Jalan Cinta

Jalan Cinta (The_path_of_love)

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress,com

Menurut Ibnu ‘Arabi, jalan menuju Tuhan adalah jalan cinta karena “Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan” (Hadits Qudsi). Menurut dia, semua yang indah di dunia ini adalah pantulan atau refleksi dari keindahan-Nya; dengan perkataan lain, bersifat kuasi-srugawi[1]. Semuanya mengkomunikasikan kepada kepada kita sesuatu yang tak-terhingga (infinite), membahagikan (beatific) dan membebaskan (liberatic). Apa hubungannya dengan cinta? Cinta adalah respon terhadap keindahan dan keinginan untuk bersatu (dengan subyek yang memiliki keindahan itu).

Kita dapat saja berpendapat ungkapan Syech Akbar (gelar untuk Ibnu Arabi) berlebihan karena banyak cara menuju Tuhan: jalan taat (dengan mengikuti perintah-Nya), jalan takut (untuk melanggar aturan-Nya), jalan taqwa (berhati-hati dalam bertindak konsekuensi yang menakutkan di akhirat), dsb. Bagi beliau, ragam jalan ini menunjukkan bahwa agama memfasilitasi semua orang –tanpa melihat kecenderungan pribadi, mentalitas, kapasitas intelektual– untuk memperoleh kesalamatan dunia-akhirat (salvation). Yang jelas, semua jalan ini sejalan (saling memperkuat, tidak saling menghilangkan), sesuai dengan perintah agama, dan menuntut kekuatan kehendak untuk berserah diri atau ber-Islam.

dlove5

Jalan cinta lebih banyak menuntut kekuatan hati dari pada kekuatan kehendak. Jalan ini lebih beroreintasi ke dalam (inward), jalan lainnya lebih berorientasi ke luar (outward). Jalan pertama sejalan dengan salah satu hadits qudsi bahwa alam jangan raya tidak dapat menampung-Nya kecuai hati manusia. Inilah rahasia terdalam kekuatan hati yang menjadi perhatian utama para sufi, kaum elit yang tidak sabar untuk “bertemu” Tuhan sekarang ini di dunia ini, bukan (hanya) di akhirat nanti.

Bebeda dengan anggapan kebanyakan kita, para sufi menakankan kualitas dari pada kuantitas ibadah. Bagi mereka, memurnikan niat atau mengupayakan khusyu dalam salat fardhu, misalnya, lebih bermanfaat dari pada memperbanyak salat sunah (tanpa khusyu’). Berbeda dengan kebanyakan kita, para sufi melihat hubungan antara keindahan, kebaikan dan kebahagiaan sebagai sesuatu yang transparan. Bagi mereka, keindahan_Nya berasal dari kualitas ke_Tak-Terhingaan-Nya (Infinitude) dan ini bertepatan dengan Kebahagiaan ilahiah (the divine Bliss). Bagi mereka Tuhan dapat dilihat sebagai Indah, Cinta, Kebaikan dan Kedamaian; dengan kualitas-kualitas ini Dia merasuki seluruh jagat raya.

Apa itu Kebaikan? Ia tidak lain dari pada radiasi yang murah hati dari yang Indah. Bedanya, Kebaikan berorientasi ke dalam (inward), sementara Keindahan berorientasi ke luar (outward). Dilihat dalam konteks ini, tugas hidup diungkapkan Schuon secara padat  (2002:94)[2]: “Mengetahui yang Benar, menghendaki Kebaikan dan mencintai yang Indah”  (To know the Truth, to will the Goodness and to love Beauty)[3]. Jalan cinta ini –karena potensinya dalam memperlihatkan postur Islam yang indah, toleran dan damai– perlu digalakkan di kalangan umat. Wallâhu’alam …..@

Kabul 17 May 2013


[1] Keindahan wanita cantik, misalnya, adalah pantulan kecantikan bidadari surgawi. Sekadar pantulan? Ya, karena kecantikan wanita di dunia sangat temporal, kecantikan bidadari di surga abadi alias muda terus: “Mereka dikelilingi oleh dua anak (bidadari/bidadara) yang selalu muda ….” (Al-Waqî’ah: 17).

[2] Schuon (2002:94): Roots of the Human Condition, World Wisdom, Inc.

[3] Bagi Schuon,  fungsi inteligensi adalah mengetahui yang Benar (Truth), fungsi kehendak adalah menghendaki Kebaikan (Goodness) dan fungsi hati mencintai yang Maha Indah (Beauty). Tanpa masing-masing fungsi itu, inteligensi, kehendak dan hati, nothing.

Melihat Tuhan Dimana-mana

Melihat Tuhan Dimana-mana[1]

(Seeing_God Eveywhere)

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Aku menyadari, apapun di dunia ini –atau sebanyak apapun benda, kekayaan material, prestise sosial atau kekuasaan politis– tidak akan pernah dapat mendatangkan kebahagiaan haikiki bagiku. Aku menyadari ini karena kehendakku dirancang untuk yang tak_terhingga; karenanya hanya yang Tak-terhingga (the Infinite) yang dapat memuaskannya.

Aku menyadari kebahagiaan hakiki hanya mungkin dicapai dengan cara “melihat Tuhan di mana-mana”. Ini berarti pendakian perjalanan ke dalam (inwardness) secara berkualitas. Ini berati melihat simbol, arketip, esensi dan sifat kuasi-surgawi dari setiap benda yang masuk akal (sensible things) yang ada di sekitarku. Mengenai sifat kuasi-surgawi benda, aku melihat isyarat dari Al-Baqarah (25):

كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِن ثَمَرَةٍ رِّزْقًا ۙ قَالُوا هَـٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِن قَبْلُ ۖ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا …

….. Setiap kali Allah memberikan rezeki kepada mereka di dalam surga dengan sebagian buah- buahannya, mereka berkata, “Ini seperti apa yang telah diberikan kepada kita sebelumnya.” Karena, jenis dan bentuk buah-buahan yang mereka terima ini memang menyerupai apa yang mereka kenal, tetapi memiliki keistimewaan rasa dan kelezatan.;

Aku menyadari, kulaitas pendakian itu tidak menuntut penolakan terhadap dunia luar karena itu mutahil. Kualitas itu hanya menunutut keseimbangan antara dua dimensi kecenderungan bawaanku: (1) kecendrungan terhadap dunia luar (the outward world); yakni, segala sesuatu yang ada di sekitarku, dan (2) kecenderungan terhadap –meminjam istilah umat Kristiani– “kerjaaan Tuhan yang berada dalam” diriku.

Qadr

Aku menyadari pendakian itu diperlukan untuk menajamkan kesadaranku mengenai akar spiritual dari dunia luar dengan tiraninya yang menyebar (dispersing) sekaligus menekan (compressing), sesuatu yang sangat berlawanan tetapi toh meyadarkanku untuk “melihat Tuhan di mana-mana”.

Aku menyadari, yang diperlukan bukan menolak benda, tetapi menyingkir dari genggamannya yang menggiurkan dan memperbudak. Dengan menyingkir dari genggamannya aku dapat melihat arketip dan sifat kuasi-surgawi dari benda; karenanya, dapat memberlakukan benda duniawi dengan penuh hormat dan bijak.

Kabul, 12 May 2013


[1] Dialihbahasakan dengan pengembangan dari Frithjof Schuon (2002), Roots of The Human Condition (hal. 89).