Ada kekhawatiran yang perlahan tetapi nyata: suatu hari nanti generasi mendatang mungkin hanya mengenal pohon beringin dari cerita.
Di banyak kota Jawa lama, beringin bukan sekadar pohon peneduh. Ia berdiri di jantung ruang publik—di alun-alun—dengan akar yang menjulur seperti jalinan waktu dan kanopi yang menaungi ruang perjumpaan manusia. Di bawah bayangnya, rakyat berkumpul, pengumuman kerajaan disampaikan, dan kehidupan sosial menemukan ritmenya.
Tetapi beringin tidak hanya meneduhkan tubuh; ia juga menaungi imajinasi kosmos.
Dalam pandangan dunia Jawa, manusia sering disebut sebagai jagat cilik—dunia kecil—yang hidup di tengah jagat gede, dunia besar. Kosmos bukan sekadar ruang materi, melainkan jaringan kehidupan yang saling terkait. Pohon besar seperti beringin menjadi semacam pengingat visual bahwa manusia tidak hidup sendirian di dunia, melainkan berada dalam sebuah tatanan yang lebih luas.
Barangkali karena itulah dua pohon beringin hampir selalu berdiri di alun-alun kota-kota Jawa lama. Mereka seperti penjaga simbolik sebuah keseimbangan: antara kekuasaan dan rakyat, antara dunia manusia dan tatanan kosmos.
Namun perlahan, ruang-ruang seperti ini berubah. Kota modern tumbuh dengan logika yang berbeda—logika kecepatan, efisiensi, dan beton. Di tengah perubahan itu, beringin menjadi semakin jarang. Ia digantikan oleh taman dekoratif, lampu kota, atau bahkan hanya hamparan aspal.
Jika suatu hari beringin benar-benar menghilang dari alun-alun kita, yang hilang sebenarnya bukan hanya sebuah pohon.
Yang hilang adalah sebuah cara memandang dunia.
Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan bahwa alam bukan sekadar latar kehidupan manusia. Ia adalah ayat-ayat, tanda-tanda yang menunjuk kepada Sang Pencipta:
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” — Qur’an 3:190bagi orang-orang yang berakal.” — Qur’an 3:190
Ayat ini mengajarkan bahwa kosmos bukanlah sesuatu yang netral secara spiritual. Alam adalah ruang tempat manusia belajar membaca makna keberadaan.
Dalam ayat lain, Al-Qur’an bahkan menggunakan pohon sebagai metafora untuk kehidupan yang baik:
“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan: kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit.” — Qur’an 14:24
Akar yang kuat dan cabang yang menjulang—gambar ini mengingatkan kita pada pohon besar yang berdiri lama di tengah ruang kehidupan manusia. Sebuah pohon yang menyimpan memori waktu dan memberi naungan bagi generasi.
Dalam perspektif Islam, manusia sendiri diberi amanah yang sangat besar: menjadi penjaga bumi. Al-Qur’an menyebut manusia sebagai khalifah—wakil yang memikul tanggung jawab atas tatanan dunia.
“Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” — Qur’an 2:30
Amanah ini sering dibicarakan dalam bahasa hukum atau politik. Namun ia juga memiliki dimensi kosmologis yang dalam.
Menjadi khalifah berarti menjaga keseimbangan dunia tempat kita hidup.
Dalam kosmologi Jawa, manusia sebagai jagat cilik dipanggil untuk hidup selaras dengan jagat gede. Dalam bahasa Al-Qur’an, manusia dipanggil untuk memelihara bumi sebagai amanah Ilahi. Dua bahasa yang berbeda, tetapi menunjuk pada kesadaran yang sama: bahwa dunia ini bukan milik kita sepenuhnya, melainkan titipan yang harus dijaga.
Mungkin karena itu kehilangan pohon beringin terasa lebih dari sekadar perubahan lanskap kota. Ia seperti tanda kecil bahwa hubungan kita dengan kosmos semakin renggang.
Padahal di bawah bayangannya dulu, manusia belajar sesuatu yang sederhana: bahwa kehidupan membutuhkan akar, naungan, dan kesabaran waktu.
Dan mungkin suatu hari nanti, ketika generasi baru bertanya tentang beringin yang pernah berdiri di alun-alun kota, kita tidak hanya menceritakan tentang sebuah pohon.
Kita juga menceritakan tentang sebuah pandangan dunia—tentang manusia sebagai jagat cilik yang dipanggil untuk menjaga harmoni jagat gede.
