Doa Personal

Mengomentari Aksi Demo “Damai” 4/11/16 Ustadz Mansur –dalam suatu acara TV talk show 5/11/16 yang lalu– menekankan arti penting doa, menjelang dan pasca demo. Mengenai relatif amannya demo ini beliau mengatakan kira-kira: “Siapa yang mampu mengendalikan pendemo yang jumlahnya mencapai jutaan (secara nasional) kecuali Dia yang menguasai hati setiap orang”.

Menurutnya, karena tidak ada satu pihak pun yang menghendaki kekacauan atau kerusuhan, beliau mengajak semua pihak, termasuk penganut agama lain, untuk memanjatkan doa bagi keamanan Indonesia yang hakikatnya “milik” Tuhan. Beliau sangat meyakini kekuatan doa dan penulis yakin beliau dalam hal ini dia tidak sendirian, apalagi dalam konteks Indonesia yang dikenal religious. Melalui tulisan ini penulis bermaksud berbagai pendapat mengenai doa, khususnya mengenai doa personal.

Mode Berdoa

Dalam bentuknya yang elementer, istilah doa merujuk pada doa personal (personal prayer); artinya, yang menjadi subyek doa adalah seorang individu sehingga yang digunakan adalah kata ganti orang pertama (Saya, Aku). Contoh doa personal: “Ya Allah, karuniakan kepadaku nikmat kesehatan dan keberkahan hidup”. Contoh lain adalah doa Nabi Musa menjelang ketemu Fir’aun (Thaha: 25-26): “… Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku”.

Pernyataan doa di atas berbeda, dengan, misalnya, doa yang dinarasikan dalam al-Fatihah (ayat 5): “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. Di sini yang menjadi subyek doa bukan seorang individu manusia (such a man), melainkan manusia secara keseluruhan atau sebagai satu ras (man as such). Doa ini wajib dibaca dalam salat sehingga ketika salat sebenarnya kita meng-atas-nama-kan atau mewkili semua orang yang salat, bahkan seluruh umat manusia sebagai satu ras.

Salat, berbeda dengan doa personal, merupakan mode berdoa dengan tatacara yang sudah baku atau kanonik. Dalam konteks ini ada dua catatan yang layak dikemukakan:

  • Dalam Bahasa Inggris, istilah prayer berlaku untuk doa personal mapun salat. Karena tatacaranya yang baku (given, canonical), salat dapat dikatakan sebagai doa kanonik (canonical prayer).
  • Jika dalam doa personal masing-masing subyek doa secara bebas dapat menetukan cara dan merumuskan lafalnya; dalam doa kanonik tatacara dan lafal doa sudah baku, sudah ditentukan.

Siapa yang “mengarang” ketentuan baku itu dalam doa kanonik? Dalam konteks Islam Tuhan sendiri yang menjadi pengarangya, didemontrasikan oleh Jibril yang dapat dilihat secara sempurna oleh Rasul SAW[1] dan diterima oleh umat secara aklamatif.

Doa kanonik dianggap lebih sempurna dari pada doa personal karena individu manusia secara umum terlalu terbatas kepasitasnya untuk menyatakan keinginannya secara layak di hadapan Tuhan yang Maha Tinggi dan Maha Suci. Lebih dari itu, karena keterbatasan visinya, yang dimina dalam doa kita sama-sekali tidak mustahil malah merugikan kita.

Kita– di hadapan Tuhan, karena keterbatasan kita– bisa berprilaku seperti anak kecil kepada ibunya: merengek minta es krim padahal tengah menderita batuk-pilek, atau, ngotot minta permen atau coklat padahal sedang sakit gigi.

Di atas doa kanonik ada lagi mode doa yang dinilai lebih sempurna yaitu menyebut Nama Tuhan atau, mengunakan istilah agama, dzikir; yakni, melafalkan Nama Tuhan secara berulang-ulang, kira-kira seperti japa dalam tradisi Hindu[2].

Kenapa dzikir lebih sempurna? Karena menurut Schuon[3]: (1) Tuhan dan Nama Tuhan identik, dan (2) Tuhan Sendiri (God Himself) yang menyatakan atau melafalkan NamaNya (His Name) dalam diri-Nya (in Himself), dengan demikian, dalam keabadian dan di luar semua ciptaan. Itulah sebabnya keunikan-Nya dan firman-Nya yang tidak diciptakan (His unique and uncreated Word) merupakan bentuk dasar (purwa-rupa, prototype) dari dzikir dan bahkan, secara kurang langsung, dari semua mode “pertemuan” manusia dengan Tuhan (orison).

…..  keunikan-Nya dan firman-Nya yang tidak diciptakan merupakan bentuk dasar dari dzikir dan bahkan dari semua mode “pertemuan” manusia dengan Tuhan.

Dari uraian singkat di atas terlihat ada tiga cara atau mode berdoa: doa personal, doa kanonik, dan dzikir. Bagian selanjutnya dari tulisan ini, sebagaimana tercermin dari judul, membahas mode doa pertama, doa personal.

Arti Penting Doa Personal

Pernyataan bahwa doa personal kurang sempurna dibandingkan doa kanonik (apalagi dzikir) bukan berarti doa personal tidak penting bagi kita: kita tidak dapat berbuat apa-apa tanpa pertolongan Dia karena Dialah menentukan atau, menggunakan bahasa teologis, sebab efisien dari segalanya. Selain itu, keteguhan atau kebulatan hati (resolution) tidak ada artinya tanpa disertai doa, petisi atau atau permintaan tolong kepada-Nya.

Ketika berdoa kita, selaku individu, mengekspresikan secara langsung keinginan dan kehawatiran kita, harapan dan rasa syukur kita.

doa102

Yang sangat mendasar untuk dicatat adalah bahwa tujuan berdoa bukan hanya untuk mengamankan agar keinginan tertentu kita terkabul. Doa seyogyanya juga bertujuan untuk membersihkan jiwa kita karena fungsi doa antara lain melonggarkan simpul-simpul psikis (psichic knots) kita, melarutkan gumpalan-gumpalan yang memenuhi bawah-sadar kita, serta melepaskan berbagai macam racun yang tersembunyi dalam diri kita (bangga, iri, serakah, dan sebagainya).

Melalui doa kita mengemukakan di hadapan Tuhan kesulitan-kesulitan kita, kesalahan-kesalahan kita, tekanan-tekanan jiwa yang kita alami, dan semua ini, meminjam istilah Shuon[4] “mengandaikan jiwa yang rendah-hati dan jujur, dan penyingkapan ini, dilakukan di hadapan yang Absolut, perlu untuk membangun kembali keseimbangan dan memulihkan kedamaian; singkatnya, untuk membuka pintu rahmat bagi kita”.

Sebagaimana diungkapkan sebelumnya, dalam doa personal, subyek doa dapat merumuskan lafal doa secara bebas. Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar karena doa yang tulus perlu diawali permintaan ampun, serta disemangati paling tidak oleh oleh rasa syukur dan rasa pasrah.

  • Permintaan ampun (istigfar): bisa jadi yang kita minta bertentangan dengan kehendak Ilahiah (divine Will);
  • Rasa syukur (thankfulness): kita sadar bahwa setiap pengabulan permitaan yang diinginkan pada dasarnya merupakan rahmat (grace) yang bisa saja tidak kita peroleh; dan
  • Pasrah (tawakkal, resignation): kita perlu mengantisipasi doa yang tidak terkabul, atau lebih tepatnya, belum dikabulkan atau dikabulkan tetapi dalam bentuk lain yang lebih menguntungkan bagi kita.

 

Sikap Pasrah

Teks suci menegaskan bahwa Tuhan dekat dengan kita dan pasti mengabulkan doa personal kita (al-Baqarah: 186), Dia sangat lebih dekat urat leher nadi kita; dia sangat dekat dengan kita, lebih dekat bahka dari pada urat leher kita (Qaaf:16). Walaupun demikian, bisa jadi yang diminta dalam doa kita waktunya belum sesuai, atau perlu diganti dengan yang lebih baik. Bukankah orang tua yang bijak akan menunda mengabulkan permintaan anaknya yang merengek minta dibelikan balap padahal umurnya masih balita sampai umur si anak mencapai belasan, atau mengganti apa yang diminta dengan speda beroda tiga?

Terkait pendundaan pengabulan doa ini layak direnungkan wejangan ringkas dari syech sufi berikut ini[5]:

doa101

Jangan sampai tertundaya karunia Tuhan kepadamu setelah kau mengulang-ulang doamu, membuatmu merasa putus asa. Karena Dia menjamin pengabulan doa sesuai pilhan-Nya, bukan sesuai pilihanmu; pada waktu yang diinginkan-Nya, bukan pada waktu yang kau inginkan.

In spite of intense supplication, a delay in the timing of the Gift, let that not be the cause of your despairing. He has guaranteed you a response in what He chooses for you, not in what you choose for yourself, and at the time He desires, not the time you desire.

 Wallahu’alam …..@

[1] Konon, keungulan Rasul SAW dibandingkan rasul lain adalah kemampuannya untuk melihat. Ayat 1-18 Surat An-Najm hemat penulis mengilustrasikan keunggulan ini.

[2] http://www.hinduwebsite.com/hinduism/concepts/japa.asp.

[3] Schuon, Frithjof, Prayer Fashions Man, World Wisdom (2005:60). Nama muslim Schuon adalah   Isa Nur ad-Din, nama yang konon diberikan oleh Shaykh Ahmad al-Alawi, pendiri salah satu tarekat sufi di Aljazair pada tahun 1930-an.

[4] Schuon, ibid, halaman 58.

[5] Al-Hikam – Ibnu Attha’illah As-Sakandari, Wali Pustaka, 2016

Dimensi Kebajikan

Kebajikan berdimensi ganda [1]. Hal ini tercermin dari padanan katanya dalam Bahasa Inggris yaitu virtue atau dalam Bahasa Arab yaitu al-birr. Dalam kamus Bahas Inggris, kata virtue mengandung unsur integritas (integrity), adil (justice), sederhana (temperance), murni (purity), patut (decency), pantas (merit), beda (distinction), dan unggul (excellence)[2]. Dalam kamus Bahasa Arab kata al-birr mengandung unsur kejujuran (asshidieq) dan ketaatan (tha’ah), kebaikan (khair), kemasalahatan (ishlah), dan sebagainya[3].

Dari uraian singkat di atas tampak jelas bahwa semua unsur virtue maupun al-birr bernilai positif. Walaupun demikian, perbandingan yang cermat menujukkan bahwa konotasi dari dua kata itu sebenarnya tidak sepenuhnya sama: sementara yang pertama lebih banyak merujuk pada, meminjam istilah Schuon, kebajikan alamiah (natural value), yang kedua pada kebajikan supra-alamiah (supernatural value). Yang menjadi perhatian tulisan ini adalah yang kedua karena yang pertama hanya efektif jika diintegrasikan dengan yang kedua sebagaimana dinyatakan Schuon dalam kutipan berikut[4]:

Thus it is important to understand that the natural virtues have no effective value save on the condition of being integrated into the supernatural virtues….Natural virtue does not, in fact, exclude pride, that worst of illogicalities and that of preeminent vice; supernatural virtue alone –rooted in God—excludes that vice, in the eye of Heaven, cancels all the virtues. Supernatural virtue –which alone is fully human—coincide with humility; not necessarily with sentimental and individualistic humanitarianism, but with the sincere and well-grounded awareness of our nothingness before God and our relativity in relation to others. To be concrete, we would say that a humble person is ready to accept even a partially unjust criticism if it comprises grain of truth, and if it comes from a person who is, if not perfect, at least worthy of respect; a humble person is not interested in having his virtue recognized, he is interested in surpassing himself; hence in pleasing God more than men.

Adalah penting bagi kita untuk mengerti bahwa kebajikan alamiah tidak memiliki nilai efektif kecuali jika terintegrasikan ke dalam kebajikan supra-alamiah… Kebajikan alamiah tidak bebas dari kesombongan, sesuatu yang paling tidak logis dan merupakan induk dari segala keburukan; hanya kebajikan supra-alamiah –yang bersumber dari Tuhan—yang dapat terbebas dari keburukan yang dalam pandangan Langit dapat menghanguskan semua amal kebaikan. Kebajikan supra-alamiah –dan ini yang sepenuhnya manusiawi – berhimpitan dengan kebersahajaan; tidak harus sentimental atau sejalan dengan humilitiarisme individualistik, tetapi bertepatan dengan kejujuran dan kesadaran kokoh mengenai kekerdilan kita di hadapan Tuhan dan relativitas kita di hadapan yang lain. Agar kongkrit, kita dapat katakan bahwa seorang yang bersahaja siap menerima suatu kritik yang sekalipun sebagian tidak adil sejauh tetapi mengandung benih kebenaran, dan sejauh itu datang dari orang yang –jika tidak sempurna—paling tidak layak dihormati; sorang yang bersahaja tidak tertarik agar kebajikannya diakui, ia hanya tertarik untuk mengatasi dirinya; mencari lebih keridoan Tuhan dari pada pujian manusia.

Dari kutipan di atas dapat dipetik paling tidak dua macam pembelajaran yang saling terkait. Pertama, kebajikan (supra-alamiah) bebas dari kesombongan (pride) sehingga bertepatan dengan kebersahajaan (humility). Kedua, kebersahajaan ini berbasis nilai Ketuhanan (rooted in God) yaitu kejujuran (Arab: assiddieq) dan kesadaran kokoh mengenai kekerdilan diri di hadapan Tuhan dan mengenai kesetaraan atau relativitas dirinya di hadapan yang lain.

Dari kutipan di atas juga tersirat arti penting hubungan vertikal (“tali Allah”) dan hubungan horizontal (“tali manusia”) dalam konteks kebajikan; yang kedua ini merupakan basis dari kemurahan-hati (charity). Dua jenis “tali” ini perlu dipegang_teguh agar terhindar dari kehinaan (dzillah): “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanian) dengan manusia…”[5]

kebajikan

Varian Kebajikan[6]

Kebajikan (supra-alamiah) memungkinkan kebenaran (veracity) menjadi kongkrit, terlihat dan hidup: tanpa unsur kebajikan, kebenaran tidak tampak atau seolah-olah tidak bertubuh (imposture). Di sisi lain, dalam perspektif spiritual, kebajikan menjadi tidak bermakna jika tidak dilandasi kebenaran.

Uraian di atas juga menyinggung kaitan kebijakan dengan kebersahajaan dan kemurahan-hati, dua wujud dari kebajikan fundamental (fundamental value). Agar berkah atau manjur, masing-masing kebijakan fundamental itu perlu dipadukan sehingga menghasilkan dua varian kebajikan: (1) “kebersahajaan” bersifat “murah hati” (charitable humility) dan (2) “murah-hati” bersifat “bersahaja” (humble charity).

Karena merupakan wujud kebajikan, masing-masing kebajikan fundamental itu, agar bermakna, membutuhkan kebenaran sebagai landasan. Kombinasi kebenaran dengan kebersahajaan menurunkan dua varian kebajikan: (3) kebenaran yang bersahaja (humble veracity) dan (4) kebersahajaan yang benar (truthful humility). Pada sisi lain, kombinasi kebenaran dengan kemuahan_hati menurunkan varian kebajikan: (5) kebenaran yang murah hati (cahritable veracity) dan (6) kemurahan hati yang benar (truthful charity).

Hemat penulis, memahami 6 (enam) varian kebajikan penting selain untuk memperkaya pemahaman kita mengenai kebajikan tetapi, tetapi juga agar tidak terjebak dalam semangat atau kecenderungan untuk memberikan penekanan yang berlebihan yang tidak perlu (overemphasis) terhadap suatu kebajikan fundamental tertentu.

  • “Kebenaran yang murah hati” (varian ke-5), sebagai contoh, mengingatkan kita bahwa kebenaran bukan hanya untuk keperluan diri-sendiri tetapi perlu di-share dengan orang lain, tentunya dengan cara sedemikian rupa sehingga dapat dipahami.
  • “Kebersahajaan yang benar” (varian ke-4) dan “kemurah-hatian yang benar” (varian ke-6), sebagai contoh lain, menegaskan bahwa “kebersahajaan” dan “kemurah-hatian” harus sesuai dan mengungkapkan kebenaran, bukan bertentangan dengannya.

Contoh terakhir ini mengilustrasikan betapa tidak eloknya melakukan suatu aksi atas nama “kebenaran” tetapi mengabaikan “kebersahajaan” dan “kemurahan_hati” ketika melakukan aksi itu. Wallaahu’alam.

Teks Suci Mengenai Kebajikan

Kebajikan bersifat universal dalam arti dapat ditelusuri dalam teks suci semua agama atau tradisi besar manusia sepanjang sejarah. Dalam konteks Islam, narasi megenai kebajikan (al-birr) dalam berbagai kontkes antara lain dapat ditemkan dalam ayat-ayat al-Qur’an berikut:

  • Ayat (3,92): Kebajikan tidak dapat kita diraih kecuali jika kita mampu menafkahkan sebagian harta yang kita cintai;
  • Ayat (3:193): Doa agar digolongkan ke dalam golongan ahli kebajikan (al-abraar); dan
  • Ayat (2:44): Kecaman kepada Bani Israil yang menyuruh orang lain melakukan melakukan kebaikan tetapi mereka sendiri tidak melakukannya.

Versi ayat yang agak panjang mengenai kebajikan dapat ditemukan dalam Ayat (2:177):

Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, kitab-kitan, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicinatinya kepada kerabat, anak yaitim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menempati janji apabila berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka adalah orang-orang yang benar dan mereka iulah orang yang bertakwa[7].

Ayat itu menyebut ahli kebajikan sebagai orang-orang yang benar atau jujur (shodaquu) dan bertaqwa (muttaquun). Ayat itu mungkin paling lengkap dalam menggambarkan kebajikan karena mengandung unsur ketiga pilar Agama Islam (sesuai “hadits Jibril”)  yaitu Iman, Islam dan Ihsan:

  • Unsur Iman: percaya kepada Allah dan rukun iman lainnya,
  • Unsur Islam: melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan
  • Unsur Ihsan: memberikan harta yang dicintai kepada yang berhak, menempati janji, sabar dalam penderitaan.

Wallahu’alam bimuraadih….@

[1] Dalam situs ini dapat diakses tiga tulisan serupa dengan tulisan ini tapi lebih sederhana: (1) Rendah Hati (1/1/16), Kebajikan Fundamental (24/4/12) dan Kebenaran dan Kebajikan (21/4/12).

[2] Lihat misalnya, Webster’s Pocket Thesaurus, New Revised Edition (2002)..

[3] Lihat , misalnya, Kamus Lisaânul ‘Arabî.

[4] Frihjof Schuon (1988:51-52),  To Have A Center, World Wisdom Books.

[5] Al-Imran 112; terjemahan dikutip dari The Wisdom: Al-Qur’an Disertai Tafsir yang Memudahkan Siapa Saja untuk Memahami Al-Qur’an, 2014, PT Mizan Bunaya Kreativita.

[6] Disarikan dari Shuon, “Spiritual Perspectives and Human Facts”, World Wisdom online library: http://www.wordpresss.com/public/library/ default.aspx

[7] Dikutip dari The Wisdom: Al-Qur’an Disertai Tafsir yang Memudahkan Siapa Saja untuk Memahami Al-Qur’an, 2014, PT Mizan Bunaya Kreativita

Aturan Emas: Meditasi, Konsentrasi dan Salat

Konon ada Aturan Emas (Golden Rule) yang merangkum inti ajaran semua agama. Aturan Emas itu adalah: “Mencintai Tuhan dengan segenap kekuatan dan mencintai tetangga”[1]. Dalam Aturan ini kata mencintai berarti tindakan inteligensi yang didasari keyakinan yang benar (Iman, Faith), tindakan kehendak untuk menyeleraskan dengan kebenaran Iman, serta tindakan hati untuk “berasimilasi” dengan kebenaran itu. Mencintai dengan pengertian ini menuntut partisipasi keseluruhan wujud (whole being): inteligensi, kehendak dan hati sekaligus.

Apakah hubungannya dengan meditasi? Jawabannya tergantung pada definisi meditasi. Jika meditasi diartikan secara umum sebagai “tindakan atau proses meluangkan waktu untuk berpikir tenang” (“act or process of spending time in quiet thought”)[2], maka meditasi tidak terkait dengan Aturan Emas. Sebaliknya, hubungan antara keduanya sangat erat jika meditasi diartikan sebagai “kontak antara inteligensi dengan Kebenaran” sebagaimana dilihat dari perspektif kaum tradisionalis. Untuk memperoleh gambaran yang agak memadai mengenai makna meditasi dari perspektif tradisional yang dimaksud, berikut ini disajikan kutipan dari tulisan tokoh utamanya:

Another mode of orison is meditation; contact between man and God here become contact between intelligence and Truth, or relative truths contemplated in the Absolute. …. Meditation acts on the one hand upon the intelligence, in which it “awaken” certain consubstantial “memories”, and on other hand upon the subconscious imagination, which end up incorporating into itself the truth mediated upon, resulting in fundamental and quasi-organic persuasion”[3].

Mode orisin yang lain adalah meditasi; kontak antara manusia dengan Tuhan disini menjadi kontak antara inteligensi dengan Kebenaran, atau kebenaran relatif dikontemplasikan dalam yang Absolut… Meditasi beraksi di satu sisi melalui inteligensi sehingga “membangkitkan” kenangan konsubstansial tertentu, dan di sisi lain melalui imaginasi bawah_sadar, yang berakhir dengan  penggabungan kebenaran yang dimeditasikan ke dalam diri, hasilnya adalah persuasi fundamental dan kuasi-organis.

Dari kutipan di atas jelas bahwa meditasi mengandung makna yang sangat luas dan mendalam, jauh lebih luas dan lebih mendalam dibandingkan dengan yang ditawarkan oleh kamus umum yang dikenal. Dengan perkataan lain, istilah meditasi dalam kamus umum yang kita kenal sebenarnya sudah didegradasikan maknanya dengan cara menghilangkan unsur-unsur yang “berbau” Tuhan. Degradasi berlaku untuk banyak istilah penting bagi kajian metafisis keagamaan lainnya termasuk intelek.[4]

Apa peran meditasi? Dalam perspektif kaum tradisionalis meditasi berperan penting dalam “membuka jiwa”:

The role of meditation is thus to open the soul, first to the grace that draws it away from the world, second to what brings it nearer to God, and third to what reintegrate it into God, if one may speak in this way, however, reintegration may be only a fixation in a given “beatific vision, that is, a still indirect participation in divine Beauty.

Meditasi berperan untuk membuka jiwa, pertama untuk berkah yang menjauhkan dari dunia, kedua untuk apa yang membawa lebih dekat kepada Tuhan, dan ketiga untuk apa yang mengintegrasikannya dengan Tuhan, jika boleh menggunakan ungkapan ini, tetapi reintegrasi mungkin hanya suatu fiksasi dari “visi keindahan” tertentu, suatu bentuk partisipasi tidak langsung dalam Keindahan ilahiah.

Jika meditasi terkait dengan Kebenaran dan inteligensi, maka konsentrasi terkait dengan Jalan (Way) dan kehendak (the will). Jika meditasi dan konsentrasi masing-masing adalah “amalan” inteligensi dan kehendak, lalu Salat amalan apa? Salat, sampai batas tertentu, dapat dilihat sebagai amalan jiwa. Meditasi, konsentrasi dan Salat; ketiganya menunjukkan secara jelas kehidupan spiritual sekaligus menunjukkan mode-modenya yang utama. Mengenai Salat, kutipan dari Shuon berikut ini layak direnungkan:

Prayer –in the widest sense—triumphs over four accidence of our existence: the world, life, the body, the soul; we might also say: space, time, matter, desire. It is situated like a shelter, like an islet. In it alone are we perfectly ourselves, because it puts us in the presence of God. It is like diamond, which nothing can tarnish and nothing can resist[5].

Salat –dalam pengertian paling luas—mengatasi empat aksiden dari keberadaan kita: dunia, hidup, tubuh, jiwa; kita dapat juga mengatakan: ruang, waktu, materi dan hasrat. Salat ibarat suatu tempat berlindung yang hanya di dalamnya kita menjadi diri kita sendiri secara sempurna karena menempatkan kita dihadapan Tuhan. Salat layaknya berlian, tidak ada yang dapat menodai maupun menolaknya.

Wallâhu’alam… @


[1] Dalam konteks Islam, Aturan Emas ini dirumuskan sebagai aturan untuk menjaga tali hubungan vertikal dengan yang Mutlak (hablun min Allah) dan hubungan horizontal dengan sesame (habl min annas). Kehinaan menimpa siapapun yang mengabaikan kedua macam hubungan ini. Wâllahu’alam.

[2] Meriam Webster, Advance Learner’s English Dictionary.

[3] Frithjof Schuon (2005), dalam Prayer Fashions Man, “Mode of Prayer” (59).

[4] Menurut Meriam-Webster, intelek adalah “kemampuan berpikir secara logis” (the ability to think in a logical way). Bagi kaum tradisional maknanya jauh lebih luas: “at once mirrors of the supra-sensible and itself a supernatural ray of light” (lihat Valodia dalam Glossary of Terms Used by Frithjof Schuon, tanpa tahun).

[5] Frithjof Schuon (2005), dalam Prayer Fashions Man, “The Servant and Union” (182).