannya oleh para ulama ketika itu dianggap terlalu subtil untuk dapat dipahami oleh orang awam sehingga “berbahaya” bagi umat.