Selamat datang di uzairsuhaimi.blog! Blog ini merekam jejak pemikiran penulisnya mengenai bidang sosial-ekonomi-kependudukan dan refleksinya mengenai kebijaksanaan abadi dalam perspektif Islam.
Tinjauan Buku: The Geopolitics of Emotion: How Culture of Fear, Humiliation, and Hope Are Reshaping the World
: The Geopolitics of Emotion: How Culture of Fear, Humiliation, and Hope Are Reshaping the World
Pengarang
: Moïsi, Dominique
Tahun terbit
: 2009
Penerbit
: Doubleday
Halaman
: 176 halaman + xii
Seperti tercermin dari judul, buku ini memetakan geopolitik dengan tilikan tidak lumrah, emosi. Karena tidak lumrah inilah buku ini menuai banyak kritik. Sebagian kritikus ‘meragukan’ kadar ilmiah isi buku ini dan mengatakan kira-kira ‘kok urusan geopolitik pakai pendekatan emosi’. Oleh penulisnya buku ini didedikasikan untuk bapaknya dalam bahasa yang emosional tetapi juga inspirasional: ‘Untuk mengenang bapak saya, Jules Moïsi, number 159721 di Auschwitz, yang selamat dari ketakutan dan penghinaan yang ekstrim dan mengajarkan harapan pada saya’.
Tetapi kita keliru jika mengira penulis menganggap masing-masing emosi itu sebagai sesuatu yang salah dalam dirinya sendiri. Bagi dia ketiganya ‘diperlukan’. Darah yang sehat, argumennya, memerlukan darah merah, darah putih dan plasma. Kehilangan salah satu akan membuat darah menjadi tidak sehat. Analog dengan itu, situasi geopolitik tidak sehat yang didominasi oleh harapan, mislanya. Yang diperlukan adalah keseimbangan: keseimbangan antara ketakutan, humiliasi dan harapan.
Bagi saya, dengan cara ini penulis bermaksud menegaskan posisinya: tidak seoptimis Fukuyama (dengan the end of history-nya) tetapi juga tidak sepersimis Hutington (dengan clash of civialtion-nya). Bagi yang meminati artikel lengkap silakan klik: TinjBukuMosi
Intellectual Profile/
Uzair Suhaii is a thinker dedicated to bridging rigorous analytical frameworks with the depths of Islamic spirituality./ His unique perspective is forged at the intersection of a three-decade career as a government statistician and a lifelong immersion in perennial philosophy and Islamic esoteric sciences (tasawwuf)/. This synergy allows him to explore spiritual themes with a rare combination of structural clarity and profound reflective insight./
Professional & Analytical Foundation: /•Central Statistics Agency (BPS), Indonesia: Served for over thirty years as a Statistician, with extensive training in discerning patterns, analyzing complex structures, and deriving meaning from multidimensional data. /•International Labour Organization (ILO), Asia-Pacific Region: Applied this expertise as a Senior Statistician, working on regional labor market analysis./Literary Work & Authorial Focus:/He channels his analytical precision into exploring the intellectual and spiritual treasures of Islam./ His published works in English demonstrate a consistent methodology: deconstructing core Islamic concepts to reconstruct their relevance for the modern seeker./Selected Publications:/•Triad of Spiritual / Excellence: Al-Fatihah, Taqwa and Ihsan (2025)/ Ihsan: The Way of Beauty and Excellence in Islam (2024)/•Taqwa: The Master Key to Spiritual Excellence (2024)/ •Linguistic Miracle of Al-Fatihah (2024)/ All titles are available globally via Amazon KDP.
View all posts by Uzair Suhaimi
Published
One thought on “Tinjauan Buku: The Geopolitics of Emotion: How Culture of Fear, Humiliation, and Hope Are Reshaping the World”
Teori Moisi ini merupakan derivative atau revisi terhadap teori Huntington. Dalam buku The Clash of Civilizations, Samuel berpendapat bahwa sumber konflik pasca-Perang Dingin dunia bukan ideologis atau ekonomi, tetapi terutama budaya atau peradaban (bentuaran peradaban).
terdapat convition ganda. Pertama: yang satu tidak dapat sepenuhnya memahami dunia di mana kita hidup tanpa berusaha untuk mengintegrasikan dan memahami emosi. Dan kedua, emosi seperti kolesterol, baik dan buruk.
kondisi dunia tahun 2025″, di mana Moisi membagi 2 skenarioa. Skenario pertama dimana ketakutan berlaku, dan skenario kedua adalah dimana harapan berlaku.
Ini juga jelas bahwa untuk menginspirasi, kita harus melalui selubung ketidakpercayaan. Jika tujuan kita adalah untuk menginspirasi penduduk dunia, terlepas dari keyakinan, kebangsaan atau keadaan ekonomi, maka rintangan pertama kita adalah mengenali dan kemudian mengakui emosional orang lain. Hanya itu kita dapat dianggap cukup serius untuk menciptakan antusiasme umum
Teori Moisi ini merupakan derivative atau revisi terhadap teori Huntington. Dalam buku The Clash of Civilizations, Samuel berpendapat bahwa sumber konflik pasca-Perang Dingin dunia bukan ideologis atau ekonomi, tetapi terutama budaya atau peradaban (bentuaran peradaban).
terdapat convition ganda. Pertama: yang satu tidak dapat sepenuhnya memahami dunia di mana kita hidup tanpa berusaha untuk mengintegrasikan dan memahami emosi. Dan kedua, emosi seperti kolesterol, baik dan buruk.
kondisi dunia tahun 2025″, di mana Moisi membagi 2 skenarioa. Skenario pertama dimana ketakutan berlaku, dan skenario kedua adalah dimana harapan berlaku.
Ini juga jelas bahwa untuk menginspirasi, kita harus melalui selubung ketidakpercayaan. Jika tujuan kita adalah untuk menginspirasi penduduk dunia, terlepas dari keyakinan, kebangsaan atau keadaan ekonomi, maka rintangan pertama kita adalah mengenali dan kemudian mengakui emosional orang lain. Hanya itu kita dapat dianggap cukup serius untuk menciptakan antusiasme umum