Melihat Tuhan Dimana-mana


Melihat Tuhan Dimana-mana[1]

(Seeing_God Eveywhere)

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Aku menyadari, apapun di dunia ini –atau sebanyak apapun benda, kekayaan material, prestise sosial atau kekuasaan politis– tidak akan pernah dapat mendatangkan kebahagiaan haikiki bagiku. Aku menyadari ini karena kehendakku dirancang untuk yang tak_terhingga; karenanya hanya yang Tak-terhingga (the Infinite) yang dapat memuaskannya.

Aku menyadari kebahagiaan hakiki hanya mungkin dicapai dengan cara “melihat Tuhan di mana-mana”. Ini berarti pendakian perjalanan ke dalam (inwardness) secara berkualitas. Ini berati melihat simbol, arketip, esensi dan sifat kuasi-surgawi dari setiap benda yang masuk akal (sensible things) yang ada di sekitarku. Mengenai sifat kuasi-surgawi benda, aku melihat isyarat dari Al-Baqarah (25):

كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِن ثَمَرَةٍ رِّزْقًا ۙ قَالُوا هَـٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِن قَبْلُ ۖ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا …

….. Setiap kali Allah memberikan rezeki kepada mereka di dalam surga dengan sebagian buah- buahannya, mereka berkata, “Ini seperti apa yang telah diberikan kepada kita sebelumnya.” Karena, jenis dan bentuk buah-buahan yang mereka terima ini memang menyerupai apa yang mereka kenal, tetapi memiliki keistimewaan rasa dan kelezatan.;

Aku menyadari, kulaitas pendakian itu tidak menuntut penolakan terhadap dunia luar karena itu mutahil. Kualitas itu hanya menunutut keseimbangan antara dua dimensi kecenderungan bawaanku: (1) kecendrungan terhadap dunia luar (the outward world); yakni, segala sesuatu yang ada di sekitarku, dan (2) kecenderungan terhadap –meminjam istilah umat Kristiani– “kerjaaan Tuhan yang berada dalam” diriku.

Qadr

Aku menyadari pendakian itu diperlukan untuk menajamkan kesadaranku mengenai akar spiritual dari dunia luar dengan tiraninya yang menyebar (dispersing) sekaligus menekan (compressing), sesuatu yang sangat berlawanan tetapi toh meyadarkanku untuk “melihat Tuhan di mana-mana”.

Aku menyadari, yang diperlukan bukan menolak benda, tetapi menyingkir dari genggamannya yang menggiurkan dan memperbudak. Dengan menyingkir dari genggamannya aku dapat melihat arketip dan sifat kuasi-surgawi dari benda; karenanya, dapat memberlakukan benda duniawi dengan penuh hormat dan bijak.

Kabul, 12 May 2013


[1] Dialihbahasakan dengan pengembangan dari Frithjof Schuon (2002), Roots of The Human Condition (hal. 89).

2 thoughts on “Melihat Tuhan Dimana-mana

  1. semua kata dalam tulisan ini membuatku termenung….membawaku ka alam pemikiran tentang tujuan penciptaan langi dan bumi dan seluruh makhluk ciptaan Nya….termasuk kenapa aku diciptakan Nya….#membuatku menangis, sakit hati ini jk mengingat semua perilakuku sendiri….

    #CwLove7Children

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s