Catatan kecil tentang dakwah, blog, dan lentera yang tetap menyala
Di tengah ramainya ustadz selebriti, saya teringat istilah Mohammad Natsir tentang “ustadz lentera”: guru yang mendatangi kampung-kampung pelosok dengan membawa lentera, untuk mengaji bersama santri yang mungkin hanya seorang.
Kalau santrinya satu, ia tetap datang.
Sebab barangkali tugas seorang guru bukan menghitung berapa banyak orang yang datang kepadanya, melainkan memastikan bahwa di suatu tempat, sekecil apa pun, tetap ada cahaya yang menyala.
Saya tidak sedang menilai bahwa yang ramai itu buruk, dan yang sepi itu lebih suci. Bukan. Ini hanya dua ekologi dakwah. Ada yang menjangkau ribuan orang di panggung besar. Ada yang setia menemani satu-dua orang di ruang yang sunyi. Keduanya bisa punya tempat.
Tapi malam ini, saya ingin menoleh sebentar kepada yang kedua.
Mungkin blog kecil ini juga begitu.
Tidak perlu ramai. Tidak perlu menjadi panggung.
Kalau ada satu orang yang datang untuk membaca, lalu pulang membawa sedikit kejernihan, mungkin lentera itu sudah menjalankan tugasnya.
Hari ini lentera itu mencatat 254 nama. Alhamdulillah.
Terima kasih sudah duduk sebentar di lingkaran kecil ini. Kalau tulisan ini membuat satu hal terasa lebih jernih, biarlah itu menjadi cukup. Besok, kalau harus datang lagi dengan santri yang sama, ya datang lagi.
Sebab cahaya tidak selalu soal seberapa besar nyalanya, tetapi soal apakah ia tetap menyala di tempat yang membutuhkannya.
