Reuni Mistis

Reuni Mistis

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Istilah Reuni Mistis dalam tulisan ini mengacu pada fase ketiga, fase terakhir, dari siklus sejarah alam semesta termasuk kita. Ketiga fase itu adalah “tidak ada”, diadakan, dan “ditiadakan”. Ketiganya secara padat diungkapkan dalam teks suci: “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali”[1].

Fase pertama, “tidak ada”, bertanda kutip karena yang semua ada bersasal dari Dia SWT yang Maha Ada sehingga mustahil tidak ada dalam pengertian mutlak. Dalam alam azali sudah ada semacam pola, prototype atau ayyan tsabitah dari segala sesuatu yang dikongkritkan melalui misteri kun! (jadilah!) Khusus bagi manusia, prosesi penciptannya melalui perjanjian purba antara Khalik SWT dengan kita:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَـٰذَا غَافِلِينَ ﴿١٧٢﴾

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap itu” (7:172).

Ingatan pada momen itu, betapapun samarnya, tetap melekat dalam diri kita dan mustahil mampu kita hapuskan sama-sekali. Bagi sebagian orang terpilih, ingatan itu berubah menjadi semacam kerinduan laten, kerinduan mistis, untuk bertemu dengan-Nya. Bagi sebagian mereka, kerinduan mistis ini demikian kuatnya sehingga mampu menghambarkan semua jenis kenikmatan duniawi dan membunuh gairah untuk mengikuti perlombaan mengejar kekayaan duniawi seperti kebanyakan.

Kita sekarang dalam fase kedua, fase diadakan, tanpa tanda kutip. Karena sebelumnya “tidak ada” maka keberadaan kita pasti diadakan. Yang perlu dicatat adalah bahwa yang mengadakan kita pasti “lebih tinggi” dari kita; sangatlah absurd membayangkan kita yang memiliki kesadaran ini di-generate dari materi yang lebih rendah sebagaimana diimpikan oleh teori evolusi Darwinis.

Bagaimana dengan fase ketiga, fase “ditiadakan”? Kenapa bertanda kutip? Karena juga sangat absurd membayangkan sejarah kita berakhir dengan kematian. Mengenai ini kita memiliki pengetahuan bawaan sekalipun itu menakutkan sehingga kita terus mencoba mengabaikannya dengan segala cara. Kenapa menakutkan? Karena, suka atau tidak suka, kita mengetahui secara intuitif bahwa diri atau jiwa kita yang sebenarnya (self) bersifat “abadi”[2]. Melalui pintu kematian yang bersifat transisional, diri kita yang sebenarnya melanjutkan perjalanan pulang kembali kepada tujuan akhir segala, Dia SWT, untuk mempertanggungjawabkan kehidupan selama fase kedua, baik yang menyangkut urusan sepele maupun urusan besar. Suka atau suka, percaya atau tidak percaya, kita akan ber-reuni secara mistis dengan sumber hakiki kita.

Bagaimana mempersiapkan diri menghadapi reuni mistis itu? Yang pasti, bukan “bermegah-megah” (at-takatsur) atau turut serta dalam perlombaan mengejar kekayaan dan kekuasaan duniawi. Sayangnya, dorongan ‘bermegah-megah’ demikian kuatnya sehingga bagi sebagian kita tidak mereda sampai masuk liang kubur:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ﴿١﴾ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ ﴿٢﴾ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٣﴾ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٤﴾ كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ ﴿٥﴾ لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ﴿٦﴾ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ ﴿٧﴾ ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ ﴿٨﴾

(1)               Bemegah-megah telah melalaikan kamu, (2) sampai kamu masuk ke dalam kubur, (3) Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), (4) kemudian sekali-kali tidak, Kelak kamu akan mengetahui, (5) Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti, (6) niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahanim, (7) kemudian kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri, (8) kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).

Bermegah-megah menggerus secara efektif kerinduan mistis untuk pulang ke kampung halaman sebenarnya, sesuatu yang akan berakhir dengan penyesalan tak_berkesudahan. Naudzu billâh min dzâlik. Wallahu’alam….@


[1] Al-Quran (2:156).

[2] Diberi tanda kutip karena bersifat relatif; yang abadi hanya Dia SWT, selainnya fana (lihat al-Qur’an (55:26-27)