Puasa dan Perjuangan Spiritual

Sumber Gambar: Google

Dalam hitungan jam Umat Islam akan memulai ibadah Puasa selama sebulan penuh. Mereka tersebar di seluruh pelosok bumi yang secara keseluruhan berjumlah sekitar 1.8 milyar jiwa atau 21.4% dari penduduk global[1]. Mereka sudah lama menunggu momen ini karena meyakini Bulan Puasa, lebih dari pada bulan-bulan lainnya, dipenuhi rahmat dan ampunan-Nya.

Mereka mengetahui dasar hukum dan tujuan puasa, tata cara pelaksanaannya, amalan-amalan unggulan yang dianjurkan, dan sebagainya. Boleh dikatakan tidak ada perbedaan paham mengenai ini

  • Dasar hukumnya Al-Quran dan tujuannya meraih takwa (Kitab QS 2:183).
  • Pelaksaan: siang hari dengan cara tidak makan, minum dan apa pun yang membatalkan, serta dianjurkan beritikaf atau tinggal atau menetap (Arab: al-muzamalat) di Masjid dengan niat untuk ibadah. Kata itikaf dalam pengertian ini dapat ditemukan dalam teks suci (Quran 2: 125 dan 127).
  • Ibadah unggulan: baca Al-Quran, Salat Malam (termasuk Tarawih) dan bersedekah (termasuk bagi yang berbuka puasa).

Seperti baru disinggung, itikaf mensyaratkan niat. Demikian juga Puasa dan ibadah lain. Unsur niat ini sangat penting dan sedemikian pentingnya sehingga– menurut suatu Hadits– menentukan hasil yang diperoleh.

Karena urusan niat adalah urusan hati maka kemampuan mengelola hati menjadi sangat penting. Kemampuan ini dibutuhkan untuk memenangkan perjuangan spiritual (mujahadah), perjuangan sepanjang hidup yang diintensifkan melalui Puasa. Perjuangan ini menghadapi dua front yaitu hawa nafsu dan kelalaian. Yang pertama– menurut Hadist– lebih berat dari pada melawan musuh fisik berupa bala tentara musuh, kaum kuffar Quraisy saat itu. Yang kedua, dalam perspektif sufi,  tergolong  dosa (dzunub) yang perlu disucikan.

Dua front perjuangan spiritual: hawa nafsu dan kelalaian

Istilah hati dalam konteks ini bukan hati dalam pengertian fisik melainkan merujuk pada– meminjam istilah KH Zezen[2]— dimensi abstrak, batin atau ketuhanan yang tertanam dalam diri manusia. Hati dalam pengertian ini dinilai sebagai hak eksklusif bagi Rabb SWT sehingga terlarang bagi yang lain yang bersifat duniawi. Hati diciptakan secara ekslusif sebagai lokus kehadiran-Nya dalam diri manusia, semua manusia, tanpa pandang bulu. Ia merupakan– juga meminjam istilah KH Zezen–  “Kabah” atau “Rumah Tuhan” yang ter-intall dalam setiap individu manusia.

Hati diciptakan secara ekslusif sebagai lokus kehadiran-Nya dalam diri manusia.

Dalam praktik, tentu sangat sulit (manusiawi) bagi hati untuk mencegah kedatangan akwan tadi. Inilah antara lain fungsi zikir: “mengusir” akwan keluar dari wilayah eksklusif ini. Hati perlu dibuat terbebas dari akwan sehingga dapat bercahaya .

Tapi upaya untuk membuat hati bercahaya bukan perkara yang mudah. Upaya ini pertama-tama menuntut syarat agar hati diperlakukan secara adil atau sesuai dengan peruntukannya yaitu “Rumah Tuhan”. Konsekuensinya sangat menantang: semua hal yang bersifat duniawi, gambaran saja, harus diusir dari tempat eksklusif itu[3]. Inilah salah satu aspek dalam Hikmah ke-13 Al-Hikam:

  1. Bagaimana hati seseorang akan bercahaya jika padanya terpapar gambaran apa pun yang bersifat duniawi (akwan)?
  2. Bagaimana perjalanan menuju Allah SWT akan dapat dimulai jika masih terbelenggu oleh nafsu syahwat?
  3. Bagaimana akan dapat masuk menjumpai Allah SWT jika belum bersih dari kelalaian (mengingat-Nya, dzikir)?
  4. Bagaimana berharap akan mengerti rahasia yang halus dan tersembunyi jika belum taubat dari kekeliruannya?

(Diadaptasi dari Ibnu Ahailah As-Sakandari, Al-Hikam, Hikmah ke-13).

Dari teks di atas terlihat jelas bahwa mengusir gambar akwan, tasyriq-qlab-shuarul-akwan, merupakan syarat perlu dalam perjuangan spiritual. Tapi itu tidak cukup. Ada tiga syarat lainnya:

  1. Terbebas dari belenggu syahwat– mukabbalun bi syhawatih
  2. Suci dari junub karena melalaikan-Nya– jinabah-gaflatih; dan
  3. Taubat– yatub min hawatih.

Kiatnya? Berzikir Tanpa Henti! Pray Without Cession!

Wallahualam….@

[1] Mengenai populasi Muslim dapat di akses di SINI.

[2] Lihat, misalnya, INI.

[3] Ini tidak berarti kekayaan duniawi terlarang dalam Islam. Justru sebaliknya sebagaimana terlihat dengan adanya ibadah zakat dan haji. Yang menjadi masalah di sini di mana “gambar”-nya harus diletakkan. Ia “terlarang” diletakkan dalam hati, tetapi cukup di tangan atau di otak saja.

Doa Personal

Mengomentari Aksi Demo “Damai” 4/11/16 Ustadz Mansur –dalam suatu acara TV talk show 5/11/16 yang lalu– menekankan arti penting doa, menjelang dan pasca demo. Mengenai relatif amannya demo ini beliau mengatakan kira-kira: “Siapa yang mampu mengendalikan pendemo yang jumlahnya mencapai jutaan (secara nasional) kecuali Dia yang menguasai hati setiap orang”.

Menurutnya, karena tidak ada satu pihak pun yang menghendaki kekacauan atau kerusuhan, beliau mengajak semua pihak, termasuk penganut agama lain, untuk memanjatkan doa bagi keamanan Indonesia yang hakikatnya “milik” Tuhan. Beliau sangat meyakini kekuatan doa dan penulis yakin beliau dalam hal ini dia tidak sendirian, apalagi dalam konteks Indonesia yang dikenal religious. Melalui tulisan ini penulis bermaksud berbagai pendapat mengenai doa, khususnya mengenai doa personal.

Mode Berdoa

Dalam bentuknya yang elementer, istilah doa merujuk pada doa personal (personal prayer); artinya, yang menjadi subyek doa adalah seorang individu sehingga yang digunakan adalah kata ganti orang pertama (Saya, Aku). Contoh doa personal: “Ya Allah, karuniakan kepadaku nikmat kesehatan dan keberkahan hidup”. Contoh lain adalah doa Nabi Musa menjelang ketemu Fir’aun (Thaha: 25-26): “… Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku”.

Pernyataan doa di atas berbeda, dengan, misalnya, doa yang dinarasikan dalam al-Fatihah (ayat 5): “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. Di sini yang menjadi subyek doa bukan seorang individu manusia (such a man), melainkan manusia secara keseluruhan atau sebagai satu ras (man as such). Doa ini wajib dibaca dalam salat sehingga ketika salat sebenarnya kita meng-atas-nama-kan atau mewkili semua orang yang salat, bahkan seluruh umat manusia sebagai satu ras.

Salat, berbeda dengan doa personal, merupakan mode berdoa dengan tatacara yang sudah baku atau kanonik. Dalam konteks ini ada dua catatan yang layak dikemukakan:

  • Dalam Bahasa Inggris, istilah prayer berlaku untuk doa personal mapun salat. Karena tatacaranya yang baku (given, canonical), salat dapat dikatakan sebagai doa kanonik (canonical prayer).
  • Jika dalam doa personal masing-masing subyek doa secara bebas dapat menetukan cara dan merumuskan lafalnya; dalam doa kanonik tatacara dan lafal doa sudah baku, sudah ditentukan.

Siapa yang “mengarang” ketentuan baku itu dalam doa kanonik? Dalam konteks Islam Tuhan sendiri yang menjadi pengarangnya, didemonstrasikan oleh Jibril yang dapat dilihat secara sempurna oleh Rasul SAW[1] dan diterima oleh umat secara aklamatif.

Doa kanonik dianggap lebih sempurna dari pada doa personal karena individu manusia secara umum terlalu terbatas kepastiasnya untuk menyatakan keinginannya secara layak di hadapan Tuhan yang Maha Tinggi dan Maha Suci. Lebih dari itu, karena keterbatasan visinya, yang diminta dalam doa kita sama-sekali tidak mustahil malah merugikan kita.

Kita– di hadapan Tuhan, karena keterbatasan kita– bisa berperilaku seperti anak kecil kepada ibunya: merengek minta es krim padahal tengah menderita batuk-pilek, atau, ngotot minta permen atau coklat padahal sedang sakit gigi.

Di atas doa kanonik ada lagi mode doa yang dinilai lebih sempurna yaitu menyebut Nama Tuhan atau, mengunakan istilah agama, dzikir; yakni, melafalkan Nama Tuhan secara berulang-ulang, kira-kira seperti japa dalam tradisi Hindu[2].

Kenapa dzikir lebih sempurna? Karena menurut Schuon[3]: (1) Tuhan dan Nama Tuhan identik, dan (2) Tuhan Sendiri (God Himself) yang menyatakan atau melafalkan NamaNya (His Name) dalam diri-Nya (in Himself), dengan demikian, dalam keabadian dan di luar semua ciptaan. Itulah sebabnya keunikan-Nya dan firman-Nya yang tidak diciptakan (His unique and uncreated Word) merupakan bentuk dasar (purwa-rupa, prototype) dari dzikir dan bahkan, secara kurang langsung, dari semua mode “pertemuan” manusia dengan Tuhan (orison).

…..  keunikan-Nya dan firman-Nya yang tidak diciptakan merupakan bentuk dasar dari dzikir dan bahkan dari semua mode “pertemuan” manusia dengan Tuhan.

Dari uraian singkat di atas terlihat ada tiga cara atau mode berdoa: doa personal, doa kanonik, dan dzikir. Bagian selanjutnya dari tulisan ini, sebagaimana tercermin dari judul, membahas mode doa pertama, doa personal.

Arti Penting Doa Personal

Pernyataan bahwa doa personal kurang sempurna dibandingkan doa kanonik (apalagi dzikir) bukan berarti doa personal tidak penting bagi kita: kita tidak dapat berbuat apa-apa tanpa pertolongan Dia karena Dialah menentukan atau, menggunakan bahasa teologis, sebab efisien dari segalanya. Selain itu, keteguhan atau kebulatan hati (resolution) tidak ada artinya tanpa disertai doa, petisi atau atau permintaan tolong kepada-Nya.

Ketika berdoa kita, selaku individu, mengekspresikan secara langsung keinginan dan kehawatiran kita, harapan dan rasa syukur kita.

doa102

Yang sangat mendasar untuk dicatat adalah bahwa tujuan berdoa bukan hanya untuk mengamankan agar keinginan tertentu kita terkabul. Doa seyogyanya juga bertujuan untuk membersihkan jiwa kita karena fungsi doa antara lain melonggarkan simpul-simpul psikis (psichic knots) kita, melarutkan gumpalan-gumpalan yang memenuhi bawah-sadar kita, serta melepaskan berbagai macam racun yang tersembunyi dalam diri kita (bangga, iri, serakah, dan sebagainya).

Melalui doa kita mengemukakan di hadapan Tuhan kesulitan-kesulitan kita, kesalahan-kesalahan kita, tekanan-tekanan jiwa yang kita alami, dan semua ini, meminjam istilah Shuon[4] “mengandaikan jiwa yang rendah-hati dan jujur, dan penyingkapan ini, dilakukan di hadapan yang Absolut, perlu untuk membangun kembali keseimbangan dan memulihkan kedamaian; singkatnya, untuk membuka pintu rahmat bagi kita”.

Sebagaimana diungkapkan sebelumnya, dalam doa personal, subyek doa dapat merumuskan lafal doa secara bebas. Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar karena doa yang tulus perlu diawali permintaan ampun, serta disemangati paling tidak oleh oleh rasa syukur dan rasa pasrah.

  • Permintaan ampun (istigfar): bisa jadi yang kita minta bertentangan dengan kehendak Ilahiah (divine Will);
  • Rasa syukur (thankfulness): kita sadar bahwa setiap pengabulan permitaan yang diinginkan pada dasarnya merupakan rahmat (grace) yang bisa saja tidak kita peroleh; dan
  • Pasrah (tawakkal, resignation): kita perlu mengantisipasi doa yang tidak terkabul, atau lebih tepatnya, belum dikabulkan atau dikabulkan tetapi dalam bentuk lain yang lebih menguntungkan bagi kita.

 

Sikap Pasrah

Teks suci menegaskan bahwa Tuhan dekat dengan kita dan pasti mengabulkan doa personal kita (al-Baqarah: 186), Dia sangat lebih dekat urat leher nadi kita; dia sangat dekat dengan kita, lebih dekat bahka dari pada urat leher kita (Qaaf:16). Walaupun demikian, bisa jadi yang diminta dalam doa kita waktunya belum sesuai, atau perlu diganti dengan yang lebih baik. Bukankah orang tua yang bijak akan menunda mengabulkan permintaan anaknya yang merengek minta dibelikan balap padahal umurnya masih balita sampai umur si anak mencapai belasan, atau mengganti apa yang diminta dengan speda beroda tiga?

Terkait pendundaan pengabulan doa ini layak direnungkan wejangan ringkas dari syech sufi berikut ini[5]:

doa101

Jangan sampai tertundaya karunia Tuhan kepadamu setelah kau mengulang-ulang doamu, membuatmu merasa putus asa. Karena Dia menjamin pengabulan doa sesuai pilhan-Nya, bukan sesuai pilihanmu; pada waktu yang diinginkan-Nya, bukan pada waktu yang kau inginkan.

In spite of intense supplication, a delay in the timing of the Gift, let that not be the cause of your despairing. He has guaranteed you a response in what He chooses for you, not in what you choose for yourself, and at the time He desires, not the time you desire.

 Wallahu’alam …..@

[1] Konon, keungulan Rasul SAW dibandingkan rasul lain adalah kemampuannya untuk melihat. Ayat 1-18 Surat An-Najm hemat penulis mengilustrasikan keunggulan ini.

[2] http://www.hinduwebsite.com/hinduism/concepts/japa.asp.

[3] Schuon, Frithjof, Prayer Fashions Man, World Wisdom (2005:60). Nama muslim Schuon adalah   Isa Nur ad-Din, nama yang konon diberikan oleh Shaykh Ahmad al-Alawi, pendiri salah satu tarekat sufi di Aljazair pada tahun 1930-an.

[4] Schuon, ibid, halaman 58.

[5] Al-Hikam – Ibnu Attha’illah As-Sakandari, Wali Pustaka, 2016

Rumus Agama

Istilah Rumus Agama merujuk pada pernyataan yang kebenarannya berlaku umum bagi semua agama. Artikel ini mempertanyakan apakah ada rumus semacam itu dan meninjau secara kritis rumusan yang ditawarkan Baquet (2006) serta melihat kesesuaian rumus dengan ajaran Islam sejauh yang penulis pahami.

Artikel dapat diakses secara bebas dengan cara meng-klik:   Rumus_Agama