Menjadi Guru dan Murid yang Baik

Suka atau tidak, kita selalu memainkan peran guru sekaligus murid, paling tidak guru bagi anak-cucu dan murid dari para cerdik-cendekia yang masyhur. Karena kita tidak pernah sempurna maka upaya untuk menjadi guru dan murid yang baik merupakan tugas seumur hidup. Tulisan ini menyajikan catatan singkat mengenai upaya ke arah ini dengan menengok sejarah komunitas Muslim awal yang memang diberkati, khas dan unik[1]. Sebelumnya, demi kejelasan, berikut ini disajikan tinjauan sepintas mengenai arti dan fungsi guru.

Arti dan Fungsi Guru

Guru secara umum didefinisikan sebagai pribadi yang layak digugu dan ditiru atau diteladani. Oleh siapa? Oleh orang yang berguru atau murid. Gugu (Jawa) artinya mempercayai, menuruti, dan mengindahkan[2]. Jadi digugu artinya dipercaya, dituruti dan diindahkan. Sementara aspek gugu lebih terkait dengan unsur materi ilmu, aspek tiru dengan keteladanan.

Dalam definisi ini jelas unsur kepercayaan (Inggris: trust, Arab: amanah) sangat penting, kalau tidak paling penting. Seorang guru yang baik, dengan demikian, selain dituntut untuk menguasai materi ajar-didik serta teknik penyampaiannya, juga diwajibkan berperilaku yang layak dipercaya (Inggris: tustworthy, Arab: amin).

Dari sisi profesionalitas, fungsi guru mencakup fungsi-fungsi dosen, pembimbing, teladan, mentor, pelatih (coach), konsultan, dan sebagainya. Fungsi-fungsi ini tentu saja lebih menitik beratkan aspek gugu dari pada tiru. Dalam hal kredibilitas guru tentu beragam: ada yang layak digugu sekaligus ditiru semua ilmu dan perilakunya, ada layak digugu dan ditiru sebagian perilakunya, ada pula yang hanya dapat digugu tetapi tetapi layak ditiru. Dalam konteks ini murid yang baik dituntut memiliki daya kritis dan kreativitas.

Guru dan Murid Terbaik

Tetapi siapa guru dan murid terbaik? Menurut Matta (2010:30) murid terbaik adalah Nabi SAW dan murid terbaik adalah para sahabatnya:

Tidak ada guru sehebat nabi Muhammad Saw dan tidak ada murid sehebat sahabat radiallaahuanhum. Umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa yang membuat baik generasi pertamanya itu. Nabi sebagai guru terbaik tidak berkata-kata, bersikap dan bertindak kecuali dengan bimbingan dari Allah Swt. Sedangkan para sahabat mengisi hari-harinya selama dua puluh tahun dengan semua keteladanan gurunya itu secara kreatif dan independen.

Dari kutipan di atas tampak bahwa Nabi SAW menjadi guru terbaik karena dibimbing Rabb SWT dan sahabat menjadi murid terbaik karena meneladani Nabi SAW.

Bimbingan Rabb SWT menyebabkan Nabi SAW terbebas dari kesalahan (Arab: maksum), paling tidak demikianlah menurut keyakinan Muslim. Materi bimbingan-Nya sangat beragam. Nabi SAW dibimbing Rabb SWT, sebagai ilustrasi, soal identitas keagamaan terkait dengan Ahli Kitab. Dalam hal ini Rabb SWT menegaskan adanya bidang kesamaan (Arab: kalimatun sawa) antara Islam dengan dua agama samawi lainnya (Yahudi dan Kristen). Pada saat yang ditegaskan mengenai penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian pemeluk Yahudi dan Nasrani dan mengenai perbedaan orientasi keagamaan (teks: qiblah) dengan kedua pemeluk agama ini. Nabi SAW diingatkan mengenai perlunya ajakan untuk kembali kepada bidang kesamaan ketika berdialog dengan mereka, sekaligus diingatkan mengenai sia-sianya memaksakan kesamaan orientasi keagamaan (lihat Quran 2:145).

Bimbingan Rabb SWT tidak hanya terbatas pada urusan keimanan tetapi juga menyangkut perilaku beliau sebagaimana tersirat dalam dua peristiwa berikut:

  • Ketika Nabi SAW mengharamkan madu untuk dirinya akibat provokasi beberapa istrinya yang “cemburu”, Rabb SWT langsung menegur beliau melalui ayat ke-1 Surat At-Tahrim (ke-66). Surat ini juga mengingatkan kedudukan khusus istri Nabi SAW dan ancaman khusus (berlipat ganda) bagi mereka jika melakukan maksiat kepada Nabi SAW.
  • Ketika didatangi secara tiba-tiba oleh salah seorang sahabat yang buta dan menanyakan soal agama Nabi SAW sempat bermuka asam. Dalam ukuran normal sikap ini manusiawi karena ketika itu Nabi SAW tengah berada dalam suatu forum penting (high level meeting) dengan petinggi Kaum Quraisy dalam upaya untuk mengislamkan mereka. Tetapi dalam pandangan Rabb SWT sikap itu tercela sehingga Nabi SAW memperoleh teguran keras melalui Surat ‘Abasa (ke-80).

Nabi SAW bahkan dibimbing soal menggunakan kata-kata yang tepat (Arab: qaulan sadida, Quran 33:70) ketika berdakwah dan kata-kata yang halus tetapi tajam ketika berdebat (Arab: qaulan layyinan, Quran 20: 44). Yang terakhir ini dicontohkan melalui dialog antara Nabi Musa AS dan Fir’aun yang dinarasikan secara lugas oleh Natsir (2008:212-3).

Singkatnya, Nabi SAW memperoleh bimbingan Rabb SWT dalam semua bidang kehidupan Bimbingan itulah yang membuat Nabi SAW menjadi guru terbaik.

Sebenarnya ada faktor lain yang membuat Nabi SAW menjadi guru terbaik. Faktor itu adalah kemampuannya membangun “hubungan rasa” (meminjam istilah Natsir, terjemahan dari mawaddah fil qurba) antara beliau sebagai pembawa Risalah Islam dan Umat sebagai sasaran Risalah itu.

Jika Nabi SAW guru terbaik maka sahabat adalah terbaik karena “meneladani” Nabi SAW sebagaimana terlihat dalam kutip Matta di atas. Kata “meneladani alam konteks ini sebenarnya terlalu sederhana. Dalam kehidupan sehari-hari di era Rasul SAW sering turun Wahyu yang berisi pendidikan bagi para sahabat bahkan menjadikan mereka sebagai lawan bicara (Arab: mukhatabah). Mereka “diajari” oleh wahyu menegani hakikat dan penyebab kemenangan dan kekalahan mereka dalam Perang Badar dan Uhud, misalnya. Jadi, para sahabat dalam bebrapa hal dapat dikatakan memperoleh bimbingan Wahyu, tidak hanya meneladani Rasul SAW[3].

Bidang dan Materi Pendidikan

Sistem yang hebat membutuhkan manusia yang hebat. Sistem yang hebat tidak akan terwujud tanpa dukungan manusia hebat. “Hukum” sosial ini yang agaknya sangat dihayati oleh Nabi SAW. Oleh karena itu beliau mencurahkan perhatian yang sangat serius pada bidang pendidikan komunitas Muslim. Kebijaksanaan beliau membebaskan tahanan perang dengan cara mengajarkan baca-tulis kepada Komunitas itu mencerminkan besarnya perhatian itu.

Bidang pendidikan (tarbiyah) yang diajarkan Nabi SAW sangat luas. Luasnya bidang itu mungkin yang tercermin dari apa yang menjadi bidang keprihatinan  seorang ulama besar Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (lahir di Damaskus 691H). Bidang itu dirangkum oleh Hasan bin Ali al-Hijaz sebagaimana dikutip Matta (2010: 30-36: keimanan (taribyah Imaniayah), ruhiyah (ruh), fikriyah (pikiran), athifiah (persaan), akhlak (khuluqiyah), kemasyarakatan (ijtimaiyah), cita-cita (iradiyah), jasmani, dan seks (jinsiyah).

Dalam bahasa populer, apa saja yang materi bimbingan Nabi SAW kepada para sahabat?

Secara umum dapat dikatakan … mencakup semua aspek dan makna kehidupan: kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, kehidupan bertetangga, kehidupan bermasyarakat, makna dan tujuan hidup, keseimbangan antara hubungan vertikal dengan Allah SWT dengan hubungan horizontal antar sesama, nilai kebenaran, nilai kebaikan, nilai keadilan, nilai kemanusiaan, nilai ilmu, dan nilai keindahan. Quran mengajarkan semua materi itu Nabi SAW menjelaskan lebih lanjut dan bahkan mencontohkannya[4].

Daftar materi itu cukup lengkap untuk dijadikan modal membangun peradaban luhur (high civilization) sebagaimana dibuktikan dalam panggung sejerah oleh komunitas Muslim pasca generasi sahabat.

Sikap Kritis dan Pintu Ijtihad

Kembali kepada kutipan Matta di atas. Yang menarik untuk disimak ungkapan “kreatif dan independen” dalam kalimat terakhir. Tidak diketahui persis maksud ungkapan ini. Walaupun demikian dapat diduga ini terkait dengan daya kritis para sahabat mengenai masalah-maslah teknis operasional bidang muamalah (non-ibadah) dan di luar masalah keimanan. Artinya, para sahabat memiliki kemampuan untuk dapat membedakan ucapan dan perilaku Nabi SAW yang berasal dari bimbingan Rabb SWT dan mana yang bersifat perilaku pribadi.

Mengenai sifat kritis ini dapat dirujuk kasus Prang Parit (627) dan Perjanjian Hudaibiyah (628). Dalam kasus pertama Nabi SAW berpendapat untuk menyerang musuh di luar Kota Madinah. Pendapat ini bersifat pribadi sehingga dikoreksi oleh Salman Al-Farisi yang menyarankan untuk bertahan dalam Kota dengan cara menggali parit. Dalam kasus kedua, Umar RA protes berat karena menganggap perjanjian itu sangat merugikan Madinah. Bagaimana tidak merugikan karena dalam perjanjian itu ada klausul untuk mengembalikan orang Mekah yang pindah ke Madinah tetapi membiarkan orang Madinah yang pindah ke Mekah. Umar RA pada akhirnya menatai perjanjian itu setelah ditegaskan bahwa isi perjanjian itu berdasarkan Wahyu.

Dalam konteks lain, ilustrasi sikap kritis, “kreatif serta independen” seorang murid dicontohkan oleh Aristoteles (484-322 SM) dan Imam Syafii RA (767-819). Mereka sangat patuh dan menghormati guru mereka– Plato (424/3-348/7 SM) dan Imam Malik (711-795)– tetapi tetap bersikat kritis dan independen. Sikap ini yang memampukan mereka mengembangkan mazhab atau sistem pemikiran sendiri yang berbeda secara signifikan dengan mazhab guru mereka.

Sikap kritis ini diperlukan untuk membuka pintu ijtihad– “Mata Air Peradaban” menurut istilah istilah Matta (2010:41)– di bidang peradaban yang jelas-jelas tidak diatur dalam sumber primer (Wahyu-Sunnah). Penggunaan ijtihad sebagai sumber pengambilan hukum diberkati Nabi SAW (HR Abu Daud dan Tirmidzi). Ijtihad tentu mensyaratkan pemahaman agama yang mendalam, tafaqquh fid din, istilah Natsir (2008:165).

Singkatnya, sahabat sebagai “murid yang terbaik” Nabi SAW memiliki sikap kritis. Mereka mengisi supra-struktur Negara Madinah yang sistemnya adalah Islam (istilah Matta). Negara ini memiliki struktur layaknya suatu negara: tanah (Kota Madinah), jaringan sosial (persaudaraan Kaum Muhajirin dan Ansar) dan nota kesepakatan yang mengatur hubungan hidup bersama semua komponen masyarakat Madinah (Konstitusi Madinah). Tetapi bahan dasarnya adalah Islam dan Muslim: Islam sebagai sistem yang given dan Muslim yang mengoperasionalkan sistem itu. Sikap kritis memampukan mereka berijtihad sehingga membuat sistem itu berkibar dalam panggung sejarah.

Wallahualam….@

Referensi

Matta, M.H. Anis (2010), Dari Gerakan ke Negara, Fitrah Rabbani.

Natsir, M. (2008), Fiqhud Da’wah, Cerkan XIII, Yayasan Cipta Selecta dan Media Da’wah.

[1] Mengenai keunikan komunitas ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/02/3841/

[2] https://www.kamusbesar.com/gugu

[3] Uraian lebih lanjut dapat dilihat dalam https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/02/3841/

[4] https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/02/3841/

Advertisements

Agus Sang PNS

jibril1

Agus menatapi paras Si-kecil (6 bulan) yang tengah tidur lelap di samping putri sulungnya (3  tahun) yang juga lelap. Sore tadi Si-kecil terpapar demam yang mencemaskan. Ibunya dengan sigap membawanya ke dokter spesialis swasta yang bagi Agus bertarif terlalu mahal. Buktinya semalam ia mengeluarkan sepertiga honor bulanannya untuk sang dokter. Tetapi dalam hal dokter ini istrinya fanatik sehingga Agus hanya bisa mengurut dada. “Urusan kesehatan anak kok coba-coba”, argumen istrinya ketika Agus menyarankan untuk mencoba dokter umum atau Puskesmas. Di dua jenis pelayanan ini Agus dapat memanfaatkan BJPS Kesehatan sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya berarti.

“Sudah turun panasnya”.

Agus kaget mendengar suara istrinya yang dikira masih di belakang. Tetapi dia lega melihat istri terkesan lega.

“Jam tiga tadi dia baru tidur”, lanjut istrinya.

Agus membayangkan istrinya bergadang dan mungkin juga menggendong si kecil sesekali. Ia tidak tahu persis karena lagi “pisah ranjang”. Maksudnya, akhir-akhir ini dia biasa tidur di ranjang terpisah, bahkan di kamar berbeda.

Paling tidak ada empat alasan kenapa dia pisah ranjang. Pertama, Agus sering menerima telepon malam hari soal pekerjaan kantor dari atasan langsungnya, seorang ibu separuh baya yang terkenal taft. Agus tidak keberatan karena menganggapnya sebagai risiko kerja. Kedua, dia terkadang bangun malam untuk salat sunat yang dikhawatirkan mengganggu tidur istri dan anak-anaknya. Ketiga, ranjang di kamar tidur utama terlalu sempit untuk empat kepala. Keempat, istrinya tidak keberatan.

Setelah pamit kepada istri Agus dengan tenang mengendarai motor menuju stasiun KA terdekat. “Paling menelepon ibunya”, pikir Agus ketika mengantisipasi istrinya repot karena sakitnya di-kecil. Dia merasa beruntung punya mertua yang masih cekatan, memiliki waktu bebas setelah suaminya (mantan pejabat satu BUMN) meninggal, tinggal tidak jauh dari rumahnya, dan sayang cucu. “Sayang berlebihan”, pikir Agus.

Menekan Pengeluaran

“Masih pagi”, pikir Agus ketika melihat jam dinding stasiun KA masih merujuk pada angka 5.30. Dia terbiasa memanfaatkan Commuter Line pada jam ini menuju kantornya di kawasan Jakarta Pusat. Pagi ini ia beruntung berkesempatan duduk.

Sambil menikmati duduk dengan mata terpejam-agak-kantuk ia membayangkan paras si-kecil yang tadi sempat ditatapnya. Diam-diam dia berdoa agar si-kecil dikaruniai nikmat kesehatan. Harapannya, anak-anaknya tidak perlu terlalu sering ke dokter spesialis swasta yang mahal. “Naluri protektif keibuan yang berlebihan”, bisiknya dalam hati menilai istrinya.

Bagi Agus yang bergelar S2 dan sudah berkarier sebagai PNS hampir 10 tahun membayar dokter spesialis anak identik dengan pengurangan signifikan tabungannya yang tipis. Tahun ini, tabungannya menipis drastis karena dua macam pengeluaran: (1) biaya kelahiran si-kecil, dan (2) donasi sukarela biaya kuliah keponakan yang sudah yatim sejak usia SD. Yang terakhir ini jumlahnya lumayan besar tetapi dilakukan antara lain karena dorongan istri. Dalam hal kepekaan sosial istrinya layak diacungi jempol.

Walaupun tabungannya tipis Agus masih berharap tahun depan mampu menunaikan zakat. Tahun ini, untuk pertama kali dalam 5 tahun terakhir, ia tidak berzakat karena tabungannya di akhir waktu penghitungan tidak memenuhi nisab atau batas minimal untuk berkewajiban zakat.

Jam masih menunjukkan pukul 6.35 ketika Agus turun dari kereta di stasiun terakhir dan segera menyusuri trotoar jalan kaki ke kantor yang masih dalam rentang walking distance.

Kebiasaan jalan kaki dari stasiun terakhir ke kantor sudah dimulai setahun lalu. (Kebiasaan sebelumnya ngojeg.) Bagi Agus ini bagian upayanya untuk menekan pengeluaran. Upaya lainnya termasuk beberapa jenis pengurangan frekuensi: (1) frekuensi minum jus sirsak yang merupakan hobi beratnya, (2) frekuensi mentraktir istri makan bakso, dan (3) frekuensi menikmati double espresso di Starbucks Coffee yang juga merupakan hobi beratnya.

Menyempurnakan Tugas

Ketika memasuki ruang kerjanya dan baru menyalakan komputer Agus dipanggil menghadap Bos (besar). Ia segera melapor singkat ke atasan langsungnya. Kebetulan ia berada di kantor padahal pada jam itu bisanya belum hadir karena kesibukan luar. Agus melapor ke Ibu karena tahu itulah etika dan prosedur standar kantor.

Ketika menghadap Bos dia memperoleh  perintah singkat: “Ihsan, Bapak lusa akan menghadiri rapat antar-kementerian bertemakan B di Kementerian A. Kamu siapkan bahannya. Besok jam 8 sudah siap ya”. Agus merespons, “Siap Pak”. “Mohon izin bertanya Pak. Nama saya Agus, bukan Ihsan. Apa Bapak tidak salah panggil”.  Bos menjawab: “Oh tidak, tidak. Yang Bapak maksud memang kamu, tadi hanya salah sebut nama. Tadi pagi Bapak baru baca artikel bagus mengenai Ihsan, jadi keceplosan memanggilmu Ihsan”.

Agus lega mendengar penjelasan Bos. Sambil menuju ruang kerjanya ia mulai membayangkan rencana kerja untuk menyelesaikan tugas barunya ini. Sebelum mulai mengerjakannya ia melapor ke Ibu yang kali ini berbaik hati memberikan arahan singkat: “Untuk keperluan Bos kamu cukup menyiapkan pointers dan catatan ringkas, jangan bertele-tele”. “Siap Bu”, respons Ahmad.

Setelah melapor Agus langsung googling mencari informasi yang relevan mengenai Kementerian A dan Tema B. Maklum dia merasa awam soal keduanya. Ia menghabiskan sekitar satu jam untuk kegiatan ini sebelum akhirnya merasa memiliki bahan cukup.

Selesai googling dia mulai menyusun pointers sesuai arahan Ibu dan menggunakan waktu 90 menit untuk menyelesaikannya. Ia segera melapor ke Ibu yang menerimanya datar-datar saja. Ibu sempat memberikan sedikit koreksi walaupun kebanyakan (seperti biasanya) trivial, tidak substantif. Ia kembali ke komputernya untuk mengakomodasikan arahan Ibu walaupun menyadari sudah kehilangan sepertiga waktu istirahatnya.

Ketika menuntaskan pointers (dalam Words) sebenarnya ia telah menyelesaikan tugasnya menurut ukuran normal kantornya. Walaupun demikian ia merasa yang dilakukannya belum sempurna dan berniat untuk menyiapkan versi Power Point setelah makan siang. Dia bermaksud mengonsultasikan dengan Ibu mengenai idenya ini tetapi yang bersangkutan sudah keluar. “Tidak akan kembali sampai besok pagi”, kata sekretarisnya.

Ia melanjutnya niatnya menyiapkan Power Point yang dilengkapi logo kantor dan aksesori sederhana tetapi apik: “Biar besok pagi dikonsultasikan dengan Ibu”, pikirnya.

Usai menyelesaikan Power Point Agus masih belum puas. (Ia terkenal kreatif dan sedikit perfectionist.) Ia dapat membayangkan dalam rapat nanti Bos memiliki peluang memberikan sumbangan pikiran substantif. Agus meyakini kantornya memiliki ladang subur untuk menanam kebaikan bagi kepentingan masyarakat luas. Keyakinan ini yang selalu menyalakan semangatnya mengabdi sepenuh hati.

Didorong oleh pikiran ini ia berpikir untuk menyiapkan artikel singkat sebagai pelengkap Power Point: “Biar besok pagi hasilnya dikonsultasikan dengan Ibu”, pikirnya. Ia mulai menggarap artikel itu walaupun tidak selancar dugaannya. Penulisan artikel ternyata perlu diselingi googling untuk memperoleh evidence-based yang kuat dan argumen yang meyakinkan untuk menghasilkan artikel kredibel. Ia menyadari Bos-nya yang menyandang gelar PhD itu akrab dengan model artikel ilmiah.

Agus menyelesaikan artikelnya satu jam setelah jam-pulang-kantor sehingga harus berdesak-ria dalam kereta. ia tidak keberatan dengan situasi tidak nyaman itu karena menyadari sudah menjadi risiko kerja. Sebelum pulang ia sempat mem-print artikelnya. Niatnya, malam nanti kan memeriksa artikel agar lebih sempurna.

Paginya dia bersyukur memeriksa artikel karena ternyata masih mengandung beberapa kekurangan. Dia berangkat kerja lebih pagi untuk menyelesaikan penyempurnaan yang ternyata hanya butuh waktu 15 menit. Setelah menyelesaikan pekerjaan ini waktu menunjukkan pukul 7.30. “Masih ada waktu mengonsultasikan dengan Ibu”, pikirnya. Sayangnya yang bersangkutan belum ada di kantor. Ia menunggu sampai sekretaris menginformasikan Ibu baru siang nanti di kantor. Karena informasi ini ia menyerahkan seluruh hasil kerjanya langsung ke Bos karena sudah mendekati tenggang waktu yang diberikan.

Sabar, sabar

Setelah menyerahkan tugas ia merasa lega dan berniat untuk santai sejenak. Niatnya urung: ia dipanggil Ibu yang baru tiba dan di luar dugaan marah berat karena merasa dilangkahi: “Kenapa kamu menyerahkan hasil kerja ke Bos sebelum Aku periksa?, dst., dst., ..,,” Agus sempat terenyak dan hampir marah. Tetapi segera menyadari ia tengah berhadap dengan atasan. Amarahnya pun segera mereda: “Ya Bu”, responsnya pendek. Dengan lunglai ia kembali ke ruang kerjanya.

Di ruang kerjanya sempat terpikir oleh Agus bagaimana dirinya sering diperlakukan tidak adil oleh Ibu. Dua teman seangkatannya yang juga anak buah Ibu memperoleh promosi jabatan dua tahun lalu padahal “kinerjanya biasa-biasa saja” menurut teman sejawat. Tetapi Agus segera menyadari pikirannya itu berasal dari Setan sehingga ia segera bersistigfar. Ia merasa hampir menghujat kebijaksanaan Tuhan sehingga segera menangkan diri: “Sabar, sabar. Apa yang menjadi nasibmu adalah izin Tuhan dan ini berati yang terbaik bagimu”, bisiknya dalam hati.

Agus populer di kalangan teman-teman antara lain karena dinilai terlalu lama di posisinya sekarang. Normalnya, tiga tahun lalu ia sudah memperoleh promosi jabatan. Agus mengetahui penilaian koleganya tetapi sama-sekali tidak merasa terganggu. Ia tetap bermuka jernih ketika bekerja dan bergaul di lingkungan kantor.

Di lingkungan kantor Agus juga populer sebagai PNS yang baik: hampir tidak pernah terlambat tiba di kantor, rajin bekerja dan produktif-kreatif, selalu bermuka jernih dan tidak pernah melawan atasan.

Agus-Ahmad-Ihsan

Sebenarnya label “PNS yang baik” untuk sosok Agus terlalu sederhana. Ia mewakili sosok “PNS yang terpuji”. Label terpuji sesuai bagi Agus yang bernama lengkap Ahmad Agus: Ahmad (Arab) artinya terpuji.

Selain berlabel Ahmad, sosok Agus sebenarnya juga layak dilabeli Ihsan. Alasannya, Agus terbisa menyelesaikan tugas lebih dari yang dituntut secara formal yang menurut para ustaz merupakan ciri Ihsan. Kata ustaz Ihsan adalah “puncak kebaikan”; Ihsan tidak hanya melakukan pekerjaan secara sempurna menurut aturan, tetapi melakukannya dengan mengerahkan inteligensi (Inggris: intelligence, lebih luas dari pada mind), dan jiwa (Inggris: soul). Juga menurut ustaz, Ihsan memiliki kemampuan untuk memberikan donasi sukarela dalam keadaan sulit dan untuk menahan amarah. Semua ciri-ciri ini ada pada Agus bahkan sudah merupakan akhlak atau kebiasaan spontannya.

Demikianlah Agus, sang PNS. Dalam populasi PNS banyak Agus-agus lain yang jumlahnya cenderung meningkat. Walaupun demikian, kelompok ini tetap minoritas dan umumnya tidak berbakat untuk menarik perhatian atasan. Bagi mereka, mengasah bakat ini identik dengan mengaburkan nilai profesionalisme sejati….@

Belum Siap Melepas Ramadhan

ramadhan105

Sumber Gambar: Google

Begitu menyelesaikan dua rakaat terakhir tarawih berjamaah, seperti biasa, penulis keluar masjid yang berlokasi dekat rumah dan bersiap untuk pulang. Penulis biasa melakukan salat witir tiga rakaat untuk menutup tarawih di rumah sendirian pada tengah malam. Sejauh pengamatan, penulis adalah satu-satunya jamaah di masjid itu yang memiliki kebiasaan ini. Tapi tidak demikian halnya pada siklus tarawih terakhir (malam ke-29) kali ini: beberapa orang melakukan hal yang sama, termasuk seorang jamaah yang biasanya berada dalam saf pertama dalam jamaah, tepat di belakang Iman, posisi yang “riskan” karena harus siap menggantikan Imam jika terpaksa.

Ketika orang itu ditanya kenapa tidak ikut jamaah witir, jawabannya membuat penulis tercenung: “Rasanya belum siap melepas Ramadhan Ji!” “Malam ini niatnya mau melanjutkan tarawih sendiri di rumah, seperti haji”. Dia agaknya berprasangka baik kepada penulis. (Orang ini biasa memanggil penulis “Ji”, panggilan akrab, singkatan dari haji. Dia sendiri sudah haji setelah konon 17 tahun menabung.)

Dalam perjalanan pulang penulis sempat merenung apakah suasana-batin orang itu merepresentasikan suasana-batin Umat pada umumnya ketika menyadari bahwa siklus Ramadhan akan segera berakhir. Jika jawabannya “ya” maka dapat diduga bahwa bagi Umat, Bulan Ramadhan, berbeda dengan bulan lain, adalah bulan yang kedatangannya disambut gembira dan kepergiannya diiringi kesedihan khas yang membahagiakan, katakanlah kesedihan spiritual. Istilah ini tidak berlebihan karena pada bulan ini Umat menyandang kewajiban agama yang sekalipun ‘menyengsarakan” secara fisik tetapi menggairahkan secara spiritual. Lebih dari pada bulan-bulan lainnya, pada bulan ini Umat lebih serius menjalin hubungan positif baik secara vertikal dengan-Nya maupun secara horizontal antar-sesama; mudahnya, lebih rajin ibadah dan lebih gemar bersedekah. Rajin beribadah dan gemar bersedekah mungkin indikasi dari perasaan “manisnya Iman”. Wallahualam.

Sambutan gembira oleh Umat atas kedatangan Ramadhan terungkap dalam frase populer ‘Marhaban ya Ramadhan”; kesedihan mereka karena ditinggalkannya terungkap dalam narasi doa: “Rabb panjangkan umur hamba setahun lagi agar dapat bertemu dengan Ramadhan tahun depan”. Doa ini diajarkan Rasul SAW yang agaknya hanya dapat diungkapkan secara tulus oleh mereka yang menyadari bahwa umurnya secara hakiki berada di “jari”-Nya. Selain itu, doa semacam ini sangat realistis bagi kelompok lanjut usia yang secara demografis memiliki peluang lebih kecil untuk dapat bertemu Ramadhan tahun depan, dibandingkan dengan kelompok yang lebih muda.

Ketika berdoa seorang hamba wajar jika berharap dapat “jatah hidup” lebih dari setahun asalkan niatnya tulus sebagaimana diajarkan oleh Abdul Malik Mujahid dalam butir terakhir “doa malam terakhir Lailatul Qadr”[1]:

  1. Ya Allah, Engkau adalah perwujudan pengampunan, Engkau suka mengampuni, Tolong abaikan kekurangan hamba, O Pengampun, Ghafur, Tuhan yang Maha Pengampun.
  2. Ya Allah, mudahkanlah hamba berbuat baik dan tolong hamba mampu menghindari perbuatan buruk dalam segala situasi.
  3. Ya Allah, berilah hamba kesuksesan dalam semua urusan hidup ini dan yang urusan Selanjutnya.
  4. Tolong tingkatkan pengetahuan hamba dan berkatilah hamba dengan para guru yang luar biasa.
  5. Ya Allah, biarkan hamba meninggal dalam keadaan Iman yang paling mantap.
  6. Ya Allah, berkatilah umat ini, bimbinglah kami, dan satukan hati kami.
  7. Ya Allah, angkat hati hamba, lepaskan beban-beban hamba, dan jadikan hamba termasuk orang-orang yang menaruh kepercayaan penuh kepada-Mu dalam semua urusan.
  8. Ya Allah, tolong berkati hamba dengan kesempatan untuk melihat lebih banyak Ramadhan dan untuk melakukan ibadah yang jauh lebih baik dari pada yang telah hamba lakukan tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya.

Amin…@

[1] https://www.soundvision.com/article/duas-for-the-last-day-of-ramadan-and-eid.

 

Populasi Muslim: Besar, Sebaran Geografis dan Tantangan

Jika —kakakanlah saat bersantai menikmati secangkir kopi di suatu Cafe bandara internasional– Anda bertemu dengan tiga orang non-muslim, maka patut diduga Anda adalah seorang Muslim. Dinyatakan secara berbeda, secara rata-rata, satu-dari-empat populasi global adalah Muslim. Dugaan ini bukan tanpa dasar ilmiah karena dihitung berdasarkan teori peluang dan hasil kajian, seperti akan segera lihat, suatu lembaga riset yang dapat diandalkan.

Muslim: Urutan Kedua

Dugaan bahwa satu-dari-empat penduduk global  Muslim didasarkan pada hasil suatu analisis demografis oleh PEW Research Center (selanjutnya PEW) yang menunjukkan bahwa pada tahun 2015 ada sekitar 7.3 milyar penduduk global dan 1.8 milyar atau 24.1% di antarnya adalah Muslim[1]. Angka-angka ini menempatkan Islam pada urutan kedua agama terbesar dilihat dari jumlah pengikutnya, setelah Kristen yang diperkirakan memiliki pengikut sekitar 2.3 milyar atau 31.2% dari populasi global[2]. Menurut proyeksi PEW, sekitar tahun 2070 Muslim diperkirakan akan mengungguli Kristen karena alasan demografis: rata-rata anak per keluarga 2.2 bagi rumah tangga Kristen dan 2.7 bagi rumah tangga Muslim. Dengan angka kelahiran seperti itu maka Islam adalah agama tercepat pertumbuhan populasi penganutnya.

Ada tiga catatan yang layak disisipkan mengenai riset PW ini. Pertama, penentuan agama dalam studi ini didasarkan pada pengakuan responden (self identification).  Kedua, dalam penelitian ini istilah Muslim mencakup mazhab Suni maupun Syiah. Penggabungan dalam satu kategori (Islam) tepat karena perbedaan antara kedua mazhab dapat diabaikan karena tidak terkait dengan perbedaan teologis yang mendasar. Ketiga, istilah Kristen mencakup Katolik, Protestan, Ortodoks, dan Kristen lainnya. Katolik merupakan kelompok Kristen terbesar, diikuti oleh Protestan dan Ortodoks; populasi masing-masing, satu milyar, 850 juta dan 260 juta[3]. Penggabungan dalam satu kategori (Kristen) mungkin kurang tepat karena perbedaan antar kelompok ini sifatnya mendasar dilihat dari aspek perumusan teologis maupun praktik keagamaan[4].

Setelah Kristen dan Islam, “agama” apa yang terbesar dilihat dari populasi penganutnya? Jawabannya mungkin di luar dugaan kebanyakan: Tak-Beragama (Inggris: Unaffiliated). Mereka pada umumnya menagaku sebagai ateis, sekuler atau agnostik. Berapa jumlah mereka? Diperkirakan sekitar 1.2 milyar, atau hanya kurang 600 ribu dibandingkan populasi Muslim.

Urutan agama terbesar lainnya setelah kelompok Tak-Beragama adalah Hindu, Budha dan lainnya. Proporsi mereka terhadap populasi global masing-masing 15.1% dan 6.9% (lihat Grafik 1).

Sebaran Geografis Populasi Muslim

Secara geografis populasi Muslim tersebar: sebagai mayoritas di lebih dari 50 negara, sebagai minoritas di hampir setiap benua (lihat Grafik2).  Sekitar 20%: populasi Muslim global tinggal di kawasan MENA (Middle East and North Africa) atau Timur Tengah dan Afrika Utara, lebih dari 60% di Asia Tenggara, dan sekitar 20% di negara-negara non-Muslim utamanya India dan China

Dengan populasi Muslim sekitar 209 juta jiwa saat ini Indonesia merupakan negara Muslim terbesar. Posisi ke-2 dan ke-3 terbesar diduduki masing-masing oleh Pakistan dan India. Populasi Muslim di kedua negara itu masing-masing 176 juta dan 167 juta jiwa. Yang menarik untuk dicatat, diperkirakan pada tahun 2050 India akan menggeser posisi Indonesia sebagai negara Muslim terbesar. Pada tahun itu India diperkirakan akan menampung paling tidak 300 juta Muslim. Setelah India, dua urutan negara Muslim terbesar berikutnya adalah Bangladesh dan Nigeria dengan populasi Muslim masing-masing sekitar 134 juta dan 77 juta jiwa (Lihat Grafik 3).

Tantangan

Perkembangan teknologi komunikasi kontemporer semakin meningkatkan hubungan antar sesama. Pertanyaan bagi internal komunitas muslim adalah apakah hubungan ini memperkuat gairah mereka terhadap kesatuan ummah (Arab: ummatan wahidah) atau semakin membuka mata terhadap realitas keragaman ekspresi keislaman. Inilah pertanyaan yang mengenai “otentitas” dan “hibriditas” ekspresi keislaman. Bagi Riaz Hassan, perjuangan antara keduanya “menyajikan tantangan yang mungkin paling penting bagi globalisasi Umat Islam” ( represents perhaps the most important challenge of globalisation for the Muslim ummah[5]). Mengenai hibriditas ekspresi keislaman Riaz Hassan menulis:

Unlike in the past, when limitations of transport and communication technologies made it difficult for Muslims worldwide to acknowledge the cultural and social diversity of the ummah, the introduction of satellite television, internet, international travel, and access to books and magazines and increasing literacy is now making Muslims aware of their cultural and social diversity[6].

Wallahualam….@

 

[1] http://www.pewresearch.org/fact-tank/2017/04/05/christians-remain-worlds-largest-religious-group-but-they-are-declining-in-europe/. Hasil analisis ini berbeda dengan hasil perhitungan penulis sebagaimana disajikan dalam   https://uzairsuhaimi.blog/2017/06/27/muslim_popn/.

[2] https://uzairsuhaimi.blog/2017/06/27/muslim_popn/

[3] http://www.suarakristen.com/2015/02/22/statistik-tentang-kekristenan-sedunia-saat-ini/

[4] Lihat https://www.kaskus.co.id/thread/563ad0bc1cbfaa444a8b456e/perbedaan-kristen-dan-katolik/; juga, https://tuhanyesus.org/perbedaan-agama-kristen-dan-katolik.

[5] https://yaleglobal.yale.edu/content/globalizations-challenge-islam

[6] Ibid

Puasa dan Manusia Ideal

Related image

Related imageRelated imageRelated image

Sumber Gambar: Google

Dalam hitungan hari, Bulan Ramadhan akan tiba. Milyaran Muslim di seluruh dunia siap menyambutnya[1]. Bagi muslim, ini adalah kewajiban agama dan itu sudah cukup sebagai alasan untuk melaksanakannya secara patuh. Bagi mereka, yang paling penting Puasa adalah kewajiban agama, bukan masalah untung-rugi atau manfaat-mudaratnya.

Kesadaran semacam ini membuat mereka mengabaikan pandangan yang menghawatirkan dampak negatif puasa terhadap kesehatan, misalnya. Pandangan semacam ini bukan tanpa dasar karena didukung oleh banyak hasil penelitian ilmiah. Yang perlu dicatat adalah bahwa penelitian yang berpendapat sebaliknya tidak kurang atau bahkan mungkin lebih banyak. Satu di antaranya yang layak simak adalah penelitian Zibdeh, seorang ahli nutrisi, yang mengajukan pendapat profesionalnya sebagai berikut:

People think that fasting means starvation, but that doesn’t happen until someone doesn’t eat for four consecutive days,” Zibdeh said. “There are no dangers to fasting if people refuel in the evening hours. Fasting improves brain function and mood, increases vigilance and mental clarity. It also allows the gut to clean chemicals that accumulate. That doesn’t happen often because when we eat, we interfere with that function.[2]

Selain meyakini Puasa sebagai kewajiban agama, apakah Umat juga meyakini manfaat ibadah ini? Kita tidak mengetahui jawaban secara pasti karena sejauh pengetahuan penulis belum ada survei mengenai ini. Walaupun demikian, kita dapat menduga jawabannya positif. Indikasinya, Puasa dikenal oleh semua tradisi atau agama[3] dan di kalangan internal Umat Puasa merupakan ibadah yang sangat populer (banyak dipraktikkan), lebih populer dari pada Salat dan (apalagi) Zakat, misalnya.

Keyakinan Umat akan manfaat Puasa agaknya didasarkan pada ungkapan populer yang artinya kira-kira: “Berpuasalah maka niscaya kalian sehat”. Sangat penting untuk dicatat, meskipun isinya baik, ungkapan itu bukan Hadits[4]. Selain itu, pengetahuan itu agaknya tertanam dalam kesadaran kolektif Umat karena sudah dipraktikkan selama ribuan tahun. Dengan perkataan lain, pengetahuan Umat mengenai manfaat Puasa bukan didasarkan pada pengetahuan obyektif yang bisa benar atau salah, melainkan berbasis pengetahuan langsung oleh subyek yang mengetahui sehingga terbebas dari falsifikasi salah-benar. Pengetahuan terakhir ini analog dengan pengetahuan mengenai sakit yang kita rasakan, bukan pengetahuan dokter mengenainya. Pengetahuan semacam ini dikenal dengan Ilmu Hudhuri[5].

Apa saja pengetahuan (langsung) Umat mengenai manfaat Puasa? Kita dapat membuat daftar panjang mengenai hal ini tetapi empat kategori manfaat berikut agaknya memadai sebagai ilustrasi.

  1. Puasa membuat lebih dekat dengan-Nya.

Pengetahuan ini didasarkan pada kesadaran bahwa Puasa merupakan ajaran agama sebagaimana tercantum dalam ayat Al-Quran (2:183). Pengetahuan ini diperkuat oleh tradisi tadarus (membaca Al-Quran), salat sunat tarawih,  itikaf (bertafakur pada siang hari di masjid), dan ibadah sunat yang secara khas sangat ditekankan pada Bulan Ramadhan.

  1. Puasa membuat lebih dekat dengan sesama.

Pengetahuan ini didasarkan pada pengalaman langsung –dalam arti bukan semata-mata pengamatan atau laporan ilmiah atau laporan jurnalis– bahwa lapar dan haus sangat tidak nyaman dan bahkan “menyiksa”. Pengalaman semacam ini dapat mendorong seseorang untuk berempati dengan kelompok masyarakat duafa (terpinggirkan, serba kekurangan).

Pengetahuan ini diperkuat dengan sejumlah ibadah sunat (tidak harus tetapi dianjurkan) yang ditekankan ketika puasa: sedekah, menyantuni fakir-miskin, berbagi takjil (buka puasa), dan sebagainya. Yang perlu disisipkan di sini, ajaran Islam mengenai kedermawanan (charity) tidak didasarkan pada pengetahuan teori etika-moral yang abstrak, tetapi bertitik-tolak dari pengalaman kongkret. Analog dengan ini, ajaran Islam mengenai rendah hati (humility) tidak didasarkan pada teori etika, tetapi lebih didorong oleh pengamatan empiris mengenai keterbatasan fisik manusia: “Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi ini dengan sombong  karena sesungguhnya engkau tidak dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung” (17:37).

  1. Puasa meningkatkan standar moral.

Umat menyadari ketika puasanya menjadi tidak atau kurang efektif (berpahala) jika tidak mengindahkan perilaku yang dilarang ketika berpuasa termasuk berbohong, bergunjing, marah berlebihan, intoleran, berlaku angkuh, perilaku koruptif, memperlihatkan syahwat seksual, dan perilaku sejenis. Lawan dari perilaku itu yaitu perilaku berkata jujur, berkata seperlunya,  pemaaf, toleransi, rendah hati, hati-hati untuk tidak mengambil hak orang. Semua perilaku ini dapat meningkatkan standar moral seseorang.

  1. Puasa membantu memperdalam pengenalan jati-diri.

Larangan mutlak untuk tidak makan, tidak minum, dan tidak melakukan hubungan seksual ketika puasa, memaksa pelakunya untuk mengenali jati dirinya secara lebih mendalam. Pengenalan ini memaksanya untuk eling (istilah Jawa) atau membuat jarak-ontologis (istilah filsafat) bahwa hakikat dirinya bukan binatang, tetapi lebih mulia dari binatang, yang geraknya hanya didorong insting mencari makan, minum dan sex. Pengenalan ini menyadarkannya bahwa dalam dirinya ada –atau lebih tepat hakikatnya– Ruh-Nya yang ditiupkan-Nya ke dalam relung jati-dirinya yang paling dalam.

Sebagai penutup dapat disampaikan bahwa pengetahuan mengenai empat manfaat Puasa sebagaimana dibahas di atas, ditambah kesadaran mengenai pentingnya pola makan dan perilaku sehat, dapat membuat seseorang menjadi ideal. Hal ini terungkap dalam suatu laporan berikut ini:

If persons take care about their dietary patterns, avoid addictions, speak the truth, practice the concept of neighbourhood and hospitality and give charity as prescribed, do regular prayers, they will not only become an ideal human beings, but will certainly be also entitled for God’s blessing and protection which all of us so desperately need[6].

Seorang manusia ideal (an ideal human beings) itulah yang agakanya dimaksudkan sebagai orang takwa dalam teks suci (2:183). Wallahualam….@

[1] Mengenai estimasi populasi muslim lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/06/27/muslim_popn/.

[2] https://thinkprogress.org/the-controversy-over-the-health-effects-of-fasting-during-ramadan-db620fee1d03/

[3] Al-Quran (2:183): Surat ke-2, Ayat ke-183.

[4] https://konsultasisyariah.com/12786-derajat-hadis-berpuasalah-maka-kamu-akan-sehat.html.

[5] https://abuthalib.wordpress.com/2009/06/27/ilmu-hudhuri/.

[6] https://www.omicsonline.org/psycho-social-behaviour-and-health-benefits-of-islamic-fasting-during-the-month-of-ramadan-2161-0711.1000178.php?aid=9594.

Agama-agama Samawi: Identifikasi Titik Temu

Kata samawi (Arab) identik dengan kata langit (Indonesia) sehingga istilah agama samawi dapat diganti dengan agama langit. Kata yang terakhir ini menegaskan bahwa sumber ajaran agama samawi, bukannya produk kebudayaan atau berasal dari dunia-bawah-sini, melainkan dari dunia-atas-sana (wahyu), sekalipun dimaksudkan sebagai pedoman hidup di dunia-bawah-sini. Dengan pengertian ini maka agama samawi mencakup semua agama, millah, tradisi[1] yang bersumberkan wahyu Allah SWT, sejak era Adam AS, Idris AS, Nuh AS, dan Ibrahim AS beserta keturunannya, sampai kepada Muhammad SAW. Tulisan ini memfokuskan pada tiga agama besar yang sampai kini masih ada yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam. Istilah agama samawi yang digunakan dalam tulisan ini terbatas hanya pada tiga agama ini.

Lembaran Buram

Sejarah mencatat hubungan antar umat agama samawi tidak selalu harmonis bahkan sering disertai konflik berdarah. Daftar konflik berdarah antar umat agama samawi dapat dibuat panjang tetapi lima kasus berikut ini agaknya memadai sebagai ilustrasi:

  • Akhir Abad 11: Pembantaian komunitas Yahudi dan Muslim di Yerusalem ketika aliansi Pasukan Salib merebut Kota Yerusalem;
  • Sekitar Abad 15: Pengusiran komunitas muslim dan pemaksaan pindah agama bagi komunitas Yahudi di sekitar Teluk Iberia pasca kekalahan penguasa sisa Imperium Umayah di kawasan itu;
  • Pertengahan Abad 20: Perlakuan buruk terhadap komunitas Yahudi di Eropa (Kristen) yang mencapai puncaknya pada peristiwa Holocaust;
  • Konflik Palestina: Permusuhan dan kekerasan berdarah di Palestina dan sekitar yang sampai kini masih berlangsung tanpa prospek penyelesaian yang jelas; dan
  • Konflik di sebagian kawasan di Timur Tengah dan Afrika Utara: Permusuhan dan kekerasan berdarah oleh para ekstremis dari sebagian kecil komunitas Muslim terhadap komunitas non-muslim (minoritas) bahkan terhadap kelompok muslim tertentu (Syiah, kelompok Sufi, dan sebagainya) yang sampai kini masih berlangsung yang juga tanpa prospek penyelesaian yang jelas.

Pertanyaannya: Kenapa kekerasan berdarah semacam itu dapat terjadi? Kita dapat merujuk pada hasil kajian historis maupun sosiologis untuk memperoleh jawaban terhadap pertanyaan itu. Walaupun demikian, dalam analisis terakhir, agaknya akan lebih bijak bagi kita “menyerah” (Arab: aslama, akar kata Islam) dengan mengatakan bahwa semua itu terjadi pada hakikatnya karena kehendak Tuhan SWT. Dari sisi manusia, harus diakui bahwa peristiwa kekerasan berdarah semacam itu menunjukkan kelemahan manusiawi kita secara kolektif atau rendahnya kedudukan (Arab: maqaam) spiritual kita secara berjamaah. Kelemahan manusiawi itu yang mungkin mengundang ketetapan-Nya berlaku. Wallahualam. (God knows better!)

Sebenarnya ada alasan yang lebih substantif kenapa konflik berdarah antar umat agama samawi seharusnya tidak terjadi. Alasan itu, sebagaimana akan kita lihat nanti, adalah Pilar Ihsan yang tercakup dalam Tradisi Ibrahimik: pilar ini menuntut upaya aktif dan proaktif untuk menyempurnakan realisasi dua pilar agama lainnya (Iman dan Islam), juga untuk memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal. Pilar Ihsan ini secara normatif menonjol dalam Tradisi Isa AS tetapi fakta historis Perang Salib menunjukkan lemahnya kesadaran kolektif di kalangan Umat Nasrani terhadap ajaran Ihsan. Kelemahan yang sama –kalau tidak lebih serius– kita temukan di kalangan Umat Yahudi maupun Umat Islam.

Pertanyaan lain yang lebih mendasar: Kenapa ada perbedaan agama? Jawaban mudahnya: sudah menjadi ketetapan atau kehendak-Nya. Selain itu, perbedaan agama pada hakikatnya memperlihatkan karakter supra formal wahyu yang satu tetapi sifat manusia membutuhkan perbedaan. Upaya untuk mempersatukan agama bukan saja mustahil dilakukan tetapi juga tidak perlu, seandainya itu mungkin. Dalam konteks ini, kutipan dari Frithjof Schuon berikut layak disimak:

The diversity of religions, far from proving the falseness of all the doctrines concerning the supernatural, shows on the contrary the supra formal character of revelation—or enlightenment—is one, but human nature requires diversity[2].

the unity of the different religion is not only unrealizable on external level, that of the form themselves, but ought not to be realized at that level, even were this possible, for in that case the revealed form would be deprives of their sufficient reasons[3].

Keturunan Ibrahim AS

Secara normatif, kekerasan berdarah antar penganut agama samawi mestinya tidak terjadi. Kenapa? Karena Yahudi, Nasrani dan Islam memiliki leluhur yang sama yaitu Ibrahim AS. Semua pembawa agama samawi– Musa AS untuk Yahudi, Isa AS untuk Nasrani dan Muhammad SAW untuk Islam— keturunan Ibrahim AS. Nabi besar ini bergelar Bapak Para Nabi dan gelar itu tepat karena semua rasul pasca Nuh AS yang namanya disebut dalam Al-Quran, semuanya keturunan Ibrahim SAW. Kekecualian dalam hal ini adalah Soleh AS, Hud AS dan Luth AS. Musa AS dan Isa AS adalah keturunan Ibrahim AS melalui jalur Ishaq, Muhammad SAW melalui jalur Ismail AS.

Tabel 1 menyajikan beberapa identitas empat Nabi besar agama samawi yaitu Ibrahim AS, Musa AS, Isa AS dan Muhammad AS. Pada tabel itu tampak bahwa tiga yang terakhir adalah keturunan Ibrahim AS. Yang pertama secara genealogis tersambung dengan Adam AS, sebagai keturunan ke-19. Termasuk dalam leluhur Ibrahim AS adalah Idris AS dan Nuh AS yang masing-masing keturunan Adam AS yang ke-6 dan ke-9. Semua nabi, bahkan semua manusia dan makhluk hidup lainnya, seterlah Era Nuh AS, adalah keturunan beliau atau yang diselamatkan oleh perahu beliau dari bencana bah yang bersifat global.

Gambaran umum mengenai jarak waktu antara era Ibrahim AS dengan era ketiga keturunannya itu dapat dilihat dari urutan keturunan (lihat Kolom 2 Tabel 1): Musa AS, Isa AS dan Muhammad SAW, masing-masing keturunan yang ke-8, ke-30 dan ke-33. Gambaran yang lebih cermat dapat dilihat dari periode kehidupan masing-masing nabi itu (Kolom 4): Ibrahim AS (1997-1822 SM), Musa AS (1527-1407 SM), Isa AS (1S M-32 M), dan Muhammad AS (570-632 M).

Yang menarik juga untuk dicatat adalah bahwa Musa AS ternyata “paling populer” diukur dari frekuensi penyebutan namanya dalam Al-Quran (Kolom 5): sementara Ibrahim AS, Isa AS dan Muhammad SAW disebut hanya 69, 21 dan 25 kali, Musa AS disebut sampai 136 kali.

Warisan Spiritual Ibrahim AS

Bapak Para Nabi ini mewariskan tidak hanya garis keturunan secara genealogis tetapi juga inti ajaran agama yang berbasis ajaran tauhid atau ajaran Keesaan Tuhan SWT. Argumentasi mengenai hal ini dapat ditemukan dalam sejumlah ayat Al-Quran antara lain:

  • Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan kepada Nuh dan apa telah kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya (42:13)[4];
  • (Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim) “berserah-dirilah! (Arab: aslim), Dia menjawab “Aku berserah diri (Arab: aslamtu) kepada Tuhan seluruh Alam (2:131);
  • Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya. Demikian pula Ya’kub, “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kemu mati kecuali dalam keadaan muslim (Arab: muslimun)” (2:132);
  • Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Ya’kub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab’ Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, smail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya berserah diri kepada-Nya (2:133); dan
  • Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka usahakan dan bagimu apa yang telah kamu usahakan. Dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang apa yang mereka kerjakan (2:134; juga 2: 141):

Kutipan ayat pertama menegaskan kesamaan inti ajaran agama-agama samawi sejak Nuh AS; kutipan ayat yang ke 2 s/d 4 menegaskan Islam sebagai nama agama Ibrahim AS serta keturunan-keturunannya, baik yang melalui jalur Ishak AS (Yahudi dan Nasrani), maupun Ismail AS (Islam). Jelasnya, Islam dalam narasi Al-Quran, sangat inklusif karena tidak hanya mencakup ajaran yang dibawa Muhammad SAW (Islam dalam pengertian populer). Dalam konteks ini patut disisipkan di sini karakterisasi Al-Quran mengenai ahli Kitab:

Mereka tidak seluruhnya sama. Di antara Ahli Kitab ada golongan yang jujur, mereka membaca atyat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (salat). Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebaikan. Mereka termasuk orang-orang yang saleh. Dan kebajikan apa pun yang mereka kerjakan, tidak ada yang mengingkarinya. Dan Allah maha mengetahui orang-orang yang bertakwa (3:113-115).

Sekalipun memiliki inti ajaran yang sama, Agama Yahudi, Nasrani dan Islam jelas memiliki bentuk, rumusan teologis mengenai ketuhanan, sejarah keumatan, serta siklus pewahyuan yang berbeda. Tetapi juga jelas wisdom qurani –kebijaksanaan berbasis ayat Al-Quran—bahwa perbedaan itu “bukan urusan kita” sebagai umat sebagaimana tersirat dalam kutipan nomor lima di atas (2:134). Ayat ini tampaknya sedemikian penting sehingga diulang dengan redaksi yang persis sama dalam (2:141). Yang juga jelas adalah wisdom qurani yang menegaskan “tidak ada paksaan dalam agama” (2:256).

Wisdom qurani dengan nada serupa dapat ditemkan dalam ayat lain yang pada intinya berupa seruan agar umat agama samawi lebih mengetengahkan kesamaan antar mereka (Arab: kalimatun sawa), bukan meruncingkan perbedaan:

Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan kita selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka) “Saksikanlah bahwa kami adalah orang muslim”  (3:64).

Perbedaan Penekanan

Kutipan ayat terakhir pada intinya seruan kepada ajaran tauhid yang merupakan inti dari ajaran agama samawi. Karena inti ajaran ini maka  agama samawi dikenal dengan sebutan agama monoteisme. Dalam Millah atau Tradisi[5] Ibrahim AS, pilar Iman (Faith) yang berkarakter ajaran tauhid ini sangat menonjol dan karakter ajaran itu yang diwasiatkan kepada keturunannya sebagaimana terungkap dalam kutipan-kutipan ayat terdahulu. Yang perlu dicatat adalah bahwa Millah Ibrahim AS mencakup juga dua pilar agama (Dien) yang lain yaitu Islam (Law) dan Ihsan (Way). Tetapi penekanan terhadap pilar pertama (Iman) sedemikian kuatnya sehingga dua pilar yang lainnya seolah-olah terserap dalam pilar pertama.

Berbeda dengan Millah Ibrahim, Tradisi Musa AS lebih menekankan pada pilar ke 2 (Hukum, Law) sedemikian sehingga dua pilar lainnya seolah-olah terserap dalam Pilar ke-2. Tradisi Isa AS lain lagi; penekanannya terletak pada Pilar ke-3 (Ihsan, Way); dua pilar lainnya seolah-olah terserap dalam Pilar ke-3 itu. Bagaimana dengan Tradisi Muhammad SAW? Hadits Jibril mengindikasikan bahwa Tradisi nabi terakhir ini mengetengahkan keseimbangan tiga pilar Dien ajaran agama samawi. Dalam narasi Schuon, Islam, for its parts, intend to contain these three elements side by side, thus in perfect equilibrium, whence precisely its doctrine of the three elements iman, islam, and ihsan[6].  Untuk memberikan gambaran yang lebih baik, berikut ini disajikan kutipan dari Schuon yang lebih lengkap:

In order to show in what way the Muslim religion considers itself to be the completion and synthesis of earlier monotheisms, we must first of all recall that its constitutive   elements are al-iman, al-islam, and al-ikhsan, terms that can be rendered, not literally but nonetheless adequate, as “Faith”, “Law” and “Way”. “Faith” corresponds to the first of the three monotheisms, that of Abraham; “Law” to the second, that of Moses; and the “Way” to the third, that of Jesus and Mary. In Abrahamism, the element of “Law” and “Way” are as it were absorbed in by element “Faith”; in Mosaism, it is the element of “Law” that predominates and that, as a result, absorbs the elements “Faith” and “Way”; and in Christianity, it is the element of “Way” that absorbs the two other elements. Islam, for its parts, intend to contain these three elements side by side, thus in perfect equilibrium, whence precisely its doctrine of the three elements iman, islam, and ihsan[7].

Jika diizinkan menggunakan analogi dalam trigonometri, kita dapat menyajikan konfigurasi tradisi Ibrahimik sebagaimana diiulstrasikan oleh Gambar 1. Pada gambar itu tampak sudut sangat besar (lebih dari 90 derajat) yang merepresentasikan Pilar Iman untuk konfigurasi Tradisi Ibrahim. Konfigurasi tradisi Musa AS dan tradisi Isa AS juga menyerupai segitiga yang sama tetapi dengan sudut sangat besar masing-masing pada Pilar Islam dan Pilar Ihsan. Konfigurasi tradisi Muhammad SAW berbeda; semua pilar memiliki sudut yang sama besar (60 derajat) sehingga membentuk segitiga sama-sisi (lihat Gambar 1).

Wallahualam…..@

[1] Dalam konteks ini istilah tradisi mengandung konotasi kepastian adanya hubungan dengan sumber awal. Dalam hal agama wahyu berarti Allah SWT.

[2] “No Activity Without Truth”, 4.

[3] Transcendent Unity of Religion, “Preface”, xxxiv.

[4] Angka yang pertama menunjukkan nomor surat Al-Quran, yang lainnya nomor ayat.

[5] Lihat catatan kaki 1 mengenai pengertian tradisi. Sekadar untuk membedakan, di sini kita menggunakan istilah Tradisi; istilah agama kurang sesuai karena bagi Al-Quran semua agama samawi bernama Islam sebagaimana terlihat dalam beberapa ayat yang dikutip sebelumnya.

[6]  Forms and Substance in the Religion, “Insights into Muhammadan Phenomenon”, 87-88

[7]   Forms and Substance in the Religion, “Insights into Muhammadan Phenomenon”, 87-88

 

Konflik-Sesama dan Kritik Dunia Modern

Sejarah mencatat sekitar seabad lalu Perang Dunia Ke-1 (PD I) berakhir setelah berkecamuk selama empat tahun dalam periode 1914-1918. PD I adalah jenis konflik masal antar sesama manusia (singkatnya, konflik-sesama) yang melibatkan kekerasan dan ketika penghilangan nyawa manusia dari pihak lawan dianggap sah (valid) secara moral dan bahkan dinilai semacam kebajikan (virtue). Momen berakhirnya konflik sejenis itu jelas suatu “kemenangan” bagi kemanusiaan dan bersifat historis sehingga layak bagi kita untuk merefleksikannya.

Kita dapat mulai refleksi dengan mengingat bahwa PD I adalah konflik-sesama bertaraf internasional yang melibatkan hampir semua negara Eropa bersama Rusia, Amerika Serikat (AS), Timur Tengah, dan wilayah-wilayah lainnya. Dalam konflik ini berhadapan dua kelompok kekuatan: di satu pihak ada Kekuatan Poros (Central Powers) dengan anggota utama Jerman, Austria-Hongaria, dan Turki, di sisi lain ada Kekuatan Sekutu dengan anggota utama Perancis, Inggris, Rusia, Italia dan Jepang di sisi lain. (AS menyusul kemudian pada tahun 2017.) Konon semua peserta peperangan ini merasa yakin akan memenangkan peperangan dalam hitungan bulan.

PD I dijuluki Perang Besar (Great War) dan julukan ini layak paling tidak dilihat dari besarnya korban. Menurut suatu laporan, PD I melibatkan sekitar 960 juta penduduk dengan korban: lebih dari 8 juta jiwa meninggal dalam peperangan, 2.3 juta jiwa warga sipil meninggal, 5.4-6.1 juta warga sipil yang meninggal akibat dari kekurangan gizi dan penyakit (di luar influenza), 15.4 juta jiwa yang meninggal atau 19 jiwa per 1000 penduduk, dan 22.1-23.7 juta personil korban luka dari kalangan militer[1].

Sejarah mencatat pula bahwa konflik dengan korban yang sangat besar ini tidak membuat kita (secara kolektif) merasa jera. Buktinya, sekitar dua dekade usai PD I berkecamuk Perang Dunia Kedua (PD II), perang global yang melibatkan banyak sekali negara yang tergabung dalam kekuatan Sekutu atau Poros. Perang ini melibatkan senjata yang jauh lebih merusak (termasuk senjata nuklir) dibandingkan dengan yang digunakan dalam PD I, ditandai oleh sejumlah peristiwa penting yang melibatkan kematian massal warga sipil termasuk Holocaust, memakan korban jiwa sebanyak 50- 70 juta jiwa, serta menegaskan reputasinya sebagai konflik yang paling mematikan sepanjang sejarah umat manusia[2].

Konflik yang mematikan akibat PD II ternyata tidak juga membuat kita jera. Buktinya, pasca PD II sejarah menyaksikan sejumlah peperangan lain: Perang Korea (1950-53), Perang Vietnam (1957-75), Perang Irak-Iran (1980-88), Perang Afganistan (2001-sekarang), Perang Irak (2003-11), Perang Libiya (2011-sekarang), Perang Syria (2011-sekarang), dan Perang Yaman (2015-sekarang). Semua peperangan ini tidak bersifat global tetapi bukan berarti tanpa korban jiwa dan tragedi kemanusiaan yang bersifat masif. Dua yang pertama pada umumnya dinilai sebagai “perang yang dimandatkan” (Inggris: proxy war) antara AS dengan sekutu PBB-nya melawan China-Rusia, sementara empat terakhir merupakan perang saudara disertai tragedi kemanusiaan meluas dalam lingkup regional. Bentuk tragedi itu antara lain pengungsian masal ke negara tetangga bahkan Eropa, pengungsi-lokal (internally-displaced persons), pekerja paksa (forced labour), degradasi tingkat kesejahteraan masyarakat, penyebaran wabah penyakit, bahkan kelaparan ekstrem.

pd1_100

Pertanyaan retrospektif yang layak layak-simak bagi kita secara kolektif adalah mengapa kita membiarkan terjadinya konflik-sesama sejenis itu. Banyak jawaban yang ditawarkan untuk pertanyaan semacam ini tetapi bagi orang semacam Guènon[3], peperangan atau semua bentuk kekacauan lainnya, merupakan implikasi logis dari cara-pandang-dunia budaya modern. Pandangan Guènon mengenai hal ini dapat kita simak dalam bukunya yang berjudul The Crisis of Modern World[4] yang dipublikasikan pasca PD I, tepatnya 1927.

Isi buku ini pada intinya menarasikan, dalam bahasa Martin Ling[5], “kritik tajam (penetrating critique) Guènon terhadap Dunia Modern dan penilaiannya mengenai kekacauan total dalam waktu dekat”. Gagasan pokok Guènon diungkapkan secara padat oleh Martin Ling dalam kutipan berikut[6]:

The rational, material, and secular worldview of modern science threaten to overwhelm realities that underlie the grand design of the natural world… Renè Guènon identified the deep chasm that separates ancient from modern, sacred from profane, and true knowledge from empirical science, a series of deep wounds such as can fully be helded (sic.) only by ending of this cosmic cycle and the beginning of another.

Pandangan duniawi yang rasional, material, dan sekuler dari ilmu pengetahuan modern yang mengancam realitas yang mendasari desain besar dunia alami … Renè Guènon mengidentifikasi jurang yang mendalam yang memisahkan dunia kuno dari dunia modern, yang sakral dari yang profan, dan pengetahuan sejati dari sains empiris, suatu rangkaian luka yang sedemikian parahnya sehingga seolah-olah hanya dapat diobati sepenuhnya dengan mengakhiri siklus kosmik ini dan dimulai lagi dari siklus yang lain.

Anak kalimat terakhir “suatu rangkai luka …” mengungkapkan keprihatinan Guènon yang mendalam terhadap ulah “manusia modern” yang bahkan terkesan putus asa. Keprihatinannya didasari oleh pengamatannya terhadap PD I dan isu yang terkait dengannya. Kita dapat membayangkan keprihatinan beliau jika sempat mengamati PD II, tragedi September 11, Tragedi Kemanusiaan Yaman-Syria-Rohingnya, dan sebagainya.

Terlepas dari kritik Guènon terhadap budaya Dunia Modern, alasan mendasar bagi konflik-sesama yang disertai penghilangan nyawa manusia barangkali dapat dikembalikan kepada tabiat manusia yang menurut “penilaian” malaikat suka “menumpahkan darah” [7] (Arab: yasfikud-dimaa). Wallahualam!

Mengapa kita membiarkan peperangan konflik sejenis itu berulang? Jangan-jangan karena kita termasuk makhluk yang lengah sebagaimana dilansir dalam teks suci:

Dan sungguh akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka (seperti) hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah[8].

Menurut teks suci ini kelengahan membuat kita bermartabat lebih rendah dari binatang ternak. MasyAllah!…@

[1] https://www.britannica.com/event/World-War-I

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Dunia_II

[3] Nama lengkapnya René Guénon (15 November 1886– 7/ January 1951) yang juga dikenl sebagai “Shaykh `Abd al-Wahid Yahya”.

[4] London: Luzac and Co., 1942; edisi dalam Bahasa Prancis terbit 1927.

[5] Martin Lings dalam “Introduction” buku The Essential Rene Guenon (2009:ix), World Wisdom.

[6] Ibid

[7] Al-Quran (2:30); yakni, Surat ke-2 Ayat ke-20.

[8] Al-Quran (7:179).