Sulitnya Menghadapi Ancaman Internal

Mawas-diri diperlukan tidak hanya untuk menghadapi ancaman eksternal tetapi juga ancaman internal. Artikel ini mengundang pembaca yang budiman untuk merenungkan, bertadabbur, makna dan kompisisi dua surat pendek teks suci yang bagi penulis terkait-erat dengan dua jenis ancaman itu. Artikel ini menyimpulkan bahwa ancaman internal jauh lebih sulit menghadapinya dari pada ancaman eksternal.

Bagi yang berminat mengakses artikel lengkap silakan klik:  Pengawasan_ Intenal

Pengayaan Arti Tradisi

Penulis baru menyadari bahwa kata tradisi ternyata kaya-makna dan, lebih penting lagi, memiliki signifikasnsi keberagamaan. Dalam penggunaan sehari-hari kata ini ‘telah dikacaukan’ dan steril terhadap unsur spiritualitas dan kesucian. Redefinsi tradisi, dengan demikian, menjadi penting. Artikel ini mengelaborasi gagasan ini dengan mencermati kata tradisi dalam arti umum maupun arti khusus (Tradisi Primordial) dengan mengkaji pandangan sejumlah tokoh  yang paling berkompeten dalam bidang ini.

Bagi yang berminat mengakses artikel lengkap silakan klik:  TardisiRev1

Pertumbuhan Tak-Berkualitas

Petumbuhan tak-berkualitas  dapat diukur antara lain dari daya ungkitnya terhadap perluasan lapangan kerja. Tanpa daya ungkit ini pertumbuhan menjadi jobless, tak-berkualitas. Bangka Belitung, Gorontalo, Jakarta, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Tenggara, masing-masing merupakan contoh kasus yang ideal dalam arti memiliki pertumbuhan  tinggi dan tidak jobless. Sebaliknya, Jambi dan Sumatera Utara merupakan contoh kasus yang memiliki pertumbuhan tak-berkualitas jobless. Dua propinsi ini, dalam skala nasional, memiliki angka pertmbuhan yang relatif tinggi tetapi angka pertumbuhan tenaga kerjanya relatif rendah.

 [Lanjut}