Satu Cahaya, Kok Malah Ribut?

Assalamu’alaikum.
Kulo nuwun, para pembaca yang saya banggakan.

Pernah nggak kalian lihat lampu merah di perempatan? Cahayanya satu, tapi orang yang lihat beda‑beda. Yang buta warna bilang abu‑abu. Yang ngantuk bilang kuning. Yang lagi buru‑buru bilang merah itu hijau. Lha salah sendiri, mimpimu sopo?

Gitu juga hidup ini. Sebenarnya ada satu cahaya — entah itu kebenaran, cinta, atau Gusti Allah. Tapi kita lihat pake kaca mata masing‑masing. Wong NU pake kacamata Ahlussunnah. Wong Muhammad Abduh pake kacamata rasional. Wong seniman pake kuas. Semuanya ngarah ke cahaya yang sama, cuma sudut pandangnya beda.

Contoh gampang: Ketupat. Buat orang Jawa, ketupat simbolnya ngaku lepat (mengakui salah). Buat orang Betawi, ketupat lambang silaturahmi. Buat saya, ya enak dimakan pake opor. Cahaya ketupatnya satu: seduluran. Tapi lensanya beda.

Nah, yang mau saya tanya: Cahaya apa yang paling terang dalam hidupmu? Yang bikin hati adem, meskipun banyak orang bilang itu cuma khayalan. Tulis di komentar ya, biar rame.

Vintage flashlight illuminating a paper with the word UNITY through multiple glass lenses
A vintage flashlight shining through lenses highlighting the word ‘UNITY’ and related concepts

Bersambung ke postingan berikutnya: “Kaca Mata Sains – Apa Iya Logika Selalu Dingin?”


Bermula

Leave a Reply