KALAU IMAN ITU DUDUK DI ATAS BATU

Catatan Santai soal Yaqin, AI, dan Kenapa Kita Tidak Perlu Tahu Segalanya

Oleh: Seorang yang juga sering bingung

—

Ada gambar yang saya suka. Mungkin Abang juga sudah lihat. Seorang pria duduk di atas batu, membelakangi kita, menghadap matahari terbit. Di bawahnya, awan. Bukan awan satu-dua, tapi awan berlapis-lapis, seperti karpet yang belum disapu. Di kejauhan, gunung-gunung. Di sebelahnya, pohon kecil yang kelihatannya tidak terlalu peduli dengan apa yang sedang terjadi.

Pria itu tidak sedang berdoa. Tidak sedang meditasi. Tidak sedang live di Instagram. Ia hanya duduk. Sendirian. Menghadap cahaya.

Saya kira, kalau ada gambar yang bisa mewakili kata yaqin, itu dia.

—

Tapi Tunggu Dulu, Apa Itu Yaqin?

Kalau kita tanya ke Google, jawabannya mungkin: “keyakinan yang kuat.”

Kalau kita tanya ke kamus, jawabannya mungkin: “kepastian.”

Kalau kita tanya ke Kiyai, jawabannya mungkin: “Sudah makan belum?”

Nah, itu dia. Yaqin dalam tradisi kita tidak selalu berarti “tahu segalanya.” Kadang ia berarti “sudah makan, Alhamdulillah, dan sekarang duduk sebentar.”

Saya bercanda, tapi tidak sepenuhnya.

Karena di zaman ini, kita hidup di tengah lautan informasi yang bikin kepala berputar. Satu berita bilang A. Berita lain bilang B. Satu gambar kelihatan asli. Ternyata hasil AI. Satu video kelihatan meyakinkan. Ternyata suara hasil kloning. Satu influencer bilang ini, satu ustadz bilang itu, satu thread Twitter bilang semuanya salah.

Dan kita? Kita duduk di tengah semua itu, sambil bertanya: “Ini sebenarnya ada yang benar nggak, sih?”

Itulah yang disebut epistemic vertigo—pusing bukan karena kurang ilmu, tapi karena terlalu banyak “ilmu” yang datang bertubi-tubi tanpa kita sempat mencerna.

—

Tiga Cara Orang Menghadapi Kebingungan

Kalau saya perhatikan, ada tiga tipe orang di zaman ini.

Tipe pertama: Si Pencari Kepastian.

Ia tidak tahan dengan ketidakpastian. Setiap kali ada kebingungan, ia cari kelompok yang bilang “pokoknya ini yang benar.” Ia masuk grup, ikut kajian, ikut channel, dan akhirnya percaya pada narasi yang menjelaskan segalanya. Dari soal politik sampai soal mie instan, semua ada jawabannya. Masalahnya: jawaban itu belum tentu benar. Ia hanya membuat ia merasa benar.

Tipe kedua: Si Skeptis Total.

Ia sudah capek. Ia tidak percaya apa pun. Setiap klaim ia bantah. Setiap berita ia curigai. Setiap nasihat ia anggap konspirasi. Ia merasa bebas, tapi sebenarnya ia juga terjebak—terjebak dalam ketidakpercayaan yang tidak pernah selesai. Seperti orang yang tidak mau makan karena takut ada racun, akhirnya kelaparan sendiri.

Tipe ketiga: Si Yaqin.

Ia juga tidak tahu segalanya. Ia juga bingung. Tapi ia punya tempat untuk duduk. Ia tidak perlu tahu semuanya, karena ia tahu siapa yang memegang semuanya.

Nah, yang ketiga ini yang saya kira digambarkan oleh pria di atas batu itu.

—

Kiyai dan Batu

Suatu hari, ada santri yang bertanya kepada Kiyainya.

“Kiyai, saya bingung. Banyak sekali informasi. Mana yang benar?”

Kiyai itu diam sebentar. Lalu ia bertanya:

“Kamu pernah lihat orang duduk di atas batu?”

“Pernah, Kiyai.”

“Kenapa ia bisa duduk di situ?”

“Karena batunya kuat, Kiyai.”

“Bukan.”

Santri itu bingung.

“Ia bisa duduk di situ,” kata Kiyai, “karena ia percaya batunya kuat. Kalau ia ragu, ia akan turun.”

Santri itu diam.

“Nah,” lanjut Kiyai, “iman itu bukan soal tahu semua batu di dunia ini kuat atau tidak. Iman itu soal tahu di batu mana kamu duduk. Kamu tidak perlu tahu semua. Kamu hanya perlu tahu yang satu itu.”

Saya dengar cerita ini dari seorang teman. Saya tidak tahu apakah betul terjadi atau tidak. Tapi ceritanya enak, dan saya kira tidak masalah kalau kita ambil hikmahnya.

—

Kenapa AI Bikin Kita Makin Pusing?

Generative AI itu, sederhananya, mesin yang bisa bikin teks, gambar, suara, dan video yang kelihatan seperti buatan manusia.

Dulu, kalau ada gambar aneh, kita bisa bilang: “Ah, ini pasti editan.”

Sekarang? Kita tidak bisa bilang begitu lagi. Karena editannya sudah terlalu bagus.

Dulu, kalau ada suara aneh, kita bisa bilang: “Ah, ini pasti rekaman lama.”

Sekarang? Suara bisa dikloning dalam beberapa detik.

Dulu, kalau ada video aneh, kita bisa bilang: “Ah, ini pasti deepfake.”

Sekarang? Deepfake sudah masuk ke WhatsApp keluarga.

Jadi apa yang terjadi? Kita jadi curiga pada segalanya. Termasuk pada hal-hal yang sebenarnya benar. Termasuk pada orang-orang yang sebenarnya jujur. Termasuk pada diri kita sendiri.

Itulah epistemic vertigo—bukan karena kita bodoh, tapi karena dunia di sekitar kita bergerak lebih cepat dari kemampuan kita untuk memverifikasi.

—

Yaqin Bukan Berarti “Tidak Perlu Cek”

Nah, di sini saya perlu hati-hati. Karena ada orang yang salah paham soal yaqin.

Ada yang mengira, kalau sudah yaqin, kita tidak perlu cek lagi. Tidak perlu belajar. Tidak perlu verifikasi. “Pokoknya saya sudah yakin, titik.”

Itu bukan yaqin. Itu keras kepala.

Yaqin yang benar justru membuat kita lebih tenang dalam memverifikasi. Kenapa? Karena identitas kita tidak bergantung pada hasil verifikasi itu.

Kalau kita menemukan bahwa berita yang kita percaya ternyata salah, kita tidak hancur. Kita cukup bilang: “Oh, ternyata salah. Ya sudah, saya revisi.”

Kalau kita menemukan bahwa orang yang kita kagumi ternyata keliru, kita tidak kehilangan iman. Kita cukup bilang: “Manusia memang bisa salah. Termasuk saya.”

Kalau kita menemukan bahwa ada hal yang tidak bisa kita pastikan, kita tidak panik. Kita cukup bilang: “Saya belum tahu. Saya akan cari tahu. Atau mungkin memang tidak akan pernah tahu.”

Itulah bedanya orang yang yaqin dengan orang yang hanya butuh merasa benar.

—

Duduk di Atas Batu, Bukan Berdiri di Atas Pagar

Ada satu hal lagi yang saya suka dari gambar itu.

Pria itu tidak berdiri di atas pagar. Ia juga tidak bergantung pada apa pun. Ia duduk.

Duduk itu artinya apa? Artinya beristirahat.

Orang yang yaqin bukan orang yang terus-menerus tegang mempertahankan keyakinannya. Ia bukan orang yang harus selalu siap berdebat. Ia bukan orang yang harus selalu punya jawaban.

Ia bisa duduk. Ia bisa diam. Ia bisa menikmati pemandangan.

Karena ia tahu, batunya kuat. Ia tidak perlu membuktikan apa pun.

—

Tapi Bagaimana Kalau Batunya Goyang?

Pertanyaan yang bagus. Dan saya tidak akan menghindar.

Kadang, batunya memang goyang. Kadang, kita merasa tempat kita duduk tidak sekokoh yang kita kira. Kadang, kita bertanya: “Apakah saya benar-benar di tempat yang tepat?”

Itu bukan tanda iman yang lemah. Itu tanda kita manusia.

Yang penting bukan apakah kita pernah merasa goyang. Yang penting adalah ke mana kita kembali ketika goyang.

Pria di gambar itu tidak duduk di atas batu karena ia tidak pernah goyah. Ia duduk di atas batu karena ia memilih untuk duduk di situ. Setiap hari. Setiap pagi. Setiap kali ia bangun.

Yaqin bukan sekali jadi. Yaqin itu latihan.

—

Penutup: Satu Pertanyaan Saja

Saya tidak akan memberi tiga poin, lima tips, atau tujuh langkah. Itu bukan gaya saya. Dan bukan gaya Kiyai-Kiyai NU yang saya kenal.

Saya hanya akan memberi satu pertanyaan.

Ketika tanah di bawah kaki Abang bergerak—ke mana Abang berdiri?

Bukan ke mana Abang bilang Abang berdiri.

Bukan ke mana Abang tampak berdiri.

Tapi ke mana Abang benar-benar berdiri—ketika tidak ada yang melihat, ketika jawaban tidak datang, ketika kebisingan tidak berhenti.

Itulah tempat kedaulatan dimulai.

Bukan ketika dunia menjadi sunyi.

Tapi ketika hati mengingat kepada siapa ia belongs.

—

Catatan: Postingan ini adalah adaptasi dari The Sovereign Soul: Three Movements of Inner Freedom in the Digital Age, tersedia di Academia.edu.

HJastag: Yaqin, EpistemicHumility, AI, InnerSovereignty, Ghazali, SovereignSoul

—

The Three Phases of Ramadan: From Mercy to Inner Freedom

Every year we hear it: The first ten days are mercy. The second ten are forgiveness. The last ten are liberation from the Fire.

Scholars of hadith have debated the strength of this narration. Some consider it weak. Others allow it in the context of encouraging good deeds. But regardless of the chain of transmission, its meaning resonates deeply with sound prophetic teachings: every night of Ramadan carries the possibility of release.

So perhaps the real question is not, Is the report authentic?

The real question is: Are we moving?

Ramadan is not a calendar event. It is a transformation sequence.


Phase One: Mercy — Waking Up

The philosopher Mulla Sadra, in his monumental The Four Journeys (al-Asfar al-Arba‘ah), speaks of substantial motion—the idea that the soul does not merely change behavior; it changes in its very being.

The first phase—mercy—is that initial stirring.

In Sadra’s terms, it is the journey from creation to the Real (al-safar min al-khalq ila al-Haqq). Mercy is not passive comfort. It is divine interruption. It is the light that makes you realize you’ve been asleep.

Practically, this is the phase of awakening:

  1. Reset your intention before dawn.
  2. Reduce digital noise.
  3. Add consistent Qur’an reading—even if brief.
  4. Guard your daily prayers fiercely.

Mercy descends—but we must turn toward it.


Phase Two: Forgiveness — Inner Reconstruction

Forgiveness is often imagined as erasure. But in a deeper metaphysical sense, it is reconstruction.

This is the second journey: to move with God, in God (al-safar bi al-Haqq fi al-Haqq). Here, transformation begins to penetrate character.

This is where Imam al-Ghazali, in The Revival of the Religious Sciences (Ihya’ ‘Ulum al-Din), becomes intensely practical. He describes three levels of fasting:

  1. The fasting of the ordinary — refraining from food, drink, and desire.
  2. The fasting of the elect — every limb fasts: the eyes, the tongue, the ears, the hands.
  3. The fasting of the elite of the elect — the heart fasts from all that distracts it from God.

The second ten days are an invitation to move from level one to level two.

Practically:

  1. Let your eyes fast from what weakens the soul.
  2. Let your tongue fast from sarcasm, complaint, and subtle cruelty.
  3. Let your ears fast from gossip.
  4. Guard your reactions when irritated.

Forgiveness flows where purification is pursued.


Phase Three: Liberation — Freedom from the Self

The final phase is not merely about being saved in the afterlife. It is about becoming internally free now.

This corresponds to the third movement: returning to creation with the Real (al-safar min al-Haqq ila al-khalq bi al-Haqq). One returns to the world—but differently. Lighter. Less reactive. Less enslaved.

Here we approach Ghazali’s highest level: the fasting of the heart.

At this stage:

  1. Acts are done quietly.
  2. Validation is no longer intoxicating.
  3. Criticism no longer destabilizes identity.
  4. The ego begins to loosen its grip.

True liberation from the Fire begins as liberation from domination by appetite, status, and impulse.

If Ramadan ends and our impulses still rule us, then we have fasted—but perhaps we have not yet been freed.


Ramadan Is Not Three Time Periods. It Is Three Interior States.

Mercy is the call. Forgiveness is the cleansing. Liberation is the awakening into freedom.

Ghazali speaks the language of spiritual psychology. Mulla Sadra speaks the language of metaphysics. They converge on one truth:

The human being is capable of radical ontological change.

Ramadan is the training ground.

So let this month not pass as a cultural ritual or a nostalgic rhythm. Treat it as a deliberate ascent:

From hunger of the body, to discipline of the limbs, to stillness of the heart.

Because ultimate salvation is not merely being spared from punishment.

It is becoming inwardly free.

May this Ramadan not simply mark time in our lives— but restructure the architecture of our souls.

Note: A Pdf version can be accessed through this [link]