Generasi Milenium Indonesia dalam Aksi

Menurut Kementerian Pendidikan Nasional, sekitar 8.1 juta anak Indonesia baru saja menempuh ujian akhir jenjang Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLA)[1]. Seperti kakak kelasnya, mereka mengikuti dua macam ujian: (1) ujian sekolah (istilah sekarang, USBN: Ujian Sekolah Berstandar Nasional), dan (2) ujian nasional (UN). Berbeda dengan yang berlaku pada kakak kelasnya, bagi mereka standar kelulusan bukan lagi hasil UN melainkan hasil USBN. Juga berbeda dengan pengalaman kakak kelasnya, mereka lebih banyak yang mengikuti UNBK (UN berbasis komputer) dari pada UNKP (UN berbasis kertas pensil).

Bagi kebanyakan kita, angka 8.1 juta mungkin terkesan “biasa-biasa” saja, padahal dalam perbandingan internasional besarnya angka itu “luar-luar biasa”. Sebagai ilustrasi, angka itu hampir sama dengan total penduduk Swiss (sekitar 8.3 juta jiwa), lebih besar dari total penduduk Yordania (7.6 juta), Papua Nugini (7.4 juta), Hong Kong (Cina) (7.3 juta), atau Singapura (5.5 juta), serta setara dengan sekitar 20 kali total penduduk Brunei (sekitar 40,000 juta jiwa)[2]. Perbandingan-perbandingan ini mengilustrasikan bahwa angka 8.1 juta jiwa itu besar. Bagi yang pernah haji mungkin lebih mudah membayangkan angka itu setara dengan 3-4 kali total jamaah haji yang berkumpul di Arafah pada hari H.

Berapa umur peserta ujian SLA tahun ini? Sebagian besar dapat diduga berumur sekitar 17-18 tahun. Dugaan ini berdasarkan dua asumsi: (1) Mereka masuk SD dalam usia 6-7 tahun, dan (2) angka pengulangan kelas relatif sangat kecil sehingga dapat diabaikan. Mereka berumur 10-11 tahun menurut data Sensus Penduduk 2010 (SP2010); jumlah mereka sekitar 10.2 juta jiwa. Jadi peserta ujian yang berjumlah 8.1 juta itu menyumbangkan sekitar 80 persen kepada total penduduk kelompok umur 17-18 tahun. (Yang 20% hampir semua tidak lagi berstatus masih sekolah.)

Sebagian besar peserta ujian jenjang SLA tahun ini termasuk generasi milenium (GM) dekade-1 yang dalam tulisan ini kita definsikan sebagai kohor kelahiran tahun 2000-2009. Berapa besar populasi GM dekade-1? Dipastikan kurang dari angka 43.5 juta jiwa. Angka ini merupakan total penduduk umur 10-19 tahun menurut data SP2010. Kenapa kurang? Karena sebagian GM dekade-1 meninggal sebelum terdatar dalam SP2010.

Peserta ujian SLA tahun ini tergolong GM dekade-1 yang “beruntung” paling tidak karena dua alasan: (1) tahun ini mereka masih hidup, dan (2) mereka berstatus masih sekolah. Bersama-sama adik-adik kelasnya (kohor kelahiran pasca 2010), mereka adalah pemilik masa depan Bangsa Indonesia. Mereka diharapkan belum akan memasuki pasar kerja sampai 5-10 tahun ke depan karena melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Pada tahun 2030 nanti mereka belum akan bertanggung-jawab terhadap keberhasilan Sasaran Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals, SDG) karena memang belum gilirannya. Tetapi mereka pasti mewarisi keberhasilan atau kegagalan realisasi SDG yang merupakan tanggung-jawab “generasi tua”: generasi sebelum baby boomer[3], generasi baby bommer, serta generasi sesudahnya sampai kohor kelahiran 1990-an.

Generasi tua inilah yang dituntut melakukan upaya keras agar GM tidak mewarisi masalah kontemporer yang pelik; khususnya terkait dengn lebar dan melebarnya jurang status sosek antar- dan intra-negara, serta dengan buruknya lingkungan hidup. Generasi tua inilah yang memikul kewajiban mempersiapkan masa depan yang terbaik bagi GM. Bagi muslim, kewajiban semacam ini merupakan kewajiban agama: “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatirkan kesejahteraannya …” (4:9).

Wallahualam……. @

[1]  https://www.era.id/read/48UwAa-8-1-juta-siswa-jadi-peserta-un-2018

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_negara_menurut_jumlah_penduduk

[3] Dalam konteks negara-negara maju, khususnya Amerika Serikat (AS), istilah baby boomer dinisbahkan kepada generasi kelahiran sekitar 1940-1964, generasi pasca era peperangan. Kohor ini kelahiran beruntung karena pasca perang pemerintah memfokuskan pada masalah kesejahteraan masyarakat yang secara alamiah meresponsnya dengan kecenderungan melahirkan banyak anak. Akibatnya, “bayi meledak”. Bayi-bayi kohor ini kini sebagian besar telah memasuki dan memang sudah selayaknya memasuki usia pensiunan. Tiga presiden AS adalah lahir 1946; jadi termasuk baby bommers: Bill Clinton (ke-42), George Bush (ke-42) dan Donald Trump (ke-45).  Dua yang pertama sudah “pensiunan”, yang satu baru memulai karier sebagai presiden Inilah hebatnya Trump. Referensi: https://en.wikipedia.org/wiki/Baby_boomers. Bagi Indonesia baby bommers tidak klihatan jelas. Dengan mencermati piramida penduduk hasil SP2010 tampak yang sedikit agak menonjol adalah kohor kelahiran 1980-1984, kohor yang pada tahun 2010 berumur 25-29 tahun atau sekarang berumur sekitar 35-39 tahun, masih usia produktif.

 

Advertisements