Mahmudi Sang Guru Ngaji


“Beli surga hanya bayar segitu. Surga apa yang harganya hanya dua ribu?”), Engke membuka obrolan

“Ngomong apa kamu?”, sahut Maha.

“Memang Aku tidak lihat ketika Kamu memasukkan uang ke kotak amal di Masjid tadi”, lanjut Engke.

“Oh itu”, sahut Maha. Ia baru menyadari. Ketika jumatan tadi ia duduk bersebelahan di saf ketiga. Ini suatu kemajuan bagi Maha yang biasanya duduk di saf hampir paling belakang dan masuk masjid ketika khutbah sudah dimulai. Lain halnya bagi Engke yang biasa duduk di saf pertama.

“Biar segitu Aku kan ikhlas”, Maha membela diri. “Memang kamu memasukkan berapa”?, lanjutnya.

“Tadi Aku mengisi kotak amal pakai tangan kanan sehingga tangan kiriku tidak mengetahuinya. Jadi, bagaimana aku tahu”,  Engke menjawab seenaknya. Maha hanya diam dan mulai memperlihatkan tanda-tanda mengantuk.

Dia hari itu dapat giliran kerja sif malam di pabriknya sehingga jam biologisnya mengajaknya tidur. Tetapi canda teman dekatnya tadi agak mengganggu kenyamanan tidur siangnya.

…“surga naon nu hargana dua ribu”…. “ulah kos si Udin nu nyekel prinsip Kumaha Engke, tapi tiru tah si Usuf nu nyepeng prinsip kaidah Enge Kumaha?”….

“Bangun, bangun! Sudah mau magrib”, teriak Engke sambil menggoyang-goyangkan badan Maha yang tengah tidur lelap. Maha bangun terkaget-kaget dan kesal juga karena baru setengah empat. Sambil berjalan menuju kamar mandi dia mencoba mengingat-ngingat mimpinya tadi: “ada dua episode, tetapi urutannya tidak jelas’, pikirannya.

Episode pertama menggambarkan pengalamannya Jumatan tadi ketika memasukkan dua-ribu-rupiah ke kotak amal. Dia biasanya “menyembunyikan” tangan ketika memasukkan uang tapi tadi lupa karena mengantuk-berat ketika mendengarkan khotbah.

Episode kedua memantulkan pengalamannya ketika mengaji di kampung. Dalam satu kesempatan ia dan teman-temannya mendengarkan nasehat guru mengaji agar berhati-hati dalam bertindak. Agar jelas sang guru memberikan ilustrasi mengenai sikap yang ceroboh dan sikap berhati-hati. Mengenai sikap pertama ia mencontohkan Udin yang digambarkan berprinsip Kumaha Engke (Bagaimana nanti), sementara untuk kedua ia mengambil conoth Usuf yang dinilai berprinsip Engke Kumaha (Nanti bagaimana). Sejak peristiwa itu Udin berubah nama jadi Maha dan Yusuf jadi Engke. Yang bersangkutan tidak keberatan.

Walaupun memiliki perbedaan perilaku Maha dan Engke sudah lama bersahabat dekat. Mereka berasal dari kampung yang sama: Kampung Mana-Boa, Kecamatan Nu-Ngarumbai-Tea, Kabupaten Sukabumi Selatan. Mereka sama-sama besar di kampung itu dan kini sama-sama tinggal di kawasan padat di Kabupaten Tangerang dan bekerja di pabrik tekstil yang sama.

Ada satu faktor yang lain yang membuat Maha dan Engke mempertahankan persahabatan mereka. Keduanya mengidolakan guru mengaji yang sama yaitu Ustadz Mahmudi.

Bagi mereka Mahmudi adalah sosok luar biasa: usianya masih muda (lebih muda dari mereka) tetapi ilmu-agamanya “selangit” istilah Maha. Mereka mengenali Mahmudi masih bujangan dan tinggal dengan ibunya yang mulai agak sepuh. (Dia sudah yatim sejak kelas dua SD.)

Menurut cerita yang mereka dengar, Mahmudi jebolan Pesantren Gontor tetapi belum sempat tamat karena masalah biaya. Keluar dari pesantren itu dia menyantri di pesantren salafiah di kawasan Jawa Timur dan menghabiskan waktu dua tahun di sana sebelum pulang kapung karena ibunya mulai sakit-sakitan. Karena alasan kondisi kesehatan ibunya ia menolak dengan sopan tawaran sang kiai untuk mengelola madrasah yang berada dalam pengawasan pesantren itu.

Ketika berpamitan ke Kiai ia memperoleh nasehat singkat: “Mahmudi. kamu punya bakat besar untuk menggadaikan diri jadi guru ngaji. Ingat ini, kalau mengejar akhirat kita akan dapat dua: dunia dan akhirat. Kalau fokus hanya pada urusan dunia maka kemungkinan besar kita kehilangan balasan akhirat”. Sang kiai melanjutkan:

“Ingat jurus kunci ini ketika jadi guru ngaji. (Sang kiai biasa menggunakan istilah “jurus kunci” jika ingin santrinya menyimak ucapannya secara serius.)

Pertama, ajarkan ilmu yang sesuai dengan kemampuan pendengar, jangan sampai tergoda untuk menyampaikan pelajaran hebat hanya untuk memperoleh kesan pintar.

Kedua, begitu kamu memiliki majelis pengajian, kamu harus Istiqamah memberikan pengajian. Walaupun jumlah peserta pengajian sedikit kamu tidak boleh kehilangan semangat.

Ketiga, antara kamu dan peserta pengajian harus ada sambung-rasa, mawaddah fil qurba. (Sang kiai membawakan ayat mengenai ini yang sampai kini diingat Yusuf.) Kamu jangan sampai tergoda menjadi penceramah beken yang mengandalkan retorika hebat tetapi tidak berhasil membangun hubungan-rasa dengan jamaah. Akibatnya, jamaah datang berbondong-bondong, menikmati pidato, dan pulang tanpa kesan yang melekat di hati mengenai isi pidato yang mereka nikmati”.

Semua nasehat kiai sangat mengesankan bagi Mahmudi, khususnya yang ketiga. Ia selalu mengasah ketrampilan “membangun-rasa” dengan jamaahnya dan keterampilan itu yang menjadi daya tarik utama kekaguman jamaahnya, khsusunya Maha dan Engki.

Malam tadi Maha dan Engki mengikuti ceramah Mahmudi yang seperti biasanya lumayan ramai walaupun hanya berlangsung 45 menit. Ustadz yang ini tidak suka betele-tele; ia dengan lugas selalu menerapkan prinsip penggunaan kata tepat-guna (Qurani: qaulan sadida) dan ungkapan halus–tapi-tegas (Qurani: qaulan layyinan).

Di akhir ceramah Mahmudi membawakan dua ayat Al-Quran yang dilantunkan secara perlahan tetapi jelas (Arab: tartil) serta menerjemahkannya.  Sesuai kebiasaannya dia tidak menambahkan penjelasan apa-apa mengenai ayat yang dibacakan. Baginya, Quran punya cara sendiri untuk menyapa pendengarnya sehingga penafsiran memiliki risiko mendistorsi makna ayat. Lebih dari itu, baginya Quran memilik bahasa yang demikian uniknya sehingga setiap pendengar merasa pesannya secara eksklusif ditujukan bagi dirinya yang sesuai dengan tingkat kecerdasannya. Kedua ayat itu adalah Quran (2:214-215):

 

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpakan kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan(, sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, “Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaklah diperuntukkan bagi bagi kedua orang tua, kerabat, anak yaitim, orang miskin, dan rang-orang dalam perjalanan. Dan kebaikan saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui”

Sambil pulang Maha yang suka spontan berkomentar: “Kok Ustadz Mahmudi tahu soal Aku ya. Lebaran lalu Aku hanya memberi ibuku 250 ribu dengan alasan lagi banyak keperluan. Padahal itu satu-satunya nafkah bagi orang tuaku tahun ini. Di hitung-hitung, 250 ribu hanya 5% dari gaji bulananku?”

Engki tidak menimpali karena sibuk dengan pikiran sendiri. Ia merasa kurang bakti kepada orang tua. Ketika lebaran lalu ia hanya memberikan orang tuanya 5 juta yang tengah dalam persiapan melakukan perjalanan Umrah: “Aku terlalu murah menghargai sugra”, pikirnya, terngiang ceramah Ustadz Mahmudi tadi……@

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.