Refleksi, Spiritual

Belum Siap Melepas Ramadhan

ramadhan105

Sumber Gambar: Google

Begitu menyelesaikan dua rakaat terakhir tarawih berjamaah, seperti biasa, penulis keluar masjid yang berlokasi dekat rumah dan bersiap untuk pulang. Penulis biasa melakukan salat witir tiga rakaat untuk menutup tarawih di rumah sendirian pada tengah malam. Sejauh pengamatan, penulis adalah satu-satunya jamaah di masjid itu yang memiliki kebiasaan ini. Tapi tidak demikian halnya pada siklus tarawih terakhir (malam ke-29) kali ini: beberapa orang melakukan hal yang sama, termasuk seorang jamaah yang biasanya berada dalam saf pertama dalam jamaah, tepat di belakang Iman, posisi yang “riskan” karena harus siap menggantikan Imam jika terpaksa.

Ketika orang itu ditanya kenapa tidak ikut jamaah witir, jawabannya membuat penulis tercenung: “Rasanya belum siap melepas Ramadhan Ji!” “Malam ini niatnya mau melanjutkan tarawih sendiri di rumah, seperti haji”. Dia agaknya berprasangka baik kepada penulis. (Orang ini biasa memanggil penulis “Ji”, panggilan akrab, singkatan dari haji. Dia sendiri sudah haji setelah konon 17 tahun menabung.)

Dalam perjalanan pulang penulis sempat merenung apakah suasana-batin orang itu merepresentasikan suasana-batin Umat pada umumnya ketika menyadari bahwa siklus Ramadhan akan segera berakhir. Jika jawabannya “ya” maka dapat diduga bahwa bagi Umat, Bulan Ramadhan, berbeda dengan bulan lain, adalah bulan yang kedatangannya disambut gembira dan kepergiannya diiringi kesedihan khas yang membahagiakan, katakanlah kesedihan spiritual. Istilah ini tidak berlebihan karena pada bulan ini Umat menyandang kewajiban agama yang sekalipun ‘menyengsarakan” secara fisik tetapi menggairahkan secara spiritual. Lebih dari pada bulan-bulan lainnya, pada bulan ini Umat lebih serius menjalin hubungan positif baik secara vertikal dengan-Nya maupun secara horizontal antar-sesama; mudahnya, lebih rajin ibadah dan lebih gemar bersedekah. Rajin beribadah dan gemar bersedekah mungkin indikasi dari perasaan “manisnya Iman”. Wallahualam.

Sambutan gembira oleh Umat atas kedatangan Ramadhan terungkap dalam frase populer ‘Marhaban ya Ramadhan”; kesedihan mereka karena ditinggalkannya terungkap dalam narasi doa: “Rabb panjangkan umur hamba setahun lagi agar dapat bertemu dengan Ramadhan tahun depan”. Doa ini diajarkan Rasul SAW yang agaknya hanya dapat diungkapkan secara tulus oleh mereka yang menyadari bahwa umurnya secara hakiki berada di “jari”-Nya. Selain itu, doa semacam ini sangat realistis bagi kelompok lanjut usia yang secara demografis memiliki peluang lebih kecil untuk dapat bertemu Ramadhan tahun depan, dibandingkan dengan kelompok yang lebih muda.

Ketika berdoa seorang hamba wajar jika berharap dapat “jatah hidup” lebih dari setahun asalkan niatnya tulus sebagaimana diajarkan oleh Abdul Malik Mujahid dalam butir terakhir “doa malam terakhir Lailatul Qadr”[1]:

  1. Ya Allah, Engkau adalah perwujudan pengampunan, Engkau suka mengampuni, Tolong abaikan kekurangan hamba, O Pengampun, Ghafur, Tuhan yang Maha Pengampun.
  2. Ya Allah, mudahkanlah hamba berbuat baik dan tolong hamba mampu menghindari perbuatan buruk dalam segala situasi.
  3. Ya Allah, berilah hamba kesuksesan dalam semua urusan hidup ini dan yang urusan Selanjutnya.
  4. Tolong tingkatkan pengetahuan hamba dan berkatilah hamba dengan para guru yang luar biasa.
  5. Ya Allah, biarkan hamba meninggal dalam keadaan Iman yang paling mantap.
  6. Ya Allah, berkatilah umat ini, bimbinglah kami, dan satukan hati kami.
  7. Ya Allah, angkat hati hamba, lepaskan beban-beban hamba, dan jadikan hamba termasuk orang-orang yang menaruh kepercayaan penuh kepada-Mu dalam semua urusan.
  8. Ya Allah, tolong berkati hamba dengan kesempatan untuk melihat lebih banyak Ramadhan dan untuk melakukan ibadah yang jauh lebih baik dari pada yang telah hamba lakukan tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya.

Amin…@

[1] https://www.soundvision.com/article/duas-for-the-last-day-of-ramadan-and-eid.

 

Advertisements
Standard
Kependudukan, Refleksi

Populasi Muslim: Besar, Sebaran Geografis dan Tantangan

Jika —kakakanlah saat bersantai menikmati secangkir kopi di suatu Cafe bandara internasional– Anda bertemu dengan tiga orang non-muslim, maka patut diduga Anda adalah seorang Muslim. Dinyatakan secara berbeda, secara rata-rata, satu-dari-empat populasi global adalah Muslim. Dugaan ini bukan tanpa dasar ilmiah karena dihitung berdasarkan teori peluang dan hasil kajian, seperti akan segera lihat, suatu lembaga riset yang dapat diandalkan.

Muslim: Urutan Kedua

Dugaan bahwa satu-dari-empat penduduk global  Muslim didasarkan pada hasil suatu analisis demografis oleh PEW Research Center (selanjutnya PEW) yang menunjukkan bahwa pada tahun 2015 ada sekitar 7.3 milyar penduduk global dan 1.8 milyar atau 24.1% di antarnya adalah Muslim[1]. Angka-angka ini menempatkan Islam pada urutan kedua agama terbesar dilihat dari jumlah pengikutnya, setelah Kristen yang diperkirakan memiliki pengikut sekitar 2.3 milyar atau 31.2% dari populasi global[2]. Menurut proyeksi PEW, sekitar tahun 2070 Muslim diperkirakan akan mengungguli Kristen karena alasan demografis: rata-rata anak per keluarga 2.2 bagi rumah tangga Kristen dan 2.7 bagi rumah tangga Muslim. Dengan angka kelahiran seperti itu maka Islam adalah agama tercepat pertumbuhan populasi penganutnya.

Ada tiga catatan yang layak disisipkan mengenai riset PW ini. Pertama, penentuan agama dalam studi ini didasarkan pada pengakuan responden (self identification).  Kedua, dalam penelitian ini istilah Muslim mencakup mazhab Suni maupun Syiah. Penggabungan dalam satu kategori (Islam) tepat karena perbedaan antara kedua mazhab dapat diabaikan karena tidak terkait dengan perbedaan teologis yang mendasar. Ketiga, istilah Kristen mencakup Katolik, Protestan, Ortodoks, dan Kristen lainnya. Katolik merupakan kelompok Kristen terbesar, diikuti oleh Protestan dan Ortodoks; populasi masing-masing, satu milyar, 850 juta dan 260 juta[3]. Penggabungan dalam satu kategori (Kristen) mungkin kurang tepat karena perbedaan antar kelompok ini sifatnya mendasar dilihat dari aspek perumusan teologis maupun praktik keagamaan[4].

Setelah Kristen dan Islam, “agama” apa yang terbesar dilihat dari populasi penganutnya? Jawabannya mungkin di luar dugaan kebanyakan: Tak-Beragama (Inggris: Unaffiliated). Mereka pada umumnya menagaku sebagai ateis, sekuler atau agnostik. Berapa jumlah mereka? Diperkirakan sekitar 1.2 milyar, atau hanya kurang 600 ribu dibandingkan populasi Muslim.

Urutan agama terbesar lainnya setelah kelompok Tak-Beragama adalah Hindu, Budha dan lainnya. Proporsi mereka terhadap populasi global masing-masing 15.1% dan 6.9% (lihat Grafik 1).

Sebaran Geografis Populasi Muslim

Secara geografis populasi Muslim tersebar: sebagai mayoritas di lebih dari 50 negara, sebagai minoritas di hampir setiap benua (lihat Grafik2).  Sekitar 20%: populasi Muslim global tinggal di kawasan MENA (Middle East and North Africa) atau Timur Tengah dan Afrika Utara, lebih dari 60% di Asia Tenggara, dan sekitar 20% di negara-negara non-Muslim utamanya India dan China

Dengan populasi Muslim sekitar 209 juta jiwa saat ini Indonesia merupakan negara Muslim terbesar. Posisi ke-2 dan ke-3 terbesar diduduki masing-masing oleh Pakistan dan India. Populasi Muslim di kedua negara itu masing-masing 176 juta dan 167 juta jiwa. Yang menarik untuk dicatat, diperkirakan pada tahun 2050 India akan menggeser posisi Indonesia sebagai negara Muslim terbesar. Pada tahun itu India diperkirakan akan menampung paling tidak 300 juta Muslim. Setelah India, dua urutan negara Muslim terbesar berikutnya adalah Bangladesh dan Nigeria dengan populasi Muslim masing-masing sekitar 134 juta dan 77 juta jiwa (Lihat Grafik 3).

Tantangan

Perkembangan teknologi komunikasi kontemporer semakin meningkatkan hubungan antar sesama. Pertanyaan bagi internal komunitas muslim adalah apakah hubungan ini memperkuat gairah mereka terhadap kesatuan ummah (Arab: ummatan wahidah) atau semakin membuka mata terhadap realitas keragaman ekspresi keislaman. Inilah pertanyaan yang mengenai “otentitas” dan “hibriditas” ekspresi keislaman. Bagi Riaz Hassan, perjuangan antara keduanya “menyajikan tantangan yang mungkin paling penting bagi globalisasi Umat Islam” ( represents perhaps the most important challenge of globalisation for the Muslim ummah[5]). Mengenai hibriditas ekspresi keislaman Riaz Hassan menulis:

Unlike in the past, when limitations of transport and communication technologies made it difficult for Muslims worldwide to acknowledge the cultural and social diversity of the ummah, the introduction of satellite television, internet, international travel, and access to books and magazines and increasing literacy is now making Muslims aware of their cultural and social diversity[6].

Wallahualam….@

 

[1] http://www.pewresearch.org/fact-tank/2017/04/05/christians-remain-worlds-largest-religious-group-but-they-are-declining-in-europe/. Hasil analisis ini berbeda dengan hasil perhitungan penulis sebagaimana disajikan dalam   https://uzairsuhaimi.blog/2017/06/27/muslim_popn/.

[2] https://uzairsuhaimi.blog/2017/06/27/muslim_popn/

[3] http://www.suarakristen.com/2015/02/22/statistik-tentang-kekristenan-sedunia-saat-ini/

[4] Lihat https://www.kaskus.co.id/thread/563ad0bc1cbfaa444a8b456e/perbedaan-kristen-dan-katolik/; juga, https://tuhanyesus.org/perbedaan-agama-kristen-dan-katolik.

[5] https://yaleglobal.yale.edu/content/globalizations-challenge-islam

[6] Ibid

Standard
Refleksi, Spiritual

Seri_Uzair_On_Puasa: Puasa Ramadhan dan Kebaikan Sempurna

Besok pagi sejak fajar (Kamis, 17 Mei 2018), milyaran Umat Islam sedunia mulai melaksanakan ibadah puasa. Mereka akan melakukan ibadah ini selama sebulan penuh, selama Bulan Ramadhan. Bagi Umat ibadah ini istimewa. Kenapa? Karena ibadah ini mendorong mereka untuk mengintensifkan ibadah lain yang bukan saja yang harus (wajib) tetapi juga yang disarankan (sunat), bukan saja yang terkait dengan hubungan vertikal dengan Rabb SWT, tetapi juga yang terkait dengan hubungan horizontal antar sesama. Lebih dari itu, selama Ramadhan, Umat melakukan semua ajaran agamanya bukan saja sesuai dengan ketentuan hukum agama (syariat), tetapi juga dengan semangat untuk melakukannya secara sempurna (ihsan). Mereka melakukan sejumlah amalan unggulan yang sangat ditekankan selama Bulan Ramadhan.

Sebagian dari amalan unggulan itu adalah salat malam (tarawih), tadarus (membaca Kitab Suci) dan itikaf (kegiatan di Masjid untuk merenung dan berdialog dengan diri-sendiri). Kegiatan-kegiatan ini diharapkan dapat mempererat hubungan vertikal dengan-Nya.

Selain itu, sebagian amalan unggulan itu adalah kegemaran berbagi makanan-minuman untuk berbuka puasa bagi orang lain yang berpuasa, bersedekah, menyantuni kaum duafa (fakir, miskin, yatim, dan kelompok rentan lainnya), menahan diri untuk tidak berbicara atau melakukan sesuatu yang sia-sia atau mubazir, serta menahan diri secara sabar dari gejolak amarah dan dorongan hebat syahwat seksual. Semua kegiatan ini diharapkan dapat membantu proses pendewasaan mental-spiritual serta mempererat hubungan horizontal dengan sesama.

Dengan melakukan amalan-amalan unggulan ini secara sungguh-sungguh, kita dapat berharap dikaruniai-Nya kemampuan untuk mendekati kebaikan sempurna (Arab: Ihsan; Inggris: perfect goodness). Apakah kebaikan sempurna? Salah jawabannya tertuang dalam kutipan berikut[1]:

… perfect goodness is an action of the heart that involves thinking according to the standards of truth; forming the intention to do good, useful things and then doing them; and performing acts of worship in the consciousness that God sees them. To attain perfect goodness, an initiate must establish his or her thoughts, feelings, and conceptions on firm belief, and then deepen that belief by practicing the essentials of Islam and training his or her heart to receive Divine gifts and illuminate it with the light of His manifestations. Only one who has attained such a degree of perfect goodness can really do good to others just for God’s sake, without expecting any return.

… kebaikan sempurna adalah tindakan hati yang melibatkan pemikiran menurut standar kebenaran; membentuk niat untuk melakukan hal-hal yang baik, berguna, dan kemudian melakukannya; dan melakukan ibadah dalam kesadaran bahwa Tuhan melihat mereka. Untuk mencapai kebaikan sempurna, seorang harus menetapkan pikiran, perasaan, dan konsepsinya pada keyakinan yang teguh, dan kemudian memperdalam keyakinan itu dengan mempraktikkan esensi Islam dan melatih hatinya untuk menerima karunia Ilahi dan meneranginya dengan cahaya manifestasi-Nya. Hanya orang yang telah mencapai tingkat kebaikan sempurna seperti itu yang benar-benar dapat berbuat baik kepada orang lain secara ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apa pun.

Tanpa mengharapkan imbalan tidak berarti tanpa imbalan. Imbalannya justru terjamin: “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula) (QS Ar-Rahman: 60). Sebagai catatan, ayat ini didahului oleh 14 ayat mengenai surga dan diikuti oleh 18 ayat yang juga mengenai surga. Gambaran mengenai nikmatnya kehidupan di surga dalam ayat-ayat itu luar biasa, jauh melampaui imaji kita yang paling liar sekali pun. Walaupun demikian, narasinya elegan dan jauh dari kesan vulgar. Nikmatnya kehidupan surga luar biasa, tetapi nikmat karunia rida-Nya melampauinya sebagaimana tercermin dari lantunan doa orang yang tengah berpuasa (Arab: shaimun) ketika siap menghadapi momen berbuka puasa pada senja hari: “….nasaluka ridhaka wal jannata…”.

Seperti catatan akhir, istilah kebaikan sempurna dalam konteks tulisan ini perlu dilihat sebagai arah atau titik rujukan (reference point), bukan status kebaikan yang dapat diraih oleh seseorang. Kenapa? Karena kebaikan sempurna pada hakikatnya hanya milik Dia SWT.

Wallahualam….@

[1] http://www.thewaytotruth.org/heart/ihsan.html

Standard
Refleksi, Spiritual

Mengidentifikasi Titik-Temu Agama Samawi

Kata samawi (Arab) identik dengan kata langit (Indonesia) sehingga istilah agama samawi dapat diganti dengan agama langit. Kata yang terakhir ini menegaskan bahwa sumber ajaran agama samawi, bukannya produk kebudayaan atau berasal dari dunia-bawah-sini, melainkan dari dunia-atas-sana (wahyu), sekalipun dimaksudkan sebagai pedoman hidup di dunia-bawah-sini. Dengan pengertian ini maka agama samawi mencakup semua agama, millah, tradisi[1] yang bersumberkan wahyu Allah SWT, sejak era Adam AS, Idris AS, Nuh AS, dan Ibrahim AS beserta keturunannya, sampai kepada Muhammad SAW. Tulisan ini memfokuskan pada tiga agama besar yang sampai kini masih ada yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam. Istilah agama samawi yang digunakan dalam tulisan ini terbatas hanya pada tiga agama ini.

Lembaran Buram

Sejarah mencatat hubungan antar umat agama samawi tidak selalu harmonis bahkan sering disertai konflik berdarah. Daftar konflik berdarah antar umat agama samawi dapat dibuat panjang tetapi lima kasus berikut ini agaknya memadai sebagai ilustrasi:

  • Akhir Abad 11: Pembantaian komunitas Yahudi dan Muslim di Yerusalem ketika aliansi Pasukan Salib merebut Kota Yerusalem;
  • Sekitar Abad 15: Pengusiran komunitas muslim dan pemaksaan pindah agama bagi komunitas Yahudi di sekitar Teluk Iberia pasca kekalahan penguasa sisa Imperium Umayah di kawasan itu;
  • Pertengahan Abad 20: Perlakuan buruk terhadap komunitas Yahudi di Eropa (Kristen) yang mencapai puncaknya pada peristiwa Holocaust;
  • Konflik Palestina: Permusuhan dan kekerasan berdarah di Palestina dan sekitar yang sampai kini masih berlangsung tanpa prospek penyelesaian yang jelas; dan
  • Konflik di sebagian kawasan di Timur Tengah dan Afrika Utara: Permusuhan dan kekerasan berdarah oleh para ekstremis dari sebagian kecil komunitas Muslim terhadap komunitas non-muslim (minoritas) bahkan terhadap kelompok muslim tertentu (Syiah, kelompok Sufi, dan sebagainya) yang sampai kini masih berlangsung yang juga tanpa prospek penyelesaian yang jelas.

Pertanyaannya: Kenapa kekerasan berdarah semacam itu dapat terjadi? Kita dapat merujuk pada hasil kajian historis maupun sosiologis untuk memperoleh jawaban terhadap pertanyaan itu. Walaupun demikian, dalam analisis terakhir, agaknya akan lebih bijak bagi kita “menyerah” (Arab: aslama, akar kata Islam) dengan mengatakan bahwa semua itu terjadi pada hakikatnya karena kehendak Tuhan SWT. Dari sisi manusia, harus diakui bahwa peristiwa kekerasan berdarah semacam itu menunjukkan kelemahan manusiawi kita secara kolektif atau rendahnya kedudukan (Arab: maqaam) spiritual kita secara berjamaah. Kelemahan manusiawi itu yang mungkin mengundang ketetapan-Nya berlaku. Wallahualam. (God knows better!)

Sebenarnya ada alasan yang lebih substantif kenapa konflik berdarah antar umat agama samawi seharusnya tidak terjadi. Alasan itu, sebagaimana akan kita lihat nanti, adalah Pilar Ihsan yang tercakup dalam Tradisi Ibrahimik: pilar ini menuntut upaya aktif dan proaktif untuk menyempurnakan realisasi dua pilar agama lainnya (Iman dan Islam), juga untuk memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal. Pilar Ihsan ini secara normatif menonjol dalam Tradisi Isa AS tetapi fakta historis Perang Salib menunjukkan lemahnya kesadaran kolektif di kalangan Umat Nasrani terhadap ajaran Ihsan. Kelemahan yang sama –kalau tidak lebih serius– kita temukan di kalangan Umat Yahudi maupun Umat Islam.

Pertanyaan lain yang lebih mendasar: Kenapa ada perbedaan agama? Jawaban mudahnya: sudah menjadi ketetapan atau kehendak-Nya. Selain itu, perbedaan agama pada hakikatnya memperlihatkan karakter supra formal wahyu yang satu tetapi sifat manusia membutuhkan perbedaan. Upaya untuk mempersatukan agama bukan saja mustahil dilakukan tetapi juga tidak perlu, seandainya itu mungkin. Dalam konteks ini, kutipan dari Frithjof Schuon berikut layak disimak:

The diversity of religions, far from proving the falseness of all the doctrines concerning the supernatural, shows on the contrary the supra formal character of revelation—or enlightenment—is one, but human nature requires diversity[2].

the unity of the different religion is not only unrealizable on external level, that of the form themselves, but ought not to be realized at that level, even were this possible, for in that case the revealed form would be deprives of their sufficient reasons[3].

Keturunan Ibrahim AS

Secara normatif, kekerasan berdarah antar penganut agama samawi mestinya tidak terjadi. Kenapa? Karena Yahudi, Nasrani dan Islam memiliki leluhur yang sama yaitu Ibrahim AS. Semua pembawa agama samawi– Musa AS untuk Yahudi, Isa AS untuk Nasrani dan Muhammad SAW untuk Islam— keturunan Ibrahim AS. Nabi besar ini bergelar Bapak Para Nabi dan gelar itu tepat karena semua rasul pasca Nuh AS yang namanya disebut dalam Al-Quran, semuanya keturunan Ibrahim SAW. Kekecualian dalam hal ini adalah Soleh AS, Hud AS dan Luth AS. Musa AS dan Isa AS adalah keturunan Ibrahim AS melalui jalur Ishaq, Muhammad SAW melalui jalur Ismail AS.

Tabel 1 menyajikan beberapa identitas empat Nabi besar agama samawi yaitu Ibrahim AS, Musa AS, Isa AS dan Muhammad AS. Pada tabel itu tampak bahwa tiga yang terakhir adalah keturunan Ibrahim AS. Yang pertama secara genealogis tersambung dengan Adam AS, sebagai keturunan ke-19. Termasuk dalam leluhur Ibrahim AS adalah Idris AS dan Nuh AS yang masing-masing keturunan Adam AS yang ke-6 dan ke-9. Semua nabi, bahkan semua manusia dan makhluk hidup lainnya, seterlah Era Nuh AS, adalah keturunan beliau atau yang diselamatkan oleh perahu beliau dari bencana bah yang bersifat global.

Gambaran umum mengenai jarak waktu antara era Ibrahim AS dengan era ketiga keturunannya itu dapat dilihat dari urutan keturunan (lihat Kolom 2 Tabel 1): Musa AS, Isa AS dan Muhammad SAW, masing-masing keturunan yang ke-8, ke-30 dan ke-33. Gambaran yang lebih cermat dapat dilihat dari periode kehidupan masing-masing nabi itu (Kolom 4): Ibrahim AS (1997-1822 SM), Musa AS (1527-1407 SM), Isa AS (1S M-32 M), dan Muhammad AS (570-632 M).

Yang menarik juga untuk dicatat adalah bahwa Musa AS ternyata “paling populer” diukur dari frekuensi penyebutan namanya dalam Al-Quran (Kolom 5): sementara Ibrahim AS, Isa AS dan Muhammad SAW disebut hanya 69, 21 dan 25 kali, Musa AS disebut sampai 136 kali.

Warisan Spiritual Ibrahim AS

Bapak Para Nabi ini mewariskan tidak hanya garis keturunan secara genealogis tetapi juga inti ajaran agama yang berbasis ajaran tauhid atau ajaran Keesaan Tuhan SWT. Argumentasi mengenai hal ini dapat ditemukan dalam sejumlah ayat Al-Quran antara lain:

  • Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan kepada Nuh dan apa telah kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya (42:13)[4];
  • (Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim) “berserah-dirilah! (Arab: aslim), Dia menjawab “Aku berserah diri (Arab: aslamtu) kepada Tuhan seluruh Alam (2:131);
  • Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya. Demikian pula Ya’kub, “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kemu mati kecuali dalam keadaan muslim (Arab: muslimun)” (2:132);
  • Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Ya’kub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab’ Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, smail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya berserah diri kepada-Nya (2:133); dan
  • Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka usahakan dan bagimu apa yang telah kamu usahakan. Dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang apa yang mereka kerjakan (2:134; juga 2: 141):

Kutipan ayat pertama menegaskan kesamaan inti ajaran agama-agama samawi sejak Nuh AS; kutipan ayat yang ke 2 s/d 4 menegaskan Islam sebagai nama agama Ibrahim AS serta keturunan-keturunannya, baik yang melalui jalur Ishak AS (Yahudi dan Nasrani), maupun Ismail AS (Islam). Jelasnya, Islam dalam narasi Al-Quran, sangat inklusif karena tidak hanya mencakup ajaran yang dibawa Muhammad SAW (Islam dalam pengertian populer). Dalam konteks ini patut disisipkan di sini karakterisasi Al-Quran mengenai ahli Kitab:

Mereka tidak seluruhnya sama. Di antara Ahli Kitab ada golongan yang jujur, mereka membaca atyat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (salat). Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebaikan. Mereka termasuk orang-orang yang saleh. Dan kebajikan apa pun yang mereka kerjakan, tidak ada yang mengingkarinya. Dan Allah maha mengetahui orang-orang yang bertakwa (3:113-115).

Sekalipun memiliki inti ajaran yang sama, Agama Yahudi, Nasrani dan Islam jelas memiliki bentuk, rumusan teologis mengenai ketuhanan, sejarah keumatan, serta siklus pewahyuan yang berbeda. Tetapi juga jelas wisdom qurani –kebijaksanaan berbasis ayat Al-Quran—bahwa perbedaan itu “bukan urusan kita” sebagai umat sebagaimana tersirat dalam kutipan nomor lima di atas (2:134). Ayat ini tampaknya sedemikian penting sehingga diulang dengan redaksi yang persis sama dalam (2:141). Yang juga jelas adalah wisdom qurani yang menegaskan “tidak ada paksaan dalam agama” (2:256).

Wisdom qurani dengan nada serupa dapat ditemkan dalam ayat lain yang pada intinya berupa seruan agar umat agama samawi lebih mengetengahkan kesamaan antar mereka (Arab: kalimatun sawa), bukan meruncingkan perbedaan:

Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan kita selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka) “Saksikanlah bahwa kami adalah orang muslim”  (3:64).

Perbedaan Penekanan

Kutipan ayat terakhir pada intinya seruan kepada ajaran tauhid yang merupakan inti dari ajaran agama samawi. Karena inti ajaran ini maka  agama samawi dikenal dengan sebutan agama monoteisme. Dalam Millah atau Tradisi[5] Ibrahim AS, pilar Iman (Faith) yang berkarakter ajaran tauhid ini sangat menonjol dan karakter ajaran itu yang diwasiatkan kepada keturunannya sebagaimana terungkap dalam kutipan-kutipan ayat terdahulu. Yang perlu dicatat adalah bahwa Millah Ibrahim AS mencakup juga dua pilar agama (Dien) yang lain yaitu Islam (Law) dan Ihsan (Way). Tetapi penekanan terhadap pilar pertama (Iman) sedemikian kuatnya sehingga dua pilar yang lainnya seolah-olah terserap dalam pilar pertama.

Berbeda dengan Millah Ibrahim, Tradisi Musa AS lebih menekankan pada pilar ke 2 (Hukum, Law) sedemikian sehingga dua pilar lainnya seolah-olah terserap dalam Pilar ke-2. Tradisi Isa AS lain lagi; penekanannya terletak pada Pilar ke-3 (Ihsan, Way); dua pilar lainnya seolah-olah terserap dalam Pilar ke-3 itu. Bagaimana dengan Tradisi Muhammad SAW? Hadits Jibril mengindikasikan bahwa Tradisi nabi terakhir ini mengetengahkan keseimbangan tiga pilar Dien ajaran agama samawi. Dalam narasi Schuon, Islam, for its parts, intend to contain these three elements side by side, thus in perfect equilibrium, whence precisely its doctrine of the three elements iman, islam, and ihsan[6].  Untuk memberikan gambaran yang lebih baik, berikut ini disajikan kutipan dari Schuon yang lebih lengkap:

In order to show in what way the Muslim religion considers itself to be the completion and synthesis of earlier monotheisms, we must first of all recall that its constitutive   elements are al-iman, al-islam, and al-ikhsan, terms that can be rendered, not literally but nonetheless adequate, as “Faith”, “Law” and “Way”. “Faith” corresponds to the first of the three monotheisms, that of Abraham; “Law” to the second, that of Moses; and the “Way” to the third, that of Jesus and Mary. In Abrahamism, the element of “Law” and “Way” are as it were absorbed in by element “Faith”; in Mosaism, it is the element of “Law” that predominates and that, as a result, absorbs the elements “Faith” and “Way”; and in Christianity, it is the element of “Way” that absorbs the two other elements. Islam, for its parts, intend to contain these three elements side by side, thus in perfect equilibrium, whence precisely its doctrine of the three elements iman, islam, and ihsan[7].

Jika diizinkan menggunakan analogi dalam trigonometri, kita dapat menyajikan konfigurasi tradisi Ibrahimik sebagaimana diiulstrasikan oleh Gambar 1. Pada gambar itu tampak sudut sangat besar (lebih dari 90 derajat) yang merepresentasikan Pilar Iman untuk konfigurasi Tradisi Ibrahim. Konfigurasi tradisi Musa AS dan tradisi Isa AS juga menyerupai segitiga yang sama tetapi dengan sudut sangat besar masing-masing pada Pilar Islam dan Pilar Ihsan. Konfigurasi tradisi Muhammad SAW berbeda; semua pilar memiliki sudut yang sama besar (60 derajat) sehingga membentuk segitiga sama-sisi (lihat Gambar 1).

Wallahualam…..@

[1] Dalam konteks ini istilah tradisi mengandung konotasi kepastian adanya hubungan dengan sumber awal. Dalam hal agama wahyu berarti Allah SWT.

[2] “No Activity Without Truth”, 4.

[3] Transcendent Unity of Religion, “Preface”, xxxiv.

[4] Angka yang pertama menunjukkan nomor surat Al-Quran, yang lainnya nomor ayat.

[5] Lihat catatan kaki 1 mengenai pengertian tradisi. Sekadar untuk membedakan, di sini kita menggunakan istilah Tradisi; istilah agama kurang sesuai karena bagi Al-Quran semua agama samawi bernama Islam sebagaimana terlihat dalam beberapa ayat yang dikutip sebelumnya.

[6]  Forms and Substance in the Religion, “Insights into Muhammadan Phenomenon”, 87-88

[7]   Forms and Substance in the Religion, “Insights into Muhammadan Phenomenon”, 87-88

 

Standard
Refleksi, Spiritual

Homo Islamicus: Perbandingan dengan Manusia Modern

Dalam kalimat pertama salah satu bukunya yang terkenal yaitu Understanding Islam[1], Schuon mendefinisikan Islam sebagai ajaran mengenai “Tuhan apa adanya dan manusia apa adanya”. Walaupun terkesan enteng, definisi ini sebenarnya relatif lengkap dan sangat padat: lengkap, karena sudah mencakup dua tema utama ajaran Agama Islam yaitu Rabb Alamin dan manusia; sangat padat, karena dinarasikan hanya dalam tujuh kata. Ketepatan definisi Schuon lebih jelas terlihat dalam uraiannya yang juga sangat padat mengenai dua kalimat kunci itu: “Tuhan apa adanya (God as such)”, dan “manusia apa adanya (man as such)”. Mengenai yang pertama Schuon memaknainya sebagai Dia yang Mutlak dalam diri-Nya, suatu makna yang tersirat dalam misteri kata hua[2]. Mengenai yang kedua dia merujuk pada manusia yang secara normatif sesuai dengan cetak-biru penciptanya, manusia yang belum “tercemari” oleh perdaban  modern. Tulisan ini memfokuskan pada makna manusia dalam pengertian ini yang oleh Nasr disebut sebagai Homo Islamicus[3].

Manusia Modern: Antropomorfisme

Makna Homo Islamicus tersirat dari perbandingkannya dengan Manusia Modern[4]. Sayangnya, istilah yang terakhir ini tidak mudah didefinisikan karena dua hal. Pertama, kita berada di dalam dunianya sehingga diperlukan refleksi untuk memahaminya dengan cara mengambil jarak kognitif. Kedua, diskusi mengenai modernitas pada umumnya memiliki tema tertentu (tematis) dalam pengertian bersifat sepotong-sepotong (parsial) sehingga jika dilihat secara keseluruhan tema modernitas akan tampak sangat beragam dengan rentang mulai dari dunia kekinian (contemporary) sampai hanya sekadar istilah sederhana seperti “inovatif” atau “kreatif”. Prinsip dasar atau nilai kebanaran ultimanya jarang sekali didiskusikan. Kelangkaan dalam hal kejelasan, ketepatan dan ketajaman mengenai prinsip dasar dan kebenaran ultima semacam ini sering kali menyebabkan diskusi mengenai modernitas –khususnya jika dikaitkan dengan agama– menjadi “panas”, emosional, dan kurang produktif. Kelangkaan semacam ini yang justru khas dalam arus-utama cakrawala pikir manusia modern

Kekecualian dari arus-utama dalam konteks ini adalah mazhab pemikiran tradisional[5]. Bagi mazhab ini modernitas tidak ada kaitannya dengan kekinian, kebaharuan (up-to-date), atau keberhasilan “menaklukkan” atau mendominasi dunia alamiah. Bagi mereka modern berarti segala sesuatu yang, seperti dinarasikan oleh Nasr[6],

… cut off from the transcendent, from the immutable principles which in reality govern everything and which are made known to man through revelation in its most universal sense. Modernism is thus contrasted with tradition (al-din).

… terputus dari yang transenden, dari prinsip-prinsip yang tak- terbantahkan yang dalam realitas mengendalikan semua hal, sesuatu yang dapat diketahui oleh manusia melalui wahyu dalam pengertiannya yang paling universal. Modernisme dengan demikian berbeda dengan tradisi (agama).

Apanya yang terputus? Yang terputus adalah keajekan dalam cara pandang dunia (worldview), khususnya mengenai posisi manusia di dalam jagat raya kesadaran. Menurut Nasr, selama “ratusan ribu tahun” hidup di muka bumi manusia mempertahankan tanpa putus pandangannya mengenai hubungannya dengan Tuhan dan alam dilihat sebagai ciptaan dan ayat (Teofani) Tuhan. Pandangan tradisional yang sudah berumur “ratusan ribu tahun ini’ oleh manusia modern “diputus” sejak sekitar abad ke-16[7] dengan menetapkan manusia sebagai satu-satunya kriteria kepastian kebenaran.

Modern thought, …, became profoundly anthropomorphic the moment man was made the criterion of reality. When Descartes uttered “I think, therefore I am” (cogito ergo sum), he placed his individual awareness of his own limited to self as the criterion of existence for certainly the “I” in Decrates assertion was not to be divine “I” who through Hallj exclaimed “I am the Truth (ana’l Haqq), the Divine “I” which according to tradition doctrine alone has the the right to say “I”.

Alam pikiran Modern, …, menjadi sangat antropomorfis dengan menjadikan manusia sebagai kriteria kebenaran. Ketika Descates[8] mengatakan “Aku berpikir, maka Aku ada”, dia meletakan kesadaran individualnya terbatas pada diri sebagai kriteria kepastian; “Aku” dalam penegasan Descartes bukan “Aku” ilahiah sebagaimana yang dikumandangkan Hallaj[9] “Aku adalah Kebenaran”, “Aku” ilahiah yang dalam pandangan tradisional hanya yang berhak mengatakan “Aku”.

Kutipan berikut ini diharapkan dapat memperjelas:

What happened in the post-medieval period in the West was that higher levels of reality became eliminated on both subjective and the objectives domains. There was nothing higher in man than his reason and nothing higher in the objective worlds.

Apa yang terjadi dalam setelah periode kegelapan (yakni sebelum era modern) di Barat adalah bahwa realitas yang lebih tinggi dihilangkan dalam kesadaran subjektif maupun objektif. Tidak ada di dalam manusia yang lebih tinggi dari pada pikirannya dan tidak ada dunia objektif yang lebih tinggi.

Dari dua kutipan di atas jelas mode pemikiran modern memosisikan pikiran manusia (human reason) sebagai satu-satunya acuan kebenaran subyektif maupun obyektif. Ini sangat berbeda dengan ilmu pengetahuan tradisional yang menganggap lokus dan wadah pengetahuan bukan semata-mata pikiran manusia tetapi Intelek Ilahiah (the Divine Intellect). Seperti ditegaskan Nasr, pengetahuan yang benar bukan didasarkan pada pikiran manusia tetapi pada Intelek milik realitas tingkat supra-manusia yang juga berfungsi memberikan pencerahan kepada pikiran manusia.

Homo Islamicus

Sangat berbeda dengan Manusia Modern, mode pemikiran Homo Islamicus menempatkan wahyu (revelation) dan intuisi intelektual (dhawq, kashf atau shuhud) sebagai lokus dan wadah pengetahuan. Seorang muslim melihat wahyu sebagai sumber utama pengetahuan dan menyadari kemungkinan memurnikan diri sehingga mencapai “pandangan hati” (eye of the heart, ‘ayn al– qalb) yang terletak di pusat keberadaannya, yang memungkinkannya memperoleh visi langsung mengenai realitas “surgawi” (supernal reality). Seperti diungkapkan Nasr, akhirnya, “ia menerima kekuatan pikiran untuk mengetahui tetapi pikiran ini senantiasa terkait dan memperoleh bantuan kekuatan wahyu di satu sisi dan intuisi intelektual di lain sisi”. Matriks berikut ini mempertegas perbedaan mode pemikiran antara Manusia Modern dengan Homo Islamicus.

Matriks: Kontras antara Manusia Modern dan Homo Islamicus

Isu Manusia Modern Homo Islamicus
Evolusi Manusia berevolusi dari ciptaan yang lebih rendah Sekalipun mengandung unsur nabati dan hewani manusia tidak berasal dari ciptaan lebih rendah. Manusia adalah “mahkota” ciptaan (ashraf al-makhluqat): Tuhan YME “meniupkan” ruh-Nya
Kebutuhan Kebutuhan manusia hanya bersifat kebumian (earthly needs). Kebutuhan manusia tidak terbatas pada sesuatu yang terkait dengan kebumian (terrestrial) tetapi kebutuhan lain yang lebih subtil (kebutuhan jiwa dan spiritual), pikiran yang bersumberkan wahyu dan intuisi intelektual.
Peran di bumi Penguasa bumi Memerintah bumi bukan atas nama dirinya tetapi sebagai khalifah-Nya yang dituntut pertanggung-jawaban. Pikiran tetapi dalam pengertian luas (sesuai dengan kata fikr dalam Bahasa Arab) yang terkait dengan meditasi dan kontemplasi, tidak semata-mata pikiran murni.
Sumber pengetahuan Pikiran dalam pengertian sempit (reason) Pikiran tetapi dalam pengertian luas (sesuai dengan kata fikr dalam Bahasa Arab) yang terkait dengan meditasi dan kontemplasi, tidak semata-mata pikiran murni.
Terminal terakhir Bumi sebagai terminal akhir perjalanan Hidup di bumi sekadar singgah dalam perjalanan ke terminal akhir yang sangat jauh.
Sumber: Diadaptasi dari Sayyid Nasr dalam “Reflection on Islam and Modern Life”, online library articles, http://www.worldwisdom.com

Dari uraian di atas tampak jelas perbedaan tajam antara mode pemikiran modern dan mode pemikiran Homo Islamicus. Bagi yang pertama, manusia dianggap sebagai bebas dari “surga”, menguasai sepenuhnya takdirnya, terikat tetapi juga penguasa bumi. Bagi yang kedua, manusia tidak sepenuhnya bebas dari “surga”, tidak sepenuhnya menguasai takdirnya, dan bukan sepenuhnya penguasa bumi. Demikian tajam perbedaan itu sehingga sangat sulit (kalau tidak mustahil) mengharmonikan keduanya.

Sinopsis: Ditinjau dari cara pandang dunia (worldview) dan mode pemikiran, Homo Islamicus dan manusia modern berbeda secara mendasar. Upaya mengharmonikannya sangat sulit kalau tidak mustahil dilakukan. Wallahualam …@

homo1

[1] World Wisdom Books, Inc. (1998). Nama lengkap Schuon adalah Frithjof Schuon (18/6/1907 – 5/5/1998); juga dikenal dengan nama Islamnya yaitu  Īsā Nūr al-Dīn.

[2] Misteri kata hua dapat diihat dalam bukunya yang berjudul Transfigurasi Manusia. Versi sederhananya dapat dilihat dalam https://uzairsuhaimi.blog/2017/04/21/tiga-puisi-misteri/

[3] Lihat Sayyid Nasr dalam “Reflection on Islam and Modern Life”, online library articles, http://www.worldwisdom.com. Semua kutipan Nasr dalam artikel ini merujuk pada artikel yang berjudul itu. Tulisan ini merupakan penyempurnaan tulisan serupa sebelumnya yang berjudul Homo Islamicus yang juga disajikan dalam blog ini tetapi sayangnya tidak bisa lagi diakses secara sempurna (corrupted).

[4] Kata modern pertama kali digunakan 1585 terkait dengan, atau ciri dari kekinian atau masa lalu yang belum lama (contemprary); atau melibatkan teknik, metode, atau ide baru (up-to date) (www.merriam- webster/dictionary).

[5] Istilah tradisional digunakan di sini sekadar untuk memudahkan. Istilah yang lebih tepat mungkin mazhab perenialis yang dipopulerkan oleh Schuon. Mazhab ini mengedepankan hakikat kebenaran abadi yang tanpa bentuk tetapi kemudian diberi “bentuk tertentu” oleh suatu agama dan tradisi.

[6]  Seyyed Hossein Nasr (1983), “Reflections on Islam and Modern Thought”, Studies in Comparative Religion, Vol. 15, No. 3 & 4. (Summer-Autumn, 1983). © World Wisdom, Inc. http://www.studiesincomparativereligion.com.

[7] Era modern dimulai kira-kira abad ke-16; jadi, belum lama (baru sekitar setengah milenium yang lalu) dalam rentang sejarah panjang umat manusia. Era ini diawali oleh peristiwa kejatuhan Konstantinopel tahun 1153, kejatuhan Muslim Spanyol dan penemuan Benua Amerika tahun 1992, dan reformasi Protetan Luther tahun 1517 (www.wikipedia/wiki/Modern_history).

[8] Pada tataran filosofis Descartes dapat dianggap sebagai “Nabi” manusia modern.

[9] Hallaj adalah tokoh sufi yang dihukum pancung karena perkataannya oleh para ulama ketika itu dianggap terlalu subtil untuk dapat dipahami oleh orang awam sehingga “berbahaya” bagi umat.

 

Standard
Refleksi, Spiritual

Syarïa, Haqïqa dan Tharïqa

Agama Islam mencakup aspek syarï’a dan aspek haqïqa, aspek luar (exoterism) dan aspek dalam (esoterism). Syarï’a secara harfiah berarti “jalan besar” (“great way”), jalan yang diperuntukkan bagi seluruh lapisan umat tanpa kecuali, jalan “lebar” yang dapat dilalui semua individu, tanpa melihat perbedaan mentalitas atau kapasitas intelektual-spiritual. Berbeda dengan syarï’a, haqïqa yang secara harfiah berarti “kebenaran batini” (inward truth) disediakan khusus bagi kalangan elit karena alasan sederhana: tidak semua orang memiliki bakat kecerdasan (aptitude) atau kualifikasi yang diperlukan untuk menjangkau kebenaran batini itu.

Tulisan ini dimaksudkan untuk meninjau secara singkat hubungan antara kedua istilah itu. Sebagai catatan awal, sebenarnya banyak kitab klasik yang membahas masalah ini; walaupun demikian, karena kita tidak akrab dengan rasa bahasa yang digunakan oleh para pengarangnya– dalam tulisan ini kita merujuk pada karya Guénon (15 November 1886 – 7 Januari 1951) yang bernama lengkap René-Jean-Marie-Joseph Guénon dan dikenal luas dengan nama ʿAbd al-Wāḥid Yaḥyá.

Pusat Lingkaran

Sebagian kalangan sufi menggunakan analogi “qishr” atau “kulit” (“shell”) untuk syarï’a dan “lubb” atau “inti” (“kernel”) untuk haqïqa. Sebagian kalangan sufi lainnya menggunakan analogi lingkaran (circle) untuk yang pertama dan pusat (center) untuk yang kedua. Seperti halnya pusat lingkaran yang bukan merupakan unsur tambahan dalam suatu lingkaran, demikian juga haqïqa bukan merupakan sesuatu yang ditambahkan pada syarï’a.

Jika syarï’a utamanya adalah suatu aturan bertindak, maka haqïqa adalah kebenaran murni dan raison d’être syarï’a sebagaimana diungkapkan oleh Guénon[1]:

It could be said that syarï’a is first and foremost a rule of action, whreas the haqïqa is pure knowledge; but it must be well understood that it is this knowledge that gives even the syarï’a its higher and deeper meaning and its raison d’être, so that even though not all those participating in the religion are aware of it, the haqïqa is nevertheless its true principle, just the center is the principle of the circumference.

Bisa dikatakan bahwa syarï’a adalah peraturan tindakan yang pertama dan terutama, sementara haqiqah adalah pengetahuan murni. Sekalipun demikian harus dipahami dengan baik bahwa pengetahuan inilah yang bahkan memberikan syarï’a makna yang lebih tingi dan lebih dalam, dan alasan keberadaannya, raison d’être-nya, sehingga walaupun tidak semua orang yang berpartisipasi dalam agama mereka sadar akan hal itu: haqiqa adalah prinsip syari’a yang sebenarnya, seperti halnya titik pusat dari suatu lingkaran.

Analogi lingkaran dan pusat secara meyakinkan menunjukkan sifat ke-tak-terpisah-an antara syarï’a dan haqïqa: per definisi, lingkaran menghendaki keberadaan satu (dan hanya satu) pusat lingkaran. Analogi itu menarik untuk disimak lebih lanjut. Selain itu, semua titik dalam lingkaran dapat terhubung dengan pusat melalui jari-jari (radii) yang dalam terminilogi sufi dikenal dengan istilah tarïqa yang secara harfiah berarti “jalan” (“way” atau “path”). Jumlah jari-jari itu tidak terhingga dan ini mengilustrasikan banyaknya jalan menunju kebenaran batini: “jalan menuju Allah berjumlah sebanyak jiwa manusia” (“at-turuqu ila ‘Llahi ka-nufusi bani Adam”). Istilah turuq (jamak dari tariqa) pada dasarnya menujukkan perbedaan metodologi tanpa kemungkinan adanya perbedaan doktrin yang fundamental. Kenapa tanpa kemungkinan itu? Karena keunikan doktrin Tauhid (at-tawhidu wahid).

Tasawwuf

Istilah tasawwuf yang mencakup haqïqa dan tarïqa merepresentasikan aspek esoterisme dalam Agama Islam. Istilah itu memiliki akar kata süfï yang menurut Guénon perlu dilihat sebagai nama simbolis, tanpa perlu terjebak dalam kerumitan etimologis kata itu[2]. Menurut dia, makna utama dan fundamental kata itu dapat diperoleh dengan menghitung nilai numeriknya. Hasil perhitungan menunjukkan jumlah nilai kata süfï sama dengan kata hikmah ilahi dan ini mengisyratkan bahwa kedua kata itu secara maknawi identik[3]:

But given the character of the Arabic language (a character which it shares with Hebrew), the primary and fundamental meaning of a word is to be found in the numerical values of the letters; and in fact, what is particularly remarkable is that the sum of the numerical values of the leters which from the word süfï has the same number as al-Hikmatu’l-ilahiya, “Divine Wisdom”.  The true süfï is therefore the one who possess this Wisdom, or, in other words, he is al’arif bi’Llïh, that is to say “he who knows through God”, for God cannot be known except by Himself; and this is the supreme or “total” degree of knowledge or haqïqa.

Tapi mengingat karakter bahasa Arab (karakter yang sama dengan bahasa Ibrani), makna dasar dan mendasar sebuah kata dapat ditemukan dalam nilai numerik huruf; faktanya, apa yang luar biasa adalah bahwa jumlah nilai numerik dari huruf dalam kata süfï memiliki jumlah yang sama dengan al-Hikmatu’l-ilahiya, “Hikmat Ilahi”. Süfï sejati adalah orang yang memiliki Kebijaksanaan ini, atau, dengan kata lain, dia adalah al’arif bi’Llïh, artinya “dia yang tahu melalui Tuhan”, karena Tuhan tidak dapat diketahui kecuali oleh diriNya sendiri; dan ini adalah tingkat tertinggi atau “total” dari pengetahuan atau haqïqa.

Kembali kepada analogi lingkaran_pusat, catatan berikut layak dicermati. Secara teoritis adalah mungkin ada banyak lingkaran yang memiliki pusat yang sama. Fakta geomteris ini menunjukkan kemungkinan banyak syarï’a yang memiliki haqïqa yang sama. Kemungkinan ini secara ekplisit disebutkan dalam ayat al-Qur’an ketika menjelaskan keunikan pesan Tauhid (keesaan Allah SWT) risalah kerasulan semua rasul-Nya, paling tidak sejak Nabiyullah Ibrahim A.S: masing-masing mengusung syarïa sendiri tetapi dengan pesan Tauhid yang sama[4]. Al-Qur’an juga secara eksplisit memerintahkan untuk mengedepankan kesamaan haqïqa ini (kalimatun sawää) dalam menyikapi fakta keragaman syarï’a khususnya dari kalangan Ahli-Kitab:

Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah… (Al-Imran: 64).

Pertanyaan retrospektif bagi internal Umat: Jika perbedaan antar-syarïa perlu disikapi dengan mengedepankan faktor kesamaannya (kalimatun sawaa), bagaimana menyikapi keragaman tarïqa atau “sekte” (misalnya Suni v.s Syiah) yang berinduk pada syarïa yang sama? Allahummagfir-lanaa-khathaayaanaa …@


[1] Bagi Guénon, kajian etimologis mengenai kata sufi terlalu banyak dengan kewajaran yang sama (padahal logisnya hanya satu yang benar). Dengan demikian, kajian itu tidak dapat diharapkan akan menghasilkan kesimpulan final yang memuaskan.

[2] www.worldwisdom.com/public/library/defaults.aspx (halaman 89).

[3] www.worldwisdom.com/public/library/defaults.aspx (halaman 91).

[4] Al-Baqarah 133.

 

Standard
Refleksi

Setelah Lebaran Apa?

Umat Islam sejagat yang berjumlah sekitar 1.8 milyar iiwa[1] baru saja usai merayakan lebaran atau iedul fitri untuk menandai berakhirnya puasa wajib selama bulan Ramadhan tahun ini. Hari raya itu tepat hari ke-1 bulan Syawal. Pertanyaannya, apa yang sebaiknya dilakukan segera setelah perayaan itu? Tulisan ini mencoba menyajikan beberapa catatan kecil dalam rangka menjawab pertayaan itu dengan harapan ada dari pembaca budiman yang dapat mengambil manfaat darinya.

Yang wajib dulu

Dengan alasan tepat, puasa bulan Ramadhan dapat di-qadha pada bulan-bulan sesudahnya sebelum masuk bulan Ramadhan tahun berikutnya. Artinya, jika ada sejumlah hari pada bulan itu tidak dapat atau dibolehkan tidak berpuasa[2] maka kewajiban berpuasa itu dapat diganti dengan jumlah yang sama pada hari-hari di luar Ramadhan sebelum masuk bulan Ramadhan tahun depan. Ketetapan ini sesuai Q.S al-Baqarah:184.

Waktu yang sah untuk melakukan puasa qadha lumayan panjang, 11 bulan. Walaupun demikian, karena puasa ini hukumnya wajib maka jumhur (mayoritas) ulama menganjurkan untuk men-segerakan-nya dan ini berarti melakukannya pada bulan Syawal. Implikasinya, jika ada niat melakukan Puasa Sunat pada bulan itu maka sebaiknya dilakukan setelah puasa qadha. Mengenai hal ini layak disimak kutipan berikut:

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Siapa yang mempunyai kewajiban qodho’ puasa Ramadhan, hendaklah ia memulai puasa qodho’nya di bulan Syawal. Hal itu lebih akan membuat kewajiban seorang muslim menjadi gugur. Bahkan puasa qodho’ itu lebih utama dari puasa enam hari Syawal.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 391).

Begitu pula beliau mengatakan, “Siapa yang memulai qodho’ puasa Ramadhan terlebih dahulu dari puasa Syawal, lalu ia menginginkan puasa enam hari di bulan Syawal setelah qodho’nya sempurna, maka itu lebih baik. Inilah yang dimaksud dalam hadits yaitu bagi yang menjalani ibadah puasa Ramadhan lalu mengikuti puasa enam hari di bulan Syawal. Namun pahala puasa Syawal itu tidak bisa digapai jika menunaikan qodho’ puasanya di bulan Syawal. Karena puasa enam hari di bulan Syawal tetap harus dilakukan setelah qodho’ itu dilakukan.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 392)[3].

Puasa Syawal

Puasa sunat pada Bulan Syawal bagi umat Islam di Indonesia, mungkin juga bagi umat di nega lain, lumayan populer. Ini dapat dipahami mengingat ada hadist mengenai hal itu dengan janji pahala yang “menggiurkan”. Berdasarkan hadits itu para ulama umumya sepakat mengenai sunatnya puasa syawal.

Mayoritas umat (termasuk penulis) tampaknya merasa puasa sunat ini “berat” karena selain tidak wajib, juga lumayan banyak godaan: sisa opor ayam, kue nastar, halal-bihalal, kacang, biskuit, dsb. Tetapi Rasul saw lebih mengetahui apa yang terbaik bagi umat sehingga menganjurkan puasa ini. Hikmah di balik ini mungkin antara lain umat memerlukan latihan ekstra untuk meng-costomize perilaku baik. Costomize seperti ini yang dicontohkan oleh Beckam: ia konon melakukan latihan menendang bola jarak jauh secara terarah selama 2-3 jam (baginya “sunah”) per sesi latihan setelah usai menjalani latihan resmi yang dipimpin oleh coach (baginya “wajib”).

Kembali ke puasa sunat Syawal. Hadits yang tampaknya dijadikan dasar bagi ulama untuk mensunatkannya diriwayatkan oleh Muslim: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164).[4]

syawal1

Sumber: Google

Mengenai penjelasan hadits ini dapat disimak kutipan berikut:

Itulah dalil dari jumhur atau mayoritas ulama yag menunjukkan sunnahnya puasa Syawal. Yang berpendapat puasa tersebut sunnah adalah madzhab Abu Hanifah, Syafi’i dan Imam Ahmad. Adapun Imam Malik memakruhkannya. Namun sebagaimana kata Imam Nawawi rahimahullah, “Pendapat dalam madzhab Syafi’i yang menyunnahkan puasa Syawal didukung dengan dalil tegas ini. Jika telah terbukti adanya dukungan dalil dari hadits, maka pendapat tersebut tidaklah ditinggalkan hanya karena perkataan sebagian orang. Bahkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah ditinggalkan walau mayoritas atau seluruh manusia menyelisihinya. Sedangkan ulama yang khawatir jika puasa Syawal sampai disangka wajib, maka itu sangkaan yang sama saja bisa membatalkan anjuran puasa ‘Arafah, puasa ‘Asyura’ dan puasa sunnah lainnya.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 51)

Singkatnya, karena ada haditsnya, sikap terbaik dan teraman bagi umat tentu melaksanakannya, bila kaifa, tanpa banyak tanya. Tetapi sayangnya sebagian umat (termasuk penulis) kerapkali tidak tahan untuk tidak ber-kaifa: kok bisa setahun penuh, bagaimana hitungan-hitungannya? Untuk memenuhi selera yang mungkin “keterlaluan ini”, hitungan-hitungan berikut mungkin membantu.

Mengenai “pahala” puasa syawal ini ada dua dasar perhitungan yang semuanya berdasarkan dalil naqli-nash atau argumen berbasis al-Qur’an:

  1. Jumlah bulan dalam setahun berdasarkan sistem kalender Masehi atau Hijriyah adalah 12 (dua belas) bulan. Ketetapan ini sesuai Q.S. At-Taubah:36.
  2. Ganjaran amal baik minimal 10 (sepuluh) kali lipat. Angka ini sesuai dengan Q.S. al-An’am:160.

Berdasarkan dalil ke-2 di atas maka:

  1. Pahala Puasa Ramadhan satu bulan (penuh) setara dengan 10 bulan-pahala; dan
  2. Puasa Sunat Syawal 6 (enam) hari setra dengan 6×10 hari pahala, atau 2 bulan-pahala;
  3. Jika (1) dan (2) dijumlahkan maka ketemu angka 12 bulan-pahala atau, sesuai dengan dalil ke-1, sama dengan setahun.

Perjumlahan itu mengasumsikan Puasa Ramadhan dilakukan secara penuh, tidak ada hari yang “bolong” selama bulan itu. Men-segarakan Puasa Qadha yang hukumnya wajib sebelum Puasa Syawal yang hukumnya sunah tentunya sejalan dengan prinsip “mendahulukan yang wajib”. Sikap itu juga mempermudah “perhitungan pahala”; bagi yang berminat tentunya….. . @

[1] Mengenai angka ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/05/27/muslim_pop_challenge/

[2] Alasan tepat yang dimaksud mencakup menstruasi bagi wanita, sakit, dalam perjalanan, dan sebagainya, sesuai hukum syar’i.

[3] https://muslim.or.id/17782-tata-cara-puasa-syawal.html

[4] https://muslim.or.id/17782-tata-cara-puasa-syawal.html

 

Standard