Pandemi Covid-19: Fauci, Trumph dan Kebenaran

Konteks

Ada dua perkembangan menarik terkait pandemi Covid-19. Pertama, Soviet membayangi Amerika Serikat (AS) dalam kasus baru terinfeksi Covid-19; skornya: AS: 18,500, Soviet: 10,000. Ini keadaan 13/5/2020. Dua angka ini menempatkan Soviet pada urutan ke-2 di bawah AS dan di atas Spanyol. Dilihat dari total kasus, dengan mengindeks angka Spanyol 271,000=10, skor AS: Spanyol: Soviet = 53: 10: 9. Yang menarik untuk Soviet, pada 13/4/2020 total kasus hanya sekitar 68,000 dan lonjakan angka ini menimbulkan kecurigaan para ahli bahwa angka-angka Soviet selama ini kerendahan.

Kedua, dalam dengar pendapat dengan kongres AS, Fauci menyinggung angka kematian Covid-19 di AS kerendahan. Pernyataan ini di dibantah oleh Trump: “Angkanya ketinggian”, katanya kira-kira.

Dari dua perkembangan ini pertanyaan besarnya adalah siapa yang benar? Apa itu kebenaran? Tulisan ini tidak bermaksud menjawab pertanyaan besar ini tapi sekadar memetakan isunya untuk memperoleh gambar besar.

Misteri Kebenaran

Para sufi biasa menggunakan istilah al-Haqq untuk merujuk kepada realitas atau kebenaran tertinggi. Secara tidak langsung mereka menganalogikan istilah ini dengan Tuhan YME yang bagi mereka puncak misteri dari misteri. Dalam konteks ini para sufi paling rasional: bagi mereka Kebenaran (dengan huruf K besar, Inggris Truth) tidak akan pernah dapat terjangkau oleh manusia walaupun jalur ke arah-Nya dapat diketahui melalui wahyu yang diturunkan-Nya. Dengan pola pikir semacam ini mereka juga paling rendah hati: bagi mereka, Kebenaran hanya bisa didekati, bukan dicapai [1]. Untuk membayangkan hal ini konsep limit atau asimtot dalam matematik dapat difungsikan sebagai alat bantu.

….. Kebenaran (dengan huruf K besar, Inggris Truth) tidak akan pernah dapat terjangkau oleh manusia walaupun jalur ke arah-Nya dapat diketahui melalui wahyu yang diturunkan-Nya.

Agar isunya membumi, ambil kasus total penduduk sebagai contoh, katakanlah penduduk Jakarta. Pertanyaannya, persisnya berapa total penduduk Jakarta hari ini? Para ahli kependudukan pasti tidak ada yang berani menjawab pertanyaan ini. Argumennya kira-kira: angka sensus mengandung kemungkinan lewat-hitung atau hitung- ganda, angka proyeksi penuh dengan asumsi, dan angka laporan administrasi bisa rawan manipulasi. Untuk menambah komplikasi, setiap saat penduduk dapat bertambah karena kelahiran atau migrasi masuk, dan berkurang karena kematian atau migrasi keluar.

Para ahli demografi (seperti hanya para ilmuan lainnya) akan mempertimbangkan semua isu teknis itu sebelum menyajikan angka terbaik mereka. Sajian mereka pasti akan dilengkapi kata pengantar yang isinya kira-kira: “Inilah kebenaran parsial (dengan huruf k kecil) yang bisa saya sajikan, dan ini bukan Kebenaran total (dengan huruf K besar)”. Bagi Muslim, keyakinan mengenai yang terakhir ini (Arab: ‘ilmal yaqinhaqqul yaqin) baru akan diperoleh setelah “masuk dalam kubur” (QS 102:3, 56:96. 69:51).

Otoritas Profesional

Dalam kasus di atas, sikap yang paling masuk akal adalah memasrahkan-diri (Arab: aslama) kepada para ahli kependudukan. Mereka memiliki otoritas profesional di bidang itu. Dalam konteks AS, Fauci[2] berada pada posisi itu ketika mengemukakan angka kematian korban Covid-19 negaranya.

Untuk mengemukakan pendapatnya itu Fauci hampir dapat dipastikan telah mempelajari data yang relevan, mengevaluasi tingkat reliabilitas data yang tersedia secara cermat, serta menimbang-nimbang banyak faktor pengaruh secara profesional. Termasuk dalam faktor itu adalah keadaan cuaca, tingkat kontak karena antar penduduk, tingkat kepatuhan masyarakat AS dalam mengikuti aturan yang berlaku, perilaku Covid-19 yang baginya masih misterius, angka fatalitas, ketersediaan obat/vaksin yang aman, serta berbagai skenario mengenai semua itu.

….. Fauci…  menimbang-nimbang banyak faktor pengaruh… termasuk tingkat kontak  antar penduduk, tingkat kepatuhan masyarakat AS dalam mengikuti aturan yang berlaku, angka fatalitas, ketersediaan obat/vaksin yang aman, serta berbagai skenario mengenai semua itu

Pertanyaannya, kenapa Trump menentang pendapat Fauci? Jawabannya mungkin ini: Trump sangat berkepentingan mencitrakan dirinya sebagai aktor utama pemulihan ekonomi AS yang tengah terancam bangkrut. Motivasi pemulihan ekonomi tentu suatu kebajikan karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Isunya di sini, motivasi itu diduga kuat dijadikan pembenar penciptaan-diri untuk kepentingan kampanye Pilpres AS dalam beberapa bulan ke depan. Sebagai catatan, kurva kasus Covid-19 AS sebenarnya masih setara dengan Indonesia, masih dalam Zona Merah.

Rujukan Statistik

Kembali ke isu Soviet yang angkanya diragukan para ahli. Isu besarnya di sini adalah akuntabilitas pemerintah dalam menyajikan statistik resmi (official statistics). Pertanyaannya, apakah statistik yang dikemukakan berasal dari kegiatan statistik yang mengikuti kaidah statistik secara konsisten dan dilakukan semata-mata untuk memotret realitas lapangan yang sebenarnya. Dalam kalimat terakhir di atas kata semata-mata digarisbawahi untuk menekankan bahwa secara profesional, lembaga statistik negara perlu memiliki otoritas penuh dibidang metodologi kegiatan statistik dan menyajikan hasilnya yang bebas kepentingan politik.

Dalam konteks ini, pengalaman di era Presiden Suharto layak dicatat. Ketika itu kewenangan menyampaikan laporan statistik berada pada Menteri Penerangan atau menteri yang ditunjuk, bukan pada BPS. Pengalaman Jerman juga menarik untuk dicacat. Ketika ibu kota negaranya Bonn, kantor “Statistik Federal” berlokasi di Berlin. Begitu ibu kota negara pindah ke Berlin, kantor statistik pindah ke Bonn. Kini, dengan sekitar 2.300 staf, kantor itu berlokasi di Wiesbaden (pusat), Bonn dan Berlin. Model ini tak-pelak menguatkan kredibilitas Kantor Statistik sebagai lembaga independen sehingga produknya dapat dipercaya.

Statistik merepresentasikan kebenaran atau realitas sejauh dapat diamati dan diukur sehingga tidak mewakili realitas mutlak. Ketika berbicara selang kepercayaan (confidence interval) orang statistik menegaskan kemustahilan memotret realitas mutlak. Walaupun mengandung keterbatasan melekat, statistik paling masuk akal untuk dijadikan rujukan bersama (Inggris: common denominator, Arab: kalimatun sawa) semua pihak yang berkepentingan.

Walaupun mengandung keterbatasan melekat, statistik paling masuk akal untuk dijadikan rujukan bersama bagi semua pihak yang berkepentingan.

Dalam situasi ideal, dengan memfungsikan statistik sebagai rujukan bersama, kontroversi Trump-Fauci tidak perlu terjadi karena bukan saja tidak produktif tetapi juga dapat membahayakan kepentingan hidup orang banyak. Analog dengan kecurigaan terhadap angka Soviet terkait Covid-19.

Wallahualam….. @

[1] Inilah paradoks-nya. Bagi para sufi tidak terjangkau bukan berarti sangat jauh, tapi justru sangat dekat; satu-satu bisnis berharga di dunia ini adalah mendekati-Nya, terus-menerus, tanpa jeda. Huston Smith menyebut sufi sebagai orang yang “tidak sabaran ingin bertemu Tuhan, bukan di akhirat nanti, tapi di dunia ini sekarang”.

[2] Fauci (1940-) adalah seorang dokter dan ahli imunologi AS yang telah menjabat sebagai direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular (NIAID) sejak 1984 dan menjadi salah satu dari anggota utama Gugus Tugas Coronavirus Gedung Putih sejak Januari 2020. Dia dianggap sebagai salah satu tokoh medis paling terpercaya di AS yang juga diakui sebagai salah satu pakar penyakit menular terkemuka di dunia.

 

Pandemi Covid-19: Tujuh Rekomendasi Endcoronavirus

Konteks

Perang melawan pandemi Covid-19. Tidak banyak negara yang sudah berhasil memenangkan peperangan ini; lebih banyak yang “baru akan” menang, lebih banyak lagi yang perlu “bertindak cepat” agar berpeluang menang. Masing-masing kategori ini bisa dilabeli Zona Hijau, Kuning, dan Merah, tergantung status kemenangannya. Sejauh ini tidak ada daftar lengkap negara berdasarkan label Hijau, Kuning dan Merah. Walaupun demikian, Endcoronavius berhasil mendaftar sekitar 60 negara berdasarkan label itu dan menawarkan tujuh rekomendasi yang relevan. Tulisan ini meringkas daftar dan rekomendasi yang dimaksud.

Zona Hijau-Kuning-Merah

Endcoronavius mendaftar 15 negara yang dinilai berada pada zona Hijau: Australia, Austria,  Kamboja, Cina, Kroasia, Estonia, Yunani, Islandia, Yordania, Lebanon, Luxembourg, Mauritius, New Zealand, Norwegia, Slovakia, Slovenia, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, dan Vietnam. Endcoronavirus agaknya melabel Hijau suatu negara jika berhasil membentuk kurva kasus baru Covid-19 sudah membentuk secara ajeg pola U terbalik, topi atau lonceng. Pola itu diilustrasikan oleh kasus Australia, Austria, Cina, Thailand dan Vietnam. Lima negara ini, termasuk dua negara ASEAN di dalamnya, termasuk negara yang berhasil memenangkan peperangan melawan Covid-19 versi Endcoronavirus.

Australia_05_06.pngCambodia_05_06.png

China_05_07.pngThailand_05_06.png

Vietnam_05_06.png

Endcornavirus mendaftar 17 negara dalam Zona Kuning: Azerbaijan, Belgia, Costa Rica, Kroasia, Denmark, Prancis, Jerman, Iran, Irlandia, Israel, Italia, Jepang, Kyrgyzstan, Malaysia, Belanda, Portugal, Spanyol, Swiss, Tunisia, Turki dan Uzbekistan. Terlihat satu negara ASEAN masuk daftar ini. Kurva Kuning menyerupai Kurva Hijau tetapi belum ajeg. Hal ini diilustrasikan oleh lima negara berikut.

Dalam dua daftar di atas tidak tercantum Indonesia. Negara ini pasti berada di zona sisa, Zona Merah, bersama 31 negara lainnya versi Endcoronavirus. Daftar ke-32 negara yang berada Zona Merah adalah Argentina, Bahrain, Bangladesh, Belorusia, Brasil, Kanada, Chili, Kolombia, Ekuador, Mesir, Finlandia, Hongaria, India, Indonesia, Irak, Mali, Meksiko, Pakistan, Panama, Peru, Filipina, Polandia, Qatar, Romania, Rusia, Singapura, Swedia, UEA, Ukraina, Inggris dan Amerika Serikat.

Kurva Zona Merah secara umum belum membentuk pola Huruf U terbalik sebagaimana diilustrasikan oleh lima negara berikut. Pada kelompok ini, ini di luar dugaan, termasuk AS. Yang layak dicatat adalah kurva Irak yang mengilustrasikan pengalaman arus-balik-arah atau lonjakan-kedua (second spike) kasus baru Covid-19, pengalaman yang konon sudah diingatkan ada kemungkinan dialami oleh AS.

Tujuh Rekomendasi

Rekomendasi  endcoronavius berlaku untuk semua negara terlepas dari Zona Hijau, Kuning atau Merah. Walaupun demikian, rekomendasi tentu lebih serius bagi Zona Merah dan Zona Kuning dari pada bagi Zona Hijau. Berikut adalah tujuh rekomendasi yang dimaksud.

1) CEPATLAH BERTINDAK

Jangan menunggu “lebih banyak data” atau hasil dari model yang rumit. Belum terlambat untuk memulai sekarang. Semakin dini Anda bertindak; hal-hal sebelumnya dapat kembali normal.

2) SIAPKAN FASILITAS ISOLASI INDIVIDU

Siapkan fasilitas untuk mengisolasi individu yang terinfeksi dari anggota keluarga mereka. Sekitar 80% transmisi di Wuhan ada di dalam rumah.

3) PERKETAT PEMBATASAN PERJALANAN

Jika Anda berada di zona hijau dengan sedikit atau tanpa transmisi komunitas, lakukan pembatasan perjalanan dan buka kembali ekonomi lokal. Untuk zona merah, batasi perjalanan keluar agar tidak menulari orang lain. Untuk perjalanan penting, miliki karantina wajib untuk menghindari penyebaran virus.

4) TINGKATKAN JANGKAUAN PENGUJIAN

Pengujian memungkinkan Anda mengidentifikasi individu yang terinfeksi dan memisahkan mereka dari komunitas yang lain.

5) MINTA AGAR SEMUA ORANG MEMAKAI MASKER

Mengurangi penularan dengan meminta setiap orang memakai masker wajah itu sederhana, murah, dan sangat efektif.

6) LANJUTKAN PRAKTEK JARAK SOSIAL

Jauhi area yang ramai dan jaga jarak sejauh mungkin antara tetangga terdekat. Mereka yang memiliki komorbiditas (orang tua, kelebihan berat badan, immunocompromised, dll.) harus menjadi orang terakhir yang diperkenalkan kembali ke masyarakat, karena mereka yang paling rentan.

7) SABARLAH, JANGAN BUKA-KEMBALI TERLALU DINI

Buka-kembali (reopening) terlalu dini berisiko memicu pertumbuhan eksponensial lagi. Ini mungkin menghapus semua manfaat yang diperoleh dari penguncian sejauh ini. Ini dapat meningkatkan jumlah total kematian, membanjiri sistem medis, dan membuat skenario di mana penguncian lain diperlukan.

*****

Demikian tujuh rekomendasi endcoronavius. Rekomendasi itu berlaku bagi semua negara terlepas apakah berada dalam Zona Hijau, Kuning atau Merah. Yang Hijau perlu bersyukur dengan tetap waspada, yang Kuning perlu bersabar untuk tidak buru-buru reopening, yang Merah perlu “beristighfar” serta disiplin tinggi. Syukur, sabar dan istighfar. Trilogi ini yang dalam pandangan para bijak-bestari ampuh untuk menghadapi suatu bencana kemanusiaan. Dalam pandangan mereka, cobaan hidup merupakan suatu keniscayaan eksistensial[1] bagi manusia (QS 2:155) . Pandangan mereka mengena jika tekanan psikologis (psychological distress) masuk dalam kalkulus dampak Covid-19[2], gejala yang kabarnya mulai bermunculan.di Amerika Serikat (AS)

Wallahualam….@

[1]Tulisan mengenai keniscyaan ini dapat dilihat diakses di  https://uzairsuhaimi.blog/2020/04/26/covid-19-spiritual-reflection/

[2] Menurut Endcoronavius, “Lockdowns hurt the economy, which in turn can cause many problems. Unemployment, psychological distress….” (garis bawah tambahan).

Renungan Puasa (2): Konsistensi Doa

Muslim yang saleh meyakini setiap doa akan terkabul. Dalilnya dapat ditemukan dalam QS(2:186). Masalahnya penulis belum Muslim saleh, Muslim kebanyakan, sehingga keyakinan itu tipis. Sedikit penjelasan rasional diharapkan dapat mempertebal sedikit keyakinan. Inilah misi tulisan ini: diarahkan terutama untuk kepentingan pribadi, di-share karena ada kemungkinan ada yang lain yang dapat mengambil manfaat. Sebagai catatan awal, ayat itu disisipkan dalam rangkaian ayat Puasa QS (2: 182-187). Ini memberi kesan kuat bahwa bulan puasa adalah bulan yang tepat untuk berdoa. Agaknya semua ulama menyepakati hal ini.

Dalam ayat itu terlihat ketegasan bahwa setiap doa terkabul dan hal itu dinyatakan secara eksplisit. Yang penulis baru sadar, ayat itu juga menegaskan dua persyaratan: (1) perilaku atau amal; yakni, memenuhi perintah-Nya, dan (2) iman. (Jadi, memenuhi perintah dikemukakan terlebih dulu.) Tanpa pemenuhan syarat itu akan terjadi semacam inkonsistensi. Dengan kata lain, konsistensi doa-amal diperlukan agar janji-Nya berlaku.

Konsistensi ini doa-perilaku ini dikemukakan secara indah oleh seorang Sufi Besar abad ke 8 Masehi yaitu  Ibrahim Ibn Adham. Ketika itu kepada Sang Sufi diajukan pertanyaan sangat sulit: “Jika Allah mengabulkan semua doa (agaknya dia merujuk pada QS (2:186), kenapa dia tidak pernah mengabulkan doa-doaku selama ini”. Tapi bukan seorang Mursyid (guru Sufi) jika tidak mampu menjawab sesuai kualitas batin dan kapasitas ilmu si penanya. Sang Mursyid tidak mengemukakan jawabannya “teoretis”,  tetapi praktis, dan –ini yang mungkin kelebihan seorang Sufi– bersifat edukatif. Inilah kira-kira jawaban beliau.

1)       You know Allah,

Yet you do not obey him.

2)       You recite the Quran,

Yet you do not according to it.

3)       You know the Satan,

Yet you have agreed with him.

4)       You proclaim to love the messenger of Allah,

Yet you abandon his Sunnah.

5)       You proclaim your love for paradise,

Yet you do not act to gain it.

6)       You proclaim you fear the fire,

Yet you don not prevent yourselves from sins.

7)       You say “Indeed death is true”,

Yet you don not prepare of it.

8)       You busy yourselves with finding faults with others,

Yet you do not look your own fault.

9)       You eat that which Allah has provide for you,

Yet you don not thanks Him.

10)You bury your dead,

Yet you do not take a lesson from it.

1)       Anda mengenal Allah,

Namun Anda tidak mematuhinya.

2)       Anda membaca Quran,

Namun Anda tidak sesuai dengan itu.

3)       Anda tahu Setan,

Namun Anda telah setuju dengannya.

4)       Anda menyatakan untuk mencintai utusan Allah,

Namun Anda meninggalkan Sunahnya.

5)       Anda menyatakan cinta Anda untuk surga,

Namun Anda tidak bertindak untuk mendapatkannya.

6)       Anda mengatakan takut api neraka,

Namun kamu tidak mencegah dirimu dari perbuatan dosa.

7)       Anda mengatakan “Memang kematian itu benar”,

Namun Anda tidak mempersiapkannya.

8)       Anda sibuk sendiri dengan menemukan kesalahan dengan orang lain,

Namun Anda tidak melihat kesalahan Anda sendiri.

9)       Anda memakan apa yang disediakan Allah untuk Anda,

Namun Anda tidak berterima kasih kepada-Nya.

10)Anda menguburkan mayat,

Namun Anda tidak mengambil pelajaran darinya.

Berikut adalah terjemahan dan teks QS (2:186) sebagaimana dirujuk di atas:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu kepadamu (Muhamad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat, Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dari terjemahan di atas jelas bagian awal ayat adalah mengenai dialog antara Allah SWT sebagai pihak pertama atau “pembicara” (Arab: mutakallim) dan Muhammad SAW sebagai pihak kedua atau “lawan bicara” (Arab: mukhatab). Dalam konteks ini hamba yang berdoa sebagai pihak ketiga.

Yang layak catat, dalam bagian bagian akhir ayat adalah perubahan posisi pihak ketiga menjadi pihak kedua dalam lanjutan ayat: “Aku dekat… dan seterusnya”. Perubahan ini tak pelak memberikan kesan kuat bahwa dalam hal doa, tidak ada perantara antara hamba dengan Rabb SWT. Ini agaknya khas Islam yang menegaskan kedekatan Rabb SWT dengan hamba, “lebih dekat dari urat nadi” manusia (QS 50:16).

Demikianlah penjelasan singkat mengenai doa. Dalam hal ini istilah doa merujuk pada apa yang dikenal sebagai doa personal, doa petisi, mode komunikasi vertikal ke Rabb SWT. Tulisan mengenai doa personal dapat diakses di SINI. (Silakan klik jika berminat baca.)

Wallahualam…@

Renungan Bulan Puasa (1): Mengurus Visa

Alkisah, pada suatu hari ada sekelompok individu dari Negeri S yang datang berbaris mengurus visa masing-masing untuk melancong ke Negeri B. Visa diberikan hanya kepada mereka yang menyetujui dan menandatangani surat perjanjian. Kepada penandatangan perjanjian diberikan informasi dasar mengenai kehidupan di B:

  1. Di sana tidak akan kelaparan karena penguasa S menjaminnya,
  2. Tidak seperti di S di mana makanan melimpah dan lingkungan hidup dengan serba nyaman, di B ada ada sedikit kesulitan mencari makan dan cuacanya bisa tidak nyaman bagi spesies mereka,
  3. Di B mereka akan diberi juklak mengenai bagaimana menempuh perjalanan pulang yang aman dan nyaman, serta peringatan kemungkinan harus melalui dan tinggal di dalam jurang-dalam-sangat-mengerikan,
  4. Di B mereka akan memiliki segala sumberdaya negeri itu dan kemampuan tinggi bahkan untuk menguasai lautan, dan
  5. Di B mereka akan didampingi utusan negeri S yang secara berkala membawa kabar gembira dan peringatan sebagaimana tercantum dalam butir 3 dan 4 di atas.

Surga dan Bumi

Dalam kisah di atas, S merujuk pada Surga, sementara B pada Bumi. S adalah warisan manusia karena leluhur mereka, Nabi Adam AS dan Hawa AS, pernah tinggal di sana. Berbeda dengan kehidupan di S yang serba nyaman karena “dekat” dengan al-Rahman, kehidupan di B menuntut perjuangan hidup yang keras dan tanpa jeda: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. [Surat Al-Balad (90) ayat 4]”

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ فِى كَبَدٍ

Tetapi cobaan itu diperlukan untuk menghasilkan amal terindah (teks: ahsanu ‘amala):

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, [Surat Al-Mulk (67) ayat 2]

Hari Alastu

Hari ketika perjanjian itu dibuat adalah Hari Alastu. Yang “mengurus visa” datang berbaris walaupun perjanjian dan pertanggungjawaban berlaku secara individual:

Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada kali yang pertama; bahkan kamu mengatakan bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (memenuhi) perjanjian. [Surat Al-Kahfi (18) ayat 48].

Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. [Surat Maryam (19) ayat 95]

Isi perjanjian hanya satu: pengakuan bahwa Dia SWT adalah tuhan mereka dan satu-satunya:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu [teks: alastu birabbikum]?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, [Surat Al-A’raf (7) ayat 172]

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَـٰذَا غَـٰفِلِينَ

Hari itu dipersepsikan oleh manusia sudah sangat lama sehingga belum bisa “disebut”; manusia pada tataran fisik  bahkan ada:

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? [Surat Al-Insan (76) ayat 1]

Tuhan berfirman: “Demikianlah”. Tuhan berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali“. [Surat Maryam (19) ayat 9]

Jaminan Hidup

Sebenarnya manusia di bumi tidak akan pernah kelaparan dalam artian mutlak dan permanen karena ada jaminan dari Dia SWT mengenai rezeki mereka:

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). [Surat Hud (11) ayat 6].

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan Shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. [Surat Ta-Ha (20) ayat 132]

Semua isi bumi diperuntukkan bagi manusia; mereka dibekali kemampuan untuk “menaklukkan” lautan:

Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. [Surat Al-Baqarah (2) ayat 29].

Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan dari padanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. [Surat An-Nahl (16) ayat 14].

Dalam ayat terakhir langit angkasa tidak disebutkan[1] sekalipun dimungkinkan dijelajahi dengan bantuan iptek:

Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan (Iptek). [Surat Ar-Rahman (55) ayat 33].

Jalan Pulang

Utusan negeri S dalam kisah di atas adalah para rasul-Nya. Tugas utama mereka adalah mengingatkan manusia mengenai Hari Alastu serta (butir 1), menunjukkan jalan pulang ke S secara aman melalui, serta kabar baik dan peringatan (butir 5) mengenai perjalanan pulang itu [Surat Ta-Ha (20) ayat 123-127]:

Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama (Adam AS-Hawa AS), sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.

Dan barang siapa berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.

Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dulunya adalah seorang yang melihat?”

Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan”.

Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.

وَكَذَٰلِكَ نَجْزِى مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِنۢ بِـَٔايَـٰتِ رَبِّهِۦ ۚ وَلَعَذَابُ ٱلْـَٔاخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَىٰٓ

Naudzubillah min dzalik…@

[1] Alasan tidak disebutkan mungkin karena planet di luar bumi bukan habitat manusia secara alami. Dalam konteks ini, menanamkan investasi sumberdaya besar-besaran untuk riset luar angkasa mungkin pemborosan, sejauh manusia dianggap sebagai tujuan akhir pemanfaat iptek. Isunya di sini adalah prinsip proportionality: berapa rasio investasi yang masuk akal untuk riset luar angka dibandingkan yang untuk penyediaan air bersih, misalnya.

Pandemi Covid-19: Indonesia sebagai Negara Paling Terinfeksi

Istilah negara paling terinfeksi dalam tulisan menggunakan angka total kasus Covid-19 dengan batas bawah empat digit. Artinya, suatu negara dikategorikan paling terinfeksi jika memiliki total kasus (kumulatif) 10,000 ke atas. Dengan batasan ini Indonesia termasuk dalam kategori ini, di atas Denmark, Korea Selatan dan Bangladesh. Amerika Serikat (AS) menempati urutan pertama diikuti Spanyol, Italia, dan Prancis. Dari bawah, termasuk Korea Selatan, Bangladesh dan Indonesia. Tulisan ini dimaksudkan untuk meninjau secara singkat posisi Indonesia dalam kancah negara dengan kategori paling terinfeksi dengan batasan di atas.

Tulisan ini dibagi dua bagian: (1) fokus pada Indonesia dengan memantau tren kasus baru dan kasus kematian baru terkait Covid-19, dan (2) membandingkan “angka” kematian Covid-19  Indonesia dibandingkan negara-negara setara. Sumber data Worldmeter tertanggal 5/5/20 pukul 22 GMT

Indonesia: Tren Kasus Baru dan Kematian

Grafik 1 menunjukkan tren kasus baru Indonesia masih berfluktuasi dengan kecenderungan umum masih naik. Kecenderungan naik ini kemungkinan terkait dengan meningkatnya pemeriksaan[1] terhadap suspect (=S) atau populasi yang dicurigai terinfeksi Covid-19 (=I). Jika ini benar maka kenaikan kasus baru, sekalipun semakin membebani infrastruktur medis, tidak terlalu menghawatirkan. Logikanya, semakin banyak S dikenali sebagai I, semakin besar kemungkinan mengisolasi dan merawat I. Pada gilirannya, isolasi dan perawatan itu akan memperkecil S dan ini berarti mengurangi populasi yang berpotensi menularkan Covid-19[2]. Singkatnya, kenaikan kasus baru tidak selalu berarti berita buruk dalam perspektif jangka panjang.

….. kenaikan kasus baru tidak selalu berarti berita buruk dalam perspektif jangka panjang.

 

Grafik 1: Tren Kasus Baru dan Kematian Covid-19 Indonesia

Begitu I dikenali maka ‘bola” berada di tangan tenaga medis. Inilah situasi yang sangat menantang: sejauh ini belum ada obat yang terbukti dan diakui secara luas di kalangan medis dapat mengatasi infeksi Covid-19. Dalam situasi ini agaknya daya tahan atau imunitas individu pasien yang menentukan hasil perlakuan medis[3].

Grafik 1 juga menyajikan kabar baik: kasus kematian Covid-19 di Indonesia cenderung bertahan pada level yang relatif rendah (dibandingkan dengan kasus baru). Untuk menilai “seberapa baik” kabar baik ini tentu perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas dengan membandingkan dengan negara-negara yang setara yang dalam hal ini terkategorikan sebagai negara paling terinfeksi.

“Angka” Kematian Covid-19

Kata “angka” diberi tanda kutip ganda untuk menunjukkan ukuran yang sangat kasar. Kata angka di sini terjemahan dari rate (Inggris) yang berarti rasio antara suatu insiden dengan populasi terpaparnya. Idealnya angka ini perbandingan antara total kasus kematian dengan total kasus (yang pada akhir pandemi identik dengan kasus ditutup). Tetapi angka ini belum dapat dihitung karena pandemi masih berlangsung. Untuk Cina, sebagai kasus ekstrem, kasus baru terkadang masih muncul dalam angka puluhan bahkan ratusan.

Grafik 2 menyajikan angka-sangat kasar kematian Covid-19 di 40 negara terpilih yang semuanya masuk dalam kategori paling terinfeksi.  Urutan dimulai dengan yang paling “paling terinfeksi” (AS) sampai yang paling kurang terinfeksi dalam kelasnya (Denmark). Pada grafik itu tampak Indonesia “mengejar” Denmark dan Korea Selatan yang secara “historis” paling terinfeksi (di bawah Cina).

Grafik 2: Angka Kematian Kasus Covid-19 per Sejuta Penduduk

Penyebut dari angka kematian sebagaimana disajikan pada Grafik 2 adalah total penduduk (milyaran). Ini jelas bukan ukuran yang cermat karena Covid-19 “selektif” dalam memilih induk semang yaitu, yang dalam konteks ini penduduk, kasarnya, di atas 20 tahun. Tetapi karena rumusnya diperlakukan sama bagi semua negara yang diperbandingkan maka hasil perbandingan relatif aman.

Tiga hal layak-catat dari Grafik 2:

  • Angka kematian Indonesia relatif sangat rendah dan ini berkat populasinya yang besar.
  • Angka Indonesia relatif rendah dibandingkan angka AS padahal dari sisi populasi keduanya beda-tipis.
  • Tingginya angka kematian di Belgia, Spanyol, Italia dan Inggris, tentunya juga Swedia dan Islandia, dapat dijelaskan dengan populasi masing-masing yang relatif rendah (dibandingkan Indonesia).

Singkatnya, diukur dengan kematian per juta penduduk, angka kematian Covid-19 di Indonesia relatif rendah bahkan jika dibandingkan angka AS.

… diukur dengan kematian per juta penduduk, angka kematian Indonesia relatif rendah bahkan jika dibandingkan angka AS.

Keadaan berbeda jika yang digunakan sebagai ukuran adalah proporsi kasus yang ditutup dan gagal tersembuhkan atau berakhir dengan kematian. Grafik 3 menunjukkan hal itu secara jelas. Catatannya, ukuran ini masih sangat kasar dan overestimate; kasar karena penyebutnya tidak memasukkan kasus aktif (atau belum ditutup), overestimate karena berdasarkan data yang tersedia sejauh ini, proporsi kasus aktif jauh lebih besar untuk yang tersembuhkan dari pada yang meninggal.

Grafik 3: Proporsi Kasus Ditutup Karena Kematian (%)

Dengan catatan teknis itu Grafik 3 menunjukkan angka kematian Covid-19 di Indonesia sebenarnya relatif tinggi, lebih tinggi dari angka-angka Korea Selatan, Iran, bahkan AS, Italia dan Spanyol. Angka Indonesia lebih rendah dibandingkan angka-angka Swedia, Belgia, Portugal, dan Prancis. Pada grafik itu tampak angka Swedia paling tinggi. Hal ini mungkin terkait dengan santainya negara itu dalam menghadapi Covid-19; di sana tidak diberlakukan kebijakan lock down, yang tentunya sudah diperhitungkan oleh petinggi kerajaan itu.

…. diukur dengan proporsi kasus ditutup karena kematian, angka kematian Indonesia relatif tinggi.

Wallahualam.…@

[1] “Dengan meningkatnya pemeriksaan ini kita perlu bersiap panen kasus”, kira-kira demikian ungkapan seorang teman yang paham epidemiologi. Upaya memperkecil S secara masif dan aman adalah dengan memberikan vaksin Covid-19 yang sejauh ini belum tersedia.

[2] Di sini diasumsikan, yang terbukti terinfeksi memiliki peluang lebih besar menyebabkan penularan dari pada yang belum teridentifikasi. Asumsi ini sebenarnya agak lemah karena yang belum menunjukkan simtom (masih dalam masa inkubasi) dapat menularkan kepada orang lain.

[3] Hal ini pernah dikemukakan seorang ahli epidemiologi Korea Selatan yang sangat berpengalaman menangani kasus penyakit menular.

Covid-19 Indonesia: Gambar Besar

Konteks

Sekitar sebulan lalu penulis, melalui tulisan di blog ini, pernah mengemukakan data Covid-19 Indonesia terlalu dini untuk dianalisis. Argumennya ketika itu seri datanya masih pendek dan polanya belum dapat terbaca. Ketika itu total kasus terakhir sekitar 2,000, masih jauh dari “angka psikologis 4 digit”, puluhan ribu. Angka psikologis ini kini tercapai: menurut Worldmeter, per 2/5/20 pukul 23 GMT, angkanya 10,083 kasus. Jadi dalam sebulan terakhir ini kasusnya meningkat sekitar lima kali lipat, suatu pertumbuhan kasus yang cepat tetapi agaknya normal dalam kasus Covid-19.

Kini, setelah seri data bertambah panjang, agaknya tepat waktu untuk melihat-ulang data Covid-19 Indonesia. Tulisan  ini menyajikan hasil penglihatan-ulang yang dimaksud. Yang ingin dipotret adalah gambar besarnya: status terkini dan tren masa lalunya. Data yang digunakan bersumber Worldmeter.

Perkembangan Kasus

Grafik 1 menunjukkan kasus baru Covid-19 di Indonesia terkesan masih naik-turun atau berfluktuasi. Sebagai ilustrasi, dalam periode 12-14 April angkanya turun tetapi trennya diikuti kenaikan selama 3 hari berturut-turut. Kecenderungan umumnya, sebagaimana ditunjukkan oleh angka rata-rata bergerak (5 titik) yang berwarna merah, masih naik walaupun melambat. Berdasarkan grafik ini masih sulit menduga (paling tidak bagi penulis) apakah titik puncak tertinggi (universal extreme) sudah melampaui, atau jika belum, kapan.

Grafik 1: Tren Kasus Baru Per Hari

Berbeda dengan tren kasus baru, tren kasus kematian per hari mengindikasikan adanya penurunan. Grafik 2 menunjukkan hal itu. Berdasarkan grafik itu tampak agak realistis berharap angka kematian 60 untuk 14/4/20 sudah merupakan angka tertinggi. Tapi waktu masih akan menguji harapan ini.

Grafik 2: Tren Kasus Kematian Per Hari

Perkembangan situasi juga dapat dilihat dari tren kasus aktif atau komplemennya yaitu kasus ditutup. Grafik 3 menunjukkan tren kasus aktif maupun kasus ditutup masih cenderung naik.

Grafik 3: Tren Total Kasus, Kasus Aktif dan Kasus Ditutup

Sebagai catatan, kasus aktif dan kasus ditutup masing-masing dapat dilihat sebagai komponen indikator komposit kasus total: Kasus total = Kasus aktif + Kasus ditutup. Idealnya, tren kasus aktif turun mendekati angka Nol sementara kasus ditutup naik mendekati angka total kasus. Jadi, arahnya berlawanan. Oleh karena itu angka kasus total dapat membingungkan atau bahkan menyesatkan untuk menilai perkembangan situasi.

Idealnya, proporsi kasus ditutup dengan kesembuhan. Grafik 4 menunjukkan kecenderungan meningkatnya kasus itu. Grafik 5 memberikan indikasi yang lebih langsung: proporsi kasus ditutup yang berakhir kesembuhan cenderung turun sampai 26/3/20 tetapi selanjutnya cenderung naik.

Grafik 4: Tren Kasus Ditutup, Tersembuhkan dan Kematian

Grafik 5: Proporsi Kasus Ditutup dengan Kesembuhan (%)

Ringkasan dan Diskusi

Tren angka kasus baru masih berfluktuasi dengan kecenderungan sedikit kenaikan (Grafik 1). Adalah soal selera (subyektif) memaknai ini sebagai kabar baik atau kabar buruk. Bagi penulis, kabar “agak melegakan” jika angkanya mulai turun yang berarti angkanya telah mencapai titik paling puncak. Jika angkanya telah mendekati angka nol, katakanlah 1-2% dari angka puncak universal, maka bagi penulis itu sudah layak disebut “kabar baik”.

Cina mengalami situasi ketika angka kasus baru terus bermunculan di sekitar angka yang sudah rendah. Berdasarkan pengalaman agaknya tidak realistis berharap kasus baru akan terhenti mutlak. Bagi penulis, inilah normal baru (a new normal) yang perlu diantisipasi.

Tren kasus aktif yang masih cenderung naik. Ini mendukung kesimpulan bahwa situasi belum mencapai taraf “agak melegakan” walaupun mengarah ke sana. “Agak melegakan” jika trennya mulai turun dan berubah menjadi “kabar baik” jika angkanya mendekati angka kasus total. Situasi ini identik dengan situasi ketika tren angka kasus ditutup mulai naik sebelum akhirnya mendekati angka kasus total. Situasi idealnya tentu didekati jika proporsi kasus ditutup karena tersembuhkan mendekati angka100%.

Ada indikator lain yang lebih padat dan lebih meyakinkan untuk mengevaluasi perkembangan pandemi yaitu angka reproduksi virus, R0. Pandemi masih masih memburuk atau “kabar buruk” jika R0>1, mereda atau “agak melegakan” R0=1 dan akan segara berakhir atau “kabar baik” jika R0<1. Angka ini R0 mengukur transmisi kedua (second transmission); artinya, mengukur banyaknya kasus baru yang ditulari oleh seorang yang terinfeksi. Berapa angka untuk Indonesia? Penulis tidak berani menghitung karena pandemi masih berlangsung entah sampai kapan. Selain itu, ukuran ini terlalu teknis untuk dibahas lebih lanjut dalam tulisan singkat ini. Bagi yang berminat mempelajari logika dasarnya dapat mengakses di SINI.

Demikianlah gambar besar Covid-19 di Indonesia….@

Pandemi Covid-19: Refleksi (6)

Harap-harap Cemas. Barangkali ini kesimpulan wajar mengenai perkembangan pandemi Covid-19. Secercah harapan timbul dari temuan ilmiah mengenai obat remdesivir:

Preliminary results indicate that patients who received remdesivir had a 31% faster time to recovery than those who received placebo (p<0.001). Specifically, the median time to recovery was 11 days for patients treated with remdesivir compared with 15 days for those who received placebo. Results also suggested a survival benefit, with a mortality rate of 8.0% for the group receiving remdesivir versus 11.6% for the placebo group (p=0.059).

Jika temuan itu dapat diandalkan maka semakin besar kemungkinan yang terinfeksi Covid-19 (infected, I) dapat disembuhkan. Dengan kata lain, angka kesembuhan terinfeksi Covid-19 dapat ditingkatkan (I recovered, Irec).

Ada secercah harapan lain. Vaksin Covid-19 dilaporkan sudah akan tersedia dalam hitungan kurang dari setahun (jauh lebih cepat dari waktu normal pengembangan vaksin). Jika ini terbukti maka semakin besar kemungkinan populasi yang terduga terinfeksi (suspects, S) dapat ditekan. Dengan kata lain, angka terinfeksi dapat ditekan.

Kebijakan merespons pandemi, dinyatakan secara padat, pada dasarnya diarahkan untuk menekan besar dan angka populasi umum terpapar S dan meningkat angka  Irec.

Demikian mengenai harapan. Kecemasannya: (1) temuan mengenai obat di atas masih bersifat sementara (preliminary results), dan (2) belum ada yang berani menetapkan garis tegas mengenai waktu mengenai temuan vaksin yang dimaksud.

Sumber Gambar: Google

Harapan dan kecemasan. Secara psikologi konon keseimbangan dua unsur ini diperlukan untuk mengedukasi ras manusia. Mungkin. Yang pasti, menyampaikan kabar baik dan ancaman merupakan metode penyampaian risalah para Nabi AS, termasuk Nabi SAW (QS 17:105). Dia SWT menegaskan di satu sisi akan memberikan pahala paling 10 unit pahala untuk setiap unit amal baik, di sisi lain memberikan ancaman ganjaran keburukan yang setara:

Barang siapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barang siapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi) QS (6:160)

Aturan yang bias memang, bias ke arah positif; false positive kata orang statistik. Tetapi demikian sifat-Nya, al-Rahman sekaligus al-Rahim.

Wallahualam…..@