Mencermati Surat-surat Perlindungan


 

Kata kunci: bacaan sakti, mudah dipahami, siapa bisa meniru, kejahatan eksternal dan internal, piala dan samudra, kesimpulan penutup

Kata perlindungan dalam judul ini terkait dengan kata ta’awudz  (Arab) yang maksudnya kira-kira mengucapkan kata a’udzu. Kata yang terakhir ini berarti “aku berlindung”. Kata ini tercantum dalam Ayat pertama dua Surat terakhir Al-Quran yaitu Surat ke-113 (Al-Falaq) dan ke-114 (Annas). Tulisan ini mencermati dua Surat terakhir ini, ditambah dengan Surat sebelumnya yaitu Surat ke-112 (Al-Ikhlas). Alasan penambahan, ketiga Surat ini secara bersama-sama biasa dianggap sebagai satu paket dalam konteks perlindungan.

Ketiga Surat ini, sebagaimana akan segera jelas nanti, enak dibaca dan perlu. Enak dibaca, karena pendek dan mudah dipahami; perlu dibaca, karena maknanya mendalam dan karena pelindungan diperlukan.

Bacaan “Sakti”

Kalau ada yang namanya bacaan sakti, maka bagi Muslim “paket” Surat ini (Surat: 112-114) termasuk di dalamnya. Pendapat mereka bukan tanpa reasoning karena banyak sumber yang mengungkapkan bahwa Rasul SAW terbiasa membaca paket Surat ini. Salah satu sumber itu adalah Hadits berikut:

Sesungguhnya apabila Nabi SAW ingin merebahkan tubuhnya (tidur) di tempat tidurnya setiap malam, beliau mengumpulkan ke dua telapak tangannya, kemudian beliau sedikit meludah padanya sambil membaca surat “Qul Huwallahu Ahad” dan “Qul A’udzu bi Rabbin Naas” dan “Qul A’udzu bi Rabbil Falaq,” kemudian (setelah itu) beliau mengusapkan ke dua telapak tangannya ke seluruh tubuhnya yang dapat beliau jangkau. Beliau memulainya dari kepalanya, wajahnya, dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukannya sebanyak tiga kali. (HR al Bukhari, 4/1916 no. 4729; Abu Dawud, 4/313 no. 5056; dan lain-lain.)[1]

Bagi Muslim, tradisi Rasul SAW merupakan sesuatu yang perlu disikapi “Kami mendengar dan Kami menaati” (Arab: sami’na wa atha’na). Bagi mereka, jika ini tradisi Nabi SAW, kenapa tidak diamalkan. Singkatnya, pendapat Muslim mengenai kasus ini bukan tanpa reasoning

Ada reasoning lainnya.

Bagi kebanyakan kita yang terlanjur terdidik dalam lingkungan yang kurang mengapresiasi rasa kesakralan (sense of sacred), istilah sakti mungkin agak “mencurigakan”. Tetapi berbeda halnya dengan mereka yang diberkati kepekaan spiritual. Bagi mereka, dalam kehidupan spiritual, istilah sakti terkait dengan “energi langit” sebagaimana dikemukakan Schuon[2],

In the domain of the spiritual life, the same term shakti signifies the celestial energy that allows man to enter into contact with the Divinity, by means of the appropriate rites and on the basis of a traditional system.

Dalam domain kehidupan spiritual, istilah shakti yang sama menandakan energi langit yang memungkinkan manusia untuk berhubungan dengan Keilahian, melalui ritus yang sesuai dan atas dasar sistem tradisional.

Mudah Dipahami

Masing-masing Surat dalam paket ini sangat pendek dalam arti mencakup sedikit ayat: Annas 6 ayat, Al-Falaq 5 ayat, dan Al-Ikhlas 4 ayat. Demikian pendeknya Surat-surat ini sehingga bukan hal aneh jika anak-anak Balita di lingkungan Muslim mampu menghafal di luar kepala.

Faktor lain yang memudahkan menghafal Surat-surat ini adalah sistem fonetik (sistem bunyi) masing-masing Surat ini khas: setiap ayat Annas berakhiran “s” (Arab: Sin), Al-Falaq “q” (Arab: Qaf), dan Al-Ikhlas “d” (Arab: Dal). Banyak yang meyakini kekhasan sistem fonetik ini mengandung semacam daya magis yang khas pula. Wallhu’alam.

Singkatnya, paket Surat ini mudah dihafal karena pendek-pendek dan memiliki sistem fonetik yang khas. Inilah kelebihan paket Surat ini.

Ada kelebihan lain.

Arti masing-masing ayat dalam paket ini relatif sangat mudah dipahami. Coba saja:

Annas: Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang tersembunyi, yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia”.

Al-Falaq: Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar), dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang-orang dengki apabila dia dengki”.

Al-Ikhlas: Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia”.

Seperti tampak pada terjemahan di atas, semua surat diawali dengan kata perintah (Arab: fi’il amr) Katakanlah! (Arab: qul). Ini menegaskan bahwa kata-kata selanjutnya perlu dibaca apa adanya (verbatim) sehingga dalam terjemahan di atas dibatasi tanda kutip (“). Penegasan ini sekaligus mengingatkan bahwa upaya improvisasi atau pengubahan kata– sekalipun bermaksud baik– berpotensi merusak makna aslinya.

Siapa Bisa Meniru?

Bahwa arti ayat dalam paket Surat ini mudah dipahami mengisyaratkan bahwa Al-Quran adalah “milik semua”. Menurut banyak ahli psikologi bahasa, setiap pembaca Al-Quran, sejauh jujur secara intelektual, akan menemukan bahwa bahasa Al-Quran paling sesuai dengan kadar intelektualnya. Jika ini benar maka tantangannya: “Siapa bisa meniru?”

Bahwa paket Surat-surat itu mudah dipahami tidak berarti bahwa kandungannya tidak menantang bahkan bagi elite Jenius sekalipun! Para elite ini, sejauh mereka jujur secara intelektual, dari generasi ke generasi, selalu menemukan makna baru dari setiap ayat Al-Quran, termasuk dalam paket Surat ini. Paket Surat ini sangat menantang dilihat dari struktur Ayat, penggunaan kosa kata (kalimat), dan kedalaman maknanya.

Kejahatan Eksternal dan Internal

Pembacaan secara cermat menunjukkan bahwa semua Surat dalam paket ini, selain berbicara mengenai perlindungan, juga berbicara mengenai Ketuhanan, tepatnya mengenai ajaran dasar Agama Islam yaitu Tauhid (ajaran mengenai Keesaan Tuhan). Yang khas adalah gaya narasinya yang sangat padat, sangat dalam, dan sangat mengilhami.

Paket Surat ini berbicara mengenai Tuhid hanya dalam 15 ayat (=6+5+4). Bandingkan ini dengan dengan buku-buku tebal yang membahas topik Ketuhanan secara serius yang pada umumnya perlu diwadahi dalam ribuan (atau bahkan puluhan ribu) kata. Sebagai ilustrasi, dua karya Karen Amstrong yang berjudul Sejarah Tuhan (2001) dan Masa Depan Tuhan (2009)[3] masing-masing memiliki ketebalan sekitar 600 halaman (entah berapa ribu kata).

Dengan hanya 15 Ayat paket Surat ini menarasikan apa yang dikenal sebagai Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah. Dua istilah ini adalah istilah teknis dalam Ilmu Kalam (Teologi Islam) yang masing-masing berasal dari kata Rabb dan Ilah.

Dengan menggunakan dua istilah ini maka Suat 113 (Al-Falaq) dapat dikatakan berbicara mengenai Tauhid Rububiyah karena hanya menggunakan salah satu atribut-Nya yaitu Rabb. Dalam Bahasa Arab, kata Rabb mengandung banyak arti antara lain pemelihara (Al-Murabbi), penolong (An-Nashir), pemilik (Al-Malik), uan (As-Sayyid), dan wali (Al-Wali). Sederhananya, inti Tauhid Rububiyah adalah kepercayaan bahwa Allah SWT adalah pencipta, pemilik dan pengendali alam raya. Jadi, dalam kaitannya dengan alam ini Allah SWT hanya menggunakan satu atribut-Nya yaitu Rabb.

Ini berbeda ketika Dia SWT berbicara mengenai manusia seperti terlihat dari Surat 114. Surat ini berbicara mengenai satu kejahatan subtil yaitu “bisikan hati” yang untuk melindungi darinya Allah SWT menggunakan tiga atribut-Nya sekaligus: Rabb manusia, Malik (pemilik) Manusia, dan Tuhan (Ilah) manusia. Atribut terakhir ini mengisyaratkan bahwa Surat ini berbicara juga mengenai Uluhiyah-Nya.

Jika Al-Falaq dikatakan berbicara mengenai kejahatan eksternal (bagi manusia) maka Annas berbicara mengenai kejahatan internalnya. Jika banyak atribut-Nya digunakan sebagai ukuran, maka dua Surat ‘Perlindungan” ini mengisyaratkan ini: upaya melindungi diri dari kejahatan internal tiga kali lebih berat dari upaya melindungi diri dari kejahatan eksternal. Wallahu’alam.

Piala dan Samudra

Dalam Annas dan Al-Falaq kata Allah tidak disebutkan secara eksplisit, dalam Al-Ikhlas disebutkannya secara eksplisit. Ini mengisyaratkan bahwa kandungan Surat terakhir ini berbicara secara eksklusif mengenai Uluhiyah-Nya. Hanya menggunakan empat ayat, Surat Al-Ikhlas ini berbicara mengenai Uluhiyah-Nya secara yang singkat, luas dan mendalam. Dalam Surat ini Dia SWT menyatakan diri-Nya sebagai:

  • Esa (teks: ahad). Prinsip ini menekankan pandangan monoteistik tanpa kompromi; pada saat yang sama, menolak gagasan politeistik tentang Tuhan
  • Tempat tergantung (teks: as-shamad). Prinsip ini menentang ide-ide sifat abstrak Tuhan seperti yang dijelaskan dalam filsafat Yunani umum;
  • Tidak Beranak dan Diperanakkan (teks: lam yalid wa lam yuulad). Prinsip ini berlawanan dengan gagasan Trinitas, misalnya; dan
  • Unik ( (teks: lam yakun lahu kufuan ahad). Prinsip ini menegaskan ketidakmungkinan manusia untuk memahami esensi-Nya.

Butir terakhir menyiratkan bahwa Dia dalam diri-Nya berada jauh melampaui ide-ide mengenai Tanzih (benar-benar Abstrak) dan Tasybih (sesuai dengan sifat manusia), dan sifat transenden dan imanen Tuhan seperti yang dipahami oleh para filsuf atau ahli Ilmu Kalam. Secara padat Rumi mengungkapkannya begini: “Apa arti sebuah piala untuk menampung air samudra”.

Singkatnya, Al-Ikhlas berbicara mengenai berbagai atribut-Nya secara singkat-padat, tetapi mencakup (sebagian besar bersifat korektif) ide-ide Ketuhanan yang utama yang dikenal manusia dari generasi ke generasi. “Silakan tiru”; demikianlah kira-kira tantangan-Nya (Quran 2:23)?

Kesimpulan Penutup

Surat Annas, Al-Falaq dan Al-Ikhlas adalah tiga Surat terakhir Alquran. Masing-masing Surat ini mudah dibaca, mudah dihafal, dan perlu dibaca, kecuali bagi mereka yang merasa tidak perlu perlindungan ilahi. Ketiga Surat ini secara keseluruhan hanya mengandung 15 Ayat tetapi mampu mengoreksi ide-ide besar mengenai Ketuhanan….@

[1] https://almanhaj.or.id/2613-hadits-hadits-yang-menerangkan-keutamaan-surat-al-ikhlash.html.

[2] Dikutip dalam Deon Valodia, “Glossary of terms used by Fritjhof Schuon” (tanpa tahun), halaman 134.

[3] Terbitan Mizan

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.