LIMA PINTU MENUJU ARSITEKTUR REALITAS

Dari Pertanyaan tentang Ada menuju Tanggung Jawab

What began as a question about reality has become a question about responsibility.

Apa yang bermula sebagai pertanyaan tentang realitas, kini—setidaknya untuk sementara—berujung pada pertanyaan tentang tanggung jawab.

LIMA BUKU. LIMA PINTU. SATU ARSITEKTUR REALITAS.

Beberapa bulan terakhir, saya terus bergulat dengan sebuah pertanyaan yang sepintas terdengar sederhana:

Apa itu realitas—dan apa yang dimintanya dari kita?

Semakin lama pertanyaan itu direnungkan, semakin jelas bahwa ia tidak dapat dijawab dengan satu konsep atau satu sudut pandang. Ia justru membuka pertanyaan-pertanyaan lain.

Apa sebenarnya yang kita sebut nyata? Bagaimana kita mengetahuinya? Apakah yang aktual merupakan seluruh kemungkinan yang ada? Apakah realitas bersifat statis, atau terus diperbarui? Dan akhirnya: jika kita mulai memahami sesuatu tentang realitas, apa konsekuensinya bagi cara kita hidup?

Perlahan saya menyadari bahwa kelimanya bukan pertanyaan yang terpisah.

Mereka adalah lima pintu menuju arsitektur yang sama.

Pintu I — Keberadaan

Apa itu realitas?

Reality is deeper than what appears.

Kita biasanya memperlakukan realitas sebagai sesuatu yang sudah jelas.

Pohon adalah pohon. Tubuh adalah tubuh. Dunia adalah apa yang terlihat di hadapan kita. Yang nyata seolah identik dengan apa yang dapat kita lihat, ukur, dan klasifikasikan.

Tetapi Fuṣūṣ al-ikam Ibn ʿArabī mengusik kemapanan itu.

Ia mengajak kita bertanya kembali: apakah yang tampak sudah mencakup seluruh yang nyata?

Pintu pertama karena itu adalah Pintu Keberadaan—pintu ontologis. Ia tidak meminta kita menyangkal dunia yang terlihat. Ia meminta kita untuk tidak menganggap bahwa yang terlihat adalah keseluruhan realitas.

Do not deny the visible.
Do not mistake it for the whole of reality.

Begitu pertanyaan ini dibuka, dunia tidak lagi tampak sebagai kumpulan benda yang berdiri sendiri.

Realitas memperoleh kedalaman.

Tetapi segera muncul persoalan berikutnya.

Jika realitas lebih dalam daripada apa yang tampak, bagaimana kita mengetahuinya?

Pintu II — Pengetahuan

Bagaimana kita mengetahui realitas?

Information can be processed.
Reality must be encountered.

Di sinilah perjalanan berpindah dari ontologi menuju epistemologi—dari pertanyaan tentang apa yang ada menuju pertanyaan tentang bagaimana manusia mengetahui apa yang ada.

Pertanyaan ini menjadi semakin penting pada zaman ketika kecerdasan sering disamakan dengan kemampuan memproses informasi.

Mesin dapat menghitung. Algoritma dapat mengenali pola. Artificial intelligence dapat menghasilkan teks, gambar, prediksi, dan jawaban dengan kecepatan yang semakin mengagumkan.

Tetapi apakah mengetahui identik dengan memproses informasi?

Manusia tidak hanya menerima data tentang realitas. Kita mengalami, menafsirkan, memberi makna, meragukan, berharap, mencintai, dan bertanggung jawab terhadap apa yang kita ketahui.

Karena itu Pintu II membawa satu pengingat:

Knowing is more than computation.

Dan dari sini muncul pertanyaan berikutnya.

Jika apa yang aktual bukan seluruh realitas, mungkinkah realitas mengandung sesuatu yang belum menjadi aktual?

Pintu III — Kemungkinan

Apa yang bisa menjadi nyata?

The actual does not exhaust the possible.

Kita mudah mengira bahwa yang ada sekarang adalah ukuran dari apa yang mungkin.

Padahal aktualitas hanyalah apa yang telah menjadi nyata.

Ia belum tentu menghabiskan seluruh kemungkinan.

Pintu ketiga membawa kita ke wilayah imkān—kemungkinan, kontingensi, dan potensi. Di sini perhatian beralih dari apa yang sudah ada menuju apa yang dapat menjadi ada.

Pertanyaannya pun berubah.

Bukan lagi hanya:

Apa yang ada?

Tetapi:

Apa yang mungkin menjadi nyata?

Ini membawa implikasi yang jauh melampaui metafisika.

Manusia pun tidak harus dipenjara oleh aktualitas dirinya hari ini. Masyarakat tidak harus dianggap identik dengan kondisinya sekarang. Masa depan tidak harus diperlakukan sebagai pengulangan masa lalu.

What is actual is real.
But it is not the measure of everything that is possible.

Namun kemungkinan saja belum menjelaskan bagaimana realitas terus hadir.

Untuk itu kita perlu memasuki pintu berikutnya.

Pintu IV — Pembaruan

Bagaimana jika realitas terus-menerus diperbarui?

To exist is not merely to remain.
It is to be given again.

Tajallī membuka Pintu Keempat.

Di sini realitas tidak lagi dibayangkan sebagai gudang benda yang sudah selesai diciptakan lalu sekadar bertahan.

Realitas mulai dipandang sebagai penerimaan yang terus diperbarui.

Apa yang ada tidak memiliki keberadaannya dari dirinya sendiri. Keberadaan bukan kepemilikan absolut yang sekali diperoleh lalu menjadi milik kita.

Ia diterima.

Dan kesadaran ini mengubah cara kita melihat sesuatu yang paling biasa sekalipun: napas, waktu, kemampuan berpikir, kesempatan bekerja, perjumpaan dengan orang lain, bahkan datangnya satu hari baru.

Apa yang tampak biasa mulai terlihat sebagai sesuatu yang diberikan.

Existence is gift before it becomes possession.

Tetapi di titik inilah metafisika menghadapi pertanyaan yang tidak dapat dihindarinya.

Jika keberadaan adalah sesuatu yang diterima—

apa yang harus dilakukan oleh sang penerima?

Maka terbukalah pintu kelima.

Pintu V — Tanggung Jawab

Apa yang diminta realitas dari kita?

What is received as gift must be carried as trust.

Barangkali inilah pertanyaan yang diam-diam dituju oleh empat pintu sebelumnya.

Jika keberadaan kita tidak berasal dari diri kita sendiri; jika kemampuan, kesempatan, kecerdasan, kebebasan, dan kehidupan kita diterima sebelum dapat digunakan—maka metafisika tidak boleh berhenti pada pemahaman.

Ia harus menjadi tanggung jawab.

Di sinilah faqr bertemu dengan amānah.

Faqr mengatakan sesuatu yang radikal mengenai kondisi makhluk:

kita bukan sumber bagi diri kita sendiri.

Kita ada, tetapi tidak mengadakan diri sendiri. Kita bertindak, tetapi kemampuan untuk bertindak tidak kita ciptakan dari ketiadaan. Kita memiliki sesuatu, tetapi kepemilikan kita tidak pernah berarti bahwa kita adalah sumber terakhir dari apa yang kita miliki.

Namun faqr tidak menjadikan manusia pasif.


Justru di sinilah amānah masuk.

Apa yang diterima menjadi sesuatu yang harus diemban.

Kemampuan menjadi tanggung jawab.
Pengetahuan menjadi tanggung jawab.
Kebebasan menjadi tanggung jawab.
Kekuasaan menjadi tanggung jawab.

Faqr describes the condition of the creature.
Amānah describes the vocation of the human being.

Dengan demikian, manusia bukan sovereign yang berdiri sendiri.

Tetapi manusia juga bukan wadah pasif tanpa kehendak dan tanggung jawab.

Kita adalah penerima yang harus menjawab.

We are receivers—but we are answerable receivers.

Dari Realitas menuju Tanggung Jawab

Kini kelima pintu mulai memperlihatkan hubungan di antara mereka.

Keberadaan bertanya: Apa yang nyata?

Pengetahuan bertanya: Bagaimana realitas menjadi dapat diketahui?

Kemungkinan bertanya: Apa yang dapat menjadi nyata?

Pembaruan bertanya: Bagaimana keberadaan terus diterima?

Tanggung Jawab bertanya: Bagaimana sang penerima seharusnya menjawab?

Maka perjalanan itu bergerak:

Realitas → Pengetahuan → Kemungkinan → Pembaruan → Tanggung Jawab

Atau, dalam bahasa yang lebih personal:

I encounter reality.
I seek to know it.
I discover its possibilities.
I learn to receive it anew.
I become responsible for my response.

Pintu kelima karena itu tidak sekadar menambahkan satu ruang baru ke dalam arsitektur.

Ia mengubah makna seluruh perjalanan.

Sebab setelah sampai pada tanggung jawab, kita menyadari bahwa tujuan memahami realitas bukan hanya agar kita mempunyai gambaran dunia yang lebih benar.

Pemahaman harus mengubah cara kita hadir di dalamnya.

Understanding without response is incomplete.
Knowing must become care.

Masuklah melalui Pertanyaan yang Memanggilmu

Lima buku ini lahir pada waktu yang berbeda dan dari pertanyaan yang berbeda. Pada awalnya saya sendiri tidak sepenuhnya melihat bahwa mereka sedang membentuk sebuah rangkaian.

Baru setelah kelimanya berdiri berdampingan, pola itu mulai terlihat.

Mungkin demikian pula cara sebuah perjalanan intelektual bekerja.

Kita tidak selalu melihat arsitekturnya ketika sedang menyusun batu demi batu.

Kadang-kadang bentuk keseluruhannya baru tampak setelah kita berjalan cukup jauh.

Maka lima pintu ini tidak harus dimasuki dengan urutan yang sama oleh setiap orang.

Seseorang mungkin dipanggil oleh pertanyaan tentang realitas.

Yang lain oleh persoalan pengetahuan.

Yang lain lagi oleh kemungkinan, pembaruan, atau tanggung jawab.

Tidak masalah dari pintu mana kita mulai.

Yang penting adalah keberanian untuk masuk.

Enter through the question that calls you.

Baca satu, dan kita memasuki sebuah pertanyaan.

Baca kelimanya, dan mungkin sesuatu yang lebih besar perlahan mulai tampak:

bukan hanya lima buku,

bukan hanya lima pertanyaan,

melainkan satu arsitektur realitas—dan sebuah pertanyaan tentang bagaimana manusia seharusnya hidup di dalamnya.

**Nothing is ours by origin.

Everything is ours by trust.**


Nahi-Munkar di Era Digital: “Buang Dulu Racunnya, Baru Obati” (Level Individu & Komunitas)

Bayangkan seorang dokter bijak. Menghadapi pasien keracunan, ia tak buru-buru memberi vitamin. Langkah pertama: keluarkan racunnya. Prinsip sederhana ini, yang diwariskan Imam Al-Ghazali, adalah kunci nahi-munkar di era digital. Sebelum kita membanjiri linimasa dengan konten baik (amar makruf), tugas pertama kita adalah membersihkan ‘tubuh’ digital kita dari racun. Ini bukan tentang menghakimi, tapi tentang menyelamatkan diri dan komunitas dari infoksifikasi yang mematikan akal dan hati.

Racun Digital Apa Saja yang Harus Dibuang? (Mengidentifikasi “Al-Munkar”)

  1. Racun Hati: Ujaran kebencian (hate speech), caci maki, bully, dan hoaks yang sengaja dibuat untuk menghasut.
  2. Racun Akal: Informasi palsu (fake news), teori konspirasi tak berdasar, dan konten yang merusak logika berpikir.
  3. Racun Waktu: Konten scroll tanpa ujung yang tidak memberi manfaat, hanya sensasi kosong (gosip, challenge berbahaya).
  4. Racun Nilai: Glorifikasi gaya hidup hedonis, materialistis, dan konten yang mendistorsi makna sukses & kepahlawanan (selebritas vs guru honorer).

“Buang Racun”: Nahi-Munkar Level Individu (Mulai dari Diri Sendiri)

1. Kontrol Asupan: Berani unfollow, mute, atau unsubscribe dari akun-akun penyebar racun. Algoritma mengikuti kita.

2. Jeda Sebelum Sebar: Ketika dapat informasi provokatif, STOP. Tanya: “Ini benar? Ini perlu? Ini bermanfaat?” (Filter THINK: True, Helpful, Inspiring, Necessary, Kind).

3. Bukan Sekadar Diam, Tapi Menolak Aktif: Berani memberikan koreksi santun (tagging privat) kepada teman yang menyebar hoaks. Atau, cukup dengan tidak ikut menyebarkan.

4. Kuras Grup Chat: Di grup keluarga/komunitas, ajak kesepakatan untuk tidak menyebar info tanpa verifikasi dan tidak saling mencaci.

Bagian 3: “Buang Racun”: Nahi-Munkar Level Komunitas (Gerakan Kolektif yang Cerdas)

(Dari personal action ke social action)

1. Buat “Perjanjian Anti-Racun”: Di grup RT, pengajian, atau organisasi, buat kesepakatan bersama: “Grup ini bebas hoaks dan cacian.”

2. Tunjuk “Dokter Digital”: Identifikasi anggota yang melek literasi digital. Beri ia mandat moral untuk meluruskan dengan lembut (bil hikmah) ketika ada racun yang masuk.

3. Alihkan, Jangan Konfrontasi: Saat ada postingan negatif, jangan diumbar debat. “Banjiri” dengan counter-narasi yang positif. Share kisah inspiratif lokal, prestasi anak bangsa, atau ilmu yang bermanfaat.

4. Bangun “Klinik Digital”: Buat forum atau kanal khusus (misal, grup WhatsApp “Ruang Literasi”) sebagai tempat bertanya dan klarifikasi informasi sebelum menyebar.

Baru Kemudian, “Obati” dengan Amar Makruf yang Relevan (Setelah ruang dibersihkan, isi akan lebih efektif)

  • Setelah lingkungan digital lebih bersih, baru konten-konten baik dari MuNu (kajian, edukasi, inspirasi amal usaha) akan lebih terdengar dan bermakna.
  • Amar makruf jadi lebih powerful karena tidak bersaing dengan kebisingan racun.

Penutup

Nahi-munkar digital bukanlah sikap puritan atau anti-kemajuan. Justru, ia adalah bentuk kedewasaan berteknologi. Dengan membuang racun dari gawai dan grup kita, kita sedang melakukan detoksifikasi kolektif—menjaga ‘fiqh sosial’ di ruang maya.

Ini adalah jihad peradaban yang bisa dimulai sekarang juga: dari jempol kita sendiri, dari grup WhatsApp kita yang paling kecil. Mulailah dengan satu langkah sederhana: pilahlah sebelum membagikan. Karena membersihkan racun adalah syarat pertama untuk membangun kekebalan.

#IslamBerkemajuan, #IslamNusantara, #MuhammadiyahNU, #DetoksDigital (utama), #NahiMunkarEraDigital

LAGI KACAU

Kita Tau Dunia Lagi Kacau, Ini Akar Masalahnya (Bukan Cuma Politik!)

Krisis iklim, kesenjangan sosial, perang—kita sering mikir solusinya cuma lewat teknologi atau kebijakan. Tapi menurut Islam, semua chaos ini ternyata punya satu akar yang sama: penyakit spiritual.

Penyakitnya dirangkum dalam “Segitiga Keruntuhan Spiritual”:

  1. Al-Hiras (Keserakahan Kompetitif): Gaya hidup “balikin story lu, gue unggah!”. FOMO yang bikin kita eksploitasi bumi dan saingin terus. QS. At-Takatsur: 1-2 udah ngingetin soal ini.
  2. Taghallub al-Hawā (Nafsu yang Jadi Raja): Pas keinginan duniawi jadi komandan, akal sehat & hati nurani kita dicuekin. Ini yang psikologi bilang the dictatorship of desires. QS. Yusuf: 53 ngingetin kalo nafsu emang jagonya suruh jahat.
  3. Al-Fasād (Kerusakan Sistemik): Ini hasil akhirnya. Yang parahnya, para perusak malah ngaku diri mereka “reformis”. Mengeksploitasi alam? “Ini buat pembangunan!”. Nindas yang lemah? “Ini buat stabilitas!”. Mereka udah ilang rasa realitas (QS. Al-Baqarah: 11-12).

Akibatnya? Krsis Lingkungan dan Krisis Sosial. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Lihat aja Diagram 1 dan Diagram 2.

Trus, ada harapan nggak? PASTI ADA.

Islam punya konsep #Fitrah . Sebelum lahir ke dunia, jiwa kita sudah melekat bahwa Allah itu Tuhan. Artinya, kompas moral buat bedain bener-salah sudah tertanam di dalam diri kita. Cuma aja, sering ketutup debu keserakahan dan kelalaian.

Tugas kita adalah “membersihkan debu” itu. Balik ke jati diri. Nabi Muhammad SAW juga ngasih kita jaminan lewat QS. Az-Zumar: 53: “Janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”

Jadi, solusinya dimulai dari kita. Gerakan pensucian jiwa (tazkiyatun nafs) bukan hanya membuat diri sendiri, tapi untuk mendorong perubahan sistem yang lebih adil dan berkelanjutan. Mari sembuhkan diri kita sendiri untuk menyembuhkan dunia.

Bermain Sepak Bola Tanpa Gawang

Dalam suatu ceramah, seorang kiai besar menganalogikan kita semua tengah bertanding sepak bola. (Bola Sepak, kata orang di negeri Jiran.) Tapi anehnya, sebagian kita tidak sadar tengah melakukannya. Sebagian lagi– sekalipun menyadari tengah melakukan pertandingan bola, dibekali keterampilan tinggi, serta dipenuhi semangat bermain– tidak mengenali tujuan atau gawang ke mana bola harus diarahkan. Sebagian di ataranya– sekalipun mengenali tujuan– tidak menatai aturan bermain Sepak Bola. Sisanya–  sekalipun bersedia menaati aturan– berharap memperoleh kemenangan tanpa lawan, cobaaan atau tantangan dari kesebalan lawan.

Sang Kiai, ketika menggunkan analoginya, sebenarnya tengah mengajarkan ilmu hikmah menggunakan satu kitab klasik yang sangat populer sedunia; yaitu, Al-Hikam. Kitab ini adalah karya Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari (Iskandariah, Mesir, 1250-1309), mursyid ketiga dari Thariqah Syadziliyah, yang hidup di masa kekuasaan Dinasti Mamluk[1].

Tetapi berbeda dengan model penceramah lain, ia menghendaki agar pelajaran AL-Hikam tidak hanya bersifat teoretis apalagi sekadar berfungsi sebagai aksesoris, untuk “gaya-gayaan”. Sebaliknya, Sang Kiai berkomitmen agar pelajaran Al-Hikam dapat memandu kehidupan  praktis sehari-hari para Salik.

Sang Kiai berkomitmen agar pelajaran Al-Hikam dapat memandu kehidupan praktis sehari-hari para Salik.

Apa itu Salik? Untuk mudahnya, Salik adalah orang yang tengah berada dalam perjalanan pulang kembali kepada Tuhan (istilah Qurani, rajiun). Dalam pengertian ini, Salik berlaku bagi semua orang, tanpa kecuali. Orang yang tidak menyadari status Salik ini yang dimaksudkan Sang Kiai dengan pemain bola yang tidak sadar tegah bermain bola.

Jalan yang ditempuh oleh Salik disebut Suluk. Karena Salik berlaku bagi semua orang maka hukum mempelajari Ilmu Suluk fardhu ‘aini, kata Sang Kiai; artinya juga berlaku umum. Dengan kata lain, bagi Sang Kiai, Ilmu Suluk bukan ilmu elitis!

Salik berlaku bagi semua orang,… hukum mempelajari Ilmu Suluk fardhu ‘aiani,… Ilmu Suluk bukan ilmu elitis!

Tanpa ilmu Suluk hidup kita jadi random (istilah orang statistik), tidak memiliki probability density function atau pdf (kata orang statistik), tidak memiliki pola, tidak memiliki tujuan. Itulah yang dimaksud dengan pemain bola yang tidak memiliki gawang (gawang lawan), ke mana bola harus diarahkan dengan mengerahkan segala daya-upaya-semangat (himmah, dalam istilah Al-Hikam, Hikmah ke-2).

Dalam menjalani Suluk tentu ada aturan yang harus ditaati berupa syariah (aturan umum) dan arahan mursyid (pembimbing Salik). Tanpa ketaatan itu maka mustahil bagi Suluk untuk menuju ke arah yang benar, bahkan berbahaya, serta sampai dengan selamat (wusul, istilah Sufi) ke tujuan akhir Suluk yaitu (keredaan) Tuhan. Itulah analogi dari ke-tidak-taat-an pada aturan permainan sepak bola.

Itulah “keanehan” sebagian besar kita. Ada lagi keanehan yang luar biasa, yang benar-benar absurd: ingin memperoleh kemenangan, bahkan ingin menjadi juara, tetapi tidak menghendaki tantangan dari kesebelasan lawan.

Tantangan dari kesebelasan lawan ini yang dalam kehidupan beragama disebut dengan cobaan (Rab: balaa). Tantangan ini harus dihadapi oleh semua orang, tanpa kecuali, suka atau tidak suka.

Mengenai cobaan ini Sang kiai mengutip ayat berikut (Quran 2:155-157):

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira bagi orang yang sabar.

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, Inna lillahi “wa inna ilahi wa iian ilaihi raji’un” (sesungguhnya kami miliki Allah dan kepada-Nya kami kembali).

Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petujnjuk.

Dari ayat ini jelas status Salik kita yang tengah “kembali” ke Tuhan (rojiun). Istilah rojiun  berlaku umum dalam semua situasi, bukan hanya dalam konteks kematian. (Menurut penuturan Sang Kiai, “kelas” Umat kebanyakan, bahkan  kebanyakan  kalangan cendekia dan pembesar kerajaan di negara Jiran, sampai saat ini, baru memahami rojiun dalam konteks peristiwa kematian.)

Istilah rojiun  berlaku umum dalam semua situasi, bukan hanya dalam konteks konteks kematian.

Sang Kiai menafsirkan ayat di atas sangat kontekstual.

Ketakutan: Kamtibmas;

Kelaparan dan kekurangan buah-buahan: Kecukupan pangan serta kecukupan gizi; dan

Kekurangan harta: kemiskinan struktural.

Dengan tafsir kontekstual semacam ini maka tidak mengherankan jika untuk menangani “cobaan” Sang Kiai berharap lebih banyak kepada kalangan negarawan-ilmuan-cendekiawan-birokrat dari kepada ulama.  Wawasan luar biasa bagi seorang kiai pesantren tradisional (salafiyah).

Sumber Gambar: Google

Sebagai catatan akhir, Sang Kiai yang dimaksudkan dalam tulisan ini bukan tokoh fiktif. Dia adalah tokoh riil, masih hidup, masih mengelola pesantren tradisional, ulama besar kalangan Nahdiyin yang akrab dengan Muhammadiyah, tokoh karismatik MUI, populer di negara-negara Jiran termasuk Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand. Nama beliau adalah K.H. Zezen Zaenal Abidin. Bagi yang berminat mengakses rekaman pengajian beliau mengenai AL-Hikam, silakan kunjungi alamat ini:

https://ceramahhikmah.blogspot.com/2015/05/ceramah-hikam-mp3-kh-zezen-zaenal-abidin.html#more.

[1] Lihat  https://www.qudusiyah.org/id/kajian/al-hikam/; juga http://nurulmakrifat.blogspot.com/2013/09/terjemah-kitab-al-hikam-ibnu-athaillah.html.

← Back

Thank you for your response. ✨

 

Menjadi Guru dan Murid yang Baik

Suka atau tidak, kita selalu memainkan peran guru sekaligus murid, paling tidak guru bagi anak-cucu dan murid dari para cerdik-cendekia yang masyhur. Karena kita tidak pernah sempurna maka upaya untuk menjadi guru dan murid yang baik merupakan tugas seumur hidup. Tulisan ini menyajikan catatan singkat mengenai upaya ke arah ini dengan menengok sejarah komunitas Muslim awal yang memang diberkati, khas dan unik[1]. Sebelumnya, demi kejelasan, berikut ini disajikan tinjauan sepintas mengenai arti dan fungsi guru.

Arti dan Fungsi Guru

Guru secara umum didefinisikan sebagai pribadi yang layak digugu dan ditiru atau diteladani. Oleh siapa? Oleh orang yang berguru atau murid. Gugu (Jawa) artinya mempercayai, menuruti, dan mengindahkan[2]. Jadi digugu artinya dipercaya, dituruti dan diindahkan. Sementara aspek gugu lebih terkait dengan unsur materi ilmu, aspek tiru dengan keteladanan.

Dalam definisi ini jelas unsur kepercayaan (Inggris: trust, Arab: amanah) sangat penting, kalau tidak paling penting. Seorang guru yang baik, dengan demikian, selain dituntut untuk menguasai materi ajar-didik serta teknik penyampaiannya, juga diwajibkan berperilaku yang layak dipercaya (Inggris: tustworthy, Arab: amin).

Dari sisi profesionalitas, fungsi guru mencakup fungsi-fungsi dosen, pembimbing, teladan, mentor, pelatih (coach), konsultan, dan sebagainya. Fungsi-fungsi ini tentu saja lebih menitik beratkan aspek gugu dari pada tiru. Dalam hal kredibilitas guru tentu beragam: ada yang layak digugu sekaligus ditiru semua ilmu dan perilakunya, ada layak digugu dan ditiru sebagian perilakunya, ada pula yang hanya dapat digugu tetapi tetapi layak ditiru. Dalam konteks ini murid yang baik dituntut memiliki daya kritis dan kreativitas.

Guru dan Murid Terbaik

Tetapi siapa guru dan murid terbaik? Menurut Matta (2010:30) murid terbaik adalah Nabi SAW dan murid terbaik adalah para sahabatnya:

Tidak ada guru sehebat nabi Muhammad Saw dan tidak ada murid sehebat sahabat radiallaahuanhum. Umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa yang membuat baik generasi pertamanya itu. Nabi sebagai guru terbaik tidak berkata-kata, bersikap dan bertindak kecuali dengan bimbingan dari Allah Swt. Sedangkan para sahabat mengisi hari-harinya selama dua puluh tahun dengan semua keteladanan gurunya itu secara kreatif dan independen.

Dari kutipan di atas tampak bahwa Nabi SAW menjadi guru terbaik karena dibimbing Rabb SWT dan sahabat menjadi murid terbaik karena meneladani Nabi SAW.

Bimbingan Rabb SWT menyebabkan Nabi SAW terbebas dari kesalahan (Arab: maksum), paling tidak demikianlah menurut keyakinan Muslim. Materi bimbingan-Nya sangat beragam. Nabi SAW dibimbing Rabb SWT, sebagai ilustrasi, soal identitas keagamaan terkait dengan Ahli Kitab. Dalam hal ini Rabb SWT menegaskan adanya bidang kesamaan (Arab: kalimatun sawa) antara Islam dengan dua agama samawi lainnya (Yahudi dan Kristen). Pada saat yang ditegaskan mengenai penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian pemeluk Yahudi dan Nasrani dan mengenai perbedaan orientasi keagamaan (teks: qiblah) dengan kedua pemeluk agama ini. Nabi SAW diingatkan mengenai perlunya ajakan untuk kembali kepada bidang kesamaan ketika berdialog dengan mereka, sekaligus diingatkan mengenai sia-sianya memaksakan kesamaan orientasi keagamaan (lihat Quran 2:145).

Bimbingan Rabb SWT tidak hanya terbatas pada urusan keimanan tetapi juga menyangkut perilaku beliau sebagaimana tersirat dalam dua peristiwa berikut:

  • Ketika Nabi SAW mengharamkan madu untuk dirinya akibat provokasi beberapa istrinya yang “cemburu”, Rabb SWT langsung menegur beliau melalui ayat ke-1 Surat At-Tahrim (ke-66). Surat ini juga mengingatkan kedudukan khusus istri Nabi SAW dan ancaman khusus (berlipat ganda) bagi mereka jika melakukan maksiat kepada Nabi SAW.
  • Ketika didatangi secara tiba-tiba oleh salah seorang sahabat yang buta dan menanyakan soal agama Nabi SAW sempat bermuka asam. Dalam ukuran normal sikap ini manusiawi karena ketika itu Nabi SAW tengah berada dalam suatu forum penting (high level meeting) dengan petinggi Kaum Quraisy dalam upaya untuk mengislamkan mereka. Tetapi dalam pandangan Rabb SWT sikap itu tercela sehingga Nabi SAW memperoleh teguran keras melalui Surat ‘Abasa (ke-80).

Nabi SAW bahkan dibimbing soal menggunakan kata-kata yang tepat (Arab: qaulan sadida, Quran 33:70) ketika berdakwah dan kata-kata yang halus tetapi tajam ketika berdebat (Arab: qaulan layyinan, Quran 20: 44). Yang terakhir ini dicontohkan melalui dialog antara Nabi Musa AS dan Fir’aun yang dinarasikan secara lugas oleh Natsir (2008:212-3).

Singkatnya, Nabi SAW memperoleh bimbingan Rabb SWT dalam semua bidang kehidupan Bimbingan itulah yang membuat Nabi SAW menjadi guru terbaik.

Sebenarnya ada faktor lain yang membuat Nabi SAW menjadi guru terbaik. Faktor itu adalah kemampuannya membangun “hubungan rasa” (meminjam istilah Natsir, terjemahan dari mawaddah fil qurba) antara beliau sebagai pembawa Risalah Islam dan Umat sebagai sasaran Risalah itu.

Jika Nabi SAW guru terbaik maka sahabat adalah terbaik karena “meneladani” Nabi SAW sebagaimana terlihat dalam kutip Matta di atas. Kata “meneladani alam konteks ini sebenarnya terlalu sederhana. Dalam kehidupan sehari-hari di era Rasul SAW sering turun Wahyu yang berisi pendidikan bagi para sahabat bahkan menjadikan mereka sebagai lawan bicara (Arab: mukhatabah). Mereka “diajari” oleh wahyu menegani hakikat dan penyebab kemenangan dan kekalahan mereka dalam Perang Badar dan Uhud, misalnya. Jadi, para sahabat dalam bebrapa hal dapat dikatakan memperoleh bimbingan Wahyu, tidak hanya meneladani Rasul SAW[3].

Bidang dan Materi Pendidikan

Sistem yang hebat membutuhkan manusia yang hebat. Sistem yang hebat tidak akan terwujud tanpa dukungan manusia hebat. “Hukum” sosial ini yang agaknya sangat dihayati oleh Nabi SAW. Oleh karena itu beliau mencurahkan perhatian yang sangat serius pada bidang pendidikan komunitas Muslim. Kebijaksanaan beliau membebaskan tahanan perang dengan cara mengajarkan baca-tulis kepada Komunitas itu mencerminkan besarnya perhatian itu.

Bidang pendidikan (tarbiyah) yang diajarkan Nabi SAW sangat luas. Luasnya bidang itu mungkin yang tercermin dari apa yang menjadi bidang keprihatinan  seorang ulama besar Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (lahir di Damaskus 691H). Bidang itu dirangkum oleh Hasan bin Ali al-Hijaz sebagaimana dikutip Matta (2010: 30-36: keimanan (taribyah Imaniayah), ruhiyah (ruh), fikriyah (pikiran), athifiah (persaan), akhlak (khuluqiyah), kemasyarakatan (ijtimaiyah), cita-cita (iradiyah), jasmani, dan seks (jinsiyah).

Dalam bahasa populer, apa saja yang materi bimbingan Nabi SAW kepada para sahabat?

Secara umum dapat dikatakan … mencakup semua aspek dan makna kehidupan: kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, kehidupan bertetangga, kehidupan bermasyarakat, makna dan tujuan hidup, keseimbangan antara hubungan vertikal dengan Allah SWT dengan hubungan horizontal antar sesama, nilai kebenaran, nilai kebaikan, nilai keadilan, nilai kemanusiaan, nilai ilmu, dan nilai keindahan. Quran mengajarkan semua materi itu Nabi SAW menjelaskan lebih lanjut dan bahkan mencontohkannya[4].

Daftar materi itu cukup lengkap untuk dijadikan modal membangun peradaban luhur (high civilization) sebagaimana dibuktikan dalam panggung sejerah oleh komunitas Muslim pasca generasi sahabat.

Sikap Kritis dan Pintu Ijtihad

Kembali kepada kutipan Matta di atas. Yang menarik untuk disimak ungkapan “kreatif dan independen” dalam kalimat terakhir. Tidak diketahui persis maksud ungkapan ini. Walaupun demikian dapat diduga ini terkait dengan daya kritis para sahabat mengenai masalah-maslah teknis operasional bidang muamalah (non-ibadah) dan di luar masalah keimanan. Artinya, para sahabat memiliki kemampuan untuk dapat membedakan ucapan dan perilaku Nabi SAW yang berasal dari bimbingan Rabb SWT dan mana yang bersifat perilaku pribadi.

Mengenai sifat kritis ini dapat dirujuk kasus Prang Parit (627) dan Perjanjian Hudaibiyah (628). Dalam kasus pertama Nabi SAW berpendapat untuk menyerang musuh di luar Kota Madinah. Pendapat ini bersifat pribadi sehingga dikoreksi oleh Salman Al-Farisi yang menyarankan untuk bertahan dalam Kota dengan cara menggali parit. Dalam kasus kedua, Umar RA protes berat karena menganggap perjanjian itu sangat merugikan Madinah. Bagaimana tidak merugikan karena dalam perjanjian itu ada klausul untuk mengembalikan orang Mekah yang pindah ke Madinah tetapi membiarkan orang Madinah yang pindah ke Mekah. Umar RA pada akhirnya menatai perjanjian itu setelah ditegaskan bahwa isi perjanjian itu berdasarkan Wahyu.

Dalam konteks lain, ilustrasi sikap kritis, “kreatif serta independen” seorang murid dicontohkan oleh Aristoteles (484-322 SM) dan Imam Syafii RA (767-819). Mereka sangat patuh dan menghormati guru mereka– Plato (424/3-348/7 SM) dan Imam Malik (711-795)– tetapi tetap bersikat kritis dan independen. Sikap ini yang memampukan mereka mengembangkan mazhab atau sistem pemikiran sendiri yang berbeda secara signifikan dengan mazhab guru mereka.

Sikap kritis ini diperlukan untuk membuka pintu ijtihad– “Mata Air Peradaban” menurut istilah istilah Matta (2010:41)– di bidang peradaban yang jelas-jelas tidak diatur dalam sumber primer (Wahyu-Sunnah). Penggunaan ijtihad sebagai sumber pengambilan hukum diberkati Nabi SAW (HR Abu Daud dan Tirmidzi). Ijtihad tentu mensyaratkan pemahaman agama yang mendalam, tafaqquh fid din, istilah Natsir (2008:165).

Singkatnya, sahabat sebagai “murid yang terbaik” Nabi SAW memiliki sikap kritis. Mereka mengisi supra-struktur Negara Madinah yang sistemnya adalah Islam (istilah Matta). Negara ini memiliki struktur layaknya suatu negara: tanah (Kota Madinah), jaringan sosial (persaudaraan Kaum Muhajirin dan Ansar) dan nota kesepakatan yang mengatur hubungan hidup bersama semua komponen masyarakat Madinah (Konstitusi Madinah). Tetapi bahan dasarnya adalah Islam dan Muslim: Islam sebagai sistem yang given dan Muslim yang mengoperasionalkan sistem itu. Sikap kritis memampukan mereka berijtihad sehingga membuat sistem itu berkibar dalam panggung sejarah.

Wallahualam….@

Referensi

Matta, M.H. Anis (2010), Dari Gerakan ke Negara, Fitrah Rabbani.

Natsir, M. (2008), Fiqhud Da’wah, Cerkan XIII, Yayasan Cipta Selecta dan Media Da’wah.

[1] Mengenai keunikan komunitas ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/02/3841/

[2] https://www.kamusbesar.com/gugu

[3] Uraian lebih lanjut dapat dilihat dalam https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/02/3841/

[4] https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/02/3841/

← Back

Thank you for your response. ✨